Posts Tagged ‘mandiri’

.. KISAH NYATA, .. SURAT ANEH KEPADA DOMPET DHUAFA …

Sobat,   saat ini saya ingin sekali  menampilkan sebuah artikel yang sarat dengan hikmah kehidupan.  Tulisan ini sebenarnya sudah pernah  saya baca  lama sekali.  Kebetulan  saya “bertemu” kembali  dengan tulisan yang sama,  dan kebetulanpula  saya sudah membuat blog ini,  sehingga  tidak ada salahnya peristiwa yang benar-benar terjadi ini  bisa menambah  hasanah tentang  arti penting menjaga harga diri,  membangun kemandirian,  dan  menjauhkan diri dari menghiba pada orang dengan cara mengeksploitasi kekurangan yang dimiliki.    Hasil gambar untuk hidup mandiri

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Beberapa tahun silam, ada sebuah surat yang cukup unik datang ke kantor Dompet Dhuafa (DD). Biasanya setiap hari lebih dari 20 surat permohonan bantuan singgah ke kantor DD. Baca lebih lanjut

Iklan

Jangan Salah Gunakan Kedudukan

Sobat, ketika sekolah saya punya seorang teman yang anggak  alias arogannya luar biasa. Memang sih, dia anak orang kaya bahkan pejabat pula, sehingga dengan berbekal harta ortu nya dia dapat selalu tampil gaya. Pakaian yang dikenakan selalu trendy mengikuti mode masa kini. Namun, yang membuat orang kurang menyukai dia adalah  Hobinya yang suka mencela  setiap kali melihat “kelemahan” pada diri orang yang ditemuinya. Padahal mencela sangat buruk sifatnya. Wailul  likulli humazatin lumazah: celakalah orang yang hobi mencela dan mengumpat.

Saya pun, sempat mengalami peristiwa  cemoohan bin  celaan dari teman satu ini.  Dia berkata, “kamu selalu pakai baju itu-itu saja. Apa tak ada pakaian lain yang kau punya“. Maklum, selama kuliah saya memang tak punya cukup  uang untuk “ganti” pakaian, sehingga pakaian yang kukenakan memang hanya itu-itu saja. Namun, merasa diremehkan langsung saja saya menanggapinya lewat sindiran keras. Sarkastis, mungkin itulah istilah gaya bahasanya, “pakaianku memang hanya ini, tapi kubeli dari hasil keringatku  sendiri. Sedangkan pakaianmu selalu trendy dan berganti-ganti, tapi semua hasil ngatong  menengadahkan tangan pada ortu tidak mandiri“. Jawabanku sangat mengena, yang dalam bahasa  caturnya Skak Ster.  Dia langsung cep-klakep alias langsung bungkam beribu bahasa.  Sejurus kemudian, lantas menyodorkan tangan meminta maaf pada saya.

Ternyata dia masih memiliki nurani untuk mengakui kesalahannya. Itulah satu hal yang aku suka dari dia, sehingga aku tetap  mau berteman dengannya, sambil sesekali menasehati agar jangan lagi suka mencela orang di  sekitarnya. Sebab, tak ada orang yang sempurna. Karena, setiap orang pasti punya kelebihan dan pasti punya kekurangan. Alinsaanu mahalulkhoto’ wannisyan, Alinsaanu  dlo’iifun. Oleh  karena itu dapat dipahami jika  dalam masyarakat muncul peribahasa: tak ada gading yang tak retak. Baca lebih lanjut