Archive for the ‘6. Buku Kita’ Category

“Muslim Bali” di Tengah Masyarakat Bali yang Berubah

https://i0.wp.com/www.publicapos.com/images/stories/allimages/Muslim_Bali_book_cover.jpgTentu kita bertanya, apakah ada yang disebut Muslim Bali, bukankah selama ini, yang hidup di Bali, adalah kaum Hindu. Dhurorudin Mashad, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) berupaya menggali eksistensi komunitas ini secara cermat melalui penelitian yang dilakukan cukup lama. Mashad, memulai penelitiannya itu sejak 2005, 2009, 2010, dan 2011. Selama berbulan-bulan, ia tidak hanya berupaya mendeskripsikan kehidupan keagamaan,  ekonomi, interaksi sosial, dan kultur komunitas muslim ini, tetapi juga menelisik awal mula Islam masuk di Bali.  Karena itu, dalam buku ini, Mashad juga menunjukkan komunitas muslim kuno di Bali. Penelusuran Muslim Bali secara historis, mengantarkan Mashad ke Kabupaten Klungkung, Badung, Kota Denpasar, Kabupaten Buleleng, Jembrana, Tabanan, Karangasem, Gianyar, dan Bangli. Baca lebih lanjut

Iklan

Umat Islam dan Teori Konspirasi

Resensi

Umat Islam dan Teori Konspirasi

Sebuah buku berjudul, “Akar Konflik Politik Islam di Indonesia”, ditulis oleh Dhurorudin Mashad, terbitan Pustaka Al Kautsar, cetakan Juni 2008. Buku ini diberi kata pengantar oleh Eep Saefulloh Fatah, pakar politik UI. Pustaka Al Kautsar termasuk sering menerbitkan buku-buku yang bertema politik Islam. Buku ini melengkapi wacana yang telah diterbitkan sejak lama. Dalam buku karya peneliti LIPI ini banyak wawasan-wawasan informasi yang bisa dijadikan alat untuk memahami peta politik Islam di Indonesia, sejak dulu sampai saat ini. Namun kali ini saya tidak bermaksud membahas buku Dhurorudin Mashad di atas. Cukuplah pembaca mengkajinya secara mandiri. Disini saya lebih tertarik membahas salah satu materi kata pengantar Eep Saefulloh Fatah, ketika dia menjelaskan sumber-sumber kemunduran kehidupan Umat Islam di Indonesia.Menurut Eep, secara statistik jumlah Muslim Indonesia sangat banyak, tetapi secara realitas peranan Umat Islam marginal.akarkonflikpolitikislamdiindonesia_8646

Dia berusaha mencari jawaban atas masalah ini. Salah satunya, menurut Eep, biang kerok kemunduran Umat Islam, karena kita terlalu banyak terbelit oleh TEORI KONSPIRASI. Baca lebih lanjut

Ketika Partai Islam Tak Berorientasi Aliran

Resensi

Ketika Partai Islam Tak Berorientasi Aliran

 

Negeri ini dibangun lewat jasa besar umat Islam. Pengorbanan mereka berhulu dari tetesan darah yang mengalir dari ratusan medan hingga ke hilir. Tetapi mengapa umat isalam yang mayoritas tidak bisa menentukan agenda kebijakan dalam perubahan di Indonesia?

 Politik Islam di Indonesia dari masa penjajahan hingga sekarang selalu mengalami kegagalan. Apa sebabnya? Ada dua faktor yang mempengaruhi. Pertama, terjadinya fragmentasi di dalam. Kedua, adanya Islam fobia (ketakutan terhadap Islam). Realitas inilah yang dihadapi para pemimpin Islam Indonesia dalam mengartikulasikan bahasa politik yang paling tepat dan paling menguntungkan umat Islam.akarkonflikpolitikislamdiindonesia_8646

 Pergulatan perjuangan politik umat Islam di Indonesia tak pernah sepi untuk dibahas. Denyutnya masih terasa hingga kini, ketika gelegar reformasi mendero ke seantero negeri membawa berjuta perubahan, dari yang positif maupun yang negatif.

 Yang tak bisa dilupakan, negeri ini dibangun lewat jasa besar umat Islam. Pengorbanan mereka berhulu dari tetesan darah yang mengalir dari ratusan medan hingga ke hilir. Pertanyaannya, mengapa umat Islam yang mayoritas tidak bisa menentukan agenda kebijakan dalam perubahan di Indonesia? Atau, mengapa umat Islam yang secara statistik begitu dominan, tidak bisa dominan secara politik? Baca lebih lanjut

Benang Kusut Politik Islam

RESENSI

Benang Kusut Politik Islam

Jumlah umat Islam yang mayoritas di Indonesia, merupakan satu kekuatan besar yang tidak akan mudah dipatahkan jika bersatu dalam ikatan kuat. Ibarat lidi yang sudah diikat satu menjadi sapu, ia mampu membersihkan berbagai sampah yang berserakan. Namun saat ia berdiri sendiri, ia tidak mampu mendorong satu daun kering dalam waktu cepat.

Begitulah potret politik umat Islam saat ini. Tali yang akan mengikat mereka masih belum ada, karena masing-masing menolak diikat dengan tali kuat tersebut. Walaupun secara teori, satu lidi berserak dalam jumlah banyak, dengan mudah bisa diikat dengan buhul rotan atau satu tali yang sangat kuat.

Saat pengikat itu ditopang pula satu kayu yang kuat, maka menjelmalah ia menjadi sapu yang disegani oleh banyak sampah. Sampah apapun juga, mulai daun, plastik, sampah basah ataupun kering, kaleng kosong dan lain sebagainya, dengan mudah bisa digiring ke dalam lobang sampah.

Dalam waktu singkat, satu halaman yang kotor bisa dibuat bersih dan segar. Matapun jadi sejuk dan pikiran pun menjadi lapang, kala halaman terbebas dari sampah. Tangan yang seharusnya akan kotor waktu akan membersihkan sampah secara manual, juga jadi terhindar dari kekotoran.

Beginilah gambaran potensial politik umat Islam dewasa ini. Kekuatannya belum menjelma menjadi satu kekuatan besar. Sehingga tidak mengherankan, segala kemungkaran di muka bumi Indonesia masih subur terawat.

Organisasi politik umat Islam bukan tidak menyadari hal ini. Tapi demi egoisme pribadi partai dan diri, mereka menutup mata rapat-rapat akan kata persatuan. Mereka adalah lidi-lidi yang berserakan, yang mana jika dipatahkan oleh satu kekuatan yang mumpuni, maka ia akan jadi lidi patah yang tidak akan memberi manfaat besar.

Banyak yang tidak ingin kekuatan politik Islam bersatu. Karena bencana besar bakal terjadi, dengan runtuhnya kemungkaran. Sedaya upaya mereka berusaha memberangus setiap ada potensi bersatunya partai Islam. Isu-isu mazhab, cara beribadah dan lainnya, menjadi umpan yang sangat digemari partai-partai dan kekuatan Islam lainnya. Baca lebih lanjut

Alfred Russel Wallace : Kiprah dan Karyanya Sebagai Ilmuwan Sosial

Buku ini merupakan bagian dari biografi Alfred Russel Wallace.  Upaya yang hendak  digerakkan dalam menyusun ”bangunan sejarah” kehidupan A.R. Wallace  ini tentu tak sekedar bagaimana mesti memetakan tentang apa  dan dimana A.R. Wallace hidup, tetapi yang lebih substantive adalah upaya menjawab mengapa dan bagaimana konteks ketika dia hidup. Segala pertanyaan ini pada akhirnya diharap mampu memberikan gambaran kehidupan A.R. Wallace secara relatif utuh, bukan sekedar dalam perspektif diskriptif,  namun sekaligus substansi analitis sesuai konteks waktu dimana dan kapan dia hidup.  Upaya sedemikian memang tidak gampang,  sebab ia membutuhkan kreativitas untuk mencermati waktu kelampauan,  yang sebagian (bahkan sebagian besar) seringkali telah terkubur luput dari pengetahuan  dan atau ingatan manusia. Baca lebih lanjut

Alfred Russel Wallace: Pencetus Teori Seleksi Alam dan Garis Imajiner Nusantara

Buku ini bermaksud melakukan rekonstruksi peristiwa kelampauan, supaya masyarakat memperoleh gambaran umum mengenai siapa Alfred Russel Wallace (A.R. Wallace). Apa yang dilakukan dalam petualangan ilmiahnya. Di mana ia melakukan penelitian. Bagaimana cara kerjanya. Mengapa ia memilih lokasi penelitian di Kepulauan Nusantara.  Buku yang ditulis dengan model biografi ilmiah populer ini menuntut ketekunan, ketepatan, serta pandangan yang dalam pada  penyajiannya, tidak sekedar estetis dan bersifat human interest belaka. Dengan menghargai fakta dan memberikannya secara literer, maka biografi tentang A.R. Wallace ini akan memberikan kepada masyarakat fakta yang kreatif, fakta yang subur, fakta yang merangsang dan menantang. Oleh karena itulah sejarah untuk mengenal dan memahami kiprah Alfred Russel Wallace penting untuk diteliti dan ditulis dari perspektif ini.

Biografi adalah bagian dari sebuah sejarah.  Buku sejarah yang baik, pembacanya akan merasa berhadapan dengan bentangan peta yang digambar secara elok. Dalam karya itu yang ditemui tak sekedar peta ruang, melainkan yang lebih utama adalah peta waktu yang bergerak menjawab sekaligus menciptakan perubahan-perubahan. Dan waktu yang dipetakan dalam karya itu adalah waktu lampau, waktu yang dulunya sempat terkubur dari pengetahuan manusia, atau mungkin masih tetap tersisa tetapi hanya sekedar reruntuhan yang tak lagi utuh.

Upaya yang hendak  digerakkan dalam menyusun ”bangunan sejarah” kehidupan A.R. Wallace  tentu tak sekedar bagaimana mesti memetakan tentang apa  dan dimana A.R. Wallace hidup, tetapi yang lebih substantive adalah upaya menjawab mengapa dan bagaimana konteks ketika dia hidup. Segala pertanyaan ini pada akhirnya diharap mampu memberikan gambaran kehidupan A.R. Wallace secara relatif utuh, bukan sekedar dalam perspektif diskriptif,  namun sekaligus substansi analitis sesuai konteks waktu dimana dan kapan dia hidup.  Upaya sedemikian memang tidak gampang,  sebab ia membutuhkan kreativitas untuk mencermati waktu kelampauan,  yang sebagian (bahkan sebagian besar) seringkali telah terkubur luput dari pengetahuan  dan atau ingatan manusia. (Jakarta: LIPI Press).***`

Soedjono Djoened Poesponegoro: Menteri Riset Pertama di Indonesia

Biografi Soedjono Djoened Poesponegoro ini bukan sekedar bicara seputar human interest seperti buku biografi pada umumnya.  Tetapi,  sesuai latar belakang intelektual Soedjono yng menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi,  buku ini pun lebih diarahkan  kepada kiprah tadi. Pemikiran-pemikirannya sengaja ditonjolkan, dan kiprahnya sebagai institutional builder di berbagai tempat sengaja diutamakan.  Berpijak pada perspektif ini, maka dalam buku ini konteks sosial politik dimana dan pada saat Soedjono hidup sengaja ditonjolkan.  Situasi politik ketika Soedjono mengenyam pendidikan, konstelasi politik kebangsaan tatkala Soedjono beranjak dewasan,  dan dinamika politik nasional ketika Soedjono menjadi dokter, dosen, serta menteri era Soekarno dijadikan landasan penting ketika memeparkan jalan kehidupan sang tokoh.

Kendati demikian, biografi ini tetap diupayakan tersaji dalam tutur bahasa yang tidak teralu kaku dan tetap merefleksikan sebuah buku biografi tentang seorang anak manusia bernama Soedjono Djoened Poesponegoro.  Semoga bermanfaat. (Jakarta: LIPI Press).***