Posts Tagged ‘muslim’

Memaknai Ucapan Ahok Terkait Al Maidah 51: Kesengajaan ataukah Keseleo Lidah ?

Sobat,  “Ahok” beberapa bulan terakhir telah menyita perhatian bangsa Indonesia.  Ahok dengan segala kontroversi  ucapan-ucapannya  telah menjadi  polemik dalam masyarakat bangsa kita.  Bagi para  pendukungnya,  ucapan-ucapan Ahok disebut sebagai wujud ketegasan dalam memimpin.  Namun,  bagi  yang kritis terhadap Ahok,  kata-kata yang keluar dari mulut Ahok bukanlah ketegasan tetapi refleksi dari sikap kasar dan arogan, yang sangat tidak patut diucapkan –apalagi oleh pemimpin,  pejabat publik– dalam masyarakat berkeadaban. 

Ucapanmu adalah harimaumu,  itulah  adagium yang populer,  dan adagium itu pula yang akhirnya telah sedikit menjerat langkah Ahok dalam memimpin ibukota.  Ahok terperangkap pada sebuah ucapannya sendiri,   yang oleh pihak lain  dianggap telah menyinggung sebuah komunitas umat beragama,  yakni umat Islam.

Surat Al Maidah ayat 51 kini memang menjadi viral sejak beredar berita Ahok menggelar blusukan dan berdialog dengan masyarakat Kepulauan Seribu. Saat memberikan sambutan, Ahok sempat menyinggung mengenai Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, salah satunya terkait isu pemimpin non Muslim. Kalimat itu diucapkan Ahok dan terekam dalam sebuah video di menit 23. Dia meminta warga Kepulauan Seribu tetap memilih dengan hati nurani, meski ada yang pihak yang membawa-bawa surat Al Maidah ayat 51.  Di video itu, Ahok secara implisit tampak mengarahkan warga untuk memilihnya dengan membantah penafsiran surat Al Maidah.  “Bapak ibu ga bisa pilih saya….Dibohongin dengan surat Al Maidah 51…macem-macem itu…itu hak bapak ibu, kalau bapak ibu merasa ga milih neh karena saya takut neraka, dibodohin gitu ya..gapapa…” .

Belakangan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, atau akrab disapa Ahok, diprotes bahkan dilaporkan ke kepolisian dengan tuduhan  telah melakukan pelecehan terhadap ayat suci Alquran. Ahok dilaporkan untuk  pasal 156 KUHP jo pasal 27-28 ITE tentang Penistaan Agama dan Pencemaran Nama Baik Agama pasal 310-311 KUHP Menurut pelapor,  “Mestinya, dia (Ahok) tidak perlu menyinggung soal Alquran. Dia tidak paham dan tidak mengimani. Itu kan hak umat Muslim. Kalau dia mengajak agamanya sendiri, ya tidak apa-apa, dan tidak ada masalah”.

Pihak ahok dan pendukungnya tentu membantah tuduhan ini dan menyatakan sama sekali tidak bermaksud menista agama.  Bahkan,  dalam gelar perkara kasus Ahok yang dilaksanakan pada hari Selasa  (15/11/2016), ahli bahasa dari kubu Ahok menyatakan bahwa Ahok tidak menistakan agama maupun Al Qur’an.

Namun ahli bahasa dari pihak pelapor yang diwakili oleh Neno Warisman membantah argumen tersebut dengan pernyataan yang cerdas.  Disebutkan oleh Neno bahwa seseorang yang berucap sama dengan sebuah tindakan. Salah satu yang menjadi analoginya adalah ketika seseorang melakukan akad nikah. “Berbicara itu sama dengan bertindak. Misalnya akad nikah. Akad nikah itu tindakan berbicara saya terima nikahnya makanya dengan tindakan berbicara itu yang haram menjadi halal,” ucap Neno di Mabes Polri,  sebagaimana dikutip dari Republika, Rabu (16/11/2016).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa apa yang disampaikannya merupakan bagian  dari teori linguistik generatif.

Hal kedua dalam paparannya, Neno Warisman mengungkapkan bahwa jika seseorang berbicara tanpa ada niat, berarti orang tersebut tidak sadarkan diri, gila atau mengigau. Sementara Ahok secara sadar mengungkapkan ucapannya terkait surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu. “Orang berbicara itu tidak mungkin enggak pakai niat kecuali dia gila atau ngigau. Dan dia tidak mungkin berbicara tanpa tujuan,” lanjut Neno.

Setelah itu Neno mengemukakan tiga hal mendasar terkait ucapan Ahok.Yang pertama adalah apa yang diucapkan oleh seseorang merupakan kesesuaian
hati dan pikirannya. Jika tidak, maka ia telah berdusta. Hal kedua adalah ucapan Ahok tentang Surat Al Maidah 51 sudah diniatkan atau ada niat sebelumnya. Dan yang terakhir adalah adanya keinginan dari orang  yang berucap untuk mempengaruhi orang lain.

Sobat,  apa dan bagaimana kelanjutannya,  tentu diserahkan pada  proses hukum. Namun,  hikmah yang bisa diambil dari  kasus Ahok adalah pentingnya menjaga lisan agar tak melukai perasaaan.  Ada sebuah ajaran agama yang menyatakan:  Salaamatul insaan fii hifdzil lissaan: kesalamatan manusia itu terletak pada kemampuan menjaga lisannya.  Oleh karena itu hidup yang terbaik adalah bagaimana kita menjaga dengan baik lisan kita,  sebab sebagaimana pepatah Arab  acapkali ucapan itu bahkan lebih tajam daripada mata pedang: Rubba qoulin asyaddu min shoulin.  Kata Nabi SAW  jika kita  tidak bisa berkata baik  lebih baik diam saja,  fal yaqul khoiron au liyasmut.

Sumber: “Patahkan Argumen Kubu Ahok Saat Gelar Perkara, Begini Pernyataan Cerdas Neno Warisman”,  KabarMakkah. Com  dengan beberapa tambahan di pengantar dan penutup

Gambar : https://www.facebook.com/BahasaArabBahasaAlQuran/photos

Penerbang Pertama Ternyata Muslim Andalusia

Sobat,  sekedar tahu,  berikut  saya kutipkan artikel  tentang Abbas Ibn Firnas,  yang konon  sebagai pelopor  penerbangan yang dilakukan oleh manusia.

Sobat,  National Geographic baru baru ini menerbitkan tulisan yang mengagetkan. Ternyata cikal bakal pesawat terbang pertama dibuat oleh seorang Muslim. Jauh sebelum Orville dan Wilbur Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawat pada tahun 1903, ilmuwan Muslim telah mengembangkan prinsip-prinsip penerbangan.Abbas Ibn Firnas, seorang matematikawan, astronom, fisikawan, dan ahli penerbangan Muslim dari abad ke-9, tercatat sebagai manusia pertama yang mengembangkan alat penerbangan dan sukses terbang.

Pengertian manusia pertama di sini berlaku umum, mencakup siapa pun yang berhasil terbang menggunakan alat apa pun, tidak harus berupa pesawat terbang seperti yang ada saat ini.Ibn Firnas berhasil terbang menggunakan glider, alat terbang sederhana yang dilengkapi sayap. Sementara itu, tak diragukan, Wright merupakan penemu dan penerbang pesawat terbang pertama.Alat terbang Ibn Firnas memang masih sederhana. Namun, keberhasilan Ibn Firnas menguji dan menerbangkan alat buatannya pada tahun 852 memberi inspirasi kepada ilmuwan-ilmuwan Barat untuk mengembangkan pesawat. Baca lebih lanjut

Cara Bijak Mohammad Ali Menasehati sang Putri

Dunia olah raga dikejutkan dengan kabar wafatnya Muhammad Ali pada 3 Juni 2016 waktu AS atau Jumat (4/6/2016).  Untuk mengenang dan menghormati kehebatan Mohammad Ali,  maka pada kesempatan ini  artikel lama yang pernah saya kutip  dan tampilkan  dalam  blok ini sengaja   saya munculkan lagi.  Semoga  teladan dari Mohammad Ali ini bisa kembali  menjadi amal kebajikan untuk almarhum.  Amin…

Sobat,  hikmah kehidupan dapat diperoleh dari manapun sumbernya.  Hikmah bisa kita dapatkan dari  peristiwa yang kita alami sehari-hari,  dari pengalaman hidup orang lain,  atau bahkan dapat pula kita petik dari kehidupan hewan ataupun bahkan tetumbuhan.   Berikut saya nukilkan sebuah hikmah tentang betapa bijak dan halusnya  cara seorang Mohammad Ali  mendidik/menasehati  sang putri.

SIAPA yang tak kenal Muhammad Ali? Petinju legendaris, dengan julukan “the Greatest” dengan gaya bertinju “kupu-kupu”-nya ini? Di balik kepiawaiannya dalam mengolah jab dan jotosan, ternyata pemahaman keislaman Muhammad Ali patut diteladani. Paling tidak, itulah yang tergambar dari buku karya salah seorang putrinya, Hana Yasmin Ali, yang berjudul: “More than a Hero” (Lebih dari sekedar Pahlawan). Berikut adalah salah satu cuplikan dari buku tersebut, di mana Muhammad Ali memberikan nasihat kepada putrinya tentang wanita yang shalihah, yang paling berharga dan hikmah mengenakan jilbab, menutup aurat, perhiasan wanita. Baca lebih lanjut

“Muslim Bali” di Tengah Masyarakat Bali yang Berubah

https://i0.wp.com/www.publicapos.com/images/stories/allimages/Muslim_Bali_book_cover.jpgTentu kita bertanya, apakah ada yang disebut Muslim Bali, bukankah selama ini, yang hidup di Bali, adalah kaum Hindu. Dhurorudin Mashad, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) berupaya menggali eksistensi komunitas ini secara cermat melalui penelitian yang dilakukan cukup lama. Mashad, memulai penelitiannya itu sejak 2005, 2009, 2010, dan 2011. Selama berbulan-bulan, ia tidak hanya berupaya mendeskripsikan kehidupan keagamaan,  ekonomi, interaksi sosial, dan kultur komunitas muslim ini, tetapi juga menelisik awal mula Islam masuk di Bali.  Karena itu, dalam buku ini, Mashad juga menunjukkan komunitas muslim kuno di Bali. Penelusuran Muslim Bali secara historis, mengantarkan Mashad ke Kabupaten Klungkung, Badung, Kota Denpasar, Kabupaten Buleleng, Jembrana, Tabanan, Karangasem, Gianyar, dan Bangli. Baca lebih lanjut

Pancaran hati

8 Muslim Ini Pernah ke Antariksa

Sobat,   dalam al Qur’an  surat Arrahman disebutkan : “yaa ma’sarol jinni wal insi inistatho’tum an tanfudluu min aqthooris samaawaati wal ardli  fanfudluu  laa tanfudluuna illlaa bi sulthoon: wahai segenap jin dan manusia,  jika   kalian ingin menerobos lapisan langit dan bumi,  maka teroboslah.  Kalian tidak bisa menerobosnya melainkan dengan ilmu pengetahuan/kekuasaan”.   Inti ayat yang telah turun sejak hampir 15 abad lampau itu adalah bahwa: (1).  menerobos langit dan bumi adalah sesuatu yang sangat dimungkinkan,  (2).  penerobosan hanya bisa dilakukan dengan ilmu pengetahuan.   Sobat,  meski umat Islam telah tahu ayat itu sejak belasan abad silam,  tapi yang berhasil melakukan terobosan pertama (kecuali Mi’roj Nabi SAW) lengkap dengan kemampuan teknologi canggihnya justru adalah non Muslim,  yakni : Neil Amstrong dan Gagarin.

Tapi,  tahukah sobat bahwa meskipun teknologi ruang angkasa dikuasai oleh kaum non Muslim,  untung saja masih ada orang Islam yang “diajak” mengangkasa dalam rangka mengkaji hasil ciptaanNya ? Siapakah orang-orang Islam yang menjadi astronot maupun turis antariksa telah mengangkasa?  Hingga saat ini, sudah ada 8 orang muslim yang pergi ke antariksa baik bersama misi Rusia maupun Amerika Serikat. Siapa saja mereka? Berikut saya kutipkan  daftarnya.

8 Muslim Ini Pernah ke AntariksaSultan Salman Al Saud

Sultan Salman Al Saud adalah mantan pilot Royal Saudi Air Force. Ia terbang ke antariksa dalam misi STS-51-G dengan pesawat antariksa Discovery. Ia menjalankan misi dari 17 – 24 Juni 1985. Sultan Salman Al Saud menjadi muslim pertama yang pergi ke antariksa. Ia pun memecahkan rekor sebagai orang termuda yang pernah ke antariksa, yakni pada usia 28 tahun. Saat ke antariksa, Sultan Salman Al Saud bertugas menjadi payload specialist. Ia tergabung dalam tim beranggotakan 7 astronot, merepresentasikan Arab Satellite Comminucation Organization dalam memasang satelitnya, ARABSAT 1-B. Baca lebih lanjut

Konflik Hindu – Muslim Jembrana Era Kolonial Belanda: Tragedi yang Tak Perlu Terulang (Tulisan 22)

Sore hari.  Mentari telah condong ke arah Barat.  Pak Syarif mengajak kami mengunjungi pelabuhan ikan yang armada kapalnya sebagian besar dimiliki juragan nelayan muslim.  “Kapal-kapal ini harganya satu diatas seratus juta lho”,  kata  nelayan yang sempat saya temui,  “tetapi dalam beberapa pelayaran,  jumlah itu akan segera terbayarkan oleh hasil tangkapan ikan. Sebab,  sekali  melaut selama seminggu, jika sedang beruntung kita bisa mendapat untung 30 jutaaan ”. Para juragan kapal ini bahkan ada yang memiliki beberapa kapal.  Bahkan,  ”H. Dahlan (?),  sampai mewakafkan salah satu kapal agar hasilnya dipakai untuk keperluan operasional masjid di Loloan”,  jelas pengurus masjid di Loloan Timur.    Subhanallah.  Itulah kontribusi ekonomi secara luar biasa bagi Jembrana dari para nelayan yang umumnya memiliki darah Bugis/Makasar ini.

Secara historis komunitas muslim lama memang punya hubungan saling ketergantungan (saling dukung) secara kokoh,  terutama pada era konflik antar  kerajaan Bali di masa silam.  Sejarah klasik hubungan erat antar di keraton Negara (Jembrana) dengan komunitas muslim Loloan dan Air Kuning merupakan contoh harmoni yang luar biasa. Betapapun kecil kuantitas masyarakat Islam Bali, tetapi ralitasnya mereka telah ikut mewarnai khazanah kebudayaan Bali. Bahkan,  dalam wujud agak ekstrim pengakuan eksistensi masyarakat Islam oleh masyarakat Hindu ada yang sampai teraktualisasi dalam wujud pendirian tempat pemujaan (pura) yang melarang disajikannya hal-hal yang dilarang Islam,  seperti : Banten yang mengandung Babi. Baca lebih lanjut