Archive for the ‘1.3 Agama’ Category

Dari Jatiluhur Kami Membahas “Masyarakat Bangsa”

Kantor ku tahun ini kembali mengadakan Rapat Kerja di Cibodas – Cianjur. Namun, sayang sekali kali ini aku tak bisa ikut karena badan merasa kurang Fresh. Duh…, sedih sekali. Sebab, dari hati yang paling dalam, sebenarnya aku ingin sekali kumpul-kumpul bersama keluarga besar kantor ku dalam acara di luar kota. Moment semacam ini memang hanya terjadi setahun hanya sekali. Di tengah kesedihan ini, aku kembali membaca catatan harian terkait pelaksanaan Raker tahun sebelumnya, yang kebetulan dilaksanakan di sekitar Waduk Jatiluhur. Beginilah catatan yang sempat ku tulis setahun lalu. Fajar baru saja menyingsing. Azan Subuh berkumandang bersaut-sautan di berbagai penjuru masjid-musholla. Aku bersegera menyambut panggilan itu, sholat sunah fajar dan disusul sholat subuh masing-masing dua rekaat jumlahnya. Ah..segar…, itulah perasaan yang segera menyelusup dalam benak. Segar.. karena pagi-pagi telah bersentuhan dengan air sejuk-segar untuk berwudlu. Segar… karena barusan menyelesaikan kewajiban-kebutuhan sholat plus memohon ampunan pada Tuhan atas segala kealphaan. Baca lebih lanjut

Islam dan Musyawarah : Sebuah Model ? (Tulisan 2, Terakhir)

Terkait dengan pemilihan khalifah (pemimpin) dalam sejarah Islam pasca Nabi SAW,  Umar bin Khattab pernah menyatakan “Kalian boleh membunuh siapa saja yang menyebut dirinya sendiri atau orang lain  sebagai pemimpin tanpa bermusyawarah dengan umat Islam” (Abd. Razak bin Human al-San’ani, An Musannaf (Beirut: 1972). Begitu juga saat menjelang ajal, Umar berkata: “Kalian harus membunuh siapa saja di antara kalian yang menuntut jabatan kepemimpinan di antara kalian tanpa bermusyawarah dengan umat”.  Dengan demikian berarti, dalam pemerintahan Islam terdapat prinsip bahwa tidak ada pemimpin yang dipilih tanpa kehendak umat.  Sehingga, pemimpin yang tidak mendapatkan legitimasi umat wajib disingkirkan.Seberapa lamakah jabatan khalifah boleh dipegang oleh seseorang ?.  Jawabnya tidak dibatasi oleh waktu melainkan oleh kebenaran dan kemampuan.  Selama khalifah masih mampu memimpin dan tetap berpegang pada syariat Allah, maka selama itu pula ia tetap berhak menjadi khalifah.  Sebaliknya, bila dia melakukan pelanggaran atas syariat maka umat wajib menegurnya, atau bahkan bila perlu diturunkan dari jabatannya. Baca lebih lanjut