Mengenali Orang Saudi : Wanita Bermahar Tinggi (Bagian 27)

Hari masih pagi,  namun di luaran sinar mentari telah  memancar garang kepada bumi.   Namun kegarangan sang surya  tidak mampu menembus  tempat kami,  gedung Bin Dawood. yang  ber AC dingin sekali.   Bin Dawood merupakan  satu  pusat perbelanjaan terbesar di Arab Saudi.  Di Makkah maupun Madinah,  super market ini tak terlalu sulit untuk  kita dapati.  Berbagai kebutuhan  harian  dapat ditemukan di lokasi Bin Dawood ini.  Hanya saja  kalau tujuannya untuk beli bermacam oleh-oleh,   saya lebih merekomendasikan untuk beli di toko-toko kecil  atau bahkan pada pedagang  kaki lima saja.  Alasannya,  Pertama,  agar rizki kita dapat tersebar kepada rakyat  jelata  dan tak terkonsentrasi di super market milik pengusaha kaya.  Kedua,  harga-harga di Bin Dawood  lebih mahal dibanding  harga di  toko kecil apatah lagi pedagang kaki lima.  Bedanya,  di Bin Dawood harga telah terbandrol mati,  sementara di toko kecil  dan kaki lima  pembeli  harus pandai menawar untuk mendapatkan harga yang melegakan hati.  Ketiga,  Bin Dawood lebih pas untuk lokasi belanja kebutuhan sehari-hari,  sedangkan oleh-oleh khas Saudi,  seperti  jubah, surban,  kopiah,  rumput fatimah, siwak dan lain sebagainya justru sangat terbatas  –bahkan tak ada–  ditemukan di Bin Dawood tadi.        Kurma dalam berbagai variasi pun lebih mudah didapat di luaran,  dibandingkan  di dalam Bin Dawood yang  tentu saja terbatas dalam soal pajangan.

Mungkin anda bertanya:  kenapa kali ini  saya berbelanja di  Bin Dawood? Alasannya satu,  saya  ingin beli bumbu-bumbu  sachetan,  seperti  rempah untuk membuat  nasi Brilyani  yang di tempat lain  tak bisa kami dapati.

Berbeda dengan super market di Indonesia,  yang penuh dengan pembeli wanita,  maka di kota suci ini jarang kujumpa wanita yang belanja.  Ada beberapa memang sempat kujumpa,  namun itupun  kebanyakan Indonesia atau  Asia Selatan dari wajahnya.  Memang,  ada beberapa wanita bercadar dan tak bisa kukenali ciri khasnya,  namun  dari karakteristik pria yang menyertainya saya  tak begitu yakin mereka  warga  Saudi Arabia.

Sebenarnya bagaimanakah kondisi kaum wanita Saudi ?.  ”Mereka tidak  sebebas wanita kita,  di Indonesia”,  kata Dr. Elly Wati Maliki ketika kami berkunjung pada suatu hari,  ”namun kebijakan ini  bukan bermakna bahwa wanita Saudi  dibelenggu kebebasannya.  Mereka tak dilarang alias mahruumin untuk berbuat kebajikan,  tetapi lebih karena mencegah mereka dari kemungkaran”.

Saya mengangguk-angguk mendengar penjelasan wanita aktiv asal Indonesia ini.  Aku serius untuk mencermati agar  tidak  terputus informasi yang kudapat  dari wanita beretnis Padang ini. ”Nah,  atas dasar itulah,  banyak wanita di  Saudi yang menjadi dosen dan tenaga-tenaga administrasi di kampus. Namun demikian,   wanita bekerja tentu  hanya di lingkungan wanita juga,  tanpa ada laki-lakinya.  Artinya,  mereka menjadi dosen dan tenaga kerja lainnya,  khusus pada sekolah dan atau universitas wanita”,  bu Elly  melanjutkan penjelasan,  ”Oleh karena itu,  di dalam tempat kerja ini para wanita bisa juga melepas kerudungnya,  melepas abaya hitamnya,  sehingga hanya mengenakan celana panjang yang juga upto date modelnya. Mereka berdandan modis  sebagaimana wanita lainnya”.

Ku lirik  mas Hamdan khusuk mendengarkan.  Sekilas Wawan pun asyik  memperhatikan.  Hal tak kalah serius tampak dari muka Fakhry.   ”Perlu juga diketahui bahwa wanita Saudi juga mengadakan pesta,  glamour juga penampilannya,  bersolek juga wajahnya,  namun  tentu saja pesta khusus untuk wanita”,  bu Elly melanjutkan penjelasan, ”realitas inilah yang perlu dipahami orang lain.  Tak bisa kita mengukur kultur Saudi  dengan kultur yang kita miliki,  apalagi dengan kultur barat yang tak ada batasan hubungan perempuan dan lelaki.   Saudi adalah lokasi dua tanah suci,  sehingga mereka cukup hati-hati  dalam memberi kebebasan dalam konteks hubungan  perempuan dan wanita tadi”.

Penjelasan bu Elly  membantu kami dalam memahami wanita Saudi.  Dalam kultur Saudi,  wanita memiliki nilai yang luar biasa di negeri ini.  Wanita sebagai ”kekayaan” super mahal harganya,  sehingga  harus dijaga ekstra ketat dan super hati-hati. Dibungkus rapat dan rapi,  bukan dipajang  terbuka  sebagaimana barang-barang murah lainnya.   Karena kultur penghormatan wanita pula,  maka cadar senantiasa  menutupi wajah perempuan Saudi Arabia.   Ini merupakan tradisi dalam menjaga dan menghormati wanita,  disamping untuk melindungi wajah wanita  dari  alam Saudi yang panasnya  luar biasa.

Oh ya,  terkait penghormatan terhadap wanita,  akhirnya seorang pria yang ingin menyunting wanita  Saudi Arabia harus membayar mahar yang amit-amit  mahalnya. Khusus dalam tradisi ini,  yang akhirnya menggeser esensi ajaran dan nilai-nilai  Islami.  Dalam Islam dimungkinkan bahwa mahar tidak boleh memberatkan,  bahkan cincin kawat  saja justru dimungkinkan.  Pada titik ini tradisi  Saudi telah bergeser dari nilai Islami,  secara substansi telah  mempersulit  para lelaki.  Para pria harus banting tulang mengumpulkan mahar sebelum melamar wanita,  dan ketika uang mahar telah terkumpul  biasanya sang pria (mapan)  telah terlanjur  tua dari segi usia.  Singkat kata, tradisi mahar terlalu tinggi,  sang  pria  menjadi  telat untuk  beristri.

”Namun,  efek lanjutannya juga ditanggung para wanita,  yakni: Pertama,  wanita tak kunjung menikah karena terbatasnya jumlah  pria yang  sanggup melamarnya.  Kedua,  banyak lelaki Saudi  memilih  kawin dengan wanita non Saudi,  sehingga wanita Saudi  banyak  yang menjomblo sampai mati. Ketiga,   kalaupun lelaki Saudi  tetap mengawini  wanita Saudi,  lelaki mapan  yang biasanya sudah tua dalam usia  akan memilih wanita muda, dan  bukan perawan tua.  Alhasil,   banyak kasus perkawinan, pasangan pengantinnya adalah pria tua bersanding dengan perawan muda”,  jelas mas Nahidl yang telah belasan tahun tinggal di Saudi Arabia.

Realitas ini  telah mendorong  pemerintah  Saudi untuk membuat aturan-aturan penting  dalam rangka melindungi wanita Saudi.  Pertama:  lelaki Saudi dilarang kawin dengan wanita non Saudi. Kedua,  pemerintah Saudi memberi fasilitas pinjaman perkawinan untuk jejaka Saudi  dengan pengembalian dapat dilakukan secara cicilan. Bahkan,  ketiga,  jumlah mahar konon juga mulai ada pembatasan.

“Meski demikian,  hadangan ternyata tetap menjelma di hadapan para lelaki”,  jelas  mas Nahidl,  “Sebab, meskipun jumlah mahar telah dikurangi,    namun  tradisi pesta  perkawinan dengan mengundang berbagai kabilah tampaknya sulit ditinggalkan sama sekali.  Akibatnya,   kondangan seberapapun  sesederhananya,  akhirnya tetap dilaksanakan besar-besaran untuk ukuran Indonesia.  Jika acara  walimatul Ursy menyembelih  15  ekor onta saja,  maka jika dikalikan 40 juta rupiah  harga per ekor nya,  maka  paling sedikit dibutuhkan dana  600 juta rupiah juga.  Sebuah angka yang sama sekali tidak sedikit untuk ukuran Indonensia”.

Itulah problemnya.  Problem kultural dalam masyarakat Saudi.  Persoalan Jaim  yang  menyebabkan wanita  dan lelaki Saudi  kesulitan  menikah sampai saat  kini. *** .

 

Iklan

Mengenali Orang Saudi : Jaim dan Rapi (Bagian 26)

Madinah pagi hari.  Tepatnya Selasa 12 April di waktu  pagi.  Sinar mentari telah berpendar  menyinari seluruh lekukan bumi.  Kami berempat melangkah pelan meninggalkan penginapan menuju pusat perbelanjaan.  Mas Hamdan,  Wawan,  saya dan Fakhry  bermaksud cari oleh-oleh  mengingat waktu di tanah suci sudah tak tersisa lagi.  Sore  pada Selasa ini,  kami sudah mau pulang  ke Indonesia lagi.

Sembari melangkahkan kaki,  otakku melayang ke sana ke mari,  mengevaluasi berbagai peristiwa yang terjadi di tanah suci.  Ya,  selama beberapa hari kami memang berada  di Arab Saudi.  Sekian waktu kami telah  bertemu  orang Saudi ,  dalam kapasitas sebagai  ”peneliti”.    Sudah dua minggu  kami  berinteraksi dengan para mahasiswa,  yang telah tahunan tinggal di Saudi Arabia.  Selama itu pula  banyak informasi kami dapatkan, data sosial politik keagamaan  maupun terkait kultur sosial kemanusian.  Setidaknya  ada beberapa informasi yang menarik untuk diceritakan:

Pertama,  semula kami kesulitan untuk mengenali  apa dan bagaimana ciri orang Saudi asli,  karakter yang mampu menentukan apakah orang Arab yang kami temui adalah warga Saudi ataukah non Saudi.  Hampir semua mahasiswa memberi rahasia  cara membedakannya: (1). Orang Saudi umumnya  menjaga penampilan.  Pakaiannya selalu licin diseterika,  bahkan cara duduk pun di atur sedemikian rupa. (2).  Kebanyakan orang Saudi lebih suka memakai Surban bermotif merah warnanya,  meskipun ada sebagian yang memilih putih polos  juga.

Kunci rahasia ini langsung saya praktekkan  dengan mengamati beberapa  pengunjung restoran tempat kami makan.  Ternyata benar,  beberapa pemuda Saudi yang makan di lokasi,  pakaiannya licin  sekali,  hampir semua  bersorban motif merah,  dan cara duduk  pun dijaga sedemikian rupa. Ciri-ciri yang sama  kuimplementasikan di masjid Nabawy.  Mataku nanar memperhatikan jamaah Nabawy,  dan melalui  dua ciri utama  tadi akhirnya aku dengan mudah  dapat mengenali  warga Saudi.   Singkat kata,  tanpa harus memandang rupa wajah,  karakter penampilan ternyata dapat menjadi pandu pengenalan.

Kedua,  orang Saudi  pada umumnya baik sekali.  Hanya saja,  mereka biasa jaim (jaga image) dalam penampilannya.   Pertanyaannya:  kenapa  ketika umrah – haji  acapkali dijumpai  warga Arab yang  kasar dalam bicara dan perilakunya. “Mereka Arab,  tapi belum tentu warga Saudi”,  jelas mas Iwan Setiawan,  tenaga catering Indonesia yang berasal dari Bima,  meskipun dia memiliki nama Sunda. “Orang Saudi baik-baik.  Biasanya yang berperilaku  kasar adalah Arab Mesir”,  tambahnya,  “Oleh karenanya mereka acapkali dilabeli sebagai Fir’aun”.

Tentu saja kami tertawa mendengar penjelasan mas Iwan.

“Arab Mesir itu kasara,  dan suka berantem”,  tambahnya, “Asykar biasanya membiarkan saja.  Hanya ketika mereka kasar pada warga Saudi,  maka hukuman siap menanti belakangan”.

Ketiga,  orang Saudi acapkali dilabeli image : pemalas, tak punya  mental petarung baik di dunia pendidikan maupun pekerjaan. Sebagian memang sesuai fakta,  namun  fenomena ini tak bisa digeneralisir pada semua.  Di belahan dunia manapun,  biasanya  para pendatang  memang  lebih ulet  dibanding  pribumi-lokal.  Fakta serupa  bahkan berlaku pada suku-suku lokal Indonesia,  terutama ketika dibanding dengan suku pendatang pada lokasi yang sama.

Dalam konteks Saudi,  sopir mahasiswa yang mengantar kami dari Rabithah menuju hotel di Misfallah adalah contohnya,  betapa pemuda Saudi ada pula yang ulet –  pekerja keras dalam hidupnya.  Kadaar intelektual mereka banyak juga  yang tinggi levelnya,  sebagaimana para Doktor muda yang berhasil kami jumpai selama kunjungan di Saudi.   “ Mereka umumnya  kuat dalam hafalan”,  jelas mas Mubarok, kandidat Doktor dari Universitas Ummul Quro “oleh karenanya,  terutama di fakultas agama biasanya mahasiswa  Saudi  cukup dominan,  karena pada fakultas keagamaan memang lebih mengandalkan daya hafalan,  baik Tarikh, Hadits,  dan terutama hafal Al Qur’an”.

Setelah sekian langkah  kami ayunkan kaki,  akhirnya sampailah kami  ke lokasi :   Bin Dawood sebagai tujuan kami,  super market yang menyajikan berbagai kebutuhan termasuk sebagian jenis oleh-oleh dari tanah suci.  Mborong, yuk….***

Undangan Makan: Wujud Kepercayaan Plus Penghormatan (Bagian 25)

Senin  ba’da Maghrib mas Azmy sudah menjemput kami, di Mubarak Silver Hotel  . yang kami tempati. Tanpa ba-bi-bu lagi,  kami langsung meluncur ke rumah Dr. Murdhi Ali Idris  yang telah mengundang makan siang tadi.  .

Setelah mampir sholat Isya’ di sebuah masjid tak jauh dari lokasi,  akhirnya sampailah kami di rumah   wakil direktur program pascasarjana jurusan ilmu dakwah dan khutbah universitas Thaybah tadi. Rumahnya terletak di sebuah kawasan kaya,  menunjukkan bahwa beliau tergolong orang berada.  Kami langsung dipersilahkan masuk ke ruang tamu keluarga,   yang disetting seolah kami sedang  berada dalam tenda.

”Saya punya satu lagi tempat bak tenda seperti ini”,  sekilas ku tangkap
Dr. Murdhi pamer menjelaskan. Maklum,  bahasa Arab saya memang terbatas kosa katanya,  ”satunya lagi terdapat di daerah menuju Tabuk”.

Kami manggut-manggut mendengarkan,  dan Dr. Murdhi dengan wajah sumringah terus menerangkan. ”Saya punya dua istri”,  Dr. Murdhi bicara lagi.  Mungkin,  istri yang satunya lagi  tinggal di  rumah menuju Tabuk  seperti yang ia pamerkan tadi.  Kutatap wajahnya dalam-dalam. Terpancar dari romannya sebuah keramahan.  Bahkan dari gaya bicara,  ketawa,  tatapan mata,  kurasa seolah saya telah lama mengenalnya.  Namun,  dimana ?  ”Ah..mustahil”,  spontan sang hati menolak perasaan saya.

Terdapat beberapa hal patut kuceritakan terkait pengalaman  menghadiri  undangan makan malam dari orang Saudi asli:

Pertama, memperoleh undangan  ke rumah orang Saudi konon merupakan sebuah kehormatan, sebab  hampir semua siswa dan pekerja Indonesia menyatakan bahwa:   orang Saudi itu tertutup sekali.  ”Meskipun  di  kampus  akrab dengan mereka,  namun tak ada yang pernah mengundang datang ke rumahnya”,  kata mas  Mubarok kandidat Doktor yang telah belasan tahun  tinggal di Makah. Hal persis sama dikatakan mas Erika.  ”Ada sih  teman Saudi  yang akrab sekali.  Meskipun secara rutin mengajakku sholat Jum’at  di masjidil haram,  namun tak sekalipun pernah  membawaku ke rumahnya”,  kata mas Erika melanjutkan.  ”Hanya orang yang sangat dipercaya,  dan orang yang kepadanya dia merasa nyaman saja,  warga Saudi baru mengundang untuk datang”,  tambah mas Mubarok.   Walhasil,  ketika tahu kami diundang makan oleh warga Saudi,  mas Mubarok  merasa surprise sekali.  Apalagi pihak pengundang  adalah Syekh Ismail,  Naibul Mudiir  Yayasan Al Hai’ah Haramain pimpinan Syekh As-Sudais, maka keteperanjatan lah yang ia ekspresikan.

Problemnya,  undangan justru tak bisa kami penuhi,  sebab jatah tinggal di Makah memang sudah tak tersisa lagi. Padahal, ”Penolakan terhadap undangan,  sebenarnya  tidak sopan”, komentar mas Azmy setelah mendengar cerita  tentang ketidakhadiran atas undangan makan malam dari Syekh Ismail.  ”Ya bagaimana lagi.  Kondisi  memang tak memungkinkan untuk memenuhi.”,  sambut mas Nahidl menetralisir situasi.

Dus,  ketika di Madinah kembali dapat undangan makan,  tentu  membawa keterpanaan,  bahwa kami  memang mendapat keberkahan.  Maklum,  sekali lagi,  orang Saudi itu tertutup sekali.  Lha kenapa  kita bisa diundang  ke rumah untuk  makan,  meskipun baru saja kenalan ?  Jawabnya : Allahu a’lam.: hanya Allah yang tahu.

Kedua,  dalam tradisi Saudi,  ketika seseorang mengundang makan,  biasanya sang tuan rumah akan mengajak  serta  satu dua  teman terdekatnya. Terkait dengan ketidakhadiran dalam undangan Syekh Ismail di Makah misalnya,  dengan nada kecewa beliau sempat berkata,   ”sayang sekali kalian tidak bisa datang,  padahal saya juga mengajak beberapa teman untuk menemui kalian”.  Demikian info Fakhry pada kami,  sebab  Fakhry  lah yang bertugas kontak dengan Syekh Ismail.

Hal yang sama juga terjadi di Madinah.  Dalam undangan makam malam,  Dr. Murdhi Ali Idris ternyata juga menghadirkan teman dekatnya,  Dr. Khalid As Subaidi, dosen juruan ilmu hadits Universitas Islam Madinah, yang kebetulan telah beberapa kali  datang ke Indonesia. Walhasil,  dalam acara   Senin malam itu kami terlibat cengkerama  dengan mereka.

Ketiga, dalam tradisi makan bersama di Saudi,  tamu tak  diperjumpakan dengan sang istri.  Hal ini berbeda dengan kultur Indonesia,  bahwa sang tamu diperkenalkan dengan seluruh anggota keluarga  tuan rumahnya.  Intinya:    tamu pria hanya dilayani  sang tuan rumah pria,  alias tak akan pernah diperkenalkan dengan penghuni wanita.  Sebaliknya,  tamu wanita hanya ditemui  tuan rumah wanita,  dan tak akan pernah diperkenalkan dengan penghuni pria.  Ruang tamu pun,  sengaja dibangun terpisah  di halaman terdepan  terpisah dari ruang induknya.

Meski demikian,  penghormatan tuan rumah tetap maksimal dicurahkan.  Caranya: karena kami para pria,  maka  ”semua anak lelaki si tuan rumah dimobilisasi  untuk  melayani.  Mereka bahkan tak ikut makan,  tapi  hanya berdiri memperhatikan,  sekaligus memberi pelayanan.  Anak-anak tuan rumah lah yang menyajikan minuman makanan,  sekaligus membereskan pasca acara makan”,  jelas Kr. Khalid As Subaidi  yang diterjemahkan pak Budi.

Keempat,  dalam tradisi Arab Saudi  yang disebut undangan makan malam (’asya’),  pelaksanaannya benar-benar  di tengah malam,  sekitar jam 23.00-24.00.  Sambil menunggu detik-detik  waktu makan,  tamu dan tuan rumah biasanya  sibuk dalam perbincangan,  diselingi makanan ringan serta minuman.  Khusus dengan kami,  Dr. Murdhi tampaknya telah paham tradisi,  bahwa di Indonesia makam malam dilaksanakan paling lambat  setelah Isya’ waktunya.  Walhasil,  khusus kepada kami,  acara makan malam akhirnya dipercepat  sebelum tengah malam.  Pemahaman ini bahkan telah disampaikannya ketika pertama mengundang,  sehingga kami tak khawatir harus bertamu  sampai tengah malam.   Singkat kata,  ketika jam menunjuk ke angka 23.00  acara makan malam telah  mencapai ujungnya.  Alhamdulillah…

Kelima,  dalam acara makan bersama,   ternyata ada pula etika dan tatakramanya. ”makanan yang sudah disuapkan,  sisa di tangan tak boleh dikembalikan ke dalam nampan”,  terang Muhammad Isa yang telah tinggal di Arab sejak SD usianya, ”Kalau ada kelebihan di tangan,  sisa itu cukup ditaruh di plastik  telenan yang biasanya dijadikan alas tatakan bersama”.  Karena tradisi inilah,  maka  makan bersama orang Saudi,  pasti akan didapati  sang nasi banyak  yang terpapar  di luar nampan  tepat di  depan.

”Dalam terminologi Islam,  perilaku ini jelas menjadi kemubaziran. Siapa tahu  nasi yang dicecer justru yang mengandung keberkahan”,  kataku protes.  Sejenak aku terdiam,  mengunyah,  lantas melontarkan pertanyaan, ”bagaimana seandainya  butiran nasi yang tersisa di  tangan, nekad dikembalikan dalam nampan ?.

”Kita akan ditinggalkan.  Orang Saudi akan tersinggung,  karena perilaku itu dianggap penghinaan”,  tandas  sarjana baru  Universitas Islam Madinah  di bidang ekonomi tadi.

Keenam,  dalam tradisi Saudi   undangan makan baru berakhir  bukan ditandai ketika  tamu pamitan, melainkan justru  menunggu tuan rumah sampai mengucapkan :  baarokallah.  Bila tuan rumah telah mengatakan demikian,  tandanya pertemuan  sudah berakhir tidak dilanjutkan.  Walhasil,  sekitar pukul 23.00  Dr. Murdhi  mengucapkan kata-kata yang agak lama kami nanti : Barakallah,  sehingga kami dapat segera pulang untuk istirahat menunggu saat pulang.

Kembali ke soal undangan Dr. Murdhi,  saya sempat dihadapkan pada dilema,  terutama terkait soal etika.  Di satu sisi pak Budi mendorongku  untuk  bertanya pada isu-isu dan persoalan yang saya bawa.  Namun, di sisi lain mas Azmy justru ngasih tahu agar konsentrasi makan saja, tak usah diskusi  masalah berat tetapi  cukup membangun perbincangan ringan.   Tetapi,  apapun  dilema dan kecanggungan  yang sempat  kurasakan,  tapi  itulah pengalaman luar biasa,  yang tak sembarang orang bisa mencoba: diundang makan  malam di rumah seorang Saudi Arabia. Alhamdulillah….***

 

Buang Makanan, Tak Cerminkan Ajaran Islam (Bagian 24)

Sangat beruntung rasanya,  kami berkenalan dengan para petualang muda yang rela meninggalkan Indonesia untuk menuntut ilmu jauh dari keluarga: Saudi Arabia.  Terus terang,  saya  mendapatkan beberapa kesan khusus terhadap mereka.

Di Makkah Al Mukarromah misalnya,  Mas Erika merupakan profil yang langsung akrab dengan orang yang baru ditemuinya.  Percakapan mengalir seolah tak ada batasan apatah lagi kecurigaan.  Berbagai informasi yang sensitif pun sempat dia sampaikan tanpa keraguan.  Mas Mubarok  tampaknya tak jauh beda,  langsung semanak  mendampangi kami,  menyela kegiatan super padat urusan umroh yang harus ia jalani.

Bagaimana dengan yang di  Madinah al Munawwaroh  ?  Dari segi gaya agak berbeda,  namun  substansinya tetap sama.   Mas Nahidl merupakan profil ”pendiam”  sehingga  bicara terkesan secukupnya.  Mas Azmy  terkesan dingin dari tatapan mata dan ekspresi wajahnya,  namun setelah kenal ternyata cukup hangat orangnya.  Mas Azmy lah  yang menurut mas Nahidl sempat didaulat mendampingi Muhammad Nuh,  mantan menteri Pendidikan  kita,  selama mengunjungi Saudi Arabia.  Adapun mas Fakhruddin,  lelaki asal Gresik senantiasa tampak  optimis ceria,  dengan senyum tak pernah lepas dari bibir ketika bicara.  Mungkin karena karekter itu pula,  mas Fakhruddin  memiliki jaringan dengan beberapa pejabat dan atau dosen  di kampusnya.  Mas Izdihar masih terlihat gaya mudanya,  meskipun sudah 24 tahun usianya.  Sementara mas Imam Khairul Annas meski dari raut muka terlihat paling muda,  namun gaya bicara dan informasi yang disampaikannya  terkesan matang.  Mungkin  jabatan ketua PPMI Saudi Arabia,  serta sering  melakukan kunjungan ke berbagai kota  untuk menemui mahasiswa yang ”dipimpinnya”,   menjadikan  mas Imam menjadi lekas dewasa.    Oh ya,  sebenarnya kami juga sempat  jumpa Muhammad Sidqi (ketua PPMI  Madinah),  yang dilakukan malam  hari.  Karena pertemuan  singkat sekali (19.30-21.00),  saya belum mampu menangkap kesan profil pemuda ini,  kecuali satu kata : cerdas.

Intinya,  siapapun mereka,  aku berdo’a  semoga perjuangan dalam meraih pendidikan  akan menuai keberkahan,  baik untuk diri, keluarga,  bangsa,  atau bahkan masyarakat Islam dunia.  Amin….

Kami tak sempat makan bersama mahasiswa Makkah kecuali dengan mas Oebaidillah. Namun di Madinah,  kami sempat beberapa kali makan bareng mahasiswa.  Mungkin inilah yang dinamakan berkah,  baik untuk kami maupun untuk mereka.  .

Beberapa kali  di restoran,  kami berdampingan dengan orang-orang Arab yang juga sedang makan.  Sesekali kusempat melirik.  Masyaallah,   porsi yang disajikan sungguh luar biasa.  Satu orang saja ,  dihadapkan pada sebuah nampan besar  yang untuk ukuran normal  Indonesia bisa dimakan bertiga. Problemnya,  porsi makanan besar itu umumnya tak berhasil dihabiskan.  Walhasil,  sebagian besar mereka akhirnya  menyisakan makanan bahkan ada yang hampir separoh dari sajian.  Sisa makanan itu akhirnya menjadi sampah,  yang ketika dikumpulkan menjadi sangat berlimpah.

”Naudzubillah min dzaalik…”,  hatiku meradang melihat fenomena ini. ”Apakah mereka tak pernah mendengar ajaran Islam,  bahwa perilaku mubazir dapat menjadikan teman setan ?   Apakah mereka tak pernah baca,  bahwa sikap boros buang-buang makanan menjadi bagian dari  perilaku  kerusakan ?  Apakah mereka tak pernah nonton TV betapa di berbagai belahan bumi banyak manusia mati karena kelaparan  ? Itulah serangkaian tanya yang menggelayut dalam dada,  untaian kemarahan yang berkecamuk di kepala. Intinya,  mereka mungkin belajar Islam sehari-hari,  bahkan hidup di tanah suci,  namun khusus dalam soal makan perilakunya jauh dari kata Islami.

”Astaghfirullah ” ,  aku mengelus dada,  mohon ampunan  karena telah menilai orang lain berdasar parameter kekurangan.  Haasibuu qobla antuhaasabuu:  Nilailah dirimu sendiri sebelum engkau menilai orang lain,  demikian ajaran Islam telah mengajarkan.***

 

 

 

Kesan Rangkaian Kunjungan : Kampus – Kantor Sederhana: (Bagian 23)

Pasca diskusi dengan Dr. Murdhi, mobil langsung mengaspal  di jalanan  meluncur ke sebuah rumah makan.  Kunjungan ke Jamiah At Taibah pada Senin  siang,  merupakan  penutup penelitian di kampus dan atau  perkantoran.  Dari serangkaian  kunjungan di Jeddah – Makkah – Madinah  secara umum bisa ku gambarkan  bahwa kampus –  kantor –   dan asrama mahasiswa di Saudi Arabia  ternyata biasa-biasa saja,  jauh dari kata mewah realitasnya.

Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawy di Madinah  memang sangat megah bangunannya.  Atas referensi dua masjid tadi,  maka ketika akan berkunjung ke kantor – kampus – asrama sudah tergambar di benak  kami bahwa kami akan menemukan  gedung-gedung yang juga megah – mewah.  Namun  begitu kaki menapak  masuk  lokasi,  bayangan keindahan langsung buyar dari imajinasi.  Ternyata gedung-gedung yang kujumpa,  arsitektur luar maupun  interior di dalamnya biasa saja untuk tak disebut sederhana.

Kantor Rabithah  ’Alam Islamy misalnya,  meski namanya sedemikian mendunia,  bahkan telah ku kenal sejak masih belia,  ternyata bangunannya  cukup sederhana,  biasa interiornya,  sederhana perabotannya.  Begitu juga Universitas Islam Madinah yang namanya mendunia di kalangan siswa agama (baca: santri),    jenggerek bangunannya tergolong sederhana.  Dibanding dengan  Universitas Indonesia (tempat ku menimba ilmu bertahun-tahun lamanya)  saja kalah jauh kualitasnya.  Hal tak berbeda ketika berkunjung ke asrama mahasiswa:  sederhana,  baik asrama Universitas Ummul Quro di Makkah maupun asrama Universitas Islam Madinah. Singkat kata,  semuanya biasa saja,  semuanya sederhana.

Dua hari belakangan,  banyak  mahasiswa mendampingi kami  dalam melakukan ”peliputan” .  Ada mas Nahidz Ahmad Silmi dan mas Azmy Zarkasi  keduanya  kandidat Doktor.  Ada beberapa mahasiswa S1,  seperti Imam Khairul Annas yakni mantan ketua PPMI Arab Saudi, mas  Fakhruddin yang juga dosen di STAI Gontor,  tentu saja  termasuk mas Izdihar. Bersama mereka inilah,  dua hari terakhir di Saudi  kami secara informal  menggali banyak  informasi.

Mobil mengaspal pelan,  lantas berhenti di sebuah restoran.  Pada hari pertama, saya merasa kagok karena ditraktir mas Nahidl, mahasiswa  muda,  meskipun level Doktor pendidikannya. Umurnya 34 tahun.  Karena status mahasiswa tetap melekat padanya,  maka kami tak merasa nyaman ketika ditraktir makan.

“Wan.. sana segera bayari,  nggak enak kalau mahasiswa yang justri membayari”,   kataku setengah mendesak.

“Saya sudah berusaha kasih uang,  tapi mas Nahidl maksa uang dikembalikan”,  tukas Wawan.  Dari mimik mukanya,   Wawan juga merasa kurang nyaman karena  dibayari makan.

Apa boleh buat,  untuk hari pertama terpaksa kami ditraktir mahasiswa.  Barulah di hari kedua,  Wawan sang bendahara yang mengeluarkan uang untuk bayar makan.  Itupun, kulihat diam-diam  mas Nahidl –  mas Azmy masih mengeluarkan uang juga, untuk menambah menu tambahan.  Jazakallah mas Nahidl.

Sikap kokoh “ngebosi”  dua kandidat doktor ini akhirnya dapat kumaklumi. Sebab,  meskipun berstatus mahasiswa,  namun back-ground keduanya sepertinya tergolong mampu semua.  Mas Azmy bahkan putra pemilik pesantren  Gontor,   dan mas Nahidl pun memiliki back-ground tak kalah istimewa,  keponakan K.H. Musthof Bisri sekaligus keponakan  H. Maftuh Basuni,  salah satu Menteri Agama  yang pernah  kita miliki.

Apalagi,  mahasiswa Saudi umumnya  juga sambil  berbisnis.  Kandidat Doktor di  Makkah seperti Mas Mubarok  misalnya, dari komunikasi via telpon yang aku dengarkan,  ternyata sibuk  mengatur Umroh asal Indonesia.  Hal serupa  dilakukan Mas Nahidl di  Madinah.  Bahkan,  pria asal Rembang ini merupakan counter-part mas Ferly  untuk mengatur perjalanan kami selama di Saudi.  Singkat kata,  meski mahasiswa,  mereka memiliki banyak real  di dalam kantongnya. Mabruk mas..he..he..

Mahasiswa yang berbisnis ternyata tak terbatas pada level Doktoral saja, yang pada umumnya memang  sudah berkeluarga.  Mahasiswa level sarjana juga terlibat,  setidaknya untuk urusan pendampingan selama perjalanan.  Mas Iztihar yang selama berhari-hari menyertai kami misalnya,  atau mas Muhammad Isa yang menjadi driver dalam petualangan di pedesaan  Madinah j  adalah dalam kerangka ”bisnis” semua.  Semoga langkah bisnis mereka diniatkan untuk menopang kelancaran  belajarnya,  memperkokoh pendidikan,  dan semoga  pekerjaannapun  diniatkan untuk membantu  Jamaah Umroh  sebagai realisasi peribadatan.  Walhasil,  jika itu semua yang menjadi landasan,  apa yang mereka lakukan akan berimbal dengan berbagai keberkahan.  Amin…ya..mujibassailin…..***

Jamiah At Taibah: Batas Tanah Haram di Madinah (Bagian 22)

Senin  10 April 2017 Siang,  Sinar mentari memancar garang.  Panas kurasa makin ganas.  Terik  kurasa kian mencekik.  Mobil  segera meluncur dari Universitas Islam Madinah menuju Jamiah Al Taibah.  Jaraknya tak terjalu jauh,  sebab posisi Jamiah at Taibah  hanya  tepat di belakang  Universitas Islam Madinah.

Lokasi Jamiah at Taibah  ternyata tepat berbatasan dengan wilayah tanah suci.  Maksudnya,  Jika Universitas Islam Madinah masih berdiri di lokasi tanah suci,  sedangkan  Jamiah at Taibah   sudah tak masuk lagi kawasan tanah suci tadi.  Konsekuensinya,  jika Universitas Madinah hanya boleh dimasuki  orang Islam saja,  maka  Jamiah at Taibah  boleh dimasuki siapa saja baik muslim maupun kaum kafir agamanya.  Walhasil,  dapat dipahami pula  jika  di At Thaibah saya banyak menjumpai  mahasiswa berkaos – bercelana,  sedangkan  di  Universitas Madinah  lebih banyak  bergamis busananya.

Perbedaan lainnya,  ”Jamiah  At Tayba mayoritas dimasuki  para muda-mudi  Saudi asli,  sedangkan  hanya 20 persen sisanya  adalah mahasiswa beasiswa  non-Saudi”, terang pak Budhi,  seorang  kandidat Doktor asal Riau.  Hal ini berbeda dengan Univeristas Islam Madinah  yang dominan asal mancanegara dan mayoritas adalah mahasiswa beasiswa.

Kawasan kampus at Taibah sepertinya masih dalam tahap pembangunan,  mengingat di sana-sini masih dalam kondisi berantakan,  masih dalam situasi super gersang tanpa ada tetumbuhan.  Hanya pada halaman  di sekitar pintu gerbang  mulai tumbuh beberapa tanaman. Sisanya,  gersang   sisa-sisa  dari  bukit yang diratakan.  Panas. Terik. Kerontang.

Seandainya saya menjadi mahasiswa beasiswa,  tanpa kendaraan.  dan harus  pulang pergi  ke lokasi dengan jalan kaki,  maka lebih baik kupilih pulang kampung ke Indonesia.  Dalam situasi seperti ini barulah kurasakan,  betapa nyaman dan indah tinggal di nusantara, sebuah tanah tropis yang ditumbuhi berbagai tanaman dan bermacam kembang.  Alhamdulillah ya Ilahi,  syukur hamba yang mendalam ya Robbi.l izzati.

Untungnya di tengah kerontang  tanah at Taibah,  kami tak terlalu lama untuk diterima sang tuan rumah.  Dr. Murdhi Ali Idris,  wakil direktur program pascasarjana jurusan ilmu dakwah dan khutbah universitas Thaybah  langsung menerima kami dengan ramah sekali.

”Warga Arab Saudi 100 persen muslim.  Jika ditemukan warga non muslim,   dia pasti ekspatriat  alias  non-warga Saudi”,   kata Dr Murdhi mengawali penjelasan  tentang paham keagamaan kepada kami, ”Islam Arab Saudi secara umum memiliki satu persepsi,  sebab hampir semua mengikuti madzab Hambali.  Meski demikian,  dalam interpretasi ulama Saudi tetap melihat berbagai madzab lain alias tidak fanatik pada madzab sendiri.   Dalam proses tafsir inilah perbedaan muncul acapkali,  meski tak sampai menimbulkan friksi”.

Ketika kami bertanya,  bagaimana  pola pemerintah Saudi membina kehidupan beragama para warga,  Dr  Murdhi langsung menimpalinya, ”Mereka dibina Kementerian Agama yang membawahi badan-badan di berbagai daerah dalam implementasinya.  Lembaga-lembaga dalam jaringan Kementerian Agama inilah yang senantiasa menyelenggaran pendidikan dan atau kuliah rutin  khusus  tentang Syariat Islam”.

”Bagaimana perlakuan Saudo  terhadap eks-patriat, yang sebagian bukan Islam agama yang dianutnya ?,  tanyaku yang diterjemahkan mas Nahidl.

”Pemerintah Saudi menyediakan da’i-da’i khusus untuk mereka”,  tukas Dr Murdhi,  ”Target pengajaran dalam metode ini : agar non muslim tadi  bisa memahami Islam dan umat Islam sebagaimana mestinya. Melalui ajaran ini,  ekspatriat tak sekedar  merujuk pada media asing  yang selalu apriori manipulatif dalam isi. Jadi,  tujuan minimal adalah mengenalkan Islam  sesuai al Quran Hadits sebagai referensi utama,  syukur-syukur ada ekspatriat yang memperoleh hidayah  dan  menjadi mualaf pada akhirnya”.

Mas Hamdan  kulihat manggut-manggut.  Wawan ikut juga manggut-manggut. Bahkan Fakhry  akhirnya terpengaruh  ikut manggut-manggut.

”Sebagaian ekspatriat memang ada yang tertarik menjadi Islam”,  lanjut
Dr.  Murdhi,  ” perawat asal Philipina misalnya,  tak  sedikit  menjadi muallaf,  menjadikan Islam sebagai agamanya”.

Sayang sekali,  hanya beberapa saat  pertemuan,  adzan dzuhur  sudah dikumandangkan.  Walhasil,  pertemuan dengan Dr. Murdhi  akhirnya berlangsung  singkat sekali.  Mungkin karena hal ini pula,  beliau  lantas mengundang  untuk  berkunjung dan atau dilanjutkan di rumahnya pada malam harinya.   Dr. Murdhi  mengundang asya’  alias makan malam,  sebuah undangan yang super  jarang kecuali hanya pada  kenalan kepercayaan.  Setelah sepakat atas undangan tadi,  maka  pertemuan siang  ini langsung diakhiri,  dilanjutkan shalat dzuhur berjamaah  di  lokasi.

Di tengah terik mentari di perbatasan tanah suci ini,  kami   lantas undur diri.  Dr. Murdhi  “mengiringi” kepergian kami  dengan sebuah cendera mata  kayu Siwak segar kepada kami.  Tak kuingat nama jenis siwak yang diberi, tetapi  ketika kayu kugigit rasa pedas langsung mengiringi.  Subhanallah.

“Kulit  siwak ini bisa ditelan”,  kata mas Azmy,  seorang  kandidat Doktor yang ikut mengiringi,  “kulit siwak ini sangat bermanfaat untuk kesehatan,  terutama untuk lambung agar tak begah berpenyakitan”,  lanjut  trah pemilik Pondok pesantren Gontor – Ponorogo tadi.

Rasa bahagia merona pada wajah kami semua,  mengingat  sambutan dari  tuan rumah sungguh luar biasa.  Pertemuan pertama kali baru terjadi,  namun  sambutan Dr. Murdhi meski singkat namun  berkesan di hati.   Ialliqoo’  ya Doktor,  sa nazuuruka fil baitik: sampai jumpa wahai Doktor,  Insya Allah kami akan ziarah ke rumahmu nanti. ***

 

Berkunjung ke Universitas Islam Madinah : Peluang Kerjasama ?(Bagian 21)

Senin,  9 April  2017 pagi,  sinar cerah mentari kembali  menyambut kami.  Langit ceria.  Cakrawala pun memperlihatkan senyum  gembira.  Mas Nahidl Silmy kembali  menjemput mengantarkan kami  menuju kampus  tempat dia menempuh ilmu selama ini.  Karena waktu perjanjian memang belum saatnya,  keponakan  K.H. Mustofa Bisri ini lantas mengajak kami putar-putar kampus termasuk asrama mahasiswa dari berbagai bangsa.

Akhirnya tibalah waktu  wawancara,  dan kami diterima dua pejabat asli Saudi Arabia,  pertama  Dr. Ibrahim Sulthon,  wakil kepala biro urusan alumni bidang hubungan alumni,  kedua,  Dr. Abdul Aziz wakil kepala biro urusan alumni bidang ilmu pengetahuan.

“Sebagian besar mahasiswa di Universitas Islam Madinah adalah warga asing”,  kata Dr. Abdul Aziz memberi informasi perdana,”Terdapat siswa dari 170 negara ,  dengan jumlah mencapai  20 ribu mahasiswa. Hanya 30 persen dari mahasiswa non Saudi yang biaya sendiri”.

Sekilas kulihat Wawan manggut-manggut mendengar penjelasan,  dengan mas Nahidl  yang bertugas menerjemahkan.

Mahasiswa penerima beasiswa di UIM  mendapat fasilitas antara lain: (1). Tiket pesawat saat diterima menjadi mahasiswa di Universitas dan pada setiap akhir tahun akademik, sesuai dengan aturan yg berlaku. (2). Mukafa’ah (uang tunjangan) setiap bulan. (3). Hadiah tunai bagi mahasiswa yang berprestasi. (4). Asrama gratis dan perabotannya. (5). Makan di Kantin Universitas dengan biaya murah. (6). Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Universitas. (7). Sarana transportasi untuk shalat di Masjid Nabawi, Umrah dan wisata lainnya sesuai dengan jadwal yang ditentukan. (8). Fasilitas olah raga yang disediakan oleh universitas.

“Khusus dari Indonesia,  sekarang jumlah siswa mencapai  500 orang untuk tingkat Sarjana,  70 untuk level MA,  dan selebihnya 13 orang  kandidat Doktor”,   timpal  Dr. Ibrahim Sulthon. “Beasiswa untuk Indonesia memang paling banyak jumlahnya”.

:”Luar biasa,  sedemikian banyak beasiswa Arab Saudi yang diberikan pada Indonensia”,   batinku terkesima mendengar informasi yang luar biasa.

“Sampai sekarang,  alumni asal Indonesia  banyak sekali jumlahnya”,  lanjut Dr. Ibrahim Sulthon,  “S1 saja mencapai 1.227 orang,  belum lagi level MA tercatat 140 orang,  ditambah  Doktor berjumlah 43 orang”.

Dari berbagai alumni asal Indonesia,  terdapat beberapa nama yang cukup dikenal antara lain : (1). Muhammad Maftuh Basyuni(Mantan Menteri Agama RI), Hidayat Nur Wahid (Mantan Presiden Partai Keadilan dan mantan Ketua MPR), Salif Segal Al Jufri (Mantan Menteri Sosial RI), Abdul Gani Kasuba (Gubernur Maluku Utara), Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor), Ahmad Cholil Ridwan (salah satu ketua MUI Pusat, Bidang Remaja dan seni Budaya) dan Firanda Andirja Abidin, dai Indonesia, yang pernah menjadi  pengisi kajian rutin bahasa Indonesia di Masjid Nabawi.  Alumnus di Malaysia salah satunya adalah  Abdul Hadi bin Awang (Presiden Partai Islam Se-Malaysia).

Mas Hamdan terlihat manggut-manggut.  Fakhry nampak terkesima,  .  terpana dengan alumnus Indonesia  yang sedemikian banyak jumlahnya.

“Mengingat sedemikian banyak alumnus kami punya,  maka Universitas Islam Madinah membentuk biro khusus yang menangani alumni yang dimiliki”,  tambah Dr. Abdul Aziz,  “Intinya  kita terus menjalin komunikasi,  bahkan termasuk melatih mereka agar memiliki kemandirian.  Janganlah para alumni setelah kembali ke negaranya berharap pada “pemberian” masyarakat,  tapi hendaknya bisa berpikir apa yang bisa diberikan pada masyarakat”.

“Ada beberapa hal yang kami lakukan terkait para alumni”,  timpal Dr. Ibrahim Sulthon, “Pertama, kita membuat buletin untuk sarana komunikasi antar alumni,  secuil media sebagai wahana komunikasi dengan mantan siswa.  Buletin bisa berperan sebagai sarana pengasah kemampuan menulis,  agar terbiasa berkarya sebagaimana ulama-ulama produktif lainnya. Kedua, kita juga membangun komunikasi lewat intra sosial media,  dimana  berbagai masukan (kritik dan saran)  dari mahasiswa  dan  alumni dinantikan juga. Hanya dalam waktu tiga hari,  sudah akan dijawab rektor.  Masukan dan atau kritikan misalnya,  bisa soal ijazah yang telat,  fasilitas asrama yang rusak.  Bahkan,  berdasar masukan,  ada gedung di kawasan kampus akan dirubuhkan guna diubah menjadi  lokasi joging dan atau taman”.

Dr. Ibrahim Sulthon sejenak jeda memberi penjelasan,  sejurus kemudian dia menjelaskan,  ”Ketiga,  melalui komunikasi ini  para alumni bisa mengajukan permintaan  bantuan,  seperti tenaga guru,  ketika alumni di masing-masing negara  membangun lembaga pendididkan. Kepada lulusan bahkan diberi bekal pelatihan, seperti: kemampuan manajemen, interview untuk mendapat pekerjaan,  bahkan pada daurah terakhir diajari  cara membuat proyek keilmuan.  Misalnya membangun institusi pendidikan dengan tanpa modal.  Caranya : dia bisa mencari bantuan, yang diajarkan secara step by step”.

”Apakah di kampus ini,  juga dibuka peluang kerjasama dengan pihak luar  non alumni,  misalnya dalam wujuk kerjasama penulisan ?,  sambutku ketika   dibuka peluang untuk bertanya.

”Oh ada”,  tukas Dr. Ibrahim Sulthon,  ”kita membuka peluang kerjasama keilmuan,  seperti Daaurah tokoh,  menulis bersama dalam jurnal,  serta kerjasama penelitian. Anggaran kerjasama yang kami sediakan cukup besar. MOU sampai sekarang belum banyak diajukan,  oleh karena itu peluang kerjasama masih sangat terbuka dilakukan”.

Kuperhatikan Mas Hamdan dan Wawan matanya langsung berbinar,  demi mengetahui peluang kerjasama masih terbuka lebar.

”Persyaratan satu saja,  kerjasama tak berpotensi melanggar aturan kedua negara”,  lanjut Dr. Ibrahim Sulton,  ”Hanya saja,  untuk bidang politik dan ekonomi belum bisa.  Sedangkan untuk sosial keagamaan, dakwah, dan bahasa Arab,  serta isu tentang wanita, masih  terbuka lebar peluangnya.  Khusus isu-isu politik saat ini baru ada di universitas King Saud di Riyad saja,  yang kebetulan para diplomat hampir semua alummnus sana”.

”Tahapan untuk bangun  kerjasama seperti apa ?,  maksudku,  bagaimana  proses untuk mewujudkannya ?, tanyaku singkat.

”Sederhana saja.  Dari LIPI secara kelembagaan,  silahkan mengajukan ke Rektor,  ke Bagian Hubungan Internasional”,  sahut Dr. Abdul Aziz, ”Intinya yang penting thema kerjasama sesuai misi Jamiah. Bisa kerjasama penelitian, bisa berupa pelatihan (dari Arab ke Indonesia misalnya), bahkan termasuk pertukaran pelajar dengan ijasah dari Jamiah”

Mentari makin menjulang tinggi,  dan diskusi inipun segera  kami akhiri.  Semoga peluang kerjasama dapat ditindaklanjuti.  Syukron Jaziilan ya  Doktorain:  terima kasih banyak wahai dua Doktor:   Ibrahim Sulthon wa  Abdul Aziz.***