Archive for the ‘1.1 Muslim Bali’ Category

Konflik Hindu – Muslim Jembrana Era Kolonial Belanda: Tragedi yang Tak Perlu Terulang (Tulisan 22)

Sore hari.  Mentari telah condong ke arah Barat.  Pak Syarif mengajak kami mengunjungi pelabuhan ikan yang armada kapalnya sebagian besar dimiliki juragan nelayan muslim.  “Kapal-kapal ini harganya satu diatas seratus juta lho”,  kata  nelayan yang sempat saya temui,  “tetapi dalam beberapa pelayaran,  jumlah itu akan segera terbayarkan oleh hasil tangkapan ikan. Sebab,  sekali  melaut selama seminggu, jika sedang beruntung kita bisa mendapat untung 30 jutaaan ”. Para juragan kapal ini bahkan ada yang memiliki beberapa kapal.  Bahkan,  ”H. Dahlan (?),  sampai mewakafkan salah satu kapal agar hasilnya dipakai untuk keperluan operasional masjid di Loloan”,  jelas pengurus masjid di Loloan Timur.    Subhanallah.  Itulah kontribusi ekonomi secara luar biasa bagi Jembrana dari para nelayan yang umumnya memiliki darah Bugis/Makasar ini.

Secara historis komunitas muslim lama memang punya hubungan saling ketergantungan (saling dukung) secara kokoh,  terutama pada era konflik antar  kerajaan Bali di masa silam.  Sejarah klasik hubungan erat antar di keraton Negara (Jembrana) dengan komunitas muslim Loloan dan Air Kuning merupakan contoh harmoni yang luar biasa. Betapapun kecil kuantitas masyarakat Islam Bali, tetapi ralitasnya mereka telah ikut mewarnai khazanah kebudayaan Bali. Bahkan,  dalam wujud agak ekstrim pengakuan eksistensi masyarakat Islam oleh masyarakat Hindu ada yang sampai teraktualisasi dalam wujud pendirian tempat pemujaan (pura) yang melarang disajikannya hal-hal yang dilarang Islam,  seperti : Banten yang mengandung Babi. Baca lebih lanjut

Iklan

Kampung Islam Loloan dan Air Kuning di Jembrana – Bali : Sebuah Entitas Lama (Tulisan 21)

Hari masih pagi, tetapi sinar mentari sudah terang benderang menyinari bumi. Tetapi di sepagi itu saya dkk sudah sampai di wilayah Loloan,  tempat komunitas Islam yang telah sangat lama keberadaannya.  Sangat tepat jika eksistensi kampung itu disebut sebagai kampung kuno saja.

Sejarah keberadaan komunitas muslim Loloan  merupakan keturunan dari tanah Melayu (Kuala Trengganu) dan kaum Bugis yang sudah beberapa abad  lalu masuk Bali.  Eksistensi mereka ini juga menjadi bukti historis bahwa Islam telah lama masuk di wilayah Jembrana ini.  Hingga kini mereka bertahan dengan agama Islam dan adat-istiadat Melayu. Bahkan,  berbeda dengan komunitas muslim yang juga tergolong kuno di lokasi lainnya yang umumnya memakai bahasa Bali sebagai alat komunikasi seharí-hari,  komunitas di tempat ini ternyata tetap menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa keseharian di kalangan mereka. Baca lebih lanjut

Pangeran Wilis dan Cikal Bakal Komunitas Islam Di Jembrana – Bali (Tulisan 20)

Siang hari.  Terik.  Sinar surya menyengat.  Saat mentari tepat berada di tengah petala langit itulah  kami menginjak tanah  Jembrana.  Kami memang baru saja  mencapai tujuan setelah mengarungi perjalanan panjang.  Namun,  perjalanan ini tidak kurasa melelahkan,  sebab saya dkk diantar  seorang  humoris,  sehingga sepanjang perjalanan kami justru selalu tertawa cekakan.   Pak Kadek Syarifudin ,  itulah nama yang mengantar  kami.  Seorang Bali muslim asli yang berasal dari Baturiti.

Telah sekian hari lamanya,  saya menelusuri bumi Bali,  bumi yang selain kesohor dengan pusat pariwisata juga terkenal dengan sebutan God’s  Island alias pulau Dewata.  Di tengah mayoritas penduduknya yang dominan beragama hindu dan kuatnya tradisi masyarakat, sering terlontar pertanyaan, bagaimana Islam di Bali. Apakah Islam hanya menjadi agama pelengkap, agama kaum pinggiran atau  justru menjadi mitra masyarakat Hindu Bali dalam membangun dan mempertahankan identitasnya.  Rentetan pertanyaan tadi sedikit banyak sudah berusaha saya jawab melalui serangkaian tulisan tentang komunitas Islam Bali yang cikal bakalnya telah ada sejak tahun 1500 an era Dalem Ketut Nglesir. Kali ini saya ingin mengajak untuk mencermati realitas kehidupan kaum Muslim di kabupaten Jembrana yang biasa dikenal pula dengan sebutan Negara. Baca lebih lanjut

Nyambangi Kampung Islam Pagayaman di Kabupaten Buleleng – Bali (Tulisan 19)

Dingin menyergap tulang.  Maklum,  semalaman Buleleng diguyur hujan.   Kusedekapkan tangan untuk mencuri kehangatan.  Tetapi,  rasa hangat itu tak kunjung datang.  Akhirnya, tangan ku kibas-kibaskan. Siapa tahu energi kinetik dari hasil kibasan tangan berubah menjadi pemicu kehangatan yang kudambakan.  Ternyata benar,  rasa hangat pelan-pelan mengalir  kurasakan.  Alhamdulillah.

Hari masih sangat pagi,  tetapi pak Syarif telah menghampiri. ”Ke pantai Lovina,  Yuk”,  ajaknya.  ”Sedikit refreshing.  Berperahu ke tengah lautan untuk melihat lumba-lumba berjumpalitan”.  Saya dan semua teman akur saja.  Singkat kata,  saya dkk akhirnya sampai di Lovina.

”Syamsul”,  ucap seorang nelayan muda memperkenalkan diri dengan tangan disodorkan.  Dialah yang mengantar kami ke tengah lautan.  Di Lovina perahu sudah berlalu lalang,  dengan penumpang beraneka kebangsaan.  Ada yang bertampang khas Indonesia meski beda etnis,  tetapi lebih banyak lagi tampang-tampang bule . Tujuan mereka sama,  ingin menyaksikan lumba-lumba.  Semua perahu lalu lalang,  bahkan terkesan berebutan,  untuk mencari moment yang pas menyaksikan lumba-lumba ”atraksi” di laut pagi hari. Baca lebih lanjut

Kantong-kantong Muslim di Tengah Kota Buleleng – Bali (Tulisan 18)

Selama tiga hari saya dkk. telah diajak pak Lukman munjelajahi Denpasar – Badung untuk menelusuri  kampung-kampung Islam. Pak Lukman sempat pula mengajak menyinggahi DreamLand,  tempat wisata pantai yang luar biasa indah. Terhitung masih perawan,  terbukti pantai ini –ketika kami datang—masih dalam proses penataan.  Tapi,  DreamLand bagi saya intermeso belaka,  karena tujuan pokok saya bukan berwisata.

Setelah  dirasa cukup,  kami bersiap melanjutkan perjalanan  menuju Buleleng.  ”Terima kasih pak Luqman.  Saya pamit untuk melanjutkan perjalanan”,  kata saya menjelang perpisahan.  Mas Hamdan,  Heru,  dan Indri melakukan hal yang sama,  pamitan.   Maklum,  pada perjalanan berikutnya saya ganti didampingi pak  Kadek Syarifuddin.  Dari namanya sudah jelas,  dia seorang muslim Bali asli,  bukan pendatang atau bali-balian.   ”Pak Syarif”,  demikian saya memanggil.  oarangnya lucu luar biasa.  Tak ada waktu yang kosong dari ketawa. Bahkan,  ketika pak Syarif  bicara serius pun akhirnya ditutup pula dengan ketawa ha..ha…ha… Baca lebih lanjut

Jejak Kampung Islam Serangan, Angantiga, Tuban dan Suwung di Denpasar – Bali (Tulisan 17)

Pagi-pagi sekali Pak Luqman telah stand by,  siap  mengantar saya dkk. melakukan kunjungan lanjutan ke sebagian kampung Islam era lama di Bali.  Wajahnya sumringah,  menjadi pertanda bahwa dia cukup bahagia mendampingi kami. ”Saya biasa mengantar tamu pak.  Tapi yang memiliki tujuan khusus untuk silaturrahim ke komunitas muslim Bali,  ya baru kali ini”. Saya hanya tersenyum menanggapi ucapan pak Luqman ini.  Sepintas kulihat teman-teman lain juga tersenyum menyikapi pernyataan pak Luqman tadi.

Jika di hari sebelumnya Kepaon menjadi sasaran,  kali ini ganti kampung Islam Serangan, Angantiga, Tuban dan Suwung menjadi tujuan kunjungan.  Ada persamaan dan perbedaan antara Kepaon dengan empat lokasi yang hendak dikunjungi.  Persamaannya: semua kampung muslim tadi  secara historis kultural sama-sama memiliki hubungan erat dengan Puri Pamecutan dan atau Kerajaan Badung.

Lantas apa perbedaannya? Pertama,  cikal bakal komunitas Islam Kepaon berasal dari Jawa-Madura,  sedangkan asal usul kampung Islam Serangan, Angantiga, Tuban, dan Suwung,   komunitas pembentuknya terutama dari Bugis – Makasar,  Sulawesi Selatan.  Kedua, dalam konteks kekinian, Serangan, Tuban, Suwung, dan Angantiga secara administratif masuk dalam wilayah Denpasar,  bukan lagi kabupaten Badung.  Maklum,  sejak ditetapkannya Denpasar sebagai ibukota propinsi,  wilayah itu secara administratif akhirnya lepas dari kabupaten Badung. Dengan demikian,  berarti penelusuran  saya kali ini  beredar di sekitar Kota Denpasar bukan Kabupaten Badung lagi. Baca lebih lanjut

Entitas Lama Kampung Islam Kepaon di Kabupaten Badung – Bali (Tulisan 16)

Hari terang, sama sekali tak ada awan. Udara cerah.  Langit cerah. Mentari memancarkan cahaya dengan leluasa. Sinar sang surya berpendar menerangi cakrawala.  Bahkan,  meski hari masih pagi,  pancaran surya sudah agak menggigit terasa di kulit. Setelah sarapan pagi, saya dkk telah bersiap meluncur ke Kampung Islam Kepaon.  Selama di Kabupaten Badung,  saya didampingi pak Luqman,  seorang muslim asal Jawa tetapi telah belasan tahun tinggal di Denpasar.  ”Sudah siap,  Pak ?  Tanya pak Luqman yang sudah duduk di belakang kemudinya.  ”Sipp..”,  jawab saya singkat.  Dengan diiringi bacaan bismillah mobil kijang silver langsung  meluncur menapaki jalanan menuju tujuan.

Sejarah Islam Bali memang bisa ditelusuri dari komunitas muslim yang telah eksis bahkan sejak abad ke 15, sejak jaman kerajaan Gelgel.  Namun, sejarah eksistensi muslim sebenarnya juga bisa ditelusuri dari prasasti, bangunan-bangunan penting kerajaan di Puri Pemecutan (Denpasar), atau cap kerajaan Klungkung (Hindu) yang menggunakan huruf Arab, karena pada zaman Raja Ida Bagus Jambe kerajaan ini telah menjalin hubungan diplomatik dengan salah satu kerajaan Islam di Jambi. Semua bukti historis tadi menjadi bagian argumen bahwa Islam dan komunitas muslim di Bali hakekatnya bukanlah fenomena kekinian, melainkan telah menjadi entitas lama yang berusia ratusan tahun silam,  sama tuanya dengan komunitas muslim di berbagai daerah lain di Indonesia.  Baca lebih lanjut