Posts Tagged ‘Pembinaah’

Pembinaan Keagamaan: Nasib Kaum Syiah (Bagian 29)

Sang surya terus merangkak naik  ke  petala langit angkasa.   Sinar nya menyinari sekujur lekak-lekuk  sang buana.  Cantik. Indah merona.

”Rakyat Saudi  100 persen memilih Islam sebagai agamanya.  Kalaupun ada yang non muslim kepecayaannya,  mereka dipastikan bukan warga Saudi tapi hanya sebagai mukimin alias  pemukim statusnya”,  sepintas pikiranku sempat melayang,  ingat pada penjelasan Dr. Khalid  semalam,  ”Mayoritas  muslim Saudi menganut paham Hambali,  dan hanya  sebagian kecil  mengikut paham lain.

”Nah,  bagaimana perlakuan pemerintah Arab Saudi terhadap warga Syiah ?,  tanyaku kala itu. Tepat ketika acara makan malam di rumah Dr.  Murdhi Ali Idris,  wakil Direktur Program Pasca Sarjana,  Jurusan Ilmu Dakwah dan Khutbah, Universitas At Thaibah,   pada malam terakhir sebelum kami pulang ke tanah air.

Warga Saudi memang dominan menganut madzab Hambali,  dan sisanya sekitar 15 persen mengikuti paham Syiah dari berbagai madzah teologi.  Meskipun  warga Saudi mayoritas  Sunni,  namun kaum Syiah tak lantas dimusuhi.  ”Kaum Syi’i diperlakukan sebagaimana umumnya warga Sunni”,  jelas Dr. Khalid As-Suaidi,  dosen jurusan Ilmu hadits Universitas Islam Madinah ”tak ada perlakuan spesial dari  pemerintah terhadap kaum Syi’i,  sebab mereka adalah juga warga Saudi.  Mereka bebas menjalankan peribadatan  sesuai kepercayaan,  selama  yang mereka lakukan tak menimbulkan keresahan.  Ketika kepercayaan khusus kaum Syi’i diekspresikan  terbuka  sehingga menimbulkan keresahan,  maka aparat keamanan langsung akan bertindak  mengamankan agar tak menimbulkan ketusuhan.”

Pesan dari perkataan Dr.   Khalid  sangat jelas  substansinya,     meskipun  tak secara  terang diungkap dalam kata-kata.   Dr.  Khalid  bermaksud menjelaskan,  bahwa  banyak  nilai dan atau  kepercayaan  yang dianut  warga Syiah memang potensial menimbulkan ketersinggungan dan  atau  keresahan.  Orang Syiah  misalnya,  tidak mengakui  eksistensi kekuasaan  para sahabat Nabi sebelum  kepemimpinan Sayyidina Ali,  seperti Khalifah Abu Bakar, Umar  bin Khattab,  serta Utsman bin Affan.   Kaum Syiah juga tak mengakui  kepemimpinan pasca Sayyidina Ali apalagi dalam wujud empirium Bani Umayyah dan Bani Abbasyiah.  Karena ”ketidaklegalan”  menurut pandangan mereka inilah,  kaum Syiah tak segan untuk mencaci dan mengutuk mereka,  sebuah perilaku yang tentu saja menimbulkan ketersinggungan bagi yang berbeda pandangannya.

Walhasil,  dalam konteks Arab Saudi,   ketika  kepercayaan Syiah  tadi hanya bersarang dalam  pemikiran,  atau terekspresi namun  hanya beredar internal dalam lingkup sealiran,  tidak disosialisasikan secara terbuka terang-terangan,  maka kehidupan Syiah Saudi  tetap dalam kondisi aman.  Namun,  ketika kepercayaan telah dikampanyekan  sehingga menimbulkan keresahan,  pada detik itu aparat akan ambil tindakan.

Dalam praktek umum,  selama ini  eksistensi warga Syiah Saudi ternyata tak berpersoalan.  Dalam bidang ekonomi,  banyak  warga Syiah justru  menjadi pengusaha sukses. ”Bahkan,  hotel-hotel  di Makkah dan  Madinah banyak dimiliki kaum Syi’i”,  jelas mas Nahidl di suatu malam ketika mengantar pulang ke penginapan kami. Mendengar penjelasan ini,  maka  apa yang dikatakan  Dr. Khalid telah mendapat klarifikasi yang tepat dari mas Nahidl tadi.

Dalam konteks hubungan dengan Syiah Iran,  pemerintah Saudi  memang bersikap keras sekali,  satu lini dengan karakter ”permusuhan”  yang diperlihat pemerintah Iran kepada  Saudi.  Wajah  ”Perseteruan” ini terjadi karena beberapa alasan: Pertama,  konflik psikologis –  historis akibat  runtuhnya  kejayaan kaisar Parsi  oleh pasukan Arab pada era khalifah Umar bin Khattab.  Bahkan,  khalifah kedua pasca nabi  ini akhirnya dibunuh Abu Lukluk,  yang konon seorang  keturunan Parsi yang bermaksud balas dendam terhadap  penaklukkan Parsi oleh  pasukan Arab  yang dikirim Umar.  Kedua,  Persaingan pengaruh sekte Sunni vs. Syiah yang telah bersifat sangat lampau dan masih  terus  berlangsung hingga kini. Ketiga,  perseteruan  politiko strategis yang bersifat kontemporer,  yakni perebutan pengaruh dan kepempimpinan regional di Timur Tengah antara dua negara.  Tiga hal itulah yang tampaknya  telah dan akan terus  menyebabkan  hubungan  Saudi dan Parsi (Iran) dalam profil permusuhan tanpa henti, persis seperti perseteruan antara kucing vs.  Anjing.

Namun,  khusus kepada warga Syiah  Saudi  ,  perlakukan pemerintah Saudi tak ada beda terhadap semua  warga lainnya. Apalagi dari segi etnisitas mereka satu genealogis,  kecuali hanya dari segi madzab keagamaan mereka berbeda filosofis.  Dalam tataran sosial,  hubungan Sunni – Syi’i di Saudi juga cenderung cair,  berinteraksi di pasar dan ”warung kopi”.  Memang,  ada kasus pembunuhan terhadap salah satu tokoh Syiah di Arab Saudi, Syekh Nimr an Nimr.  Namun peristiwa terjadi bukan karena kesyiahannya, melainkan karena makar, separataisme,  dan sektrarianisme yang dilakukan Syekh Nimr.  Bahkan,  tokoh Syiah itu dituduh sebagai spionase Iran.. Wallahu a’lam. ***