Posts Tagged ‘hikmah’

KEDERMAWAN YANG LUAS

Sobat berikut  saya kutipkan tulisan Sam Waskito  tentang kedermawanan,  yang semoga saja bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan kita.Image result for kedermawanan

1. Seorang budak makan roti, di pinggir pagar sebuah kebun milik orang shalih di Madinah. Di hadapannya ada anjing memperhatikan dia makan.
2. Setiap budak itu makan, tak lupa dia melemparkan potongan roti ke anjing, sehingga dia ikut makan. Dia berbuat itu karena “rasa malu kepada Allah” kalau sampai makan sendirian.
3. Orang shalih pemilik kebun kagum melihat sikap budak itu. Lalu dia mendatangi pemilik budak, membelinya, lalu membebaskannya.
4. Sang budak sangat bersyukur kepada Allah atas nikmat kebebasan itu, lalu berterima kasih tulus kepada orang shalih tersebut.
5. Melihat sikapnya yang sopan dan bertauhid, orang shalih itu berkata: “Kebun ini aku serahkan padamu, wahai pemuda.”
6. Pemuda yang semula budak itu sangat bahagia, lalu dia berkata: “Engkau jadi saksinya Tuan, kebun ini sekarang aku waqafkan untuk kaum miskin di Madinah.”
7. Orang shalih tersebut kaget, baru diberi kebun kok sudah diwaqafkan. Dia bertanya, kenapa? “Aku malu kepada Allah, aku diberi nikmat banyak, tapi hatiku masih pelit.”
ITULAH sepenggal teladan tentang KEDERMAWANAN kaum Mukminin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Gambar: Geophy palace.blogspot.com

Cara Bijak Mohammad Ali Menasehati sang Putri

Dunia olah raga dikejutkan dengan kabar wafatnya Muhammad Ali pada 3 Juni 2016 waktu AS atau Jumat (4/6/2016).  Untuk mengenang dan menghormati kehebatan Mohammad Ali,  maka pada kesempatan ini  artikel lama yang pernah saya kutip  dan tampilkan  dalam  blok ini sengaja   saya munculkan lagi.  Semoga  teladan dari Mohammad Ali ini bisa kembali  menjadi amal kebajikan untuk almarhum.  Amin…

Sobat,  hikmah kehidupan dapat diperoleh dari manapun sumbernya.  Hikmah bisa kita dapatkan dari  peristiwa yang kita alami sehari-hari,  dari pengalaman hidup orang lain,  atau bahkan dapat pula kita petik dari kehidupan hewan ataupun bahkan tetumbuhan.   Berikut saya nukilkan sebuah hikmah tentang betapa bijak dan halusnya  cara seorang Mohammad Ali  mendidik/menasehati  sang putri.

SIAPA yang tak kenal Muhammad Ali? Petinju legendaris, dengan julukan “the Greatest” dengan gaya bertinju “kupu-kupu”-nya ini? Di balik kepiawaiannya dalam mengolah jab dan jotosan, ternyata pemahaman keislaman Muhammad Ali patut diteladani. Paling tidak, itulah yang tergambar dari buku karya salah seorang putrinya, Hana Yasmin Ali, yang berjudul: “More than a Hero” (Lebih dari sekedar Pahlawan). Berikut adalah salah satu cuplikan dari buku tersebut, di mana Muhammad Ali memberikan nasihat kepada putrinya tentang wanita yang shalihah, yang paling berharga dan hikmah mengenakan jilbab, menutup aurat, perhiasan wanita. Baca lebih lanjut

Esensi Wibawa Di Hadapan Manusia

Sobat,  berikut saya kutipkan –dari Santrionlie– sebuah kisah tentang Jalaluddin Rumi,  yang intinya soal  “Wibawa Kita Di Hadapan Manusia”. Semoga kisah ini  bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan kita.

Sobat,  Suatu malam, Jalaluddin Rumi mengundang Syams Tabrizi ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Rumi. Setelah semua hidangan makan malam siap, Syams berkata pada Rumi;

“Apakah kau bisa menyediakan minuman untukku?”. (yang dimaksud : arak / khamr)

Rumi kaget mendengarnya, “memangnya anda juga minum?’.

“Iya”, jawab Syams.

Rumi masih terkejut,”maaf, saya tidak mengetahui hal ini”.

“Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah”.

“Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan arak?”.

“Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya”.

“Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang”.

“Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman”.

“Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”.

“Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur”.

Karena kecintaan pada Syams, akhirnya Rumi memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman kaum Nasrani.

Sampai sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya, namun begitu ia masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang.

Mereka melihat Rumi masuk ke sebuah kedai arak. Ia terlihat mengisikan botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar.

Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak. Hingga sampailah Rumi di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak; “Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin yang setiap hari jadi imam shalat kalian baru saja pergi ke perkampungan Nasrani dan membeli minuman!!!”.

Orang itu berkata begitu sambil menyingkap jubah Rumi. Khalayak melihat botol yang dipegang Rumi. “Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini membeli arak dan akan dibawa pulang!!!”, orang itu menambahi siarannya.

Orang-orang bergantian meludahi muka Rumi dan memukulinya hingga serban yang ada di kepalanya lengser ke leher.

Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya. Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara Syams Tabrizi; “Wahai orang-orang tak tahu malu. Kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan. Seseorang dari mereka masih mengelak.

“Ini bukan cuka, ini arak”. Syams mengambil botol dan membuka tutupnya. Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya. Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka. Mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Rumi. Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Rumi hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

Rumi berkata pada Syams, “Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini?”.

“Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi? Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu. Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat. Maka bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman.   Bersandarlah hanya kepada Allah SWT”.

Sobat,  semoga bermanfaat.

Sumber:Santrionline/ Dikutip dari kumpulan kisah Jalaluddin Rumi/https://www.facebook.com/

 

.. KISAH NYATA, .. SURAT ANEH KEPADA DOMPET DHUAFA …

Sobat,   saat ini saya ingin sekali  menampilkan sebuah artikel yang sarat dengan hikmah kehidupan.  Tulisan ini sebenarnya sudah pernah  saya baca  lama sekali.  Kebetulan  saya “bertemu” kembali  dengan tulisan yang sama,  dan kebetulanpula  saya sudah membuat blog ini,  sehingga  tidak ada salahnya peristiwa yang benar-benar terjadi ini  bisa menambah  hasanah tentang  arti penting menjaga harga diri,  membangun kemandirian,  dan  menjauhkan diri dari menghiba pada orang dengan cara mengeksploitasi kekurangan yang dimiliki.    Hasil gambar untuk hidup mandiri

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Beberapa tahun silam, ada sebuah surat yang cukup unik datang ke kantor Dompet Dhuafa (DD). Biasanya setiap hari lebih dari 20 surat permohonan bantuan singgah ke kantor DD. Baca lebih lanjut

Bapak Tua Penjual Amplop

Sobat,  berikut saya kutipkan artikel yang semoga  bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan kita.

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat. Baca lebih lanjut

Arthur Ashe : Antara Sabar dan Syukur

Sobat,  berikut sebuah tulisan menarik yang terlalu bagus untuk di lewatkan.  Tulisan ini  saya kutip dari   grup anak sekolah teman saya.  Dari manapun asalnya yang pasti,  substansi dari tulisan ini  amat berharga,  bahkan mungkin bisa ditarik hikmahnya untuk kehidupan kita.

Sobat,   Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983. Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yang menyampaikan:  “Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”
Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat. Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi? Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.𞮗

Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi? Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus

Sobat,  semoga bermanfaat

Baca lebih lanjut

Gendong Sang Sahabat yang Derita Penyakit Polio ke Sekolah Selama 3 Tahun

Sobat,  berikut saya kutipkan sebuah kisah  tentang tulusnya  persahabatan.Gadis Ini Gendong Sang Sahabat yang Derita Penyakit Polio ke Sekolah Selama 3 Tahun

Sobat,  Sebuah kisah nyata mengharukan kembali terjadi di Cina. Seorang gadis berusia 13 tahun di propinsi Hunan bernama He Qin-jiao menjadi salah satu contoh tentang bagaimana kebaikan hati sesama manusia dan arti dari persahabatan yang sesungguhnya. Meski usianya masih sangat muda yaitu 13 tahun, namun percaya atau tidak bahwa Qin selalu rajin menggendong sang sahabat yang menderita penyakit polio di punggungnya setiap pergi sekolah, setiap hari selama 3 tahun dengan jarak sekitar 4 kilometer.

Dilansir China.org, ketika Qin berusia 9 tahun, ia menyadari bahwa sahabatnya, He Ying-hui tak bisa lagi pergi ke sekolah karena terserang penyakit polio dan keluarganya tak dapat menggendongnya ke sekolah. Jadi ia pun memutuskan untuk membawa sahabatnya tersebut sendiri.Qin selalu membawa He ke sekolah selama 3 tahun penuh, hingga akhirnya pemerintah lokal mendengar dedikasinya untuk sang sahabat dan memberikan He sebuah kursi roda pada September tahun lalu. Namun dedikasi Qin tak berhenti sampai di situ. Ia bangun setiap jam 6 pagi, mengerjakan pekerjaan rumah dan buru-buru pergi ke rumah He untuk mengajaknya ke sekolah. Baca lebih lanjut