Archive for the ‘Mengenal Arab Saudi’ Category

Antara Bandara dan Maskapai Penerbangan Kita: Kompetisi yang Tak Kompetitif (Bagian 1)

 

Pagi,  sekitar pukul 08.45 seorang abang ojeg on-line   telah berhenti tepat  di depan rumah.  “Ini rumah bu Wiwi,  ya Pak ?  tanya bang ojeg.  “Betul”,  jawabku, “Namun,  yang minta diantar saya, bang”.   Tak perlu berlama-lama saya segera nangkring di belakang abang ojeg,  untuk diantarkan ke Cibinong City Mall (CCM), tempat mangkalnya bis Damri bandara tujuan Soekarno – Hatta.

Hari  Jum’at,  31 Maret 2017 saya memang hendak bepergian jauh,  terbang menuju Saudi Arabia.  Perjalanan ke negeri Hijaz tempat bertenggernya dua tanah suci,  Makkah dan Madinah, ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi saya.  Sebab,  sebelumnya,  sudah dua kali saya melanglang ke bumi tempat lahirnya agama Islam ini.  Perjalan pertama kulakukan di tahun 1997 dan perjalanan kedua saya ayunkan  di tahun  2015. Kedua-duanya untuk   menjalankan  rukun iman ke lima,  pergi haji ke Baitullah.  Bedanya,   perjalan pertama kulakukan  sebagai realisasi menjalankan kewajiban pribadi  seorang bujangan,  adapun  perjalanan kedua merupakan ekspresi kewajiban  seorang suami untuk mengantarkan –menemani  istri dalam menjalankan kewajiban.  Nah,  kali ini,  di tahun 2017 ini,  saya pergi lagi  ke  tanah Suci,  namun bukan untuk berhaji, melainkan  dalam rangka kerja –  meneliti yang ditugaskan kepada kami. Tujuan spesifik inilah yang menjadikan penerbangan ke Saudi  kali ini menjadi agak  berbeda dari   dua kepergian sebelumnya.

Mungkin  karena  perbedaan tujuan pokok  ini pula,  maka  pada kepergian kali  ini  tak ada satu orang pun yang mengantarku.  Istri sudah berangkat ke kampus,  dua anak pun sudah berangkat sekolah. Walhasil,  perjalanan ke tanah suci kali ini menjadi sangat simpel,  cukup  nangkring di atas motor,   di antarkan  abang ojeg. Meski demikian,  awal perjalanan ini tetap  menyemburatkan rasa syahdu di hatiku.  Kalbuku meleleh.   Mataku berkaca-kaca.  ”Labbaik Allahumma labbaik,  labbaika laa syariika laka  labbaik”.  Bibirku berdesis,  mengucapkan kalimat talbiah. Ya,  kata-kata talbiah,  sebagai refleksi bahwa aku kembali dipanggil Allah untuk berkunjung ke Makkatul Mukarromah Asy-Syarifah,  bahwa aku diseru lagi  oleh junjunganku  nabi besar Muhammad SAW untuk bersilaturrahmi ke rumah beliau di Madinatul Munawwaroh.

Jam 9.00 tepat,  bis Damri bergerak pelan meninggalkan CCM.  Mentari bersinar cerah. Langit membiru indah.   Buana benderang.  Burung pipit  beterbangan ceria,  seolah  mengantarkanku dengan ekspresi  suka cita.  Realitas alam ini sedikit banyak mampu mengganti senyuman istriku,  mengganti keceriaan anak-anakku  ketika aku  mulai bergerak meninggalkan Cibinong. ”Labbaik Allahumma Labbaik: Ya Allah… hamba memenuhi panggilan Mu”,  kembali  bibirku berdesis di sepanjang jalan menuju bandara, Soekarno – Hatta.

Sekitar pukul 11.00 siang kami (saya dan tiga teman seperjalanan) sudah berkumpul di bandara,  di bagian penerbangan internasional.  Karena kebetulan  hari Jum’at,  maka menjelang dzuhur, kami  bersegera  mencari masjid  untuk Jum’atan.  Dalam pencarian itu,  apa yang saya dapatkan adalah sebuah  keterkejutan. Ya,  terkejut atas fakta bahwa masjid bandara  yang kami temukan  hanyalah sebuah bangunan kecil,  super sederhana,   yang posisinya nyempil  antara parkiran ratusan  mobil  dan beberapa warung kecil kaki lima  yang juga sangat  sederhana.  Sebuah kontradiksi antara ”bangunan masjid yang kumuh,  di tengah bangunan  bandara internasional  yang super megah”.  Bahkan,  dibanding  dengan mushola di kampungku saja,  masjid bandara internasional ini  kalah jauh dalam  soal  fasilitas dan kebersihan, apatah lagi  dalam kualitas bangunan. Intinya,  bangunan ini tak pantas  dinamakan masjid bandara di Jakarta apalagi bandara pada level internasional sebutannya.

Hatiku meleleh.  Mataku berkaca-kaca melihat fakta mengecewakan  ini:   realitas bangunan masjid yang disediakan oleh bandara berkelas  internasional,  realitas tempat ibadah  yang terletak pada gate penerbangan internasional yang otomatis pula menjadi cerminan raut muka bangsa Indonensia yang konon katanya mayoritas beragama Islam.

Kedaruratan”masjid” bandara ini  tentu saja  tak mampu menampung jamaah yang begitu melimpah.  Orang yang shalat  meluber di halaman yang super ngentak-entak panasnya.  Bahkan, tidak sedikit dari mereka tidak kebagian tikar ataupun karpet  tambahan untuk alas sholat.  Alhamdulillah,  untung saja kulihat ada seorang ibu tua (sepertinya: pedagang makanan di sekitar masjid) yang bersodaqoh kertas koran dan kardus bekas yang diberikan kepada jamaah. Melihat realitas ini muncul pertanyaan genting di benakku, bagaimana bila terjadi turun hujan ? Benakku yang lain langsung menukas tangkas,  ”sudah pasti jamaah shalat  (termasuk calon penumpang pesawat) terpaksa berbasah-basahan,  meskipun mereka hendak bepergian”.

Apakah para pejabat tidak pernah melihat realitas ini ?  Kalaupun bukan pejabat, apakah para karyawan bandara tak pernah jum’atan di lokasi ini,  sehingga tak menyampaikan aspirasi terkait kondisi”masjid ”  yang serba darurat ini ? ,  semburat tanya berulangkali muncul dari dalam hati.

Bepergian di hari Jum’at memang makruh hukumnya.  Namun,  acapkali terpaksa dilakukan karena beberapa alasan,  termasuk kepergian kami di hari Jum’at ini.  Sebagai catatan, meskipun kepergian kami ke Saudi sebagai perjalanan tugas  meneliti,  namun tak berarti segalanya  telah tercukupi.  Sejak awal persiapan,   banyak ganjalan telah menghadang.     Pertama,  perwakilan Indonesia di Arab Saudi  (KBRI di Riyadh dan Konjen RI di Jeddah)  menyatakan tak bisa memberi bantuan selama  kami  ”dinas” di Arab Saudi.  ”Sedang sibuk”,  itulah alasan pokok yang mereka sampaikan.  Kedua,  ”kunjungan penelitian”  seperti apa yang kami lakukan,  bagi  pemerintah Arab Saudi  ternyata  tak mudah dikabulkan.  Butuh proses cukup lama (sedikitnya 3 bulan) guna mendapatkan ijin  dari  departemen luar negeri (imarotul khorijiah) Saudi.  Padahal,  time-line yang kami miliki sangat ketat dan tak mungkin  ditunda sampai tiga bulan lamanya.  Ketiga,  anggaran yang tersedia sangat terbatas, sehingga hanya tersedia hari kunjungan yang juga super  terbatas.  Berbagai keterbatasan inilah yang harus kami siasati sedemikian rupa  agar target tujuan dari kunjungan tetap dapat kami raih  sesuai yang kami gariskan.

Singkat kata,  setelah berkonsultasi dengan   berbagai pihak,  akhirnya  kami   dapat berangkat   sesuai jadwal yang kami rencanakan.   Alhamdulillah, Ya Robb.  Seandainya keberangkatan ini  molor,  mundur sebulan saja (pada  Mei 2017),  hampir pasti anggaran tak akan lagi mencukupi.  Sebab minggu terakhir Mei  sudah memasuki bulan Ramadhan yang bermakna pembiayaan akan membumbung tinggi,  baik untuk ongkos pesawat apalagi  biaya hotel selama di Saudi.  Alasannya,  pada Ramadhan jamaah umroh ke Arab Saudi meningkat tinggi,  bahkan konon melampaui jumlah jamaah haji.  Bagaimana, jika  diundur saja ke bulan Juni – Juli – Agustus (bertepatan Syawal – Dzul Qoidah – Dzul Hijjah).  Jawabnya singkat:  justru kami tak akan bisa pergi,  sebab di  ketiga bulan itu ijin berkunjung ke  Madinah – Makkah selain untuk kepentingan haji  hampir pasti  tak akan dilayani pemerintah Saudi.

Alhamdulillah,  untungnya,  berbagai kendala tadi akhirnya berhasil kami atasi.  Mas  Ferliansyah Zais dari travel Al Madinah Al Munawwaroh  mampu membantu  kami mengurus tiket pesawat, visa  perjalanan,  dan  terutama akomodasi selama di Arab Saudi.   Bahkan,  dari jatah waktu pembiayaan hanya 8 hari sudah termasuk perjalanan pulang pergi,  oleh mas Ferly dapat diatur – diirit-irit  menjadi  13 hari termasuk waktu pulang pergi. Terima kasih mas Ferly,  jazakallahu khoirul jaza’.

Khusus ongkos pesawat,  anggaran yang tersedia sebenarnya sudah tak lagi  mencukupi, terutama akibat jadwal booking yang tertunda  sehingga harga tiket terlanjur ikut menjadi mahal  pula.  Walhasil,  jika semula dirancang akan terbang dengan pesawat Garuda Airways (GA)  terpaksa  diganti  dengan Saudi Arabian Airlines (SU) dan itupun harus  dipilih  yang terbang dari  Kuala Lumpur.  Alasannya,  jenis pesawat yang sama dari  Jakarta  ternyata tetap lebih mahal harganya  dibanding dari Malaysia bahkan meskipun  masih ditambah dengan ongkos penerbangan Garuda  Jakarta – Kuala Lumpur plus menginap semalam di hotel sederhana.

”Lha kok bisa ?, tanyaku kala itu.

”Lha,  memang demikian kenyataannya”,  tukas  mas Hamdan Basyar,  anggota tim paling senior dalam perjalanan kami, ”Tanyakan pada pihak-pihak  terkait dengan tetek bengek  penerbangan di Indonesia,  kenapa biaya penerbangan di Indonesia lebih mahal dibanding Malaysia”.

”Inilah,  titik rawan dari tidak kompetitifnya penerbangan kita”,  tambah  Nostalgiawan Wahyudi alias Wawan,  salah satu anggota tim lainnya.

Walhasil,  hari  Juma’at, 31 Maret 2017,  saya,  Wawan, mas Hamdan,  dan  sang koordinator Mohammad Fakhri Ghafur  dengan terpaksa harus terbang dahulu ke Malaysia sebelum melanjutkan  ke Saudi Arabia. ***