Posts Tagged ‘keutamaan’

Pancaran hati

 

Iklan

Keistimewaan Air Zamzam

Sobat,  tahukah anda bahwa air Zamzam ternyata memiliki keunikan dan atau keistimewaan yang luar biasa ? Ia istimewa dalam keberadaannya, istimewa dalam kandungan isinya,   sekaligus istimewa dalam kemanfaatannya. Apa dan bagaimana dari totalitas keistimewaan air Zamzam,  berikut saya kutipkan sebuah artikel dari Islampos.Com.

Sobat,  sudah tidak asing lagi bahwa setiap tahun para jamaah haji selalu membawa air Zamzam. Namun tidak banyak yang tahu bagaimana sumur Zamzam bisa mengeluarkan puluhan juta liter air pada satu musim haji, tanpa pernah kering satu kali pun. Baca lebih lanjut

Keutamaan Bukan Karena Usia


Sobat, telah banyak perasaan bin uneg-uneg telah kutumpahkan dalam tulisan yang kepadamu kukirimkan. Namun,  menurutku itu belum ada apa-apanya sebagai upaya mengupas sebagian ilmu Tuhan. Sebab, ilmu dan pengetahuan manusia memang sangat terbatas (bounded) jumlahnya.   Wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa   qoliilaan: dan tidaklah kamu memperoleh ilmu kecuali hanya sedikit. Padahal ilmu tuhan bersifat tanpa batas (boundless). Tuhan, bahkan mengibaratkan, seandainya lautan dijadikan tintanya, pohon-pohon dijadikan penanya, dan daun-daun dijadikan kertasnya, untuk mencatat ilmu tuhan  pasti tak bakalan  mencukupi. Bahkan, semua itu bila ditambah lagi jumlahnya sampai sepuluh kali lipatnya, tetap tak mencukupi untuk mencatat dan membahas ilmu-ilmu tuhan tadi.

Oleh karena itu, Sobat, saya masih jauh dari merasa  puas dari capaian hasil diskusi kita selama ini. Namun demikian, hendaknya kita, yakni saya dan sampean perlu sadar, bahwa sedikit demi sedikit lama-lama bisa  menjadi bukit, asal saja tak masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Artinya, untuk mendapatkan akumulasi ilmu pengetahuan, kita perlu melakukan secara bertahap. Meskipun sedikit, yang penting berkesinambungan. Hal ini persis dengan ajaran Islam, bahwa, sebaik-baik  amal adalah meskipun sedikit tapi kontinyu.  Ingat kan, sampean, pada hadits itu. Baca lebih lanjut

Suka Memberi, Tak Suka Diberi

Alyadil’ulya khoirun min alyadissufla, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”.  Sobat, ingatkah sampean pada itu petuah dari nabi utusan Allah ? Subhanallah, itu hadits  sangat dalam  makna yang dikandungnya. Apa itu ? Nabi mengajari umatnya agar membiasakan diri dan  mengembangkan hobi  memberi (baca: tangan di atas) alias brehweh bin loma. Namun, sebaliknya Nabi mengajari agar umat tak suka meminta untuk diberi (baca: tangan di bawah) alias menengadahkan tangan bin ngatong.

Sobat, dari ajaran itu secara substantif Islam mengajari atau  bahkan menyeru  umatnya agar bersikap merwiro, menjaga harga  diri  dan kehormatan untuk berpantang dari bergantung pada orang lain, apalagi sampai minta-minta alias mengemis. Bersikap merendahkan  diri dengan mengharap kemurahan orang lain (bahkan  termasuk pada saudara), baik dalam skala paling rendah (mengemis di jalanan, minta sedekah  dari rumah ke rumah) atau dalam skala besar dan dibalut istilah  keren  seperti istilah  minta sumbangan bin bantuan,   Keduanya tak ada beda.

Islam, setahu saya lebih menghargai orang yang berusaha meskipun sangat kecil hasilnya dan sangat berat  bebannya. Menjaga harga diri diutamakan dalam Islam,   sedangkan merendahkan diri  dilarang oleh  Islam. Memang sih, tolong menolong dalam kehidupan sangatlah  dibutuhkan. Namun, ta’awanu (tolong-menolong) dilakukan berdasar kerelaan dan kesadaran, bukan dilandaskan pada permintaan alias ngatong kecuali hanya dalam kondisi sangat terpaksa dan super darurat saja. Baca lebih lanjut

Ambil Keutamaan Meski dari Anak Belia

Sobat, ingatkah sampean  pada sebuah pepatah, “telor meski keluar dari dubur ayam tetap enak dimakan plus menyehatkan,  sedangkan sesuatu meski keluar dari dubur pejabat pasti barang najis dan sangat menjijikkan”. Artinya apa ? Maknanya kita diajarkan untuk melihat sesuatu jangan sekedar di permukaan alias kulitnya saja, tapi hendaknya mencermati lebih detail tentang substansi alias isinya. Segala sesuatu jangan hanya ditakar berdasar penampilannya, tapi dinilai secara utuh dan paripurna.

Jika kita hanya berhenti menilai sesuatu pada kulitnya saja, niscaya amat sangat mungkin menyesatkan kita. Buah manggis misalnya, boleh saja hitam kulitnya, tapi isinya ternyata sangat putih dan enak rasanya. Durian boleh pula berduri kulitnya, tapi legit pula  rasanya. Dus, jika kita menilai durian dan manggis hanya pada penampilan kulitnya, maka kita tak akan memperoleh isinya yang sangat berharga.

Sobat, hal yang sama berlaku ketika kita mengukur hubungan kemanusiaan. Kita menakar dan menilai mereka jangan pada penampilan,  karena itu amat sangat menyesatkan. Sekarang ini banyak sekali orang punya sedan sebagai kendaraan, tapi tak tahunya hasil kreditan.  Mereka tinggal di gedung mewah  bin megah, tapi tiap bulan dibebani oleh hutang yang harus dibayarkan. Kepala nyut-nyutan tiap bulan, karena harus mengalokasikan anggaran untuk  melunasi kreditan. Padahal, banyak orang kampung dengan rumah sederhana, kemana-mana naik omprengan saja, tapi tak dibebani hutang dalam kehidupannya. Nah,  menurut sampean, mana yang lebih kaya antara mereka yang tampil dengan trendy tapi didanai oleh pinjaman  atau mereka yang tampil sederhana tapi seratus persen menjadi hak miliknya ? Baca lebih lanjut

Keutamaan Tak Ditentukan Usia, Tapi Karya

Sobat, belasan tahun lalu, ketika masih kuliah saya sempat mendebat dosen. Saya yakin betul bahwa  pendapatnya salah, dan pendapatku yang betul.  Apalagi saya membawa pula referensi pemikiranku, yakni buku yang telah kubaca. Tahukan sampean, apa kata dosen saya?, Menurutnya, dengan nada agak marah, pendapatnya benar juga, sebab referensinya berbeda. Dia janji akan bawa referensi alternatif pada lain  hari. Janji tinggal janji, janji itu tidak pernah ditepati.  Hari berikutnya, ia tak jadi menunjukkan rujukannya, dan saya pun enggan menagihnya. Sobat, apa makna di sebalik peristiwa itu  ?  Maknanya, sebagai dosen, ia merasa lebih tahu dibanding mahasiswanya. Ketika dikoreksi ia  merasa gengsi, karena telah menakar  diri sebagai orang yang mumpuni.

Ketika  SMA saya juga sempat mengoreksi  kekeliruan bacaan  alQur’an seorang tua, yang kebetulan membaca  disamping saya. Aneh!!!, bukannya dia berterima kasih, tapi ia malah melototkan matanya pada saya. Sobat, lagi-lagi, si orang tua merasa gengsi menerima koreksi, nasehat, saran dari orang yang jauh lebih muda.

Sobat, apakah arogansi usia menggejala pada setiap orang yang berusia lebih tua  atas yang  muda?.  Sebab, terlalu sering kita mendengar ungkapan, “tahu apa kamu anak kecil”, “kamu kan masih anak bau kencur”, serta masih seabreg ungkapan senada. Arogansi usia, senior atas yunior, orangtua pada anak,  dosen/guru pada mahasiswa/murid,  kyai pada santri, atasan pada bawahan  bila dilanggengkan sangat berbahaya bagi kemajuan.  Bukankah demikian sobat ? Arogansi senioritas model ini dapat menghambat kemajuan, karena ide kreatif si muda selalu dihadang kaum tua. Makin bahaya lagi, arogansi model ini dapat melanggengkan kekeliruan yang dilakukan senior, orang tua, dosen/guru, Kyai  tanpa mau dikoreksi.

Dari perspektif Islam, arogansi senioritas model begini sama sekali tak dibenarkan. Karena Islam mengajarkan keutamaan bukan berdasar pada umur, pangkat, jabatan,jenis kelamin, kekayaan,  tapi mengukur keutamaan berdasar parameter budi pekerti, ketaqwaan, kedermawanan, dan yang tak kalah penting ilmu pengetahuan. Inna akromakum ‘indalla-hi atqo-kum: sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah  adalah yang paling bertaqwa (AlQur’an), tak peduli kaya atau miskin, muda atau tua, penguasa atau rakyat jelata.  Bukankah demikian sobat ?  Saya yakin, sampean lebih tahu  dariku. Baca lebih lanjut