Posts Tagged ‘nasehat’

Cara Bijak Mohammad Ali Menasehati sang Putri

Dunia olah raga dikejutkan dengan kabar wafatnya Muhammad Ali pada 3 Juni 2016 waktu AS atau Jumat (4/6/2016).  Untuk mengenang dan menghormati kehebatan Mohammad Ali,  maka pada kesempatan ini  artikel lama yang pernah saya kutip  dan tampilkan  dalam  blok ini sengaja   saya munculkan lagi.  Semoga  teladan dari Mohammad Ali ini bisa kembali  menjadi amal kebajikan untuk almarhum.  Amin…

Sobat,  hikmah kehidupan dapat diperoleh dari manapun sumbernya.  Hikmah bisa kita dapatkan dari  peristiwa yang kita alami sehari-hari,  dari pengalaman hidup orang lain,  atau bahkan dapat pula kita petik dari kehidupan hewan ataupun bahkan tetumbuhan.   Berikut saya nukilkan sebuah hikmah tentang betapa bijak dan halusnya  cara seorang Mohammad Ali  mendidik/menasehati  sang putri.

SIAPA yang tak kenal Muhammad Ali? Petinju legendaris, dengan julukan “the Greatest” dengan gaya bertinju “kupu-kupu”-nya ini? Di balik kepiawaiannya dalam mengolah jab dan jotosan, ternyata pemahaman keislaman Muhammad Ali patut diteladani. Paling tidak, itulah yang tergambar dari buku karya salah seorang putrinya, Hana Yasmin Ali, yang berjudul: “More than a Hero” (Lebih dari sekedar Pahlawan). Berikut adalah salah satu cuplikan dari buku tersebut, di mana Muhammad Ali memberikan nasihat kepada putrinya tentang wanita yang shalihah, yang paling berharga dan hikmah mengenakan jilbab, menutup aurat, perhiasan wanita. Baca lebih lanjut

Pancaran hati

 

Pancaran hati

 

Pancaran hati

 

Nasehat Anak Pada Bapak

Sobat, telah berulangkali kukirimkan padamu tulisan-tulisan yang isinya menggambarkan plus mengajarkan bahwa keutamaan seseorang bukan terletak pada usia (tua atau muda), kepemilikan harta (kaya atau papa)  kedudukan tahta (berpangkat  alias pejabat ataupun rakyat), kelamin (pria atau wanita) dan berbagai parameter  lainnya. Keutamaan seseorang  intinya hanya terletak  pada adab kelakuan (asyyarafu bil adabi laabin nasabi) dan ketakwaan (inna akromakum ‘indallaahi atqookum).

Melalui kesadaran  ini, maka untuk memperoleh keutamaan kita dianjurkan untuk mengambil hikmah dari manapun sumber bin asal muasal alias sangkan nya, meskipun dari orang yang lebih muda  atau bahkan anak-anak, meski pula dari orang miskin papa. Islam mengajarkan  undzur maa qoola walaa  tandzur man qoola: lihatlah apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan.  Sobat, bukankah ajaran ini senada dengan sebuah peribahasa: meskipun keluar dari dubur ayam  jika namanya telur ambillah, tapi  meski keluar dari dubur raja jika namanya kotoran tinggalkanlah. Baca lebih lanjut

Menasehati Secara Bijak

Sobat, masih lekat dibenakku  tentang ucapanmu, bahwa Ilmu pengetahuan menempati posisi dan porsi super penting dalam  agama Islam. “Hal ini bukan sekedar klaim alias mengada-ada”, demikian  katamu kala itu ketika kau berusaha meyakinkanku. Bahkan wahyu pertama yang diberikan Allah pada Nabi Muhammad, bicara soal ilmu pengetahuan dan asal muasalnya, yakni bacaan.  Kala itu malaikat Jibril merengkuh Nabi untuk menyampaikan firman Ilahi: Iqro’ bismi robbik alladzii kholaq, kholaqol insaana min ‘alaq, iqro’ wa robbukalakrom alladzii  ‘allama bilqolam, ‘allamalinsaana maa lam ya’lam: bacalah dengan menyebut asma  tuhanmu yang menciptakan, mencipta manusia dari segumpal darah, bacalah dan tuhanmu muliakanlah, yang mengajarkan dengan perantaraan qolam, mengajari manusia dari apa-apa yang tak diketahuinya.

Dari wahyu perdana tadi ada beberapa hal utama terkait dengan ilmu pengetahuan, yakni: iqro’ (membaca sebagai pangkal segala ilmu), bismirobbi (belajar berdasar nilai-nilai ketuhanan), kholaqol insaana min ‘alaq (belajar dengan baca alam  semesta dan isinya), maa lam ya’lam (manusia pada hakekatnya tidak tahu atau maksimal sedikit tahu),  bil qolam (belajar lewat tulisan, pentingnya tulis-menulis).

Dari semua komponen tadi terlihat nyata bahwa: pada dasarnya manusia memulai hidup dari ketidaktahuan, lantas belajar melalui baca tulis alias rajin membaca tulisan dan rajin menulis hasil bacaan. Baca tulis inilah sumber segala ilmu pengetahuan. Namun, membaca bukan sekedar dalam  bentuk baca tulisan, melainkan bisa pula membaca  fenomena alam.  Hal paling penting dalam membaca semua dirujukkan pada kesadaran ilahiah, bahwa Dia Allah yang menciptakan segala, menguasai segala, dan atas kehendak  Nya kita diajari hampir segala. Baca lebih lanjut