Archive for Agustus, 2018

Asing di Saudi : Kini Hidup Tak Gampang Lagi (Bagian 30)

Selasa masih pagi. Namun,  untuk ukuran Saudi  sinar  sang mentari telah terasa menyengat sekali.  Kami barusan  menyelesaikan satu urusan,  yakni  beli oleh-oleh  untuk menghabiskan sisa uang.  Tak ada agenda penting di hari Selasa ini,  kecuali mengepak  barang-barang bawaan.  Sebenarnya tak terlalu banyak oleh-oleh yang kami beli,  sebab uang tersisa memang tak banyak lagi.  Namun,  hadiah buku dari berbagai lembaga yang kami kunjungi,  menyebabkan kami kesulitan mengatur ”tas bagasi”.  Akhirnya,  kami beli dua tas lagi,  Fakhry beli satu atas nama pribadi,  dan mas Hamdan dibelikan satu dalam status tim alias  ”berbagi”.  Walhasil,  semua barang bawaan termasuk berbagai buku pemberian akhirnya berhasil kami bungkus secara rapi.

Di waktu sisa inilah aku  menyempatkan diri berbaring meluruskan badan.  Ah…,  kataku mendesah.  Seolah selaksa beban kerjaan yang berhari-hari membebani,  hari Selasa ini  sudah lepas dari pundak kami.  Di tengah ”pembaringan” inilah,  pikiranku melayang-layang lagi,  seolah mengevaluasi pengalaman  selama hampir dua minggu di tanah suci.

Di berbagai penjuru Saudi kami senantiasa berjumpa wajah-wajah asing  non Saudi.  Mereka bukanlah jamaah Umroh apalagi haji,  namun  para pekerja alias  mukimin yang mencari penghidupan  di  kota Suci.  Kesan umumnya adalah: mayoritas mukimin sepertinya dari Asia Selatan :  India, Pakistan dan Bangladesh.  Para petugas di dua masjid suci  misalnya,  ternyata didominasi wajah-wajah ras anak benua  India.  Tukang sapu di  berbagai pelosok kota,  juga didominasi wajah  mereka.   Tak terkecuali  sopir travel dan  taksi,  selain kebanyakan berwajah Arab,  sebagian  pula bertampang ras India.    Orang yang mengantar dari Makkah ke Madinah adalah pula wajah pria Asia Selatan,  yang oleh Wawan dilabeli dengan sebutan pria bermata sendu.

Saya tak tahu,  apakah tatapan sendu itu merefleksikan hatinya yang sedang membiru,  akibat beban hidup yang terus mengharu biru..  Semoga saja tidak begitu.  Amin….

Namun,  hidup di Arab Saudi ternyata memang tak segampang yang kami bayangkan,  tak seindah apa yang kami kira,   tak  sebahagia apa yang kami duga. Terima  tahun-tahun belakangan,  sebab Arab Saudi sedang dilanda problem perekonomian.   Minyak  yang selama ini menjadi andalan,  harganya terjun bebas tak ketulungan.   Walhasil,  problem nasional Saudi akhirnya berpengaruh di segala lini,  termasuk berimbas pada orang asing  yang mencari penghidupan di negara ini.

TKI bernama Iwan Setiawan menyatakan bahwa hidup  di Saudi  berat sekali.  ”Mungkin saya akan segera pulang ke Bima”,  demikian katanya,  sebuah ungkapan yang mengandung pesan bahwa hidupnya jauh dari kebahagiaaan.  Lelaki muda berprofesi pelayan cattering ini sudah beristri,  namun statusnya masih siri..  ”Saya tak ada uang untuk melegalkan perkawinan,  karena biaya di sini sangat mahal  hingga jauh dari jangkauan”. Tanpa pertanyaan tambahan,  mas Iwan telah menjelaskan,  ” Saya pulang mengunjungi  istri seminggu cuma sekali,  mengingat biaya transportasi mahal sekali”.

”Kenapa tak kontrak di sekitar sini ?,  tanyaku pelan,  dan mas Iwan langsung  memberi jawaban,  ”Wah,  tidak mampu saya,  sebab kontrakan di sekitar kota  mahal harganya.   Saya dan istri mengontrak kamar di pinggiran kota,  500 real perbulan tarifnya.  Itupun kamar kosong tanpa AC, sehingga harus beli AC bekas agar tak kepanasan”.  Mas Iwan sejenak  diam,  lalu kembali bicara pelan, ”Sepertinya saya lebih baik pulang”.

Selain Iwan,  kami ketemu seorang wanita di Bandara,  TKW profesinya.  Wanita  asal Bandung itu  telah 9 tahun bekerja di Jeddah.  ”Gajiku kecil,  hanya 1.500 real sebulan”,  katanya pelan tak bermaksud membanggakan.   ”Kenapa ibu  bertahan dengan satu majikan,  meskipun kecil gaji yang diberikan ?,  tanyaku pelan.

”Orangnya baik”,  jawabnya singkat, ”majikan hanya suami istri tanpa ada anggota keluarga lain yang harus diurusi.  Bahkan,  sang majikan jarang di rumah,  lebih sering di Libanon”.  Itulah gambaran ”orang asing”  lainnya yang tinggal di Saudi Arabia.  Apakah si ibu ini bahagia ?   Tampaknya tidak juga, terefleksi dari ucapannya:  gaji nya hanya kecil saja,  yang jika  dikurskan dalam rupiah,  maka sebulan  mengantongi : Rp. 5.250.000 saja.  Padahal dia telah bekerja 9 tahun lamanya,  dengan lokasi  jauh dari keluarga ribuan kilometer jaraknya.

Di tengah penurunan ”kapasitas ekonomi”,  pemerintah akhirnya  membuat berbagai  aturan yang kian memberatkan  mukimin di Saudi.  Bensin naik harga hampir dua kali lipat  nilainya.  Orang asing diwajibkan punya ”kartu mukim” yang harus diperpanjang tiap tahunnya,  dengan biaya yang tak sedikit jumlahnya.  Selain itu,  berbagai  pelanggaran termasuk aturan lalu lintas kini didenda”luar biasa besarnya”.  Sangsi tersebut,  pada satu satu sisi mendorong ketaatan,  namun yang lebih tampak adalah  menjadi ajang negara untuk  mencari pemasukan.  ”Sekarang,  pada sektor ekonomi tertentu  hanya warga Saudi yang dibolehkan, sehingga menutup peluang ekonomi kaum pendatang”,   kata Mohammad Ayub menjelaskan.  Akibat berbagai kebijakan tadi,  Raja Salman menjadi kurang disukai  para mukimin di Saudi.

Warga non Saudi misalnya,  dilarang membuka toko,  dan bila ingin melakukannya, maka dia harus bekerjasama dengan orang Saudi.  ”Harus Joinan”,  itulah kebijakan yang diterapkan.  Selain sektor perdagangan,  warga Saudi juga diberi privilage dalam dunia pekerjaan.  Front Office hotel  dan  security alias satpam misalnya,  harus pula diberikan pada warga Saudi,  sebagai persyaratan bisnisman untuk membuka usaha.

Namun,  seiring kian sulitnya perekonomian,  akhirnya tak sedikit warga Saudi yang rela  bekerja sebagai pelayan toko ataupun restauran.  Hanya saja mereka tetap jaim perilakunya.  ”Sodiq,  ta’aal:  pelayan kemari”,  panggil pelanggan terhadap pelayan.  Sodiq arti sebenarnya : teman – kawan,  namun dalam konteks keseharian dipakai untuk memanggil pelayan.  Dalam konteks ini,  warga Saudi tak  mau dipanggil dengan sebutan Sodiq tadi.  ”Ana Su’ud:  Saya orang Saudi”,  komentarnya setiap kali ada yang memanggilnya Sodiq.

Itulah gambaran  bahwa di Saudi hidup kini  tak mudah lagi.  Dalam rangka mencari penghasilan non Minyak bumi, pemerintah Saudi  kini mulai membangun fasilitas wisata  (ziarah).  Saudi juga buat aturan,  siapapun berumroh lebih dari sekali dalam kurun satu tahun,  dia dikenakan biaya 2 ribu real (sekitar 7 juta rupiah) ketika mengurus visa.

”Intinya,  sekarang  tinggal di Saudi,  biayanya sangat tinggi”,  kata Mohammad Ayub kakak Mohammad Isa,  ”saya akan segera pulang bila pendidikan telah berhasil diselesaikan”. .

Dalam situasi kian sulit ini,  mahasiswa Indonesia untungnya punya kreativitas  untuk mengatasinya.  Terutama di Makkah – Madinah Kandidat  Doktor memiliki usaha  sampingan:  mengurusi jamaah Umroh.  Mas Nahidl  (di Madinah)  dan  Mubarok (di Makah)  misalnya, bekerjasama dengan travel Indonesia  untuk mengatur  akomodasi   (hotel  dan makan).  Kebanyakan kandidat Doktor sudah berkeluarga,  sehingga beasiswa tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Saya tak tahu,  berapa beasiswa bulanan yang mereka dapatkan.   Namun, sebagai gambaran mahasiswa S1 semacam mas Iztihar,  hanya mendapat 800 riyal sebulan kendati ditambah fasilitas asrama. Walhasil,  sebagai uang tambahan,  mahasiswa  S1 biasa menjadi guide perjalanan.  Adapula mahasiswa  yang menyewakan mobil  sekaligus menjadi  sopirnya,  seperti dilakukan kakak beradik  Mohammad Isa – Mohammad Ayub.  Ayub bahkan biasa berdagang dengan  ”biasa berburu baju diskon di pertokoan elit  Saudi,  lantas dikirim ke Indonesia untuk dijual kembali”,  kata Ayub  sembari borong baju tatkala antar kami  belanja di sebuah toko baju.  ”Baju musim panas biasa didiskon sampai 70 persen ketika menjelang musim dingin.  Baju itulah yang kami kirim ke Indonesia yang tak mengenal perbedaan musim panas dan dingin”.  Itulah beberapa contoh  mentalitas bisnis yang mereka bangun dalam rangka mensiasati tantangan hidup di Arab Saudi. ***

Pembinaan Keagamaan: Nasib Kaum Syiah (Bagian 29)

Sang surya terus merangkak naik  ke  petala langit angkasa.   Sinar nya menyinari sekujur lekak-lekuk  sang buana.  Cantik. Indah merona.

”Rakyat Saudi  100 persen memilih Islam sebagai agamanya.  Kalaupun ada yang non muslim kepecayaannya,  mereka dipastikan bukan warga Saudi tapi hanya sebagai mukimin alias  pemukim statusnya”,  sepintas pikiranku sempat melayang,  ingat pada penjelasan Dr. Khalid  semalam,  ”Mayoritas  muslim Saudi menganut paham Hambali,  dan hanya  sebagian kecil  mengikut paham lain.

”Nah,  bagaimana perlakuan pemerintah Arab Saudi terhadap warga Syiah ?,  tanyaku kala itu. Tepat ketika acara makan malam di rumah Dr.  Murdhi Ali Idris,  wakil Direktur Program Pasca Sarjana,  Jurusan Ilmu Dakwah dan Khutbah, Universitas At Thaibah,   pada malam terakhir sebelum kami pulang ke tanah air.

Warga Saudi memang dominan menganut madzab Hambali,  dan sisanya sekitar 15 persen mengikuti paham Syiah dari berbagai madzah teologi.  Meskipun  warga Saudi mayoritas  Sunni,  namun kaum Syiah tak lantas dimusuhi.  ”Kaum Syi’i diperlakukan sebagaimana umumnya warga Sunni”,  jelas Dr. Khalid As-Suaidi,  dosen jurusan Ilmu hadits Universitas Islam Madinah ”tak ada perlakuan spesial dari  pemerintah terhadap kaum Syi’i,  sebab mereka adalah juga warga Saudi.  Mereka bebas menjalankan peribadatan  sesuai kepercayaan,  selama  yang mereka lakukan tak menimbulkan keresahan.  Ketika kepercayaan khusus kaum Syi’i diekspresikan  terbuka  sehingga menimbulkan keresahan,  maka aparat keamanan langsung akan bertindak  mengamankan agar tak menimbulkan ketusuhan.”

Pesan dari perkataan Dr.   Khalid  sangat jelas  substansinya,     meskipun  tak secara  terang diungkap dalam kata-kata.   Dr.  Khalid  bermaksud menjelaskan,  bahwa  banyak  nilai dan atau  kepercayaan  yang dianut  warga Syiah memang potensial menimbulkan ketersinggungan dan  atau  keresahan.  Orang Syiah  misalnya,  tidak mengakui  eksistensi kekuasaan  para sahabat Nabi sebelum  kepemimpinan Sayyidina Ali,  seperti Khalifah Abu Bakar, Umar  bin Khattab,  serta Utsman bin Affan.   Kaum Syiah juga tak mengakui  kepemimpinan pasca Sayyidina Ali apalagi dalam wujud empirium Bani Umayyah dan Bani Abbasyiah.  Karena ”ketidaklegalan”  menurut pandangan mereka inilah,  kaum Syiah tak segan untuk mencaci dan mengutuk mereka,  sebuah perilaku yang tentu saja menimbulkan ketersinggungan bagi yang berbeda pandangannya.

Walhasil,  dalam konteks Arab Saudi,   ketika  kepercayaan Syiah  tadi hanya bersarang dalam  pemikiran,  atau terekspresi namun  hanya beredar internal dalam lingkup sealiran,  tidak disosialisasikan secara terbuka terang-terangan,  maka kehidupan Syiah Saudi  tetap dalam kondisi aman.  Namun,  ketika kepercayaan telah dikampanyekan  sehingga menimbulkan keresahan,  pada detik itu aparat akan ambil tindakan.

Dalam praktek umum,  selama ini  eksistensi warga Syiah Saudi ternyata tak berpersoalan.  Dalam bidang ekonomi,  banyak  warga Syiah justru  menjadi pengusaha sukses. ”Bahkan,  hotel-hotel  di Makkah dan  Madinah banyak dimiliki kaum Syi’i”,  jelas mas Nahidl di suatu malam ketika mengantar pulang ke penginapan kami. Mendengar penjelasan ini,  maka  apa yang dikatakan  Dr. Khalid telah mendapat klarifikasi yang tepat dari mas Nahidl tadi.

Dalam konteks hubungan dengan Syiah Iran,  pemerintah Saudi  memang bersikap keras sekali,  satu lini dengan karakter ”permusuhan”  yang diperlihat pemerintah Iran kepada  Saudi.  Wajah  ”Perseteruan” ini terjadi karena beberapa alasan: Pertama,  konflik psikologis –  historis akibat  runtuhnya  kejayaan kaisar Parsi  oleh pasukan Arab pada era khalifah Umar bin Khattab.  Bahkan,  khalifah kedua pasca nabi  ini akhirnya dibunuh Abu Lukluk,  yang konon seorang  keturunan Parsi yang bermaksud balas dendam terhadap  penaklukkan Parsi oleh  pasukan Arab  yang dikirim Umar.  Kedua,  Persaingan pengaruh sekte Sunni vs. Syiah yang telah bersifat sangat lampau dan masih  terus  berlangsung hingga kini. Ketiga,  perseteruan  politiko strategis yang bersifat kontemporer,  yakni perebutan pengaruh dan kepempimpinan regional di Timur Tengah antara dua negara.  Tiga hal itulah yang tampaknya  telah dan akan terus  menyebabkan  hubungan  Saudi dan Parsi (Iran) dalam profil permusuhan tanpa henti, persis seperti perseteruan antara kucing vs.  Anjing.

Namun,  khusus kepada warga Syiah  Saudi  ,  perlakukan pemerintah Saudi tak ada beda terhadap semua  warga lainnya. Apalagi dari segi etnisitas mereka satu genealogis,  kecuali hanya dari segi madzab keagamaan mereka berbeda filosofis.  Dalam tataran sosial,  hubungan Sunni – Syi’i di Saudi juga cenderung cair,  berinteraksi di pasar dan ”warung kopi”.  Memang,  ada kasus pembunuhan terhadap salah satu tokoh Syiah di Arab Saudi, Syekh Nimr an Nimr.  Namun peristiwa terjadi bukan karena kesyiahannya, melainkan karena makar, separataisme,  dan sektrarianisme yang dilakukan Syekh Nimr.  Bahkan,  tokoh Syiah itu dituduh sebagai spionase Iran.. Wallahu a’lam. ***