Maasya Allah – Baarokallah : Kena Penyakit ‘Ain(Bagian 15)

 

Mentari  siang  kurasakan  tambah menjadi  garang.  Sinarnya  meraja,  seolah  hendak menguasai memerintah dunia.   Terik.  Panas,  kurasakan kian  ganas.

“Dahulu pernah  ada kejadian di wilayah kota suci ini.  Sebuah gedung menawan,  tiba-tiba  rubuh  tanpa sesuatupun  alasan ”,  kata mas Mubarak menjelaskan. “Telisik punya telisik,  tragedi itu terjadi akibat gedung menawan itu telah memancing decak ketakjuban,  yang sayangnya tak  diekspresikan dalam kata-kata Maasya Allah   Baarakallah sebagaimana nabi telah ajarkan”, tandas  sang kandidat Doktor.  “Sejak saat itulah,  sosialisasi ucapan MaasyaAllah-Baarakallah digencarkan sedemikian rupa,  bahkan kini menjadi kultur Saudi yang tampaknya tak bakalan lepas lagi.  Mobil-mobil yang mengaspal di tanah haram sini,  sebagian besar ditulisi dua ungkapan tadi”.

Sejenak  mas  Mubarak tak bersuara,  setelah  mengakhiri kisahnya.  Hening.  Bisu.  Suwung.

”Percaya tak percaya,  itulah realitasnya”,  mas Mubarak kembali bersuara,  ”Saya sendiri pernah mengalami penyakit ’ain tadi,  terjadi akibat ketakjuban dan  atau pandangan mata yang kita miliki.  Suatu kali,  di sebuah masjid,   saya bertatapan mata dengan seorang lelaki tua,  yang tatapannya sangat tajam  dan  sampai kini  tak akan pernah terlupa”, tandas mas Mubarak,  ”Astaghfirullah,  ketika sampai di rumah tiba-tiba badan terasa gatal merata,    kulit memerah  melepuh seperti terbakar sinar surya.  Pengobatan ke dokter telah berulangkali kulakukan,  namun sembuh tiada kunjung ku dapatkan.  Pada situasi kalut  itulah,  saya teringat tatapan tajam bapak tua di masjid beberapa hari sebelumnya.  Beberapa hari  berikutnya  saya berusaha menemui bapak tua tadi,  sayangnya  tak kunjung bisa  kutemui.  Saya pun meminta tolong pada teman-teman untuk  mencarikan,  tetapi  mereka berhari-hari tidak kunjung mendapatkan”,  tambah pria yang telah belasan tahun tinggal di Makkah itu.

”Dalam situasi demikian,  tak ada yang bisa kulakutan, kecuali rajin ke masjidil haram  untuk bertobat mohon ampunan,   sekaligus meminta  kesembuhan.    Bahkan,  saya menyempatkan umrah dengan lantunan do’a agar penyakit segera diangkat oleh Nya.  Namun,  upaya demikian  ternyata tak lantas kesembuhan  segera kudapatkan”,  suaranya bernada mengenang kepahitan.

”Walhasil,  suatu hari,  ketika  jamaah di sebuah masjid,  sang imam kebetulan  melantunkan  ayat-ayat yang biasa dipakai sebagai bacaan rukyah untuk mengusir jin-setan laknat.  Dus,  pada saat itulah tiba-tiba kurasakan bahwa  bacaan imam telah  berpengaruh luar biasa pada badan”,  kisah mas Mubarak dengan ekspresi kegirangan, ”Subhanallah wal  alhamdulillah,  sejak saat itu penyakit a’in yang menimpaku tiba-tiba menjauh dariku.  Sembuh”.

Itulah sekelumit peristiwa yang mas Mubarak pernah alami,   lelaki yang telah yang belasan tahun tinggal di tanah suci.,  terserang sakit akibat  tatapan mata alias a’in.   Semoga kisah nyata ini ,  senantiasa mengingatkan kami  untuk mentradisikan ucapan Masyaallah –  Baarakallah tatkala  dihadapkan pada ketakjuban pandangan netra yang kami miliki.

Selamat tinggal Makkah,  kami beranjak menuju Madinah.

Jarak Mekah – Madinah sekitar 425 km.  Telah tiga kali kami menapaki  jalanan ini,  dua kali di tahun 1997 dan sekali di tahun 2015.  Ditambah dengan yang terakhir pada Kamis,  4 April 2017 ini,  berarti saya telah empat kali menapaki  jalanan yang dahulu dilalui nabi.  Jika ditempuh dengan bis yang mengangkut jamaah hati, maka  rata-rata dibutuhkan waktu 6-8 jam.  Namun,  dengan mobil kecil  sewaan kami,  maka  jarak yang sama dapat dicapai sekitar 4-6 jam saja.

Beberapa waktu pasca Dzuhur,    sopir beretnis Asia Selatan (Pakistan ataukah India)  menjemput  untuk  mengantar kami.  ”Tatapannya dingin”,  kata Wawan ketika pertama kali  melihat wajah sang sopir.  ”Wajahnya mirip bintang film India”,  aku menimpali.  Dalam hati aku bahkan berkata,  ”sopir ini bahkan lebih cakep dibanding Sakh Rukh Khan dari segi tampangnya”.   Singkat kata,  berangkat dari Makkah sekitar jam 15.00 sampailah kami  di Madinah  di  sekitar jam 20.00 waktu Madinatun Nabi.   Assalamu ’alaikum Ya Rasulullah. Assalamu ’alaikum Ya Nabiyallah. Assalamu ’alaikum Ya Habiballah.***.

 

Iklan

Maasya Allah – Baarokallah : Sepatu Sandal Hilang (Bagian 14)

Kamis,  4 April 2017 sang surya sudah bertengger di tengah mega.  Sinarnya memancar perkasa,  menghunjam seolah hendak mencengkeram sang buana.    Terik.  Panas.  Menyengat.  Itulah aura yang berpendar kurasa.  Kami telah bersiap meninggalkan Makkah.

Pagi  setelah sholat subuh.  kami langsung bertawaf Wada’ alias mengitari  Ka’bah sebagai tanda perpisahan,  lengkap  dengan doa – harapan  semoga dapat berkunjung kembali ke Baitullah – rumah tuhan.  Amin…

Tak ada jadwal khusus di hari terakhir di Makkah, kecuali hanya menemui seorang mahasiswa UEA yang kebetulan menjadi peserta simposium Persatuan Pelajar Mahasiswa (PPMI) se Timur Tengah,  yang beberapa hari sebelumnya dilaksanakan  di Madinah.  Kebetulan pada Kamis ini dia yang bernama Oebaidillah  sudah tinggal di Mekkah untuk menjalankan ibadah umrah.  Dengan didampingi seorang temannya asal Palestina bernama  Mahmud,  kami ajak  pria muda itu  sarapan bersama di Zamzam Tower, sembari  diskusi serius tentang  berbagai su sosiokultural dan ekonomi politik UEA,  tempat dia tinggal sejak SMP.

Suatu hal istimewa,  lelaki belia yang telah ”terpisah dari orang tua”   dan merantau di UEA  sejak lama,  ternyata tampilan dan gayanya tetap khas  merefleksikan sebagai pria Jawa.  Prilakunya tetap kalem dengan unggah-ungguh  berkarakter  sangat Jawa. Keistimewaan lain dari anak ini adalah : tutur kata dan  perilakunya tampak  sangat dewasa,  sebuah tampilan yang jauh lebih matang dibanding anak seusia termasuk mahasiswa-mahasiswa di Indonesia.

Sekali lagi,  Kamis ini  merupakan hari terakhir kami berada di Mekkah untuk segera menuju Madinah.  Satu kenangan tak terlupakan terkait Makkah adalah kisah dari mas Mubarak  terkait  alasan  dibalik   tulisan-tulisan yang banyak  tertera pada mobil-mobil di Mekkah:  Maasya Allah dan atau Baarokallah.  Konon,   ada sebuah kepercayaan di kalangan masyarakat sekitar tanah suci :  adalah  pantangan  dalam menyikapi  ketakjuban terhadap (kehebatan seseorang,  kecanggihan alat perlengkapan,  keindahan pemandangan)  dilakukan dengan cara nuansa takabur-ujub penuh kesombongan.  Ketakjuban pada sesuatu tak sepantasnya  diekspresikan  dalam wujud decak kagum atau bahkan ucapan wow,  sebuah perilaku yang diyakini dapat mendatangkan bencana,  baik pada diri yang melihat dan mengaguminya apatah lagi  pada obyek yang dikaguminya.  Hal terpantas untuk  dilakukan adalah dan hanyalah berucap:   Maasya Allah Baarakallah.  Perilaku ini bila  dilanggar,  dipercaya  secara kontan akan mendapatkan balasan:  barang yang dikaguminya  hilang, rusak ,  atau bahkan karenanya bisa mendapat celaka.

Mendengar dua kosa kata, ”pamer” dan ”kehilangan” kontan kami terpana, bahkan akhirnya  tertawa. Yah…tertawa bersama,  mentertawakan peristiwa yang kami alami sebelumnya . Kontan  pikiran kami melayang pada hilangnya sepatu sandal  ketika Umroh  di hari pertama,  ketika  masuk Masjidil Haram di waktu perdana. Wawan kehilangan sandal jepit yang dibeli di bandara Soekarno Hatta. Saya kehilangan sepatu sandal yang dibeli di Ramayana khusus untuk  persiapan ke Saudi Arabia.  Sepatu sandal sempat kupakai dan kupamerkan pada tim satu hari sebelum berangkat ke Saudi.  Fakhry  sang koordinator bahkan terprofokasi akibat pamer vulgar ini, sehingga dia  akhirnya ikut beli. Walhasil,  hilangnya sepatu sandal yang kumiliki, akhirnya dikaitkan-kaitkan dengan peristiwa ”pamer”  tadi..

Wallahu a’lam,  entah ada kaitan atau tidak,  tetapi yang pasti,  peristiwa itu terjadi akibat kami  karena kurang antisipasi , kurang hati-hati.  Kami terlalu percaya pada  sang pemandu ”yang ternyata kurang berpengalaman”  pada medan Makkah,  sebab mas Izdihar memang mahasiswa di unibersitas  Madinah. He..he…,  maaf Izdihar,  sang  pemandu…

Ketika hendak  berangkat ke masjidil haram  sebenarnya saya bermaksud  –bahkan menganjurkan teman lain—untuk membawa tas guna mengantongi sandal-sepatu kami.  Kala itulah mas Izdihar berkata dengan penuh keyakinan, ”tak perlu bawa tas untuk sandal,  sebab di masjid telah disediakan plastik untuk buntal”.

Saya sebenarnya agak ragu di hati,  sebab  pengalaman dua kali  berkunjung ke tanah suci,  masjid  di Makkah tak pernah menyediakan plastik untuk jamaah haji.  Mekah memang  berbeda dibanding Madinah,  ketika saya berkunjung pertama kali di  tahun 1997 untuk berhaji,  kantong plastik memang senantiasa disediakan gratis  di sekitar pintu masuk masjid Nabawi. ”Mungkin saat ini kebijakannya  sudah sama, bukan hanya Madinah,  di Makkah juga disediakan kantong plastik gratis untuk jamaah”,  gumam hatiku setengah yakin.

Lhadalah,  begitu sampai masjidil haram ternyata plastik tetap tak ada,  sehingga Iztihar  sang pemandu setengah bingung mencarinya. Singkat kata,  dugaanku ternyata lebih tepat,  dan sang pemandu ternyata  tak tahu kebijakan masjid setempat. He..he.. maaf mas Istihar. Tapi.. apa boleh buat,   kita terpaksa pasrah bulat-bulat.  Walhasil, kepasrahan ini ternyata mengantarkan sandal-sandal kami terselip tak bisa dicari.

Dus,  peristiwa ini telah menjadi kesalahan kedua saya,   akibat tpta;  percaya pada sang pemandu kita.  Pertama,   kami terlalu percaya pada informasi mas Ferly  –yang mengatur mengurusi seluruh  proses perjalanan kami– bahwa sebagian besar jamaah umrah telah berbusana Ihram dari Malaysia.  Akibat mengikuti saran ini,  kami dibuat serba keki sebab  ternyata hanya kami (dan beberapa gelintir orang lainnya lagi)  yang terlanjur berkain ihram dari negeri jiran ini.  He..he…apa kabar mas Ferly ?.

Kedua, terkait soal  plastik dan sandal tadi.  Ketika  berhaji di  tahun 1997,  saya juga sempat  “kehilangan” sandal jepit di hari pertama.  Pengalaman ini menjadi guru berharga,  sehingga di hari-hari berikutnya selalu bawa tas untuk menyimpan  sandal dan berbagai keperluan lain di dalamnya.  Melalui ikhtiar inilah,  maka  selama puluhan hari di tanah suci,  baik di tahun 1997 maupun 2015,   saya tak pernah kehilangan sandal lagi,  kecuali kedatangan di  tahun 2017 akibat terlalu percaya pada  sang pemandu tadi..

Hilang sandal di tanah suci ?  Sebenarnya bukan hilang, tetapi ketlisut  dalam lautan  jutaan orang. Nah, untuk mencegah ketlingsutan ini,  kita tak boleh tawakal berserah diri namun  tanpa usaha mencegah  menghindari.  Ketika Nabi SAW mendapati sahabatnya membiarkan onta dilepas begitu saja,  beliau langsung menegurnya, “kenapa tak diikat  anda punya onta ?.  Sahabat itu menjawab, “saya berserah diri pada Allah”.  Kontan  nabi menimpali, “Ikatlah dulu onta yang kau miliki,  setelah itu baru bertawakal pada Ilahi”.

Singkat kata,  pertama,  pada pemandu kita memang harus percaya, namun sifatnya tidak  bulat-bulat apalagi sampai  bertentangan dengan logika,  Kedua,  jadikan pengalaman pribadi  sebagai guru berharga bagi diri sendiri.  Ketiga,  perilaku tawakal hendaknya didului  dengan usaha pada awal. ***

Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Masjid Ar Raj’i (Bagian 13)

Mentari masih menggantang di tengah-tengah tanah suci.  Panas menyengat  menjebak kami pada lingkaran  penat.  Gerah membuncah  menggiring kami  pada  kondisi serba  lelah.  Meski demikian  perjalanan terus dilanjutkan,  kali ini wilayah Armina : Arofah – Mudzalifah – Mina sebagai tujuan.  Tak ada sesuatu istimewa dari Armina yang  patut diungkapkan dalam sebuah tulisan,  sebab  lokasi  ini bagi  jamaah  Umrah – Haji  memang lazim dijadikan  fokus kunjungan.  Bagi  kaum berhaji  lokasi ini bahkan menjadi bagian  utama dalam prosesi peribadatan.  Hanya satu keistimewaan yang kudapat dari kunjungan di hari ini, yakni:  saya bisa melihat berbagai lokasi dalam situasi sepi.  Saya bisa memandang  semua tempat  dari berbagai sudut ketinggian selama masih dalam jangkau kemampuan.

Namun,  ada satu obyek kunjungan yang patut saya sampikan, yakni: kami juga diajak mengunjungi masjid terbesar kedua di Makkah pasca Masjidil Haram, yakni masjid Ar Raj’i.  Nah,  di lokasi  wakaf dari seorang bankir super kaya  Saudi inilah saya sempat berhenti,  menikmati  keindahan dan keanggunan arsitektur masjid  yang luar biasa untuk ukuran bangunan yang dibiayai oleh kantong pribadi.

Sesuai dengan namanya,  masjid ini memang dibangun seorang banker terbesar di Arab Saudi,  Sulaiman Ar Raj’i.. SIAPA  SULAYMAN AR RAJ’I  ? Nama aslinya adalah Skehikh sulaiman bin Abdul Aziz Al Rajhi,  seorang  milyader  Arab Saudi  dengan kekayaan 7,7 milyar dollar AS yang menjadikannya sebagai orang terkaya ke 36 di dunia Arab,  menjadi orang terkaya ke 120 di dunia versi majalah Forbes di tahun 2011. Lelaki yang tinggal di Jeddah ini hanyalah seorang lulusan SD.  Namun  ia barhasil menjadi Chairman pada national Agricultural Development Company (NADEC).

Sulaiman al Rajhi lahir di al Bukairiyah di provinsi Al Qassim,  dan tumbuh besar di wilayah padang pasir Nejd.  Dia bersama  saudaranya Saleh memulai bisnis dengan “menyewakan”  karavan onta untuk  perjalanan menerobos padang pasir untuk  menuju  Mekah dan Madinah  bagi jamaah haji. Sejak tahun 1957 dua bersaudara ini mendirikan perusahaan Tadawul.  Bersama Saleh pula ia mendirikan perusahaan jasa keuangan bernama  Al Rajhi . Perusahaan ini berkembang pesat seiring dengan membanjirnya para pekerja migran seiring dengan oil boom di Arab Saudi sejak 1970an.   Al Rajhi inilah yang membantu menyimpan dan mengirimkan  uang para pekerja ke berbagai negara asalnya.  Sejak tahun 1983,  Bank Al Rajhi diberi ijin sebagai bank Islam pertama di Arab Saudi.  Al Rajhi saat ini menjadi bank terbesar di Arab Saudi,  bahkan menjadi bank Islam dengan modal  terbesar di tahun 2015.  Bank  yang berpusat di Riyadh dengan total jumlah pegawai mencapai 9.600 orang ini,  total asetnya mencapai 316 milyar real (2015). Bank dengan jumlah cabang mencapai 600 buah,  termasuk di Kuwait, Yordania,  dan konon  ada sebuah cabang pembantu di Malaysia (sejak 2006) bahkan kini konon telah mencapai 25 caban..

Selain  berbisnis di sektor keuangan,  Sulaiman Ar Rajhi juga masuk ke sektor peternakan dan pertanian. Ar Rajhi  menggelontorkan 250 juta US dollar untuk berusaha di bidang pertanian organik,  yang menjamin masyarakat Saudi dan para Jamaah haji  memamakan makanan yang bebas dari kimia berbahaya.  Perusahaan pertanian yang diluncurkan sejak 1982 ini telah menjadi salah satu perusahaan  pertanian terkemuka di Arab Saudi.   Perusahaan ini memiliki ladang pertanian di  berbagai wilayah di utara,  tengah,  dan selatan Arab Saudi.

Adapun Pelibatan diri di sektor peternakan dilakukan setelah beliau berkunjung dan melihat sendiri porses peternakan di luar negeri yang prosesnya menurut dia salah dari segi syariah.  Dari pengamatan inilah akhirnya beliau membangun pusat peternakan Ayam al Watania di Bandar Qassim, Arab Saudi.  Peternakan ayam ini diberi makan dengan sempurna dan disembelih secara haal mengikuti aturan Syariah.   Kini,  al Wataniah berhasil  memperoduksi setengah  juta ayam plus satu juta telur setiap hari,  bahkan menguasai 40 persen pasaran di Arab Saudi  dan menjadi  peternakan terbesar di Timur Tengah.

Untuk membantu peningkatan SDM Saudi,  Al Rajhi juga telah mendirikan Universitas Sulaiman Al Rajhi yang terutama menangani sektor kesehatan dan perbankan Islam,  untuk memenuhi kebutuhan lokal.  Amal sumbangan pria ini sungguh luar biasa.  Pernah suatu kali ia beramal dengan memberi makan  pada hampir 3 juta jamaat haji  yang wukuf di Arafah.  Ia tidak cukup menggelontorkan uang saja,  tetapi dia juga turun aktif bersama dengan 800 juru masak dalam penyediaan  hidangan.  Subnahallah.   Pria super kaya inilah  yang pada tahun 2011 mewariskan sebagian kekayaannya kepada anak-anaknya,  dan sebagian besar lainnya justru  diberikan kepada badan-badan amal dan kebajikan.

Nah,  karena kiprah yang luar biasa,  maka selama di tanah suci nama Ar Raj’i  tentu menjadi tidak terlalu asing lagi.  Sebab,  ketika  jamaah umrah – haji mau membayar dam/denda  (juga  membeli hewan Qur’ban)  maka  prosesi bisa dilakukan di bank Ar Raj’i  yang dimiliki sulayman Ar Raj’i tadi. Hewan apa yang hendak kita kurbankan,  kita cukup mengisi formulis dan membayar sesuai dengan daftar harga  standar  yang telah ditentukan. Melalui Ar Raj’i ini jama’ah dari berbagai negara tak perlu pusing tujuh keliling untuk melakukan prosessi dam/denda (umroh – haji) maupun kurban (haji) karena uang yang disalurkan akan disampaikan kepada lembaga berwenang terkait prosesi penyembelihan dam dan qurban.  Itulah salah satu peran sentral Ar-Raj’i dalam memfasilitasi Jama’ah Umroh dan Haji.

Ar Raj’i juga punya peran signifikan dalam menyediakan mesin ATM di berbagai sudut di kota Makkah dan Madinah. Jamaah dari berbagai negara di era sekarang tak perlu membawa uang cash dari masing-masing negara,  tetapi cukup membawa kartu debet untuk menarik  uang cash langsung dalam bentuk Real Saudi.  Walhasil,  jika dahulu  setiap jamaah Haji dan Umroh harus menukar di berbagai money changer dengan  nilai tukar berbeda-beda, maka  melalui ATM  Ar Raj’i kita  mendapatkan standard harga yang baku alias sama.

Pada musim haji  tahun 1997,  pelayanan Ar Raj’i  memang belum sempat  saya rasakan,  mungkin karena keterbatasan informasi yang saya dapatkan.  Namun,   sejak  musim haji tahun 2015 saya telah memanfaatkan pelayanan dari bank Ar Raj’i,  dan kuulangi lagi  pada umroh di tahun 2017 ini.  Terima kasih Ar Raj’i,  pelayanan mu telah membantu jamaah Umrah – Haji termasuk kami.  Jazakallah Khoiron  katsiiron. ***

 

Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Gua Tsur yang Melegenda (Bagian 12)

Panas menyengat kulit. Gerah menggigit pori-pori.   Kami bersegera  meninggalkan Ma’la lokasi  peristirahatan terakhir  ummul mu’minin Siti Khadidjah Binti Khuwailid,  mendiang  istri pertama dan utama dari baginda Rasulullah SAW.

Singkat kata,  dengan kendaraan sewa,  akhirnya sampailah kami  di  sebuah bukit  yang terkenal sebagai lokasi  Goa Tsur.  Dahulu,  di tahun 1997 saya sudah berkunjung ke lokasi ini,  dan baru  di tahun 2017 ini saya  singgah kembali. Jika pada kunjungan pertama lokasi bukit Tsur masih berada di tengah padang pasir Gersang,  maka pada 20 tahun berikutnya telah terdapat banyak pemukiman telah mengelilinginya.  Jika jaman dahulu mobil  yang mengantarkan kami dapat lalu lalang dengan leluasa,  maka  pada saat ini untuk mencari lokasi parkir saja agak kesusahan.  Itulah perkembangan  yang hanya selisih dua dekade saja lamanya.

Di Goa Tsur inilah dahulu Rosulullah sempat  bersembunyi dari  kejaran pasukan kafir Quraisy yang hendak membunuhnya ketika nabi  melakukan perjalanan hijrah dari Mekkah hendak menuju Madinah.

Banyak cerita menarik terkait dengan kisah Tsur,  beberapa di antara adalah :

(1). Persembunyian Tsur memang sudah direncanakan secara matang oleh Nabi beserta keluarga Abu Bakar.  Selama bersembunyi,  Abdullah bin Abu Bakar ditugaskan untuk menggembala  ternak di lokasi ini,  sehingga putra Abu Bakar ini dapat memantau keamanan di sekelilingnya.  Bahkan,  salah seorang putri Abu Bakar yang konon sedang hamil besar,  dapat tugas pula untuk mengantar konsumsi sekaligus menjadi telik sandi seputar informasi apa saja  yang sedang berkembang di kota Makkah. Sungguh luar biasa peran Sayyidina  Abu Bakar beserta putra-putrinya dalam proses hijrah sembunyi-sembunyi sang nabi utusan Ilahi.

(2). Ketika bersembunyi dalam goa, sauatu hari  muncul kepala ular  dari sebuah lobang. Karena ular itu dianggap mengancam  keselamatan nabi, dan demi menjaga keselamatan rosulullah SAW,  Abu Bakar Assidiq –satu-satunya orang yang menyertai hijrahnya Nabi SAW—menyumbatkan jempol kakinya ke lobang  ular.  Abu Bakar menahan sakit yang luar biasa akibat digigit ular,  bahkan sampai meneteskan keringat dari keningnya.  Nabi  yang sedang istirahat  merebahkan badan dengan kepala persandar pada paha sahabatnya  itu, akhirnya terbangun akibat tetesan keringat dari Abu Bakar.  Walhasil,  demi mengetahui sahabatnya kesakitan akibat digigit ular,  nabi SAW konon segera mengobatinya dengan cukup mengulum jempol tangannya lantas ditempelkan pada luka,  sehingga Abu Bakar langsung sembuh seperti sedia kala.

(3). Ketika nabi dan Abu Bakar  telah di dalam goa,  seekor laba-laba segera merajut membuat rumah di mulut goa.  Berikutnya,  seekor  burung merpati pun segera membuat sarang sekaligus bertelur  di lokasi yang sama.  Syahdan para pemburu ahli yang hendak membunuh Nabi sudah sampai di depan mulut goa.  Abu Bakar  sempat gemetaran takut ketahuan,  sehingga nabi SAW sampai perlu menenangkan melalui sebuah ucapan: La tahzan innallaha ma’ana:  jangan kuatir sesungguhnya Allah menyertai kita. Singkat kata,  akibat keberadaan sarang laba-laba dan  sarang merpati di mulut goa inilah,  maka para pemburu yang dikirimkan kafir Quraisy  untuk mengejar nabi akhirnya terkecoh karena meyakini tidak mungkin di dalam goa ada penghuninya.

Mungkin akibat jasa luar biasa dari sang burung merpati dalam prosesi hijrah Nabi,  maka berbagai lokasi di  dua tanah suci  sang burung dara dibiarkan beranak pinak  sampai  banyak sekali.  Hal yang sama  terdapat pula di bukit Tsur ini.   Mereka hidup bebas tanpa gangguan. Mereka terbang ke sana kemari  tanpa merasa ada ancaman.  Bahkan, para jamaah umroh – haji yang beribadah ke tanah suci terbiasa memberi makanan  pada sang merpati,  yang eksistensinya telah melegenda sejak era Nabi.

”Burung dara di bukit Tsur ini konon dipercaya sebagai keturunan langsung merpati  yang dahulu berjasa pada Nabi”,  jelas mas Mubarak pada kami.

”Kalau yang berada di tengah kota Makkah dan Madinah,  apakah  mereka juga berasal dari satu trah?,  tanyaku penasaran.

”Bisa juga terjadi,  asal usul mereka juga diambilkan dari lokasi ini”,  jawab mas Mubarak tidak pasti.

Namun demikian penjelasan tak pasti ini membuat temanku Nostalgiawan Wahyudi terbelalak dalam imajinasi.  Maklum,  Wawan sedari kecil katanya memang hobi untuk  bermain dengan merpati,  sebuah hobi yang sampai kini katanya diwariskan pada anak-anaknya terutama yang lelaki. Bahkan,  karena hobi ini pula,  hampir setiap kali pulang dari  Masjidil Haram ia menyempatkan diri bercengkerama dengan para merpati. ”Hanya dengan makanan berada dalam genggaman, niscaya  merpati  akan  mendekati dalam jumlah puluhan.  Subhanallah…”,  ungkapnya girang,  setiap kali menceritakan dia punya pengalaman.

Khusus tentang merpati di sekitar bukit Tsur,  Wawan bahkan menumpahkan sejuta imajinasi. ”Seandainya saya bisa bawa pulang merpati dari lokasi ini,  niscaya turunannya akan   menjadi hewan istimewa yang harganya pasti melambung tinggi” katanya berimajinasi, ”sebab keberadaan mereka akan senantiasa dikaitkan dengan  sesuatu yang melegenda”.  Tentu saja imajinasi temanku yang satu ini  sangat sulit direalisasikan.  Artinya,  harapan ini untuk sementara  hanya sebatas bersarang sebagai hayalan.  Alasan yang paling rasional adalah:  izin”migrasi” hewan dari satu negara ke negara bukan sesuatu yang sederhana,  karena harus melalui  jalur imigrasi yang rumit khususnya terkait prosedur karantina dan lain sebagainya. ***

Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Perkampungan Purba (Bagian 11)

Rabo tanggal 4 April pagi,  kami  sudah berdandan rapi.  Kulihat  Mas Hamdan  ceria mukanya.  Demikian juga Wawan, menyungging  seberkas senyum  di sudut bibirnya.  Adapun Fakhry   matanya berbinar-binar  menunjukkan tanda  bahagia.  Saya sendiri sedang merasakan  selaksa bahagia  kini  sedang berkuasa  di hati dan pikiran  saya.

Rabo  ini jadwal kegiatan kami adalah melakukan kunjungan ke berbagai pusat Peradaban Islam. Dalam prosesi para jamaah haji,  acara semacam ini biasa disebut  ”City Tour”. Namun,  realitas yang kami jalankan secara substansi sangat berbeda sekali,  sebab kami berusaha menangkap esensi historis dari lokasi,  esensi kultural dari tempat-tempat yang kami kunjungi.  Apalagi,  berbeda dari jamaah haji dan umrah yang biasa ditambah dengan kunjungan ke laut merah  dan sentra perdangan Abadi di Jeddah,  maka  kunjungan ini sama sekali tak tercakup di dalamnya.

Kami hanya berputar di sekitar Makkah,  mulai dari pemakaman umum Ma’la,  lokasi Gua Tsur tempat bersembunyi nabi ketika berhijrah,  serta yang  pasti tak ketinggalan adalah  Armina (Arafah, Mudzalifah dan Mina) yang terkait ibadah haji. Lokasi ini memang agak umum dikunjungi,  namun alhamdulillah kami disertai seorang kandidat Doktor asal Indonesia  bernama mas Mubarak Ainul Yaqin Lc. MA.  Melalui belialuh berbagai informasi di luar mainstream berhasil kami dapatkan,  sehingga menambah banyak informasi terkait  catatan selama perjalanan – penelitian.

Mengawali  dari kawasan Misfalla,  yakni lokasi  hotel   Nawarat Al-Shams tempat kami menginap,  kami beranjak  menyusuri jalan Ibrahim Al Khalil,  yang jika terus berjalan niscaya akan sampai pada  wilayah yang disebut Ma’la. ”Tiga kawasan ini merupakan  cikal bakal dari kota Makkah”,  kata mas Mubarrok mengawali penjelasannya, ”Misfalla dan Ma’la merupakan kawasan yang telah terbentuk di jaman Ibrahim”.

Misfalla  sebagaimana akar katanya bermakna rendah-bawah. Dia berakar dari kata sufla artinya bawah, yang bisa dikembangkan menjadi kata asfal (paling bawah).  Dapat dipahami jika bahan pembuatan jalan raya biasa kita kenal dengan kata aspal,  karena untuk dibawah, untuk diinjak-injak manusia maupun mobil.  Misfalla memang  merupakan dataran rendah.  Dataran rendah inilah,  sejak jaman nabi Ibrahim  telah dijadikan sebagai  kawasan pemukiman.

Adapun Ma’la sebagaimana akar katanya berarti atas-tinggi.  Dia berasal dari kata ’ala artinya di atas, yang biasa dikembangkan menjadi kata ’ulya (tertinggi).   Ma’la memang berwujud dataran tinggi.  Dataran tinggi ini  sejak jaman Ibrahim sengaja dijadikan kawasan pekuburan,  karena ternyata di lokasi ini terdapat pasir dan atau tanah yang dapat mempercepat pembusukan,  sebagai proses awal untuk menjadi tanah.  Dengan demikian lokasi Ma’la yang dikenal sebagai lokasi pemakaman umum,  sebagai tempat yang  terkenal untuk pekuburan para jamaah haji selama di Makkah,  keberadaannya bukan baru,  melainkan telah bersifat purba.

Wilayah Misfalla dan Ma’la  dihubungkan oleh sebuah jalan raya  yang kini  dikenal sebagai  Syaari’  Ibrahim AlKhalil.  Eksistensi  jalan ini juga bersifat sangat lampau,  sama tuanya dengan kedua wilayah yang dihubungkannya.  Bahkan,  nama jalan itupun diambilkan  dari nama nabi Ibrahim   A.S.  Bapak  dari para nabi sebagai pelopor pendatang di  tanah  Makkah (Bakkata mubarokun) ini  bergelar  al Khalil,  sehingga jalannya pun lantas diberi nama Ibrahim Al Khalil.

Misfalla, Ma’la,  dan jalan Ibrahim AlKhalili adalah cikal bakal Makkah al Mukarromah,  yang eksistensinya  telah bersifat purba..***

 

 

 

 

 

Naibul Mudiir Yayasan Al Hai’ah Haramain pimpinan Syekh As-Sudais: Undangan Makam Syekh Ismail Al Harby (Bagian 10)

Di hari Selasa  penat telah menguasai raga.  Rasa ngilu  bahkan telah menyerang dua betisku yang nyaris tak kuasa menahannya. Maklum,  sejak era kedatangan,  kami telah memforsir diri, kurang memberi hak pada badan untuk  istirahat sesekali.  Apalagi setiap keluar hotel,  kami langsung terpapar  sang mentari.  Panas menusuk kulit.  Terik menyergap pori-pori.  Gerah menguasai seluruh tubuh dari kepala hingga ujung kaki.

Alhamdulillah,  pada 4 April ini  kami tak memiliki jadwal wawancara pagi,  tetapi baru terjadwal di malam hari,  dengan seorang alumnus Daurah Rabitah ’Alam Islamy.  Beliau adalah asli Indonesia,  yang saat ini berprofesi sebagai seorang tarjim (penerjemah) di Masjil Haram.  Di tengah jeda inilah,  saya rehat sesaat,  sekalian mengurangi rasa sakit dengan minum obat.  Semula kuminum Panadol untuk mengurangi rasa sakit.  Namun karena efeksnya belum begitu kurasa,  akhirnya Kataflam kutenggak berikutnya. Alhamdulillah,  rasa ngilu di sekujur badan mulai menghilang,  dan rasa nyeri di kedua betis kaki  terasa agak berkurang. Tidur dan tidur,  itulah kegiatan di hari itu yang sengaja kulakukan.  Hanya makan dan sholat yang menjadi jeda waktu tidur seharian.

Menjelang Isya’,  kami kembali datang ke masjidil haram,  tentu saja untuk sholat dan tak lupa untuk bertemu dengan pak Ayumy  salah satu nara sumber kami,  persis sesuai dengan janji.  Singkat kata, ba’da sholat Isya’ kami mencari pak Ayumy sesuai dengan informasi lokasi.  Pak Ayumi ternyata masih sibuk  membagi-bagi buku kepada para jamaah shalat.  Di Arab Saudi,  memang terdapat beberapa lokasi pembagian buku gratis  dalam berbagai bahasa,   sebagai ladang penyebaran da’wah.  Selain di lokasi pada Ayumi ini,  di maktabah sebagai tempat bekas kelahiran nabi,  biasanya juga dilakukan pembagian buku-buku da’wah.  Pak Ayumi konon memiliki posisi sebagai seorang tarjim,  seorang penerjemah,  sehingga sangat mungkin buku-buku dalam versi Indonesia (dan Malaysia)  merupakan salah satu karya dari pak Ayumi.

Beberapa saat kami kembali duduk menunggu pak Ayumi bertugas di masjidil Haram ini.  Tak berapa lama,  pak Ayumi mempersilahkan kami untuk masuk ke sebuah lokasi.  Posisi tetap di dalam masjid, hanya saja lokasi diberi batasan,  sehingga tidak semua orang bisa masuk ke dalam ”ruangan”.  Namun,  setelah masuk ruangan,  dan setelah kami dipersilah duduk pada kursi yang telah disediakan,  ternyata pak Ayumi justru tak ikut duduk bersama kami.  Beliau malah sibuk ”menjamu” kami dengan minuman  dan biskuit makanan ringan. Pak Ayumi hanya menyerahkan kami kepada seorang pria Saudi, yang dari segi umur berkisar antara akhir 30 an dan awal 40 an. Lha,  kenapa pak Ayumi tak mau ”melayani” kami dan justru menyerahkan kepada seorang pria Saudi ?.

Ternyata,  pria ini bukan figur sembarangan,  karena dialah salah seorang ulama Saudi,  bernama Syekh Ismail. Bahkan,  pria ini adalah seorang Naibul Mudir (wakil direktur) haramain,  Naibul Mudir lembaga amar ma’ruf nahi munkar di Arab Saudi  yang dipimpin Syekh Shudais,  salah seorang imam paling terkenal di Indonensia.  Oh…ternyata orang ini bukan figur sembarangan,  dan oleh sebab itu,  pak Ayumy ”sengaja tidak berani ikut campur, dan justru diserahkan kepada tokoh yang semestinya”.  Subhanallah.  Inilah karunia Allah yang tiba-tiba,  sebab tidak sembarang waktu dan tempat bisa kita dapatkan.  Bahkan,  kandidat Doktor sekalipun sulit sekali bisa bertemu dengannya,  akibat posisi dan mungkin pekerjaan yang super sibuk mengelilingi. Walhasil,  ketika hal ini kita ceritakan kepada seorang kandidat Doktor asal Indonensia,  hanya satu komentar yang keluar dari bibirnya. ”bagaimana anda bisa berjumpa ?.

Tentu saja kami tak bisa menjawabnya.  Bahkan,  saya sendiri juga bertanya-tanya,  apakah pertemuan ini sengaja dirancang oleh pak Ayumy ataukah secara kebetulan beliau sedang inspeksi ke lokasi, sehingga pak Ayumi kami langsung diserahkan untuk dijumpai ? Pertanyaan saya ini sangat masuk akal,  sebab di hari berikutnya,  ketika kami datang ke lokasi yang sama,  bertanya pada petugas di sana,  ternyata mereka tak tahu menahu di mana Syekh Ismail ”berada”.

Dalam pertemuan itu,  tampaknya Syekh Ismail merasa nyaman dengan kami,  di tengah kepahaman bahasa Arab yang terbatas sekali. Pertanyaanku pun yang jumlahnya lumayan banyak,  semua ku katakan melalui perantaraan Fakhry.  Tapi,  sekali lagi Syekh Ismail tampaknya ”menikmati”  pertemuan ini.  Pertemuan berlangsung agak lama, 21.30-23.00.  Bahkan,  pak Ayumi saja misalnya,  sampai minta ijin pulang duluan,  karena capek telah bekerja seharian.  Bahkan,  sempat kulihat seorang”asisten Arab” berulangkali interupsi,  tampaknya mengingatkan ”soal  waktu” kepada Syekh Ismail.  Sepertinya,  beliau memiliki jadwal lain.  Namun berulangkali sang Syekh memberi sinyal  bahwa beliau ”masih nyaman” untuk berdakwah kepada kami.

Bahkan,  mungkin karena belum merasa cukup dengan pertemuan itu.  Maka di akhir perjumpaan,  Syekh Ismail masih menyatakan mengundang kami untuk makan malam di rumahnya.  Kami senang sekali mendapat undangan ini.  Hanya saja,  undangan definitif  baru datang pada Kamis pagi  untuk  makan bersama di malam hari. Walhasil,  mengingat Kamis pagi kami sudah harus meninggalkan Mekah untuk menuju Madinah,  maka undangan dari Ulama Saudi ini terpaksa tidak bisa kami sanggupi. Afwan ya Syekh.***

Museum Haromain : Membangun Ekonomi dari Sektor Wisata ? (Bagian 9)

Harga minyak  di pasar internasional memang sedang runtuh,  sebuah realitas yang tentu saja sangat berpengaruh luar biasa terhadap negara-negara yang mengandalkan ekonominya di sektor minyak.  Arab Saudi tampaknya gelapan terhadap realitas ekonomi kekinian.  Jika negara-negara teluk di sekitarnya seperti  Uni Emirat Arab, Qatar,  dan Bahrain telah menginvestasikan  hasil minyak  untuk sektor lain termasuk pariwisata – belanja,  namun khusus Saudi selama ini tampaknya agak terlena.  Walhasil,  di tengah rontoknya harga minyak dunia,  Saudi yang selama ini terlena,  kini baru terbangun tersadar untuk menata.

Raja Salman  kini telah membangun Visi 2030, termasuk salah satunya dengan mengandalkan sektor pariwisata.  Kesadaran ini sebenarnya sangat terlambat,  mengingat telah banyak sekali situs-situs penting justru telah telanjur digusur akibat visi agama wahabiah yang sejak dahulu didakwa sebagai ”penghancur situs-situs peradaban Islam”.  Tujuannya  memang mulai,  mencegah  terjadinya TBC (Tahayul – Bid’ah- Churafat),  namun  caranya terlalu ekstrim.  Bahkan,  karena konteks ini pula,  tokoh-tokoh Islam di tahun 1900an awal sempat membuat Majelis Hijaz dalam kerangka protes,  memberi masukan terhadap penghancuran situt-situs peradaban Islam.

Kini,  pemerintah Saudi mulai menyadari betapa penting membangun sektor wisata sebagai alternatif untuk mecari sumber dana penghidupan.  Sektor wisata tampaknya juga digalakkan.  Mungkin salah satunya  karena kesadaran ini pula,  Saudi kini telah membuat berbagai rumah  ma’arid (pameran)  dan museum peradaban.  Di kota Makkah misalnya telah dibangun Museum Haramain,   sedangkan di Madinah (sejak 2015) lampau telah diresmikan-dibuka Pameran Al Qur’an dan Pameran Asmaul Husna. Khusus mengenai Pameran masjid Nabawi meskipun namanya telah terpampang sejak 2015 lampau ketika saya ziarah ke tempat ini,  namun sampai kunjunganku di tahun 2017 ini masih juga belum dibuka.

Senin sore – malam (17.00 – 19.00) ini,  kami menyempatkan diri berkunjung ke  Museum Haromain.  Kenapa kami datang malam hari ? Ada alasan terkait ini, pertama,  Siang hari tadi kami kelelahan luar biasa,  akibat terpapar panas menunggu taksi di depan Rabitah ’Alam Islamy. Kami pulang dari lokasi setelah shalat Dzuhur dan mampir sejenak ke maktabah untuk mendapatkan hadiah buku.  Sambil menenteng belasan buku-buku tebal ini,  kami terpapar mentari akibat menunggu transportasi dalam waktu lama sekali.  Peluh terkuras,   Energi pun ikut terkuas.  Walhasil,  akhirnya kami pulang,  untuk mengumpulkan energi tambahan.  Kedua,  datang ke museum pada siang hari biasanya dilakukan berombongan,  sehingga perlu menyertakan ”surat keterangan”.  Karena kami hanya berempat,  maka untuk menghindari aturan,  mas Izdihar sengaja mengajak kami datang di malam hari. Walhasil,  setelah shalat Maghrib kami langsung meluncur ke lokasi.

Berbagai foto  dan  barang peninggalan era lama di pajang di lokasi.  Terkait ka’bah misalnya,  dipamerkan : balok kayu bekas tiang ka’bah,  bekas pintu ka’bah,  bekas talang emas di hijir ismail,  besi pembungkus hajar aswad,  termasuk bekas tangga yang biasa dipakai untuk masuk ke dalam ka’bah.  Sebab,  pintu ka’bah posisinya memang tidak menempel di tanah,  namun berlokasi  agak di atas,  sehingga untuk memasukinya diperlukan sebuah tangga.  Di museum juga dipamerkan  foto-foto sejarah keberadaan sumur Zam-zam dari masa ke masa. Hal yang menarik adalah peninggalan bekas “rumah penutup” ka’bah yang terbuat dari kuningan.  Bahkan,  dalam museum di tampilkan berbagai mata uang kuno  asal berbagai negara   yang sempat  tercemplung atau sengaja dicemplungkan dalam  sumur zamzam.  Ketika sumur dikuras,  koin-koin ini lantas dikumpulkan,  dan ia menjadi bagian dari  pameran.

Singkat kata,  banyak sekali berbagai benda berharga  dipamerkan di museum ini..  Sayangnya, manajemen perawatan dan keselamatan benda-benda ”purbakala” ini  kurang profesional,  sehingga pengunjung dapat menyentuh bakan mungkin mengorek-ngoreknya.  Idealnya,  segala benda berharga ini dimasukkan dalam lemari kaca,  sehingga pengunjung cukup melihat dengan tanpa menyentuhnya.***