Archive for the ‘Mengenal Arab Saudi’ Category

Bersiap Pulang : Wisata Indonesia Di Mata Warga Saudi Arabia (Bagian 31)

Selasa,  12 April 2017  siang.  Tugas dan  Pekerjaan sudah diselesaikan,  sehingga  kami sudah siap lahir batin untuk segera pulang.  Walhasil,  sekitar jam 12.00  kami telah meluncur  ke bandara,  agar mas Nahidl – mas Izdihar dapat mengurusi proses chek-in tidak dalam situasi tergesa-gesa.  Arabian Airlines (SU) tetap dipilih mar Ferly,  untuk mengangkut kami pulang ke Jakarta  lagi.  Jalur kepulangan kali  ini tidak Madinah langsung Jakarta sebagaimana dilakukan kaum berhaji,  melainkan jalur   Madinah – Jeddah – Jakarta sehingga bisa  menjadi bahan tambahan  untuk catatan kami.

Bandara Madinah  terbilang  tak padat penumpangnya. Terkesan tenang – santai dalam suasana,  sehingga meski beberapa jam nongkrong di sana tak membuat  kami  jenuh – penat karenanya.  Ada dua hal menarik  patut kucatat dalam tulisan ini:

Pertama, di bandara  banyak  kulihat  keluarga  dalam kondisi  ihrom busananya,  menandakan bahwa mereka akan berumroh bersama.   Bagi mukimin Madinah  miqot makani untuk Umroh – Haji  ada di  Zulhulaifah alias Bir Ali.  Dari lokasi inilah perjalanan suci baru dimulai dengan mengaspal selama 6 -7 jam menuju Masjidil Haram  di  Mekah.  Sekarang,  dengan tersedianya penerbangan Madinah – Jeddah yang hanya butuh 1 jam saja,  maka  perjalanan Madinah –  Makkah akhirnya hanya 2 jam pula,  setelah ditambah 1 jam perjalanan Jeddah – Makkah sekitar 25 km jaraknya.  Dengan singkatnya waktu perjalanan ,  maka prosesi umroh bagi warga Madinah menjadi tak terlalu melelahkan.

Kedua,  di bandara juga kutemukan beberapa penumpang berbagi makanan pada penumpang lainnya.  Ada yang bersedekah kurma,  ada pula yang berbagi biskuit.   Tradisi macam ini  sebenarnya biasa tampak di dua tanah suci,  masjidil haram –  masjid nabawy.  Namun,  sedekah di bandara ,  baru kali ini  kami mendapatinya.   Tradisi ini hampir pasti tak akan pernah kita temui  di berbagai bandara di muka bumi.

Waktu seolah berjalan cepat.  Singkat cerita,   sekitar jam  15.10 kami sudah  mengudara.  Hanya sekitar 1 jam kami melayang mengarungi  Madinah –  Jeddah dari angkasa.  Tepat pada jam 16. 15 kami telah menapak kembali di kaki bumi,  menelusuri  bandara Jeddah yang 10 hari sebelumnya telah kami tapaki.

Jeddah memang beda dengan Madinah ataupun Makkah.  Sebab,  Jeddah bukan tanah suci,  sehingga mereka yang ada di lokasi . tak semuanya Islam dan Islamy.  Ada beberapa catatan terkait dengan bandara Jeddah ini:

Pertama,  meskipun masih berada di Saudi,  ternyata tak semua orang  di lokasi  memakai kerudung-jilbab seperti di tanah suci.  Ku perhatikan ada satu dua perempuan Arab mengurai rambutnya,  bahkan ada pula yang mengecat hingga berwarna pirang ujung-ujungnya. Lelaki Arab pun ada yang bercelana selutuh dan berkaos kutang lebar,  sembari pamer tato pada kedua lengannya.  Jika tatapan kita tertuju ke arah mereka,  niscaya merasa seolah tak berada di Saudi Arabia.  Sebaliknya,  ketika pandangan terarah pada yang berjilbab,  bergamis, bersorban,  barulah aroma Saudi  akan kembali terasa.  Tapi,  apapun kondisi  berada di bandara Jeddah ini,  kita tak bisa memaksa hati  agar merasa sedang berada di tanah suci.

Kedua,  Bandara Jeddah (juga Madinah) ternyata sangat berbeda situasinya dibanding era musim haji tiba.  Pada musim haji,  ketika jamaah berjubel sekali,  aparat migrasi justru melayani santai lamban sekali.  Anehnya,  justru di luar musim haji,  aparat lmigrasi justru  dapat melayani cekatan sekali.  Lho,  kenapa demikian ?  Saya tak punya jawaban.  Mungkin ketika haji kita memang dicoba untuk mengembangkan kesabaran.  Realitas kepabeanan  di luar musim haji ,   akhirnya menepis prasangka kami,  bahwa  orang Saudi umumnya  malas sekali.   Ya Allah ampuni kami karena telah melihat orang dengan cara stereotipe dan  apriori.

Ketiga,  orang Saudi Arabia  ternyata cukup mengenal Indonesia,  terutama Puncak sebagai lokasi wisata.  Dua kali di bandara Jeddah misalnya,  saya sempat  disamperi  diajak bicara  tentang wisata:

(1). ketika baru datang dari Indonesia,  tatakala menunggu mas Thalib yang mengurusi perjalanan Jeddah  – Makkah,  seorang security bandara mendekati lalu bertanya pada kami,  “Hal  anta Indonesy : apakah anda orang Indonesia ?.  “Naam : Ya”,  jawabku spontan.  Lantas petugas Saudi itu menceritakan bahwa ia setahun lampau pernah ke Jakarta, lantas ke Puncak untuk  wisata.  Dia bicara soal Jakarta yang macet sekali,  namun yang paling berkesan adalah Puncak plus Taman Safari.  “Hal zurta  bi nafsika: apakah anda  datang sendirian  ?,  tanyaku. “Ma’a ‘ailati:  beserta keluargaku”, jawabnya.

(2).  ketika menunggu jadwal  pulang,  dua pasang suami istri Saudi,  juga menegur kami.  “Anta Indonesy?  Takallamta lughotal ‘Arobiy?  : Apakah anda orang Indonesia ?  Apakah bisa bicara bahasa Arab ?. “Qolilan:  Sedikit”,  jawabku. Dua pasang suami istri itu lantas cerita,  bahwa mereka mau ke Indonesia.   Agenda pertama,  ke Bali,  berikutnya akan terbang ke Pushang.  ”Aina Pushang ?  Pushang la maujud fii Indonesy :  Dimana Pushang ?  Tak ada Pushang di Indonensia ?,  komenterku kala itu..

“Jabalul Hadhra’ :  gunung hijau “,  katanya menjelaskan,  namun aku tetap tak paham maksudnya. Pria itu lantas mencarinya lewat  peta Jakarta di Hpnya,  ”Hadza Pushang,  Miataani kilometer min Jakarta:  Ini  Pushang, dua ratus kilometer dari (bandara) Jakarta”.

“Oh..hadza.  Ismuhu Puncak,  laisa Pushang: oh ini…namanya Puncak bukan Pushang”,  komentarku pelan setengah tertawa. Dan Arab muda itu juga tertawa setelah memahaminya.

Intinya adalah warga Saudi Arabia  sedemikian mengenal  Puncak sebagai lokasi Wisata.  Memang,  berkembang image di kalangan orang Indonesia,  bahwa  Arab dan  Puncak diidentikkan dengan kawin kontrak. Sebagian memang benar,  namun  sebagian lain salah,  sebab sebagian besar  wisatawan Arab ternyata datang  bersama keluarga,  sebagaimana  orang Arab yang menegurku di Jeddah baik ketika datang  maupun ketika pulang..

Tak terasa waktu  boarding  telah tiba.  Bahkan,  Selasa 12 April 2017  pada jam 19.05  tepatnya,  pesawat telah  take off  mengudara  di langit Saudi Arabia.  Selamat tinggal  Jeddah.  Selamat tinggal Makkah.  Selamat tinggal  Madinah.   Semoga lain waktu  kami berkesempatan  untuk berziarah kembali.  Ilalliqo’  : sampai jumpa lagi. .

Setelah 10 jam lamanya kami di angkasa,    esuk harinya,  Rabo  13 April  jam 9 pagi kami telah  landing di  bumi Indonesia :  Jakarta. Alhamdulillah …***

 

Iklan

Asing di Saudi : Kini Hidup Tak Gampang Lagi (Bagian 30)

Selasa masih pagi. Namun,  untuk ukuran Saudi  sinar  sang mentari telah terasa menyengat sekali.  Kami barusan  menyelesaikan satu urusan,  yakni  beli oleh-oleh  untuk menghabiskan sisa uang.  Tak ada agenda penting di hari Selasa ini,  kecuali mengepak  barang-barang bawaan.  Sebenarnya tak terlalu banyak oleh-oleh yang kami beli,  sebab uang tersisa memang tak banyak lagi.  Namun,  hadiah buku dari berbagai lembaga yang kami kunjungi,  menyebabkan kami kesulitan mengatur ”tas bagasi”.  Akhirnya,  kami beli dua tas lagi,  Fakhry beli satu atas nama pribadi,  dan mas Hamdan dibelikan satu dalam status tim alias  ”berbagi”.  Walhasil,  semua barang bawaan termasuk berbagai buku pemberian akhirnya berhasil kami bungkus secara rapi.

Di waktu sisa inilah aku  menyempatkan diri berbaring meluruskan badan.  Ah…,  kataku mendesah.  Seolah selaksa beban kerjaan yang berhari-hari membebani,  hari Selasa ini  sudah lepas dari pundak kami.  Di tengah ”pembaringan” inilah,  pikiranku melayang-layang lagi,  seolah mengevaluasi pengalaman  selama hampir dua minggu di tanah suci.

Di berbagai penjuru Saudi kami senantiasa berjumpa wajah-wajah asing  non Saudi.  Mereka bukanlah jamaah Umroh apalagi haji,  namun  para pekerja alias  mukimin yang mencari penghidupan  di  kota Suci.  Kesan umumnya adalah: mayoritas mukimin sepertinya dari Asia Selatan :  India, Pakistan dan Bangladesh.  Para petugas di dua masjid suci  misalnya,  ternyata didominasi wajah-wajah ras anak benua  India.  Tukang sapu di  berbagai pelosok kota,  juga didominasi wajah  mereka.   Tak terkecuali  sopir travel dan  taksi,  selain kebanyakan berwajah Arab,  sebagian  pula bertampang ras India.    Orang yang mengantar dari Makkah ke Madinah adalah pula wajah pria Asia Selatan,  yang oleh Wawan dilabeli dengan sebutan pria bermata sendu.

Saya tak tahu,  apakah tatapan sendu itu merefleksikan hatinya yang sedang membiru,  akibat beban hidup yang terus mengharu biru..  Semoga saja tidak begitu.  Amin….

Namun,  hidup di Arab Saudi ternyata memang tak segampang yang kami bayangkan,  tak seindah apa yang kami kira,   tak  sebahagia apa yang kami duga. Terima  tahun-tahun belakangan,  sebab Arab Saudi sedang dilanda problem perekonomian.   Minyak  yang selama ini menjadi andalan,  harganya terjun bebas tak ketulungan.   Walhasil,  problem nasional Saudi akhirnya berpengaruh di segala lini,  termasuk berimbas pada orang asing  yang mencari penghidupan di negara ini.

TKI bernama Iwan Setiawan menyatakan bahwa hidup  di Saudi  berat sekali.  ”Mungkin saya akan segera pulang ke Bima”,  demikian katanya,  sebuah ungkapan yang mengandung pesan bahwa hidupnya jauh dari kebahagiaaan.  Lelaki muda berprofesi pelayan cattering ini sudah beristri,  namun statusnya masih siri..  ”Saya tak ada uang untuk melegalkan perkawinan,  karena biaya di sini sangat mahal  hingga jauh dari jangkauan”. Tanpa pertanyaan tambahan,  mas Iwan telah menjelaskan,  ” Saya pulang mengunjungi  istri seminggu cuma sekali,  mengingat biaya transportasi mahal sekali”.

”Kenapa tak kontrak di sekitar sini ?,  tanyaku pelan,  dan mas Iwan langsung  memberi jawaban,  ”Wah,  tidak mampu saya,  sebab kontrakan di sekitar kota  mahal harganya.   Saya dan istri mengontrak kamar di pinggiran kota,  500 real perbulan tarifnya.  Itupun kamar kosong tanpa AC, sehingga harus beli AC bekas agar tak kepanasan”.  Mas Iwan sejenak  diam,  lalu kembali bicara pelan, ”Sepertinya saya lebih baik pulang”.

Selain Iwan,  kami ketemu seorang wanita di Bandara,  TKW profesinya.  Wanita  asal Bandung itu  telah 9 tahun bekerja di Jeddah.  ”Gajiku kecil,  hanya 1.500 real sebulan”,  katanya pelan tak bermaksud membanggakan.   ”Kenapa ibu  bertahan dengan satu majikan,  meskipun kecil gaji yang diberikan ?,  tanyaku pelan.

”Orangnya baik”,  jawabnya singkat, ”majikan hanya suami istri tanpa ada anggota keluarga lain yang harus diurusi.  Bahkan,  sang majikan jarang di rumah,  lebih sering di Libanon”.  Itulah gambaran ”orang asing”  lainnya yang tinggal di Saudi Arabia.  Apakah si ibu ini bahagia ?   Tampaknya tidak juga, terefleksi dari ucapannya:  gaji nya hanya kecil saja,  yang jika  dikurskan dalam rupiah,  maka sebulan  mengantongi : Rp. 5.250.000 saja.  Padahal dia telah bekerja 9 tahun lamanya,  dengan lokasi  jauh dari keluarga ribuan kilometer jaraknya.

Di tengah penurunan ”kapasitas ekonomi”,  pemerintah akhirnya  membuat berbagai  aturan yang kian memberatkan  mukimin di Saudi.  Bensin naik harga hampir dua kali lipat  nilainya.  Orang asing diwajibkan punya ”kartu mukim” yang harus diperpanjang tiap tahunnya,  dengan biaya yang tak sedikit jumlahnya.  Selain itu,  berbagai  pelanggaran termasuk aturan lalu lintas kini didenda”luar biasa besarnya”.  Sangsi tersebut,  pada satu satu sisi mendorong ketaatan,  namun yang lebih tampak adalah  menjadi ajang negara untuk  mencari pemasukan.  ”Sekarang,  pada sektor ekonomi tertentu  hanya warga Saudi yang dibolehkan, sehingga menutup peluang ekonomi kaum pendatang”,   kata Mohammad Ayub menjelaskan.  Akibat berbagai kebijakan tadi,  Raja Salman menjadi kurang disukai  para mukimin di Saudi.

Warga non Saudi misalnya,  dilarang membuka toko,  dan bila ingin melakukannya, maka dia harus bekerjasama dengan orang Saudi.  ”Harus Joinan”,  itulah kebijakan yang diterapkan.  Selain sektor perdagangan,  warga Saudi juga diberi privilage dalam dunia pekerjaan.  Front Office hotel  dan  security alias satpam misalnya,  harus pula diberikan pada warga Saudi,  sebagai persyaratan bisnisman untuk membuka usaha.

Namun,  seiring kian sulitnya perekonomian,  akhirnya tak sedikit warga Saudi yang rela  bekerja sebagai pelayan toko ataupun restauran.  Hanya saja mereka tetap jaim perilakunya.  ”Sodiq,  ta’aal:  pelayan kemari”,  panggil pelanggan terhadap pelayan.  Sodiq arti sebenarnya : teman – kawan,  namun dalam konteks keseharian dipakai untuk memanggil pelayan.  Dalam konteks ini,  warga Saudi tak  mau dipanggil dengan sebutan Sodiq tadi.  ”Ana Su’ud:  Saya orang Saudi”,  komentarnya setiap kali ada yang memanggilnya Sodiq.

Itulah gambaran  bahwa di Saudi hidup kini  tak mudah lagi.  Dalam rangka mencari penghasilan non Minyak bumi, pemerintah Saudi  kini mulai membangun fasilitas wisata  (ziarah).  Saudi juga buat aturan,  siapapun berumroh lebih dari sekali dalam kurun satu tahun,  dia dikenakan biaya 2 ribu real (sekitar 7 juta rupiah) ketika mengurus visa.

”Intinya,  sekarang  tinggal di Saudi,  biayanya sangat tinggi”,  kata Mohammad Ayub kakak Mohammad Isa,  ”saya akan segera pulang bila pendidikan telah berhasil diselesaikan”. .

Dalam situasi kian sulit ini,  mahasiswa Indonesia untungnya punya kreativitas  untuk mengatasinya.  Terutama di Makkah – Madinah Kandidat  Doktor memiliki usaha  sampingan:  mengurusi jamaah Umroh.  Mas Nahidl  (di Madinah)  dan  Mubarok (di Makah)  misalnya, bekerjasama dengan travel Indonesia  untuk mengatur  akomodasi   (hotel  dan makan).  Kebanyakan kandidat Doktor sudah berkeluarga,  sehingga beasiswa tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Saya tak tahu,  berapa beasiswa bulanan yang mereka dapatkan.   Namun, sebagai gambaran mahasiswa S1 semacam mas Iztihar,  hanya mendapat 800 riyal sebulan kendati ditambah fasilitas asrama. Walhasil,  sebagai uang tambahan,  mahasiswa  S1 biasa menjadi guide perjalanan.  Adapula mahasiswa  yang menyewakan mobil  sekaligus menjadi  sopirnya,  seperti dilakukan kakak beradik  Mohammad Isa – Mohammad Ayub.  Ayub bahkan biasa berdagang dengan  ”biasa berburu baju diskon di pertokoan elit  Saudi,  lantas dikirim ke Indonesia untuk dijual kembali”,  kata Ayub  sembari borong baju tatkala antar kami  belanja di sebuah toko baju.  ”Baju musim panas biasa didiskon sampai 70 persen ketika menjelang musim dingin.  Baju itulah yang kami kirim ke Indonesia yang tak mengenal perbedaan musim panas dan dingin”.  Itulah beberapa contoh  mentalitas bisnis yang mereka bangun dalam rangka mensiasati tantangan hidup di Arab Saudi. ***

Pembinaan Keagamaan: Nasib Kaum Syiah (Bagian 29)

Sang surya terus merangkak naik  ke  petala langit angkasa.   Sinar nya menyinari sekujur lekak-lekuk  sang buana.  Cantik. Indah merona.

”Rakyat Saudi  100 persen memilih Islam sebagai agamanya.  Kalaupun ada yang non muslim kepecayaannya,  mereka dipastikan bukan warga Saudi tapi hanya sebagai mukimin alias  pemukim statusnya”,  sepintas pikiranku sempat melayang,  ingat pada penjelasan Dr. Khalid  semalam,  ”Mayoritas  muslim Saudi menganut paham Hambali,  dan hanya  sebagian kecil  mengikut paham lain.

”Nah,  bagaimana perlakuan pemerintah Arab Saudi terhadap warga Syiah ?,  tanyaku kala itu. Tepat ketika acara makan malam di rumah Dr.  Murdhi Ali Idris,  wakil Direktur Program Pasca Sarjana,  Jurusan Ilmu Dakwah dan Khutbah, Universitas At Thaibah,   pada malam terakhir sebelum kami pulang ke tanah air.

Warga Saudi memang dominan menganut madzab Hambali,  dan sisanya sekitar 15 persen mengikuti paham Syiah dari berbagai madzah teologi.  Meskipun  warga Saudi mayoritas  Sunni,  namun kaum Syiah tak lantas dimusuhi.  ”Kaum Syi’i diperlakukan sebagaimana umumnya warga Sunni”,  jelas Dr. Khalid As-Suaidi,  dosen jurusan Ilmu hadits Universitas Islam Madinah ”tak ada perlakuan spesial dari  pemerintah terhadap kaum Syi’i,  sebab mereka adalah juga warga Saudi.  Mereka bebas menjalankan peribadatan  sesuai kepercayaan,  selama  yang mereka lakukan tak menimbulkan keresahan.  Ketika kepercayaan khusus kaum Syi’i diekspresikan  terbuka  sehingga menimbulkan keresahan,  maka aparat keamanan langsung akan bertindak  mengamankan agar tak menimbulkan ketusuhan.”

Pesan dari perkataan Dr.   Khalid  sangat jelas  substansinya,     meskipun  tak secara  terang diungkap dalam kata-kata.   Dr.  Khalid  bermaksud menjelaskan,  bahwa  banyak  nilai dan atau  kepercayaan  yang dianut  warga Syiah memang potensial menimbulkan ketersinggungan dan  atau  keresahan.  Orang Syiah  misalnya,  tidak mengakui  eksistensi kekuasaan  para sahabat Nabi sebelum  kepemimpinan Sayyidina Ali,  seperti Khalifah Abu Bakar, Umar  bin Khattab,  serta Utsman bin Affan.   Kaum Syiah juga tak mengakui  kepemimpinan pasca Sayyidina Ali apalagi dalam wujud empirium Bani Umayyah dan Bani Abbasyiah.  Karena ”ketidaklegalan”  menurut pandangan mereka inilah,  kaum Syiah tak segan untuk mencaci dan mengutuk mereka,  sebuah perilaku yang tentu saja menimbulkan ketersinggungan bagi yang berbeda pandangannya.

Walhasil,  dalam konteks Arab Saudi,   ketika  kepercayaan Syiah  tadi hanya bersarang dalam  pemikiran,  atau terekspresi namun  hanya beredar internal dalam lingkup sealiran,  tidak disosialisasikan secara terbuka terang-terangan,  maka kehidupan Syiah Saudi  tetap dalam kondisi aman.  Namun,  ketika kepercayaan telah dikampanyekan  sehingga menimbulkan keresahan,  pada detik itu aparat akan ambil tindakan.

Dalam praktek umum,  selama ini  eksistensi warga Syiah Saudi ternyata tak berpersoalan.  Dalam bidang ekonomi,  banyak  warga Syiah justru  menjadi pengusaha sukses. ”Bahkan,  hotel-hotel  di Makkah dan  Madinah banyak dimiliki kaum Syi’i”,  jelas mas Nahidl di suatu malam ketika mengantar pulang ke penginapan kami. Mendengar penjelasan ini,  maka  apa yang dikatakan  Dr. Khalid telah mendapat klarifikasi yang tepat dari mas Nahidl tadi.

Dalam konteks hubungan dengan Syiah Iran,  pemerintah Saudi  memang bersikap keras sekali,  satu lini dengan karakter ”permusuhan”  yang diperlihat pemerintah Iran kepada  Saudi.  Wajah  ”Perseteruan” ini terjadi karena beberapa alasan: Pertama,  konflik psikologis –  historis akibat  runtuhnya  kejayaan kaisar Parsi  oleh pasukan Arab pada era khalifah Umar bin Khattab.  Bahkan,  khalifah kedua pasca nabi  ini akhirnya dibunuh Abu Lukluk,  yang konon seorang  keturunan Parsi yang bermaksud balas dendam terhadap  penaklukkan Parsi oleh  pasukan Arab  yang dikirim Umar.  Kedua,  Persaingan pengaruh sekte Sunni vs. Syiah yang telah bersifat sangat lampau dan masih  terus  berlangsung hingga kini. Ketiga,  perseteruan  politiko strategis yang bersifat kontemporer,  yakni perebutan pengaruh dan kepempimpinan regional di Timur Tengah antara dua negara.  Tiga hal itulah yang tampaknya  telah dan akan terus  menyebabkan  hubungan  Saudi dan Parsi (Iran) dalam profil permusuhan tanpa henti, persis seperti perseteruan antara kucing vs.  Anjing.

Namun,  khusus kepada warga Syiah  Saudi  ,  perlakukan pemerintah Saudi tak ada beda terhadap semua  warga lainnya. Apalagi dari segi etnisitas mereka satu genealogis,  kecuali hanya dari segi madzab keagamaan mereka berbeda filosofis.  Dalam tataran sosial,  hubungan Sunni – Syi’i di Saudi juga cenderung cair,  berinteraksi di pasar dan ”warung kopi”.  Memang,  ada kasus pembunuhan terhadap salah satu tokoh Syiah di Arab Saudi, Syekh Nimr an Nimr.  Namun peristiwa terjadi bukan karena kesyiahannya, melainkan karena makar, separataisme,  dan sektrarianisme yang dilakukan Syekh Nimr.  Bahkan,  tokoh Syiah itu dituduh sebagai spionase Iran.. Wallahu a’lam. ***

 

Pembinaan Keagamaan: Keberadaan Asykar Nahi Munkar (Bagian 28)

Meski  masih pagi namun matahari kian meninggi.  Kami masih di dalam Bin Dawood  asyik sekali,  memilah dan memilih barang belanjaan dengan super teliti.  Berbagai pertimbangan  menggelayuti kepala,  agar  kami tak beli  sesuatu yang tak maksimal kemanfaatannya.  Saya tak mau boros dalam berbelanja.  Saya tak mau mubazir dengan beli sesuatu yang tak ”bermakna”.  Sebab, dua hal itu  bertentangan dengan perintah agama.

Oh ya,   sebagai Khadimul Karamain,  penjaga dua tempata suci,  penguasa Saudi  punya perhatian serius dalam urusan  keagamaan bagi rakyatnya.  Ulama memiliki peran signifikan dalam pemerintahan, yakni menjadi  penasehat penting bagi sang raja  dalam  berbagai kebijakan.   Walhasil,  mengingat pentingnya posisi Ulama,  maka  penguasa Saudi juga membangun dan atau membina berbagai lembaga pendidikan agar menghasilkan ulama-ulama handal  baik untuk kebutuhan dalam negeri ataupun dunia Islam pada umumnya.

Dalam rangka  membantu mencetak kader-kader ulama di dunia Islam,  dua universitas terkemuka misalnya,  sengaja dihadirkan dengan segudang  beasiswa bagi mahasiswa mancanegara,  seperti universitas Ummul Qura (di Jeddah-Makkah)  dan Universitas Islam Madinah  yang bahkan 60 persen nya adalah mahasiswa mancanegara.  Meski mayoritas siswa mancanegara,  kenyataannya tidak sedikit  ulama  Saudi  juga dilahirkan dari dua universitas tadi.

“Namun,  gudangnya  ulama-ulama besar di Arab Saudi  berasal dari lembaga-lembaga pendidikan asal propinsi Qasim”,  kata Imam  mantan ketua PPMI  Saudi Arabia.  “Kebanyakan ulama-ulama penting yang menjadi penasehat kerajaan  adalah alumnus dari Qasim”. Propinsi al Qaasim terletak di kawasan Najd,  Arab Saudi bagian tengah.. Lokasinya tak jauh dari seputaran Ha’il dan Riyadh. Najd inilah sebagai tempat lahirnya pendiri “paham Wahabi”  dan leluhur Dinasti Saud. Namun,  tak semua keturunan Raja Sa’ud otomatis menjadi pengikut Wahabi. Bahkan, termilogi Wahabi sendiri berasal dari Barat,  dan tak dikenal di Arab Saudi,  mengingat paham yang diikuti adalah madzab Hambali..

Mendengar kata Qaasim  saya langsung teringat pada Sulaiman Al Rajhi, pendiri sekaligus pemilik Bank Islam Al Rajhi yang lahir dari propinsi ini  tahun 1920.  Dengan demikian,  Qaasim  tampaknya  tak hanya sebagai gudang ulama,  melainkan juga telah melahirkan pengusaha besar semisal Al Rajhi.  Bahkan,  seiring dengan didirikannya Universitas Ar Rajhi (oleh Bankir terbesar di Saudi,  Sulayman Ar Rajhi)  tadi,  dengan spesialisasi bidang kesehatan dan  keuangan Islam,  maka  Qaasim  saat ini  juga menjadi kota  rujukan  untuk pendidikan  kedokteran di Arab  Saudi.  Subhanallah.

Sebenarnya posisi Qaasim yang istimewa ini,  terjadi  bukan karena  sengaja  diistimewakan. Pemerintah Arab Saudi  sebenarnya memperlakukan secara sama untuk  semua sekolah dan kampusnya.  Dalam konteks pendidikan Islam misalnya,  pemerintah memberi  kafaah alias beasiswa pada semua  siswa penghafal al Qur’an di wilayah manapun di  Saudi Arabia.  “Kita diberi kafaah 800 real setiap bulannya”,  kata  mas Muhammad Isa al Haafidz,  warga Indonesia yang tinggal di Saudi sejak kecil  dan  kebetulan   juga menghafal Al Qur’an.

Jika demikian,  lantas kenapa Qaasim menjadi gudang  para ulama  mumpuni di Arab Saudi  ?  Adakah sesuatu rahasia di balik posisi Qaasim ini ? Wallahu a’lam.

Oh ya,  terkait dengan pelajaran keagamaan yang intensif  ini,  ternyata tak lantas  menjadikan Arab Saudi  sepenuhnya menjadi negara “santri”.  Di manapun lokasinya,  dan di manapun negara nya, malaikat selalu ada,  dan setan juga ada.  Hal yang sama terjadi di Saudi Arabia.   Hubungan pria – wanita  memang telah diatur sedemikian ketatnya,  baik dalam dunia pendidikan maupun dunia pekerjaan.  Namun,  seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi,  penyimpangan tetap terjadi. Bahkan,  sedikit keluar dari  kota suci  Makkah,  tepatnya di Jeddah,  ternyata tak semua  wanita masih berhijab berjubah.  Apa yang saya jumpai  di bandara Jedah adalah wajah lain dari  dunia lain Arab Saudi.  Bisa kubayangkan,  hal yang lebih vulgar mungkin terjadi di kota-kota lain yang lebih  jauh dari Madinah Makkah,  kota-kota  yang lebih metropolitan semisal kota  pelabuhan Dahran ataupun ibu kota Riyadh. Sangat kuduga,   penyimpangan dari  agama,  sangat mungkin terjadi lebih hebat  terjadi  di sana.

”Oleh karena itu,  pemerintah Saudi juga memiliki apa yang disebut Badan Amar Ma’ruf Nahi Munkar,  guna mengontrol warganya agar tak terlalu jauh menyimpang dari ajaran Islam”,  kata Syekh Ismail Al-Harby,  Naibul Mudir Yayasan Al hai’ah Al  Haramain  di Makkah Al Mukarramah,   ”Badan Amar Ma’ruf bertugas melakukan pengawasan muda-mudi Saudi dari potensi  perbuatan menyimpang tadi.  Mereka melakukan kontrol pada mereka,  dan jika kedapatan berpacaran  niscaya akan diberi pengarahan sekaligus dikembalikan pada keluarga sebagai sebuah peringatan.  Namun,  bila sudah keterlaluan  maka  kedua pasangan akan dinikahkan”. Ketua Umum Badan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Arab Saudi saat ini dipegang mantan   Rector UIM terakhir yakni Prof. Dr. Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad as-Sanad.

Ternyata Saudi,  yang di dalamnya terdapat dua tanah suci,  tak lantas  identik dengan ketaatan  pada Ilahi.  Di manapun akan ada  kebaikan,  dan di manapun  akan ditemukan  kemungkaran.  Oleh karena itu, sebaik-baik  pemerintah adalah ketika pemimpinnya berusaha memaksimalkan kebaikan,  pada saat yang sama juga berupaya meminimalkan kemaksiatan. ***

 

Mengenali Orang Saudi : Wanita Bermahar Tinggi (Bagian 27)

Hari masih pagi,  namun di luaran sinar mentari telah  memancar garang kepada bumi.   Namun kegarangan sang surya  tidak mampu menembus  tempat kami,  gedung Bin Dawood. yang  ber AC dingin sekali.   Bin Dawood merupakan  satu  pusat perbelanjaan terbesar di Arab Saudi.  Di Makkah maupun Madinah,  super market ini tak terlalu sulit untuk  kita dapati.  Berbagai kebutuhan  harian  dapat ditemukan di lokasi Bin Dawood ini.  Hanya saja  kalau tujuannya untuk beli bermacam oleh-oleh,   saya lebih merekomendasikan untuk beli di toko-toko kecil  atau bahkan pada pedagang  kaki lima saja.  Alasannya,  Pertama,  agar rizki kita dapat tersebar kepada rakyat  jelata  dan tak terkonsentrasi di super market milik pengusaha kaya.  Kedua,  harga-harga di Bin Dawood  lebih mahal dibanding  harga di  toko kecil apatah lagi pedagang kaki lima.  Bedanya,  di Bin Dawood harga telah terbandrol mati,  sementara di toko kecil  dan kaki lima  pembeli  harus pandai menawar untuk mendapatkan harga yang melegakan hati.  Ketiga,  Bin Dawood lebih pas untuk lokasi belanja kebutuhan sehari-hari,  sedangkan oleh-oleh khas Saudi,  seperti  jubah, surban,  kopiah,  rumput fatimah, siwak dan lain sebagainya justru sangat terbatas  –bahkan tak ada–  ditemukan di Bin Dawood tadi.        Kurma dalam berbagai variasi pun lebih mudah didapat di luaran,  dibandingkan  di dalam Bin Dawood yang  tentu saja terbatas dalam soal pajangan.

Mungkin anda bertanya:  kenapa kali ini  saya berbelanja di  Bin Dawood? Alasannya satu,  saya  ingin beli bumbu-bumbu  sachetan,  seperti  rempah untuk membuat  nasi Brilyani  yang di tempat lain  tak bisa kami dapati.

Berbeda dengan super market di Indonesia,  yang penuh dengan pembeli wanita,  maka di kota suci ini jarang kujumpa wanita yang belanja.  Ada beberapa memang sempat kujumpa,  namun itupun  kebanyakan Indonesia atau  Asia Selatan dari wajahnya.  Memang,  ada beberapa wanita bercadar dan tak bisa kukenali ciri khasnya,  namun  dari karakteristik pria yang menyertainya saya  tak begitu yakin mereka  warga  Saudi Arabia.

Sebenarnya bagaimanakah kondisi kaum wanita Saudi ?.  ”Mereka tidak  sebebas wanita kita,  di Indonesia”,  kata Dr. Elly Wati Maliki ketika kami berkunjung pada suatu hari,  ”namun kebijakan ini  bukan bermakna bahwa wanita Saudi  dibelenggu kebebasannya.  Mereka tak dilarang alias mahruumin untuk berbuat kebajikan,  tetapi lebih karena mencegah mereka dari kemungkaran”.

Saya mengangguk-angguk mendengar penjelasan wanita aktiv asal Indonesia ini.  Aku serius untuk mencermati agar  tidak  terputus informasi yang kudapat  dari wanita beretnis Padang ini. ”Nah,  atas dasar itulah,  banyak wanita di  Saudi yang menjadi dosen dan tenaga-tenaga administrasi di kampus. Namun demikian,   wanita bekerja tentu  hanya di lingkungan wanita juga,  tanpa ada laki-lakinya.  Artinya,  mereka menjadi dosen dan tenaga kerja lainnya,  khusus pada sekolah dan atau universitas wanita”,  bu Elly  melanjutkan penjelasan,  ”Oleh karena itu,  di dalam tempat kerja ini para wanita bisa juga melepas kerudungnya,  melepas abaya hitamnya,  sehingga hanya mengenakan celana panjang yang juga upto date modelnya. Mereka berdandan modis  sebagaimana wanita lainnya”.

Ku lirik  mas Hamdan khusuk mendengarkan.  Sekilas Wawan pun asyik  memperhatikan.  Hal tak kalah serius tampak dari muka Fakhry.   ”Perlu juga diketahui bahwa wanita Saudi juga mengadakan pesta,  glamour juga penampilannya,  bersolek juga wajahnya,  namun  tentu saja pesta khusus untuk wanita”,  bu Elly melanjutkan penjelasan, ”realitas inilah yang perlu dipahami orang lain.  Tak bisa kita mengukur kultur Saudi  dengan kultur yang kita miliki,  apalagi dengan kultur barat yang tak ada batasan hubungan perempuan dan lelaki.   Saudi adalah lokasi dua tanah suci,  sehingga mereka cukup hati-hati  dalam memberi kebebasan dalam konteks hubungan  perempuan dan wanita tadi”.

Penjelasan bu Elly  membantu kami dalam memahami wanita Saudi.  Dalam kultur Saudi,  wanita memiliki nilai yang luar biasa di negeri ini.  Wanita sebagai ”kekayaan” super mahal harganya,  sehingga  harus dijaga ekstra ketat dan super hati-hati. Dibungkus rapat dan rapi,  bukan dipajang  terbuka  sebagaimana barang-barang murah lainnya.   Karena kultur penghormatan wanita pula,  maka cadar senantiasa  menutupi wajah perempuan Saudi Arabia.   Ini merupakan tradisi dalam menjaga dan menghormati wanita,  disamping untuk melindungi wajah wanita  dari  alam Saudi yang panasnya  luar biasa.

Oh ya,  terkait penghormatan terhadap wanita,  akhirnya seorang pria yang ingin menyunting wanita  Saudi Arabia harus membayar mahar yang amit-amit  mahalnya. Khusus dalam tradisi ini,  yang akhirnya menggeser esensi ajaran dan nilai-nilai  Islami.  Dalam Islam dimungkinkan bahwa mahar tidak boleh memberatkan,  bahkan cincin kawat  saja justru dimungkinkan.  Pada titik ini tradisi  Saudi telah bergeser dari nilai Islami,  secara substansi telah  mempersulit  para lelaki.  Para pria harus banting tulang mengumpulkan mahar sebelum melamar wanita,  dan ketika uang mahar telah terkumpul  biasanya sang pria (mapan)  telah terlanjur  tua dari segi usia.  Singkat kata, tradisi mahar terlalu tinggi,  sang  pria  menjadi  telat untuk  beristri.

”Namun,  efek lanjutannya juga ditanggung para wanita,  yakni: Pertama,  wanita tak kunjung menikah karena terbatasnya jumlah  pria yang  sanggup melamarnya.  Kedua,  banyak lelaki Saudi  memilih  kawin dengan wanita non Saudi,  sehingga wanita Saudi  banyak  yang menjomblo sampai mati. Ketiga,   kalaupun lelaki Saudi  tetap mengawini  wanita Saudi,  lelaki mapan  yang biasanya sudah tua dalam usia  akan memilih wanita muda, dan  bukan perawan tua.  Alhasil,   banyak kasus perkawinan, pasangan pengantinnya adalah pria tua bersanding dengan perawan muda”,  jelas mas Nahidl yang telah belasan tahun tinggal di Saudi Arabia.

Realitas ini  telah mendorong  pemerintah  Saudi untuk membuat aturan-aturan penting  dalam rangka melindungi wanita Saudi.  Pertama:  lelaki Saudi dilarang kawin dengan wanita non Saudi. Kedua,  pemerintah Saudi memberi fasilitas pinjaman perkawinan untuk jejaka Saudi  dengan pengembalian dapat dilakukan secara cicilan. Bahkan,  ketiga,  jumlah mahar konon juga mulai ada pembatasan.

“Meski demikian,  hadangan ternyata tetap menjelma di hadapan para lelaki”,  jelas  mas Nahidl,  “Sebab, meskipun jumlah mahar telah dikurangi,    namun  tradisi pesta  perkawinan dengan mengundang berbagai kabilah tampaknya sulit ditinggalkan sama sekali.  Akibatnya,   kondangan seberapapun  sesederhananya,  akhirnya tetap dilaksanakan besar-besaran untuk ukuran Indonesia.  Jika acara  walimatul Ursy menyembelih  15  ekor onta saja,  maka jika dikalikan 40 juta rupiah  harga per ekor nya,  maka  paling sedikit dibutuhkan dana  600 juta rupiah juga.  Sebuah angka yang sama sekali tidak sedikit untuk ukuran Indonensia”.

Itulah problemnya.  Problem kultural dalam masyarakat Saudi.  Persoalan Jaim  yang  menyebabkan wanita  dan lelaki Saudi  kesulitan  menikah sampai saat  kini. *** .

 

Mengenali Orang Saudi : Jaim dan Rapi (Bagian 26)

Madinah pagi hari.  Tepatnya Selasa 12 April di waktu  pagi.  Sinar mentari telah berpendar  menyinari seluruh lekukan bumi.  Kami berempat melangkah pelan meninggalkan penginapan menuju pusat perbelanjaan.  Mas Hamdan,  Wawan,  saya dan Fakhry  bermaksud cari oleh-oleh  mengingat waktu di tanah suci sudah tak tersisa lagi.  Sore  pada Selasa ini,  kami sudah mau pulang  ke Indonesia lagi.

Sembari melangkahkan kaki,  otakku melayang ke sana ke mari,  mengevaluasi berbagai peristiwa yang terjadi di tanah suci.  Ya,  selama beberapa hari kami memang berada  di Arab Saudi.  Sekian waktu kami telah  bertemu  orang Saudi ,  dalam kapasitas sebagai  ”peneliti”.    Sudah dua minggu  kami  berinteraksi dengan para mahasiswa,  yang telah tahunan tinggal di Saudi Arabia.  Selama itu pula  banyak informasi kami dapatkan, data sosial politik keagamaan  maupun terkait kultur sosial kemanusian.  Setidaknya  ada beberapa informasi yang menarik untuk diceritakan:

Pertama,  semula kami kesulitan untuk mengenali  apa dan bagaimana ciri orang Saudi asli,  karakter yang mampu menentukan apakah orang Arab yang kami temui adalah warga Saudi ataukah non Saudi.  Hampir semua mahasiswa memberi rahasia  cara membedakannya: (1). Orang Saudi umumnya  menjaga penampilan.  Pakaiannya selalu licin diseterika,  bahkan cara duduk pun di atur sedemikian rupa. (2).  Kebanyakan orang Saudi lebih suka memakai Surban bermotif merah warnanya,  meskipun ada sebagian yang memilih putih polos  juga.

Kunci rahasia ini langsung saya praktekkan  dengan mengamati beberapa  pengunjung restoran tempat kami makan.  Ternyata benar,  beberapa pemuda Saudi yang makan di lokasi,  pakaiannya licin  sekali,  hampir semua  bersorban motif merah,  dan cara duduk  pun dijaga sedemikian rupa. Ciri-ciri yang sama  kuimplementasikan di masjid Nabawy.  Mataku nanar memperhatikan jamaah Nabawy,  dan melalui  dua ciri utama  tadi akhirnya aku dengan mudah  dapat mengenali  warga Saudi.   Singkat kata,  tanpa harus memandang rupa wajah,  karakter penampilan ternyata dapat menjadi pandu pengenalan.

Kedua,  orang Saudi  pada umumnya baik sekali.  Hanya saja,  mereka biasa jaim (jaga image) dalam penampilannya.   Pertanyaannya:  kenapa  ketika umrah – haji  acapkali dijumpai  warga Arab yang  kasar dalam bicara dan perilakunya. “Mereka Arab,  tapi belum tentu warga Saudi”,  jelas mas Iwan Setiawan,  tenaga catering Indonesia yang berasal dari Bima,  meskipun dia memiliki nama Sunda. “Orang Saudi baik-baik.  Biasanya yang berperilaku  kasar adalah Arab Mesir”,  tambahnya,  “Oleh karenanya mereka acapkali dilabeli sebagai Fir’aun”.

Tentu saja kami tertawa mendengar penjelasan mas Iwan.

“Arab Mesir itu kasara,  dan suka berantem”,  tambahnya, “Asykar biasanya membiarkan saja.  Hanya ketika mereka kasar pada warga Saudi,  maka hukuman siap menanti belakangan”.

Ketiga,  orang Saudi acapkali dilabeli image : pemalas, tak punya  mental petarung baik di dunia pendidikan maupun pekerjaan. Sebagian memang sesuai fakta,  namun  fenomena ini tak bisa digeneralisir pada semua.  Di belahan dunia manapun,  biasanya  para pendatang  memang  lebih ulet  dibanding  pribumi-lokal.  Fakta serupa  bahkan berlaku pada suku-suku lokal Indonesia,  terutama ketika dibanding dengan suku pendatang pada lokasi yang sama.

Dalam konteks Saudi,  sopir mahasiswa yang mengantar kami dari Rabithah menuju hotel di Misfallah adalah contohnya,  betapa pemuda Saudi ada pula yang ulet –  pekerja keras dalam hidupnya.  Kadaar intelektual mereka banyak juga  yang tinggi levelnya,  sebagaimana para Doktor muda yang berhasil kami jumpai selama kunjungan di Saudi.   “ Mereka umumnya  kuat dalam hafalan”,  jelas mas Mubarok, kandidat Doktor dari Universitas Ummul Quro “oleh karenanya,  terutama di fakultas agama biasanya mahasiswa  Saudi  cukup dominan,  karena pada fakultas keagamaan memang lebih mengandalkan daya hafalan,  baik Tarikh, Hadits,  dan terutama hafal Al Qur’an”.

Setelah sekian langkah  kami ayunkan kaki,  akhirnya sampailah kami  ke lokasi :   Bin Dawood sebagai tujuan kami,  super market yang menyajikan berbagai kebutuhan termasuk sebagian jenis oleh-oleh dari tanah suci.  Mborong, yuk….***

Undangan Makan: Wujud Kepercayaan Plus Penghormatan (Bagian 25)

Senin  ba’da Maghrib mas Azmy sudah menjemput kami, di Mubarak Silver Hotel  . yang kami tempati. Tanpa ba-bi-bu lagi,  kami langsung meluncur ke rumah Dr. Murdhi Ali Idris  yang telah mengundang makan siang tadi.  .

Setelah mampir sholat Isya’ di sebuah masjid tak jauh dari lokasi,  akhirnya sampailah kami di rumah   wakil direktur program pascasarjana jurusan ilmu dakwah dan khutbah universitas Thaybah tadi. Rumahnya terletak di sebuah kawasan kaya,  menunjukkan bahwa beliau tergolong orang berada.  Kami langsung dipersilahkan masuk ke ruang tamu keluarga,   yang disetting seolah kami sedang  berada dalam tenda.

”Saya punya satu lagi tempat bak tenda seperti ini”,  sekilas ku tangkap
Dr. Murdhi pamer menjelaskan. Maklum,  bahasa Arab saya memang terbatas kosa katanya,  ”satunya lagi terdapat di daerah menuju Tabuk”.

Kami manggut-manggut mendengarkan,  dan Dr. Murdhi dengan wajah sumringah terus menerangkan. ”Saya punya dua istri”,  Dr. Murdhi bicara lagi.  Mungkin,  istri yang satunya lagi  tinggal di  rumah menuju Tabuk  seperti yang ia pamerkan tadi.  Kutatap wajahnya dalam-dalam. Terpancar dari romannya sebuah keramahan.  Bahkan dari gaya bicara,  ketawa,  tatapan mata,  kurasa seolah saya telah lama mengenalnya.  Namun,  dimana ?  ”Ah..mustahil”,  spontan sang hati menolak perasaan saya.

Terdapat beberapa hal patut kuceritakan terkait pengalaman  menghadiri  undangan makan malam dari orang Saudi asli:

Pertama, memperoleh undangan  ke rumah orang Saudi konon merupakan sebuah kehormatan, sebab  hampir semua siswa dan pekerja Indonesia menyatakan bahwa:   orang Saudi itu tertutup sekali.  ”Meskipun  di  kampus  akrab dengan mereka,  namun tak ada yang pernah mengundang datang ke rumahnya”,  kata mas  Mubarok kandidat Doktor yang telah belasan tahun  tinggal di Makah. Hal persis sama dikatakan mas Erika.  ”Ada sih  teman Saudi  yang akrab sekali.  Meskipun secara rutin mengajakku sholat Jum’at  di masjidil haram,  namun tak sekalipun pernah  membawaku ke rumahnya”,  kata mas Erika melanjutkan.  ”Hanya orang yang sangat dipercaya,  dan orang yang kepadanya dia merasa nyaman saja,  warga Saudi baru mengundang untuk datang”,  tambah mas Mubarok.   Walhasil,  ketika tahu kami diundang makan oleh warga Saudi,  mas Mubarok  merasa surprise sekali.  Apalagi pihak pengundang  adalah Syekh Ismail,  Naibul Mudiir  Yayasan Al Hai’ah Haramain pimpinan Syekh As-Sudais, maka keteperanjatan lah yang ia ekspresikan.

Problemnya,  undangan justru tak bisa kami penuhi,  sebab jatah tinggal di Makah memang sudah tak tersisa lagi. Padahal, ”Penolakan terhadap undangan,  sebenarnya  tidak sopan”, komentar mas Azmy setelah mendengar cerita  tentang ketidakhadiran atas undangan makan malam dari Syekh Ismail.  ”Ya bagaimana lagi.  Kondisi  memang tak memungkinkan untuk memenuhi.”,  sambut mas Nahidl menetralisir situasi.

Dus,  ketika di Madinah kembali dapat undangan makan,  tentu  membawa keterpanaan,  bahwa kami  memang mendapat keberkahan.  Maklum,  sekali lagi,  orang Saudi itu tertutup sekali.  Lha kenapa  kita bisa diundang  ke rumah untuk  makan,  meskipun baru saja kenalan ?  Jawabnya : Allahu a’lam.: hanya Allah yang tahu.

Kedua,  dalam tradisi Saudi,  ketika seseorang mengundang makan,  biasanya sang tuan rumah akan mengajak  serta  satu dua  teman terdekatnya. Terkait dengan ketidakhadiran dalam undangan Syekh Ismail di Makah misalnya,  dengan nada kecewa beliau sempat berkata,   ”sayang sekali kalian tidak bisa datang,  padahal saya juga mengajak beberapa teman untuk menemui kalian”.  Demikian info Fakhry pada kami,  sebab  Fakhry  lah yang bertugas kontak dengan Syekh Ismail.

Hal yang sama juga terjadi di Madinah.  Dalam undangan makam malam,  Dr. Murdhi Ali Idris ternyata juga menghadirkan teman dekatnya,  Dr. Khalid As Subaidi, dosen juruan ilmu hadits Universitas Islam Madinah, yang kebetulan telah beberapa kali  datang ke Indonesia. Walhasil,  dalam acara   Senin malam itu kami terlibat cengkerama  dengan mereka.

Ketiga, dalam tradisi makan bersama di Saudi,  tamu tak  diperjumpakan dengan sang istri.  Hal ini berbeda dengan kultur Indonesia,  bahwa sang tamu diperkenalkan dengan seluruh anggota keluarga  tuan rumahnya.  Intinya:    tamu pria hanya dilayani  sang tuan rumah pria,  alias tak akan pernah diperkenalkan dengan penghuni wanita.  Sebaliknya,  tamu wanita hanya ditemui  tuan rumah wanita,  dan tak akan pernah diperkenalkan dengan penghuni pria.  Ruang tamu pun,  sengaja dibangun terpisah  di halaman terdepan  terpisah dari ruang induknya.

Meski demikian,  penghormatan tuan rumah tetap maksimal dicurahkan.  Caranya: karena kami para pria,  maka  ”semua anak lelaki si tuan rumah dimobilisasi  untuk  melayani.  Mereka bahkan tak ikut makan,  tapi  hanya berdiri memperhatikan,  sekaligus memberi pelayanan.  Anak-anak tuan rumah lah yang menyajikan minuman makanan,  sekaligus membereskan pasca acara makan”,  jelas Kr. Khalid As Subaidi  yang diterjemahkan pak Budi.

Keempat,  dalam tradisi Arab Saudi  yang disebut undangan makan malam (’asya’),  pelaksanaannya benar-benar  di tengah malam,  sekitar jam 23.00-24.00.  Sambil menunggu detik-detik  waktu makan,  tamu dan tuan rumah biasanya  sibuk dalam perbincangan,  diselingi makanan ringan serta minuman.  Khusus dengan kami,  Dr. Murdhi tampaknya telah paham tradisi,  bahwa di Indonesia makam malam dilaksanakan paling lambat  setelah Isya’ waktunya.  Walhasil,  khusus kepada kami,  acara makan malam akhirnya dipercepat  sebelum tengah malam.  Pemahaman ini bahkan telah disampaikannya ketika pertama mengundang,  sehingga kami tak khawatir harus bertamu  sampai tengah malam.   Singkat kata,  ketika jam menunjuk ke angka 23.00  acara makan malam telah  mencapai ujungnya.  Alhamdulillah…

Kelima,  dalam acara makan bersama,   ternyata ada pula etika dan tatakramanya. ”makanan yang sudah disuapkan,  sisa di tangan tak boleh dikembalikan ke dalam nampan”,  terang Muhammad Isa yang telah tinggal di Arab sejak SD usianya, ”Kalau ada kelebihan di tangan,  sisa itu cukup ditaruh di plastik  telenan yang biasanya dijadikan alas tatakan bersama”.  Karena tradisi inilah,  maka  makan bersama orang Saudi,  pasti akan didapati  sang nasi banyak  yang terpapar  di luar nampan  tepat di  depan.

”Dalam terminologi Islam,  perilaku ini jelas menjadi kemubaziran. Siapa tahu  nasi yang dicecer justru yang mengandung keberkahan”,  kataku protes.  Sejenak aku terdiam,  mengunyah,  lantas melontarkan pertanyaan, ”bagaimana seandainya  butiran nasi yang tersisa di  tangan, nekad dikembalikan dalam nampan ?.

”Kita akan ditinggalkan.  Orang Saudi akan tersinggung,  karena perilaku itu dianggap penghinaan”,  tandas  sarjana baru  Universitas Islam Madinah  di bidang ekonomi tadi.

Keenam,  dalam tradisi Saudi   undangan makan baru berakhir  bukan ditandai ketika  tamu pamitan, melainkan justru  menunggu tuan rumah sampai mengucapkan :  baarokallah.  Bila tuan rumah telah mengatakan demikian,  tandanya pertemuan  sudah berakhir tidak dilanjutkan.  Walhasil,  sekitar pukul 23.00  Dr. Murdhi  mengucapkan kata-kata yang agak lama kami nanti : Barakallah,  sehingga kami dapat segera pulang untuk istirahat menunggu saat pulang.

Kembali ke soal undangan Dr. Murdhi,  saya sempat dihadapkan pada dilema,  terutama terkait soal etika.  Di satu sisi pak Budi mendorongku  untuk  bertanya pada isu-isu dan persoalan yang saya bawa.  Namun, di sisi lain mas Azmy justru ngasih tahu agar konsentrasi makan saja, tak usah diskusi  masalah berat tetapi  cukup membangun perbincangan ringan.   Tetapi,  apapun  dilema dan kecanggungan  yang sempat  kurasakan,  tapi  itulah pengalaman luar biasa,  yang tak sembarang orang bisa mencoba: diundang makan  malam di rumah seorang Saudi Arabia. Alhamdulillah….***