Archive for Juli, 2018

Pembinaan Keagamaan: Keberadaan Asykar Nahi Munkar (Bagian 28)

Meski  masih pagi namun matahari kian meninggi.  Kami masih di dalam Bin Dawood  asyik sekali,  memilah dan memilih barang belanjaan dengan super teliti.  Berbagai pertimbangan  menggelayuti kepala,  agar  kami tak beli  sesuatu yang tak maksimal kemanfaatannya.  Saya tak mau boros dalam berbelanja.  Saya tak mau mubazir dengan beli sesuatu yang tak ”bermakna”.  Sebab, dua hal itu  bertentangan dengan perintah agama.

Oh ya,   sebagai Khadimul Karamain,  penjaga dua tempata suci,  penguasa Saudi  punya perhatian serius dalam urusan  keagamaan bagi rakyatnya.  Ulama memiliki peran signifikan dalam pemerintahan, yakni menjadi  penasehat penting bagi sang raja  dalam  berbagai kebijakan.   Walhasil,  mengingat pentingnya posisi Ulama,  maka  penguasa Saudi juga membangun dan atau membina berbagai lembaga pendidikan agar menghasilkan ulama-ulama handal  baik untuk kebutuhan dalam negeri ataupun dunia Islam pada umumnya.

Dalam rangka  membantu mencetak kader-kader ulama di dunia Islam,  dua universitas terkemuka misalnya,  sengaja dihadirkan dengan segudang  beasiswa bagi mahasiswa mancanegara,  seperti universitas Ummul Qura (di Jeddah-Makkah)  dan Universitas Islam Madinah  yang bahkan 60 persen nya adalah mahasiswa mancanegara.  Meski mayoritas siswa mancanegara,  kenyataannya tidak sedikit  ulama  Saudi  juga dilahirkan dari dua universitas tadi.

“Namun,  gudangnya  ulama-ulama besar di Arab Saudi  berasal dari lembaga-lembaga pendidikan asal propinsi Qasim”,  kata Imam  mantan ketua PPMI  Saudi Arabia.  “Kebanyakan ulama-ulama penting yang menjadi penasehat kerajaan  adalah alumnus dari Qasim”. Propinsi al Qaasim terletak di kawasan Najd,  Arab Saudi bagian tengah.. Lokasinya tak jauh dari seputaran Ha’il dan Riyadh. Najd inilah sebagai tempat lahirnya pendiri “paham Wahabi”  dan leluhur Dinasti Saud. Namun,  tak semua keturunan Raja Sa’ud otomatis menjadi pengikut Wahabi. Bahkan, termilogi Wahabi sendiri berasal dari Barat,  dan tak dikenal di Arab Saudi,  mengingat paham yang diikuti adalah madzab Hambali..

Mendengar kata Qaasim  saya langsung teringat pada Sulaiman Al Rajhi, pendiri sekaligus pemilik Bank Islam Al Rajhi yang lahir dari propinsi ini  tahun 1920.  Dengan demikian,  Qaasim  tampaknya  tak hanya sebagai gudang ulama,  melainkan juga telah melahirkan pengusaha besar semisal Al Rajhi.  Bahkan,  seiring dengan didirikannya Universitas Ar Rajhi (oleh Bankir terbesar di Saudi,  Sulayman Ar Rajhi)  tadi,  dengan spesialisasi bidang kesehatan dan  keuangan Islam,  maka  Qaasim  saat ini  juga menjadi kota  rujukan  untuk pendidikan  kedokteran di Arab  Saudi.  Subhanallah.

Sebenarnya posisi Qaasim yang istimewa ini,  terjadi  bukan karena  sengaja  diistimewakan. Pemerintah Arab Saudi  sebenarnya memperlakukan secara sama untuk  semua sekolah dan kampusnya.  Dalam konteks pendidikan Islam misalnya,  pemerintah memberi  kafaah alias beasiswa pada semua  siswa penghafal al Qur’an di wilayah manapun di  Saudi Arabia.  “Kita diberi kafaah 800 real setiap bulannya”,  kata  mas Muhammad Isa al Haafidz,  warga Indonesia yang tinggal di Saudi sejak kecil  dan  kebetulan   juga menghafal Al Qur’an.

Jika demikian,  lantas kenapa Qaasim menjadi gudang  para ulama  mumpuni di Arab Saudi  ?  Adakah sesuatu rahasia di balik posisi Qaasim ini ? Wallahu a’lam.

Oh ya,  terkait dengan pelajaran keagamaan yang intensif  ini,  ternyata tak lantas  menjadikan Arab Saudi  sepenuhnya menjadi negara “santri”.  Di manapun lokasinya,  dan di manapun negara nya, malaikat selalu ada,  dan setan juga ada.  Hal yang sama terjadi di Saudi Arabia.   Hubungan pria – wanita  memang telah diatur sedemikian ketatnya,  baik dalam dunia pendidikan maupun dunia pekerjaan.  Namun,  seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi,  penyimpangan tetap terjadi. Bahkan,  sedikit keluar dari  kota suci  Makkah,  tepatnya di Jeddah,  ternyata tak semua  wanita masih berhijab berjubah.  Apa yang saya jumpai  di bandara Jedah adalah wajah lain dari  dunia lain Arab Saudi.  Bisa kubayangkan,  hal yang lebih vulgar mungkin terjadi di kota-kota lain yang lebih  jauh dari Madinah Makkah,  kota-kota  yang lebih metropolitan semisal kota  pelabuhan Dahran ataupun ibu kota Riyadh. Sangat kuduga,   penyimpangan dari  agama,  sangat mungkin terjadi lebih hebat  terjadi  di sana.

”Oleh karena itu,  pemerintah Saudi juga memiliki apa yang disebut Badan Amar Ma’ruf Nahi Munkar,  guna mengontrol warganya agar tak terlalu jauh menyimpang dari ajaran Islam”,  kata Syekh Ismail Al-Harby,  Naibul Mudir Yayasan Al hai’ah Al  Haramain  di Makkah Al Mukarramah,   ”Badan Amar Ma’ruf bertugas melakukan pengawasan muda-mudi Saudi dari potensi  perbuatan menyimpang tadi.  Mereka melakukan kontrol pada mereka,  dan jika kedapatan berpacaran  niscaya akan diberi pengarahan sekaligus dikembalikan pada keluarga sebagai sebuah peringatan.  Namun,  bila sudah keterlaluan  maka  kedua pasangan akan dinikahkan”. Ketua Umum Badan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Arab Saudi saat ini dipegang mantan   Rector UIM terakhir yakni Prof. Dr. Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad as-Sanad.

Ternyata Saudi,  yang di dalamnya terdapat dua tanah suci,  tak lantas  identik dengan ketaatan  pada Ilahi.  Di manapun akan ada  kebaikan,  dan di manapun  akan ditemukan  kemungkaran.  Oleh karena itu, sebaik-baik  pemerintah adalah ketika pemimpinnya berusaha memaksimalkan kebaikan,  pada saat yang sama juga berupaya meminimalkan kemaksiatan. ***

 

Iklan

Mengenali Orang Saudi : Wanita Bermahar Tinggi (Bagian 27)

Hari masih pagi,  namun di luaran sinar mentari telah  memancar garang kepada bumi.   Namun kegarangan sang surya  tidak mampu menembus  tempat kami,  gedung Bin Dawood. yang  ber AC dingin sekali.   Bin Dawood merupakan  satu  pusat perbelanjaan terbesar di Arab Saudi.  Di Makkah maupun Madinah,  super market ini tak terlalu sulit untuk  kita dapati.  Berbagai kebutuhan  harian  dapat ditemukan di lokasi Bin Dawood ini.  Hanya saja  kalau tujuannya untuk beli bermacam oleh-oleh,   saya lebih merekomendasikan untuk beli di toko-toko kecil  atau bahkan pada pedagang  kaki lima saja.  Alasannya,  Pertama,  agar rizki kita dapat tersebar kepada rakyat  jelata  dan tak terkonsentrasi di super market milik pengusaha kaya.  Kedua,  harga-harga di Bin Dawood  lebih mahal dibanding  harga di  toko kecil apatah lagi pedagang kaki lima.  Bedanya,  di Bin Dawood harga telah terbandrol mati,  sementara di toko kecil  dan kaki lima  pembeli  harus pandai menawar untuk mendapatkan harga yang melegakan hati.  Ketiga,  Bin Dawood lebih pas untuk lokasi belanja kebutuhan sehari-hari,  sedangkan oleh-oleh khas Saudi,  seperti  jubah, surban,  kopiah,  rumput fatimah, siwak dan lain sebagainya justru sangat terbatas  –bahkan tak ada–  ditemukan di Bin Dawood tadi.        Kurma dalam berbagai variasi pun lebih mudah didapat di luaran,  dibandingkan  di dalam Bin Dawood yang  tentu saja terbatas dalam soal pajangan.

Mungkin anda bertanya:  kenapa kali ini  saya berbelanja di  Bin Dawood? Alasannya satu,  saya  ingin beli bumbu-bumbu  sachetan,  seperti  rempah untuk membuat  nasi Brilyani  yang di tempat lain  tak bisa kami dapati.

Berbeda dengan super market di Indonesia,  yang penuh dengan pembeli wanita,  maka di kota suci ini jarang kujumpa wanita yang belanja.  Ada beberapa memang sempat kujumpa,  namun itupun  kebanyakan Indonesia atau  Asia Selatan dari wajahnya.  Memang,  ada beberapa wanita bercadar dan tak bisa kukenali ciri khasnya,  namun  dari karakteristik pria yang menyertainya saya  tak begitu yakin mereka  warga  Saudi Arabia.

Sebenarnya bagaimanakah kondisi kaum wanita Saudi ?.  ”Mereka tidak  sebebas wanita kita,  di Indonesia”,  kata Dr. Elly Wati Maliki ketika kami berkunjung pada suatu hari,  ”namun kebijakan ini  bukan bermakna bahwa wanita Saudi  dibelenggu kebebasannya.  Mereka tak dilarang alias mahruumin untuk berbuat kebajikan,  tetapi lebih karena mencegah mereka dari kemungkaran”.

Saya mengangguk-angguk mendengar penjelasan wanita aktiv asal Indonesia ini.  Aku serius untuk mencermati agar  tidak  terputus informasi yang kudapat  dari wanita beretnis Padang ini. ”Nah,  atas dasar itulah,  banyak wanita di  Saudi yang menjadi dosen dan tenaga-tenaga administrasi di kampus. Namun demikian,   wanita bekerja tentu  hanya di lingkungan wanita juga,  tanpa ada laki-lakinya.  Artinya,  mereka menjadi dosen dan tenaga kerja lainnya,  khusus pada sekolah dan atau universitas wanita”,  bu Elly  melanjutkan penjelasan,  ”Oleh karena itu,  di dalam tempat kerja ini para wanita bisa juga melepas kerudungnya,  melepas abaya hitamnya,  sehingga hanya mengenakan celana panjang yang juga upto date modelnya. Mereka berdandan modis  sebagaimana wanita lainnya”.

Ku lirik  mas Hamdan khusuk mendengarkan.  Sekilas Wawan pun asyik  memperhatikan.  Hal tak kalah serius tampak dari muka Fakhry.   ”Perlu juga diketahui bahwa wanita Saudi juga mengadakan pesta,  glamour juga penampilannya,  bersolek juga wajahnya,  namun  tentu saja pesta khusus untuk wanita”,  bu Elly melanjutkan penjelasan, ”realitas inilah yang perlu dipahami orang lain.  Tak bisa kita mengukur kultur Saudi  dengan kultur yang kita miliki,  apalagi dengan kultur barat yang tak ada batasan hubungan perempuan dan lelaki.   Saudi adalah lokasi dua tanah suci,  sehingga mereka cukup hati-hati  dalam memberi kebebasan dalam konteks hubungan  perempuan dan wanita tadi”.

Penjelasan bu Elly  membantu kami dalam memahami wanita Saudi.  Dalam kultur Saudi,  wanita memiliki nilai yang luar biasa di negeri ini.  Wanita sebagai ”kekayaan” super mahal harganya,  sehingga  harus dijaga ekstra ketat dan super hati-hati. Dibungkus rapat dan rapi,  bukan dipajang  terbuka  sebagaimana barang-barang murah lainnya.   Karena kultur penghormatan wanita pula,  maka cadar senantiasa  menutupi wajah perempuan Saudi Arabia.   Ini merupakan tradisi dalam menjaga dan menghormati wanita,  disamping untuk melindungi wajah wanita  dari  alam Saudi yang panasnya  luar biasa.

Oh ya,  terkait penghormatan terhadap wanita,  akhirnya seorang pria yang ingin menyunting wanita  Saudi Arabia harus membayar mahar yang amit-amit  mahalnya. Khusus dalam tradisi ini,  yang akhirnya menggeser esensi ajaran dan nilai-nilai  Islami.  Dalam Islam dimungkinkan bahwa mahar tidak boleh memberatkan,  bahkan cincin kawat  saja justru dimungkinkan.  Pada titik ini tradisi  Saudi telah bergeser dari nilai Islami,  secara substansi telah  mempersulit  para lelaki.  Para pria harus banting tulang mengumpulkan mahar sebelum melamar wanita,  dan ketika uang mahar telah terkumpul  biasanya sang pria (mapan)  telah terlanjur  tua dari segi usia.  Singkat kata, tradisi mahar terlalu tinggi,  sang  pria  menjadi  telat untuk  beristri.

”Namun,  efek lanjutannya juga ditanggung para wanita,  yakni: Pertama,  wanita tak kunjung menikah karena terbatasnya jumlah  pria yang  sanggup melamarnya.  Kedua,  banyak lelaki Saudi  memilih  kawin dengan wanita non Saudi,  sehingga wanita Saudi  banyak  yang menjomblo sampai mati. Ketiga,   kalaupun lelaki Saudi  tetap mengawini  wanita Saudi,  lelaki mapan  yang biasanya sudah tua dalam usia  akan memilih wanita muda, dan  bukan perawan tua.  Alhasil,   banyak kasus perkawinan, pasangan pengantinnya adalah pria tua bersanding dengan perawan muda”,  jelas mas Nahidl yang telah belasan tahun tinggal di Saudi Arabia.

Realitas ini  telah mendorong  pemerintah  Saudi untuk membuat aturan-aturan penting  dalam rangka melindungi wanita Saudi.  Pertama:  lelaki Saudi dilarang kawin dengan wanita non Saudi. Kedua,  pemerintah Saudi memberi fasilitas pinjaman perkawinan untuk jejaka Saudi  dengan pengembalian dapat dilakukan secara cicilan. Bahkan,  ketiga,  jumlah mahar konon juga mulai ada pembatasan.

“Meski demikian,  hadangan ternyata tetap menjelma di hadapan para lelaki”,  jelas  mas Nahidl,  “Sebab, meskipun jumlah mahar telah dikurangi,    namun  tradisi pesta  perkawinan dengan mengundang berbagai kabilah tampaknya sulit ditinggalkan sama sekali.  Akibatnya,   kondangan seberapapun  sesederhananya,  akhirnya tetap dilaksanakan besar-besaran untuk ukuran Indonesia.  Jika acara  walimatul Ursy menyembelih  15  ekor onta saja,  maka jika dikalikan 40 juta rupiah  harga per ekor nya,  maka  paling sedikit dibutuhkan dana  600 juta rupiah juga.  Sebuah angka yang sama sekali tidak sedikit untuk ukuran Indonensia”.

Itulah problemnya.  Problem kultural dalam masyarakat Saudi.  Persoalan Jaim  yang  menyebabkan wanita  dan lelaki Saudi  kesulitan  menikah sampai saat  kini. *** .