Di Rabithah ’Alam Islamy Kami Bertemu Ustadz Nasruddin Al Palembangy MA. (Bagian 7)

Senin 2 April 2017 pagi,  mentari telah menyapa kami dengan ramah sekali.  Sinar sang surya sedemikian ceria,  menandakan  pagi ini buana sedang bahagia. Saya, Wawan, mas Hamdan dan Fakhry  tentu saja menyambut suasana juga dengan suka cita.

Di pagi ceria ini kami telah membuat janji dengan   orang Arab Saudi,  untuk bertemu di   Rabitah  ‘Alam Islamy.  Singkat cerita,  setelah melalui proses pemeriksaan di pos penjagaan,  akhirnya sampai juga kami  di tempat tujuan:  ruang kerja si orang arab tadi.

Rabitah ’Alam Islamy adalah   sebuah nama besar  yang telah saya dengar sejak lebih dari seperempat abad lamanya.  Nama dan perbawanya sedemikian monumental  di telinga ”warga Islam” Indonesia,  terutama bagi mereka yang memiliki jaraingan dengan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII).  Melalui jaringan  DDII – Rabitah Alam Islamy ini kudengar  banyak sekali  santri Indonesia yang berhasil dikirim sekolah di Timur Tengah terutama Arab Saudi. Jaringan intelektual dakwah ini terutama sangat menonjol pada era DDII masih dipimpin Mohammad Natsir.  Konon,  hanya berbekal tanda tangan tokoh Masyumi ini, seseorang langsung bisa berangkat untuk menuntut ilmu di Arab Saudi. Sayangnya,  setelah Natsir meninggal pelan namun pasti gaung ini mulai meredup   –setidaknya untuk telinga saya pribadi.  ”Orang arab memang lebih percaya pada ketokohan pribadi.  Dus,  ketika sang tokoh sudah tak ada,  maka kerjasama biasanya menjadi  tak sekuat era sebelumnya”,  demikian alasan yang sering kudengar terkait dengan fenomena ini.

Saat ini,  memang banyak tokoh Islam indonesia  yang menjembatani kerjasama Rabitah dengan intelektual Dakwah di Indonesia.  Khusus Nama  Hidayat Nur Wahid misalnya,  oleh 3 orang Rabitah yang berhasil kami temui,  memang sempat disebut beberapa kali.  Namun,  sekali lagi,  gaung kerjasama ini tidak lah sekokoh era jamannya M. Natsir lagi.

”Kami masih kuat kerjasama,  terutama untuk pelatihan para calon pendakwah di Indonensia,  terutama untuk  para da’i yang akan dikirim ke wilayah Indonesia bagian Timur”, jelas Syekh Muhammad Al Qathani.  Doktor yang bertanggung jawab pada urusan Da’wah dan pendidikan di Rabithah itu menambahkan,  ”kerjasama itu terutama  dalam .wujud  daurah tiga tahun  untuk mendalami bahasa Arab dan Islam.  Artinya,  pendidikan untuk level diploma,  bukan untuk level sarjana”.

Ketika Fakhry,  koordinator kami, bertanya  adakah kerjasama antara Rabitah Alam Islamy dengan Jamaah di Arab Saudi agar peserta daurah bisa melanjutkan ke level sarjana.   Ustadz Nasruddin Al Palembangy  MA yang menjadi kontak person di Rabithah menjawab: ”tak ada,  silahkan saja  berhubungan langsung dengan Jamiah untuk mencari peluang pendidikan lanjutan”.

Selama tiga jam di Rabithah (11.30 – 13.00) kami berjumpa dan atau  wawancara dengan tiga orang Arab, yakni:Dr.  Syekh Muhammad Al Qathani ,  Abdullah MA,  dan .Nasruddin Al Palembangy MA.  Lho,  kenapa orang terakhir memakai nama  al Palembangy ? usut punya usut ternyata dia memiliki darah Palembang – Indonesia,  dari garis kakeknya. Fenomena warga Saudi asal Indonesia ini sebenarnya tidak terlalu asing di telinga,  sebab gejala ini bahkan sudah ada jauh sebelum indonesia ada.  Mohammad Darwis (pendiri Muhammadiah)  dan Hasyim Asy’ari (pendiri NU) misalnya, ternyata dahulu sama-sama memiliki  guru bernama akhir :    Al Minangkabawy  (asal Minangkabau)  dan     Al Termashy (asal Termas),  disamping tokoh-tokoh lain salah satunya    Al Yamani (asal Yaman). Intinya,  asal-usul  orang asing yang menetap dan atau bahkan menjadi warga negara Saudi  sampai kapanpun tetap bisa ditelusuri,  terefleksi dari nama akhir yang menyertai.

Saat sekarang tentu saja tidak mudah untuk menjadi warga Saudi,  meskipun telah puluhan tahun tinggal di tanah suci. Hanya orang yang memiliki talenta mumpuni yang tampaknya bisa mendapat kewarganegaraan kehormatan.

”Bahkan  era sekarang,   tinggal di Arab Saudi bukan lagi  sebuah pilihan yang menggiurkan,  mengingat banyak sekali aturan dan pembiayaan yang harus dikeluarkan”,   kata Muhammad Isa  dan  Muhammad Ayub pada sebuah kesempatan lain  di Madinah.  Kakak beradik  yang telah menetab di Saudi sejak usia dini  menambah informasi, ”khusus mengenai tarif pembiayaan,  terutama diterapkan seiring dengan kondisi ekonomi Saudi yang mulai kesulitan .  Harga minyak yang selama ini menjadi andalan,  sekarang luluh lantak berantakan. Terpaksalah pemerintah Saudi berusaha mencari alternatif pendapatan,  membangun sektor wisata,  termasuk mengenakan biaya 2 ribu real untuk yang umroh lebih dari sekali  dalam setahun. Di dalam negeri subsidi minyak  dikurangi,  setiap pelanggaran termasuk pelanggaran  lalulintas dikenakan sangsi berbiaya tinggi, dan itu tadi,  para mukimin non Saudi dikenakan pajak yang juga tak kalah tinggi”,  tambah  dua bersaudara yang hampir mirip wajahnya,  ”kami pun,  meski telah puluhan tahun tinggal di sini,  kalau sudah selesai pendidikan,  akan pulang ke Indonesia lagi”.  Pungkas Ayub – Isa di tempat tinggalnya,  Asrama  mahasiswa Universitas Islam Madinah..

Mentari terus meninggi.  Sinar sang surya  makin panas menusuk bumi.  Udara  di sekitar makin  mendidih  gerah sekali.   Panas  menusuk.  Gerah menyiksa.   Untuk menetralisir  ”siksaan”  ini, wawancara  segera  diakhiri.  Kamipun sepakat  untuk  menyejukkan hati  dengan  sholat  jamaah  menghadap Ilahi.  Ya.. Rob,  terima kasih atas segala nikmat yang engkau beri,  sehingga kami bisa  berkunjung ke tanah suci ,  wilayah panas namun dapat menyejukkan pikiran dan  hati kami.***

Iklan

Orang Sibuk atau Orang Produktif, Anda Termasuk Kategori Mana?

Orang Sibuk atau Orang Produktif, Anda Termasuk Kategori Mana?Sobat,   acapkali kita  mendengar  ungkapan bahwa antara orang sibuk dan orang produktif tentulah sangat berbeda,   sama persis dengan perbedaannya antara pekerja keras dan pekerja cerdas.  Sebenarnya apa dan bagaimana perbedaan antara keduanya ? Sobat,  untuk  sekedar tahu  berikut saya kutipkan  sebuah artikel  menarik tentang perbedaan antara orang sibuk dan orang produktif.
Image result for sibuk dan produktifSobat,  siapakah diri kita? Orang sibuk atau produktif. Di antara orang sibuk dan produktif ada perbedaan mendasar. Orang sibuk belum tentu produktif. Akan tetapi, orang yang produktif tentunya mempunyai kesibukan.Dari uraian tersebut, menjadi produktif adalah pilihan yang terbaik daripada menjadi sibuk juga belum tentu memberikan banyak manfaat. Apa perbedaan antara sibuk dan produktif? Di bawah ini beberapa hal yang dapat membedakan antara orang sibuk dan produktif.
1. Misi Terukur vs Misi yang Tidak Terukur.Orang sibuk cenderung tidak memiliki tujuan. Orang sibuk mengambil banyak langkah agar mendapatkan hal yang terbaik bagi dirinya.Sementara orang produktif berbeda. Ia akan mengambil langkah yang jelas dengan tujuan yang dicapainya nanti. Dengan begitu, semua keputusan dan langkahnya lebih terukur.Related image
2. Prioritas Orang Sibuk vs Prioritas Orang Produktif.Orang yang sibuk akan mempunyai banyak prioritas untuk dijalankan. Terkadang hal tersebut menjadikannya tidak fokus sehingga hasilnya kurang sempurna.Sementara orang yang produktif jelas memiliki prioritas dalam hidupnya yang tak sebanyak orang sibuk. Ia tahu mana yang akan dicapai dan akan jalankan sebagai prioritas utama.
Related image
3. Setuju Tanpa Pertimbangan vs Setuju dengan Penuh Pertimbangan.Setuju tanpa pertimbangan menjadi ciri yang dimiliki orang yang suka dengan banyak kesibukan. Ia cenderung menerima tawaran dengan mudah tanpa berpikir mampu atau tidak.Sementara orang yang produktif cenderung menerima tawaran dengan banyak pertimbangan. Karena itu, ia akan memperhitungkan terlebih dahulu kemudian menyesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya.
4. Bertidak Dulu Apa Pun Hasilnya vs Membayangkan Hasilnya Baru Bertindak.Orang yang selalu sibuk cenderung fokus pada apa yang dikerjakan dan jarang memikirkan kejelasan dari hasil kerjanya nanti.Sementara orang yang produktif cenderung memikirkan kejelasan dari apa yang dilakukannya. Orang produktif cenderung memikirkan dan mengevaluasi hasil kerja setelah melakukannya.Related image
5. Menonjolkan Kesibukan vs Menonjolkan Hasil Kerja.Sibuk dengan membicarakan tentang apa yang sudah dan sedang dilakukan adalah ciri-ciri orang sibuk. Sementara orang produktif cenderung berbicara tentang hasil dan pencapaian yang telah diraih.Karena itu, orang yang produktif cenderung mempunyai pengalaman dengan pencapaian yang baik dibandingkan dengan orang sibuk yang memliki banyak aktivitas.
Related image
6. Menyelesaikan Setengah-Setengah vs Menyelesaikan hingga Tuntas.Orang sibuk biasanya suka melakukan banyak hal, tapi menyelesaikannya setengah-setengah. Berbeda dengan orang produktif yang melakukan satu hal dan fokus pada hal tersebut hingga selesai.Contohnya, orang produktif akan mengikuti kelas menulis dengan target akan menerbitkan buku dalam kurun waktu ke depan. Sementara orang sibuk akan mengikuti banyak kelas semisal menulis, tari, seni dan banyak lagi tanpa ada tujuan yang jelas.
7. Sibuk dengan Banyak Hal vs Fokus pada Beberapa Hal.Menangani banyak hal atau multitasking adalah ciri dari orang yang sibuk. Berbeda dengan orang yang produktif yang hanya tertuju pada beberapa hal. Akan tetapi, mempunyai hasil yang memuasakan.
8. Responsif vs Efektif.Cepat merespon segala notifikasi pada media sosial dan cenderung aktif dalam merespon hal-hal yang terjadi di sekitarnya adalah ciri lain orang sibuk. Sementara orang yang produktif akan memanfaatkan waktu dengan baik dan memilih hal-hal yang lebih bermanfaat.
9. Suka Melihat Orang Sibuk vs Suka Melihat Orang Melakukan secara Efektif.Ciri yang satu ini biasanya dimiliki pimpinan (manager) di mana seorang manager yang sibuk akan suka melihat timnya menjadi sibuk. Sementara orang produktif cenderung mengarahkan timnya untuk melakukan pekerjaan dengan cara-cara yang efektif.
10. Berbicara Tentang Perubahan vs Melakukan Perubahan.Orang yang lebih cenderung melakukan perubahan pada dirinya dengan sedikit bicara adalah salah satu ciri orang produktif. Sementara orang sibuk masih sebatas berbicara tentang perubahan yang akan dilakukan.
 
Dengan menghitung dan memanfaatkan waktu yang dimiliki, mengatur tujuan serta melakukan penataan pada tujuan ke depan adalah cara orang produktif dalam berpikir. Karena itu, menjadi produktif adalah cara yang terbaik bagi kita untuk memanfaatkan waktu yang dimiliki. Sobat,  anda memilih mana,  antara menjadi orang sibuk dan orang produktif ?  kalau saya sih maunya menjadi orang produktif saja.  He..he…
Sumber: cermati.com/Editor: Zaenal A./antaranews.com/berita/270124
Ilustrasi. (iraqenergy.org)/Yuk bisnis.com

Ibu Elly Waty Maliki : Wanita Indonesia yang Luar Biasa (Bagian 6)

Selesai urusan di ”Kedutaan”,  dengan diiringi sinar panas menyengat dari sang mentari,  kami nekad  meluncur ke lokasi ibu Elly. Konjen – Darul Uluum sebenarnya tidak jauh jaraknya,  namun hanya karena lokasinya tak ada plang nama,  akhirnya kami tersesat putar-putar tak jelas arahnya. Usut punya usut,  ternyata di Arab Saudi ini memasang plang nama untuk kepentingan lembaga tidaklah mudah dilakukan, apatah lagi  lembaga yang belum resmi mendapat persetujuan.  Nah,  Darul Ulum memang baru saja memperoleh persetujuan,  setelah 18 tahun berjuang untuk mendapatkan. Papan nama baru saja selesai dibuatkan, namun memang  belum sempat dipasang di pintu gerbang.

Bu Elly  adalah intelektual wanita  asal  Indonesia.  Wanita ini keturunan Padang asli,  namun telah  puluhan tahun tinggal di Arab Saudi.  Bersuamikan seorang pria asal  Indonesia kini telah meninggal dunia,  memiliki dua putra yang sekarang telah dewasa,  wanita ini memiliki energy luar biasa untuk berkarya.  Tatapan mata yang tajam  dan gaya bicara yang jelas – lugas merefleksikan betapa wanita ini memiliki cadangan samangat –  energi yang luar biasa.  Meskipun  tetap  berkewarganegaraan Indonesia,  namun  wanita ini telah sering tampil  atas nama Arab Saudi  dalam pertemuan-pertemuan internasonal  baik di dalam negeri maupun luar negeri..  Sekali lagi,  wanita ini memang bukan figur sembarangan,  karena dia seorang Doktor lulusan Al Azhar University – Cairo – Mesir.  Mulai S1, S2,  sampai S3 semua didapatkannnya dari universitas tua berkaliber internasional ini.  Disertasinya bahkan telah diterbitkan di Arab Saudi  dengan judul  Fiqih Jender.

Intelektualitas  wanita ini  memang di atas rata-rata.  Pandangan-pandangan intelektualnya biasa  diekspresikannya dalam berbagai pertemuan internasional, termasuk bahkan atas nama pemerintah Arab Saudi. Meskipun seorang intelektual, namun wanita ini tak lantas  menempatkan diri  laksana menara gading.  Sebagian besar waktunya,  justru dihabiskannya untuk  kegiatan sosial – amal,  terutama untuk memfasilitasi  putra – putri keluarga  TKI agar  mendapatkan pendidikan yang semestinya. Sekolah internasional  memang tersedia,  tetapi biayanya sangat mahal sehingga sulit terjangkau  keuangan mereka.  Apalagi bagi TKI-TKI bermasalah,   niscaya adalah sebuah kemewahan  anak-anaknya untuk bisa mendapatkan fasilitas pendidikan.

Dalam kerangka misi inilah,  bu Elly menyibukkan diri dengan membangun lembaga pendidikan Daarul Ulum yang telah dirintis sejak 1992 lampau. Problem tentu saja menghadang,  mengingat ijin pendirian semacam lembaga pendidikan  tidak mudah  didapatkan.  Perjuangan panjang dan melelahkan senantiasa  diayunkan.  Kesabaran yang luar biasa harus senantiasa digaungkan.  Justru berbekal kegigihan dan kesabaran,  serta kapasitas intelektual dan jaringan,  akhirnya idealisme dan cita-cita yang telah diperjuangkan  selama belasan tahun berhasil direalisir:  pemerintah Arab Saudi mengeluarkan ijin pendirikan lembaga pendidikan Daarul Ulum. Inilah satu-satunya lembaga pendidikan swasta yang didirikan orang asing  yang diijinkan oleh pemerintah Arab Saudi. Subhanallah…

Bu Elly anda memang wanita Indonesia yang luar biasa.  Beruntung sekali kami  bisa bertemu-berkenalan dengan anda,  melalui nomor telepon yang diberikan Mas Ferly  sehingga menjadi wasilah pertemuan kita.

Meskipun hari telah menjelang sore,  namun  mentari masih tetap  garang menatap kami.   Sang surya  masih melontarkan panas secara arogan,  sehingga peluh kami senantiasa bercucuran.  Sebenarnya fisik  kami  mulai agak  loyo. Namun,  berkaca pada  semangat bu Elly berjuang belasan tahun dalam membangun lembaga pendidikan,  maka  energi itu akhirnya tertularkan kepada kami.

Semula kami sudah mulai gontai,  mengingat  malam sebelumnya hanya istirahat dalam waktu sedikit sekali.  Namun  energi bu Elly dalam pertemuan 2,5 jam (13.30-16.00) telah memotivasi  sehingga kami bersemangat meluncur ke tempat lain.  Tujuannya adalah:  asrama (sakan)  mahasiswa Universitas Ummul Quro (UUQ).

Universitas Umm Al-Qura (Jāmiʿah ʾUmm Al-Qurā) adalah perguruan tinggi negeri di Arab Saudi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Arab Saudi yang didirikan pada 1981. UUQ  dianggap sebagai salah satu universitas paling bergengsi di dunia Islam karena lokasinya di Mekkah.  UUQ  semula didirikan sebagai Sekolah Tinggi Syari`ah (tahun 1949)  sebelum menjadi perguruan tinggi dan berganti nama menjadi Ummul Qura sesuai dengan dekret kerajaan pada tahun 1981.

Selain studi ilmu Syari`ah dan studi Bahasa Arab, di Universitas Umm Al Qura juga terdapat berbagai studi ilmu antara lain Manajemen Teknologi, Manajemen Bisnis, Pemasaran, Teknik, Kedokteran, Pendidikan dan berbagai Ilmu Terapan,  yang mencakup berbagai fakultas,  antara lain: Fakultas Dakwah dan UshuluddinFakultas Bahasa Arab, Fakultas Bisnis, Fakultas Pendidikan di Mekkah), Fakultas Sains terapan, Fakultas Sosial terapan, Fakultas Teknik dan Arsitektur Islam, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pelayanan Masyarakat dan Pendidikan Lanjutan, Institut Riset Ilmiah dan Kebangkitan Kebudayaan Islam, Institut Bahasa Arab bagi Pemula, Fakultas Komputer, Fakultas Farmasi, Fakultas Ilmu Medika Terapan, Fakultas Syari`ah dan Studi Islam, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan di Al-Qunfudah, Fakultas Pendidikan Guru di Al-Qunfudah, Fakultas Pendidikan Guru di Mekkah, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan di Al Leith, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan – Bagian Sastra, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan – Ekonomi Domestik, Fakultas Pendidikan untuk Pendidikan Guru Perempuan.  UUQ telah melahirkan banyak alumni yang menjadi  tokoh di negara masing-masing,  seperti:  Abdurrahman As-Sudais  (Imam Besar Masjidil Haram), Said Agil Husin Al Munawar (Mantan Menteri Agama Republik Indonesia), Said Aqil Siradj (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama)

 

 

Di sakan (asrama) mahasiswa UUQ ini,  kami  kembali bertemu  putra Indonesia yang luar biasa,  mas Herika Mohammad Taqy.    Dia adalah ketua PPMI Jeddah,  seorang  kandidat Doktor pada Universitas King Abdul Aziz, Jeddah.  Mas Herika telah belasan tahun tinggal di Saudi Arabia.  Berbeda dengan banyak mahasiswa Indonensia lain yang mengambil ilmu agama,  mas Herika ternyata kandidat doktor di bidang Tata Kota.

Dari beliau inilah informasi tentang bermacam sisi kehidupan sosial budaya bahkan agama Arab Saudi berhasil kami dapatkan.  Pengalamannya selama belasan tahun di Saudi dia tuangkan tanpa ada saringan kepada kami.  Pengalaman berteman dengan warga Saudi,  pengalaman bergaul dengan realitas sosial Saudi,  diterangkan secara terstruktur,  runtut,  lugas dan jelas kepada kami.

Hal yang tak kalah penting,  di lokasi mas Herika inilah kami sempat bersua dengan beberapa mahasiswa di luar Arab Saudi yang akan  menjadi peserta simposium PPMI se Timur Tengah di Madinah.  Alhamdulillah,  meskipun  tak sempat hadir dalam simposium,  namun kami berkesempatan untuk bertatap muka  dengan para peserta simposium.  Ada yang  dari  Global University di Libanon,  ada yang dari  Universitas Sudan,  ditambah beberapa mahasiswa lain dari beberapa kampus di Arab Saudi. Bahkan,  melalui jaringan ini pula beberapa hari berikutnya,  akhirnya kami berkesempatan berjumpa dengan seorang mahasiswa UEA university bernama  Oebaidillah yang juga ikut dalam simposium PPI se Timur Tengah.  Khusus dengan mas Oebaidillah kami  berdiskusi intensif di sebuah rumah makan di Zamzam Tower, pada  Kamis, 6 April pagi,  tepatnya beberapa saat sebelum kepergian kami ke Madinah Al Munawaroh.  Pemuda asal Sidoardjo  ini telah telah tinggal di UEA  sejak pendidikan SMP,  sehingga dapat melengkapi informasi tentang apa dan bagaiman realitas sosial politik UEA yang juga menjadi bagian dari kami punya  kajian.    Walhasil,  jika semula kami sempat pesimis untuk mendapat narasumber di tengah masa libur sekolah,  ternyata akhirnya  bisa kami dapatakan dengan relatif mudah.   Alhamdulillah Ya Robbil Izzah.

Setelah shalat Maghrib berjamaah di masjid  asrama universitas Ummul Quro yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai negara,  kami  segera pamit untuk kembali ke hotel. Malam telah menyembunyikan sang surya.  Hari sudah mulai gulita. Di tengah gelap hari Ahad inilah kami melangkah ke jalanan,  mencegat taksi  untuk mengantarkan kami pulang.  Malam itu taksi memang sangat sulit kami dapatkan,  sehingga kami naik mobil dua kali secara ketengan.  Namun demikian,   kami tetap bersyukur karena sehari penuh telah lancar  melakukan kunjungan – wawancara penelitian. Alhamdulillah ya Robb.***

Sowan ke KJRI (Bagian 5)

Ahad  ternyata bukan hari libur bagi Saudi Arabia. Negeri ini menerapkan hari Jum’at dan Sabtu sebagai liburnya,  sedangkan hari Ahad (sesuai artinya)  justru  sebagai hari perdana sekolah dan kerja.  Oleh karena itu,  meskipun kami baru sampai di hari Sabtu malam,  namun esuk harinya kami sudah langsung tancap gas menjalankan tugas.  Pada pagi itu kami meluncur dari Mekkah menuju Jeddah.

Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI)  di Jeddah menjadi tujuan awal,  guna melaporkan diri  bahwa kami telah sampai di Arab Saudi,  sehingga  apapun yang terjadi  pada kami  akan mendapat ”perhatian”  dari  perwakilan Indonesia  di negara ini.  Sayang sekali,  sampai di Jeddah kami  tak dapat bertemu ”siapapun”  yang sebelumnya  telah menjalin kontak  dengan sejak  di tanah air.  Semua kontak person di Konjen tak berada di tempat,   sedang sibuk  dalam acara Simposium Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonensia (PPMI) se Timur Tengah yang diselenggarakan di Madinah.

Astaghfirullah,  kenapa informasi sepenting ini tak sempat kami dapatkan  ketika masih di tanah air ?  Seandainya informasi berharga ini  telah kami peroleh sebelumnya,  niscaya penjadwalan kegiatan akan kami ubah,  dimulai dari Madinah, dan bukan dari Mekah. Informasi lain yang lebih mengejutkan adalah:  justru pada hari-hari kedatangan kami,  di Saudi sedang melaksanakan libur nisfu sannah (tengah tahun).  Artinya,  seluruh perkantoran dan kampus sedang libur tanpa kegiatan,  sehingga menjadi sangat sulit untuk wawancara penelitian .  Terus terang kami sempat pesimis bahwa penelitian akan mampu mendapatkan narasumber sebagaimana  direncanakan. Namun, karena sudah terlanjur di lokasi,  kami hanya tawakal sambil berkata : hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wa ni’mannashiir:

Karena kontak person di KJRI tak ada semua,  maka  ketika hendak bertamu pun kami terpaksa harus menunggu agak lama.  Memang,  seorang ”pejabat KJRI”  yang hari itu  sedang bertugas di Madinah memberi kontak person bernama pak Agus untuk bisa dihubungi. Namun,  anehnya,  ketika kami menyodorkan nama Agus untuk ditemui,  pihak  KJRI masih bertanya Agus siapa dan Agus  bagian apa ?  Kami sempat bertanya-tanya,  kira-kira ada berapa Agus di KJRI  ini atau jangan-jangan tak satupun Agus ada di dalam kantor ini.  Dalam hati,  saya beristighfar berkali-kali,    dan mungkin karena wasilah  istighfar ini akhirnya pintu KJRI terbuka untuk kami. Alhamdulillah.

Singkat kata,  pada Ahad,  2 April 2017 ini kami akhirnya berhasil  melakukan pengurusan surat menyurat lantas disusul  wawancara secukupnya  mengingat  personil KJRI konon sedang super  sibuk mengurusi pemanfaatan program amnesti dari pemerintah Arab Saudi  terhadap para TKI bermasalah.  Setidaknya beberapa orang sempat kami jumpai di KJRI,  seperti Kepala Konsuler KJRI Jeddah bernama Dr. Rahmat Aming Lasem.  Beliaulah yang akhirnya bersedia diganggu  untuk ”mengurusi” kami.  Salah satu diantara  orang KBRI  yang masih kuingat lekat adalah :  Mas Daday,  alumnus  LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta yang berhasil menjadi local staff untuk  bagian penerjemah.  Selain ahli bahasa,  ternyata pria asal  Banten ini  mengikuti secara serius dinamika  realitas sosial kemasyarakatan di Arab Saudi, sehingga informasi-informasi yang beliau sampaikan dari jam 10.00 – 13. 00 waktu Jeddah) bisa menjadi pijakan awal  untuk menggali secara lebih luas dan dalam  pada wawancara berikutnya.  Syukron mas Daday.

Sebelum pamit,  kami menyempatkan numpang shalat Dzuhur,  bahkan  Alhamdulillah  kami  sempat pula  nimbrung makan di lokasi bersama-sama  para  staff KJRI.  Menunya,  makanan khas Indonesia : Soto dan krupuk.   Tak ada kata yang patut kami ajukan untuk budi baik mereka kecuali : Jazakallah khorul jaza’,  semoga Allah membalas anda dengan balasan kebaikan.  Amin….***

 

Haji dan Umroh: Semarak Sama, Hampir Tak ada Beda (Bagian 4)

Malam merayab gulita  ketika kendaraan mengantarkan kami meninggalkan Jeddah untuk menuju Mekkah.  Sekitar satu dua kilometer dari parkiran bandara,   mobil berhenti.  Kupikir pasport kami akan diperiksa dilokasi ini,  seperti pernah kami alami ketika berhaji.  Dugaanku ternyata meleset,  sebab  sang sopir hanya nyamperi  mas Izdihar Ibrahim,  seorang mahasiswa S1  semester ke 9  yang akan menemani kami kemanapun kami pergi, tentu saja selama masih di Saudi.  Setelah pemuda asal Ngawi – Jawa Timur menyertai kami,   mobil segera melesat cepat ke arah Makkah kota suci.

Entah berapa menit waktu yang kami lalui,  dan entah berapa kilometer jarak yang telah kami tapaki.  Hal yang kurasakan adalah rasa penat mulai menjalar di seluruh badan,   di tengah laju mobil  yang ngebut bahkan perjam  mencapai angka 120 kilometeran.  Walhasil,  akhirnya kami sampai di hotel Nawarat Al-Shams Hotel,  berlokasi di daerah Misfallah, tepatnya di Jalan Ibrahim Al-Khalil. Sebagai ancar-ancar ia berdekatan dengan Dhiyafa Mubarak Hotel.

Dilihat dari tampang  para pegawainya,  apalagi ditambah dengan tamu-tamu yang menginap di dalamnya,  sepertinya hotel dikelola orang keturunan Asia Selatan. Hotel ini tergolong super sederhana,  bahkan lebih kumuh dibanding hotel yang kuinapi  ketika berhaji. (2015). Bahkan, tatkala berhaji,  satu kamar dihuni 4 orang saja,  kali ini kami  terpaksa berbagai untuk berlima,  termasuk mas Izdihar pendamping kami juga.  Meski kondisinya serba sederhana,  namun saya justru patut bersyukur,  karena : (1). Lokasi hotel hanya sekitar 300 meter  di belakang Hotel Hilton – Zamzam Tower.  Walhasil,  untuk pulang pergi hotel – masjidil haram,  hanya dibutuhkan beberapa menit waktunya.  Alhamdulillah. (2).  Di tengah keterbatasan waktu persiapan dan ketersediaan  anggaran yang pas-pasan,  maka didapatkannya hotel ini sudah merupakan anugerah luar biasa.  Sebab, kabarnya hotel dan atau penginapan di Mekkah dan Madinah konon sudah diblok oleh berbagai travel perjalanan,  sehingga prosedur individual tampaknya akan mengalami kesulitan untuk mendapat penginapan,  apalagi yang dekat dengan pusat peribadatan: masjidil haram.

Setelah penataaan barang beres,  mulailah kami bersiap menjalankan prosesi Umroh : thawaf ifadhah,  Sa’i,  dan tahalul di masjidil haram. ”Labbaik Allahumma labbaik”,  kembali bibirku bergetar melafalkan ucapan talbiah.   Menjelang masuk masjid barulah talbiah  kuakhiri  untuk diganti dengan do’a-doa lain mulai dari penutupan talbiah,  do’a  masuk masjidil haram,  serta doa ketika pertamakali melihat ka’bah.  ”Alhamdulillah ya Allah,  setelah  dua tahun berselang,  akhirnya kami bisa kembali bertandang”,  kata batinku lirih setengah merintih.  Mataku berkaca-kaca sebagai ekspresi rasa bahagia yang tak mampu terungkap dalam kata-kata.

Terdapat satu hal  yang sama sekali di luar dugaan saya, yakni: Towaf tengah malam,  dilakukan masih  pada bulan Rajab,  ternyata  kepadatan para muthawwif  tak ada beda dengan  padatnya  di musim haji (bulan Dzul Qaidah – Dzul Hijjah). Masya Allah.  Jika sedemikian keadaannya,  lantas kapan  Ka’bah dan kota Mekkah mengalami  keheningan dari lalu larang  para jamaah ?  ”Tidak pernah lowong”,  jelas Izdihar,  ”Kecuali hanya selama satu bulan tepat setelah selesainya bulan haji,  dan berangsur-angsur para jamaah beranjak untuk pulang lagi.  Pada saat itulah,  Mekah dan Ka’bah agak sela statusnya,  meskipun  tidak sampai lengang kondisinya”.

Kami manggut-manggut mendengar penjelasan ini. Rasa takjub memenuhi rongga dada bahkan menjalar  ke tulang belulang di seluruh raga.

”Bahkan,  pada Ramadan di bulan suci,  jamaah umrah melampaui jumlah jamaah haji”,  tandas Izdihar menambahi penjelasan. Kembali  Rasa takjub menjalar  di dalam dada,  dan terus mengalir  ke tulang belulang di seluruh raga.

Dalam situasi padat inilah,  maka di tengah badan yang sudah penat,  terpaksa kami  bertowaf dengan tidak masuk ke dalam  jarak yang amat dekat dari ka’bah. Selesai thowaf tujuh putaran di tengah gulita malam,  dengan disisipi minum zamzam dan shalat  sunnah tawaf tujuh putaran,   kami langsung Sa’i lari-lari kecil antara bukit Sofa dan Marwa juga sebanyak tujuh perjalanan. Pada saat itulah,  rasa pegal mulai menjalari kaki.  Oleh sebab itu,  setelah sa’i dan diikuti tahalul potong rambut beberapa helai,  kami langsung balik ke penginapan untuk segera istirahat meluruskan badan. Alhamdulillah,  kami telah menuntaskan prosesi Umrah,  mengawali pekerjaan lain yang akan menyongsong di esuk hari.***

Memulai Kerja dengan Ibadah : Niat Ihrom di Atas Awan (Bagian 3)

Sabtu pagi,  1 April 2017, sekitar jam 10 a.m.  waktu Malaysia,    mas Khairy Fateh telah menjemput kami di hotel.  Tak butuh waktu lama kami telah melesat sampai  di bandara. Dengan sigap mas Khairy mengatur urusan Check in penerbangan,  lantas mengantarkan kami makan siang di sebuah restoran. Pada titik inilah  baru kusadari,  betapa hanya kami yang sudah berpakaian ihram di bandara di  Kuala Lumpur ini.  Di lokasi ini  sebenarnya banyak sekali kelompok-kelompok Umroh,  termasuk asal Indonesia yang jumlahnya justru terbilang banyak.  Namun,  jamaah umumnya  berseragam batik.  Sekali lagi,  hanya kami yang telah berbusana ihram. ”Waduh,  rekomendasi mas Ferly ternyata meleset kali ini”,  gerutu hatiku kala itu.

Situasi “asing”  ini tentu membuatku agak kikuk.  Kalbu seolah dibayangi-bayangi perasaaan bahwa ratusan pasang mata selalu memandang ganjil pada kami: berpakaian ihram  di tengah bandara internasional yang jaraknya masih lebih  9.000 km  dari kota Makkah.  Rasa Canggung senantiasa menggelayut di benakku.  Bahkan,  rasa sungkan selalu membatasi perilakuku.  Beban ini baru agak terurai ketika kami  menjalankan shalat Dluhur.  Sebab,  di mushola bandara itulah kami menemukan satu dua orang yang berbusana serupa:  kain  ihram. ”Alhamdulillah, ada temannya”,  gumamku lirih.

Cukup lama kami berlalu lalang di main terminal –   bandara Malaysia,  sebab kami sampai di lokasi  sekitar pukul 11.00 am, namun baru akan terbang di seputar jam 15.00 pm Malaysia. Ditargetkan kami akan sampai pada pukul 18.50. waktu Jeddah. Artinya,  kami  akan mendarat di tanah Arab ketika hari telah malam. Berpijak pada realitas inilah,  kami lantas menetapkan rencana:  sampai Jedah langsung menuju Mekah untuk berumroh tengah malam.  Dengan cara ini,  maka esuk hari:  kami bisa langsung bekerja,  setelah pada malam hari dimulai  dengan sebuah do’a (Umroh) pada Ilahi.

Menjelang sore,  pesawat Saudi Arabia telah menerbangkan kami  ke angkasa. Singkat kata,  selama sekitar 10 jam kami mengangkasa  mengarungi buana,  melintasi berbagai negara  dengan jarak tempuh hampir 10 ribu km  jauhnya.  Waktu berjalan pelan.  Jarak melipat lambat.  Tak banyak  hal bisa kulakukan.  Apalagi,  kondisi kami kala itu hanya bertangkup dua lembar kain sebagai busana,  sehingga  bergerak tak bisa leluasa. Sepanjang perjalanan  saya hanya mendengarkan  murotal,  lantunan ayat-ayat al Qur’an yang bisa kudapatkan dari audio visual yang disediakan maskapai penerbangan.  Justru dengan menyimak murotal inilah rasa sumpek bin  jenuh dapat kusingkirkan,  bahkan seringkali dapat menghanyutkanku  menuju alam istirah yang paling dalam:  tidur.  Alhamdulillah. Hanya ketika hendak menjalankan sholat,  dan hanya tatkala disuguhi makanan-minuman,   kami terbangun,  balik ke dalam kesadaran.

Sekitar satu jam sebelum waktu pendaratan,  kru pesawat mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan melewati miqot makani,  yakni batas lokasi  terakhir untuk dimulainya niat ihram.  Dengan segera,  saya mengambil air wudlu,  lalu berniat umroh : ”Labbaik Allahumma Umrotan:  Wahai Allah hamba menyambut panggilanMu untuk berumroh”. Sejak saat itulah,  berlokasi  di angkasa  atas Saudi Arabia itulah,  berbagai larangan dan atau kewajiban Ihram terkena pada diri saya.  Saya harus menjaga diri untuk menghindar dari pelanggaran larangan,  sebab jika melanggar tentu akan terkena  denda hukuman.  Sejak detik itulah,  bibirku lantas tiada henti untuk terus bertalbiah sebagai amalan sunnah yang diutamakan sampai kita memasuki masjidil haram.

Alhamdulillah,  pesawat sampai Jeddah tepat pada waktunya.  Pukul 18.30 waktu setempat, roda-roda  Saudi Arabian Airlines (SV 831) berderit  menapak  daratan, menandai kami sudah sampai pada tujuan. Singkat kata,  setelah urusan imigrasi dan bagasi selesai di atasi,  dan setelah mas Thalib, orang yang ditugasi mengurus transportasi kami di kota Jeddah ini,   berhasil menyediakan fasilitas transportasi,  kami langsung bergerak, berarak meninggalkan terminal selatan,  bandara Jeddah King Abdul Aziz Internasional.***

Berbusana Ihram dari Sepang, Kuala Lumpur (Bagian 2)

Lembayung senja mulai meremang di cakrawala.  Mentari  mulai beranjak  istirah  untuk  bersiap  menuju peraduan.  Sore yang indah,  semolek harapan  untuk memulai perjalanan menuju kota yang diridhoi Tuhan.  Memang,  kami masih harus transit dulu di Malaysia,  namun untuk sebuah perjalanan,  prosesi ini tetap tercatat satu rangkaian dari tapak-tapak yang mesti kami lakukan.

Perlahan pesawat yang kami tumpangi berderit,  bergerak mengangkasa,  meninggalkan tanah airku,  bumi Jakarta,  tanah Indonesia.  Selamat tinggal istriku,  selamat tinggal anak-anakku,  selamat tinggal  semua sahabat dan handai taulanku.  Untuk sementara waktu,  saya terpaksa meninggalkan kalian,   melanglang ke negeri jiran sebelum melanjutkan ke Saudi,   tanah gersang –  padang pasir  namun diberkahi tuhan: Bakkata Mubaarokan.

Sekitar satu jam pesawat mengangkasa,  dan  sekitar  pukul 19.00 waktu setempat  kepak  Garudaku  akhirnya terhenti di bandara Kuala Lumpur-Malaysia.  Anehnya, waktu Malaysia lebih cepat  satu jam dibanding Jakarta,  meski posisi Malaysia justru  ada di barat ibu kota Indonesia.  Artinya,  ketika jam di  Kuala Lumpur menunjuk angka 07 pm,  Jakarta baru menunjuk ke pukul 06 pm.  Namun karena matahari lebih dahulu menyinari Jakarta,  maka ketika pada saat yang sama,  Jakarta mulai memasuki waktu Maghrib,  sedangkan Kuala Lumpur  justru masih menunggu beberapa saat untuk  waktu yang sama: Maghrib.

Pada keremangan itulah seorang pria asli Malaysia bernama  Khairy Fatih telah menjemput kami di lorong kedatangan Bandara.  Dialah yang bertanggung jawab mengurusi seluruh kebutuhan  kami  selama transit  di Kuala Lumpur.  Mas Khairy adalah sohib karib  mas Ferly.  ”Sesama alumnus universitas al Azhar – Kairo”,  jelas mas Khairy singkat.     Karena pertemanan ini pula,  Ferly – Khairy  akhirnya membangun kerjasama bisnis travel Umrah – Haji dengan bendera Al Madina Al Munawaroh.  Mas Khairy inilah yang bertugas mencarikan tiket-tiket ”murah” via Malaysia,  lengkap dengan akomodasi hotel dan  konsumsi selama transit di Malaysia. Jaringan ini pula yang telah membantu kami  mengatur seluruh perjalanan dari  Indonensia,  Malaysia,  termasuk khususnya selama tinggal di Saudi Arabia,  tentu saja dengan berbagai modifikasi mengingat tujuan kami memang  bukan Umroh-Haji,  melainkan sebagai kunjungan kerja : untuk meneliti.  Jaringan ini bahkan telah mengatur biaya hidup selama 8 hari yang akhirnya bisa diperpanjang bahkan  sampai 13 hari,  itupun masih dilengkapi  dengan  transportasi ke berbagai lokasi dan  kampus  selama kunjungan kerja di Arab Saudi. Alhamdulillah.

Sekali lagi,  penerbangan di Malaysia menuju Saudi Arabia ternyata banyak yang menawarkan ongkos lebih murah dibanding Indonesia. Oleh karena itu,  kami terbang dari negeri jiran ini. Hal yang sama dilakukan oleh ratusan jamaah umrah asal Indonesia, sebagaimana kami jumpai di bandara internasional Kuala Lumpur ini.  Di Saudi Arabia, pun ketika saya berjumpa dengan jamaah umroh asal Indonesia,  mereka banyak yang menyatakan diatur  terbang dari Malaysia.  Walhasil,  di tengah ratusan ribu rombongan umroh Indonesia,  ternyata justru Malaysia yang mendapatkan manfaatnya. Inilah nilai lebih dan atau kecerdikan Malaysia dalam memanfaat kesempatan di sekitarnya. Namun sebaliknya,  ini pula yang justru menjadi ”kedunguan” Indonesia yang malah membuang kesempatan yang sudah ada di genggaman.  Sedih.  Memang,  sangat menyedihkan. Ndak aneh,  jika ada seorang WNI keturunan Cina tidak bangga dengan bangsanya sendiri,  bahkan secara kasar menghardik warga sebangsanya dengan ucapan:  Indon. Indonesia.  Pribumi Tiko.

Dari bandara kami dibawa mas Khairy meluncur ke hotel View City yang terletak di wilayah Sepang. Sepang,  adalah sebuah nama yang tak asing bagi Indonesia,  karena di tempat ini telah dibangun sirkuit berkelas internasional.  Ketika ada moment balaban (motor race)  lokasi ini langsung dibanjiri wisatawan mancanegara.  ”Sebagian besar justru datang dari Indonesia”,  kata mas Khairy menjelaskan.  ”Pada moment seperti itulah,  biasanya hotel-hotel di sini membengkakkan tarifnya,  namun tetap full-booking juga”,  tambahnya.

Sekitar lima belas menit dari bandara,  kami sudah  sampai  hotel di Sepang yang berlokasi di  pinggiran kota ini. ”Tanpa ada kegiatan balapan,  Sepang memang sangat sepi”,  kata mas Khairy.  Meski hotelnya sederhana,  namun pelayanan yang diberikan sama sekali tak membuat kecewa.

Segera setelah menata barang bawaan di penginapan,  berikutnya kami diajak makan malam di sebuah restoran.  Ternyata kami difasilitasi untuk  segala,  termasuk untuk makan sesukanya tanpa lagi dipungut biaya.  Restoran yang berlokasi menempel dengan hotel,  tampaknya  dikelola keturunan India  sehingga makanan yang disajikan bernuansa Asia Selatan juga.  Meski demikian,  kami bersantap dengan lahap,  sehingga dengan perut kenyang  dapat mengantarkan kami ke peraduan dengan lelap.

Tak terasa  pagi sudah  menjelang,  sehingga kami bersegera mandi, shalat,  dan   menuju restoran untuk sarapan.  ”Lebih baik mengenakan pakaian ihrom dari Malaysia,  sebab kebayakan warga Malaysia memang melakukan hal serupa”,  pesan mas Ferly ketika di Jakarta. ”Ulama Saudi memang sudah membangun semacam kesepakatan,  bahwa sebagai rukhsoh (keringanan) maka  ihrom dapat dilakukan di bandara Jeddah.  Namun,  banyak jamaah masih ragu,  mengingat miqot makani  yang ditetapkan Rasulullah   terletak tepat ketika masih mengangkasa di udara, langit Yalamlam.   Akibatnya,  banyak warga tetap niat ihrom di udara dekat miqat makani,  namun untuk persiapan mandi, pakaian, dan shalat sunnah ihromnya sudah dilakukan  ketika masih di Malaysia”,  tambah mas Ferly. Atas saran inilah,  kami akhirnya mandi dan berpakaian ihrom dari hotel Malaysia. Dengan demikian,  berarti selama 10 jam penerbangan  Kuala Lumpur – Jeddah  kami  menutup  tubuh hanya dengan dua helai  kain putih yang dibalutkan pada pinggang ke bawah  dan kami tangkupkan pada punggung dan dada. ”Labbaik Allahumma labbaik,  labbaika laasyarika laka labbaik”,  kembali bibirku berdesis melafalkan talbiah meski  belum secara formal-definitif melakukan niat ihram.

Mentari mulai meninggi.  Burung-burung beterbangan  meliuk ke sana ke mari,   seolah  bermaksud hendak mengantarkan kami  yang akan segera terbang mengangkasa  menuju tanah suci.***