Archive for Mei, 2018

Buang Makanan, Tak Cerminkan Ajaran Islam (Bagian 24)

Sangat beruntung rasanya,  kami berkenalan dengan para petualang muda yang rela meninggalkan Indonesia untuk menuntut ilmu jauh dari keluarga: Saudi Arabia.  Terus terang,  saya  mendapatkan beberapa kesan khusus terhadap mereka.

Di Makkah Al Mukarromah misalnya,  Mas Erika merupakan profil yang langsung akrab dengan orang yang baru ditemuinya.  Percakapan mengalir seolah tak ada batasan apatah lagi kecurigaan.  Berbagai informasi yang sensitif pun sempat dia sampaikan tanpa keraguan.  Mas Mubarok  tampaknya tak jauh beda,  langsung semanak  mendampangi kami,  menyela kegiatan super padat urusan umroh yang harus ia jalani.

Bagaimana dengan yang di  Madinah al Munawwaroh  ?  Dari segi gaya agak berbeda,  namun  substansinya tetap sama.   Mas Nahidl merupakan profil ”pendiam”  sehingga  bicara terkesan secukupnya.  Mas Azmy  terkesan dingin dari tatapan mata dan ekspresi wajahnya,  namun setelah kenal ternyata cukup hangat orangnya.  Mas Azmy lah  yang menurut mas Nahidl sempat didaulat mendampingi Muhammad Nuh,  mantan menteri Pendidikan  kita,  selama mengunjungi Saudi Arabia.  Adapun mas Fakhruddin,  lelaki asal Gresik senantiasa tampak  optimis ceria,  dengan senyum tak pernah lepas dari bibir ketika bicara.  Mungkin karena karekter itu pula,  mas Fakhruddin  memiliki jaringan dengan beberapa pejabat dan atau dosen  di kampusnya.  Mas Izdihar masih terlihat gaya mudanya,  meskipun sudah 24 tahun usianya.  Sementara mas Imam Khairul Annas meski dari raut muka terlihat paling muda,  namun gaya bicara dan informasi yang disampaikannya  terkesan matang.  Mungkin  jabatan ketua PPMI Saudi Arabia,  serta sering  melakukan kunjungan ke berbagai kota  untuk menemui mahasiswa yang ”dipimpinnya”,   menjadikan  mas Imam menjadi lekas dewasa.    Oh ya,  sebenarnya kami juga sempat  jumpa Muhammad Sidqi (ketua PPMI  Madinah),  yang dilakukan malam  hari.  Karena pertemuan  singkat sekali (19.30-21.00),  saya belum mampu menangkap kesan profil pemuda ini,  kecuali satu kata : cerdas.

Intinya,  siapapun mereka,  aku berdo’a  semoga perjuangan dalam meraih pendidikan  akan menuai keberkahan,  baik untuk diri, keluarga,  bangsa,  atau bahkan masyarakat Islam dunia.  Amin….

Kami tak sempat makan bersama mahasiswa Makkah kecuali dengan mas Oebaidillah. Namun di Madinah,  kami sempat beberapa kali makan bareng mahasiswa.  Mungkin inilah yang dinamakan berkah,  baik untuk kami maupun untuk mereka.  .

Beberapa kali  di restoran,  kami berdampingan dengan orang-orang Arab yang juga sedang makan.  Sesekali kusempat melirik.  Masyaallah,   porsi yang disajikan sungguh luar biasa.  Satu orang saja ,  dihadapkan pada sebuah nampan besar  yang untuk ukuran normal  Indonesia bisa dimakan bertiga. Problemnya,  porsi makanan besar itu umumnya tak berhasil dihabiskan.  Walhasil,  sebagian besar mereka akhirnya  menyisakan makanan bahkan ada yang hampir separoh dari sajian.  Sisa makanan itu akhirnya menjadi sampah,  yang ketika dikumpulkan menjadi sangat berlimpah.

”Naudzubillah min dzaalik…”,  hatiku meradang melihat fenomena ini. ”Apakah mereka tak pernah mendengar ajaran Islam,  bahwa perilaku mubazir dapat menjadikan teman setan ?   Apakah mereka tak pernah baca,  bahwa sikap boros buang-buang makanan menjadi bagian dari  perilaku  kerusakan ?  Apakah mereka tak pernah nonton TV betapa di berbagai belahan bumi banyak manusia mati karena kelaparan  ? Itulah serangkaian tanya yang menggelayut dalam dada,  untaian kemarahan yang berkecamuk di kepala. Intinya,  mereka mungkin belajar Islam sehari-hari,  bahkan hidup di tanah suci,  namun khusus dalam soal makan perilakunya jauh dari kata Islami.

”Astaghfirullah ” ,  aku mengelus dada,  mohon ampunan  karena telah menilai orang lain berdasar parameter kekurangan.  Haasibuu qobla antuhaasabuu:  Nilailah dirimu sendiri sebelum engkau menilai orang lain,  demikian ajaran Islam telah mengajarkan.***

 

 

 

Iklan

Kesan Rangkaian Kunjungan : Kampus – Kantor Sederhana: (Bagian 23)

Pasca diskusi dengan Dr. Murdhi, mobil langsung mengaspal  di jalanan  meluncur ke sebuah rumah makan.  Kunjungan ke Jamiah At Taibah pada Senin  siang,  merupakan  penutup penelitian di kampus dan atau  perkantoran.  Dari serangkaian  kunjungan di Jeddah – Makkah – Madinah  secara umum bisa ku gambarkan  bahwa kampus –  kantor –   dan asrama mahasiswa di Saudi Arabia  ternyata biasa-biasa saja,  jauh dari kata mewah realitasnya.

Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawy di Madinah  memang sangat megah bangunannya.  Atas referensi dua masjid tadi,  maka ketika akan berkunjung ke kantor – kampus – asrama sudah tergambar di benak  kami bahwa kami akan menemukan  gedung-gedung yang juga megah – mewah.  Namun  begitu kaki menapak  masuk  lokasi,  bayangan keindahan langsung buyar dari imajinasi.  Ternyata gedung-gedung yang kujumpa,  arsitektur luar maupun  interior di dalamnya biasa saja untuk tak disebut sederhana.

Kantor Rabithah  ’Alam Islamy misalnya,  meski namanya sedemikian mendunia,  bahkan telah ku kenal sejak masih belia,  ternyata bangunannya  cukup sederhana,  biasa interiornya,  sederhana perabotannya.  Begitu juga Universitas Islam Madinah yang namanya mendunia di kalangan siswa agama (baca: santri),    jenggerek bangunannya tergolong sederhana.  Dibanding dengan  Universitas Indonesia (tempat ku menimba ilmu bertahun-tahun lamanya)  saja kalah jauh kualitasnya.  Hal tak berbeda ketika berkunjung ke asrama mahasiswa:  sederhana,  baik asrama Universitas Ummul Quro di Makkah maupun asrama Universitas Islam Madinah. Singkat kata,  semuanya biasa saja,  semuanya sederhana.

Dua hari belakangan,  banyak  mahasiswa mendampingi kami  dalam melakukan ”peliputan” .  Ada mas Nahidz Ahmad Silmi dan mas Azmy Zarkasi  keduanya  kandidat Doktor.  Ada beberapa mahasiswa S1,  seperti Imam Khairul Annas yakni mantan ketua PPMI Arab Saudi, mas  Fakhruddin yang juga dosen di STAI Gontor,  tentu saja  termasuk mas Izdihar. Bersama mereka inilah,  dua hari terakhir di Saudi  kami secara informal  menggali banyak  informasi.

Mobil mengaspal pelan,  lantas berhenti di sebuah restoran.  Pada hari pertama, saya merasa kagok karena ditraktir mas Nahidl, mahasiswa  muda,  meskipun level Doktor pendidikannya. Umurnya 34 tahun.  Karena status mahasiswa tetap melekat padanya,  maka kami tak merasa nyaman ketika ditraktir makan.

“Wan.. sana segera bayari,  nggak enak kalau mahasiswa yang justri membayari”,   kataku setengah mendesak.

“Saya sudah berusaha kasih uang,  tapi mas Nahidl maksa uang dikembalikan”,  tukas Wawan.  Dari mimik mukanya,   Wawan juga merasa kurang nyaman karena  dibayari makan.

Apa boleh buat,  untuk hari pertama terpaksa kami ditraktir mahasiswa.  Barulah di hari kedua,  Wawan sang bendahara yang mengeluarkan uang untuk bayar makan.  Itupun, kulihat diam-diam  mas Nahidl –  mas Azmy masih mengeluarkan uang juga, untuk menambah menu tambahan.  Jazakallah mas Nahidl.

Sikap kokoh “ngebosi”  dua kandidat doktor ini akhirnya dapat kumaklumi. Sebab,  meskipun berstatus mahasiswa,  namun back-ground keduanya sepertinya tergolong mampu semua.  Mas Azmy bahkan putra pemilik pesantren  Gontor,   dan mas Nahidl pun memiliki back-ground tak kalah istimewa,  keponakan K.H. Musthof Bisri sekaligus keponakan  H. Maftuh Basuni,  salah satu Menteri Agama  yang pernah  kita miliki.

Apalagi,  mahasiswa Saudi umumnya  juga sambil  berbisnis.  Kandidat Doktor di  Makkah seperti Mas Mubarok  misalnya, dari komunikasi via telpon yang aku dengarkan,  ternyata sibuk  mengatur Umroh asal Indonesia.  Hal serupa  dilakukan Mas Nahidl di  Madinah.  Bahkan,  pria asal Rembang ini merupakan counter-part mas Ferly  untuk mengatur perjalanan kami selama di Saudi.  Singkat kata,  meski mahasiswa,  mereka memiliki banyak real  di dalam kantongnya. Mabruk mas..he..he..

Mahasiswa yang berbisnis ternyata tak terbatas pada level Doktoral saja, yang pada umumnya memang  sudah berkeluarga.  Mahasiswa level sarjana juga terlibat,  setidaknya untuk urusan pendampingan selama perjalanan.  Mas Iztihar yang selama berhari-hari menyertai kami misalnya,  atau mas Muhammad Isa yang menjadi driver dalam petualangan di pedesaan  Madinah j  adalah dalam kerangka ”bisnis” semua.  Semoga langkah bisnis mereka diniatkan untuk menopang kelancaran  belajarnya,  memperkokoh pendidikan,  dan semoga  pekerjaannapun  diniatkan untuk membantu  Jamaah Umroh  sebagai realisasi peribadatan.  Walhasil,  jika itu semua yang menjadi landasan,  apa yang mereka lakukan akan berimbal dengan berbagai keberkahan.  Amin…ya..mujibassailin…..***