Posts Tagged ‘tangan diatas’

Penghasilan 25 Ribu Sehari, Pemulung Qurban 2 Kambing


pemulung-di-tebet-
Sobat,  berikut sebuah kisah yang terjadi pada lebaran Idzul Adha Oktober 2012 lalu.  Kisah ini patut dijadikan renungan bersama, untuk berusaha diambil hikmahnya.  Yakni: (1). hikmah semangat berkorban,  bersedekah tanpa harus menunggu diri  kerkecukupan,  memiliki harta berlimpah. (2). hikmah bahwa tangan di atas lebih utama dari pada tangan di bawah,  sehingga malu untuk selalu minta sehingga senantiasa berjuang untuk sekali waktu untuk ganti bisa memberi. (3). hikmah bahwa dibalik kesuksesan harus ada perjungan,  bahwa siapa bersungguh-sungguh akan berhasil. Berikut kisahnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Suka Memberi, Tak Suka Diberi

Alyadil’ulya khoirun min alyadissufla, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”.  Sobat, ingatkah sampean pada itu petuah dari nabi utusan Allah ? Subhanallah, itu hadits  sangat dalam  makna yang dikandungnya. Apa itu ? Nabi mengajari umatnya agar membiasakan diri dan  mengembangkan hobi  memberi (baca: tangan di atas) alias brehweh bin loma. Namun, sebaliknya Nabi mengajari agar umat tak suka meminta untuk diberi (baca: tangan di bawah) alias menengadahkan tangan bin ngatong.

Sobat, dari ajaran itu secara substantif Islam mengajari atau  bahkan menyeru  umatnya agar bersikap merwiro, menjaga harga  diri  dan kehormatan untuk berpantang dari bergantung pada orang lain, apalagi sampai minta-minta alias mengemis. Bersikap merendahkan  diri dengan mengharap kemurahan orang lain (bahkan  termasuk pada saudara), baik dalam skala paling rendah (mengemis di jalanan, minta sedekah  dari rumah ke rumah) atau dalam skala besar dan dibalut istilah  keren  seperti istilah  minta sumbangan bin bantuan,   Keduanya tak ada beda.

Islam, setahu saya lebih menghargai orang yang berusaha meskipun sangat kecil hasilnya dan sangat berat  bebannya. Menjaga harga diri diutamakan dalam Islam,   sedangkan merendahkan diri  dilarang oleh  Islam. Memang sih, tolong menolong dalam kehidupan sangatlah  dibutuhkan. Namun, ta’awanu (tolong-menolong) dilakukan berdasar kerelaan dan kesadaran, bukan dilandaskan pada permintaan alias ngatong kecuali hanya dalam kondisi sangat terpaksa dan super darurat saja. Baca lebih lanjut