Archive for the ‘Mengenal Arab Saudi’ Category

Berkunjung ke Universitas Islam Madinah : Peluang Kerjasama ?(Bagian 21)

Senin,  9 April  2017 pagi,  sinar cerah mentari kembali  menyambut kami.  Langit ceria.  Cakrawala pun memperlihatkan senyum  gembira.  Mas Nahidl Silmy kembali  menjemput mengantarkan kami  menuju kampus  tempat dia menempuh ilmu selama ini.  Karena waktu perjanjian memang belum saatnya,  keponakan  K.H. Mustofa Bisri ini lantas mengajak kami putar-putar kampus termasuk asrama mahasiswa dari berbagai bangsa.

Akhirnya tibalah waktu  wawancara,  dan kami diterima dua pejabat asli Saudi Arabia,  pertama  Dr. Ibrahim Sulthon,  wakil kepala biro urusan alumni bidang hubungan alumni,  kedua,  Dr. Abdul Aziz wakil kepala biro urusan alumni bidang ilmu pengetahuan.

“Sebagian besar mahasiswa di Universitas Islam Madinah adalah warga asing”,  kata Dr. Abdul Aziz memberi informasi perdana,”Terdapat siswa dari 170 negara ,  dengan jumlah mencapai  20 ribu mahasiswa. Hanya 30 persen dari mahasiswa non Saudi yang biaya sendiri”.

Sekilas kulihat Wawan manggut-manggut mendengar penjelasan,  dengan mas Nahidl  yang bertugas menerjemahkan.

Mahasiswa penerima beasiswa di UIM  mendapat fasilitas antara lain: (1). Tiket pesawat saat diterima menjadi mahasiswa di Universitas dan pada setiap akhir tahun akademik, sesuai dengan aturan yg berlaku. (2). Mukafa’ah (uang tunjangan) setiap bulan. (3). Hadiah tunai bagi mahasiswa yang berprestasi. (4). Asrama gratis dan perabotannya. (5). Makan di Kantin Universitas dengan biaya murah. (6). Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Universitas. (7). Sarana transportasi untuk shalat di Masjid Nabawi, Umrah dan wisata lainnya sesuai dengan jadwal yang ditentukan. (8). Fasilitas olah raga yang disediakan oleh universitas.

“Khusus dari Indonesia,  sekarang jumlah siswa mencapai  500 orang untuk tingkat Sarjana,  70 untuk level MA,  dan selebihnya 13 orang  kandidat Doktor”,   timpal  Dr. Ibrahim Sulthon. “Beasiswa untuk Indonesia memang paling banyak jumlahnya”.

:”Luar biasa,  sedemikian banyak beasiswa Arab Saudi yang diberikan pada Indonensia”,   batinku terkesima mendengar informasi yang luar biasa.

“Sampai sekarang,  alumni asal Indonesia  banyak sekali jumlahnya”,  lanjut Dr. Ibrahim Sulthon,  “S1 saja mencapai 1.227 orang,  belum lagi level MA tercatat 140 orang,  ditambah  Doktor berjumlah 43 orang”.

Dari berbagai alumni asal Indonesia,  terdapat beberapa nama yang cukup dikenal antara lain : (1). Muhammad Maftuh Basyuni(Mantan Menteri Agama RI), Hidayat Nur Wahid (Mantan Presiden Partai Keadilan dan mantan Ketua MPR), Salif Segal Al Jufri (Mantan Menteri Sosial RI), Abdul Gani Kasuba (Gubernur Maluku Utara), Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor), Ahmad Cholil Ridwan (salah satu ketua MUI Pusat, Bidang Remaja dan seni Budaya) dan Firanda Andirja Abidin, dai Indonesia, yang pernah menjadi  pengisi kajian rutin bahasa Indonesia di Masjid Nabawi.  Alumnus di Malaysia salah satunya adalah  Abdul Hadi bin Awang (Presiden Partai Islam Se-Malaysia).

Mas Hamdan terlihat manggut-manggut.  Fakhry nampak terkesima,  .  terpana dengan alumnus Indonesia  yang sedemikian banyak jumlahnya.

“Mengingat sedemikian banyak alumnus kami punya,  maka Universitas Islam Madinah membentuk biro khusus yang menangani alumni yang dimiliki”,  tambah Dr. Abdul Aziz,  “Intinya  kita terus menjalin komunikasi,  bahkan termasuk melatih mereka agar memiliki kemandirian.  Janganlah para alumni setelah kembali ke negaranya berharap pada “pemberian” masyarakat,  tapi hendaknya bisa berpikir apa yang bisa diberikan pada masyarakat”.

“Ada beberapa hal yang kami lakukan terkait para alumni”,  timpal Dr. Ibrahim Sulthon, “Pertama, kita membuat buletin untuk sarana komunikasi antar alumni,  secuil media sebagai wahana komunikasi dengan mantan siswa.  Buletin bisa berperan sebagai sarana pengasah kemampuan menulis,  agar terbiasa berkarya sebagaimana ulama-ulama produktif lainnya. Kedua, kita juga membangun komunikasi lewat intra sosial media,  dimana  berbagai masukan (kritik dan saran)  dari mahasiswa  dan  alumni dinantikan juga. Hanya dalam waktu tiga hari,  sudah akan dijawab rektor.  Masukan dan atau kritikan misalnya,  bisa soal ijazah yang telat,  fasilitas asrama yang rusak.  Bahkan,  berdasar masukan,  ada gedung di kawasan kampus akan dirubuhkan guna diubah menjadi  lokasi joging dan atau taman”.

Dr. Ibrahim Sulthon sejenak jeda memberi penjelasan,  sejurus kemudian dia menjelaskan,  ”Ketiga,  melalui komunikasi ini  para alumni bisa mengajukan permintaan  bantuan,  seperti tenaga guru,  ketika alumni di masing-masing negara  membangun lembaga pendididkan. Kepada lulusan bahkan diberi bekal pelatihan, seperti: kemampuan manajemen, interview untuk mendapat pekerjaan,  bahkan pada daurah terakhir diajari  cara membuat proyek keilmuan.  Misalnya membangun institusi pendidikan dengan tanpa modal.  Caranya : dia bisa mencari bantuan, yang diajarkan secara step by step”.

”Apakah di kampus ini,  juga dibuka peluang kerjasama dengan pihak luar  non alumni,  misalnya dalam wujuk kerjasama penulisan ?,  sambutku ketika   dibuka peluang untuk bertanya.

”Oh ada”,  tukas Dr. Ibrahim Sulthon,  ”kita membuka peluang kerjasama keilmuan,  seperti Daaurah tokoh,  menulis bersama dalam jurnal,  serta kerjasama penelitian. Anggaran kerjasama yang kami sediakan cukup besar. MOU sampai sekarang belum banyak diajukan,  oleh karena itu peluang kerjasama masih sangat terbuka dilakukan”.

Kuperhatikan Mas Hamdan dan Wawan matanya langsung berbinar,  demi mengetahui peluang kerjasama masih terbuka lebar.

”Persyaratan satu saja,  kerjasama tak berpotensi melanggar aturan kedua negara”,  lanjut Dr. Ibrahim Sulton,  ”Hanya saja,  untuk bidang politik dan ekonomi belum bisa.  Sedangkan untuk sosial keagamaan, dakwah, dan bahasa Arab,  serta isu tentang wanita, masih  terbuka lebar peluangnya.  Khusus isu-isu politik saat ini baru ada di universitas King Saud di Riyad saja,  yang kebetulan para diplomat hampir semua alummnus sana”.

”Tahapan untuk bangun  kerjasama seperti apa ?,  maksudku,  bagaimana  proses untuk mewujudkannya ?, tanyaku singkat.

”Sederhana saja.  Dari LIPI secara kelembagaan,  silahkan mengajukan ke Rektor,  ke Bagian Hubungan Internasional”,  sahut Dr. Abdul Aziz, ”Intinya yang penting thema kerjasama sesuai misi Jamiah. Bisa kerjasama penelitian, bisa berupa pelatihan (dari Arab ke Indonesia misalnya), bahkan termasuk pertukaran pelajar dengan ijasah dari Jamiah”

Mentari makin menjulang tinggi,  dan diskusi inipun segera  kami akhiri.  Semoga peluang kerjasama dapat ditindaklanjuti.  Syukron Jaziilan ya  Doktorain:  terima kasih banyak wahai dua Doktor:   Ibrahim Sulthon wa  Abdul Aziz.***

 

Iklan

Berkunjung ke Universitas Islam Madinah : Koleksi Berharga Telah mereka Punya (Bagian 20)

Ahad,  8 April  2017 pagi.  Mentari bersinar cerah sekali.  Langit membiru.  Cakrawala benderang.  Burung beterbangan.  Riang.  Mas Nahidl Silmy telah menjemput mengantarkan kami  menuju kampus  Universitas Islam Madinah (UIM).  Universitas Islam Madinah (al-Jami’ah al-Islamiyyah bil Madinah al-Munawwarah) adalah sebuah perguruan tinggi negeri di Arab Saudi. di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Arab Saudi yang didirikan pada 29 Rabiul Awal 1381 H (6 September 1961). Universitas yang terletak di Kota Madinah, Propinsi Madinah ini berdiri berdasar keputusan resmi Raja Saud bin Abdul Aziz tentang Pembangunan perguruan tinggi yang dikhususkan untuk mempelajari ilmu syariah dan keagamaan di Kota Madinah. UIM  menaungi beberapa Fakultas antara lain: Fakultas Syariah, Fakultas al-Qur’an dan Studi Islam,  Fakultas Hadits dan Studi Islam,  Fakultas Dakwah dan Ushuluddin , Fakultas Bahasa Arab,  Institut Pengajaran Bahasa Arab untuk Non-Penutur Bahasa Arab.

Rector UIM terakhir adalah Prof. Dr. Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad as Sanad.Namun, karena beliau  Diangkat menjadi Ketua Umum Badan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Arab Saudi,  maka posisinya digantikan oleh PJS yakni Wakil Rektor Bag. Pengajaran: Prof. Dr. Ibrahim bin Ali Al-Ubaid. Di UIM selain ada Wakil Rektor Bag. Pengajaran,  juga terdapat   Wakil Rektor (Prof. Dr. Ahmad bin Abdullah bin Hasan Katib),  Wakil Rektor Bag. Pengembangan (Prof. Dr. Mahmud bin Abdurrahman Qodah)   Wakil Rektor Bag. Kerjasama Internasional dan Pertukaran Pengetahuan (Dr. Rabah bin Rudhaiman Al-Anzi),   Wakil Rektor Bag. Pascasarjana dan Riset Ilmiah (Dr. Abdurrahman bin Rajaullah Al-Ahmadi).

Sehari sebelumnya,  sebenarnya  kami sempat diantar Mohamaad Isa berkunjung  ke UIM. Namun,   kala itu mobil tak diijinkan masuk melalui gerbang utama. Namun,  pada Ahad ini  ternyata mobil  dipersilahkan jalan,   tanpa melalui proses pemeriksaan,  dan cukup dilihat dari kejauhan.

Lho kenapa  bisa beda perlakukan,   meskipun pemeriksaan masih sama orang yang melakukan ?. itulah pertanyaan yang berkecamuk di hatiku,  dan tiba-tiba mas Nahidl menjelaskan seolah tahu  isi kepalaku. ”Hanya para dosen  dan pegawai plus mahasiswa Doktoral yang bisa masuk tanpa pemeriksaan”,  kata sang kandidat Doktor asal Rembang ini.

”Bagaimana  penjaga bisa diketahui bahwa  penumpangnya masuk tiga kategori tadi ?,  tanya  Wawan  pelan.  Ekspresi wajahnya memperlihatkan bahwa di kepalanya tengah  berjejal rasa penasaran.

”Ini”,  tukas mas Nahidl  sembari telunjuknya mengarah pada kartu yang diletakkan di kaca,  tepat di depan setiran mobilnya,  ”Kartu merah ini  sebagai kartu sakti,  sehingga kita dapat keluar masuk secara leluasa sepanjang hari”.

Selama kunjungan kami berencana mengunjungi Biro Urusan Perpustakaan (Kepala Biro  Dr. Abdullah bin Sulaiman Al-Ghufaili)  berikutnya  Biro Bidang Alumni (Kepala biro: Dr. Abdul Aziz bin Mabruk Al-Ahmadi). Selain kedua Biro itu,  UIM juga memiliki beberapa biro lain seperti  Biro Penerimaan dan Pendaftaran (Dr. Isa bin Shalah Ar-Rahbi), Biro Kemahasiswaan (Kepala biro: Dr. Husain bin Syarif Al-Abdali), Biro Pelayanan Masyarakat (Kepala biro: Dr. Fahd bin Muthi’ Al-Maghdawi), Biro Studi Pascasarjana (Prof. Dr. Abdul Razaq bin Farraj As-Sha’idi), Biro Riset Ilmiah, Biro Pengembangan dan Manajemen Akademik (Kepala biro: Dr. Nasir bin Abdullah Al-Ahmadi), Biro Pengajaran Online dan Pembelajaran Jarak Jauh (Kepala biro: Dr. Umar bin Ibrahim Nursaif), Biro Akreditasi Akademik dan Kualitas (Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Utaibi), Biro Teknologi Informasi (Dr. Muhammad bin Yusuf Ahmad Afifi).

Singkat cerita,  mas Nahidl mengantarkan kami menemui Prof. Dr.  Syekh Abdullah bin Sulaiman Al Ghufaili,  Kepala Biro urusan Perpustakaan Utama Universitas Islam Madinah. Minuman khas Arab  segera disajikan,  ketika  kami  telah duduk pada kursi yang disediakan.  Minuman itu Qohwah namanya,  berarti  kopi dalam bahasa Indonesia.  Kopi  dituangkan dalam cangkir kecil ukurannya,  dalam kondisi  panas suhunya,  sehingga bagi orang seperti saya lidahnya tak bakalan kuat untuk menyeruputnya.  Setelah agak dingin,  kopi segera kusedot pelan.  Masya Allah…  ternyata  dari rasa  sama sekali tak merefleksikan kopi sebagaimana sebutannya.  Minuman panas menyengat itu  lebih tepat dinamakan jamu,  sebab  komposisi rasa justru  mirip dengan adonan kapulaga, jahe, kencur atau apapun tambahannya. Terus terang perutku terasa agak mual karenanya. Namun sang tuan rumah justru  menawarkan tambahan  karena kopi di tangan sudah habis kami telan.  ”Kholas ya Syeikh…. syukron:  sudah cukup ya pak,  terima kasih”,  tolak Fakhry pelan sekali.

Tak banyak informasi kami dapatkan selama pertemuan,  kecuali masing-masing kami diberi segebok buku untuk kenang-kenangan.  Sebab,  Al Ghufaili justru sibuk  berdebat dengan staf di depan kami.  Hanya sesekali  ia melihat ke arah kami,  dengan ucapan : Baarakallah.  Setelah itu  ia kembali asyik masuk  dalam perdebatan tadi. ”Perilaku” ini tidak hanya sekali, melainkan dilakukan berulangkali. ”Aneh…”,  gerutuku dalam  hati, ”sebab perdebatan pimpinan vs. Staff ini  dari norma apapun sebenarnya tak pantas dilakukan ketika ada tamu apalagi berada di hadapan”.

Oleh Prof. Al Ghufaili kami diarahkan untuk melakukan penelusuran Literatur bersama  Muhammad Yaqub,  Pustakawan Universitas Islam Madinah.   Figur inilah yang justru penuh perhatian,  mengantarkan kami menelusuri koleksi universitas terkait peradaban Islam.  Banyak koleksi buku alias kitab super tua telah dikumpulkan,  semua disimpan sebagai koleksi berharga tak terhitungkan. Naskah tertua tercatat di tahn 40 H,  berisi tentang Isra’ Mi’raj   yang ditaklif  Khalifah Ali bin Abu Tholib.   Perpustakaan ini memili 40 ribu koleksi manuskrip,  baik berisi Al Qur’an maupun  Tarikh (sejarah).   Semua manuskrip itu juga dibuat dalam mikro film,  dimans setiap mikrofilm berisi sekitar 5000 buah buku.  Walhasil,  jika 40.000 dikalikan 5000 maka  total jendral dari koleksi naskah tua itu mencapai 200 juta naskah.

”Subhanallah..Bagaimana cara koleksi dilakukan”  tanya Fakhry pelan sekali.  Suaranya nyaris sama dengan sebuah gumaman saja.

”Semua diperoleh dengan jalan tukar-menukar”,  tukas Muhammad Yaqub tangkas,  ”Jika anda ingin mengetahui semua koleksi yang kami punya,  dapat dilihat dari iu.edu.sa”.

Selain koleksi buku dan manuskrip,  nilai lebih yang dipunyai perpustakaan ini adalah:  disediakannya  kamar-kamar khusus bagi mahasiswa doktoral  yang sedang mengerjakan tugas-tugasnya.  ”Inilah ruang-ruang untuk mengasingkan diri”,  jelas mas Nahidl memberi contoh pada kami.

Putar-putar ”perpustakaan” membuat kaki agak kelelahan.  Pegal. Namun,  melihat koleksi sangat berharga ini,  telah memaksa kami kami melupakan rasa linu yang mulai menjalari.***

 

Mewancarai Penceramah Masjid Nabawi (Bagian 19)

Malam telah kelam.  Langit Madinah  telah diliputi kegelapan.  Malam meraja menguasai cakrawala.  Di tengah gulita itulah  mobil yang kami tumpangi  meluncur  cepat,   menerobos kegelapan  seolah sama sekali tak merasakan  rasa penat.

Kami memang  pulang kemalaman,  bahkan sempat  sholat maghrib – Isya’  jama’  di masjid  pedesaan  yang sempat  kami di saat perjalanan. Di seberang jalan masjid,  dalam keremangan  kulihat kebun penuh pepohonan . ”Inilah kebun kurma”,  kataku pada Fakhry.  Di masjid pedesaan  pinggiran kota Madinah ini   tak banyak  orang sembahyang  mengingat lokasi  memang sedikit dijumpa  pemukiman,   bahkan tak layak untuk disebut perkampungan.

Hanya saja beberapa mobil ikut berhenti di parkiran,  dan penumpangnya  sama-sama bermaksud mengerjakan  sembahyang.  Walhasil,  dapat dikatakan masjid  malam itu diisi musyafir yang sedang lewat sekaligus bertandang  untuk sembahyang.

Selama perjalanan pulang,  dari kejauahan kulihat ada gugusan bukit yang sedemikian benderang dilihat dari kejauhan.  Lho kenapa bukit-bukit itu sedemikian terang?  tanyaku dalam hati.  Kepenasaran ini akhirnya mendapat jawaban,  sebab  ternyata di sepanjang kaki bukit terdapat banyak lampu yang sorotannya sengaja  di arahkan ke puncak bebukitan,  bukan di arahkan ke jalanan.  Namun,  metode ini justru sangat luar biasa hasilnya.  Bukit-bukit menjadi bersinar terang,  sehingga menciptakan keindahan  bagi siapapun yang memandang.  Hal kedua,  bukit-bukit menjadi sedemikian nyata, sehingga kalaupun  ada pesawat yang melintas di atasnya,  sang pilot  langsung melihat dan tak bakalan menabraknya.  Ketiga,   ternyata sinar yang terarah pada bebukitan,  sinarnya dapat ”memantul” sedemikian rupa,  sehingga efek pancaran sinar jauh lebih kuat dibanding jika lampu-lampu di arahkan ke badan jalan sebagaimana umumnya di Indonesia  kita dapatkan.

Itulah pengalaman berpetualang seharian di pelosok tanah haram,  Madinah al Munawwarah.  Kesempatkan luar biasa ini tak bakalan diagendakan ketika berhaji,  mengingat pada bulan suci kami teriakat oleh prosesi arbain sholat berjamaah empat puluh waktu di Nabawi.

Problemnya,  di hari Sabtu    8 April  2017 ini   kami telah seharian  blusukan ke berbagai lokasi,  namun kami terlanjut diikat janji yang harus ditepati.  Badan ini sebenarnya sudah berantakan kurasakan.  Penat, menyerang. Capek,  mendera.   Wawan bahkan  sakit kepala.  Mas Hamdan pun berkata  kurang nyaman badan dirasa.  Akhirnya,  saya dan Fakry yang terpaksa berangkat ke Nabawy untuk memenuhi janji : wawancara dengan nara sumber ba’da sholat Isya,  tepatnya di pintu 21 masjid Nabi.

Singkat kata,  saya telah sampai Nabawy lantas bersegera mencari seseorang istimewa,  sebagai obyek narasumber perdana.  Dialah  Abdullah Roy,   ustadz muda yang dipercaya menjadi penceramah di masjid Nabawy.  Luar biasa.  Dua tahun sebelumnya,  ketika berkunjung ke lokasi yang sama, yang menjadi penceramah berbahasa Indonesia adalah ustadz Firanda.  Nah,  pada kunjungan kali ini,  tampaknya  ustadz  Abdullah Roy  yang terpilih sebagai pengganti.  ”Terpilih”,   karena untuk menjadi penceramah di Nabawy  memang  melalui rekomendasi,  plus seleksi  super ketat berdasar kualitas keiilmuan yang dimiliki.  Dapat dipahami ketika saya  tanya mas Nahidl Silmy –penanggung jawab kami  selama kunjungan di Saudi–  :”kenapa tak juga memberi ceramah seperti ustadz Abdullah  Ray ?,  kandidat  Doktor di Universitas Islam Madinah  kontan memberikan jawaban: ”belum makomnya”.

Sebagaimana Ustadz Firanda dahulu,  Abdullah Roy,  pria asal Yogyakarta itu  adalah pula kandidat Doktor di Universitas Islam Madinah.

Abdullah Roy  memiliki nama asli  Roy Grafika Penataran, begitu nama kecilnya. Lahir 37 tahun silam di Bantul, Jogjakarta. Setamat SMA, ia memilih untuk nyantri di sebuah pesantren di Gresik, Jawa Timur. Di saat nyantri itulah ia berhasil diterima di Universitas Islam Madinah. Merasa “kurang mampu” dalam berbahasa Arab, Roy memilih untuk mendalami bahasa di progam prakuliah selama 2 semester. Usai menyelesaikan program bahasa, Roy memilih Fakultas Hadist di progam bachelorius. Ia melesaikannya di tahun 2005. Ayah dari 5 anak ini diterima di progam pascasarjana jurusan aqidah di tahun yang sama. Dengan tesis berjudul “Al-Mabaahits Al-‘Aqodiyyah Al-Muta’alliqoh Bil Adzan Jam’an wa Dirosatan”. Di tahun 2010 Roy diterima program doktoral prodi aqidah. Tiga tahun berikutnya ia ditunjuk menjadi salah satu pengajar Masjid Nabawi bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. dan Ustadz Anas Burhanuddin, MA.

Sayang sekali  kami terlambat datang,  terutama akibat didera rasa lelah dan badan memang terasa tak karuan.  Mas Hamdan yang semula ijin  kelelahan  akhirnya menyusul, bahkan Wawan yang semula  ijin  sakit kepala  akhirnya juga  mecungul.   Namun,  karena keterlambatan,  wawancara  akhirnya tak bisa lama dilangsungkan,  sebab ustadz Abdullah Roy  terlanjur  memiliki janji dengan seseorang. Afwan ustadz,  semoga kita dapat jumpa pada kesempatan lainnya, bahkan mungkin di Indonesia.

Alhamdulillah,  pada 25 Mei 2017 saya mendapat kabar bahwa ustadz Roy Grafika Penataran yang lebih dikenal dengan Abdullah Roy akhirnya  secar resmi menyandang gelar doktor di bidang aqidah. Desertasi yang berjudul “Firqoh Islam Jama’ah ‘Ardhun wa Naqdun” yang berhasil dipertahankan pada (25/05), di Auditorium Munaqosyah Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah. Setelah kelulusannya dari Universitas Islam Madinah ini, ia akan menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Dirosat Islamiyyah Imam Syafi’i, Jember. Selamat ya ustadz. ***

Menelusuri Pelosok Madinah: Danau Tersembunyi di Tengah Gurun (Bagian 18)

Mentari telah berdiri tegak di tengah  bumi Madinatunnabi.   Sinar Surya memancar  tajam,  terasa seolah  hendak menikam.  Madinah  terik.  Madinah panas.  Madinah kering  meski tak sampai kerontang.  Tepat menjelang Dzuhur kami segera kabur.  Maklum,  perut  sudah keroncongan,  haus pun ikut  menyergap kerongkongan.

Mobil segera  meluncur  mencari rumah makan,  dengan menu  utama   onta sebagai lauk hidangan .  Ketika di Makkah,  mas Mubarak sebenarnya  sempat menawari  untuk mengantar kami  ke restoran dengan menu daging onta alias Hasyi.  Namun,  karena jadwal undangan makam malam (asya’) dari Syekh Ismail  jadwalnya  belum  pasti ,   kami akhirnya ragu menyambut tawaran mas Mubarak tadi.   Karena jadwal santap Onta Mekah batal  dilaksanakan,  akhirnya Onta Madinah ganti jadi sasaran.

Tak berapa lama   mobil menepi , langsung berhenti  tepat di depan restoran ’Asyi.  Lokasi restoran ada di depan Markaz Al Buhuts,  meski  sedikit bergeser ke arah kanan.  Markaz al Buhuts adalah sebuah lembaga penelitian,  atau  semacam LIPI nya Saudi.  Kami sempat  berjalan ke lokasi  sejajar  ke arah depan kantor itu,   yakni ketika  shalat dzuhur di masjid pasca makan.    Bahkan,  sepeninggal dari shalat  pun mobil kami melewati tepat di depannya.  Namun,  kantor kecil  berkaca itu tetap sepi keadaannya.  ”Markal al Buhuts terkesan seperti gudang buku belaka”,  komentar mas Hamdan  ketika mobil tepat ada di hadapan kantor.  ”Kantor  kok kosong tanpa penghuni”, timpal Fakhry.    Padahal  Markaz Al Buhuts semula  justru menjadi salah satu sasaran untuk dilakukan kunjungan.  Dus,  melihat realitas itu,  langsung  dia kami coret dari daftar penelitian.

Kembali ke soal  restoran,  ternyata tak ada yang spesial dari rasa daging onta,  kecuali seratnya yang agak besar ukurannya.  Hal yang agak beda dibanding  kambing dan sapi,  Bau daging onta  memang  sedikit menusuk,  meskipun makanan disajikan panas-panas.  Dilihat dari  wujud dan dibau dari aroma,  daging Onta  sepertinya dimasak dengan bumbu ”kare”.  Uniknya,  daging itu disajikan dengan cara  ditanam di bawah dibawah  gundukan nasi. Nasi nyapun tidak lagi berwarna putih,  melainkan seperti dicampur dengan bumbu-bumbu  sehingga kuning kecoklatan tampilannya.

Di tengah kelaparan yang mendera,   acara makan langsung dimulai segera.    ”Alhamdulilah,  setelah bertahun-tahun makan daging onta hanyalah cita-cita saja,  kali ini  ia telah menjadi realita”,  desis hatiku bersuka cita.

Tepat siang hari ini  kami benar-benar bergaya makan ala  Arab, bukan saja  dalam menu makanan,  bahkan termasuk menenggak Pepsi sebagai minum iringan.  ”Orang Arab memang aneh, sebagai iringan makan berat  bukannya air putih sebagai minuman,  tetapi justru  soft drink yang disajikan”, komentar Wawan sembari menyuap makanan.

Selesai berpesta daging Onta,  dan setelah memenuhi kebutuhan Rohani sholat menghadap Ilahi,  kami diajak meluncur  ke Sakan mahasiswa  Universitas Islam Madinah,  tempat kuliah mas  Izdihar dan mas Muhammad Isa.  Bahkan,  dilokasi ini kami berjumpa dengan kakaknya bernama Muhammad Ayub. Kakak beradik tinggal satu kamar serta kuliah di satu kampus.  Dari kakak beradik Isa dan Ayub inilah  banyak sekali informasi dapat kami gali,  sebab keduanya sejak SD sudah tinggal di Arab Saudi,  bahkan gaya bicara nya pun  sudah terlalu sulit dibedakan dengan orang Saudi.  ”Sebelum kumpul dengan kita-kita,  Isa sangat terbatas dalam bahasa Indonesia”,  kata Izdihar menjelaskan. Namun yang pasti,  dari gaya bicara,  tampak bahwa mahasiswa  kakak beradik ini memiliki sikap dewasa dari cara keduanya ngomong yang cukup tertata.

Dalam waktu tak terlalu lama,   kami berenam  telah menghabiskan dua porsi besar  satu nampan berisi  nasi domba  dan satu nampan besar lain berisi nasi onta .  Mblejer…itulah ungkapan tepat untuk menggambarkan kekenyangan.

Setelah istirahat sejenak,  kami lantas sholat di sebuah masjid  di sebelah kanan tak jauh dari restoran.  Sebelum perjalanan petualangan  kami lanjutkan,  kami sempat mampir ”rumah”  mas Isa,  tepatnya di  asrama mahasiswa universitas Islam Madinah.  Kala itulah,  Mohammad Ayub kakak dari Mohammad Isa  tertarik untuk mendampingi kami,  sehingga  kami bertujuh bertualang  menuju lokasi.

”Kemana berikutnya ?,  tanya mas Hamdan  penasaran.

”Ke sebuah lokasi  rahasia”,  jawab mas Istihar yang menimbulkan kepenasaran.

Singkat kata,  sampailah kami di sebuah lokasi ”rahasia” .  Tempat ini memang special sekali.  Lokasi ini benar-benar   tak pernah terbayang nalar pernah ada di sebuah  gurun di pinggiran  kota Madinatunnabi.  Yah,  sebuah danau  di tengah-tengah  padang pasir serta dikitari  bukit-bukit batu di segala penjurunya.  Dahulu lokasi ini mungkin benar-benar sesuatu yang rahasia,  karena tak terbayangkan maujud di tengah padang sahara. Danau bahkan diberi nama Wadi Al Jin,  yang bermakna  mata air Jin. Saya tak tahu,  kenapa lokasi itu dinamakan begitu.  Adakah eksistensinya terkait dengan bangsa jin ? Wallahu a’lam.

Wadi Al Jin cukup jernih airnya,  hanya saja sedikit bau aromanya. Meski demikian,  danau di tengah  gurun ini  menjadi lokasi piknik warga Saudi, terbukti dari satu dua mobil datang dan pergi dari lokasi ini.

Setelah sekian lama kami menikmati panorama,  mobil segera beranjak untuk menuju lokasi berikutnya, yang juga masih rahasia.  Roda-roda  mobil sempat terjebak dalam kubangan pasir. Roda hanya mampu berputar –putar di tempat,   namun tak mampu beranjak.  Para penumpang segera turun mengurangi beban,  bahkan terpaksa kami  sedikit bertolak memberi dorongan.  Walhasil,  sang  mobil  akhirnya terbebas dari jebakan. Alhamdulillah….

Mentari sedikit bergeser ke arah peraduannya,  menandai hari telah menjelang senja.  Disaat itulah mobil kembali menepi,  tak lama kemudian  berhenti.  ”Lho,  kenapa kita mesti berhenti ?,  tanyaku khawatir,  sebab  kami berada ”tepat”  di tengah sahara  yang tak terdapat  sesuatu apa.

Namun,  sebagai ”penumpang”  saya akhirnya turun  ikut penumpang lainnya.  Setelah menginjak bumi,  barulah kesadaran menguasai.  ”Subhanallah,  betapa indah lokasi ngentak-entak di tengah padang pasir ini ”,  ungkap hatiku terpesona.  Mataku terbelalak,  memicing terhentak.

Di hadapanku terhampar  tanah  lapang.  Di sepanjang mata memandang,  lautan pasir  yang tampak  terbentang..  Hanya di kejauhan tampat  bebukitan,  seolah  bukit-bukit  itu  mengitari lokasi  sekaligus menjadi pasukan penjagaan.   Walhasil,  ke arah manapun  sepanjang mata memandang yang terlihat  hanya pasir dan pasir,  bahkan hanya gurun dan gurun. Hanya di penghujung penglihatan saja,   tatapan terbentur tubuh molek  bebukitan.  Mulus tanpa ada  tanaman.  Postur  sebagian bukit itu tampak nyata,  karena jaraknya yang masih terjangkau oleh netra.  Namun,  sebagian bukit  lain ada yang hanya  tampak lekuk lika  bentu tubuhnya,  hanya kemolekannya  hanya remang-remang  akibat  sedemikian jauh jaraknya.

Meski hari telah menjelang senja,  namun mentari tetap leluasa menerabas  bebukitan,  sinarnya memantul  dari tubuh molek  padang pasir dan bebukitan.  Realitas ini sungguh menghasilkan panorama luar biasa,  sebab semua bukit yang terjangkau oleh pandangan  tampak  seolah merah-kekuningan warnanya..  Ketika  menghadap ke barat, timur, utara,  maupun selatan,  semua bukit kemerah-merahan warnanya,  kekuningan-kuningan kesannya.  Hamparan pasir  juga berwarna serupa,  kuning kemerahan akibat diterba sinar sang surya.  Hanya satu dua pokok  pohon, kulihat  menjulang,  dalam kegersangan.  Dari pohon yang ada pun tak satupun  menampilkan adanya dedauan baik di pokok,  ranting apalagi cabang.  Semua mranggas.  Kerontang.

Di tengah lokasi  “rahasia”  ini seolah saya tidak  lagi berada  di atas bumi.  Saya merasa  seakan ada di planet lain,  berdiri  di alam lain.  Andai saja,  saya di lokasi ini sendirian,  mungkin merasa  sedang di planet Mars yang konon berwarna kemerahan.  Hanya saja,  di lokasi ini  saya memang tak sendiri.  Ada  mas Hamdan,  ada  Fakhry, Wawan, Izdihar,  Mohammad Isa,  juga Muhammad Yakup.  Realitas inilah yang menyebabkan saya tetap tersadar bahwa saya masih ada di bumi tempatnya.  Apalagi sesekali  ada mobil  lewat,  mengaspal  di  jalanan yang membelah tepat di tengah sahara.  Bahkan,  sesekali melintas mobil off road yang berjalan  ngebut.  “Apakah mobil yang dijalankan kaum baduy itu  bisa disewa untuk petualangan di lokasi ini ?, kata Fakhry pelan sekali,  seolah bertanya pada diri sendiri.

Saya tak menyahut karena tidak  tahu,  dan memang  tak sempat bertanya untuk cari tahu.   Namun  dilihat dari situasi,  di  setiap liburan  lokasi ini biasa didatangi untuk plesiran di Arab Saudi.  Jika dugaanku benar berarti  kendaraan off road ini memang  sengaja di sewakan  untuk mengitari lokasi.

Mentari makin condong ke barat,  dan waktu maghrib telah mulai mendekat.  Meski kami masih sangat menikmati panorama  bak  di planet Mars ini,  namun tetap harus buru-buru meninggalkan padang pasir agar tak kemalaman  di lokasi.   Saya sempat  membayangkan,  ”bagaimana andai mobil mogok di lokasi,  tentu sulit sekali  mendapatkan bantuan untuk mengatasi”,  demikian bisik cemas di hati.  Dus,  jika problem itu benar-benar terjadi,  tentulah kami dipaksa  bermalam di lokasi.  ”Naudzubillah… ”,  doaku pelan berbaur perasaan.   Bayang-bayang menakutkan itupun segera kutepis  dari bayangan.

Perlahan kami bergerak meninggalkan lokasi.  Namun,  beberapa saat kemudian kami diajak  turun mobil lagi.  ”Kita telah sampai di Jabal Maghnit”,  jelas mas Isa.   Dinamakan demikian  karena  Lokasi ini memang  dipercaya punya kandungan maghnit.  Mas Isa segera memperlihatkan bukti: ketika mobil yang kami tumpangi dihentikan, dan mesin sengaja dimatikan,  mobil ternyata  tetap bisa bergerak jalan,  bahkan meskipun posisi jalan agak berupa tanjakan.  Apakah memang demikian ?,  ataukah posisi tanjakan hanya sebuah tipuan pandangan ?  Wallahu a’lam,  aku tak terlalu konsen memikirkan hal itu.  karena  suasana sudah temaram-malam,  konsentrasiku pun lebih tertuju pada keinginan untuk pulang. ***

 

 

Menelusuri Pelosok Madinah : Kunjungan ke Uhud dan Khandaq (Bagian 17)

Kota Nabi. Meski hari  masih fajar  pagi,  namun  sama sekali tak ada rasa menggigil  di lokasi.  Saya dan Fakhry  bahkan telah melangkah gagah  untuk  mengejar  jamaah shubuh di Nabawy.  Maklum di tanah suci ini,  bahkan di malam hari termasuk pagi,  suhu udara tidak bergeser dari angka 35 derajad celcius.  Apalagi kami memang telah berniat  untuk  ziarah ke makam Baqy,  tempat jasad  para sahabat dan  keluarga Nabi dikubur disimpan dalam bumi.

Tepat pasca wiridan Subuh,  dan tepat pasca kembali  menziarahi makam nabi,   kami langsung menuju lokasi  :  makam baqi.  Dilokasi Baqy sebenarnya tak ada  tanda dan atau informasi  tentang apa,  bagaimana, dan siapa yang dimakamkan di lokasi.  Siapa orang utama yang dikuburkan, tidak ada seorang pun bisa memberi penjelasan dengan kepastian.  Hal yang pasti adalah :  khusus makam orang-orang spesial,   niscaya akan kita temukan keistimewaan,  yakni:   (1).  Jika kubur  orang biasa hanya ditandai dengan  dua bongkah batu,  di bagian kepala dan kaki,  khusus makam orang spesial  disisakan space tertentu ditambah dengan  batas  bebatuan  pada pinggir atas – bawah kiri dan kanan. (2).  Makam istimewa senantiasa  ditunggu di jaga seorang asyakar di dekatnya,  meskipun sang penjaga diam tak memberi informasi apapun tentang makam yang dia jaga. Setiap kali  bertanya padanya,  jawaban asykar hanya Allah a’lam: Allah yang paling tahu.

Sebagai peneliti tentu kami tak kehilangan akal untuk sedikit menguat rahasia.  Melalui tanya pada orang-orang tertentu yang kami perkirakan tahu,  kami langsung  tanya ini dan itu.  Alhamdulillah,  beberapa orang Arab yang kami tanyai:  ternyata mereka memberi informasi.    Berbagai kubur  di bagian depan tak jauh dari pintu gerbang misalnya,  ternyata merupakan  kubur  ’ailatun nabi : keluarga nabi  alias anak-anak dan istri.  Kami  juga berhasil  menemukan makam  sayyidina utsman yang lokasinya di tengah-tengah baqi”,  dengan batas bebatuan relatif lebih luas dibanding makam-makam istimewa lainnya

Kami juga menemukan makam  ibu susu Nabi, yakni :  Siti Halimatus Sya’diah,  yang posisinya ke arah kiri dari lokasi makam Utsman.  Berikutnya berjalan masuk ke dalam lagi  ke  makam ibunya sayyidina Ali yang tak lain  istri paman nabi  bernama Abu Thalib. Posisi makam  lebih  ke belakang tak jauh dari  tembok  di pinggir sebelah kiri.  Tidak lama kami  berada di dalam Baqy,  sebab sekitar jam 7 kami bersegera pulang ke penginapan,  untuk mengisi perut alias sarapan.

Sabtu,  8 April 2017 kantor – kampus masih libur semua,  sehingga agenda berikut yang kami susun adalah menelusuri Madinah pelosok  atau luar kota.  Sorang sarjana  yang tinggal di Madinah sejak  SD mengantar kami,  untuk merealir tujuan ”penting”  ini.  Mohammad Isa Abdullah,  itulah nama yang disandangnya.  Pria muda berbadan tambun ini ternyata  seorang Hafidz.  Masya Allah.

Singkat kata,  sekitar jam 10 pagi  kami telah  meluncur ke   masjid Quba’ dan Qiblatain,  dua buah masjid  monumental  dalam sejarah peradaban Islam.  Quba’  merupakan masjid pertama yang dibangun Nabi, bahkan sebelum Nabawi.  Quba’ dahulu berada di pintu gerbang Madinah.  Dalam perjalanan Hijrah,  Nabi sempat ”membangun”  dan mendirikan shalat di Quba’ ini.  Walhasil,  siapaun menyempatkan shalat di Quba’  dia akan mendapat keutamaan.

Adapun masjid Qiblatain  bermakna dua kiblat.  Kenapa dinamakan demikian,  tentu ada sejarah yang bisa dijelaskan.  Dahulu :  jamaah shalat semula  menghadap ke arah masjidil Aqsa (Yerussalem) .  Suatu hari,   turun perintah Ilahi untuk mengubah  kiblat dari al Aqsa menjadi  ke  Baitullah di Mekkah.  Mendengar berita itu,  jamaah masjid Qiblatain yang semula ke arah Al Aqsa,  maka serta merta mengubah arah ke arah Makah.  Akibat peristiwa ini:  karena  dalam satu waktu shalat mereka sempat mengarahkan diri pada dua kiblat,   sang masjid lantas dinamakan masjid qiblatain.  Kami tidak shalat di dalamnya,  sebab memang tak ada penjelasan tentang keutamaan untuk shalat di sana ,  sebagaimana dijelaskan terkait masjid Quba.

Dari dua masjid,  kami  lantas  meluncur benteng Orwah bin Al Zubair,  sebelum akhirnya  ke bukit Uhud dan lalu ke bukit Hondaq. Berbeda dengan jamaah haji  – umroh yang biasa menaiki bus besar,   kami  memakai mobil kecil seukuran Avanza.  Walhasil,  berbeda  dengan bus yang harus melalui jalan-jalan besar,  kami sengaja diantar melalui perkampungan Arab. Tujuannya untuk mengenal  situasi dan kondisi pemukiman masyarakat.  Di tengah situasi terik seperti Madinah ini,  maka hampir tak dijumpai  orang lalu lalang dengan berjalan kaki.  Rumah-rumah dari luaran tampak berbentuk kubus kebanyakan,  dan amat sangat jarang dihisai denan tetumbuhan.  Gersang.  Panas.  Setelah blusukan ke berbagai kampung arab,  akhirnya sampailah ke  kawasan Jabal Uhud..  Uhud ternyata memang bukan sebuah gunung tunggal,  melainkan gugusan bukit yang memiliki bebeapa puncak.

Uhud –dahulu  sebagai  tempat terjadinya perang kedua dalam Islam—suasananya tetap sama,  tak ada beda dengan  dua tahun sebelumnya.  Di kaki bukit  kami tetap disambut  pasar tradisional dengan aneka dagangan yang dijajakan.  Sebuah bukit kecil  berjarak tak  jauh (bahkan paling dekat) dari  pasar  itulah ”inti” sejarah  uhud terjadi.  Konon di bukit paling kecil dan tak  terlalu tinggi ini,  dahulu menjadi tempat komando  pasukan panah yang dibentuk Nabi sang utusan.  Mereka disuruh menyerang bertahan,   namun akhirnya lokasi ini  justru  ditinggalkan,  akibat mereka terpesona oleh harta rampasan.   Akibat  melanggar perintah nabi,  muslimin banyak menjadi  korban dalam peperangan ini.  Para syuhada’  Uhud  ini dimakamkan di lembah tepat di depan bukit tadi,  pada posisi sebelah sisi lainnya dari pasaritradisional ini.  Salah tokoh legendaris  yang dimakamkan satu nya adalah :  Sayyidina Hamzah,  paman nabi yang tewas ditombak lengkap  dengan bekas 70 sabetan pedang.

Hanya saja,  di lokasi di tahun 2017 ini terdapat bangunan masjid   yang pada September 2015 belum ada. ”Masjid baru dibangun sejak akhir 2015”, jelas mas Mohammad Isa,  yang dirunut leluhur berasal dari Pati dan Yogya.   Saya duga  Masjid Uhud sengaja untuk memfasilitasi  penggalakan pariwisata,  sehingga  wisatawan dapat shalat  sekaligus menghilankan penat.  Bahkan,  sambil mengurangi penat,   wisatan dapat belanja berbagai ”cinderamata”  yang digelar di pasar tradisional termasuk toko mobil  yang kuperhatikan juga banyak keberadaannya.  .

Pembangunan  di bukit  Khandaq  –tempat terjadinya perang Khandaq—bahkan lebih  pesat pelaksanaannya.  Jika  di tahun 2015, saya tak  tertarik untuk  mengunjungi,  merasa  cukup memandang dari  kendaraan kami,  maka di  tahun 2017  jamaah  ”pastiakan tertarik untuk  turun  ke  lokasi.   Fasilitas penunjang telah banyak  dibangun dilokasi.  Setidaknya ada empat bangunan historis di wilayah Khandak.  Satu bangunan kecil berlokasi  di atas sebelah kiri,  disebut masjid nabi.  Tepat di bawahnya ada bangunan lebih kecil dan sederhana  disebut masjid Salman Al Farisi.   Di  sebelah kanan pada posisi juga  tinggi disebut masjid Ali.  Terakhir,  tepat di bagian tengah terdapat masjid yang paling besar disebut masjid Utsman bin Affan.  Di masjid inilah terdapat banyak toilet,  serta  memungkinkan wisatawan untuk shalat bahkan istirahat untuk melepaskan penat.

Keempat”masjid”,  sebenarnya hanya pertanda  bahwa tempat itu dahulu menjadi  lokasi  tafakur (dzikir dan shalat sunnah)  nama-nama bersangkutan,  sekaligus tempat mangkal untuk  mengawasi musuh  dari posisi bebukitan.  Di lokasi ini nama Salman Al Farisi menjadi legenda,  sebab tokoh inilah yang mengusulkan ide penggalian parit untuk mengelilingi lokasi,  sebagai beteng pertahanan,   karena umat Islam kala itu sedang dipaksa  menghadapi koalisi kejahatan  kaum kafir Qurais dan  para pengkhianat Yahudi Madinah.

Saudi memang sedang berbenah diri,  membangun berbagai fasilitas untuk mendukung program wisata sebagaimana visi Saudi 2030 nya.  Tak jauh dari Uhud,  tepatnya satu dua kilometer  sebelum menjangku kawasan Uhud,  terdapat  beteng kuno peninggalan Dinasti Utsmaniah,  yang  juga mengalami proses renovasi.  Dialah  benteng Orwah bin Al Zubair.   Bahkan,  di masing-masing lokasi wisata tadi,  saat ini telah pula dipajang papan besar yang berisi penjelasan tentang apa dan bagaimana  kejadian yang pernah terjadi  di  lokasi bersangkutan tadi.

Realitas ”pembenahan” situs  seperti ini sekarang bukan khas fenomena  Madinah,  melainkan juga telah  menjadi  fenomena Mekah.  Banyak fasilitas historis dibangun di Makkah Al Mukarromah.  Selain museum haromaian,  lokasi wukuf nabi misalnya,  jika dahulu disembunyikan/dikaburkan persis seperti  lokasi kelahiran nabi,   kini telah ditandai dengan bangunan kotak kecil  tepat di arah bawah jabal Rahmah.  ”Irigasi yang dibangun era Umayyah di sepanjang bukit di Makkah,  konon juga akan direnovasi”,  jelas mas Mubarrok ketika mengantar ziarah di kota Makkah.  Dahulu,  Irigasi itu konon dimaksud sebagai jaringan penyaluran air untuk memenuhi  kebutuhan minum para haji kota Makkah.  Bangunan ini terwujud atas inisiatif permaisuri Sultan  yang senantiasa dibayang-bayangi mimpi bertemu dengan lautan jamaah haji.  Mimpi ini terjadi berulang kali..  Atas mimpi inilah,  sang permaisuri ingin berbuat kebajikan pada jamaah haji, lantas memerintahkan pembangunan irigasi puluhan kilo meter panjang sekali,  menyusuri bukit-bukit terjal  terutama untuk memenuhi kebutuhan minum jamaah haji,  di tengah tanah terik  tanah haram yang tidak terkira. Subhanallah.***

 

Mengawali Hari di Kota Nabi: Antara Museum dan Perpustakaan (Bagian 16)

Waktu Maghrib telah lewat,  saat  Isya’  sedang merayap. Gelap. Hanya ”sinar  lentera” yang membantu kami untuk mengenali berbagai panorama yang menjadi  obyek penglihatan mata.  Tak ada keindahan  dalam keremangan,  kecuali hanya biasan benda yang obyek mya sempat terpapar  oleh sinar  dalam kegelapan.

Di tengah keremangan malam itulah,  kami memasuki  kota Madinatun Nabi –  Madinah al Munawwaroh.  Madinah   di malam hari,  ternyata dijerat kemacetan yang parah sekali.  Apalagi  beberapa  lorong jalan  menuju  penginapan,  ternyata ditutup  akibat sesuatu alasan.  Kami harus putar-putar dahulu untuk mencapai  Mubarak Silver hotel yang kami tuju.

”Hitung-hitung  city tour gratis”,  kata mas Hamdan menenangkan di tengah rasa penat yang sudah mulai menyerang.

”Sopirnya saja  tetap cool   tak mengekspresikan jenuh kemarahan”,  timpal Wawan  ikut menenangkan.

Kulirik Fakhry,  sang koordinator yang sedang asyik melihat kanan kini  penuh ketakjuban.  ”Mas… itukah masjid Nabawinya ?,  dia bertanya tiba-tiba,  sembari jari menunjuk  ke arah menara.

Akhirnya sampai juga  kami  tepat di jalanan  tepat di bagian belakang  hotel.  Prosesi memasuki dan berbenah di penginapan,  ternyata butuh waktu beberapa saat.  Walhasil,  tak hanya Maghrib,  jamaah  Isya’ pun  terpaksa kami ketinggalan.

Namun,  Fakhry,  mas Hamdan,  dan Wawan tetap memutuskan untuk  shalat di  Nabawi,  meskipun hanya  shalat di halaman masjid Nabi.  Maklum, mereka memang ingin segera pulang,  mereka ingi segera meluruskan badan, setelah perjalanan panjang melelahkan.  Saya sendiri terpaksa pilih  shalat di hotel saja,  sebab perasaan  mriang tiba-tiba  menyerang raga.  Aku menggigil,   sesaat ketika  menyentuh air untuk berwudlu.

Dalam situasi ini  saya harus membuat keputusan : harus pandai-pandai mengelola badan,  mengingat apa yang kami lalui baru separuh perjalanan, baru setengah  tugas dari yang kami  jadwalkan.   Buru-buru  jaket kukenakan,  jama’ maghrib-isya’ segera kulakukan,  lantas minum obat disusul tidur merebahkan badan . Dengan prosesi menata diri ini,  esuk  pagi,  badanku sudah terasa nyaman lagi.  Alhamdulillah wa syukurillah….

Meski badan telah segar kembali,  namun  di  Jum’at 7 April 2017 ini,  kami tak langsung  berkunjung ke kampus –  kantor  karena Jum’at adalah hari libur pekanan di Saudi.  Ketika di Jeddah –  Makkah,  kami juga dihadapkan pada  status liburan .  Bedanya,  di kedua kota itu libur terjadi akibat uthlah nisfu sannah (libur tengah tahun),  maka  di Madinah terjadi hanya karena uthlah yaumil jumuah. Walhasil,  hari pertama di  Madinah akhirnya kami manfaatkan untuk  kunjungan ke berbagai  lokasi peradaban Islam.

Pagi Ba’da Subuh,  saya memperkenalkan Fakhri dengan beberapa lokasi di sekitar  masjid Nabawi,  mulai dari batas-batas Raudhah  sampai posisi lokasi makam Nabi.  Saya memang memang tak mengajak  masuk Raudlatun Nabi,  karena untuk hal itu  kami harus antri  yang bermakna waktu dan tenaga  akan terkuras di lokasi ini.  Padahal  situasi badan belum prima sekali,  dan tenaga  yang kami miliki  belum fit kembali.   Kami harus cukup istirahat sehingga kami hanya menyusuri lorong menuju makam nabi,  meskipun untuk menuju lokasi saya tetap melewati jalur di belakang roudhotun nabi.  Walhasil,  sambil jalan menuju makam Nabi,  saya bisa menjelaskan batas-batas dan ciri-ciri Raudlah di Nabawi:  yakni terletak antara tiang makam/kamar  dengan  mimbar nabi, yang secara khas  dilapisi keramik berwarna agak putih,  berbeda dengan tiang-tiang di kanan dan kiri.  Setelah menelusuri lorong di belakang  Raudhah Nabi,  akhirnya sampailah kami di kubur Nabi.  Lokasi,  makam nabi posisinya tepat di bawah kubah berwarna hijau.

Setelah sarapan pagi,  kami istirahat sejanak  untuk mengumpulkan energi.  Ba’da jamaah dzuhur,  barulah kami  kembali menapaki  berbagai lokasi di sekitar Madinah ini.  Kali ini,  mas Isdihar mengiringi perjalanan keliling lokasi sekitar Nabawi,  Pertama sekali,  kami diantar ke lokasi  di arah belakang masjid Nabawi .  ”Subhanallah,   di tengah Madinah yang ”gersang”,  ternyata ada sebuah  taman penuh  tetumbuhan”,  komentarku takjub.

”Inilah yang disebut  lapangan Bani Sa’idah”,   tukas mas Isdihar,  ”di lokasi ini kaum Muhajirin – Ansyar  dahulu berhasil  mengatasi ”problem”  kepemimpinan pasca wafatnya Nabi  kembali ke haribaan Tuhan.

Terus terang, baru kali ini saya  mengetahui lokasi ini.,  meskipun sudah dua kali ziarah ke kota nabi.  Sebagaimana kebijakan pariwisata yang sedang dikembangkan,  taman Bani Saidah  selain  ditata diisi dengan berabagia tumbuhan dan kembang,    di lokasi juga dipasang papan,  berisi penjelasan tentang  lokasi yang dijadikan obyek  kunjungan.

Berikutnya,  kami  diajak  mengunjungi Ma’arid Al Asmaul Husna (ekshibisi atau pameran Asmaul Husna),  berikutnya Ma’arid Al Qur’an (Pmeran Al Qur’an).  Tahun  2015 saya pernah berkunjung ke dua lokasi ini,  yang di tahun itu memang baru dibuka pertamakali.  Tak ada beda,  apa yang dipamerkan dibanding dua tahun sebelumnya.  Hanya saja dalam soal perawatan alat peraga (termasuk komputer pemberi  informasi yang lebih lengkap)  ternyata beberapa rusak tak bisa dipakai lagi.  Di lokasi inilah kami melihat berbagai koleksi al Qur’an kuno,  dan segala hal terkait al Qur’an,  termasuk al Qur’an Kuno dibuat tahun 870 M  yang justru didapatkan dari Dublin  –  Inggris  (?).

Sebenarnya ada satu lokasi lagi,  yakni Ma’aridh  Masjidul  Nabawy  yakni museum masjid Nabawi,  namun sejak  tahun 2015 sampai  datang lagi di tahun 2017 masih belum dibuka,  konon katanya memang belum siap untuk kelengkapan koleksinya.

Ketika  adzan Asyar berkumandang,  kami segera  menuju masjid untuk jeda sembahyang.  Ba’da Asyar  kami  kembali melakukan ziarah – kunjungan melakukan petualangan khusus di tengah perkotaan.  Mas Hamdan-Izdiha-Wawan memilih datang  ke perpustakaan Nabawy,  sedangkan  saya mengantar  Fakhry untuk mengena  ”masjid” di sekitar lokasi.   Di pintu 8 langsung berjalan ke arah kanan,  kami melangkah menuju  masjid Al Ghumamah,  lokasi sholat Istisqo’ yang dahulu pernah dilakukan Nabi.  .   Jika di tahun 2015 saya sempat  sholat di dalamnya,  kali ini kami hanya foto-foto di depannya.  Beranjak dari Al Ghumamah  kami melangkah ke  masjid Abu Bakar dan berikutnya memutar menuju  masjid Ali.  Masjid-masjid itu, kokon dahulu merupakan tempat tinggal (sekaligus musholla pribadi)  dari Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib.  Sebenarnya maksud hati ingin juga menuju masjid Umar, masjid  Utsman ,   bahkan masjid Bilal,  namun karena panas terasa menyengat .  kami lantas  membatalkan niat.  Sebab,  kami memang  harus mengumpulkan energi, untuk tugas meneliti di lain hari.***

 

 

 

Maasya Allah – Baarokallah : Kena Penyakit ‘Ain(Bagian 15)

 

Mentari  siang  kurasakan  tambah menjadi  garang.  Sinarnya  meraja,  seolah  hendak menguasai memerintah dunia.   Terik.  Panas,  kurasakan kian  ganas.

“Dahulu pernah  ada kejadian di wilayah kota suci ini.  Sebuah gedung menawan,  tiba-tiba  rubuh  tanpa sesuatupun  alasan ”,  kata mas Mubarak menjelaskan. “Telisik punya telisik,  tragedi itu terjadi akibat gedung menawan itu telah memancing decak ketakjuban,  yang sayangnya tak  diekspresikan dalam kata-kata Maasya Allah   Baarakallah sebagaimana nabi telah ajarkan”, tandas  sang kandidat Doktor.  “Sejak saat itulah,  sosialisasi ucapan MaasyaAllah-Baarakallah digencarkan sedemikian rupa,  bahkan kini menjadi kultur Saudi yang tampaknya tak bakalan lepas lagi.  Mobil-mobil yang mengaspal di tanah haram sini,  sebagian besar ditulisi dua ungkapan tadi”.

Sejenak  mas  Mubarak tak bersuara,  setelah  mengakhiri kisahnya.  Hening.  Bisu.  Suwung.

”Percaya tak percaya,  itulah realitasnya”,  mas Mubarak kembali bersuara,  ”Saya sendiri pernah mengalami penyakit ’ain tadi,  terjadi akibat ketakjuban dan  atau pandangan mata yang kita miliki.  Suatu kali,  di sebuah masjid,   saya bertatapan mata dengan seorang lelaki tua,  yang tatapannya sangat tajam  dan  sampai kini  tak akan pernah terlupa”, tandas mas Mubarak,  ”Astaghfirullah,  ketika sampai di rumah tiba-tiba badan terasa gatal merata,    kulit memerah  melepuh seperti terbakar sinar surya.  Pengobatan ke dokter telah berulangkali kulakukan,  namun sembuh tiada kunjung ku dapatkan.  Pada situasi kalut  itulah,  saya teringat tatapan tajam bapak tua di masjid beberapa hari sebelumnya.  Beberapa hari  berikutnya  saya berusaha menemui bapak tua tadi,  sayangnya  tak kunjung bisa  kutemui.  Saya pun meminta tolong pada teman-teman untuk  mencarikan,  tetapi  mereka berhari-hari tidak kunjung mendapatkan”,  tambah pria yang telah belasan tahun tinggal di Makkah itu.

”Dalam situasi demikian,  tak ada yang bisa kulakutan, kecuali rajin ke masjidil haram  untuk bertobat mohon ampunan,   sekaligus meminta  kesembuhan.    Bahkan,  saya menyempatkan umrah dengan lantunan do’a agar penyakit segera diangkat oleh Nya.  Namun,  upaya demikian  ternyata tak lantas kesembuhan  segera kudapatkan”,  suaranya bernada mengenang kepahitan.

”Walhasil,  suatu hari,  ketika  jamaah di sebuah masjid,  sang imam kebetulan  melantunkan  ayat-ayat yang biasa dipakai sebagai bacaan rukyah untuk mengusir jin-setan laknat.  Dus,  pada saat itulah tiba-tiba kurasakan bahwa  bacaan imam telah  berpengaruh luar biasa pada badan”,  kisah mas Mubarak dengan ekspresi kegirangan, ”Subhanallah wal  alhamdulillah,  sejak saat itu penyakit a’in yang menimpaku tiba-tiba menjauh dariku.  Sembuh”.

Itulah sekelumit peristiwa yang mas Mubarak pernah alami,   lelaki yang telah yang belasan tahun tinggal di tanah suci.,  terserang sakit akibat  tatapan mata alias a’in.   Semoga kisah nyata ini ,  senantiasa mengingatkan kami  untuk mentradisikan ucapan Masyaallah –  Baarakallah tatkala  dihadapkan pada ketakjuban pandangan netra yang kami miliki.

Selamat tinggal Makkah,  kami beranjak menuju Madinah.

Jarak Mekah – Madinah sekitar 425 km.  Telah tiga kali kami menapaki  jalanan ini,  dua kali di tahun 1997 dan sekali di tahun 2015.  Ditambah dengan yang terakhir pada Kamis,  4 April 2017 ini,  berarti saya telah empat kali menapaki  jalanan yang dahulu dilalui nabi.  Jika ditempuh dengan bis yang mengangkut jamaah hati, maka  rata-rata dibutuhkan waktu 6-8 jam.  Namun,  dengan mobil kecil  sewaan kami,  maka  jarak yang sama dapat dicapai sekitar 4-6 jam saja.

Beberapa waktu pasca Dzuhur,    sopir beretnis Asia Selatan (Pakistan ataukah India)  menjemput  untuk  mengantar kami.  ”Tatapannya dingin”,  kata Wawan ketika pertama kali  melihat wajah sang sopir.  ”Wajahnya mirip bintang film India”,  aku menimpali.  Dalam hati aku bahkan berkata,  ”sopir ini bahkan lebih cakep dibanding Sakh Rukh Khan dari segi tampangnya”.   Singkat kata,  berangkat dari Makkah sekitar jam 15.00 sampailah kami  di Madinah  di  sekitar jam 20.00 waktu Madinatun Nabi.   Assalamu ’alaikum Ya Rasulullah. Assalamu ’alaikum Ya Nabiyallah. Assalamu ’alaikum Ya Habiballah.***.