Posts Tagged ‘sahabat’

Gendong Sang Sahabat yang Derita Penyakit Polio ke Sekolah Selama 3 Tahun

Sobat,  berikut saya kutipkan sebuah kisah  tentang tulusnya  persahabatan.Gadis Ini Gendong Sang Sahabat yang Derita Penyakit Polio ke Sekolah Selama 3 Tahun

Sobat,  Sebuah kisah nyata mengharukan kembali terjadi di Cina. Seorang gadis berusia 13 tahun di propinsi Hunan bernama He Qin-jiao menjadi salah satu contoh tentang bagaimana kebaikan hati sesama manusia dan arti dari persahabatan yang sesungguhnya. Meski usianya masih sangat muda yaitu 13 tahun, namun percaya atau tidak bahwa Qin selalu rajin menggendong sang sahabat yang menderita penyakit polio di punggungnya setiap pergi sekolah, setiap hari selama 3 tahun dengan jarak sekitar 4 kilometer.

Dilansir China.org, ketika Qin berusia 9 tahun, ia menyadari bahwa sahabatnya, He Ying-hui tak bisa lagi pergi ke sekolah karena terserang penyakit polio dan keluarganya tak dapat menggendongnya ke sekolah. Jadi ia pun memutuskan untuk membawa sahabatnya tersebut sendiri.Qin selalu membawa He ke sekolah selama 3 tahun penuh, hingga akhirnya pemerintah lokal mendengar dedikasinya untuk sang sahabat dan memberikan He sebuah kursi roda pada September tahun lalu. Namun dedikasi Qin tak berhenti sampai di situ. Ia bangun setiap jam 6 pagi, mengerjakan pekerjaan rumah dan buru-buru pergi ke rumah He untuk mengajaknya ke sekolah. Baca lebih lanjut

Pancaran hati

 

Tiga Pancuran Tak Pernah Kering Airnya

Sobat,  di tengah malam tiga hari lalu, aku terbangun dari tidurku. Entah mengapa,  kala itu mataku terus memicing tak bisa diajak tidur kembali untuk menelusuri mimpiku lagi. Suasana gerah,  badanku pun pelan-pelan terasa lungrah. Sedangkan hatiku tiba-tiba gelisah. Sobat,  dalam kondisi seperti ku ini, biasanya apa yang sampean lakukan?

Semula beberapa saat aku tak tahu harus berbuat apa. Mataku terus menerawang langit-langit kamar. Nafasku pun sesekali mendesah. Resah.  Miring ke kiri salah,  balik ke kanan juga salah.  Serba salah.  Pelan kuberanjak dari ranjangku,  lantas duduk di atas bangku. Di atas mejaku,  berjejer beberapa buku.  Kutatap buku-buku itu,  lantas ku raih sebuah secara acak. Ternyata kudapat sebuah buku bertema agama yang lama sekali tak sempat kusentuh apalagi kubaca. Pelan-pelan kubuka secara acak pula. Nah di halaman yang ku dapatkan lantas kubaca sebuah ulasan: Idzaa maatabnu aadama inqoto’a amaluhu  illaa min tsalaatsin, shodaqotin jaariyatin, au ‘ilmin yuntafa’u  bihi, au waladin shoolihin yad’uulahu: jika seorang anak Adam meninggal  maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal : shodaqoh jariah, ilmu yang  bermanfaat karenanya, atau anak sholeh yang selalu mendo’akannya. Baca lebih lanjut

Mari Mengkaji Kitab Suci

Sobat,  baru saja aku membaca sebuah buku berisi wejangan dari Sayyidina  Ali Bin Abi Thalib.  Figur yang oleh Nabi SAW disebut sebagai pintunya ilmu itu berkata:  Berpeganglah pada Kitab Allah.  Dialah tali yang kuat dan cahaya yang terang. Dialah obat  penyembuh yang berguna. Dialah air sejuk penghilang dahaga. Dialah tempat berlindung bagi orang yang berpegang, dan tempat keselamatan bagi orang yang bergantung. Dia tidak pernah miring sehingga perlu ditegakkan, dan tidak pernah menyimpang sehingga perlu diluruskan. Dia tidak pernah usang walaupun sering dibaca, dan tidak pernah membosankan walaupun sering di dengar. Siapapun yang berbicara dengannya pasti benar,  dan siapapun yang mengamalkannya pasti menang.

Sobat,  sejenak aku renungkan ungkapan dari khalifah keempat dalam Islam itu.  Sungguh mendalam isinya,  sungguh luas jangkauannya. Berikutnya,  aku  kembali membaca. Lagi-lagi Sayyidina  Ali Bin Abi Thalib berkata: “Ketahuilah bahwa Al Qur’an adalah pemberi nasehat yang tidak pernah menipu. Pemberi petunjuk yang tidak pernah menyesatkan. Dan pembicara yang tidak pernah berbohong. Siapapun yang duduk bersamanya (mengamalkannya),  maka Al Qur’an akan menambah sesuatu kepadanya atau mengurangi sesuatu daripadanya, yaitu menambah petunjuk kepadanya atau mengurangi kesesatan daripadanya.  Dan ketahuilah bahwa seseorang tidak akan memerlukan apapun setelah Al Qur’an,  dan seseorang akan tetap memerlukan apapun sebelum Al Qur’an. Maka jadikanlah dia sebagai penyembuh dari penyakit-penyakit kalian, dan jadikanlah dia sebagai peringan kesusahan-kesusahan kalian. Sesungguhnya di dalam Al Qur’an terdapat kesembuhan dari penyakit yang paling berbahaya yaitu penyakit kufur, nifaq, penyelewengan dan kesesatan”. Baca lebih lanjut

Keutamaan Bukan Karena Usia


Sobat, telah banyak perasaan bin uneg-uneg telah kutumpahkan dalam tulisan yang kepadamu kukirimkan. Namun,  menurutku itu belum ada apa-apanya sebagai upaya mengupas sebagian ilmu Tuhan. Sebab, ilmu dan pengetahuan manusia memang sangat terbatas (bounded) jumlahnya.   Wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa   qoliilaan: dan tidaklah kamu memperoleh ilmu kecuali hanya sedikit. Padahal ilmu tuhan bersifat tanpa batas (boundless). Tuhan, bahkan mengibaratkan, seandainya lautan dijadikan tintanya, pohon-pohon dijadikan penanya, dan daun-daun dijadikan kertasnya, untuk mencatat ilmu tuhan  pasti tak bakalan  mencukupi. Bahkan, semua itu bila ditambah lagi jumlahnya sampai sepuluh kali lipatnya, tetap tak mencukupi untuk mencatat dan membahas ilmu-ilmu tuhan tadi.

Oleh karena itu, Sobat, saya masih jauh dari merasa  puas dari capaian hasil diskusi kita selama ini. Namun demikian, hendaknya kita, yakni saya dan sampean perlu sadar, bahwa sedikit demi sedikit lama-lama bisa  menjadi bukit, asal saja tak masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Artinya, untuk mendapatkan akumulasi ilmu pengetahuan, kita perlu melakukan secara bertahap. Meskipun sedikit, yang penting berkesinambungan. Hal ini persis dengan ajaran Islam, bahwa, sebaik-baik  amal adalah meskipun sedikit tapi kontinyu.  Ingat kan, sampean, pada hadits itu. Baca lebih lanjut

Nasehat Anak Pada Bapak

Sobat, telah berulangkali kukirimkan padamu tulisan-tulisan yang isinya menggambarkan plus mengajarkan bahwa keutamaan seseorang bukan terletak pada usia (tua atau muda), kepemilikan harta (kaya atau papa)  kedudukan tahta (berpangkat  alias pejabat ataupun rakyat), kelamin (pria atau wanita) dan berbagai parameter  lainnya. Keutamaan seseorang  intinya hanya terletak  pada adab kelakuan (asyyarafu bil adabi laabin nasabi) dan ketakwaan (inna akromakum ‘indallaahi atqookum).

Melalui kesadaran  ini, maka untuk memperoleh keutamaan kita dianjurkan untuk mengambil hikmah dari manapun sumber bin asal muasal alias sangkan nya, meskipun dari orang yang lebih muda  atau bahkan anak-anak, meski pula dari orang miskin papa. Islam mengajarkan  undzur maa qoola walaa  tandzur man qoola: lihatlah apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan.  Sobat, bukankah ajaran ini senada dengan sebuah peribahasa: meskipun keluar dari dubur ayam  jika namanya telur ambillah, tapi  meski keluar dari dubur raja jika namanya kotoran tinggalkanlah. Baca lebih lanjut