Posts Tagged ‘sejarah’

Menelusuri Pelosok Madinah : Kunjungan ke Uhud dan Khandaq (Bagian 17)

Kota Nabi. Meski hari  masih fajar  pagi,  namun  sama sekali tak ada rasa menggigil  di lokasi.  Saya dan Fakhry  bahkan telah melangkah gagah  untuk  mengejar  jamaah shubuh di Nabawy.  Maklum di tanah suci ini,  bahkan di malam hari termasuk pagi,  suhu udara tidak bergeser dari angka 35 derajad celcius.  Apalagi kami memang telah berniat  untuk  ziarah ke makam Baqy,  tempat jasad  para sahabat dan  keluarga Nabi dikubur disimpan dalam bumi.

Tepat pasca wiridan Subuh,  dan tepat pasca kembali  menziarahi makam nabi,   kami langsung menuju lokasi  :  makam baqi.  Dilokasi Baqy sebenarnya tak ada  tanda dan atau informasi  tentang apa,  bagaimana, dan siapa yang dimakamkan di lokasi.  Siapa orang utama yang dikuburkan, tidak ada seorang pun bisa memberi penjelasan dengan kepastian.  Hal yang pasti adalah :  khusus makam orang-orang spesial,   niscaya akan kita temukan keistimewaan,  yakni:   (1).  Jika kubur  orang biasa hanya ditandai dengan  dua bongkah batu,  di bagian kepala dan kaki,  khusus makam orang spesial  disisakan space tertentu ditambah dengan  batas  bebatuan  pada pinggir atas – bawah kiri dan kanan. (2).  Makam istimewa senantiasa  ditunggu di jaga seorang asyakar di dekatnya,  meskipun sang penjaga diam tak memberi informasi apapun tentang makam yang dia jaga. Setiap kali  bertanya padanya,  jawaban asykar hanya Allah a’lam: Allah yang paling tahu.

Sebagai peneliti tentu kami tak kehilangan akal untuk sedikit menguat rahasia.  Melalui tanya pada orang-orang tertentu yang kami perkirakan tahu,  kami langsung  tanya ini dan itu.  Alhamdulillah,  beberapa orang Arab yang kami tanyai:  ternyata mereka memberi informasi.    Berbagai kubur  di bagian depan tak jauh dari pintu gerbang misalnya,  ternyata merupakan  kubur  ’ailatun nabi : keluarga nabi  alias anak-anak dan istri.  Kami  juga berhasil  menemukan makam  sayyidina utsman yang lokasinya di tengah-tengah baqi”,  dengan batas bebatuan relatif lebih luas dibanding makam-makam istimewa lainnya

Kami juga menemukan makam  ibu susu Nabi, yakni :  Siti Halimatus Sya’diah,  yang posisinya ke arah kiri dari lokasi makam Utsman.  Berikutnya berjalan masuk ke dalam lagi  ke  makam ibunya sayyidina Ali yang tak lain  istri paman nabi  bernama Abu Thalib. Posisi makam  lebih  ke belakang tak jauh dari  tembok  di pinggir sebelah kiri.  Tidak lama kami  berada di dalam Baqy,  sebab sekitar jam 7 kami bersegera pulang ke penginapan,  untuk mengisi perut alias sarapan.

Sabtu,  8 April 2017 kantor – kampus masih libur semua,  sehingga agenda berikut yang kami susun adalah menelusuri Madinah pelosok  atau luar kota.  Sorang sarjana  yang tinggal di Madinah sejak  SD mengantar kami,  untuk merealir tujuan ”penting”  ini.  Mohammad Isa Abdullah,  itulah nama yang disandangnya.  Pria muda berbadan tambun ini ternyata  seorang Hafidz.  Masya Allah.

Singkat kata,  sekitar jam 10 pagi  kami telah  meluncur ke   masjid Quba’ dan Qiblatain,  dua buah masjid  monumental  dalam sejarah peradaban Islam.  Quba’  merupakan masjid pertama yang dibangun Nabi, bahkan sebelum Nabawi.  Quba’ dahulu berada di pintu gerbang Madinah.  Dalam perjalanan Hijrah,  Nabi sempat ”membangun”  dan mendirikan shalat di Quba’ ini.  Walhasil,  siapaun menyempatkan shalat di Quba’  dia akan mendapat keutamaan.

Adapun masjid Qiblatain  bermakna dua kiblat.  Kenapa dinamakan demikian,  tentu ada sejarah yang bisa dijelaskan.  Dahulu :  jamaah shalat semula  menghadap ke arah masjidil Aqsa (Yerussalem) .  Suatu hari,   turun perintah Ilahi untuk mengubah  kiblat dari al Aqsa menjadi  ke  Baitullah di Mekkah.  Mendengar berita itu,  jamaah masjid Qiblatain yang semula ke arah Al Aqsa,  maka serta merta mengubah arah ke arah Makah.  Akibat peristiwa ini:  karena  dalam satu waktu shalat mereka sempat mengarahkan diri pada dua kiblat,   sang masjid lantas dinamakan masjid qiblatain.  Kami tidak shalat di dalamnya,  sebab memang tak ada penjelasan tentang keutamaan untuk shalat di sana ,  sebagaimana dijelaskan terkait masjid Quba.

Dari dua masjid,  kami  lantas  meluncur benteng Orwah bin Al Zubair,  sebelum akhirnya  ke bukit Uhud dan lalu ke bukit Hondaq. Berbeda dengan jamaah haji  – umroh yang biasa menaiki bus besar,   kami  memakai mobil kecil seukuran Avanza.  Walhasil,  berbeda  dengan bus yang harus melalui jalan-jalan besar,  kami sengaja diantar melalui perkampungan Arab. Tujuannya untuk mengenal  situasi dan kondisi pemukiman masyarakat.  Di tengah situasi terik seperti Madinah ini,  maka hampir tak dijumpai  orang lalu lalang dengan berjalan kaki.  Rumah-rumah dari luaran tampak berbentuk kubus kebanyakan,  dan amat sangat jarang dihisai denan tetumbuhan.  Gersang.  Panas.  Setelah blusukan ke berbagai kampung arab,  akhirnya sampailah ke  kawasan Jabal Uhud..  Uhud ternyata memang bukan sebuah gunung tunggal,  melainkan gugusan bukit yang memiliki bebeapa puncak.

Uhud –dahulu  sebagai  tempat terjadinya perang kedua dalam Islam—suasananya tetap sama,  tak ada beda dengan  dua tahun sebelumnya.  Di kaki bukit  kami tetap disambut  pasar tradisional dengan aneka dagangan yang dijajakan.  Sebuah bukit kecil  berjarak tak  jauh (bahkan paling dekat) dari  pasar  itulah ”inti” sejarah  uhud terjadi.  Konon di bukit paling kecil dan tak  terlalu tinggi ini,  dahulu menjadi tempat komando  pasukan panah yang dibentuk Nabi sang utusan.  Mereka disuruh menyerang bertahan,   namun akhirnya lokasi ini  justru  ditinggalkan,  akibat mereka terpesona oleh harta rampasan.   Akibat  melanggar perintah nabi,  muslimin banyak menjadi  korban dalam peperangan ini.  Para syuhada’  Uhud  ini dimakamkan di lembah tepat di depan bukit tadi,  pada posisi sebelah sisi lainnya dari pasaritradisional ini.  Salah tokoh legendaris  yang dimakamkan satu nya adalah :  Sayyidina Hamzah,  paman nabi yang tewas ditombak lengkap  dengan bekas 70 sabetan pedang.

Hanya saja,  di lokasi di tahun 2017 ini terdapat bangunan masjid   yang pada September 2015 belum ada. ”Masjid baru dibangun sejak akhir 2015”, jelas mas Mohammad Isa,  yang dirunut leluhur berasal dari Pati dan Yogya.   Saya duga  Masjid Uhud sengaja untuk memfasilitasi  penggalakan pariwisata,  sehingga  wisatawan dapat shalat  sekaligus menghilankan penat.  Bahkan,  sambil mengurangi penat,   wisatan dapat belanja berbagai ”cinderamata”  yang digelar di pasar tradisional termasuk toko mobil  yang kuperhatikan juga banyak keberadaannya.  .

Pembangunan  di bukit  Khandaq  –tempat terjadinya perang Khandaq—bahkan lebih  pesat pelaksanaannya.  Jika  di tahun 2015, saya tak  tertarik untuk  mengunjungi,  merasa  cukup memandang dari  kendaraan kami,  maka di  tahun 2017  jamaah  ”pastiakan tertarik untuk  turun  ke  lokasi.   Fasilitas penunjang telah banyak  dibangun dilokasi.  Setidaknya ada empat bangunan historis di wilayah Khandak.  Satu bangunan kecil berlokasi  di atas sebelah kiri,  disebut masjid nabi.  Tepat di bawahnya ada bangunan lebih kecil dan sederhana  disebut masjid Salman Al Farisi.   Di  sebelah kanan pada posisi juga  tinggi disebut masjid Ali.  Terakhir,  tepat di bagian tengah terdapat masjid yang paling besar disebut masjid Utsman bin Affan.  Di masjid inilah terdapat banyak toilet,  serta  memungkinkan wisatawan untuk shalat bahkan istirahat untuk melepaskan penat.

Keempat”masjid”,  sebenarnya hanya pertanda  bahwa tempat itu dahulu menjadi  lokasi  tafakur (dzikir dan shalat sunnah)  nama-nama bersangkutan,  sekaligus tempat mangkal untuk  mengawasi musuh  dari posisi bebukitan.  Di lokasi ini nama Salman Al Farisi menjadi legenda,  sebab tokoh inilah yang mengusulkan ide penggalian parit untuk mengelilingi lokasi,  sebagai beteng pertahanan,   karena umat Islam kala itu sedang dipaksa  menghadapi koalisi kejahatan  kaum kafir Qurais dan  para pengkhianat Yahudi Madinah.

Saudi memang sedang berbenah diri,  membangun berbagai fasilitas untuk mendukung program wisata sebagaimana visi Saudi 2030 nya.  Tak jauh dari Uhud,  tepatnya satu dua kilometer  sebelum menjangku kawasan Uhud,  terdapat  beteng kuno peninggalan Dinasti Utsmaniah,  yang  juga mengalami proses renovasi.  Dialah  benteng Orwah bin Al Zubair.   Bahkan,  di masing-masing lokasi wisata tadi,  saat ini telah pula dipajang papan besar yang berisi penjelasan tentang apa dan bagaimana  kejadian yang pernah terjadi  di  lokasi bersangkutan tadi.

Realitas ”pembenahan” situs  seperti ini sekarang bukan khas fenomena  Madinah,  melainkan juga telah  menjadi  fenomena Mekah.  Banyak fasilitas historis dibangun di Makkah Al Mukarromah.  Selain museum haromaian,  lokasi wukuf nabi misalnya,  jika dahulu disembunyikan/dikaburkan persis seperti  lokasi kelahiran nabi,   kini telah ditandai dengan bangunan kotak kecil  tepat di arah bawah jabal Rahmah.  ”Irigasi yang dibangun era Umayyah di sepanjang bukit di Makkah,  konon juga akan direnovasi”,  jelas mas Mubarrok ketika mengantar ziarah di kota Makkah.  Dahulu,  Irigasi itu konon dimaksud sebagai jaringan penyaluran air untuk memenuhi  kebutuhan minum para haji kota Makkah.  Bangunan ini terwujud atas inisiatif permaisuri Sultan  yang senantiasa dibayang-bayangi mimpi bertemu dengan lautan jamaah haji.  Mimpi ini terjadi berulang kali..  Atas mimpi inilah,  sang permaisuri ingin berbuat kebajikan pada jamaah haji, lantas memerintahkan pembangunan irigasi puluhan kilo meter panjang sekali,  menyusuri bukit-bukit terjal  terutama untuk memenuhi kebutuhan minum jamaah haji,  di tengah tanah terik  tanah haram yang tidak terkira. Subhanallah.***

 

Kisah Tragis Amangkurat: Pengangkatannya sebagai Sultan menandai awal kemunduran Mataram

Kisah Tragis Amangkurat: Membunuh Wanita, Anak dan KeluargaSobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan  artikel tentng Amangkurat I yang mungkin  menarik untuk dikaji  lebih lanjut dengan cara lebih mendalam.  Semoga bermanfaat.

Sobat,  Amangkurat I lahir sekitar tahun 1619 M  dan merupakan anak ke sepuluh dari istri kedua Sultan Agung Mataram, Ratu Kulon dari Cirebon.  Pengangkatannya sebagai Sultan Mataram pasca mangkatnya Sultan Agung kemudian dianggap menandai masa awal kemunduran Kerajaan Mataram. Baca lebih lanjut

Kebangkitan Nasional: Budi Utomo atau Sarekat Islam?

|Sobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan  artikel yang secara substantif mempertanyakan bahwa :  apakah peringatan hari kebangkitan nasional kita tepat tanggalnya ?  dan apakah eksistensi  Budi Utomo layak diperingati sebagai moment  dari kebangkitan nasional Indonesia ?  Semoga dapat dijadikan renungan bersama.

20 Mei menjadi Hari Kebangkitan Nasional bagi Republik Indonesia. Hari tersebut bukan hanya sekedar hari-hari belaka, tetapi menghujam ke dalam benak masyarakat Indonesia, bahwa pada hari kelahiran Budi Utomo-lah Indonesia memiliki kesadaran untuk bangkit secara menyeluruh. Penetapan seperti ini tak semestinya dianggap enteng. Penetapan hari penting bagi negara, penetapan pahlawan-pahlawan nasional, tugu-tugu peringatan memiliki makna yang mendalam sebagai simbol-simbol negara yang memiliki makna.[1] Baca lebih lanjut

Konflik Hindu – Muslim Jembrana Era Kolonial Belanda: Tragedi yang Tak Perlu Terulang (Tulisan 22)

Sore hari.  Mentari telah condong ke arah Barat.  Pak Syarif mengajak kami mengunjungi pelabuhan ikan yang armada kapalnya sebagian besar dimiliki juragan nelayan muslim.  “Kapal-kapal ini harganya satu diatas seratus juta lho”,  kata  nelayan yang sempat saya temui,  “tetapi dalam beberapa pelayaran,  jumlah itu akan segera terbayarkan oleh hasil tangkapan ikan. Sebab,  sekali  melaut selama seminggu, jika sedang beruntung kita bisa mendapat untung 30 jutaaan ”. Para juragan kapal ini bahkan ada yang memiliki beberapa kapal.  Bahkan,  ”H. Dahlan (?),  sampai mewakafkan salah satu kapal agar hasilnya dipakai untuk keperluan operasional masjid di Loloan”,  jelas pengurus masjid di Loloan Timur.    Subhanallah.  Itulah kontribusi ekonomi secara luar biasa bagi Jembrana dari para nelayan yang umumnya memiliki darah Bugis/Makasar ini.

Secara historis komunitas muslim lama memang punya hubungan saling ketergantungan (saling dukung) secara kokoh,  terutama pada era konflik antar  kerajaan Bali di masa silam.  Sejarah klasik hubungan erat antar di keraton Negara (Jembrana) dengan komunitas muslim Loloan dan Air Kuning merupakan contoh harmoni yang luar biasa. Betapapun kecil kuantitas masyarakat Islam Bali, tetapi ralitasnya mereka telah ikut mewarnai khazanah kebudayaan Bali. Bahkan,  dalam wujud agak ekstrim pengakuan eksistensi masyarakat Islam oleh masyarakat Hindu ada yang sampai teraktualisasi dalam wujud pendirian tempat pemujaan (pura) yang melarang disajikannya hal-hal yang dilarang Islam,  seperti : Banten yang mengandung Babi. Baca lebih lanjut

Kampung Islam Loloan dan Air Kuning di Jembrana – Bali : Sebuah Entitas Lama (Tulisan 21)

Hari masih pagi, tetapi sinar mentari sudah terang benderang menyinari bumi. Tetapi di sepagi itu saya dkk sudah sampai di wilayah Loloan,  tempat komunitas Islam yang telah sangat lama keberadaannya.  Sangat tepat jika eksistensi kampung itu disebut sebagai kampung kuno saja.

Sejarah keberadaan komunitas muslim Loloan  merupakan keturunan dari tanah Melayu (Kuala Trengganu) dan kaum Bugis yang sudah beberapa abad  lalu masuk Bali.  Eksistensi mereka ini juga menjadi bukti historis bahwa Islam telah lama masuk di wilayah Jembrana ini.  Hingga kini mereka bertahan dengan agama Islam dan adat-istiadat Melayu. Bahkan,  berbeda dengan komunitas muslim yang juga tergolong kuno di lokasi lainnya yang umumnya memakai bahasa Bali sebagai alat komunikasi seharí-hari,  komunitas di tempat ini ternyata tetap menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa keseharian di kalangan mereka. Baca lebih lanjut

Nyambangi Kampung Islam Pagayaman di Kabupaten Buleleng – Bali (Tulisan 19)

Dingin menyergap tulang.  Maklum,  semalaman Buleleng diguyur hujan.   Kusedekapkan tangan untuk mencuri kehangatan.  Tetapi,  rasa hangat itu tak kunjung datang.  Akhirnya, tangan ku kibas-kibaskan. Siapa tahu energi kinetik dari hasil kibasan tangan berubah menjadi pemicu kehangatan yang kudambakan.  Ternyata benar,  rasa hangat pelan-pelan mengalir  kurasakan.  Alhamdulillah.

Hari masih sangat pagi,  tetapi pak Syarif telah menghampiri. ”Ke pantai Lovina,  Yuk”,  ajaknya.  ”Sedikit refreshing.  Berperahu ke tengah lautan untuk melihat lumba-lumba berjumpalitan”.  Saya dan semua teman akur saja.  Singkat kata,  saya dkk akhirnya sampai di Lovina.

”Syamsul”,  ucap seorang nelayan muda memperkenalkan diri dengan tangan disodorkan.  Dialah yang mengantar kami ke tengah lautan.  Di Lovina perahu sudah berlalu lalang,  dengan penumpang beraneka kebangsaan.  Ada yang bertampang khas Indonesia meski beda etnis,  tetapi lebih banyak lagi tampang-tampang bule . Tujuan mereka sama,  ingin menyaksikan lumba-lumba.  Semua perahu lalu lalang,  bahkan terkesan berebutan,  untuk mencari moment yang pas menyaksikan lumba-lumba ”atraksi” di laut pagi hari. Baca lebih lanjut