Posts Tagged ‘orang tua’

Pancaran hati

 

Sikap Anak Terhadap Uang Mencerminkan Orang Tuanya (Artikel 2)

Sobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan artikel kedua yang secara substantif berisi ajaran orang tua tentang uang pada anaknya.  Khusus  pada artikel ini  pengajaran terutama berasal dari sikap orang tua sendiri dalam “memperlakukan” uang, sehingga akan menjadi contoh alias pelajaran bagi anak-anaknya.

Sobat,  Anak-anak adalah cerminan orang tua. Dan hal tersebut tak terkecuali dengan perilaku keuangan anak. Bagi anak-anak, mempelajari perilaku keuangan orang tua sangatlah mudah, karena hal tersebut yang setiap hari mereka lihat dan amati. Runyamnya, orang tua seringkali tidak menyadari bahwa perilaku keuangan tersebut dilihat dan diamati anak-anak mereka. Karena sering melihat dan mengamati, anak-anak kemudian meniru perilaku keuangan orang tua tersebut, karena menganggap bahwa itu adalah perilaku keuangan yang benar dan tepat. Maklum, anak-anak sangat memercayai perilaku orang tua. Baca lebih lanjut

Mengajarkan Uang Pada Anak (Artikel 1)

Sobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan sebuah  artikel tentang cara memperkenalkan anak tentang uang sekaligus dalam penyikapannya. Sobat,  Orang tua memiliki peran terpenting dalam pembentukan kebiasaan dan karakter anak, termasuk bagaimana cara anak mengatur keuangannya kelak. Kebiasaan Anda mengelola uang saat ini, tentu sulit dipisahkan dengan pengaruh orang tua dalam membentuk kebiasaan Anda terhadap uang. Hal itu terjadi karena kita tidak memiliki pendidikan formal tentang bagaimana seharusnya mengatur keuangan. Sehingga, perilaku kita terhadap uang terbentuk secara tidak langsung dari lingkungan terdekat, terutama orang tua. Baca lebih lanjut

Hebat! Mahasiswa China Rawat Ayah Lumpuh Sembari Kuliah

Hebat! Mahasiswa China Rawat Ayah Lumpuh Sembari KuliahSobat,  berbakti pada ibu – bapak merupakan kewajiban keagamaan sekaligus  kewajiban sosial kemasyarakatan.  Sebaliknya,  durhaka pada kedua orang tua,  ditinjau dari nilai apapun jelas  merupakan  cacat moral yang tak bisa dimaafkan.  Bahkan,  Islam mengajarkan  kepada  ibu bapak  yang berbeda keyakinan pun,  berbakti  pada mereka  tetap diwajibkan,  selama  mereka  tidak  menyuruh pada kemaksiatan.   Berikut,  saya kutipkan sebuah artikel/kisah tentang  seorang anak yang berbakti secara luar biasa pada orangtuanya.  Semoga artikel ini dapat dipetik hikmahnya untuk  kehidupan kita. Semoga.

Beijing : Betapa besar bakti seorang anak di China ini, ia dengan sabar merawat sang ayah yang lumpuh dari pingang ke bawah di sela-sela kuliahnya. Patut ditiru! Dikutip Liputan6.com dari Daily Mail, Rabu (22/1/2014), awalnya remaja bernama Guo Shijun itu bingung akan kuliah di Universitas China –salah satu universitas ternama di kotanya– atau mengabdikan dirinya untuk merawat sang ayah yang sudah tak bisa bekerja lagi karena lumpuh.

Ayahnya lumpuh setelah terjatuh dari jembatan setinggi 15 meter saat sedang mengerjakan konstruksi bangunan. Pilihan yang sulit, akhirnya Guo meminta izin pada pihak kampus agar bisa merawat ayahnya di rumah yang ia sewa dekat kampus. Setiap harinya Guo pun bolak-balik antara kelas dan rumah, dekat asrama kampusnya, untuk memastikan keadaan sang ayah. Meski sibuk dan lelah, namun prestasi Guo di kampus sangat gemilang. Nilai-nilainya sangat bagus.

Pria 20 tahun yang berasal dari keluarga miskin di Kota Liuan, provinsi Anhui itu pun akhirnya mendapatkan beasiswa dari kampusnya. Sementara untuk membiayai kuliahnya, sehari-hari Guo meminjam uang dari teman dan kerabatnya yang jumlahnya hampir mencapai Rp 40 juta per tahun. Itu hanya untuk biaya kuliah, belum termasuk biaya hidup Guo berdua dengan ayahnya.

“Aku tak bisa bilang hidup ini mudah, tapi satu-satunya cara keluar dari masalah adalah bekerja keras. Karena itu aku tidak mengeluh. Aku kira setelah lulus nanti kehidupanku akan jadi lebih baik,” ungkap Guo.

Kendati demikian, Guo harus merelakan ibunya dirawat kakek-neneknya di kampung. Ibunya mengalami gangguan mental usai sakit meningitis. Bukan tak pedulu, tak mungkin baginya merawat kedua orangtuanya. (Tnt/Ein)

Sumber:Liputan6.com/Tanti Yulianingsih/ 22/01/2014 17:29

Jangan Salah Gunakan Kedudukan

Sobat, ketika sekolah saya punya seorang teman yang anggak  alias arogannya luar biasa. Memang sih, dia anak orang kaya bahkan pejabat pula, sehingga dengan berbekal harta ortu nya dia dapat selalu tampil gaya. Pakaian yang dikenakan selalu trendy mengikuti mode masa kini. Namun, yang membuat orang kurang menyukai dia adalah  Hobinya yang suka mencela  setiap kali melihat “kelemahan” pada diri orang yang ditemuinya. Padahal mencela sangat buruk sifatnya. Wailul  likulli humazatin lumazah: celakalah orang yang hobi mencela dan mengumpat.

Saya pun, sempat mengalami peristiwa  cemoohan bin  celaan dari teman satu ini.  Dia berkata, “kamu selalu pakai baju itu-itu saja. Apa tak ada pakaian lain yang kau punya“. Maklum, selama kuliah saya memang tak punya cukup  uang untuk “ganti” pakaian, sehingga pakaian yang kukenakan memang hanya itu-itu saja. Namun, merasa diremehkan langsung saja saya menanggapinya lewat sindiran keras. Sarkastis, mungkin itulah istilah gaya bahasanya, “pakaianku memang hanya ini, tapi kubeli dari hasil keringatku  sendiri. Sedangkan pakaianmu selalu trendy dan berganti-ganti, tapi semua hasil ngatong  menengadahkan tangan pada ortu tidak mandiri“. Jawabanku sangat mengena, yang dalam bahasa  caturnya Skak Ster.  Dia langsung cep-klakep alias langsung bungkam beribu bahasa.  Sejurus kemudian, lantas menyodorkan tangan meminta maaf pada saya.

Ternyata dia masih memiliki nurani untuk mengakui kesalahannya. Itulah satu hal yang aku suka dari dia, sehingga aku tetap  mau berteman dengannya, sambil sesekali menasehati agar jangan lagi suka mencela orang di  sekitarnya. Sebab, tak ada orang yang sempurna. Karena, setiap orang pasti punya kelebihan dan pasti punya kekurangan. Alinsaanu mahalulkhoto’ wannisyan, Alinsaanu  dlo’iifun. Oleh  karena itu dapat dipahami jika  dalam masyarakat muncul peribahasa: tak ada gading yang tak retak. Baca lebih lanjut