Mewancarai Penceramah Masjid Nabawi (Bagian 19)

Malam telah kelam.  Langit Madinah  telah diliputi kegelapan.  Malam meraja menguasai cakrawala.  Di tengah gulita itulah  mobil yang kami tumpangi  meluncur  cepat,   menerobos kegelapan  seolah sama sekali tak merasakan  rasa penat.

Kami memang  pulang kemalaman,  bahkan sempat  sholat maghrib – Isya’  jama’  di masjid  pedesaan  yang sempat  kami di saat perjalanan. Di seberang jalan masjid,  dalam keremangan  kulihat kebun penuh pepohonan . ”Inilah kebun kurma”,  kataku pada Fakhry.  Di masjid pedesaan  pinggiran kota Madinah ini   tak banyak  orang sembahyang  mengingat lokasi  memang sedikit dijumpa  pemukiman,   bahkan tak layak untuk disebut perkampungan.

Hanya saja beberapa mobil ikut berhenti di parkiran,  dan penumpangnya  sama-sama bermaksud mengerjakan  sembahyang.  Walhasil,  dapat dikatakan masjid  malam itu diisi musyafir yang sedang lewat sekaligus bertandang  untuk sembahyang.

Selama perjalanan pulang,  dari kejauahan kulihat ada gugusan bukit yang sedemikian benderang dilihat dari kejauhan.  Lho kenapa bukit-bukit itu sedemikian terang?  tanyaku dalam hati.  Kepenasaran ini akhirnya mendapat jawaban,  sebab  ternyata di sepanjang kaki bukit terdapat banyak lampu yang sorotannya sengaja  di arahkan ke puncak bebukitan,  bukan di arahkan ke jalanan.  Namun,  metode ini justru sangat luar biasa hasilnya.  Bukit-bukit menjadi bersinar terang,  sehingga menciptakan keindahan  bagi siapapun yang memandang.  Hal kedua,  bukit-bukit menjadi sedemikian nyata, sehingga kalaupun  ada pesawat yang melintas di atasnya,  sang pilot  langsung melihat dan tak bakalan menabraknya.  Ketiga,   ternyata sinar yang terarah pada bebukitan,  sinarnya dapat ”memantul” sedemikian rupa,  sehingga efek pancaran sinar jauh lebih kuat dibanding jika lampu-lampu di arahkan ke badan jalan sebagaimana umumnya di Indonesia  kita dapatkan.

Itulah pengalaman berpetualang seharian di pelosok tanah haram,  Madinah al Munawwarah.  Kesempatkan luar biasa ini tak bakalan diagendakan ketika berhaji,  mengingat pada bulan suci kami teriakat oleh prosesi arbain sholat berjamaah empat puluh waktu di Nabawi.

Problemnya,  di hari Sabtu    8 April  2017 ini   kami telah seharian  blusukan ke berbagai lokasi,  namun kami terlanjut diikat janji yang harus ditepati.  Badan ini sebenarnya sudah berantakan kurasakan.  Penat, menyerang. Capek,  mendera.   Wawan bahkan  sakit kepala.  Mas Hamdan pun berkata  kurang nyaman badan dirasa.  Akhirnya,  saya dan Fakry yang terpaksa berangkat ke Nabawy untuk memenuhi janji : wawancara dengan nara sumber ba’da sholat Isya,  tepatnya di pintu 21 masjid Nabi.

Singkat kata,  saya telah sampai Nabawy lantas bersegera mencari seseorang istimewa,  sebagai obyek narasumber perdana.  Dialah  Abdullah Roy,   ustadz muda yang dipercaya menjadi penceramah di masjid Nabawy.  Luar biasa.  Dua tahun sebelumnya,  ketika berkunjung ke lokasi yang sama, yang menjadi penceramah berbahasa Indonesia adalah ustadz Firanda.  Nah,  pada kunjungan kali ini,  tampaknya  ustadz  Abdullah Roy  yang terpilih sebagai pengganti.  ”Terpilih”,   karena untuk menjadi penceramah di Nabawy  memang  melalui rekomendasi,  plus seleksi  super ketat berdasar kualitas keiilmuan yang dimiliki.  Dapat dipahami ketika saya  tanya mas Nahidl Silmy –penanggung jawab kami  selama kunjungan di Saudi–  :”kenapa tak juga memberi ceramah seperti ustadz Abdullah  Ray ?,  kandidat  Doktor di Universitas Islam Madinah  kontan memberikan jawaban: ”belum makomnya”.

Sebagaimana Ustadz Firanda dahulu,  Abdullah Roy,  pria asal Yogyakarta itu  adalah pula kandidat Doktor di Universitas Islam Madinah.

Abdullah Roy  memiliki nama asli  Roy Grafika Penataran, begitu nama kecilnya. Lahir 37 tahun silam di Bantul, Jogjakarta. Setamat SMA, ia memilih untuk nyantri di sebuah pesantren di Gresik, Jawa Timur. Di saat nyantri itulah ia berhasil diterima di Universitas Islam Madinah. Merasa “kurang mampu” dalam berbahasa Arab, Roy memilih untuk mendalami bahasa di progam prakuliah selama 2 semester. Usai menyelesaikan program bahasa, Roy memilih Fakultas Hadist di progam bachelorius. Ia melesaikannya di tahun 2005. Ayah dari 5 anak ini diterima di progam pascasarjana jurusan aqidah di tahun yang sama. Dengan tesis berjudul “Al-Mabaahits Al-‘Aqodiyyah Al-Muta’alliqoh Bil Adzan Jam’an wa Dirosatan”. Di tahun 2010 Roy diterima program doktoral prodi aqidah. Tiga tahun berikutnya ia ditunjuk menjadi salah satu pengajar Masjid Nabawi bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. dan Ustadz Anas Burhanuddin, MA.

Sayang sekali  kami terlambat datang,  terutama akibat didera rasa lelah dan badan memang terasa tak karuan.  Mas Hamdan yang semula ijin  kelelahan  akhirnya menyusul, bahkan Wawan yang semula  ijin  sakit kepala  akhirnya juga  mecungul.   Namun,  karena keterlambatan,  wawancara  akhirnya tak bisa lama dilangsungkan,  sebab ustadz Abdullah Roy  terlanjur  memiliki janji dengan seseorang. Afwan ustadz,  semoga kita dapat jumpa pada kesempatan lainnya, bahkan mungkin di Indonesia.

Alhamdulillah,  pada 25 Mei 2017 saya mendapat kabar bahwa ustadz Roy Grafika Penataran yang lebih dikenal dengan Abdullah Roy akhirnya  secar resmi menyandang gelar doktor di bidang aqidah. Desertasi yang berjudul “Firqoh Islam Jama’ah ‘Ardhun wa Naqdun” yang berhasil dipertahankan pada (25/05), di Auditorium Munaqosyah Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah. Setelah kelulusannya dari Universitas Islam Madinah ini, ia akan menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Dirosat Islamiyyah Imam Syafi’i, Jember. Selamat ya ustadz. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: