Archive for Maret, 2018

Berkunjung ke Universitas Islam Madinah : Koleksi Berharga Telah mereka Punya (Bagian 20)

Ahad,  8 April  2017 pagi.  Mentari bersinar cerah sekali.  Langit membiru.  Cakrawala benderang.  Burung beterbangan.  Riang.  Mas Nahidl Silmy telah menjemput mengantarkan kami  menuju kampus  Universitas Islam Madinah (UIM).  Universitas Islam Madinah (al-Jami’ah al-Islamiyyah bil Madinah al-Munawwarah) adalah sebuah perguruan tinggi negeri di Arab Saudi. di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Arab Saudi yang didirikan pada 29 Rabiul Awal 1381 H (6 September 1961). Universitas yang terletak di Kota Madinah, Propinsi Madinah ini berdiri berdasar keputusan resmi Raja Saud bin Abdul Aziz tentang Pembangunan perguruan tinggi yang dikhususkan untuk mempelajari ilmu syariah dan keagamaan di Kota Madinah. UIM  menaungi beberapa Fakultas antara lain: Fakultas Syariah, Fakultas al-Qur’an dan Studi Islam,  Fakultas Hadits dan Studi Islam,  Fakultas Dakwah dan Ushuluddin , Fakultas Bahasa Arab,  Institut Pengajaran Bahasa Arab untuk Non-Penutur Bahasa Arab.

Rector UIM terakhir adalah Prof. Dr. Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad as Sanad.Namun, karena beliau  Diangkat menjadi Ketua Umum Badan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Arab Saudi,  maka posisinya digantikan oleh PJS yakni Wakil Rektor Bag. Pengajaran: Prof. Dr. Ibrahim bin Ali Al-Ubaid. Di UIM selain ada Wakil Rektor Bag. Pengajaran,  juga terdapat   Wakil Rektor (Prof. Dr. Ahmad bin Abdullah bin Hasan Katib),  Wakil Rektor Bag. Pengembangan (Prof. Dr. Mahmud bin Abdurrahman Qodah)   Wakil Rektor Bag. Kerjasama Internasional dan Pertukaran Pengetahuan (Dr. Rabah bin Rudhaiman Al-Anzi),   Wakil Rektor Bag. Pascasarjana dan Riset Ilmiah (Dr. Abdurrahman bin Rajaullah Al-Ahmadi).

Sehari sebelumnya,  sebenarnya  kami sempat diantar Mohamaad Isa berkunjung  ke UIM. Namun,   kala itu mobil tak diijinkan masuk melalui gerbang utama. Namun,  pada Ahad ini  ternyata mobil  dipersilahkan jalan,   tanpa melalui proses pemeriksaan,  dan cukup dilihat dari kejauhan.

Lho kenapa  bisa beda perlakukan,   meskipun pemeriksaan masih sama orang yang melakukan ?. itulah pertanyaan yang berkecamuk di hatiku,  dan tiba-tiba mas Nahidl menjelaskan seolah tahu  isi kepalaku. ”Hanya para dosen  dan pegawai plus mahasiswa Doktoral yang bisa masuk tanpa pemeriksaan”,  kata sang kandidat Doktor asal Rembang ini.

”Bagaimana  penjaga bisa diketahui bahwa  penumpangnya masuk tiga kategori tadi ?,  tanya  Wawan  pelan.  Ekspresi wajahnya memperlihatkan bahwa di kepalanya tengah  berjejal rasa penasaran.

”Ini”,  tukas mas Nahidl  sembari telunjuknya mengarah pada kartu yang diletakkan di kaca,  tepat di depan setiran mobilnya,  ”Kartu merah ini  sebagai kartu sakti,  sehingga kita dapat keluar masuk secara leluasa sepanjang hari”.

Selama kunjungan kami berencana mengunjungi Biro Urusan Perpustakaan (Kepala Biro  Dr. Abdullah bin Sulaiman Al-Ghufaili)  berikutnya  Biro Bidang Alumni (Kepala biro: Dr. Abdul Aziz bin Mabruk Al-Ahmadi). Selain kedua Biro itu,  UIM juga memiliki beberapa biro lain seperti  Biro Penerimaan dan Pendaftaran (Dr. Isa bin Shalah Ar-Rahbi), Biro Kemahasiswaan (Kepala biro: Dr. Husain bin Syarif Al-Abdali), Biro Pelayanan Masyarakat (Kepala biro: Dr. Fahd bin Muthi’ Al-Maghdawi), Biro Studi Pascasarjana (Prof. Dr. Abdul Razaq bin Farraj As-Sha’idi), Biro Riset Ilmiah, Biro Pengembangan dan Manajemen Akademik (Kepala biro: Dr. Nasir bin Abdullah Al-Ahmadi), Biro Pengajaran Online dan Pembelajaran Jarak Jauh (Kepala biro: Dr. Umar bin Ibrahim Nursaif), Biro Akreditasi Akademik dan Kualitas (Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Utaibi), Biro Teknologi Informasi (Dr. Muhammad bin Yusuf Ahmad Afifi).

Singkat cerita,  mas Nahidl mengantarkan kami menemui Prof. Dr.  Syekh Abdullah bin Sulaiman Al Ghufaili,  Kepala Biro urusan Perpustakaan Utama Universitas Islam Madinah. Minuman khas Arab  segera disajikan,  ketika  kami  telah duduk pada kursi yang disediakan.  Minuman itu Qohwah namanya,  berarti  kopi dalam bahasa Indonesia.  Kopi  dituangkan dalam cangkir kecil ukurannya,  dalam kondisi  panas suhunya,  sehingga bagi orang seperti saya lidahnya tak bakalan kuat untuk menyeruputnya.  Setelah agak dingin,  kopi segera kusedot pelan.  Masya Allah…  ternyata  dari rasa  sama sekali tak merefleksikan kopi sebagaimana sebutannya.  Minuman panas menyengat itu  lebih tepat dinamakan jamu,  sebab  komposisi rasa justru  mirip dengan adonan kapulaga, jahe, kencur atau apapun tambahannya. Terus terang perutku terasa agak mual karenanya. Namun sang tuan rumah justru  menawarkan tambahan  karena kopi di tangan sudah habis kami telan.  ”Kholas ya Syeikh…. syukron:  sudah cukup ya pak,  terima kasih”,  tolak Fakhry pelan sekali.

Tak banyak informasi kami dapatkan selama pertemuan,  kecuali masing-masing kami diberi segebok buku untuk kenang-kenangan.  Sebab,  Al Ghufaili justru sibuk  berdebat dengan staf di depan kami.  Hanya sesekali  ia melihat ke arah kami,  dengan ucapan : Baarakallah.  Setelah itu  ia kembali asyik masuk  dalam perdebatan tadi. ”Perilaku” ini tidak hanya sekali, melainkan dilakukan berulangkali. ”Aneh…”,  gerutuku dalam  hati, ”sebab perdebatan pimpinan vs. Staff ini  dari norma apapun sebenarnya tak pantas dilakukan ketika ada tamu apalagi berada di hadapan”.

Oleh Prof. Al Ghufaili kami diarahkan untuk melakukan penelusuran Literatur bersama  Muhammad Yaqub,  Pustakawan Universitas Islam Madinah.   Figur inilah yang justru penuh perhatian,  mengantarkan kami menelusuri koleksi universitas terkait peradaban Islam.  Banyak koleksi buku alias kitab super tua telah dikumpulkan,  semua disimpan sebagai koleksi berharga tak terhitungkan. Naskah tertua tercatat di tahn 40 H,  berisi tentang Isra’ Mi’raj   yang ditaklif  Khalifah Ali bin Abu Tholib.   Perpustakaan ini memili 40 ribu koleksi manuskrip,  baik berisi Al Qur’an maupun  Tarikh (sejarah).   Semua manuskrip itu juga dibuat dalam mikro film,  dimans setiap mikrofilm berisi sekitar 5000 buah buku.  Walhasil,  jika 40.000 dikalikan 5000 maka  total jendral dari koleksi naskah tua itu mencapai 200 juta naskah.

”Subhanallah..Bagaimana cara koleksi dilakukan”  tanya Fakhry pelan sekali.  Suaranya nyaris sama dengan sebuah gumaman saja.

”Semua diperoleh dengan jalan tukar-menukar”,  tukas Muhammad Yaqub tangkas,  ”Jika anda ingin mengetahui semua koleksi yang kami punya,  dapat dilihat dari iu.edu.sa”.

Selain koleksi buku dan manuskrip,  nilai lebih yang dipunyai perpustakaan ini adalah:  disediakannya  kamar-kamar khusus bagi mahasiswa doktoral  yang sedang mengerjakan tugas-tugasnya.  ”Inilah ruang-ruang untuk mengasingkan diri”,  jelas mas Nahidl memberi contoh pada kami.

Putar-putar ”perpustakaan” membuat kaki agak kelelahan.  Pegal. Namun,  melihat koleksi sangat berharga ini,  telah memaksa kami kami melupakan rasa linu yang mulai menjalari.***

 

Iklan

Mewancarai Penceramah Masjid Nabawi (Bagian 19)

Malam telah kelam.  Langit Madinah  telah diliputi kegelapan.  Malam meraja menguasai cakrawala.  Di tengah gulita itulah  mobil yang kami tumpangi  meluncur  cepat,   menerobos kegelapan  seolah sama sekali tak merasakan  rasa penat.

Kami memang  pulang kemalaman,  bahkan sempat  sholat maghrib – Isya’  jama’  di masjid  pedesaan  yang sempat  kami di saat perjalanan. Di seberang jalan masjid,  dalam keremangan  kulihat kebun penuh pepohonan . ”Inilah kebun kurma”,  kataku pada Fakhry.  Di masjid pedesaan  pinggiran kota Madinah ini   tak banyak  orang sembahyang  mengingat lokasi  memang sedikit dijumpa  pemukiman,   bahkan tak layak untuk disebut perkampungan.

Hanya saja beberapa mobil ikut berhenti di parkiran,  dan penumpangnya  sama-sama bermaksud mengerjakan  sembahyang.  Walhasil,  dapat dikatakan masjid  malam itu diisi musyafir yang sedang lewat sekaligus bertandang  untuk sembahyang.

Selama perjalanan pulang,  dari kejauahan kulihat ada gugusan bukit yang sedemikian benderang dilihat dari kejauhan.  Lho kenapa bukit-bukit itu sedemikian terang?  tanyaku dalam hati.  Kepenasaran ini akhirnya mendapat jawaban,  sebab  ternyata di sepanjang kaki bukit terdapat banyak lampu yang sorotannya sengaja  di arahkan ke puncak bebukitan,  bukan di arahkan ke jalanan.  Namun,  metode ini justru sangat luar biasa hasilnya.  Bukit-bukit menjadi bersinar terang,  sehingga menciptakan keindahan  bagi siapapun yang memandang.  Hal kedua,  bukit-bukit menjadi sedemikian nyata, sehingga kalaupun  ada pesawat yang melintas di atasnya,  sang pilot  langsung melihat dan tak bakalan menabraknya.  Ketiga,   ternyata sinar yang terarah pada bebukitan,  sinarnya dapat ”memantul” sedemikian rupa,  sehingga efek pancaran sinar jauh lebih kuat dibanding jika lampu-lampu di arahkan ke badan jalan sebagaimana umumnya di Indonesia  kita dapatkan.

Itulah pengalaman berpetualang seharian di pelosok tanah haram,  Madinah al Munawwarah.  Kesempatkan luar biasa ini tak bakalan diagendakan ketika berhaji,  mengingat pada bulan suci kami teriakat oleh prosesi arbain sholat berjamaah empat puluh waktu di Nabawi.

Problemnya,  di hari Sabtu    8 April  2017 ini   kami telah seharian  blusukan ke berbagai lokasi,  namun kami terlanjut diikat janji yang harus ditepati.  Badan ini sebenarnya sudah berantakan kurasakan.  Penat, menyerang. Capek,  mendera.   Wawan bahkan  sakit kepala.  Mas Hamdan pun berkata  kurang nyaman badan dirasa.  Akhirnya,  saya dan Fakry yang terpaksa berangkat ke Nabawy untuk memenuhi janji : wawancara dengan nara sumber ba’da sholat Isya,  tepatnya di pintu 21 masjid Nabi.

Singkat kata,  saya telah sampai Nabawy lantas bersegera mencari seseorang istimewa,  sebagai obyek narasumber perdana.  Dialah  Abdullah Roy,   ustadz muda yang dipercaya menjadi penceramah di masjid Nabawy.  Luar biasa.  Dua tahun sebelumnya,  ketika berkunjung ke lokasi yang sama, yang menjadi penceramah berbahasa Indonesia adalah ustadz Firanda.  Nah,  pada kunjungan kali ini,  tampaknya  ustadz  Abdullah Roy  yang terpilih sebagai pengganti.  ”Terpilih”,   karena untuk menjadi penceramah di Nabawy  memang  melalui rekomendasi,  plus seleksi  super ketat berdasar kualitas keiilmuan yang dimiliki.  Dapat dipahami ketika saya  tanya mas Nahidl Silmy –penanggung jawab kami  selama kunjungan di Saudi–  :”kenapa tak juga memberi ceramah seperti ustadz Abdullah  Ray ?,  kandidat  Doktor di Universitas Islam Madinah  kontan memberikan jawaban: ”belum makomnya”.

Sebagaimana Ustadz Firanda dahulu,  Abdullah Roy,  pria asal Yogyakarta itu  adalah pula kandidat Doktor di Universitas Islam Madinah.

Abdullah Roy  memiliki nama asli  Roy Grafika Penataran, begitu nama kecilnya. Lahir 37 tahun silam di Bantul, Jogjakarta. Setamat SMA, ia memilih untuk nyantri di sebuah pesantren di Gresik, Jawa Timur. Di saat nyantri itulah ia berhasil diterima di Universitas Islam Madinah. Merasa “kurang mampu” dalam berbahasa Arab, Roy memilih untuk mendalami bahasa di progam prakuliah selama 2 semester. Usai menyelesaikan program bahasa, Roy memilih Fakultas Hadist di progam bachelorius. Ia melesaikannya di tahun 2005. Ayah dari 5 anak ini diterima di progam pascasarjana jurusan aqidah di tahun yang sama. Dengan tesis berjudul “Al-Mabaahits Al-‘Aqodiyyah Al-Muta’alliqoh Bil Adzan Jam’an wa Dirosatan”. Di tahun 2010 Roy diterima program doktoral prodi aqidah. Tiga tahun berikutnya ia ditunjuk menjadi salah satu pengajar Masjid Nabawi bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. dan Ustadz Anas Burhanuddin, MA.

Sayang sekali  kami terlambat datang,  terutama akibat didera rasa lelah dan badan memang terasa tak karuan.  Mas Hamdan yang semula ijin  kelelahan  akhirnya menyusul, bahkan Wawan yang semula  ijin  sakit kepala  akhirnya juga  mecungul.   Namun,  karena keterlambatan,  wawancara  akhirnya tak bisa lama dilangsungkan,  sebab ustadz Abdullah Roy  terlanjur  memiliki janji dengan seseorang. Afwan ustadz,  semoga kita dapat jumpa pada kesempatan lainnya, bahkan mungkin di Indonesia.

Alhamdulillah,  pada 25 Mei 2017 saya mendapat kabar bahwa ustadz Roy Grafika Penataran yang lebih dikenal dengan Abdullah Roy akhirnya  secar resmi menyandang gelar doktor di bidang aqidah. Desertasi yang berjudul “Firqoh Islam Jama’ah ‘Ardhun wa Naqdun” yang berhasil dipertahankan pada (25/05), di Auditorium Munaqosyah Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah. Setelah kelulusannya dari Universitas Islam Madinah ini, ia akan menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Dirosat Islamiyyah Imam Syafi’i, Jember. Selamat ya ustadz. ***