Posts Tagged ‘tua’

5 Makanan Ini Bisa Bikin Wajah Terlihat Lebih Tua

Sobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan sebuah artikel  yang menginforsikan beberapa makanan yang bikin kita cepat tua.

Sobat,  Makanan yang enak terkadang tak melulu menguntungkan bagi kesehatan kita. Beberapa jenis makanan bahkan bisa membuat wajah kita terlihat lebih tua dari umur kita sebenarnya lho. Dikutip dari Boldsky, ini dia beberapa jenis makanan yang bisa membuat wajah kita terlihat lebih tua:Hati-hati, 5 Jenis Makanan Ini Bisa Bikin Wajah Terlihat Lebih Tua!

1. Makanan cepat saji Kebanyakan makanan cepat saji memiliki kandungan garam dan lemak jenuh yang tinggi, seperti burger dan kentang goreng. Makanan cepat saja benar-benar bisa membuat wajah kita cepat lebih tua. Hiii!

2. Makanan pedas Makanan yang pedas bukanlah makanan yang ideal jika niatmu adalah ingin memperlambat penuaan. Makanan pedas bisa melebarkan pembuluh darah di kulit yang bisa membuatmu terlihat lebih tua.

3. Daging merah Daging berlemak mengandung radikal bebas yang tinggi. Radikal bebas diketahui bia menyebabkan banyak penyakit karena efek negatifnya. Daging merah adalah salah satu dari makanan tersebut yang harus dihindari untuk mencegah penuaan dini terutama pada wajah. Baca lebih lanjut

Keutamaan Bukan Karena Usia


Sobat, telah banyak perasaan bin uneg-uneg telah kutumpahkan dalam tulisan yang kepadamu kukirimkan. Namun,  menurutku itu belum ada apa-apanya sebagai upaya mengupas sebagian ilmu Tuhan. Sebab, ilmu dan pengetahuan manusia memang sangat terbatas (bounded) jumlahnya.   Wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa   qoliilaan: dan tidaklah kamu memperoleh ilmu kecuali hanya sedikit. Padahal ilmu tuhan bersifat tanpa batas (boundless). Tuhan, bahkan mengibaratkan, seandainya lautan dijadikan tintanya, pohon-pohon dijadikan penanya, dan daun-daun dijadikan kertasnya, untuk mencatat ilmu tuhan  pasti tak bakalan  mencukupi. Bahkan, semua itu bila ditambah lagi jumlahnya sampai sepuluh kali lipatnya, tetap tak mencukupi untuk mencatat dan membahas ilmu-ilmu tuhan tadi.

Oleh karena itu, Sobat, saya masih jauh dari merasa  puas dari capaian hasil diskusi kita selama ini. Namun demikian, hendaknya kita, yakni saya dan sampean perlu sadar, bahwa sedikit demi sedikit lama-lama bisa  menjadi bukit, asal saja tak masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Artinya, untuk mendapatkan akumulasi ilmu pengetahuan, kita perlu melakukan secara bertahap. Meskipun sedikit, yang penting berkesinambungan. Hal ini persis dengan ajaran Islam, bahwa, sebaik-baik  amal adalah meskipun sedikit tapi kontinyu.  Ingat kan, sampean, pada hadits itu. Baca lebih lanjut

Nasehat Anak Pada Bapak

Sobat, telah berulangkali kukirimkan padamu tulisan-tulisan yang isinya menggambarkan plus mengajarkan bahwa keutamaan seseorang bukan terletak pada usia (tua atau muda), kepemilikan harta (kaya atau papa)  kedudukan tahta (berpangkat  alias pejabat ataupun rakyat), kelamin (pria atau wanita) dan berbagai parameter  lainnya. Keutamaan seseorang  intinya hanya terletak  pada adab kelakuan (asyyarafu bil adabi laabin nasabi) dan ketakwaan (inna akromakum ‘indallaahi atqookum).

Melalui kesadaran  ini, maka untuk memperoleh keutamaan kita dianjurkan untuk mengambil hikmah dari manapun sumber bin asal muasal alias sangkan nya, meskipun dari orang yang lebih muda  atau bahkan anak-anak, meski pula dari orang miskin papa. Islam mengajarkan  undzur maa qoola walaa  tandzur man qoola: lihatlah apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan.  Sobat, bukankah ajaran ini senada dengan sebuah peribahasa: meskipun keluar dari dubur ayam  jika namanya telur ambillah, tapi  meski keluar dari dubur raja jika namanya kotoran tinggalkanlah. Baca lebih lanjut

Keutamaan Tak Ditentukan Usia, Tapi Karya

Sobat, belasan tahun lalu, ketika masih kuliah saya sempat mendebat dosen. Saya yakin betul bahwa  pendapatnya salah, dan pendapatku yang betul.  Apalagi saya membawa pula referensi pemikiranku, yakni buku yang telah kubaca. Tahukan sampean, apa kata dosen saya?, Menurutnya, dengan nada agak marah, pendapatnya benar juga, sebab referensinya berbeda. Dia janji akan bawa referensi alternatif pada lain  hari. Janji tinggal janji, janji itu tidak pernah ditepati.  Hari berikutnya, ia tak jadi menunjukkan rujukannya, dan saya pun enggan menagihnya. Sobat, apa makna di sebalik peristiwa itu  ?  Maknanya, sebagai dosen, ia merasa lebih tahu dibanding mahasiswanya. Ketika dikoreksi ia  merasa gengsi, karena telah menakar  diri sebagai orang yang mumpuni.

Ketika  SMA saya juga sempat mengoreksi  kekeliruan bacaan  alQur’an seorang tua, yang kebetulan membaca  disamping saya. Aneh!!!, bukannya dia berterima kasih, tapi ia malah melototkan matanya pada saya. Sobat, lagi-lagi, si orang tua merasa gengsi menerima koreksi, nasehat, saran dari orang yang jauh lebih muda.

Sobat, apakah arogansi usia menggejala pada setiap orang yang berusia lebih tua  atas yang  muda?.  Sebab, terlalu sering kita mendengar ungkapan, “tahu apa kamu anak kecil”, “kamu kan masih anak bau kencur”, serta masih seabreg ungkapan senada. Arogansi usia, senior atas yunior, orangtua pada anak,  dosen/guru pada mahasiswa/murid,  kyai pada santri, atasan pada bawahan  bila dilanggengkan sangat berbahaya bagi kemajuan.  Bukankah demikian sobat ? Arogansi senioritas model ini dapat menghambat kemajuan, karena ide kreatif si muda selalu dihadang kaum tua. Makin bahaya lagi, arogansi model ini dapat melanggengkan kekeliruan yang dilakukan senior, orang tua, dosen/guru, Kyai  tanpa mau dikoreksi.

Dari perspektif Islam, arogansi senioritas model begini sama sekali tak dibenarkan. Karena Islam mengajarkan keutamaan bukan berdasar pada umur, pangkat, jabatan,jenis kelamin, kekayaan,  tapi mengukur keutamaan berdasar parameter budi pekerti, ketaqwaan, kedermawanan, dan yang tak kalah penting ilmu pengetahuan. Inna akromakum ‘indalla-hi atqo-kum: sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah  adalah yang paling bertaqwa (AlQur’an), tak peduli kaya atau miskin, muda atau tua, penguasa atau rakyat jelata.  Bukankah demikian sobat ?  Saya yakin, sampean lebih tahu  dariku. Baca lebih lanjut