Posts Tagged ‘dunia’

Memahami Nizamul Islam Ala Pakistan (Tulisan 2 dari 4)

Dengan menyimak tipe keagamaan masyarakat Pakistan, kiranya dapat dipahami betapa proses Nizamul Islam (Islamisasi) yang dijalankan Zia ul-Haq berada pada posisi yang dilematis, karena harus berhadapan dengan proses tarik-menarik tersebut.  Bahkan, kendati pada awal pemerintahan Zia ul-Haq penganjur tradisi Islam Sentralis muncul untuk memperoleh hegemoni ideologis di dalam negara dengan mengesampingkan tradisi Islam Populer, namun secara berangsur-angsur kenyataan dalam masyarakat Pakistan telah memaksa pemimpin rejim militer tersebut untuk mempertimbangkan sikapnya itu.   Zia menyadari bahwa mengabaikan peran Islam Populer (pimpinan Kyai) yang dominan dalam masyarakat pedesaan, yang dominan dalam seluruh kehidupan rakyat Pakistan, tentu akan menyebabkan kekuasaannya kurang lengkap atau bahkan menghadapi ancaman. 

            Berdasar kesadaran itu, meski Zia ul-Haq merupakan prototip pendukung Islam Sentralis yang menghendaki dilaksanakannya Islamisasi secara komplit, namun akhirnya terpaksa pula untuk berupaya menarik simpati rakyat pedesaan melalui patron-patronnya, yakni Kyai.  Oleh karena itu, walaupun berbeda dari para pendahulunya, Ayub Khan dan Ali Bhutto yang menghidupkan kembali ide tempat suci sebagai pusat kesejahteraan dan memberi dukungan penuh bagi pengelolaan tempat-tempat suci, akan tetapi Zia tidak mengabaikan tempat-temat suci itu. Malah dukungan pemerintahan Zia terhadap sanak keluarga orang suci sufi juga tetap dipertahankan. Baca lebih lanjut

Iklan

Tipologi Agama dalam Spektrum Politik Pakistan (Tulisan 1 dari 4).

Di  kalangan Muslim (bahkan juga non-Muslim) Pakistan (bahkan juga India), Khanqah telah menjadi lembaga penting bagi kehidupan  beragama sejak abad pertengahan. Khanqah adalah organisasi para penganut mistitisme yang di dalamnya para santri mendapat bimbingan keagamaan dari seorang guru.  Islam Khanqoh adalah Islam kerakyatan.  Mistitisme Muslim mencapai India hampir bersamaan dengan berdirinya kesultanan Delhi, abad 14, yang pada waktu itu terdapat sekitar 200 Khanqoh (Riaz Hasan, Islam dari Konservatisme Sampai Fundamentalisme, terj. Dewi Haryani S., (Jakarta: Rajawali Press, 1985), 56-58).

            Arti penting Khanqah timbul terutama dari fungsi- fungsi keagamaan,  kesejahteraan sosial, pendidikan dan kebudayaan. Dalam masyarakat Khanqah telah mengembangkan suatu lingkungan tak berstratifikasi serta  menerapkan cara-cara hidup sederhana dengan dilandasi rasa persaudaraan.  Gaya hidup demikian ternyata menarik perhatian masyarakat, apalagi dari kaum Hindu kasta rendah (baca: kaum harijan atau untouchable caste) yang menjadi “korban” sistem struktur  sosial masyarakat yang sangat berstratifikasi secara kaku. Begitupun kaum Muslim, Khanqah menjadi menarik terutama karena keberadaannya sesuai dengan cita-cita Islam tentang persamaan dan persaudaraan, jauh dari praktek diskriminasi yang  dijalankan kelas penguasa Muslim.

            Namun, pada perkembangannya Khanqah secara idiologis spiritualitas mengalami perubahan penting.  Penganut  Khanqah dan pengetahuan tentang mistitisme yang dipelajarinya  telah bergeser ke arah proses turun temurun,  yang pada gilirannya mengarah pada pertumbuhan hubungan Kyai-Santri  (meminjam istilah popular dari Indonesia), suatu paradigma di mana Kyai adalah pemimpin dan Santri adalah pengikut yang wajib taat dan atau menyerahkan diri pada Kyai.  Kharisma  Kyai tersebut dirutinisasi dalam praktek kepemimpinan Cult-Association (persekutuan pemujaan) yang didasarkan pada aspek keturunan dan bukan pada jasa.  Praktek demikian akhirnya  membangkitkan suatu kelas baru yang terdiri dari orang-orang  yang disebabkan oleh keturunan dari seorang suci sufi.  “Sang keturunan” dapat mengklaim status spiritual mereka yang biasa dikenal dengan sebutan Sajjada-Nishin, Qoddinashin atau  Wali (Ibid., hlm. 62).

            Pengaruh sosial-budaya yang ditanamkan dalam Khanqah oleh Sajjada Nishin pada murid-muridnya ini ternyata menarik perhatian kelas penguasa.  Akhirnya, berdasar  alasan keagamaan dan politis, penguasa pun lantas mengusahakan kerjasama dengan organisasi Khanqah terutama guna memelihara stabilitas politik. Bahkan, penguasa akhirnya juga mempergunakan pengaruh dan kekuasaan Sajjada Nishin terhadap para santri untuk menyediakan tenaga militer baru (mobilisasi) hanya lewat pengumuman singkat. Mekanisme  paling berpengaruh –kendati bukan satu-satunya– yang dipergunakan negara untuk memperoleh kerjasama Khanqah bagi  pemeliharaan stabilitas dan kerukunan sosial ini adalah melalui  pemberian tanah wakaf, yang dikenal dengan Ma’adad-e-ma’ash . Praktek demikian pertamakali dilakukan para Sultan Delhi, yang akhirnya diikuti Kaisar Moghul, bahkan juga oleh kolonial  Inggris.

            Bagi Khanqah sendiri, dengan memiliki tanah luas serta persekutuan politik dengan negara telah menjadikan Kyai sebagai kekuatan  ekonomi dan politik dalam masyarakat.  Kyai akhirnya memegang dan  menggunakan pengaruh politik, ekonomi dan keagamaan yang  besar terhadap sejumlah besar santri mereka. Bahkan, seringkali karena kesamaan kepentingan dengan para tuan tanah Muslim (Zamidar), para Kyai  tak jarang pula mengadakan kerjasama yang berkembang menjadi persekutuan  Kyai-Zamidar, bahkan sering berlanjut pada ikatan perkawinan antara keluarga mereka. Alhasil, elit Kyai-Zamidar akhirnya menjadi  inti yang sangat menentukan dalam masyarakat Muslim sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah “negara” di anak benua India.

Pancaran hati

Pancaran hati

 

Pancaran Hati