Posts Tagged ‘Buleleng’

Nyambangi Kampung Islam Pagayaman di Kabupaten Buleleng – Bali (Tulisan 19)

Dingin menyergap tulang.  Maklum,  semalaman Buleleng diguyur hujan.   Kusedekapkan tangan untuk mencuri kehangatan.  Tetapi,  rasa hangat itu tak kunjung datang.  Akhirnya, tangan ku kibas-kibaskan. Siapa tahu energi kinetik dari hasil kibasan tangan berubah menjadi pemicu kehangatan yang kudambakan.  Ternyata benar,  rasa hangat pelan-pelan mengalir  kurasakan.  Alhamdulillah.

Hari masih sangat pagi,  tetapi pak Syarif telah menghampiri. ”Ke pantai Lovina,  Yuk”,  ajaknya.  ”Sedikit refreshing.  Berperahu ke tengah lautan untuk melihat lumba-lumba berjumpalitan”.  Saya dan semua teman akur saja.  Singkat kata,  saya dkk akhirnya sampai di Lovina.

”Syamsul”,  ucap seorang nelayan muda memperkenalkan diri dengan tangan disodorkan.  Dialah yang mengantar kami ke tengah lautan.  Di Lovina perahu sudah berlalu lalang,  dengan penumpang beraneka kebangsaan.  Ada yang bertampang khas Indonesia meski beda etnis,  tetapi lebih banyak lagi tampang-tampang bule . Tujuan mereka sama,  ingin menyaksikan lumba-lumba.  Semua perahu lalu lalang,  bahkan terkesan berebutan,  untuk mencari moment yang pas menyaksikan lumba-lumba ”atraksi” di laut pagi hari. Baca lebih lanjut

Kantong-kantong Muslim di Tengah Kota Buleleng – Bali (Tulisan 18)

Selama tiga hari saya dkk. telah diajak pak Lukman munjelajahi Denpasar – Badung untuk menelusuri  kampung-kampung Islam. Pak Lukman sempat pula mengajak menyinggahi DreamLand,  tempat wisata pantai yang luar biasa indah. Terhitung masih perawan,  terbukti pantai ini –ketika kami datang—masih dalam proses penataan.  Tapi,  DreamLand bagi saya intermeso belaka,  karena tujuan pokok saya bukan berwisata.

Setelah  dirasa cukup,  kami bersiap melanjutkan perjalanan  menuju Buleleng.  ”Terima kasih pak Luqman.  Saya pamit untuk melanjutkan perjalanan”,  kata saya menjelang perpisahan.  Mas Hamdan,  Heru,  dan Indri melakukan hal yang sama,  pamitan.   Maklum,  pada perjalanan berikutnya saya ganti didampingi pak  Kadek Syarifuddin.  Dari namanya sudah jelas,  dia seorang muslim Bali asli,  bukan pendatang atau bali-balian.   ”Pak Syarif”,  demikian saya memanggil.  oarangnya lucu luar biasa.  Tak ada waktu yang kosong dari ketawa. Bahkan,  ketika pak Syarif  bicara serius pun akhirnya ditutup pula dengan ketawa ha..ha…ha… Baca lebih lanjut