Archive for April, 2018

Jamiah At Taibah: Batas Tanah Haram di Madinah (Bagian 22)

Senin  10 April 2017 Siang,  Sinar mentari memancar garang.  Panas kurasa makin ganas.  Terik  kurasa kian mencekik.  Mobil  segera meluncur dari Universitas Islam Madinah menuju Jamiah Al Taibah.  Jaraknya tak terjalu jauh,  sebab posisi Jamiah at Taibah  hanya  tepat di belakang  Universitas Islam Madinah.

Lokasi Jamiah at Taibah  ternyata tepat berbatasan dengan wilayah tanah suci.  Maksudnya,  Jika Universitas Islam Madinah masih berdiri di lokasi tanah suci,  sedangkan  Jamiah at Taibah   sudah tak masuk lagi kawasan tanah suci tadi.  Konsekuensinya,  jika Universitas Madinah hanya boleh dimasuki  orang Islam saja,  maka  Jamiah at Taibah  boleh dimasuki siapa saja baik muslim maupun kaum kafir agamanya.  Walhasil,  dapat dipahami pula  jika  di At Thaibah saya banyak menjumpai  mahasiswa berkaos – bercelana,  sedangkan  di  Universitas Madinah  lebih banyak  bergamis busananya.

Perbedaan lainnya,  ”Jamiah  At Tayba mayoritas dimasuki  para muda-mudi  Saudi asli,  sedangkan  hanya 20 persen sisanya  adalah mahasiswa beasiswa  non-Saudi”, terang pak Budhi,  seorang  kandidat Doktor asal Riau.  Hal ini berbeda dengan Univeristas Islam Madinah  yang dominan asal mancanegara dan mayoritas adalah mahasiswa beasiswa.

Kawasan kampus at Taibah sepertinya masih dalam tahap pembangunan,  mengingat di sana-sini masih dalam kondisi berantakan,  masih dalam situasi super gersang tanpa ada tetumbuhan.  Hanya pada halaman  di sekitar pintu gerbang  mulai tumbuh beberapa tanaman. Sisanya,  gersang   sisa-sisa  dari  bukit yang diratakan.  Panas. Terik. Kerontang.

Seandainya saya menjadi mahasiswa beasiswa,  tanpa kendaraan.  dan harus  pulang pergi  ke lokasi dengan jalan kaki,  maka lebih baik kupilih pulang kampung ke Indonesia.  Dalam situasi seperti ini barulah kurasakan,  betapa nyaman dan indah tinggal di nusantara, sebuah tanah tropis yang ditumbuhi berbagai tanaman dan bermacam kembang.  Alhamdulillah ya Ilahi,  syukur hamba yang mendalam ya Robbi.l izzati.

Untungnya di tengah kerontang  tanah at Taibah,  kami tak terlalu lama untuk diterima sang tuan rumah.  Dr. Murdhi Ali Idris,  wakil direktur program pascasarjana jurusan ilmu dakwah dan khutbah universitas Thaybah  langsung menerima kami dengan ramah sekali.

”Warga Arab Saudi 100 persen muslim.  Jika ditemukan warga non muslim,   dia pasti ekspatriat  alias  non-warga Saudi”,   kata Dr Murdhi mengawali penjelasan  tentang paham keagamaan kepada kami, ”Islam Arab Saudi secara umum memiliki satu persepsi,  sebab hampir semua mengikuti madzab Hambali.  Meski demikian,  dalam interpretasi ulama Saudi tetap melihat berbagai madzab lain alias tidak fanatik pada madzab sendiri.   Dalam proses tafsir inilah perbedaan muncul acapkali,  meski tak sampai menimbulkan friksi”.

Ketika kami bertanya,  bagaimana  pola pemerintah Saudi membina kehidupan beragama para warga,  Dr  Murdhi langsung menimpalinya, ”Mereka dibina Kementerian Agama yang membawahi badan-badan di berbagai daerah dalam implementasinya.  Lembaga-lembaga dalam jaringan Kementerian Agama inilah yang senantiasa menyelenggaran pendidikan dan atau kuliah rutin  khusus  tentang Syariat Islam”.

”Bagaimana perlakuan Saudo  terhadap eks-patriat, yang sebagian bukan Islam agama yang dianutnya ?,  tanyaku yang diterjemahkan mas Nahidl.

”Pemerintah Saudi menyediakan da’i-da’i khusus untuk mereka”,  tukas Dr Murdhi,  ”Target pengajaran dalam metode ini : agar non muslim tadi  bisa memahami Islam dan umat Islam sebagaimana mestinya. Melalui ajaran ini,  ekspatriat tak sekedar  merujuk pada media asing  yang selalu apriori manipulatif dalam isi. Jadi,  tujuan minimal adalah mengenalkan Islam  sesuai al Quran Hadits sebagai referensi utama,  syukur-syukur ada ekspatriat yang memperoleh hidayah  dan  menjadi mualaf pada akhirnya”.

Mas Hamdan  kulihat manggut-manggut.  Wawan ikut juga manggut-manggut. Bahkan Fakhry  akhirnya terpengaruh  ikut manggut-manggut.

”Sebagaian ekspatriat memang ada yang tertarik menjadi Islam”,  lanjut
Dr.  Murdhi,  ” perawat asal Philipina misalnya,  tak  sedikit  menjadi muallaf,  menjadikan Islam sebagai agamanya”.

Sayang sekali,  hanya beberapa saat  pertemuan,  adzan dzuhur  sudah dikumandangkan.  Walhasil,  pertemuan dengan Dr. Murdhi  akhirnya berlangsung  singkat sekali.  Mungkin karena hal ini pula,  beliau  lantas mengundang  untuk  berkunjung dan atau dilanjutkan di rumahnya pada malam harinya.   Dr. Murdhi  mengundang asya’  alias makan malam,  sebuah undangan yang super  jarang kecuali hanya pada  kenalan kepercayaan.  Setelah sepakat atas undangan tadi,  maka  pertemuan siang  ini langsung diakhiri,  dilanjutkan shalat dzuhur berjamaah  di  lokasi.

Di tengah terik mentari di perbatasan tanah suci ini,  kami   lantas undur diri.  Dr. Murdhi  “mengiringi” kepergian kami  dengan sebuah cendera mata  kayu Siwak segar kepada kami.  Tak kuingat nama jenis siwak yang diberi, tetapi  ketika kayu kugigit rasa pedas langsung mengiringi.  Subhanallah.

“Kulit  siwak ini bisa ditelan”,  kata mas Azmy,  seorang  kandidat Doktor yang ikut mengiringi,  “kulit siwak ini sangat bermanfaat untuk kesehatan,  terutama untuk lambung agar tak begah berpenyakitan”,  lanjut  trah pemilik Pondok pesantren Gontor – Ponorogo tadi.

Rasa bahagia merona pada wajah kami semua,  mengingat  sambutan dari  tuan rumah sungguh luar biasa.  Pertemuan pertama kali baru terjadi,  namun  sambutan Dr. Murdhi meski singkat namun  berkesan di hati.   Ialliqoo’  ya Doktor,  sa nazuuruka fil baitik: sampai jumpa wahai Doktor,  Insya Allah kami akan ziarah ke rumahmu nanti. ***

 

Iklan

Berkunjung ke Universitas Islam Madinah : Peluang Kerjasama ?(Bagian 21)

Senin,  9 April  2017 pagi,  sinar cerah mentari kembali  menyambut kami.  Langit ceria.  Cakrawala pun memperlihatkan senyum  gembira.  Mas Nahidl Silmy kembali  menjemput mengantarkan kami  menuju kampus  tempat dia menempuh ilmu selama ini.  Karena waktu perjanjian memang belum saatnya,  keponakan  K.H. Mustofa Bisri ini lantas mengajak kami putar-putar kampus termasuk asrama mahasiswa dari berbagai bangsa.

Akhirnya tibalah waktu  wawancara,  dan kami diterima dua pejabat asli Saudi Arabia,  pertama  Dr. Ibrahim Sulthon,  wakil kepala biro urusan alumni bidang hubungan alumni,  kedua,  Dr. Abdul Aziz wakil kepala biro urusan alumni bidang ilmu pengetahuan.

“Sebagian besar mahasiswa di Universitas Islam Madinah adalah warga asing”,  kata Dr. Abdul Aziz memberi informasi perdana,”Terdapat siswa dari 170 negara ,  dengan jumlah mencapai  20 ribu mahasiswa. Hanya 30 persen dari mahasiswa non Saudi yang biaya sendiri”.

Sekilas kulihat Wawan manggut-manggut mendengar penjelasan,  dengan mas Nahidl  yang bertugas menerjemahkan.

Mahasiswa penerima beasiswa di UIM  mendapat fasilitas antara lain: (1). Tiket pesawat saat diterima menjadi mahasiswa di Universitas dan pada setiap akhir tahun akademik, sesuai dengan aturan yg berlaku. (2). Mukafa’ah (uang tunjangan) setiap bulan. (3). Hadiah tunai bagi mahasiswa yang berprestasi. (4). Asrama gratis dan perabotannya. (5). Makan di Kantin Universitas dengan biaya murah. (6). Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Universitas. (7). Sarana transportasi untuk shalat di Masjid Nabawi, Umrah dan wisata lainnya sesuai dengan jadwal yang ditentukan. (8). Fasilitas olah raga yang disediakan oleh universitas.

“Khusus dari Indonesia,  sekarang jumlah siswa mencapai  500 orang untuk tingkat Sarjana,  70 untuk level MA,  dan selebihnya 13 orang  kandidat Doktor”,   timpal  Dr. Ibrahim Sulthon. “Beasiswa untuk Indonesia memang paling banyak jumlahnya”.

:”Luar biasa,  sedemikian banyak beasiswa Arab Saudi yang diberikan pada Indonensia”,   batinku terkesima mendengar informasi yang luar biasa.

“Sampai sekarang,  alumni asal Indonesia  banyak sekali jumlahnya”,  lanjut Dr. Ibrahim Sulthon,  “S1 saja mencapai 1.227 orang,  belum lagi level MA tercatat 140 orang,  ditambah  Doktor berjumlah 43 orang”.

Dari berbagai alumni asal Indonesia,  terdapat beberapa nama yang cukup dikenal antara lain : (1). Muhammad Maftuh Basyuni(Mantan Menteri Agama RI), Hidayat Nur Wahid (Mantan Presiden Partai Keadilan dan mantan Ketua MPR), Salif Segal Al Jufri (Mantan Menteri Sosial RI), Abdul Gani Kasuba (Gubernur Maluku Utara), Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor), Ahmad Cholil Ridwan (salah satu ketua MUI Pusat, Bidang Remaja dan seni Budaya) dan Firanda Andirja Abidin, dai Indonesia, yang pernah menjadi  pengisi kajian rutin bahasa Indonesia di Masjid Nabawi.  Alumnus di Malaysia salah satunya adalah  Abdul Hadi bin Awang (Presiden Partai Islam Se-Malaysia).

Mas Hamdan terlihat manggut-manggut.  Fakhry nampak terkesima,  .  terpana dengan alumnus Indonesia  yang sedemikian banyak jumlahnya.

“Mengingat sedemikian banyak alumnus kami punya,  maka Universitas Islam Madinah membentuk biro khusus yang menangani alumni yang dimiliki”,  tambah Dr. Abdul Aziz,  “Intinya  kita terus menjalin komunikasi,  bahkan termasuk melatih mereka agar memiliki kemandirian.  Janganlah para alumni setelah kembali ke negaranya berharap pada “pemberian” masyarakat,  tapi hendaknya bisa berpikir apa yang bisa diberikan pada masyarakat”.

“Ada beberapa hal yang kami lakukan terkait para alumni”,  timpal Dr. Ibrahim Sulthon, “Pertama, kita membuat buletin untuk sarana komunikasi antar alumni,  secuil media sebagai wahana komunikasi dengan mantan siswa.  Buletin bisa berperan sebagai sarana pengasah kemampuan menulis,  agar terbiasa berkarya sebagaimana ulama-ulama produktif lainnya. Kedua, kita juga membangun komunikasi lewat intra sosial media,  dimana  berbagai masukan (kritik dan saran)  dari mahasiswa  dan  alumni dinantikan juga. Hanya dalam waktu tiga hari,  sudah akan dijawab rektor.  Masukan dan atau kritikan misalnya,  bisa soal ijazah yang telat,  fasilitas asrama yang rusak.  Bahkan,  berdasar masukan,  ada gedung di kawasan kampus akan dirubuhkan guna diubah menjadi  lokasi joging dan atau taman”.

Dr. Ibrahim Sulthon sejenak jeda memberi penjelasan,  sejurus kemudian dia menjelaskan,  ”Ketiga,  melalui komunikasi ini  para alumni bisa mengajukan permintaan  bantuan,  seperti tenaga guru,  ketika alumni di masing-masing negara  membangun lembaga pendididkan. Kepada lulusan bahkan diberi bekal pelatihan, seperti: kemampuan manajemen, interview untuk mendapat pekerjaan,  bahkan pada daurah terakhir diajari  cara membuat proyek keilmuan.  Misalnya membangun institusi pendidikan dengan tanpa modal.  Caranya : dia bisa mencari bantuan, yang diajarkan secara step by step”.

”Apakah di kampus ini,  juga dibuka peluang kerjasama dengan pihak luar  non alumni,  misalnya dalam wujuk kerjasama penulisan ?,  sambutku ketika   dibuka peluang untuk bertanya.

”Oh ada”,  tukas Dr. Ibrahim Sulthon,  ”kita membuka peluang kerjasama keilmuan,  seperti Daaurah tokoh,  menulis bersama dalam jurnal,  serta kerjasama penelitian. Anggaran kerjasama yang kami sediakan cukup besar. MOU sampai sekarang belum banyak diajukan,  oleh karena itu peluang kerjasama masih sangat terbuka dilakukan”.

Kuperhatikan Mas Hamdan dan Wawan matanya langsung berbinar,  demi mengetahui peluang kerjasama masih terbuka lebar.

”Persyaratan satu saja,  kerjasama tak berpotensi melanggar aturan kedua negara”,  lanjut Dr. Ibrahim Sulton,  ”Hanya saja,  untuk bidang politik dan ekonomi belum bisa.  Sedangkan untuk sosial keagamaan, dakwah, dan bahasa Arab,  serta isu tentang wanita, masih  terbuka lebar peluangnya.  Khusus isu-isu politik saat ini baru ada di universitas King Saud di Riyad saja,  yang kebetulan para diplomat hampir semua alummnus sana”.

”Tahapan untuk bangun  kerjasama seperti apa ?,  maksudku,  bagaimana  proses untuk mewujudkannya ?, tanyaku singkat.

”Sederhana saja.  Dari LIPI secara kelembagaan,  silahkan mengajukan ke Rektor,  ke Bagian Hubungan Internasional”,  sahut Dr. Abdul Aziz, ”Intinya yang penting thema kerjasama sesuai misi Jamiah. Bisa kerjasama penelitian, bisa berupa pelatihan (dari Arab ke Indonesia misalnya), bahkan termasuk pertukaran pelajar dengan ijasah dari Jamiah”

Mentari makin menjulang tinggi,  dan diskusi inipun segera  kami akhiri.  Semoga peluang kerjasama dapat ditindaklanjuti.  Syukron Jaziilan ya  Doktorain:  terima kasih banyak wahai dua Doktor:   Ibrahim Sulthon wa  Abdul Aziz.***