Posts Tagged ‘teman’

Kepentingan : Antara Musuh dan Teman

Sobat,  ada pepatah yang menyatakan bahwa:  tidak ada musuh atau pun teman yang abadi,  sebab yang abadi adalah kepentingan.  Hari ini seseorang mungkin menjadi teman kita,  karena kebetulan punya kepentingan (yang sama)  dengan kita.  Namun,  ketika kepentingannya berseberangan dengan kita,  sang  teman bisa saja berubah haluan menjadi musuh bagi kita.  Hal  semacam ini terutama terjadi  dalam dunia politik,  meskipun dalam “dunia lain”  juga bisa terjadi.  Dalam konteks ini terdapat  dua hal yang perlu diperhatikan : (1). Jangan sekali-kali percaya pada  seorang pengkhianat,  meskipun  sang pengkhianat  kala itu menguntungkan posisimu.  Apa sebab ? Karena sang pengkhianat itu suatu saat bisa juga mengkhianati dirimu.  (2).  Dalam Islam diajarkan,  janganlah kamu  mencintai seseorang/sesuatu secara berlebihan,  karena bisa jadi apa yang sekarang kamu cintai itu  suatu saat justru berubah  menjadi yang kamu benci.  Sebaliknya,  jangan pula kamu membenci seseorang/sesuatu secara berlebihan,  sebab bisa saja apa yang sekarang sangat kamu benci,  suatu saat justru berbalik kamu cintai.

Sobat,  semoga ungkapan  bisa menjadi renungan untuk hikmah kehidupan kita.

Ambil Keutamaan Meski dari Anak Belia

Sobat, ingatkah sampean  pada sebuah pepatah, “telor meski keluar dari dubur ayam tetap enak dimakan plus menyehatkan,  sedangkan sesuatu meski keluar dari dubur pejabat pasti barang najis dan sangat menjijikkan”. Artinya apa ? Maknanya kita diajarkan untuk melihat sesuatu jangan sekedar di permukaan alias kulitnya saja, tapi hendaknya mencermati lebih detail tentang substansi alias isinya. Segala sesuatu jangan hanya ditakar berdasar penampilannya, tapi dinilai secara utuh dan paripurna.

Jika kita hanya berhenti menilai sesuatu pada kulitnya saja, niscaya amat sangat mungkin menyesatkan kita. Buah manggis misalnya, boleh saja hitam kulitnya, tapi isinya ternyata sangat putih dan enak rasanya. Durian boleh pula berduri kulitnya, tapi legit pula  rasanya. Dus, jika kita menilai durian dan manggis hanya pada penampilan kulitnya, maka kita tak akan memperoleh isinya yang sangat berharga.

Sobat, hal yang sama berlaku ketika kita mengukur hubungan kemanusiaan. Kita menakar dan menilai mereka jangan pada penampilan,  karena itu amat sangat menyesatkan. Sekarang ini banyak sekali orang punya sedan sebagai kendaraan, tapi tak tahunya hasil kreditan.  Mereka tinggal di gedung mewah  bin megah, tapi tiap bulan dibebani oleh hutang yang harus dibayarkan. Kepala nyut-nyutan tiap bulan, karena harus mengalokasikan anggaran untuk  melunasi kreditan. Padahal, banyak orang kampung dengan rumah sederhana, kemana-mana naik omprengan saja, tapi tak dibebani hutang dalam kehidupannya. Nah,  menurut sampean, mana yang lebih kaya antara mereka yang tampil dengan trendy tapi didanai oleh pinjaman  atau mereka yang tampil sederhana tapi seratus persen menjadi hak miliknya ? Baca lebih lanjut

Keutamaan Tak Ditentukan Usia, Tapi Karya

Sobat, belasan tahun lalu, ketika masih kuliah saya sempat mendebat dosen. Saya yakin betul bahwa  pendapatnya salah, dan pendapatku yang betul.  Apalagi saya membawa pula referensi pemikiranku, yakni buku yang telah kubaca. Tahukan sampean, apa kata dosen saya?, Menurutnya, dengan nada agak marah, pendapatnya benar juga, sebab referensinya berbeda. Dia janji akan bawa referensi alternatif pada lain  hari. Janji tinggal janji, janji itu tidak pernah ditepati.  Hari berikutnya, ia tak jadi menunjukkan rujukannya, dan saya pun enggan menagihnya. Sobat, apa makna di sebalik peristiwa itu  ?  Maknanya, sebagai dosen, ia merasa lebih tahu dibanding mahasiswanya. Ketika dikoreksi ia  merasa gengsi, karena telah menakar  diri sebagai orang yang mumpuni.

Ketika  SMA saya juga sempat mengoreksi  kekeliruan bacaan  alQur’an seorang tua, yang kebetulan membaca  disamping saya. Aneh!!!, bukannya dia berterima kasih, tapi ia malah melototkan matanya pada saya. Sobat, lagi-lagi, si orang tua merasa gengsi menerima koreksi, nasehat, saran dari orang yang jauh lebih muda.

Sobat, apakah arogansi usia menggejala pada setiap orang yang berusia lebih tua  atas yang  muda?.  Sebab, terlalu sering kita mendengar ungkapan, “tahu apa kamu anak kecil”, “kamu kan masih anak bau kencur”, serta masih seabreg ungkapan senada. Arogansi usia, senior atas yunior, orangtua pada anak,  dosen/guru pada mahasiswa/murid,  kyai pada santri, atasan pada bawahan  bila dilanggengkan sangat berbahaya bagi kemajuan.  Bukankah demikian sobat ? Arogansi senioritas model ini dapat menghambat kemajuan, karena ide kreatif si muda selalu dihadang kaum tua. Makin bahaya lagi, arogansi model ini dapat melanggengkan kekeliruan yang dilakukan senior, orang tua, dosen/guru, Kyai  tanpa mau dikoreksi.

Dari perspektif Islam, arogansi senioritas model begini sama sekali tak dibenarkan. Karena Islam mengajarkan keutamaan bukan berdasar pada umur, pangkat, jabatan,jenis kelamin, kekayaan,  tapi mengukur keutamaan berdasar parameter budi pekerti, ketaqwaan, kedermawanan, dan yang tak kalah penting ilmu pengetahuan. Inna akromakum ‘indalla-hi atqo-kum: sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah  adalah yang paling bertaqwa (AlQur’an), tak peduli kaya atau miskin, muda atau tua, penguasa atau rakyat jelata.  Bukankah demikian sobat ?  Saya yakin, sampean lebih tahu  dariku. Baca lebih lanjut

Waspadai Musuh Persatuan-Persaudaraan

Sobat,  terus terang, akhir-akhir ini saya merasa agak gundah dengan kehidupan keagamaan kita, umat Islam. Lho, kok bisa ?  Kenapa ?  Bukankah, animo masyarakat dalam mengkaji Islam kian membahana di seluruh dunia ? Bukankah  masyarakat kita makin banyak yang berbaris menunaikan haji ke tanah suci ? Bukankah pula, lautan jilbab kian mewarnai  keseharian bumi kita ?  Lantas apa yang disedihkan? Itulah mungkin seabreg tanda tanya dari sampean.

Serentetan pertanyaan yang mungkin sampean ajukan memang benar adanya. Cuma, satu  hal sampean masih perlu mencermati lagi yakni fenomena maraknya pemikiran aneh-aneh di kalangan umat  yang kian memprihatinkan. Bungkusnya bisa macam-macam, dan merk yang mereka tampilkan juga bisa kebarat-baratan. Tulisan-tulisan sebagai ekspresi pemikiran mereka juga diramu dengan bahasa yang genit. Mungkin, agar terkesan trendy dan terasa catchy. Itu hanya mungkin lho ? Hanya analisis dan bukan su’udzon. Mereka ada yang menyelenggarakan jum’atan pria-wanita dengan imamnya  seorang wanita seperti yang  sempat terjadi di Amerika. Ada pula masjid khusus cewek  yang sempat berdiri di  Belanda. Di negeri kita pun bermunculan pikiran-pikiran tak kalah nyleneh dan aneh nuansanya. Terus terang, sobat, kenyataan itulah yang membuat saya gundah, bingung,  sedih. Memang  sih, pemikiran aneh ini sedikit sekali. Tapi, ekspose pemikiran mereka  di media tak ketulungan hebatnya. Baca lebih lanjut

Pimpinan Bagi Semua Golongan

Sobat, masih ingatkah  sampean tatkala sebulan lalu kita malam-malam berhalaqoh membahas kepemimpinan dalam Islam ?  Saya yakin, sampean masih ingat alias tak bakal melupakan. Ketahuilah sobat, selepas kita berdiskusi malam itu, aku tak bisa tidur karenanya. Satu  hal melekat kuat dalam pikiranku  yang  sebenarnya telah penat. Apa itu ? Dialah hadits nabi yang telah sampean kutip kala itu. Kullukum ro-‘in wakullukum masu-lun ‘an  ro’iyyatihi, bahwa setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Nah, kalau kita masih single alias bujangan maka akan dimintai tanggungjawab kepemimpinan atas  diri  sendiri. Kalau sudah punya anak istri pertanggungjawabannya jadi dobel-dobel, yakni atas diri sendiri sekaligus terhadap anak istri. Menjadi ketua RT berarti bertanggung jawab atas diri sendiri, keluarga, dan anggota masyarakat di lingkungan RT nya. Nah, bagaimana kalau menjadi ketua RW, menjadi  lurah,  camat, bupati, gubernur dan presiden. Dus !!!  Berarti tanggungjawab yang diembannya menjadi kian tumpuk undung bukan ? Masya Allah.

Sobat, terus terang, setiap kali berpikir kembali tentang pertanggung jawaban kepemimpinan saya menjadi ngeri  dibuatnya. Tentu saja bukan hanya tanggung  jawab pada sesama manusia di dunia, tapi tanggung jawab pada Allah Ta’ala di alam baka. Untuk mempertanggungjawabkan  diri sendiri saja sudah setengah mati takutnya, apatah lagi menjadi pemimpin  negara. Walah-walah. Tentu jauh lebih berat tak terkira. Baca lebih lanjut