Pembinaan Keagamaan: Keberadaan Asykar Nahi Munkar (Bagian 28)

Meski  masih pagi namun matahari kian meninggi.  Kami masih di dalam Bin Dawood  asyik sekali,  memilah dan memilih barang belanjaan dengan super teliti.  Berbagai pertimbangan  menggelayuti kepala,  agar  kami tak beli  sesuatu yang tak maksimal kemanfaatannya.  Saya tak mau boros dalam berbelanja.  Saya tak mau mubazir dengan beli sesuatu yang tak ”bermakna”.  Sebab, dua hal itu  bertentangan dengan perintah agama.

Oh ya,   sebagai Khadimul Karamain,  penjaga dua tempata suci,  penguasa Saudi  punya perhatian serius dalam urusan  keagamaan bagi rakyatnya.  Ulama memiliki peran signifikan dalam pemerintahan, yakni menjadi  penasehat penting bagi sang raja  dalam  berbagai kebijakan.   Walhasil,  mengingat pentingnya posisi Ulama,  maka  penguasa Saudi juga membangun dan atau membina berbagai lembaga pendidikan agar menghasilkan ulama-ulama handal  baik untuk kebutuhan dalam negeri ataupun dunia Islam pada umumnya.

Dalam rangka  membantu mencetak kader-kader ulama di dunia Islam,  dua universitas terkemuka misalnya,  sengaja dihadirkan dengan segudang  beasiswa bagi mahasiswa mancanegara,  seperti universitas Ummul Qura (di Jeddah-Makkah)  dan Universitas Islam Madinah  yang bahkan 60 persen nya adalah mahasiswa mancanegara.  Meski mayoritas siswa mancanegara,  kenyataannya tidak sedikit  ulama  Saudi  juga dilahirkan dari dua universitas tadi.

“Namun,  gudangnya  ulama-ulama besar di Arab Saudi  berasal dari lembaga-lembaga pendidikan asal propinsi Qasim”,  kata Imam  mantan ketua PPMI  Saudi Arabia.  “Kebanyakan ulama-ulama penting yang menjadi penasehat kerajaan  adalah alumnus dari Qasim”. Propinsi al Qaasim terletak di kawasan Najd,  Arab Saudi bagian tengah.. Lokasinya tak jauh dari seputaran Ha’il dan Riyadh. Najd inilah sebagai tempat lahirnya pendiri “paham Wahabi”  dan leluhur Dinasti Saud. Namun,  tak semua keturunan Raja Sa’ud otomatis menjadi pengikut Wahabi. Bahkan, termilogi Wahabi sendiri berasal dari Barat,  dan tak dikenal di Arab Saudi,  mengingat paham yang diikuti adalah madzab Hambali..

Mendengar kata Qaasim  saya langsung teringat pada Sulaiman Al Rajhi, pendiri sekaligus pemilik Bank Islam Al Rajhi yang lahir dari propinsi ini  tahun 1920.  Dengan demikian,  Qaasim  tampaknya  tak hanya sebagai gudang ulama,  melainkan juga telah melahirkan pengusaha besar semisal Al Rajhi.  Bahkan,  seiring dengan didirikannya Universitas Ar Rajhi (oleh Bankir terbesar di Saudi,  Sulayman Ar Rajhi)  tadi,  dengan spesialisasi bidang kesehatan dan  keuangan Islam,  maka  Qaasim  saat ini  juga menjadi kota  rujukan  untuk pendidikan  kedokteran di Arab  Saudi.  Subhanallah.

Sebenarnya posisi Qaasim yang istimewa ini,  terjadi  bukan karena  sengaja  diistimewakan. Pemerintah Arab Saudi  sebenarnya memperlakukan secara sama untuk  semua sekolah dan kampusnya.  Dalam konteks pendidikan Islam misalnya,  pemerintah memberi  kafaah alias beasiswa pada semua  siswa penghafal al Qur’an di wilayah manapun di  Saudi Arabia.  “Kita diberi kafaah 800 real setiap bulannya”,  kata  mas Muhammad Isa al Haafidz,  warga Indonesia yang tinggal di Saudi sejak kecil  dan  kebetulan   juga menghafal Al Qur’an.

Jika demikian,  lantas kenapa Qaasim menjadi gudang  para ulama  mumpuni di Arab Saudi  ?  Adakah sesuatu rahasia di balik posisi Qaasim ini ? Wallahu a’lam.

Oh ya,  terkait dengan pelajaran keagamaan yang intensif  ini,  ternyata tak lantas  menjadikan Arab Saudi  sepenuhnya menjadi negara “santri”.  Di manapun lokasinya,  dan di manapun negara nya, malaikat selalu ada,  dan setan juga ada.  Hal yang sama terjadi di Saudi Arabia.   Hubungan pria – wanita  memang telah diatur sedemikian ketatnya,  baik dalam dunia pendidikan maupun dunia pekerjaan.  Namun,  seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi,  penyimpangan tetap terjadi. Bahkan,  sedikit keluar dari  kota suci  Makkah,  tepatnya di Jeddah,  ternyata tak semua  wanita masih berhijab berjubah.  Apa yang saya jumpai  di bandara Jedah adalah wajah lain dari  dunia lain Arab Saudi.  Bisa kubayangkan,  hal yang lebih vulgar mungkin terjadi di kota-kota lain yang lebih  jauh dari Madinah Makkah,  kota-kota  yang lebih metropolitan semisal kota  pelabuhan Dahran ataupun ibu kota Riyadh. Sangat kuduga,   penyimpangan dari  agama,  sangat mungkin terjadi lebih hebat  terjadi  di sana.

”Oleh karena itu,  pemerintah Saudi juga memiliki apa yang disebut Badan Amar Ma’ruf Nahi Munkar,  guna mengontrol warganya agar tak terlalu jauh menyimpang dari ajaran Islam”,  kata Syekh Ismail Al-Harby,  Naibul Mudir Yayasan Al hai’ah Al  Haramain  di Makkah Al Mukarramah,   ”Badan Amar Ma’ruf bertugas melakukan pengawasan muda-mudi Saudi dari potensi  perbuatan menyimpang tadi.  Mereka melakukan kontrol pada mereka,  dan jika kedapatan berpacaran  niscaya akan diberi pengarahan sekaligus dikembalikan pada keluarga sebagai sebuah peringatan.  Namun,  bila sudah keterlaluan  maka  kedua pasangan akan dinikahkan”. Ketua Umum Badan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Arab Saudi saat ini dipegang mantan   Rector UIM terakhir yakni Prof. Dr. Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad as-Sanad.

Ternyata Saudi,  yang di dalamnya terdapat dua tanah suci,  tak lantas  identik dengan ketaatan  pada Ilahi.  Di manapun akan ada  kebaikan,  dan di manapun  akan ditemukan  kemungkaran.  Oleh karena itu, sebaik-baik  pemerintah adalah ketika pemimpinnya berusaha memaksimalkan kebaikan,  pada saat yang sama juga berupaya meminimalkan kemaksiatan. ***

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: