Posts Tagged ‘wasiat’

Pancaran hati

 

Iklan

Pancaran hati

 

Pancaran hati

 

Pancaran hati

Empat Wasiat Ali Bin Abi Thalib

Sobat,   berikut ini   saya kutipkan sebuah artikel yang ditulis Qibtiyah Mukti tentang empat wasiat Sayyidina Ali  karromallahu wajhahu.  Beliau ini adalah sepupu nabi SAW,  suami Sayyidatina Fatimah Azzahra binti Muhammad SAW,   Amirul Mu’minin ke 4 (tahun 657-667 M),  pemuda pertama yang masuk Islam. Nabi SAW  pernah bersabda tentang sosok  adiluhung ini: ana madiinatul ‘ilmi  wa ‘ali babuha:  saya kota ilmu dan Ali pintunya.  Dengan posisi sedemikian ini,  maka segala ilmu kebijakan dan kebajikan ada pada dirinya.  Semoga  sekelumit wasiat dari Sayyidina Ali ini dapat memberi hikmah  dalam kehidupan kita.

Sobat,  Sayyidina ‘Ali menyatakan: Ya Bunayya, ihfaż ‘anni arba’an wa arba’an la yadurruka ma ‘amilta ma’ahunna, aghna al-ghina al’aqlu, wa akbaru al-faqru al-hamqu, wa awhasyu al-wahsyati al-‘ajabu, wa akbaru al-hasabi husnu al-khuluqi.  Sayyidina Ali bin Abi Tholib,  mewasiatkan empat hal kepada putranya Hasan RA untuk senantiasa diingat dan dijadikan pegangan dalam kehidupannya.

Yang pertama adalah bahwa paling berharganya kekayaan adalah akal dan bukan harta benda ataupun yang lainnya. Karena dengan akal, manusia bisa mencapai apa yang menjadi keinginannya dan dengan akal pula manusia akan mendapatkan harta kekayaan atau bahkan kehormatan. Tanpa akal, manusia tidaklah berarti. Akal pulalah yang menjadi pembeda antara manusia dengan binatang. Baca lebih lanjut

Tiga Pancuran Tak Pernah Kering Airnya

Sobat,  di tengah malam tiga hari lalu, aku terbangun dari tidurku. Entah mengapa,  kala itu mataku terus memicing tak bisa diajak tidur kembali untuk menelusuri mimpiku lagi. Suasana gerah,  badanku pun pelan-pelan terasa lungrah. Sedangkan hatiku tiba-tiba gelisah. Sobat,  dalam kondisi seperti ku ini, biasanya apa yang sampean lakukan?

Semula beberapa saat aku tak tahu harus berbuat apa. Mataku terus menerawang langit-langit kamar. Nafasku pun sesekali mendesah. Resah.  Miring ke kiri salah,  balik ke kanan juga salah.  Serba salah.  Pelan kuberanjak dari ranjangku,  lantas duduk di atas bangku. Di atas mejaku,  berjejer beberapa buku.  Kutatap buku-buku itu,  lantas ku raih sebuah secara acak. Ternyata kudapat sebuah buku bertema agama yang lama sekali tak sempat kusentuh apalagi kubaca. Pelan-pelan kubuka secara acak pula. Nah di halaman yang ku dapatkan lantas kubaca sebuah ulasan: Idzaa maatabnu aadama inqoto’a amaluhu  illaa min tsalaatsin, shodaqotin jaariyatin, au ‘ilmin yuntafa’u  bihi, au waladin shoolihin yad’uulahu: jika seorang anak Adam meninggal  maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal : shodaqoh jariah, ilmu yang  bermanfaat karenanya, atau anak sholeh yang selalu mendo’akannya. Baca lebih lanjut

Mari Mengkaji Kitab Suci

Sobat,  baru saja aku membaca sebuah buku berisi wejangan dari Sayyidina  Ali Bin Abi Thalib.  Figur yang oleh Nabi SAW disebut sebagai pintunya ilmu itu berkata:  Berpeganglah pada Kitab Allah.  Dialah tali yang kuat dan cahaya yang terang. Dialah obat  penyembuh yang berguna. Dialah air sejuk penghilang dahaga. Dialah tempat berlindung bagi orang yang berpegang, dan tempat keselamatan bagi orang yang bergantung. Dia tidak pernah miring sehingga perlu ditegakkan, dan tidak pernah menyimpang sehingga perlu diluruskan. Dia tidak pernah usang walaupun sering dibaca, dan tidak pernah membosankan walaupun sering di dengar. Siapapun yang berbicara dengannya pasti benar,  dan siapapun yang mengamalkannya pasti menang.

Sobat,  sejenak aku renungkan ungkapan dari khalifah keempat dalam Islam itu.  Sungguh mendalam isinya,  sungguh luas jangkauannya. Berikutnya,  aku  kembali membaca. Lagi-lagi Sayyidina  Ali Bin Abi Thalib berkata: “Ketahuilah bahwa Al Qur’an adalah pemberi nasehat yang tidak pernah menipu. Pemberi petunjuk yang tidak pernah menyesatkan. Dan pembicara yang tidak pernah berbohong. Siapapun yang duduk bersamanya (mengamalkannya),  maka Al Qur’an akan menambah sesuatu kepadanya atau mengurangi sesuatu daripadanya, yaitu menambah petunjuk kepadanya atau mengurangi kesesatan daripadanya.  Dan ketahuilah bahwa seseorang tidak akan memerlukan apapun setelah Al Qur’an,  dan seseorang akan tetap memerlukan apapun sebelum Al Qur’an. Maka jadikanlah dia sebagai penyembuh dari penyakit-penyakit kalian, dan jadikanlah dia sebagai peringan kesusahan-kesusahan kalian. Sesungguhnya di dalam Al Qur’an terdapat kesembuhan dari penyakit yang paling berbahaya yaitu penyakit kufur, nifaq, penyelewengan dan kesesatan”. Baca lebih lanjut