Archive for the ‘2. Wasiat Sahabat’ Category

Bahaya Meninggalkan Shalat

Shobat,  anda mungkin sudah tahu bahwa dalam Islam,  sholat merupakan tiang agama (Islam) bagi dirinya,  maka barang siapa yang mendirikan shalat maka ia telah menegakkan agama,  dan barang siapa meninggalkannya maka ia telah meruntuhkan agama = assholaatu ‘imaaduddin fa man aqoomahaa fa qod aqoomad diin  wa man tarookahaa  fa qod hadaamaddiin.  Terkait dengan arti penting shalat bagi setiap orang yang mengaku Islam,  berikut saya kutipkan artikel dari ustadz Yusuf Mansur tentang bahaya meninggalkan shalat,  yang saya dapatkan dari facebook. Semoga tulisan ini bisa menjadi wasiat untuk hidup kita.  amin…

1 KALI MENINGGALKAN SHOLAT = 28.800.000 HARI ,DI NERAKA

Dalam suatu hadits dikatakan: Rasulullah saw. bersabda” Barang siapa meninggalkan sholat hingga lewat waktunya, lalu ia mengqadhanya, maka ia akan disiksa di neraka selama satu huqub. Satu huqup sama dengan delapan puluh tahun dan satu tahun terdiri dari 360 hari, dan ukuran sehari (di akhirat) adalah seribu tahun (di dunia) (dari hitungan ini satu huqup sama dengan 28.800.000 tahun.” (Majaalisil-abraar)

Dari segi bahasa, huqub artinya waktu yang sangat panjang. Tetapi menurut kebanyakan hadits, huqub artinya masa di atas delapan puluh tahun. Demikian perhitungan yang di tulis dalam Durrul-Mantsur berdasarkan beberapa riwayat. Ali r.a. pernah bertanya kepada Hilal Hijri rah.a., “Berapa lamakah satu huqub itu?”Hilal Hijri rah.. menjawab, “satu huqub adalah delapan puluh tahun, dan setahun itu dua belas bulan, dan setiap bulannya terdiri dari tiga puluh hari, dan setiap harinya sama dengan seribu tahun.”

Abdullah bin Mas’ud r.a meriwayatkan dengan shahih bahwa satu huqub adalah delapan puluh tahun. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw bersabda, “satu huqup adalah delapan puluh tahun, dan satu tahun terdiri dari 360 hari, dan satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun perhitungan di dunia ini.” Juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Uma r.huma, ia berkata, “Hendaknya seseorang tidak merasa tenang bahwa sengan adanya iman, suatu saat psti keluar dari neraka. Memang, setelh di bakar 28.800.000 tahun ia akan keluar, dengan catatan, tidak ada hal lain yang membuatnya tinggal lebih lama di neraka. Masih banyak lagi tentang riwayat satu huqub tesebut. Mungkin bergantung pada keadaan orangnya, bisa berkurang atau bertambah.” Baca lebih lanjut

Tiga Pancuran Tak Pernah Kering Airnya

Sobat,  di tengah malam tiga hari lalu, aku terbangun dari tidurku. Entah mengapa,  kala itu mataku terus memicing tak bisa diajak tidur kembali untuk menelusuri mimpiku lagi. Suasana gerah,  badanku pun pelan-pelan terasa lungrah. Sedangkan hatiku tiba-tiba gelisah. Sobat,  dalam kondisi seperti ku ini, biasanya apa yang sampean lakukan?

Semula beberapa saat aku tak tahu harus berbuat apa. Mataku terus menerawang langit-langit kamar. Nafasku pun sesekali mendesah. Resah.  Miring ke kiri salah,  balik ke kanan juga salah.  Serba salah.  Pelan kuberanjak dari ranjangku,  lantas duduk di atas bangku. Di atas mejaku,  berjejer beberapa buku.  Kutatap buku-buku itu,  lantas ku raih sebuah secara acak. Ternyata kudapat sebuah buku bertema agama yang lama sekali tak sempat kusentuh apalagi kubaca. Pelan-pelan kubuka secara acak pula. Nah di halaman yang ku dapatkan lantas kubaca sebuah ulasan: Idzaa maatabnu aadama inqoto’a amaluhu  illaa min tsalaatsin, shodaqotin jaariyatin, au ‘ilmin yuntafa’u  bihi, au waladin shoolihin yad’uulahu: jika seorang anak Adam meninggal  maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal : shodaqoh jariah, ilmu yang  bermanfaat karenanya, atau anak sholeh yang selalu mendo’akannya. Baca lebih lanjut

Mari Mengkaji Kitab Suci

Sobat,  baru saja aku membaca sebuah buku berisi wejangan dari Sayyidina  Ali Bin Abi Thalib.  Figur yang oleh Nabi SAW disebut sebagai pintunya ilmu itu berkata:  Berpeganglah pada Kitab Allah.  Dialah tali yang kuat dan cahaya yang terang. Dialah obat  penyembuh yang berguna. Dialah air sejuk penghilang dahaga. Dialah tempat berlindung bagi orang yang berpegang, dan tempat keselamatan bagi orang yang bergantung. Dia tidak pernah miring sehingga perlu ditegakkan, dan tidak pernah menyimpang sehingga perlu diluruskan. Dia tidak pernah usang walaupun sering dibaca, dan tidak pernah membosankan walaupun sering di dengar. Siapapun yang berbicara dengannya pasti benar,  dan siapapun yang mengamalkannya pasti menang.

Sobat,  sejenak aku renungkan ungkapan dari khalifah keempat dalam Islam itu.  Sungguh mendalam isinya,  sungguh luas jangkauannya. Berikutnya,  aku  kembali membaca. Lagi-lagi Sayyidina  Ali Bin Abi Thalib berkata: “Ketahuilah bahwa Al Qur’an adalah pemberi nasehat yang tidak pernah menipu. Pemberi petunjuk yang tidak pernah menyesatkan. Dan pembicara yang tidak pernah berbohong. Siapapun yang duduk bersamanya (mengamalkannya),  maka Al Qur’an akan menambah sesuatu kepadanya atau mengurangi sesuatu daripadanya, yaitu menambah petunjuk kepadanya atau mengurangi kesesatan daripadanya.  Dan ketahuilah bahwa seseorang tidak akan memerlukan apapun setelah Al Qur’an,  dan seseorang akan tetap memerlukan apapun sebelum Al Qur’an. Maka jadikanlah dia sebagai penyembuh dari penyakit-penyakit kalian, dan jadikanlah dia sebagai peringan kesusahan-kesusahan kalian. Sesungguhnya di dalam Al Qur’an terdapat kesembuhan dari penyakit yang paling berbahaya yaitu penyakit kufur, nifaq, penyelewengan dan kesesatan”. Baca lebih lanjut

Keutamaan Bukan Karena Usia


Sobat, telah banyak perasaan bin uneg-uneg telah kutumpahkan dalam tulisan yang kepadamu kukirimkan. Namun,  menurutku itu belum ada apa-apanya sebagai upaya mengupas sebagian ilmu Tuhan. Sebab, ilmu dan pengetahuan manusia memang sangat terbatas (bounded) jumlahnya.   Wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa   qoliilaan: dan tidaklah kamu memperoleh ilmu kecuali hanya sedikit. Padahal ilmu tuhan bersifat tanpa batas (boundless). Tuhan, bahkan mengibaratkan, seandainya lautan dijadikan tintanya, pohon-pohon dijadikan penanya, dan daun-daun dijadikan kertasnya, untuk mencatat ilmu tuhan  pasti tak bakalan  mencukupi. Bahkan, semua itu bila ditambah lagi jumlahnya sampai sepuluh kali lipatnya, tetap tak mencukupi untuk mencatat dan membahas ilmu-ilmu tuhan tadi.

Oleh karena itu, Sobat, saya masih jauh dari merasa  puas dari capaian hasil diskusi kita selama ini. Namun demikian, hendaknya kita, yakni saya dan sampean perlu sadar, bahwa sedikit demi sedikit lama-lama bisa  menjadi bukit, asal saja tak masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Artinya, untuk mendapatkan akumulasi ilmu pengetahuan, kita perlu melakukan secara bertahap. Meskipun sedikit, yang penting berkesinambungan. Hal ini persis dengan ajaran Islam, bahwa, sebaik-baik  amal adalah meskipun sedikit tapi kontinyu.  Ingat kan, sampean, pada hadits itu. Baca lebih lanjut

Nasehat Anak Pada Bapak

Sobat, telah berulangkali kukirimkan padamu tulisan-tulisan yang isinya menggambarkan plus mengajarkan bahwa keutamaan seseorang bukan terletak pada usia (tua atau muda), kepemilikan harta (kaya atau papa)  kedudukan tahta (berpangkat  alias pejabat ataupun rakyat), kelamin (pria atau wanita) dan berbagai parameter  lainnya. Keutamaan seseorang  intinya hanya terletak  pada adab kelakuan (asyyarafu bil adabi laabin nasabi) dan ketakwaan (inna akromakum ‘indallaahi atqookum).

Melalui kesadaran  ini, maka untuk memperoleh keutamaan kita dianjurkan untuk mengambil hikmah dari manapun sumber bin asal muasal alias sangkan nya, meskipun dari orang yang lebih muda  atau bahkan anak-anak, meski pula dari orang miskin papa. Islam mengajarkan  undzur maa qoola walaa  tandzur man qoola: lihatlah apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan.  Sobat, bukankah ajaran ini senada dengan sebuah peribahasa: meskipun keluar dari dubur ayam  jika namanya telur ambillah, tapi  meski keluar dari dubur raja jika namanya kotoran tinggalkanlah. Baca lebih lanjut

Benci – Cinta Berlandas Kebenaran

Sobat,  pernahkah sampean merasa marah  dan benci pada seseorang? Marah dan benci adalah sesuatu  perasaan yang manusiawi, yang sengaja  dicipta Allah pada setiap diri manusia. Dengan kata  lain, rasa marah, senang, benci, rindu dan cinta serta berbagai jenis perasaan  lainnya adalah sesuatu  yang manusiawi,  yakni potensial ada  pada  diri manusia.  Hanya saja, Tuhan memerintahkan pada  diri manusia untuk mengendalikan segala “rasa” tadi, tidak diumbar sedemikian rupa, namun juga tak  dimatikan saja.

Nafsu amarah misalnya, ia perlu diatur dan dikendalikan agar kemarahan jangan sampai membuat manusia yang sedang marah kehilangan kontrol diri yang menyebabkannya menjadi mbedal bak kuda binal. Bila kemarahan tak  terkendalikan sang  manusia bisa menjadi seperti setan yang dalam bahasa Jawa nya disebut kesetanan. Islam mengajarkan agar seseorang yang  dilanda rasa  marah  hendaknya berusaha mengendalikannya dengan  cara  duduk untuk meredakan.  Jika masih marah, hendaknya berwudlu. Dan bila masih tetap  marah, segeralah sholat.

Tapi rasa amarah, jangan pula dimatikan, sehingga berubah menjadi manusia bak sebongkah batu  saja. Harga diri dilecehkan tidak marah, anak istri dilecehkan tidak tersinggung, malah mbregegek  diam penuh kesabaran.  Bahkan, ketika Tuhan, nabi dan agamanya dihina orang, tetap saja dia diam membisu tanpa tersirat kemarahan apatah lagi  pembelaan.  Sikap seperti itu sama sekali bukanlah bagian dari pengamalan ajaran Islam. Baca lebih lanjut

Jangan Matikan Cita-cita

Sobat, setiap  orang  (termasuk  yang masih bocah)  tentu punya cita-cita, harapan, keinginan yang ingin diwujudkan. Cita-cita  inilah yang hakekatnya menggerakkan kehidupan setiap  manusia. Tanpa harapan dan cita-cita  manusia akan statis alias mandeg dalam kehidupannya. Dia tak  akan bergerak maju, sebab ia tak memiliki keinginan untuk bergerak maju, tak punya harapan   tentang kehidupan yang lebih mapan,  tak punya cita-cita yang menjanjikan di hari  depan. Meski secara fisik ia hidup, namun secara substansi  ia  telah  mati, karena sama sekali tak lagi punya ambisi. Hanya ambisi dan keinginan yang dapat membedakan makhluq hidup dengan makhluq mati. Hanya  harapan  dan cita-cita yang dapat  menggerakkan  manusia untuk selalu  dan selalu  berusaha, berkarya dalam rangka mencapai apa yang dicita-citakannya.

Sobat, cita-cita sebaiknya diselaraskan dengan realitas kemampuan. Cita-cita alias  harapan yang tidak berpijak pada potensi diri, tak berlandas pada kemampuan yang dipunyai, namanya bukan lagi cita-cita tapi  hanya  sebatas angan-angan belaka. Cita-cita yang membumbung  tinggi  yang tak imbang dengan potensi, dalam peribahasa disebut seperti punguk merindukan bulan. Tangeh lamun, untuk tak  disebut mustahil dapat direalisasikan, itulah sebutannya.

Singkat kata, cita-cita silahkan digantung setinggi langit, namun kita tetap perlu menakar   diri, mungkinkah apa yang  dicita-citakan  masuk logika untuk diwujudkan  dalam kenyataan ? Namun, yang lebih penting adalah  cita-cita jangan  hanya diangankan, tapi perlu dirintis untuk diusahakan alias  diupayakan.  Cita-cita bila dibiarkan  tanpa ada upaya itu ngelamun alias berhayal  saja  namanya. Orang yang  dalam  hidupnya selalu berandai-andai tanpa ada upaya rintisan apapun untuk mewujudkan yang diandaikan,  berhayal saja itu namanya. Pun, orang yang berandai-andai  tapi sangat  jauh dari potensi dan kemampuan yang dia punya, dia disebut panjang angan-angan, yang sangat  tidak  sehat bagi  kesehatan  pikiran. Baca lebih lanjut