Undangan Makan: Wujud Kepercayaan Plus Penghormatan (Bagian 25)

Senin  ba’da Maghrib mas Azmy sudah menjemput kami, di Mubarak Silver Hotel  . yang kami tempati. Tanpa ba-bi-bu lagi,  kami langsung meluncur ke rumah Dr. Murdhi Ali Idris  yang telah mengundang makan siang tadi.  .

Setelah mampir sholat Isya’ di sebuah masjid tak jauh dari lokasi,  akhirnya sampailah kami di rumah   wakil direktur program pascasarjana jurusan ilmu dakwah dan khutbah universitas Thaybah tadi. Rumahnya terletak di sebuah kawasan kaya,  menunjukkan bahwa beliau tergolong orang berada.  Kami langsung dipersilahkan masuk ke ruang tamu keluarga,   yang disetting seolah kami sedang  berada dalam tenda.

”Saya punya satu lagi tempat bak tenda seperti ini”,  sekilas ku tangkap
Dr. Murdhi pamer menjelaskan. Maklum,  bahasa Arab saya memang terbatas kosa katanya,  ”satunya lagi terdapat di daerah menuju Tabuk”.

Kami manggut-manggut mendengarkan,  dan Dr. Murdhi dengan wajah sumringah terus menerangkan. ”Saya punya dua istri”,  Dr. Murdhi bicara lagi.  Mungkin,  istri yang satunya lagi  tinggal di  rumah menuju Tabuk  seperti yang ia pamerkan tadi.  Kutatap wajahnya dalam-dalam. Terpancar dari romannya sebuah keramahan.  Bahkan dari gaya bicara,  ketawa,  tatapan mata,  kurasa seolah saya telah lama mengenalnya.  Namun,  dimana ?  ”Ah..mustahil”,  spontan sang hati menolak perasaan saya.

Terdapat beberapa hal patut kuceritakan terkait pengalaman  menghadiri  undangan makan malam dari orang Saudi asli:

Pertama, memperoleh undangan  ke rumah orang Saudi konon merupakan sebuah kehormatan, sebab  hampir semua siswa dan pekerja Indonesia menyatakan bahwa:   orang Saudi itu tertutup sekali.  ”Meskipun  di  kampus  akrab dengan mereka,  namun tak ada yang pernah mengundang datang ke rumahnya”,  kata mas  Mubarok kandidat Doktor yang telah belasan tahun  tinggal di Makah. Hal persis sama dikatakan mas Erika.  ”Ada sih  teman Saudi  yang akrab sekali.  Meskipun secara rutin mengajakku sholat Jum’at  di masjidil haram,  namun tak sekalipun pernah  membawaku ke rumahnya”,  kata mas Erika melanjutkan.  ”Hanya orang yang sangat dipercaya,  dan orang yang kepadanya dia merasa nyaman saja,  warga Saudi baru mengundang untuk datang”,  tambah mas Mubarok.   Walhasil,  ketika tahu kami diundang makan oleh warga Saudi,  mas Mubarok  merasa surprise sekali.  Apalagi pihak pengundang  adalah Syekh Ismail,  Naibul Mudiir  Yayasan Al Hai’ah Haramain pimpinan Syekh As-Sudais, maka keteperanjatan lah yang ia ekspresikan.

Problemnya,  undangan justru tak bisa kami penuhi,  sebab jatah tinggal di Makah memang sudah tak tersisa lagi. Padahal, ”Penolakan terhadap undangan,  sebenarnya  tidak sopan”, komentar mas Azmy setelah mendengar cerita  tentang ketidakhadiran atas undangan makan malam dari Syekh Ismail.  ”Ya bagaimana lagi.  Kondisi  memang tak memungkinkan untuk memenuhi.”,  sambut mas Nahidl menetralisir situasi.

Dus,  ketika di Madinah kembali dapat undangan makan,  tentu  membawa keterpanaan,  bahwa kami  memang mendapat keberkahan.  Maklum,  sekali lagi,  orang Saudi itu tertutup sekali.  Lha kenapa  kita bisa diundang  ke rumah untuk  makan,  meskipun baru saja kenalan ?  Jawabnya : Allahu a’lam.: hanya Allah yang tahu.

Kedua,  dalam tradisi Saudi,  ketika seseorang mengundang makan,  biasanya sang tuan rumah akan mengajak  serta  satu dua  teman terdekatnya. Terkait dengan ketidakhadiran dalam undangan Syekh Ismail di Makah misalnya,  dengan nada kecewa beliau sempat berkata,   ”sayang sekali kalian tidak bisa datang,  padahal saya juga mengajak beberapa teman untuk menemui kalian”.  Demikian info Fakhry pada kami,  sebab  Fakhry  lah yang bertugas kontak dengan Syekh Ismail.

Hal yang sama juga terjadi di Madinah.  Dalam undangan makam malam,  Dr. Murdhi Ali Idris ternyata juga menghadirkan teman dekatnya,  Dr. Khalid As Subaidi, dosen juruan ilmu hadits Universitas Islam Madinah, yang kebetulan telah beberapa kali  datang ke Indonesia. Walhasil,  dalam acara   Senin malam itu kami terlibat cengkerama  dengan mereka.

Ketiga, dalam tradisi makan bersama di Saudi,  tamu tak  diperjumpakan dengan sang istri.  Hal ini berbeda dengan kultur Indonesia,  bahwa sang tamu diperkenalkan dengan seluruh anggota keluarga  tuan rumahnya.  Intinya:    tamu pria hanya dilayani  sang tuan rumah pria,  alias tak akan pernah diperkenalkan dengan penghuni wanita.  Sebaliknya,  tamu wanita hanya ditemui  tuan rumah wanita,  dan tak akan pernah diperkenalkan dengan penghuni pria.  Ruang tamu pun,  sengaja dibangun terpisah  di halaman terdepan  terpisah dari ruang induknya.

Meski demikian,  penghormatan tuan rumah tetap maksimal dicurahkan.  Caranya: karena kami para pria,  maka  ”semua anak lelaki si tuan rumah dimobilisasi  untuk  melayani.  Mereka bahkan tak ikut makan,  tapi  hanya berdiri memperhatikan,  sekaligus memberi pelayanan.  Anak-anak tuan rumah lah yang menyajikan minuman makanan,  sekaligus membereskan pasca acara makan”,  jelas Kr. Khalid As Subaidi  yang diterjemahkan pak Budi.

Keempat,  dalam tradisi Arab Saudi  yang disebut undangan makan malam (’asya’),  pelaksanaannya benar-benar  di tengah malam,  sekitar jam 23.00-24.00.  Sambil menunggu detik-detik  waktu makan,  tamu dan tuan rumah biasanya  sibuk dalam perbincangan,  diselingi makanan ringan serta minuman.  Khusus dengan kami,  Dr. Murdhi tampaknya telah paham tradisi,  bahwa di Indonesia makam malam dilaksanakan paling lambat  setelah Isya’ waktunya.  Walhasil,  khusus kepada kami,  acara makan malam akhirnya dipercepat  sebelum tengah malam.  Pemahaman ini bahkan telah disampaikannya ketika pertama mengundang,  sehingga kami tak khawatir harus bertamu  sampai tengah malam.   Singkat kata,  ketika jam menunjuk ke angka 23.00  acara makan malam telah  mencapai ujungnya.  Alhamdulillah…

Kelima,  dalam acara makan bersama,   ternyata ada pula etika dan tatakramanya. ”makanan yang sudah disuapkan,  sisa di tangan tak boleh dikembalikan ke dalam nampan”,  terang Muhammad Isa yang telah tinggal di Arab sejak SD usianya, ”Kalau ada kelebihan di tangan,  sisa itu cukup ditaruh di plastik  telenan yang biasanya dijadikan alas tatakan bersama”.  Karena tradisi inilah,  maka  makan bersama orang Saudi,  pasti akan didapati  sang nasi banyak  yang terpapar  di luar nampan  tepat di  depan.

”Dalam terminologi Islam,  perilaku ini jelas menjadi kemubaziran. Siapa tahu  nasi yang dicecer justru yang mengandung keberkahan”,  kataku protes.  Sejenak aku terdiam,  mengunyah,  lantas melontarkan pertanyaan, ”bagaimana seandainya  butiran nasi yang tersisa di  tangan, nekad dikembalikan dalam nampan ?.

”Kita akan ditinggalkan.  Orang Saudi akan tersinggung,  karena perilaku itu dianggap penghinaan”,  tandas  sarjana baru  Universitas Islam Madinah  di bidang ekonomi tadi.

Keenam,  dalam tradisi Saudi   undangan makan baru berakhir  bukan ditandai ketika  tamu pamitan, melainkan justru  menunggu tuan rumah sampai mengucapkan :  baarokallah.  Bila tuan rumah telah mengatakan demikian,  tandanya pertemuan  sudah berakhir tidak dilanjutkan.  Walhasil,  sekitar pukul 23.00  Dr. Murdhi  mengucapkan kata-kata yang agak lama kami nanti : Barakallah,  sehingga kami dapat segera pulang untuk istirahat menunggu saat pulang.

Kembali ke soal undangan Dr. Murdhi,  saya sempat dihadapkan pada dilema,  terutama terkait soal etika.  Di satu sisi pak Budi mendorongku  untuk  bertanya pada isu-isu dan persoalan yang saya bawa.  Namun, di sisi lain mas Azmy justru ngasih tahu agar konsentrasi makan saja, tak usah diskusi  masalah berat tetapi  cukup membangun perbincangan ringan.   Tetapi,  apapun  dilema dan kecanggungan  yang sempat  kurasakan,  tapi  itulah pengalaman luar biasa,  yang tak sembarang orang bisa mencoba: diundang makan  malam di rumah seorang Saudi Arabia. Alhamdulillah….***

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: