Posts Tagged ‘bali’

Bersiap Pulang : Wisata Indonesia Di Mata Warga Saudi Arabia (Bagian 31)

Selasa,  12 April 2017  siang.  Tugas dan  Pekerjaan sudah diselesaikan,  sehingga  kami sudah siap lahir batin untuk segera pulang.  Walhasil,  sekitar jam 12.00  kami telah meluncur  ke bandara,  agar mas Nahidl – mas Izdihar dapat mengurusi proses chek-in tidak dalam situasi tergesa-gesa.  Arabian Airlines (SU) tetap dipilih mar Ferly,  untuk mengangkut kami pulang ke Jakarta  lagi.  Jalur kepulangan kali  ini tidak Madinah langsung Jakarta sebagaimana dilakukan kaum berhaji,  melainkan jalur   Madinah – Jeddah – Jakarta sehingga bisa  menjadi bahan tambahan  untuk catatan kami.

Bandara Madinah  terbilang  tak padat penumpangnya. Terkesan tenang – santai dalam suasana,  sehingga meski beberapa jam nongkrong di sana tak membuat  kami  jenuh – penat karenanya.  Ada dua hal menarik  patut kucatat dalam tulisan ini:

Pertama, di bandara  banyak  kulihat  keluarga  dalam kondisi  ihrom busananya,  menandakan bahwa mereka akan berumroh bersama.   Bagi mukimin Madinah  miqot makani untuk Umroh – Haji  ada di  Zulhulaifah alias Bir Ali.  Dari lokasi inilah perjalanan suci baru dimulai dengan mengaspal selama 6 -7 jam menuju Masjidil Haram  di  Mekah.  Sekarang,  dengan tersedianya penerbangan Madinah – Jeddah yang hanya butuh 1 jam saja,  maka  perjalanan Madinah –  Makkah akhirnya hanya 2 jam pula,  setelah ditambah 1 jam perjalanan Jeddah – Makkah sekitar 25 km jaraknya.  Dengan singkatnya waktu perjalanan ,  maka prosesi umroh bagi warga Madinah menjadi tak terlalu melelahkan.

Kedua,  di bandara juga kutemukan beberapa penumpang berbagi makanan pada penumpang lainnya.  Ada yang bersedekah kurma,  ada pula yang berbagi biskuit.   Tradisi macam ini  sebenarnya biasa tampak di dua tanah suci,  masjidil haram –  masjid nabawy.  Namun,  sedekah di bandara ,  baru kali ini  kami mendapatinya.   Tradisi ini hampir pasti tak akan pernah kita temui  di berbagai bandara di muka bumi.

Waktu seolah berjalan cepat.  Singkat cerita,   sekitar jam  15.10 kami sudah  mengudara.  Hanya sekitar 1 jam kami melayang mengarungi  Madinah –  Jeddah dari angkasa.  Tepat pada jam 16. 15 kami telah menapak kembali di kaki bumi,  menelusuri  bandara Jeddah yang 10 hari sebelumnya telah kami tapaki.

Jeddah memang beda dengan Madinah ataupun Makkah.  Sebab,  Jeddah bukan tanah suci,  sehingga mereka yang ada di lokasi . tak semuanya Islam dan Islamy.  Ada beberapa catatan terkait dengan bandara Jeddah ini:

Pertama,  meskipun masih berada di Saudi,  ternyata tak semua orang  di lokasi  memakai kerudung-jilbab seperti di tanah suci.  Ku perhatikan ada satu dua perempuan Arab mengurai rambutnya,  bahkan ada pula yang mengecat hingga berwarna pirang ujung-ujungnya. Lelaki Arab pun ada yang bercelana selutuh dan berkaos kutang lebar,  sembari pamer tato pada kedua lengannya.  Jika tatapan kita tertuju ke arah mereka,  niscaya merasa seolah tak berada di Saudi Arabia.  Sebaliknya,  ketika pandangan terarah pada yang berjilbab,  bergamis, bersorban,  barulah aroma Saudi  akan kembali terasa.  Tapi,  apapun kondisi  berada di bandara Jeddah ini,  kita tak bisa memaksa hati  agar merasa sedang berada di tanah suci.

Kedua,  Bandara Jeddah (juga Madinah) ternyata sangat berbeda situasinya dibanding era musim haji tiba.  Pada musim haji,  ketika jamaah berjubel sekali,  aparat migrasi justru melayani santai lamban sekali.  Anehnya,  justru di luar musim haji,  aparat lmigrasi justru  dapat melayani cekatan sekali.  Lho,  kenapa demikian ?  Saya tak punya jawaban.  Mungkin ketika haji kita memang dicoba untuk mengembangkan kesabaran.  Realitas kepabeanan  di luar musim haji ,   akhirnya menepis prasangka kami,  bahwa  orang Saudi umumnya  malas sekali.   Ya Allah ampuni kami karena telah melihat orang dengan cara stereotipe dan  apriori.

Ketiga,  orang Saudi Arabia  ternyata cukup mengenal Indonesia,  terutama Puncak sebagai lokasi wisata.  Dua kali di bandara Jeddah misalnya,  saya sempat  disamperi  diajak bicara  tentang wisata:

(1). ketika baru datang dari Indonesia,  tatakala menunggu mas Thalib yang mengurusi perjalanan Jeddah  – Makkah,  seorang security bandara mendekati lalu bertanya pada kami,  “Hal  anta Indonesy : apakah anda orang Indonesia ?.  “Naam : Ya”,  jawabku spontan.  Lantas petugas Saudi itu menceritakan bahwa ia setahun lampau pernah ke Jakarta, lantas ke Puncak untuk  wisata.  Dia bicara soal Jakarta yang macet sekali,  namun yang paling berkesan adalah Puncak plus Taman Safari.  “Hal zurta  bi nafsika: apakah anda  datang sendirian  ?,  tanyaku. “Ma’a ‘ailati:  beserta keluargaku”, jawabnya.

(2).  ketika menunggu jadwal  pulang,  dua pasang suami istri Saudi,  juga menegur kami.  “Anta Indonesy?  Takallamta lughotal ‘Arobiy?  : Apakah anda orang Indonesia ?  Apakah bisa bicara bahasa Arab ?. “Qolilan:  Sedikit”,  jawabku. Dua pasang suami istri itu lantas cerita,  bahwa mereka mau ke Indonesia.   Agenda pertama,  ke Bali,  berikutnya akan terbang ke Pushang.  ”Aina Pushang ?  Pushang la maujud fii Indonesy :  Dimana Pushang ?  Tak ada Pushang di Indonensia ?,  komenterku kala itu..

“Jabalul Hadhra’ :  gunung hijau “,  katanya menjelaskan,  namun aku tetap tak paham maksudnya. Pria itu lantas mencarinya lewat  peta Jakarta di Hpnya,  ”Hadza Pushang,  Miataani kilometer min Jakarta:  Ini  Pushang, dua ratus kilometer dari (bandara) Jakarta”.

“Oh..hadza.  Ismuhu Puncak,  laisa Pushang: oh ini…namanya Puncak bukan Pushang”,  komentarku pelan setengah tertawa. Dan Arab muda itu juga tertawa setelah memahaminya.

Intinya adalah warga Saudi Arabia  sedemikian mengenal  Puncak sebagai lokasi Wisata.  Memang,  berkembang image di kalangan orang Indonesia,  bahwa  Arab dan  Puncak diidentikkan dengan kawin kontrak. Sebagian memang benar,  namun  sebagian lain salah,  sebab sebagian besar  wisatawan Arab ternyata datang  bersama keluarga,  sebagaimana  orang Arab yang menegurku di Jeddah baik ketika datang  maupun ketika pulang..

Tak terasa waktu  boarding  telah tiba.  Bahkan,  Selasa 12 April 2017  pada jam 19.05  tepatnya,  pesawat telah  take off  mengudara  di langit Saudi Arabia.  Selamat tinggal  Jeddah.  Selamat tinggal Makkah.  Selamat tinggal  Madinah.   Semoga lain waktu  kami berkesempatan  untuk berziarah kembali.  Ilalliqo’  : sampai jumpa lagi. .

Setelah 10 jam lamanya kami di angkasa,    esuk harinya,  Rabo  13 April  jam 9 pagi kami telah  landing di  bumi Indonesia :  Jakarta. Alhamdulillah …***

 

“Muslim Bali” di Tengah Masyarakat Bali yang Berubah

https://i0.wp.com/www.publicapos.com/images/stories/allimages/Muslim_Bali_book_cover.jpgTentu kita bertanya, apakah ada yang disebut Muslim Bali, bukankah selama ini, yang hidup di Bali, adalah kaum Hindu. Dhurorudin Mashad, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) berupaya menggali eksistensi komunitas ini secara cermat melalui penelitian yang dilakukan cukup lama. Mashad, memulai penelitiannya itu sejak 2005, 2009, 2010, dan 2011. Selama berbulan-bulan, ia tidak hanya berupaya mendeskripsikan kehidupan keagamaan,  ekonomi, interaksi sosial, dan kultur komunitas muslim ini, tetapi juga menelisik awal mula Islam masuk di Bali.  Karena itu, dalam buku ini, Mashad juga menunjukkan komunitas muslim kuno di Bali. Penelusuran Muslim Bali secara historis, mengantarkan Mashad ke Kabupaten Klungkung, Badung, Kota Denpasar, Kabupaten Buleleng, Jembrana, Tabanan, Karangasem, Gianyar, dan Bangli. Baca lebih lanjut

Konflik Hindu – Muslim Jembrana Era Kolonial Belanda: Tragedi yang Tak Perlu Terulang (Tulisan 22)

Sore hari.  Mentari telah condong ke arah Barat.  Pak Syarif mengajak kami mengunjungi pelabuhan ikan yang armada kapalnya sebagian besar dimiliki juragan nelayan muslim.  “Kapal-kapal ini harganya satu diatas seratus juta lho”,  kata  nelayan yang sempat saya temui,  “tetapi dalam beberapa pelayaran,  jumlah itu akan segera terbayarkan oleh hasil tangkapan ikan. Sebab,  sekali  melaut selama seminggu, jika sedang beruntung kita bisa mendapat untung 30 jutaaan ”. Para juragan kapal ini bahkan ada yang memiliki beberapa kapal.  Bahkan,  ”H. Dahlan (?),  sampai mewakafkan salah satu kapal agar hasilnya dipakai untuk keperluan operasional masjid di Loloan”,  jelas pengurus masjid di Loloan Timur.    Subhanallah.  Itulah kontribusi ekonomi secara luar biasa bagi Jembrana dari para nelayan yang umumnya memiliki darah Bugis/Makasar ini.

Secara historis komunitas muslim lama memang punya hubungan saling ketergantungan (saling dukung) secara kokoh,  terutama pada era konflik antar  kerajaan Bali di masa silam.  Sejarah klasik hubungan erat antar di keraton Negara (Jembrana) dengan komunitas muslim Loloan dan Air Kuning merupakan contoh harmoni yang luar biasa. Betapapun kecil kuantitas masyarakat Islam Bali, tetapi ralitasnya mereka telah ikut mewarnai khazanah kebudayaan Bali. Bahkan,  dalam wujud agak ekstrim pengakuan eksistensi masyarakat Islam oleh masyarakat Hindu ada yang sampai teraktualisasi dalam wujud pendirian tempat pemujaan (pura) yang melarang disajikannya hal-hal yang dilarang Islam,  seperti : Banten yang mengandung Babi. Baca lebih lanjut

Kampung Islam Loloan dan Air Kuning di Jembrana – Bali : Sebuah Entitas Lama (Tulisan 21)

Hari masih pagi, tetapi sinar mentari sudah terang benderang menyinari bumi. Tetapi di sepagi itu saya dkk sudah sampai di wilayah Loloan,  tempat komunitas Islam yang telah sangat lama keberadaannya.  Sangat tepat jika eksistensi kampung itu disebut sebagai kampung kuno saja.

Sejarah keberadaan komunitas muslim Loloan  merupakan keturunan dari tanah Melayu (Kuala Trengganu) dan kaum Bugis yang sudah beberapa abad  lalu masuk Bali.  Eksistensi mereka ini juga menjadi bukti historis bahwa Islam telah lama masuk di wilayah Jembrana ini.  Hingga kini mereka bertahan dengan agama Islam dan adat-istiadat Melayu. Bahkan,  berbeda dengan komunitas muslim yang juga tergolong kuno di lokasi lainnya yang umumnya memakai bahasa Bali sebagai alat komunikasi seharí-hari,  komunitas di tempat ini ternyata tetap menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa keseharian di kalangan mereka. Baca lebih lanjut

Pangeran Wilis dan Cikal Bakal Komunitas Islam Di Jembrana – Bali (Tulisan 20)

Siang hari.  Terik.  Sinar surya menyengat.  Saat mentari tepat berada di tengah petala langit itulah  kami menginjak tanah  Jembrana.  Kami memang baru saja  mencapai tujuan setelah mengarungi perjalanan panjang.  Namun,  perjalanan ini tidak kurasa melelahkan,  sebab saya dkk diantar  seorang  humoris,  sehingga sepanjang perjalanan kami justru selalu tertawa cekakan.   Pak Kadek Syarifudin ,  itulah nama yang mengantar  kami.  Seorang Bali muslim asli yang berasal dari Baturiti.

Telah sekian hari lamanya,  saya menelusuri bumi Bali,  bumi yang selain kesohor dengan pusat pariwisata juga terkenal dengan sebutan God’s  Island alias pulau Dewata.  Di tengah mayoritas penduduknya yang dominan beragama hindu dan kuatnya tradisi masyarakat, sering terlontar pertanyaan, bagaimana Islam di Bali. Apakah Islam hanya menjadi agama pelengkap, agama kaum pinggiran atau  justru menjadi mitra masyarakat Hindu Bali dalam membangun dan mempertahankan identitasnya.  Rentetan pertanyaan tadi sedikit banyak sudah berusaha saya jawab melalui serangkaian tulisan tentang komunitas Islam Bali yang cikal bakalnya telah ada sejak tahun 1500 an era Dalem Ketut Nglesir. Kali ini saya ingin mengajak untuk mencermati realitas kehidupan kaum Muslim di kabupaten Jembrana yang biasa dikenal pula dengan sebutan Negara. Baca lebih lanjut

Nyambangi Kampung Islam Pagayaman di Kabupaten Buleleng – Bali (Tulisan 19)

Dingin menyergap tulang.  Maklum,  semalaman Buleleng diguyur hujan.   Kusedekapkan tangan untuk mencuri kehangatan.  Tetapi,  rasa hangat itu tak kunjung datang.  Akhirnya, tangan ku kibas-kibaskan. Siapa tahu energi kinetik dari hasil kibasan tangan berubah menjadi pemicu kehangatan yang kudambakan.  Ternyata benar,  rasa hangat pelan-pelan mengalir  kurasakan.  Alhamdulillah.

Hari masih sangat pagi,  tetapi pak Syarif telah menghampiri. ”Ke pantai Lovina,  Yuk”,  ajaknya.  ”Sedikit refreshing.  Berperahu ke tengah lautan untuk melihat lumba-lumba berjumpalitan”.  Saya dan semua teman akur saja.  Singkat kata,  saya dkk akhirnya sampai di Lovina.

”Syamsul”,  ucap seorang nelayan muda memperkenalkan diri dengan tangan disodorkan.  Dialah yang mengantar kami ke tengah lautan.  Di Lovina perahu sudah berlalu lalang,  dengan penumpang beraneka kebangsaan.  Ada yang bertampang khas Indonesia meski beda etnis,  tetapi lebih banyak lagi tampang-tampang bule . Tujuan mereka sama,  ingin menyaksikan lumba-lumba.  Semua perahu lalu lalang,  bahkan terkesan berebutan,  untuk mencari moment yang pas menyaksikan lumba-lumba ”atraksi” di laut pagi hari. Baca lebih lanjut