Archive for Januari, 2018

Mengawali Hari di Kota Nabi: Antara Museum dan Perpustakaan (Bagian 16)

Waktu Maghrib telah lewat,  saat  Isya’  sedang merayap. Gelap. Hanya ”sinar  lentera” yang membantu kami untuk mengenali berbagai panorama yang menjadi  obyek penglihatan mata.  Tak ada keindahan  dalam keremangan,  kecuali hanya biasan benda yang obyek mya sempat terpapar  oleh sinar  dalam kegelapan.

Di tengah keremangan malam itulah,  kami memasuki  kota Madinatun Nabi –  Madinah al Munawwaroh.  Madinah   di malam hari,  ternyata dijerat kemacetan yang parah sekali.  Apalagi  beberapa  lorong jalan  menuju  penginapan,  ternyata ditutup  akibat sesuatu alasan.  Kami harus putar-putar dahulu untuk mencapai  Mubarak Silver hotel yang kami tuju.

”Hitung-hitung  city tour gratis”,  kata mas Hamdan menenangkan di tengah rasa penat yang sudah mulai menyerang.

”Sopirnya saja  tetap cool   tak mengekspresikan jenuh kemarahan”,  timpal Wawan  ikut menenangkan.

Kulirik Fakhry,  sang koordinator yang sedang asyik melihat kanan kini  penuh ketakjuban.  ”Mas… itukah masjid Nabawinya ?,  dia bertanya tiba-tiba,  sembari jari menunjuk  ke arah menara.

Akhirnya sampai juga  kami  tepat di jalanan  tepat di bagian belakang  hotel.  Prosesi memasuki dan berbenah di penginapan,  ternyata butuh waktu beberapa saat.  Walhasil,  tak hanya Maghrib,  jamaah  Isya’ pun  terpaksa kami ketinggalan.

Namun,  Fakhry,  mas Hamdan,  dan Wawan tetap memutuskan untuk  shalat di  Nabawi,  meskipun hanya  shalat di halaman masjid Nabi.  Maklum, mereka memang ingin segera pulang,  mereka ingi segera meluruskan badan, setelah perjalanan panjang melelahkan.  Saya sendiri terpaksa pilih  shalat di hotel saja,  sebab perasaan  mriang tiba-tiba  menyerang raga.  Aku menggigil,   sesaat ketika  menyentuh air untuk berwudlu.

Dalam situasi ini  saya harus membuat keputusan : harus pandai-pandai mengelola badan,  mengingat apa yang kami lalui baru separuh perjalanan, baru setengah  tugas dari yang kami  jadwalkan.   Buru-buru  jaket kukenakan,  jama’ maghrib-isya’ segera kulakukan,  lantas minum obat disusul tidur merebahkan badan . Dengan prosesi menata diri ini,  esuk  pagi,  badanku sudah terasa nyaman lagi.  Alhamdulillah wa syukurillah….

Meski badan telah segar kembali,  namun  di  Jum’at 7 April 2017 ini,  kami tak langsung  berkunjung ke kampus –  kantor  karena Jum’at adalah hari libur pekanan di Saudi.  Ketika di Jeddah –  Makkah,  kami juga dihadapkan pada  status liburan .  Bedanya,  di kedua kota itu libur terjadi akibat uthlah nisfu sannah (libur tengah tahun),  maka  di Madinah terjadi hanya karena uthlah yaumil jumuah. Walhasil,  hari pertama di  Madinah akhirnya kami manfaatkan untuk  kunjungan ke berbagai  lokasi peradaban Islam.

Pagi Ba’da Subuh,  saya memperkenalkan Fakhri dengan beberapa lokasi di sekitar  masjid Nabawi,  mulai dari batas-batas Raudhah  sampai posisi lokasi makam Nabi.  Saya memang memang tak mengajak  masuk Raudlatun Nabi,  karena untuk hal itu  kami harus antri  yang bermakna waktu dan tenaga  akan terkuras di lokasi ini.  Padahal  situasi badan belum prima sekali,  dan tenaga  yang kami miliki  belum fit kembali.   Kami harus cukup istirahat sehingga kami hanya menyusuri lorong menuju makam nabi,  meskipun untuk menuju lokasi saya tetap melewati jalur di belakang roudhotun nabi.  Walhasil,  sambil jalan menuju makam Nabi,  saya bisa menjelaskan batas-batas dan ciri-ciri Raudlah di Nabawi:  yakni terletak antara tiang makam/kamar  dengan  mimbar nabi, yang secara khas  dilapisi keramik berwarna agak putih,  berbeda dengan tiang-tiang di kanan dan kiri.  Setelah menelusuri lorong di belakang  Raudhah Nabi,  akhirnya sampailah kami di kubur Nabi.  Lokasi,  makam nabi posisinya tepat di bawah kubah berwarna hijau.

Setelah sarapan pagi,  kami istirahat sejanak  untuk mengumpulkan energi.  Ba’da jamaah dzuhur,  barulah kami  kembali menapaki  berbagai lokasi di sekitar Madinah ini.  Kali ini,  mas Isdihar mengiringi perjalanan keliling lokasi sekitar Nabawi,  Pertama sekali,  kami diantar ke lokasi  di arah belakang masjid Nabawi .  ”Subhanallah,   di tengah Madinah yang ”gersang”,  ternyata ada sebuah  taman penuh  tetumbuhan”,  komentarku takjub.

”Inilah yang disebut  lapangan Bani Sa’idah”,   tukas mas Isdihar,  ”di lokasi ini kaum Muhajirin – Ansyar  dahulu berhasil  mengatasi ”problem”  kepemimpinan pasca wafatnya Nabi  kembali ke haribaan Tuhan.

Terus terang, baru kali ini saya  mengetahui lokasi ini.,  meskipun sudah dua kali ziarah ke kota nabi.  Sebagaimana kebijakan pariwisata yang sedang dikembangkan,  taman Bani Saidah  selain  ditata diisi dengan berabagia tumbuhan dan kembang,    di lokasi juga dipasang papan,  berisi penjelasan tentang  lokasi yang dijadikan obyek  kunjungan.

Berikutnya,  kami  diajak  mengunjungi Ma’arid Al Asmaul Husna (ekshibisi atau pameran Asmaul Husna),  berikutnya Ma’arid Al Qur’an (Pmeran Al Qur’an).  Tahun  2015 saya pernah berkunjung ke dua lokasi ini,  yang di tahun itu memang baru dibuka pertamakali.  Tak ada beda,  apa yang dipamerkan dibanding dua tahun sebelumnya.  Hanya saja dalam soal perawatan alat peraga (termasuk komputer pemberi  informasi yang lebih lengkap)  ternyata beberapa rusak tak bisa dipakai lagi.  Di lokasi inilah kami melihat berbagai koleksi al Qur’an kuno,  dan segala hal terkait al Qur’an,  termasuk al Qur’an Kuno dibuat tahun 870 M  yang justru didapatkan dari Dublin  –  Inggris  (?).

Sebenarnya ada satu lokasi lagi,  yakni Ma’aridh  Masjidul  Nabawy  yakni museum masjid Nabawi,  namun sejak  tahun 2015 sampai  datang lagi di tahun 2017 masih belum dibuka,  konon katanya memang belum siap untuk kelengkapan koleksinya.

Ketika  adzan Asyar berkumandang,  kami segera  menuju masjid untuk jeda sembahyang.  Ba’da Asyar  kami  kembali melakukan ziarah – kunjungan melakukan petualangan khusus di tengah perkotaan.  Mas Hamdan-Izdiha-Wawan memilih datang  ke perpustakaan Nabawy,  sedangkan  saya mengantar  Fakhry untuk mengena  ”masjid” di sekitar lokasi.   Di pintu 8 langsung berjalan ke arah kanan,  kami melangkah menuju  masjid Al Ghumamah,  lokasi sholat Istisqo’ yang dahulu pernah dilakukan Nabi.  .   Jika di tahun 2015 saya sempat  sholat di dalamnya,  kali ini kami hanya foto-foto di depannya.  Beranjak dari Al Ghumamah  kami melangkah ke  masjid Abu Bakar dan berikutnya memutar menuju  masjid Ali.  Masjid-masjid itu, kokon dahulu merupakan tempat tinggal (sekaligus musholla pribadi)  dari Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib.  Sebenarnya maksud hati ingin juga menuju masjid Umar, masjid  Utsman ,   bahkan masjid Bilal,  namun karena panas terasa menyengat .  kami lantas  membatalkan niat.  Sebab,  kami memang  harus mengumpulkan energi, untuk tugas meneliti di lain hari.***

 

 

 

Iklan

Agar Cabai Tetap Segar Sampai Sebulan

Sobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan tulisan tentang cara menyimpan agar cabai bisa bertahan sebulan.   Kadang Saat harga cabai murah, membeli Rp5.000 saja sudah dapat banyak. Seringkali cabai yang sudah dibeli dibuang karena kering atau busuk. Agar cabai yang sudah dibeli awet, ada tipsnya. Kementerian Perdagangan RI memberi tahu tips simpan cabai baru-baru ini. Bahkan, dengan melakukan cara ini cabai bisa tahan sampai sebulan.

Pertama-tama, pisahkan cabai dari tangkainya. Lalu, simpan di wadah yang sudah dialasi tisu di sekeliling wadah. “Lalu, masukkan sesiung bawang putih yang sudah dikupas di atas cabai,” seperti mengutip Twitter resmi @Kemendag pada Minggu (21/1/2018).Kemudian, tutup rapat wadah dan masukkan ke dalam kulkas .

Pemilik akun Twitter @maskaki sudah menjajal tips Kemendag dan terbukti cabai awet lebih lama. “Insya Allah seminggu tetep cantik dan semledot,” cuitnya. Lalu, ada juga @nuranwibisono, “Aku nggawe cara iki sejak beberapa bulan lalu moco nang forum kuliner. Bahkan sampe sebulan lebih, cabe rawit sik apik”. (Aku melakukan cara ini beberapa bulan lalu usai membaca di forum kuliner. Bahkan sampai sebulan lebih, cabai rawit masih bagus). Sobat,  semoga bermanfaat.

Sumber : http://health.liputan6.com/read/3233534/mau-cabai-tetap-segar-sampai-sebulan-ini-caranya

 

Maasya Allah – Baarokallah : Kena Penyakit ‘Ain(Bagian 15)

 

Mentari  siang  kurasakan  tambah menjadi  garang.  Sinarnya  meraja,  seolah  hendak menguasai memerintah dunia.   Terik.  Panas,  kurasakan kian  ganas.

“Dahulu pernah  ada kejadian di wilayah kota suci ini.  Sebuah gedung menawan,  tiba-tiba  rubuh  tanpa sesuatupun  alasan ”,  kata mas Mubarak menjelaskan. “Telisik punya telisik,  tragedi itu terjadi akibat gedung menawan itu telah memancing decak ketakjuban,  yang sayangnya tak  diekspresikan dalam kata-kata Maasya Allah   Baarakallah sebagaimana nabi telah ajarkan”, tandas  sang kandidat Doktor.  “Sejak saat itulah,  sosialisasi ucapan MaasyaAllah-Baarakallah digencarkan sedemikian rupa,  bahkan kini menjadi kultur Saudi yang tampaknya tak bakalan lepas lagi.  Mobil-mobil yang mengaspal di tanah haram sini,  sebagian besar ditulisi dua ungkapan tadi”.

Sejenak  mas  Mubarak tak bersuara,  setelah  mengakhiri kisahnya.  Hening.  Bisu.  Suwung.

”Percaya tak percaya,  itulah realitasnya”,  mas Mubarak kembali bersuara,  ”Saya sendiri pernah mengalami penyakit ’ain tadi,  terjadi akibat ketakjuban dan  atau pandangan mata yang kita miliki.  Suatu kali,  di sebuah masjid,   saya bertatapan mata dengan seorang lelaki tua,  yang tatapannya sangat tajam  dan  sampai kini  tak akan pernah terlupa”, tandas mas Mubarak,  ”Astaghfirullah,  ketika sampai di rumah tiba-tiba badan terasa gatal merata,    kulit memerah  melepuh seperti terbakar sinar surya.  Pengobatan ke dokter telah berulangkali kulakukan,  namun sembuh tiada kunjung ku dapatkan.  Pada situasi kalut  itulah,  saya teringat tatapan tajam bapak tua di masjid beberapa hari sebelumnya.  Beberapa hari  berikutnya  saya berusaha menemui bapak tua tadi,  sayangnya  tak kunjung bisa  kutemui.  Saya pun meminta tolong pada teman-teman untuk  mencarikan,  tetapi  mereka berhari-hari tidak kunjung mendapatkan”,  tambah pria yang telah belasan tahun tinggal di Makkah itu.

”Dalam situasi demikian,  tak ada yang bisa kulakutan, kecuali rajin ke masjidil haram  untuk bertobat mohon ampunan,   sekaligus meminta  kesembuhan.    Bahkan,  saya menyempatkan umrah dengan lantunan do’a agar penyakit segera diangkat oleh Nya.  Namun,  upaya demikian  ternyata tak lantas kesembuhan  segera kudapatkan”,  suaranya bernada mengenang kepahitan.

”Walhasil,  suatu hari,  ketika  jamaah di sebuah masjid,  sang imam kebetulan  melantunkan  ayat-ayat yang biasa dipakai sebagai bacaan rukyah untuk mengusir jin-setan laknat.  Dus,  pada saat itulah tiba-tiba kurasakan bahwa  bacaan imam telah  berpengaruh luar biasa pada badan”,  kisah mas Mubarak dengan ekspresi kegirangan, ”Subhanallah wal  alhamdulillah,  sejak saat itu penyakit a’in yang menimpaku tiba-tiba menjauh dariku.  Sembuh”.

Itulah sekelumit peristiwa yang mas Mubarak pernah alami,   lelaki yang telah yang belasan tahun tinggal di tanah suci.,  terserang sakit akibat  tatapan mata alias a’in.   Semoga kisah nyata ini ,  senantiasa mengingatkan kami  untuk mentradisikan ucapan Masyaallah –  Baarakallah tatkala  dihadapkan pada ketakjuban pandangan netra yang kami miliki.

Selamat tinggal Makkah,  kami beranjak menuju Madinah.

Jarak Mekah – Madinah sekitar 425 km.  Telah tiga kali kami menapaki  jalanan ini,  dua kali di tahun 1997 dan sekali di tahun 2015.  Ditambah dengan yang terakhir pada Kamis,  4 April 2017 ini,  berarti saya telah empat kali menapaki  jalanan yang dahulu dilalui nabi.  Jika ditempuh dengan bis yang mengangkut jamaah hati, maka  rata-rata dibutuhkan waktu 6-8 jam.  Namun,  dengan mobil kecil  sewaan kami,  maka  jarak yang sama dapat dicapai sekitar 4-6 jam saja.

Beberapa waktu pasca Dzuhur,    sopir beretnis Asia Selatan (Pakistan ataukah India)  menjemput  untuk  mengantar kami.  ”Tatapannya dingin”,  kata Wawan ketika pertama kali  melihat wajah sang sopir.  ”Wajahnya mirip bintang film India”,  aku menimpali.  Dalam hati aku bahkan berkata,  ”sopir ini bahkan lebih cakep dibanding Sakh Rukh Khan dari segi tampangnya”.   Singkat kata,  berangkat dari Makkah sekitar jam 15.00 sampailah kami  di Madinah  di  sekitar jam 20.00 waktu Madinatun Nabi.   Assalamu ’alaikum Ya Rasulullah. Assalamu ’alaikum Ya Nabiyallah. Assalamu ’alaikum Ya Habiballah.***.