Posts Tagged ‘pemuda’

PEMUDA SAUDI, MAHASISWA YANG JADI SOPIR TAKSI (Bagian 8)

 

Selepas lohor pada Selasa,  4 April 2017 kami meninggalkan Rabithah Alam Islamy.  Matahari sedemikian menyengat,  menusuk  pori-pori.  Sementara  taksi yang kami butuhkan untuk membawa pulang sedemikian susah didapati.  Walhasil,  untuk beberapa saat kami terpapar di tengah mentari yang sedemikian menyengat kulit kami.  Panas berkuasa.  Terik sedemikian menyiksa.   Peluh bercucuran sehingga mempercepat proses tubuh menjadi penat. Masya Allah.  Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Tapi di tengah ketersiksaan ini  kulihat satu dua orang arab berjalan hilir mudik  dengan santainya  di sikitar Rabithah.  Realitas ini sedikit menasehati kami  bahwa apa yang kami rasakan hanyalah dramatisasi perasaan saja.  Hal inilah yang menyebabkan kami merasa perlu untuk bersabar.

Alhamdulillah, beberapa saat berikutnya,  akhirnya kami bisa mendapatkan taksi on-line yang ternyata disetiri seorang pemuda asli Saudi.  Subhanallah,  lelaki belia berumur 23 tahun tersebut adalah seorang mahasiswa bidang ekonomi dari Universitas Ummul Quro. Dari cara bicara,  saya bisa membaca:  bahwa  pemuda Saudi ini  bersikap sangat terbuka, open minded,  dan optimis dalam menatap  hidup. Dia bukan tipe pemalas apatah lagi manja sebagaimana stereotipe terkait warga Saudi. Buktinya, selain aktif sebagai mahasiswa,  ternyata dia  menyibukkan diri mencari uang dengan memanfaatkan mobilnya sebagai kendaraan sewa online.

Pemuda bernama Abdur Rahim ini juga figur terbuka,  terbukti dari gaya bicaranya yang ceplas ceplos  menjawab apapun pertanyaan kami,  bahkan ketika kami  menyinggung soal-soal  politik. Realitas ini seolah mematahkan image yang kami dapatkan sebelumnya,  bahwa orang Saudi tabu bicara soal politik,  sebagaimana sempat  digambarkan KJRI Jeddah  maupun mas Izhar yang menjadi pemandu kami.

Image tentang ”tabu politik”  ini  memang telah diwanti-wanti ketika kami berkorespondensi  terkait persiapan kami ke Arab Saudi.  Proposal dan surat yang kami kirimkan pun  berusaha diubah sedemikian rupa,  untuk mengaburkan sisi politik dari data yang ingin kami dapatkan.  Meski demikian,  toh akhirnya KBRI dan KJRI tetap tak bisa memfasilitasi kedatangan kami,  apatah lagi menghubungkan dengan para akademisi.  Mereka memang super sibuk,  dan lebih-lebih lagi  mungkin alergi dengan nuansa politik dalam kajian kami.  Begitu ketemu mas Izdihar,  mahasiswa Madinah yang memandu kunjungan kami,  informasi serupa juga kami terima.  Menurutnya,  mahasiswa Indonesia tak akan pernah bicara politik, karena dimana-mana terdapat mata penguasa,  dan ketika ditangkap  akhirnya bisa diekstradisi tanpa menyelesaikan sekolahnya.  Berpijak pada realitas ini,  kami sempat  ”frustasi” jangan-jangan kami tak akan mendapatkan  informasi.

Namun,  pandangan ini  pelan namun pasti mulai terkikis.   Pertama sekali,  ketika  jumpa para kandidat  Doktor  di Makkah,  ternyata kami dapat menggali informasi sosial keagamaan yang bahkan menyerempet isu politik juga.  Pun ketika berjumpa dengan  mahasiswa asli Saudi ini,  ternyata soal isu politik tidaklah seseram  apa yang digambarkan.  Dengan ceplas-ceplos ia menggambarkan situasi kepolitikan yang ia rasakan.

Pada satu sisi ia memberi kritikan,  terkait dengan situasi perekonomian.  Mulai dari  hukuman lalu lintas yang mahal dan memberatkan sampai pada naiknya harga bensin untuk kendaraan.  Namun,  dia sama sekali tidak  kecewa pada pemerintahan yang ada,  melainkan justru bangga terhadapnya.  ” Raja-raja sebelumnya selalu ”takluk” pada Amerika,  sultan Salman menampilkan  sikap berbeda.  Ketika Barrack Obama berkunjung ke Saudi,  begitu Adzan dikumandangkan,  Raja Salman langsung meninggalkan sang presiden AS sendirian.  Dia sengaja menampakkan,  bahwa basa-basi diplomatik harus dikalahkan ketika panggilan Shalat telah dikumandangkan. Realitas lain terkait dengan profil politik luar negeri Saudi yang tampil dengan gaya high-profil  bukan saja dalam konteks kawasan (Bahrain dan Yaman) melainkan bahkan dalam konteks internasional.  Singkat kata,  Salman telah mengangkat harkat dan martabat masyarakat Saudi  di hadapan Amerika dan Dunia.

Pemuda Saudi ini bicara politik secara berapi-api,  sehingga memupus kekhawatiran kami  bahwa di Saudi bicara politik  sangat tabu sekali.  Bahkan akibat aura ini pula,  mas Izdihar yang semula berpandangan tabu bicara politik,  akhirnya ikut hanyut  tak tabu lagi sental-sentil soal politik.

Rasa penat yang sempat kami rasakan untuk sementara sirna mendengar  kicauan luar biasa dari pemuda Arab ini.  Barulah ketika sampai hotel,  kami langsung menghempaskan badan akibat penat kembali menjerat.  Terpapar mentari beberapa saat lamanya ketika menunggu taksi,  ternyata telah menguras tenaga sehingga telah menyisakan rasa penat dan letih. ***

Iklan

Pancaran hati

 

Jangan Salah Gunakan Kedudukan

Sobat, ketika sekolah saya punya seorang teman yang anggak  alias arogannya luar biasa. Memang sih, dia anak orang kaya bahkan pejabat pula, sehingga dengan berbekal harta ortu nya dia dapat selalu tampil gaya. Pakaian yang dikenakan selalu trendy mengikuti mode masa kini. Namun, yang membuat orang kurang menyukai dia adalah  Hobinya yang suka mencela  setiap kali melihat “kelemahan” pada diri orang yang ditemuinya. Padahal mencela sangat buruk sifatnya. Wailul  likulli humazatin lumazah: celakalah orang yang hobi mencela dan mengumpat.

Saya pun, sempat mengalami peristiwa  cemoohan bin  celaan dari teman satu ini.  Dia berkata, “kamu selalu pakai baju itu-itu saja. Apa tak ada pakaian lain yang kau punya“. Maklum, selama kuliah saya memang tak punya cukup  uang untuk “ganti” pakaian, sehingga pakaian yang kukenakan memang hanya itu-itu saja. Namun, merasa diremehkan langsung saja saya menanggapinya lewat sindiran keras. Sarkastis, mungkin itulah istilah gaya bahasanya, “pakaianku memang hanya ini, tapi kubeli dari hasil keringatku  sendiri. Sedangkan pakaianmu selalu trendy dan berganti-ganti, tapi semua hasil ngatong  menengadahkan tangan pada ortu tidak mandiri“. Jawabanku sangat mengena, yang dalam bahasa  caturnya Skak Ster.  Dia langsung cep-klakep alias langsung bungkam beribu bahasa.  Sejurus kemudian, lantas menyodorkan tangan meminta maaf pada saya.

Ternyata dia masih memiliki nurani untuk mengakui kesalahannya. Itulah satu hal yang aku suka dari dia, sehingga aku tetap  mau berteman dengannya, sambil sesekali menasehati agar jangan lagi suka mencela orang di  sekitarnya. Sebab, tak ada orang yang sempurna. Karena, setiap orang pasti punya kelebihan dan pasti punya kekurangan. Alinsaanu mahalulkhoto’ wannisyan, Alinsaanu  dlo’iifun. Oleh  karena itu dapat dipahami jika  dalam masyarakat muncul peribahasa: tak ada gading yang tak retak. Baca lebih lanjut