Posts Tagged ‘islam’

Berkunjung ke Universitas Islam Madinah : Peluang Kerjasama ?(Bagian 21)

Senin,  9 April  2017 pagi,  sinar cerah mentari kembali  menyambut kami.  Langit ceria.  Cakrawala pun memperlihatkan senyum  gembira.  Mas Nahidl Silmy kembali  menjemput mengantarkan kami  menuju kampus  tempat dia menempuh ilmu selama ini.  Karena waktu perjanjian memang belum saatnya,  keponakan  K.H. Mustofa Bisri ini lantas mengajak kami putar-putar kampus termasuk asrama mahasiswa dari berbagai bangsa.

Akhirnya tibalah waktu  wawancara,  dan kami diterima dua pejabat asli Saudi Arabia,  pertama  Dr. Ibrahim Sulthon,  wakil kepala biro urusan alumni bidang hubungan alumni,  kedua,  Dr. Abdul Aziz wakil kepala biro urusan alumni bidang ilmu pengetahuan.

“Sebagian besar mahasiswa di Universitas Islam Madinah adalah warga asing”,  kata Dr. Abdul Aziz memberi informasi perdana,”Terdapat siswa dari 170 negara ,  dengan jumlah mencapai  20 ribu mahasiswa. Hanya 30 persen dari mahasiswa non Saudi yang biaya sendiri”.

Sekilas kulihat Wawan manggut-manggut mendengar penjelasan,  dengan mas Nahidl  yang bertugas menerjemahkan.

Mahasiswa penerima beasiswa di UIM  mendapat fasilitas antara lain: (1). Tiket pesawat saat diterima menjadi mahasiswa di Universitas dan pada setiap akhir tahun akademik, sesuai dengan aturan yg berlaku. (2). Mukafa’ah (uang tunjangan) setiap bulan. (3). Hadiah tunai bagi mahasiswa yang berprestasi. (4). Asrama gratis dan perabotannya. (5). Makan di Kantin Universitas dengan biaya murah. (6). Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Universitas. (7). Sarana transportasi untuk shalat di Masjid Nabawi, Umrah dan wisata lainnya sesuai dengan jadwal yang ditentukan. (8). Fasilitas olah raga yang disediakan oleh universitas.

“Khusus dari Indonesia,  sekarang jumlah siswa mencapai  500 orang untuk tingkat Sarjana,  70 untuk level MA,  dan selebihnya 13 orang  kandidat Doktor”,   timpal  Dr. Ibrahim Sulthon. “Beasiswa untuk Indonesia memang paling banyak jumlahnya”.

:”Luar biasa,  sedemikian banyak beasiswa Arab Saudi yang diberikan pada Indonensia”,   batinku terkesima mendengar informasi yang luar biasa.

“Sampai sekarang,  alumni asal Indonesia  banyak sekali jumlahnya”,  lanjut Dr. Ibrahim Sulthon,  “S1 saja mencapai 1.227 orang,  belum lagi level MA tercatat 140 orang,  ditambah  Doktor berjumlah 43 orang”.

Dari berbagai alumni asal Indonesia,  terdapat beberapa nama yang cukup dikenal antara lain : (1). Muhammad Maftuh Basyuni(Mantan Menteri Agama RI), Hidayat Nur Wahid (Mantan Presiden Partai Keadilan dan mantan Ketua MPR), Salif Segal Al Jufri (Mantan Menteri Sosial RI), Abdul Gani Kasuba (Gubernur Maluku Utara), Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor), Ahmad Cholil Ridwan (salah satu ketua MUI Pusat, Bidang Remaja dan seni Budaya) dan Firanda Andirja Abidin, dai Indonesia, yang pernah menjadi  pengisi kajian rutin bahasa Indonesia di Masjid Nabawi.  Alumnus di Malaysia salah satunya adalah  Abdul Hadi bin Awang (Presiden Partai Islam Se-Malaysia).

Mas Hamdan terlihat manggut-manggut.  Fakhry nampak terkesima,  .  terpana dengan alumnus Indonesia  yang sedemikian banyak jumlahnya.

“Mengingat sedemikian banyak alumnus kami punya,  maka Universitas Islam Madinah membentuk biro khusus yang menangani alumni yang dimiliki”,  tambah Dr. Abdul Aziz,  “Intinya  kita terus menjalin komunikasi,  bahkan termasuk melatih mereka agar memiliki kemandirian.  Janganlah para alumni setelah kembali ke negaranya berharap pada “pemberian” masyarakat,  tapi hendaknya bisa berpikir apa yang bisa diberikan pada masyarakat”.

“Ada beberapa hal yang kami lakukan terkait para alumni”,  timpal Dr. Ibrahim Sulthon, “Pertama, kita membuat buletin untuk sarana komunikasi antar alumni,  secuil media sebagai wahana komunikasi dengan mantan siswa.  Buletin bisa berperan sebagai sarana pengasah kemampuan menulis,  agar terbiasa berkarya sebagaimana ulama-ulama produktif lainnya. Kedua, kita juga membangun komunikasi lewat intra sosial media,  dimana  berbagai masukan (kritik dan saran)  dari mahasiswa  dan  alumni dinantikan juga. Hanya dalam waktu tiga hari,  sudah akan dijawab rektor.  Masukan dan atau kritikan misalnya,  bisa soal ijazah yang telat,  fasilitas asrama yang rusak.  Bahkan,  berdasar masukan,  ada gedung di kawasan kampus akan dirubuhkan guna diubah menjadi  lokasi joging dan atau taman”.

Dr. Ibrahim Sulthon sejenak jeda memberi penjelasan,  sejurus kemudian dia menjelaskan,  ”Ketiga,  melalui komunikasi ini  para alumni bisa mengajukan permintaan  bantuan,  seperti tenaga guru,  ketika alumni di masing-masing negara  membangun lembaga pendididkan. Kepada lulusan bahkan diberi bekal pelatihan, seperti: kemampuan manajemen, interview untuk mendapat pekerjaan,  bahkan pada daurah terakhir diajari  cara membuat proyek keilmuan.  Misalnya membangun institusi pendidikan dengan tanpa modal.  Caranya : dia bisa mencari bantuan, yang diajarkan secara step by step”.

”Apakah di kampus ini,  juga dibuka peluang kerjasama dengan pihak luar  non alumni,  misalnya dalam wujuk kerjasama penulisan ?,  sambutku ketika   dibuka peluang untuk bertanya.

”Oh ada”,  tukas Dr. Ibrahim Sulthon,  ”kita membuka peluang kerjasama keilmuan,  seperti Daaurah tokoh,  menulis bersama dalam jurnal,  serta kerjasama penelitian. Anggaran kerjasama yang kami sediakan cukup besar. MOU sampai sekarang belum banyak diajukan,  oleh karena itu peluang kerjasama masih sangat terbuka dilakukan”.

Kuperhatikan Mas Hamdan dan Wawan matanya langsung berbinar,  demi mengetahui peluang kerjasama masih terbuka lebar.

”Persyaratan satu saja,  kerjasama tak berpotensi melanggar aturan kedua negara”,  lanjut Dr. Ibrahim Sulton,  ”Hanya saja,  untuk bidang politik dan ekonomi belum bisa.  Sedangkan untuk sosial keagamaan, dakwah, dan bahasa Arab,  serta isu tentang wanita, masih  terbuka lebar peluangnya.  Khusus isu-isu politik saat ini baru ada di universitas King Saud di Riyad saja,  yang kebetulan para diplomat hampir semua alummnus sana”.

”Tahapan untuk bangun  kerjasama seperti apa ?,  maksudku,  bagaimana  proses untuk mewujudkannya ?, tanyaku singkat.

”Sederhana saja.  Dari LIPI secara kelembagaan,  silahkan mengajukan ke Rektor,  ke Bagian Hubungan Internasional”,  sahut Dr. Abdul Aziz, ”Intinya yang penting thema kerjasama sesuai misi Jamiah. Bisa kerjasama penelitian, bisa berupa pelatihan (dari Arab ke Indonesia misalnya), bahkan termasuk pertukaran pelajar dengan ijasah dari Jamiah”

Mentari makin menjulang tinggi,  dan diskusi inipun segera  kami akhiri.  Semoga peluang kerjasama dapat ditindaklanjuti.  Syukron Jaziilan ya  Doktorain:  terima kasih banyak wahai dua Doktor:   Ibrahim Sulthon wa  Abdul Aziz.***

 

Iklan

Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Perkampungan Purba (Bagian 11)

Rabo tanggal 4 April pagi,  kami  sudah berdandan rapi.  Kulihat  Mas Hamdan  ceria mukanya.  Demikian juga Wawan, menyungging  seberkas senyum  di sudut bibirnya.  Adapun Fakhry   matanya berbinar-binar  menunjukkan tanda  bahagia.  Saya sendiri sedang merasakan  selaksa bahagia  kini  sedang berkuasa  di hati dan pikiran  saya.

Rabo  ini jadwal kegiatan kami adalah melakukan kunjungan ke berbagai pusat Peradaban Islam. Dalam prosesi para jamaah haji,  acara semacam ini biasa disebut  ”City Tour”. Namun,  realitas yang kami jalankan secara substansi sangat berbeda sekali,  sebab kami berusaha menangkap esensi historis dari lokasi,  esensi kultural dari tempat-tempat yang kami kunjungi.  Apalagi,  berbeda dari jamaah haji dan umrah yang biasa ditambah dengan kunjungan ke laut merah  dan sentra perdangan Abadi di Jeddah,  maka  kunjungan ini sama sekali tak tercakup di dalamnya.

Kami hanya berputar di sekitar Makkah,  mulai dari pemakaman umum Ma’la,  lokasi Gua Tsur tempat bersembunyi nabi ketika berhijrah,  serta yang  pasti tak ketinggalan adalah  Armina (Arafah, Mudzalifah dan Mina) yang terkait ibadah haji. Lokasi ini memang agak umum dikunjungi,  namun alhamdulillah kami disertai seorang kandidat Doktor asal Indonesia  bernama mas Mubarak Ainul Yaqin Lc. MA.  Melalui belialuh berbagai informasi di luar mainstream berhasil kami dapatkan,  sehingga menambah banyak informasi terkait  catatan selama perjalanan – penelitian.

Mengawali  dari kawasan Misfalla,  yakni lokasi  hotel   Nawarat Al-Shams tempat kami menginap,  kami beranjak  menyusuri jalan Ibrahim Al Khalil,  yang jika terus berjalan niscaya akan sampai pada  wilayah yang disebut Ma’la. ”Tiga kawasan ini merupakan  cikal bakal dari kota Makkah”,  kata mas Mubarrok mengawali penjelasannya, ”Misfalla dan Ma’la merupakan kawasan yang telah terbentuk di jaman Ibrahim”.

Misfalla  sebagaimana akar katanya bermakna rendah-bawah. Dia berakar dari kata sufla artinya bawah, yang bisa dikembangkan menjadi kata asfal (paling bawah).  Dapat dipahami jika bahan pembuatan jalan raya biasa kita kenal dengan kata aspal,  karena untuk dibawah, untuk diinjak-injak manusia maupun mobil.  Misfalla memang  merupakan dataran rendah.  Dataran rendah inilah,  sejak jaman nabi Ibrahim  telah dijadikan sebagai  kawasan pemukiman.

Adapun Ma’la sebagaimana akar katanya berarti atas-tinggi.  Dia berasal dari kata ’ala artinya di atas, yang biasa dikembangkan menjadi kata ’ulya (tertinggi).   Ma’la memang berwujud dataran tinggi.  Dataran tinggi ini  sejak jaman Ibrahim sengaja dijadikan kawasan pekuburan,  karena ternyata di lokasi ini terdapat pasir dan atau tanah yang dapat mempercepat pembusukan,  sebagai proses awal untuk menjadi tanah.  Dengan demikian lokasi Ma’la yang dikenal sebagai lokasi pemakaman umum,  sebagai tempat yang  terkenal untuk pekuburan para jamaah haji selama di Makkah,  keberadaannya bukan baru,  melainkan telah bersifat purba.

Wilayah Misfalla dan Ma’la  dihubungkan oleh sebuah jalan raya  yang kini  dikenal sebagai  Syaari’  Ibrahim AlKhalil.  Eksistensi  jalan ini juga bersifat sangat lampau,  sama tuanya dengan kedua wilayah yang dihubungkannya.  Bahkan,  nama jalan itupun diambilkan  dari nama nabi Ibrahim   A.S.  Bapak  dari para nabi sebagai pelopor pendatang di  tanah  Makkah (Bakkata mubarokun) ini  bergelar  al Khalil,  sehingga jalannya pun lantas diberi nama Ibrahim Al Khalil.

Misfalla, Ma’la,  dan jalan Ibrahim AlKhalili adalah cikal bakal Makkah al Mukarromah,  yang eksistensinya  telah bersifat purba..***

 

 

 

 

 

KEDERMAWAN YANG LUAS

Sobat berikut  saya kutipkan tulisan Sam Waskito  tentang kedermawanan,  yang semoga saja bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan kita.Image result for kedermawanan

1. Seorang budak makan roti, di pinggir pagar sebuah kebun milik orang shalih di Madinah. Di hadapannya ada anjing memperhatikan dia makan.
2. Setiap budak itu makan, tak lupa dia melemparkan potongan roti ke anjing, sehingga dia ikut makan. Dia berbuat itu karena “rasa malu kepada Allah” kalau sampai makan sendirian.
3. Orang shalih pemilik kebun kagum melihat sikap budak itu. Lalu dia mendatangi pemilik budak, membelinya, lalu membebaskannya.
4. Sang budak sangat bersyukur kepada Allah atas nikmat kebebasan itu, lalu berterima kasih tulus kepada orang shalih tersebut.
5. Melihat sikapnya yang sopan dan bertauhid, orang shalih itu berkata: “Kebun ini aku serahkan padamu, wahai pemuda.”
6. Pemuda yang semula budak itu sangat bahagia, lalu dia berkata: “Engkau jadi saksinya Tuan, kebun ini sekarang aku waqafkan untuk kaum miskin di Madinah.”
7. Orang shalih tersebut kaget, baru diberi kebun kok sudah diwaqafkan. Dia bertanya, kenapa? “Aku malu kepada Allah, aku diberi nikmat banyak, tapi hatiku masih pelit.”
ITULAH sepenggal teladan tentang KEDERMAWANAN kaum Mukminin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Gambar: Geophy palace.blogspot.com

Mendebat Politik Agama ? (Tulisan 4, Terakhir )

Adakah ajaran Islam yang secara eksplisit (tersurat) mencantumkan konsep kepemimpinan dalam kehidupan bermasyarakat ?  Muhammad S.A.W pernah berkata “jika tiga orang (atau lebih) di antara kamu berjalan bersama, salah seorang hendaknya ditunjuk menjadi pemimpin”.  Pada kesempatan lain, Muhammad berkata pula “Muslim dilarang masuk ke dalam wilayah yang tanpa penguasa”.  Al Qur’an sebagai referensi pertama dan utama bagi Muslim pun secara jelas menegaskan bahwa Muslim diharuskan taat kepada Allah (Tuhan), Rosul, dan Amir (pemimpin/pemerintah). 

            Ucapan, tindakan serta takrir Muhammad (Hadits) dan firman Allah (al-Qur’an) adalah referensi (sumber) utama ajaran Islam.  Mengingat Alqur’an dan Hadits telah dengan jelas menekankan perlunya sistem kepemimpinan, maka implikasinya adalah kepemimpinan dalam Islam merupakan konsep penting yang harus diamalkan pemeluknya bila ingin ingin terdaftar dalam deretan Muslim sejati.

            Alhasil, berpijak dari uraian tadi kiranya kita dapat terarahkan pada jawaban atas persoalan awal tulisan ini, yakni apakah ada kaitan antara Islam dengan politik.  Nah, karena Islam menekankan pentingnya kepemimpinan, maka konsekuensinya Islam secara inherent telah pula menekankan pentingnya persoalan politik.

            Hampir semua ilmuwan sosial sependapat bahwa soal kepemimpinan dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah merupakan soal politik.  Hal ini mengandung makna bahwa bicara soal kepemimpinan berarti bicara pula soal politik, karena  masalah kepemimpinan memang tak terlepas dari konsep politik. Begitu pula, bicara kepemimpinan dalam arti sangat luas akhirnya akan bermuara pula pada suatu tatanan organisasi berupa negara.  Pun sebaliknya, setiap bicara soal organisasi kenegaraan konsekuensinya akan tak terhindarkan pula untuk membahas apa yang biasa disebut the ruling elit alias elit kepemimpinan.  Karena kepemimpinan adalah soal politik, dan masalah kepemimpinan adalah pula salah satu konsep Islam, maka konsekuensi logisnya Islam mengajarkan soal-soal politik, yang berarti pula soal kenegaraan.  Fakta demikian inilah yang dipakai landasan adanya suatu keharusan bagi Muslim mengkaitkan Islam dengan kehidupan politik.  Bahkan, ada sementara pihak yang berpendapat, tidaklah Islamis bila seorang Muslim sengaja berupaya memisahkan Islam dari soal politik dengan mengatakan Islam “yes”, politik “no”.  Dan atas dasar itu pulalah Ibnu Khaldun pernah menyatakan, kekuasaan politik adalah suatu keharusan dalam masyarakat Islam (.Rahman Zaenuddin, “Pokok-Pokok Pemikiran Islam dan Masalah Kekuasaan Politik”, dalam Miriam Budihardjo (ed.), Kekuasaan dan Wibawa, (Jakarta: Sinar Harapan, 1984)).     

            Lantas, bagaimana kaitan Islam dan Politik bila dilihat dari aspek sejarah kepemimpinan Mohammad ?  Adakah Muhammad mengaitkan soal-soal politik dengan perannya sebagai pemimpin agama (Rasul) ?.Bertolak dari kenyataan karir Nabi Muhammad, sosiolog AS kelahiran Pakistan, almarhum Fazlur Rahman  berpendapat bahwa pada akhir hayatnya  Muhammad Rasulullah berperan sebagai Nabi-Penguasa dari hampir seluruh semenanjung Arabia, kendatipun dia tak pernah menyebut dirinya sebagai seorang penguasa.  Ini adalah fakta sejarah.  Memang, sebutan apa yang diberikan untuk negara yang dia pimpin saat itu tidak begitu jelas.  Dan benar pula bahwa sebutan negara Islam (Daulah Islamiah) saat itu belum lagi dikenal.  Namun, fakta sejarah tetap “berkata” bahwa Mohammad adalah seorang penguasa di samping sebagai seorang rasul.  Namun perlu dicatat bahwa agama dan negara di masa Nabi bukanlah sebagai saudara kembar.  Juga, tidaklah satu sama lain saling bekerja sama.  Lantas bagaimana ? Menurut Rahman,  negara adalah pantulan dari nilai-nilai moral dan spiritual serta prinsip-prinsip yang disebut Islam.  Negara juga bukan perpanjangan dari agama, melainkan sebagai instrumen dari Islam.  Dengan kata lain, Islam dan Negara (politik) bukanlah dua sisi dari suatu mata uang, melainkan negara merupakan konsekuensi logis dari penerapan ajaran Islam (Fazlur Rahman, Islam Modern Tantangan Pembaruan Islam, Yogyakarta, 1987, hlm. 10.  Dengan nada yang sama lihat pula T.M. Hasbi Ash-Shiddiqi, Ilmu Kenegaraan dalam Fiqh Islam, (Djakarta, 1969), hlm. 14).

            Setelah Nabi wafat prinsip negara sebagai pantulan dari nilai-nilai moral dan spiritual Islam terus dilanjutkan oleh para pengikutnya.  Mereka pun pada waktu yang sama berperan sebagai warosatul ambiya (pewaris nabi), penerus misi penyiaran dan penyebaran ajaran Islam sekaligus sebagai kepala negara untuk memimpin dan melaksanakan hukum.  Kepemimpinan demikian ini biasa kita kenal dengan Khulafa ur-Rosyidin, yakni Abu Bakar (I), Umar bin Khottob (II), ‘Utsman bin Affan (III), ‘Ali bin Abi Tholib (IV).  Namun, setelah keempat Kholifah itu wafat, pemerintah selanjutnya lebih bersifat imperium non-Islami kendatipun mereka masih menyuntikkan beberapa prinsip Islam dalam pemerintahan, serta masih berperan pada waktu yang sama sebagai pemimpin pemerintahan dan agama.

Memaknai Ucapan Ahok Terkait Al Maidah 51: Kesengajaan ataukah Keseleo Lidah ?

Sobat,  “Ahok” beberapa bulan terakhir telah menyita perhatian bangsa Indonesia.  Ahok dengan segala kontroversi  ucapan-ucapannya  telah menjadi  polemik dalam masyarakat bangsa kita.  Bagi para  pendukungnya,  ucapan-ucapan Ahok disebut sebagai wujud ketegasan dalam memimpin.  Namun,  bagi  yang kritis terhadap Ahok,  kata-kata yang keluar dari mulut Ahok bukanlah ketegasan tetapi refleksi dari sikap kasar dan arogan, yang sangat tidak patut diucapkan –apalagi oleh pemimpin,  pejabat publik– dalam masyarakat berkeadaban. 

Ucapanmu adalah harimaumu,  itulah  adagium yang populer,  dan adagium itu pula yang akhirnya telah sedikit menjerat langkah Ahok dalam memimpin ibukota.  Ahok terperangkap pada sebuah ucapannya sendiri,   yang oleh pihak lain  dianggap telah menyinggung sebuah komunitas umat beragama,  yakni umat Islam.

Surat Al Maidah ayat 51 kini memang menjadi viral sejak beredar berita Ahok menggelar blusukan dan berdialog dengan masyarakat Kepulauan Seribu. Saat memberikan sambutan, Ahok sempat menyinggung mengenai Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, salah satunya terkait isu pemimpin non Muslim. Kalimat itu diucapkan Ahok dan terekam dalam sebuah video di menit 23. Dia meminta warga Kepulauan Seribu tetap memilih dengan hati nurani, meski ada yang pihak yang membawa-bawa surat Al Maidah ayat 51.  Di video itu, Ahok secara implisit tampak mengarahkan warga untuk memilihnya dengan membantah penafsiran surat Al Maidah.  “Bapak ibu ga bisa pilih saya….Dibohongin dengan surat Al Maidah 51…macem-macem itu…itu hak bapak ibu, kalau bapak ibu merasa ga milih neh karena saya takut neraka, dibodohin gitu ya..gapapa…” .

Belakangan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, atau akrab disapa Ahok, diprotes bahkan dilaporkan ke kepolisian dengan tuduhan  telah melakukan pelecehan terhadap ayat suci Alquran. Ahok dilaporkan untuk  pasal 156 KUHP jo pasal 27-28 ITE tentang Penistaan Agama dan Pencemaran Nama Baik Agama pasal 310-311 KUHP Menurut pelapor,  “Mestinya, dia (Ahok) tidak perlu menyinggung soal Alquran. Dia tidak paham dan tidak mengimani. Itu kan hak umat Muslim. Kalau dia mengajak agamanya sendiri, ya tidak apa-apa, dan tidak ada masalah”.

Pihak ahok dan pendukungnya tentu membantah tuduhan ini dan menyatakan sama sekali tidak bermaksud menista agama.  Bahkan,  dalam gelar perkara kasus Ahok yang dilaksanakan pada hari Selasa  (15/11/2016), ahli bahasa dari kubu Ahok menyatakan bahwa Ahok tidak menistakan agama maupun Al Qur’an.

Namun ahli bahasa dari pihak pelapor yang diwakili oleh Neno Warisman membantah argumen tersebut dengan pernyataan yang cerdas.  Disebutkan oleh Neno bahwa seseorang yang berucap sama dengan sebuah tindakan. Salah satu yang menjadi analoginya adalah ketika seseorang melakukan akad nikah. “Berbicara itu sama dengan bertindak. Misalnya akad nikah. Akad nikah itu tindakan berbicara saya terima nikahnya makanya dengan tindakan berbicara itu yang haram menjadi halal,” ucap Neno di Mabes Polri,  sebagaimana dikutip dari Republika, Rabu (16/11/2016).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa apa yang disampaikannya merupakan bagian  dari teori linguistik generatif.

Hal kedua dalam paparannya, Neno Warisman mengungkapkan bahwa jika seseorang berbicara tanpa ada niat, berarti orang tersebut tidak sadarkan diri, gila atau mengigau. Sementara Ahok secara sadar mengungkapkan ucapannya terkait surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu. “Orang berbicara itu tidak mungkin enggak pakai niat kecuali dia gila atau ngigau. Dan dia tidak mungkin berbicara tanpa tujuan,” lanjut Neno.

Setelah itu Neno mengemukakan tiga hal mendasar terkait ucapan Ahok.Yang pertama adalah apa yang diucapkan oleh seseorang merupakan kesesuaian
hati dan pikirannya. Jika tidak, maka ia telah berdusta. Hal kedua adalah ucapan Ahok tentang Surat Al Maidah 51 sudah diniatkan atau ada niat sebelumnya. Dan yang terakhir adalah adanya keinginan dari orang  yang berucap untuk mempengaruhi orang lain.

Sobat,  apa dan bagaimana kelanjutannya,  tentu diserahkan pada  proses hukum. Namun,  hikmah yang bisa diambil dari  kasus Ahok adalah pentingnya menjaga lisan agar tak melukai perasaaan.  Ada sebuah ajaran agama yang menyatakan:  Salaamatul insaan fii hifdzil lissaan: kesalamatan manusia itu terletak pada kemampuan menjaga lisannya.  Oleh karena itu hidup yang terbaik adalah bagaimana kita menjaga dengan baik lisan kita,  sebab sebagaimana pepatah Arab  acapkali ucapan itu bahkan lebih tajam daripada mata pedang: Rubba qoulin asyaddu min shoulin.  Kata Nabi SAW  jika kita  tidak bisa berkata baik  lebih baik diam saja,  fal yaqul khoiron au liyasmut.

Sumber: “Patahkan Argumen Kubu Ahok Saat Gelar Perkara, Begini Pernyataan Cerdas Neno Warisman”,  KabarMakkah. Com  dengan beberapa tambahan di pengantar dan penutup

Gambar : https://www.facebook.com/BahasaArabBahasaAlQuran/photos

Mendebat Politik Agama ? (3 dari 4 tulisan)

Penggunaan akal pikiran yang dilandasi oleh salah satu dan atau kedua faktor yang melatar belakanginya seperti diulas pada tulisan 2, akhirnya muncullah perbedaan, pertentangan, bahkan penyimpangan atas persepsi dan penafsiran syariat Tuhan (Osman Raliby, Akal dan Wahyu, (Jakarta: Media Dakwah, 1981).. hkan, atas pemakaian akal pula tak jarang terjadi polarisasi pemikiran di antara manusia, kendatipun mereka punya pengalaman dan pendidikan yang sama, serta punya posisi itikad keilmuwan yang sama, yakni bebas nilai tanpa tendensi. 

            Beda penafsiran ini –baik yang dilatarbelakangi beda pendidikan, pengalaman, atau akibat tendensi tertentu serta penerapan akal pikiran secara bebas– telah menghasilkan polarisasi pemikiran.  Dan polarisasi pemikiran tersebut tidak jarang pula telah mengarahkan manusia pada kesalahpahaman dan pertentangan, bahkan sampai ke pertumpahan darah. Dengan demikian berarti bahwa pengabdian manusia terhadap Tuhan, baik dalam wujud Hablun minallah maupun Hablun minannas menjadi terabaikan. Fungsi manusia sebagai khalifah bukan saja tak terlaksana, melainkan justru manusia menjadi perusak bumi sebagaimana pernah dikhawatirkan para malaikat pada awal penciptaan manusia pertama, ADAM A.S. (Q.S. 2 : 30)

            Karena kecenderungan polarisasi yang dampaknya sangat mengerikan itu,  maka sebagai tindakan preventif Islam telah melontarkan suatu alternatif pemecahan dalam wujud konsep kepemimpinan. Dengan kepemimpinan manusia akan terarahkan pada pemikiran bebas namun tetap merujuk pada sinkronisasi dan kesepakatan bersama terhadadap penafsiran syariat, termasuk pula dalam pelaksanaannya.  Minimal dengan kepemimpinan maka perbedaan pemikiran dapat dijembatani sedemikian rupa, sehingga mis-understanding dan rasa saling curiga dapat diminimalisir. 

            Islam memang telah menekankan betapa pentingnya prinsip kepemimpinan ini, baik secara eksplisit maupun implisit.  Prinsip tersebut terlihat misalnya dari ajaran sholat yang menekankan pentingnya berjamaah melalui sistem makmum – imam, pemimpin dan yang dipimpin. Penerapan prinsip “kepemimpinan” dalam sholat ini malah kedudukannya diutamakan 27 derajad dibanding sholat sendirian. Sistem jamaah ini bahkan dimasukkan dalam hukum sunnah muakad yang berarti mendekati wajib.  Artinya, bisa tidak dilaksanakan hanya dalam kondisi sangat terpaksa.

            Prinsip sholat berjamaah secara filosofis memberi ajaran tentang pentingnya kebersamaan, persatuan, serta pentingnya kepemimpinan.  Dalam kehidupannya Umat hendaknya menerapkan tingkah laku integral dalam ukhuwah: tidak bertindak sendiri-sendiri dan atas dasar kepentingan serta kamauan pribadi, melainkan bersatu di bawah satu kepemimpinan yang berorintasi pada satu tujuan, yakni pengabdian.

            Dalam sholat berjamaah terdapat pula filsafat mekanisme teguran oleh makmum (bawahan, rakyat) terhadap imam (pemimpin), bila sang pemimpin melakukan kesalahan. Caranya tidak bebas menurut sekehendak si makmum, melainkan berdasar pada mekanisme tertentu yang telah ditetapkan hukum, yakni: menegurnya dengan mengucap Subhanallah.  Ajaran demikian bila dirujukkan pada sistem kepemimpinan berarti bahwa bila pemimpin melakukan kesalahan, rakyat dan atau bawahan berhak bahkan berkewajiban melakukan koreksi, peringatan, oposan pada sang pemimpin, yang tentu saja melalui cara-cara yang telah ditetapkan hukum. 

            Sholat secara implisit telah pula mengajarkan mekanisme pergantian kepemimpian.  Jika sang pemimpin  batal wudlu –sebagai syarat sahnya sholat–  maka pemimpin (Imam) dengan kesadaran diri dan  tanpa diminta untuk mundur dari posisi kepemimpinannya, bahkan dari sholatnya.  Artinya, akibat persyaratan awal untuk melakukan sholat batal (gugur) maka gugur pula posisinya sebagai imam, dan oleh karena itu ia harus mundur dari jabatannya, mundur dari jamaahnya. 

            Setelah imam mundur, apakah para makmum (rakyat) lantas sholat sendiri tanpa seorang pemimpin ?  Jawabnya tidak. Sistem keimaman (berjamaah) harus tetap dilanjutkan.  Bahkan dalam situasi kritis sekalipun di mana sang pemimpin (imam) tidak mampu melaksanakan kepemimpinannya bukan lantaran batal wudlu, melainkan mati mendadak misalnya, sistem berjamaah tetap harus dilanjutkan.  Sebagai contoh, tatkala Umar bin Khottob (Khulafa ‘urrosyidin kedua) memimpin sholat berjamaah ia ditikam oleh seorang munafik bernama Abu Lu’lu’.  Akibatnya ia pun tersungkur.  Namun, apakah sholat lantas bubar atau minimal berubah menjadi sholat munfarid, yakni sholat sendiri-sendiri ? Ternyata tidak. Sholat berjamaah tetap berlanjut, di mana Abdurrahman bin Auf yang berdiri di belakang Umar segera maju ke depan menggantikan posisi imam yang lowong itu.

            Kejadian tersebut telah menjelaskan bahwa bila sang imam berhalangan, baik berhalangan sementara (batal wudlu) maupun berhalangan tetap (mati) maka makmum di belakang imam yang berhak dan harus menggantikan imam.  Dan oleh karena itu, dalam prinsip berjamaah, diajarkan pula bahwa  makmum  yang berdiri tepat dibelakang imam harus mempunyai kapabilitas tertentu yang diperlukan untuk menjadi seorang imam, sebagai ancang-ancang pengganti bila sang imam berhalangan.

            Filsafat Sholat telah memperlihatkan betapa pentingnya prinsip kepemimpinan dalam tatanan Islam. Sebenarnya masih terdapat banyak nilai-nilai filsafati seputar kepemimpinan-kerakyatan seputar sholat ini yang dapat digali lebih lanjut, seperti mekanisme pengangkatan dan atau pemilihan, sikap “aspiratif” imam, larangan bagi imam yang tak disukai makmum, dan lain sebagainya.

Mendebat Politik Agama ? (2 dari 4 tulisan)

Bagaimanakah pola keterkaitan antara politik dan Islam, sehingga politik dapat dikatakan sebagai konsekuensi logis dari ajaran Islam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kiranya kita harus memahami dulu apa dan bagaimana kedudukan, peran dan tugas manusia dalam kehidupan ini, terutama ditinjau dari sudut pandang Islam.

            Dalam konsep Islam tujuan utama dari penciptaan manusia adalah agar manusia (sebagai mahluq) mengabdi pada Tuhan Sang Pencipta (al-Khaliq), (Q.S:51:56). Pengertian “mengabdi” dalam konteks ini mengandung dua wujud, yakni Hablun minallah dengan cara menerapkan sikap mengakui keberadaan Allah baik dalam prinsip Uluhiyah (satu-satunya sesembahan), Rububiyyah (satu-satunya pemilik dan pemelihara alam semesta dan isinya), maupun Mulkiyah (satu-satunya sumber dan pemilik segala kekuasaan).  Wujud yang kedua adalah  Hablun minannas  yaitu menerapkan sikap menjaga keharmonisan hubungan antar sesama manusia,  termasuk pula memelihara lingkungan yang disediakan sebagai sarana untuk menunjang keharmonisan hubungan kemanusiaan tersebut.  Dalam wujud kedua inilah manusia berperan sebagai khalifatullah fil Ard (wakil Allah di bumi) untuk mengatur dan memakmurkan kehidupan dunia.  Kedua wujud pengabdian tersebut satu sama lain merupakan dua hal yang integral dan tak terpisahkan.  Artinya, wujud pengabdian pertama akan berperan sebagai ruh bagi terealisirnya wujud pengabdian kedua.  Dan sebaliknya, wujud pengabdian kedua adalah pula sebagai bagian penting bagi realisasi wujud yang pertama.  Dengan kata lain, kedua wujud pengabdian tersebut pada dasarnya merupakan dua muka dari satu mata uang. 

Baca lebih lanjut