Archive for Juni, 2018

Mengenali Orang Saudi : Jaim dan Rapi (Bagian 26)

Madinah pagi hari.  Tepatnya Selasa 12 April di waktu  pagi.  Sinar mentari telah berpendar  menyinari seluruh lekukan bumi.  Kami berempat melangkah pelan meninggalkan penginapan menuju pusat perbelanjaan.  Mas Hamdan,  Wawan,  saya dan Fakhry  bermaksud cari oleh-oleh  mengingat waktu di tanah suci sudah tak tersisa lagi.  Sore  pada Selasa ini,  kami sudah mau pulang  ke Indonesia lagi.

Sembari melangkahkan kaki,  otakku melayang ke sana ke mari,  mengevaluasi berbagai peristiwa yang terjadi di tanah suci.  Ya,  selama beberapa hari kami memang berada  di Arab Saudi.  Sekian waktu kami telah  bertemu  orang Saudi ,  dalam kapasitas sebagai  ”peneliti”.    Sudah dua minggu  kami  berinteraksi dengan para mahasiswa,  yang telah tahunan tinggal di Saudi Arabia.  Selama itu pula  banyak informasi kami dapatkan, data sosial politik keagamaan  maupun terkait kultur sosial kemanusian.  Setidaknya  ada beberapa informasi yang menarik untuk diceritakan:

Pertama,  semula kami kesulitan untuk mengenali  apa dan bagaimana ciri orang Saudi asli,  karakter yang mampu menentukan apakah orang Arab yang kami temui adalah warga Saudi ataukah non Saudi.  Hampir semua mahasiswa memberi rahasia  cara membedakannya: (1). Orang Saudi umumnya  menjaga penampilan.  Pakaiannya selalu licin diseterika,  bahkan cara duduk pun di atur sedemikian rupa. (2).  Kebanyakan orang Saudi lebih suka memakai Surban bermotif merah warnanya,  meskipun ada sebagian yang memilih putih polos  juga.

Kunci rahasia ini langsung saya praktekkan  dengan mengamati beberapa  pengunjung restoran tempat kami makan.  Ternyata benar,  beberapa pemuda Saudi yang makan di lokasi,  pakaiannya licin  sekali,  hampir semua  bersorban motif merah,  dan cara duduk  pun dijaga sedemikian rupa. Ciri-ciri yang sama  kuimplementasikan di masjid Nabawy.  Mataku nanar memperhatikan jamaah Nabawy,  dan melalui  dua ciri utama  tadi akhirnya aku dengan mudah  dapat mengenali  warga Saudi.   Singkat kata,  tanpa harus memandang rupa wajah,  karakter penampilan ternyata dapat menjadi pandu pengenalan.

Kedua,  orang Saudi  pada umumnya baik sekali.  Hanya saja,  mereka biasa jaim (jaga image) dalam penampilannya.   Pertanyaannya:  kenapa  ketika umrah – haji  acapkali dijumpai  warga Arab yang  kasar dalam bicara dan perilakunya. “Mereka Arab,  tapi belum tentu warga Saudi”,  jelas mas Iwan Setiawan,  tenaga catering Indonesia yang berasal dari Bima,  meskipun dia memiliki nama Sunda. “Orang Saudi baik-baik.  Biasanya yang berperilaku  kasar adalah Arab Mesir”,  tambahnya,  “Oleh karenanya mereka acapkali dilabeli sebagai Fir’aun”.

Tentu saja kami tertawa mendengar penjelasan mas Iwan.

“Arab Mesir itu kasara,  dan suka berantem”,  tambahnya, “Asykar biasanya membiarkan saja.  Hanya ketika mereka kasar pada warga Saudi,  maka hukuman siap menanti belakangan”.

Ketiga,  orang Saudi acapkali dilabeli image : pemalas, tak punya  mental petarung baik di dunia pendidikan maupun pekerjaan. Sebagian memang sesuai fakta,  namun  fenomena ini tak bisa digeneralisir pada semua.  Di belahan dunia manapun,  biasanya  para pendatang  memang  lebih ulet  dibanding  pribumi-lokal.  Fakta serupa  bahkan berlaku pada suku-suku lokal Indonesia,  terutama ketika dibanding dengan suku pendatang pada lokasi yang sama.

Dalam konteks Saudi,  sopir mahasiswa yang mengantar kami dari Rabithah menuju hotel di Misfallah adalah contohnya,  betapa pemuda Saudi ada pula yang ulet –  pekerja keras dalam hidupnya.  Kadaar intelektual mereka banyak juga  yang tinggi levelnya,  sebagaimana para Doktor muda yang berhasil kami jumpai selama kunjungan di Saudi.   “ Mereka umumnya  kuat dalam hafalan”,  jelas mas Mubarok, kandidat Doktor dari Universitas Ummul Quro “oleh karenanya,  terutama di fakultas agama biasanya mahasiswa  Saudi  cukup dominan,  karena pada fakultas keagamaan memang lebih mengandalkan daya hafalan,  baik Tarikh, Hadits,  dan terutama hafal Al Qur’an”.

Setelah sekian langkah  kami ayunkan kaki,  akhirnya sampailah kami  ke lokasi :   Bin Dawood sebagai tujuan kami,  super market yang menyajikan berbagai kebutuhan termasuk sebagian jenis oleh-oleh dari tanah suci.  Mborong, yuk….***

Iklan

Undangan Makan: Wujud Kepercayaan Plus Penghormatan (Bagian 25)

Senin  ba’da Maghrib mas Azmy sudah menjemput kami, di Mubarak Silver Hotel  . yang kami tempati. Tanpa ba-bi-bu lagi,  kami langsung meluncur ke rumah Dr. Murdhi Ali Idris  yang telah mengundang makan siang tadi.  .

Setelah mampir sholat Isya’ di sebuah masjid tak jauh dari lokasi,  akhirnya sampailah kami di rumah   wakil direktur program pascasarjana jurusan ilmu dakwah dan khutbah universitas Thaybah tadi. Rumahnya terletak di sebuah kawasan kaya,  menunjukkan bahwa beliau tergolong orang berada.  Kami langsung dipersilahkan masuk ke ruang tamu keluarga,   yang disetting seolah kami sedang  berada dalam tenda.

”Saya punya satu lagi tempat bak tenda seperti ini”,  sekilas ku tangkap
Dr. Murdhi pamer menjelaskan. Maklum,  bahasa Arab saya memang terbatas kosa katanya,  ”satunya lagi terdapat di daerah menuju Tabuk”.

Kami manggut-manggut mendengarkan,  dan Dr. Murdhi dengan wajah sumringah terus menerangkan. ”Saya punya dua istri”,  Dr. Murdhi bicara lagi.  Mungkin,  istri yang satunya lagi  tinggal di  rumah menuju Tabuk  seperti yang ia pamerkan tadi.  Kutatap wajahnya dalam-dalam. Terpancar dari romannya sebuah keramahan.  Bahkan dari gaya bicara,  ketawa,  tatapan mata,  kurasa seolah saya telah lama mengenalnya.  Namun,  dimana ?  ”Ah..mustahil”,  spontan sang hati menolak perasaan saya.

Terdapat beberapa hal patut kuceritakan terkait pengalaman  menghadiri  undangan makan malam dari orang Saudi asli:

Pertama, memperoleh undangan  ke rumah orang Saudi konon merupakan sebuah kehormatan, sebab  hampir semua siswa dan pekerja Indonesia menyatakan bahwa:   orang Saudi itu tertutup sekali.  ”Meskipun  di  kampus  akrab dengan mereka,  namun tak ada yang pernah mengundang datang ke rumahnya”,  kata mas  Mubarok kandidat Doktor yang telah belasan tahun  tinggal di Makah. Hal persis sama dikatakan mas Erika.  ”Ada sih  teman Saudi  yang akrab sekali.  Meskipun secara rutin mengajakku sholat Jum’at  di masjidil haram,  namun tak sekalipun pernah  membawaku ke rumahnya”,  kata mas Erika melanjutkan.  ”Hanya orang yang sangat dipercaya,  dan orang yang kepadanya dia merasa nyaman saja,  warga Saudi baru mengundang untuk datang”,  tambah mas Mubarok.   Walhasil,  ketika tahu kami diundang makan oleh warga Saudi,  mas Mubarok  merasa surprise sekali.  Apalagi pihak pengundang  adalah Syekh Ismail,  Naibul Mudiir  Yayasan Al Hai’ah Haramain pimpinan Syekh As-Sudais, maka keteperanjatan lah yang ia ekspresikan.

Problemnya,  undangan justru tak bisa kami penuhi,  sebab jatah tinggal di Makah memang sudah tak tersisa lagi. Padahal, ”Penolakan terhadap undangan,  sebenarnya  tidak sopan”, komentar mas Azmy setelah mendengar cerita  tentang ketidakhadiran atas undangan makan malam dari Syekh Ismail.  ”Ya bagaimana lagi.  Kondisi  memang tak memungkinkan untuk memenuhi.”,  sambut mas Nahidl menetralisir situasi.

Dus,  ketika di Madinah kembali dapat undangan makan,  tentu  membawa keterpanaan,  bahwa kami  memang mendapat keberkahan.  Maklum,  sekali lagi,  orang Saudi itu tertutup sekali.  Lha kenapa  kita bisa diundang  ke rumah untuk  makan,  meskipun baru saja kenalan ?  Jawabnya : Allahu a’lam.: hanya Allah yang tahu.

Kedua,  dalam tradisi Saudi,  ketika seseorang mengundang makan,  biasanya sang tuan rumah akan mengajak  serta  satu dua  teman terdekatnya. Terkait dengan ketidakhadiran dalam undangan Syekh Ismail di Makah misalnya,  dengan nada kecewa beliau sempat berkata,   ”sayang sekali kalian tidak bisa datang,  padahal saya juga mengajak beberapa teman untuk menemui kalian”.  Demikian info Fakhry pada kami,  sebab  Fakhry  lah yang bertugas kontak dengan Syekh Ismail.

Hal yang sama juga terjadi di Madinah.  Dalam undangan makam malam,  Dr. Murdhi Ali Idris ternyata juga menghadirkan teman dekatnya,  Dr. Khalid As Subaidi, dosen juruan ilmu hadits Universitas Islam Madinah, yang kebetulan telah beberapa kali  datang ke Indonesia. Walhasil,  dalam acara   Senin malam itu kami terlibat cengkerama  dengan mereka.

Ketiga, dalam tradisi makan bersama di Saudi,  tamu tak  diperjumpakan dengan sang istri.  Hal ini berbeda dengan kultur Indonesia,  bahwa sang tamu diperkenalkan dengan seluruh anggota keluarga  tuan rumahnya.  Intinya:    tamu pria hanya dilayani  sang tuan rumah pria,  alias tak akan pernah diperkenalkan dengan penghuni wanita.  Sebaliknya,  tamu wanita hanya ditemui  tuan rumah wanita,  dan tak akan pernah diperkenalkan dengan penghuni pria.  Ruang tamu pun,  sengaja dibangun terpisah  di halaman terdepan  terpisah dari ruang induknya.

Meski demikian,  penghormatan tuan rumah tetap maksimal dicurahkan.  Caranya: karena kami para pria,  maka  ”semua anak lelaki si tuan rumah dimobilisasi  untuk  melayani.  Mereka bahkan tak ikut makan,  tapi  hanya berdiri memperhatikan,  sekaligus memberi pelayanan.  Anak-anak tuan rumah lah yang menyajikan minuman makanan,  sekaligus membereskan pasca acara makan”,  jelas Kr. Khalid As Subaidi  yang diterjemahkan pak Budi.

Keempat,  dalam tradisi Arab Saudi  yang disebut undangan makan malam (’asya’),  pelaksanaannya benar-benar  di tengah malam,  sekitar jam 23.00-24.00.  Sambil menunggu detik-detik  waktu makan,  tamu dan tuan rumah biasanya  sibuk dalam perbincangan,  diselingi makanan ringan serta minuman.  Khusus dengan kami,  Dr. Murdhi tampaknya telah paham tradisi,  bahwa di Indonesia makam malam dilaksanakan paling lambat  setelah Isya’ waktunya.  Walhasil,  khusus kepada kami,  acara makan malam akhirnya dipercepat  sebelum tengah malam.  Pemahaman ini bahkan telah disampaikannya ketika pertama mengundang,  sehingga kami tak khawatir harus bertamu  sampai tengah malam.   Singkat kata,  ketika jam menunjuk ke angka 23.00  acara makan malam telah  mencapai ujungnya.  Alhamdulillah…

Kelima,  dalam acara makan bersama,   ternyata ada pula etika dan tatakramanya. ”makanan yang sudah disuapkan,  sisa di tangan tak boleh dikembalikan ke dalam nampan”,  terang Muhammad Isa yang telah tinggal di Arab sejak SD usianya, ”Kalau ada kelebihan di tangan,  sisa itu cukup ditaruh di plastik  telenan yang biasanya dijadikan alas tatakan bersama”.  Karena tradisi inilah,  maka  makan bersama orang Saudi,  pasti akan didapati  sang nasi banyak  yang terpapar  di luar nampan  tepat di  depan.

”Dalam terminologi Islam,  perilaku ini jelas menjadi kemubaziran. Siapa tahu  nasi yang dicecer justru yang mengandung keberkahan”,  kataku protes.  Sejenak aku terdiam,  mengunyah,  lantas melontarkan pertanyaan, ”bagaimana seandainya  butiran nasi yang tersisa di  tangan, nekad dikembalikan dalam nampan ?.

”Kita akan ditinggalkan.  Orang Saudi akan tersinggung,  karena perilaku itu dianggap penghinaan”,  tandas  sarjana baru  Universitas Islam Madinah  di bidang ekonomi tadi.

Keenam,  dalam tradisi Saudi   undangan makan baru berakhir  bukan ditandai ketika  tamu pamitan, melainkan justru  menunggu tuan rumah sampai mengucapkan :  baarokallah.  Bila tuan rumah telah mengatakan demikian,  tandanya pertemuan  sudah berakhir tidak dilanjutkan.  Walhasil,  sekitar pukul 23.00  Dr. Murdhi  mengucapkan kata-kata yang agak lama kami nanti : Barakallah,  sehingga kami dapat segera pulang untuk istirahat menunggu saat pulang.

Kembali ke soal undangan Dr. Murdhi,  saya sempat dihadapkan pada dilema,  terutama terkait soal etika.  Di satu sisi pak Budi mendorongku  untuk  bertanya pada isu-isu dan persoalan yang saya bawa.  Namun, di sisi lain mas Azmy justru ngasih tahu agar konsentrasi makan saja, tak usah diskusi  masalah berat tetapi  cukup membangun perbincangan ringan.   Tetapi,  apapun  dilema dan kecanggungan  yang sempat  kurasakan,  tapi  itulah pengalaman luar biasa,  yang tak sembarang orang bisa mencoba: diundang makan  malam di rumah seorang Saudi Arabia. Alhamdulillah….***