Posts Tagged ‘Mashad’

Office Boy Temukan Rp 100 Juta dikembalikan Utuh

ob jujurSobat,  berikut ini saya nukilkan sebuah kisah kejujuran seorang Office Boy di Jakarta.  Semoga kisah ini dapat dipetik hikmahnya,  bahwa kejujuran meski sesuatu yang langka tapi sampai kini masih tetap ada. Semoga bermanfaat.

Agus Chaerudin (35) menjadi contoh sebuah kejujuran. Apalagi baru-baru ini para penegak hukum kompak mengusung tema ‘Berani Jujur Hebat’. Agus, office boy Bank Syariah Mandiri di Bekasi menemukan uang Rp 100 juta di tempat sampah di kantornya, tetapi dia tak mengambilnya. Baca lebih lanjut

Entitas Lama Kampung Islam Kepaon di Kabupaten Badung – Bali (Tulisan 16)

Hari terang, sama sekali tak ada awan. Udara cerah.  Langit cerah. Mentari memancarkan cahaya dengan leluasa. Sinar sang surya berpendar menerangi cakrawala.  Bahkan,  meski hari masih pagi,  pancaran surya sudah agak menggigit terasa di kulit. Setelah sarapan pagi, saya dkk telah bersiap meluncur ke Kampung Islam Kepaon.  Selama di Kabupaten Badung,  saya didampingi pak Luqman,  seorang muslim asal Jawa tetapi telah belasan tahun tinggal di Denpasar.  ”Sudah siap,  Pak ?  Tanya pak Luqman yang sudah duduk di belakang kemudinya.  ”Sipp..”,  jawab saya singkat.  Dengan diiringi bacaan bismillah mobil kijang silver langsung  meluncur menapaki jalanan menuju tujuan.

Sejarah Islam Bali memang bisa ditelusuri dari komunitas muslim yang telah eksis bahkan sejak abad ke 15, sejak jaman kerajaan Gelgel.  Namun, sejarah eksistensi muslim sebenarnya juga bisa ditelusuri dari prasasti, bangunan-bangunan penting kerajaan di Puri Pemecutan (Denpasar), atau cap kerajaan Klungkung (Hindu) yang menggunakan huruf Arab, karena pada zaman Raja Ida Bagus Jambe kerajaan ini telah menjalin hubungan diplomatik dengan salah satu kerajaan Islam di Jambi. Semua bukti historis tadi menjadi bagian argumen bahwa Islam dan komunitas muslim di Bali hakekatnya bukanlah fenomena kekinian, melainkan telah menjadi entitas lama yang berusia ratusan tahun silam,  sama tuanya dengan komunitas muslim di berbagai daerah lain di Indonesia.  Baca lebih lanjut

Menyusuri Lokasi Komunitas Muslim Soko – Senganan di Tabanan – Bali (Tulisan 15)

Di Kabupaten Tabanan,  selain Kampung Candi Kuning-Baturiti dan kampung Jawa-Tabanan Kota,  masih ada kampung kuno muslim lainnya.  Hanya saja komunitasnya jauh lebih sedikit  dan dari sejarahnya  lebih muda.  Komunitas muslim itu antara lain ada di Soko (kecamatan Baturiti) dan Senganan (kecamatan Penebel).  Meski Soko secara administratif masuk dalam kecamatan Baturiti,  tetapi secara wilayah lebih dekat ke Penebel,  sehingga banyak orang yang mengira Suko bagian dari Penebel. Jumlah Muslim di seluruh kecamatan Penebel pada tahun 2010 hanya sekitar 65 KK. ”Tetapi, itupun yang merupakan komunitas  lama hanya sekitar 11 KK di Senganan dan 8 KK di Soko.  Sementara sisanya adalah muslim yang datangnya lebih belakangan”,  jelas Solihin,  seorang muslim asli Senganan yang beristri seorang muallaf Hindu.

Karena eksistensi Muslim di kedua lokasi tadi telah bersifat kelampauan, maka meski sedikit jumlah mereka,  tetapi  masing-masing telah mempunyai satu masjid: di Soko satu dan di Senganan Satu.  Keberadaan sebuah masjid di Bali  memang sebuah kemewahan, sebab masjid umumnya menjadi sebuah realitas yang tak gampang didapatkan oleh komunitas-komunitas muslim baru di pulau dewata ini.  ”Masjid di Senganan ya itu,  di pojokan pertigaan jalan itu”, kata pak Hasan menunjukkan. ”Untuk masjid Soko,  nanti akan saya antar kesana”.  Pak Hasan Bick tidak hanya bicara,  sebab setelah beberapa saat istirahat di sebuah warung yang ternyata milik ”paman” pak Hasan,  saya dkk di antar menuju masjid Soko.  Masjid itu kecil,  tetapi mungil.  Baca lebih lanjut

Alfred Russel Wallace : Kiprah dan Karyanya Sebagai Ilmuwan Sosial

Buku ini merupakan bagian dari biografi Alfred Russel Wallace.  Upaya yang hendak  digerakkan dalam menyusun ”bangunan sejarah” kehidupan A.R. Wallace  ini tentu tak sekedar bagaimana mesti memetakan tentang apa  dan dimana A.R. Wallace hidup, tetapi yang lebih substantive adalah upaya menjawab mengapa dan bagaimana konteks ketika dia hidup. Segala pertanyaan ini pada akhirnya diharap mampu memberikan gambaran kehidupan A.R. Wallace secara relatif utuh, bukan sekedar dalam perspektif diskriptif,  namun sekaligus substansi analitis sesuai konteks waktu dimana dan kapan dia hidup.  Upaya sedemikian memang tidak gampang,  sebab ia membutuhkan kreativitas untuk mencermati waktu kelampauan,  yang sebagian (bahkan sebagian besar) seringkali telah terkubur luput dari pengetahuan  dan atau ingatan manusia. Baca lebih lanjut

Nasehat Anak Pada Bapak

Sobat, telah berulangkali kukirimkan padamu tulisan-tulisan yang isinya menggambarkan plus mengajarkan bahwa keutamaan seseorang bukan terletak pada usia (tua atau muda), kepemilikan harta (kaya atau papa)  kedudukan tahta (berpangkat  alias pejabat ataupun rakyat), kelamin (pria atau wanita) dan berbagai parameter  lainnya. Keutamaan seseorang  intinya hanya terletak  pada adab kelakuan (asyyarafu bil adabi laabin nasabi) dan ketakwaan (inna akromakum ‘indallaahi atqookum).

Melalui kesadaran  ini, maka untuk memperoleh keutamaan kita dianjurkan untuk mengambil hikmah dari manapun sumber bin asal muasal alias sangkan nya, meskipun dari orang yang lebih muda  atau bahkan anak-anak, meski pula dari orang miskin papa. Islam mengajarkan  undzur maa qoola walaa  tandzur man qoola: lihatlah apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan.  Sobat, bukankah ajaran ini senada dengan sebuah peribahasa: meskipun keluar dari dubur ayam  jika namanya telur ambillah, tapi  meski keluar dari dubur raja jika namanya kotoran tinggalkanlah. Baca lebih lanjut

Benci – Cinta Berlandas Kebenaran

Sobat,  pernahkah sampean merasa marah  dan benci pada seseorang? Marah dan benci adalah sesuatu  perasaan yang manusiawi, yang sengaja  dicipta Allah pada setiap diri manusia. Dengan kata  lain, rasa marah, senang, benci, rindu dan cinta serta berbagai jenis perasaan  lainnya adalah sesuatu  yang manusiawi,  yakni potensial ada  pada  diri manusia.  Hanya saja, Tuhan memerintahkan pada  diri manusia untuk mengendalikan segala “rasa” tadi, tidak diumbar sedemikian rupa, namun juga tak  dimatikan saja.

Nafsu amarah misalnya, ia perlu diatur dan dikendalikan agar kemarahan jangan sampai membuat manusia yang sedang marah kehilangan kontrol diri yang menyebabkannya menjadi mbedal bak kuda binal. Bila kemarahan tak  terkendalikan sang  manusia bisa menjadi seperti setan yang dalam bahasa Jawa nya disebut kesetanan. Islam mengajarkan agar seseorang yang  dilanda rasa  marah  hendaknya berusaha mengendalikannya dengan  cara  duduk untuk meredakan.  Jika masih marah, hendaknya berwudlu. Dan bila masih tetap  marah, segeralah sholat.

Tapi rasa amarah, jangan pula dimatikan, sehingga berubah menjadi manusia bak sebongkah batu  saja. Harga diri dilecehkan tidak marah, anak istri dilecehkan tidak tersinggung, malah mbregegek  diam penuh kesabaran.  Bahkan, ketika Tuhan, nabi dan agamanya dihina orang, tetap saja dia diam membisu tanpa tersirat kemarahan apatah lagi  pembelaan.  Sikap seperti itu sama sekali bukanlah bagian dari pengamalan ajaran Islam. Baca lebih lanjut