Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Perkampungan Purba (Bagian 11)

Rabo tanggal 4 April pagi,  kami  sudah berdandan rapi.  Kulihat  Mas Hamdan  ceria mukanya.  Demikian juga Wawan, menyungging  seberkas senyum  di sudut bibirnya.  Adapun Fakhry   matanya berbinar-binar  menunjukkan tanda  bahagia.  Saya sendiri sedang merasakan  selaksa bahagia  kini  sedang berkuasa  di hati dan pikiran  saya.

Rabo  ini jadwal kegiatan kami adalah melakukan kunjungan ke berbagai pusat Peradaban Islam. Dalam prosesi para jamaah haji,  acara semacam ini biasa disebut  ”City Tour”. Namun,  realitas yang kami jalankan secara substansi sangat berbeda sekali,  sebab kami berusaha menangkap esensi historis dari lokasi,  esensi kultural dari tempat-tempat yang kami kunjungi.  Apalagi,  berbeda dari jamaah haji dan umrah yang biasa ditambah dengan kunjungan ke laut merah  dan sentra perdangan Abadi di Jeddah,  maka  kunjungan ini sama sekali tak tercakup di dalamnya.

Kami hanya berputar di sekitar Makkah,  mulai dari pemakaman umum Ma’la,  lokasi Gua Tsur tempat bersembunyi nabi ketika berhijrah,  serta yang  pasti tak ketinggalan adalah  Armina (Arafah, Mudzalifah dan Mina) yang terkait ibadah haji. Lokasi ini memang agak umum dikunjungi,  namun alhamdulillah kami disertai seorang kandidat Doktor asal Indonesia  bernama mas Mubarak Ainul Yaqin Lc. MA.  Melalui belialuh berbagai informasi di luar mainstream berhasil kami dapatkan,  sehingga menambah banyak informasi terkait  catatan selama perjalanan – penelitian.

Mengawali  dari kawasan Misfalla,  yakni lokasi  hotel   Nawarat Al-Shams tempat kami menginap,  kami beranjak  menyusuri jalan Ibrahim Al Khalil,  yang jika terus berjalan niscaya akan sampai pada  wilayah yang disebut Ma’la. ”Tiga kawasan ini merupakan  cikal bakal dari kota Makkah”,  kata mas Mubarrok mengawali penjelasannya, ”Misfalla dan Ma’la merupakan kawasan yang telah terbentuk di jaman Ibrahim”.

Misfalla  sebagaimana akar katanya bermakna rendah-bawah. Dia berakar dari kata sufla artinya bawah, yang bisa dikembangkan menjadi kata asfal (paling bawah).  Dapat dipahami jika bahan pembuatan jalan raya biasa kita kenal dengan kata aspal,  karena untuk dibawah, untuk diinjak-injak manusia maupun mobil.  Misfalla memang  merupakan dataran rendah.  Dataran rendah inilah,  sejak jaman nabi Ibrahim  telah dijadikan sebagai  kawasan pemukiman.

Adapun Ma’la sebagaimana akar katanya berarti atas-tinggi.  Dia berasal dari kata ’ala artinya di atas, yang biasa dikembangkan menjadi kata ’ulya (tertinggi).   Ma’la memang berwujud dataran tinggi.  Dataran tinggi ini  sejak jaman Ibrahim sengaja dijadikan kawasan pekuburan,  karena ternyata di lokasi ini terdapat pasir dan atau tanah yang dapat mempercepat pembusukan,  sebagai proses awal untuk menjadi tanah.  Dengan demikian lokasi Ma’la yang dikenal sebagai lokasi pemakaman umum,  sebagai tempat yang  terkenal untuk pekuburan para jamaah haji selama di Makkah,  keberadaannya bukan baru,  melainkan telah bersifat purba.

Wilayah Misfalla dan Ma’la  dihubungkan oleh sebuah jalan raya  yang kini  dikenal sebagai  Syaari’  Ibrahim AlKhalil.  Eksistensi  jalan ini juga bersifat sangat lampau,  sama tuanya dengan kedua wilayah yang dihubungkannya.  Bahkan,  nama jalan itupun diambilkan  dari nama nabi Ibrahim   A.S.  Bapak  dari para nabi sebagai pelopor pendatang di  tanah  Makkah (Bakkata mubarokun) ini  bergelar  al Khalil,  sehingga jalannya pun lantas diberi nama Ibrahim Al Khalil.

Misfalla, Ma’la,  dan jalan Ibrahim AlKhalili adalah cikal bakal Makkah al Mukarromah,  yang eksistensinya  telah bersifat purba..***

 

 

 

 

 

Iklan

Naibul Mudiir Yayasan Al Hai’ah Haramain pimpinan Syekh As-Sudais: Undangan Makam Syekh Ismail Al Harby (Bagian 10)

Di hari Selasa  penat telah menguasai raga.  Rasa ngilu  bahkan telah menyerang dua betisku yang nyaris tak kuasa menahannya. Maklum,  sejak era kedatangan,  kami telah memforsir diri, kurang memberi hak pada badan untuk  istirahat sesekali.  Apalagi setiap keluar hotel,  kami langsung terpapar  sang mentari.  Panas menusuk kulit.  Terik menyergap pori-pori.  Gerah menguasai seluruh tubuh dari kepala hingga ujung kaki.

Alhamdulillah,  pada 4 April ini  kami tak memiliki jadwal wawancara pagi,  tetapi baru terjadwal di malam hari,  dengan seorang alumnus Daurah Rabitah ’Alam Islamy.  Beliau adalah asli Indonesia,  yang saat ini berprofesi sebagai seorang tarjim (penerjemah) di Masjil Haram.  Di tengah jeda inilah,  saya rehat sesaat,  sekalian mengurangi rasa sakit dengan minum obat.  Semula kuminum Panadol untuk mengurangi rasa sakit.  Namun karena efeksnya belum begitu kurasa,  akhirnya Kataflam kutenggak berikutnya. Alhamdulillah,  rasa ngilu di sekujur badan mulai menghilang,  dan rasa nyeri di kedua betis kaki  terasa agak berkurang. Tidur dan tidur,  itulah kegiatan di hari itu yang sengaja kulakukan.  Hanya makan dan sholat yang menjadi jeda waktu tidur seharian.

Menjelang Isya’,  kami kembali datang ke masjidil haram,  tentu saja untuk sholat dan tak lupa untuk bertemu dengan pak Ayumy  salah satu nara sumber kami,  persis sesuai dengan janji.  Singkat kata, ba’da sholat Isya’ kami mencari pak Ayumy sesuai dengan informasi lokasi.  Pak Ayumi ternyata masih sibuk  membagi-bagi buku kepada para jamaah shalat.  Di Arab Saudi,  memang terdapat beberapa lokasi pembagian buku gratis  dalam berbagai bahasa,   sebagai ladang penyebaran da’wah.  Selain di lokasi pada Ayumi ini,  di maktabah sebagai tempat bekas kelahiran nabi,  biasanya juga dilakukan pembagian buku-buku da’wah.  Pak Ayumi konon memiliki posisi sebagai seorang tarjim,  seorang penerjemah,  sehingga sangat mungkin buku-buku dalam versi Indonesia (dan Malaysia)  merupakan salah satu karya dari pak Ayumi.

Beberapa saat kami kembali duduk menunggu pak Ayumi bertugas di masjidil Haram ini.  Tak berapa lama,  pak Ayumi mempersilahkan kami untuk masuk ke sebuah lokasi.  Posisi tetap di dalam masjid, hanya saja lokasi diberi batasan,  sehingga tidak semua orang bisa masuk ke dalam ”ruangan”.  Namun,  setelah masuk ruangan,  dan setelah kami dipersilah duduk pada kursi yang telah disediakan,  ternyata pak Ayumi justru tak ikut duduk bersama kami.  Beliau malah sibuk ”menjamu” kami dengan minuman  dan biskuit makanan ringan. Pak Ayumi hanya menyerahkan kami kepada seorang pria Saudi, yang dari segi umur berkisar antara akhir 30 an dan awal 40 an. Lha,  kenapa pak Ayumi tak mau ”melayani” kami dan justru menyerahkan kepada seorang pria Saudi ?.

Ternyata,  pria ini bukan figur sembarangan,  karena dialah salah seorang ulama Saudi,  bernama Syekh Ismail. Bahkan,  pria ini adalah seorang Naibul Mudir (wakil direktur) haramain,  Naibul Mudir lembaga amar ma’ruf nahi munkar di Arab Saudi  yang dipimpin Syekh Shudais,  salah seorang imam paling terkenal di Indonensia.  Oh…ternyata orang ini bukan figur sembarangan,  dan oleh sebab itu,  pak Ayumy ”sengaja tidak berani ikut campur, dan justru diserahkan kepada tokoh yang semestinya”.  Subhanallah.  Inilah karunia Allah yang tiba-tiba,  sebab tidak sembarang waktu dan tempat bisa kita dapatkan.  Bahkan,  kandidat Doktor sekalipun sulit sekali bisa bertemu dengannya,  akibat posisi dan mungkin pekerjaan yang super sibuk mengelilingi. Walhasil,  ketika hal ini kita ceritakan kepada seorang kandidat Doktor asal Indonensia,  hanya satu komentar yang keluar dari bibirnya. ”bagaimana anda bisa berjumpa ?.

Tentu saja kami tak bisa menjawabnya.  Bahkan,  saya sendiri juga bertanya-tanya,  apakah pertemuan ini sengaja dirancang oleh pak Ayumy ataukah secara kebetulan beliau sedang inspeksi ke lokasi, sehingga pak Ayumi kami langsung diserahkan untuk dijumpai ? Pertanyaan saya ini sangat masuk akal,  sebab di hari berikutnya,  ketika kami datang ke lokasi yang sama,  bertanya pada petugas di sana,  ternyata mereka tak tahu menahu di mana Syekh Ismail ”berada”.

Dalam pertemuan itu,  tampaknya Syekh Ismail merasa nyaman dengan kami,  di tengah kepahaman bahasa Arab yang terbatas sekali. Pertanyaanku pun yang jumlahnya lumayan banyak,  semua ku katakan melalui perantaraan Fakhry.  Tapi,  sekali lagi Syekh Ismail tampaknya ”menikmati”  pertemuan ini.  Pertemuan berlangsung agak lama, 21.30-23.00.  Bahkan,  pak Ayumi saja misalnya,  sampai minta ijin pulang duluan,  karena capek telah bekerja seharian.  Bahkan,  sempat kulihat seorang”asisten Arab” berulangkali interupsi,  tampaknya mengingatkan ”soal  waktu” kepada Syekh Ismail.  Sepertinya,  beliau memiliki jadwal lain.  Namun berulangkali sang Syekh memberi sinyal  bahwa beliau ”masih nyaman” untuk berdakwah kepada kami.

Bahkan,  mungkin karena belum merasa cukup dengan pertemuan itu.  Maka di akhir perjumpaan,  Syekh Ismail masih menyatakan mengundang kami untuk makan malam di rumahnya.  Kami senang sekali mendapat undangan ini.  Hanya saja,  undangan definitif  baru datang pada Kamis pagi  untuk  makan bersama di malam hari. Walhasil,  mengingat Kamis pagi kami sudah harus meninggalkan Mekah untuk menuju Madinah,  maka undangan dari Ulama Saudi ini terpaksa tidak bisa kami sanggupi. Afwan ya Syekh.***

Museum Haromain : Membangun Ekonomi dari Sektor Wisata ? (Bagian 9)

Harga minyak  di pasar internasional memang sedang runtuh,  sebuah realitas yang tentu saja sangat berpengaruh luar biasa terhadap negara-negara yang mengandalkan ekonominya di sektor minyak.  Arab Saudi tampaknya gelapan terhadap realitas ekonomi kekinian.  Jika negara-negara teluk di sekitarnya seperti  Uni Emirat Arab, Qatar,  dan Bahrain telah menginvestasikan  hasil minyak  untuk sektor lain termasuk pariwisata – belanja,  namun khusus Saudi selama ini tampaknya agak terlena.  Walhasil,  di tengah rontoknya harga minyak dunia,  Saudi yang selama ini terlena,  kini baru terbangun tersadar untuk menata.

Raja Salman  kini telah membangun Visi 2030, termasuk salah satunya dengan mengandalkan sektor pariwisata.  Kesadaran ini sebenarnya sangat terlambat,  mengingat telah banyak sekali situs-situs penting justru telah telanjur digusur akibat visi agama wahabiah yang sejak dahulu didakwa sebagai ”penghancur situs-situs peradaban Islam”.  Tujuannya  memang mulai,  mencegah  terjadinya TBC (Tahayul – Bid’ah- Churafat),  namun  caranya terlalu ekstrim.  Bahkan,  karena konteks ini pula,  tokoh-tokoh Islam di tahun 1900an awal sempat membuat Majelis Hijaz dalam kerangka protes,  memberi masukan terhadap penghancuran situt-situs peradaban Islam.

Kini,  pemerintah Saudi mulai menyadari betapa penting membangun sektor wisata sebagai alternatif untuk mecari sumber dana penghidupan.  Sektor wisata tampaknya juga digalakkan.  Mungkin salah satunya  karena kesadaran ini pula,  Saudi kini telah membuat berbagai rumah  ma’arid (pameran)  dan museum peradaban.  Di kota Makkah misalnya telah dibangun Museum Haramain,   sedangkan di Madinah (sejak 2015) lampau telah diresmikan-dibuka Pameran Al Qur’an dan Pameran Asmaul Husna. Khusus mengenai Pameran masjid Nabawi meskipun namanya telah terpampang sejak 2015 lampau ketika saya ziarah ke tempat ini,  namun sampai kunjunganku di tahun 2017 ini masih juga belum dibuka.

Senin sore – malam (17.00 – 19.00) ini,  kami menyempatkan diri berkunjung ke  Museum Haromain.  Kenapa kami datang malam hari ? Ada alasan terkait ini, pertama,  Siang hari tadi kami kelelahan luar biasa,  akibat terpapar panas menunggu taksi di depan Rabitah ’Alam Islamy. Kami pulang dari lokasi setelah shalat Dzuhur dan mampir sejenak ke maktabah untuk mendapatkan hadiah buku.  Sambil menenteng belasan buku-buku tebal ini,  kami terpapar mentari akibat menunggu transportasi dalam waktu lama sekali.  Peluh terkuras,   Energi pun ikut terkuas.  Walhasil,  akhirnya kami pulang,  untuk mengumpulkan energi tambahan.  Kedua,  datang ke museum pada siang hari biasanya dilakukan berombongan,  sehingga perlu menyertakan ”surat keterangan”.  Karena kami hanya berempat,  maka untuk menghindari aturan,  mas Izdihar sengaja mengajak kami datang di malam hari. Walhasil,  setelah shalat Maghrib kami langsung meluncur ke lokasi.

Berbagai foto  dan  barang peninggalan era lama di pajang di lokasi.  Terkait ka’bah misalnya,  dipamerkan : balok kayu bekas tiang ka’bah,  bekas pintu ka’bah,  bekas talang emas di hijir ismail,  besi pembungkus hajar aswad,  termasuk bekas tangga yang biasa dipakai untuk masuk ke dalam ka’bah.  Sebab,  pintu ka’bah posisinya memang tidak menempel di tanah,  namun berlokasi  agak di atas,  sehingga untuk memasukinya diperlukan sebuah tangga.  Di museum juga dipamerkan  foto-foto sejarah keberadaan sumur Zam-zam dari masa ke masa. Hal yang menarik adalah peninggalan bekas “rumah penutup” ka’bah yang terbuat dari kuningan.  Bahkan,  dalam museum di tampilkan berbagai mata uang kuno  asal berbagai negara   yang sempat  tercemplung atau sengaja dicemplungkan dalam  sumur zamzam.  Ketika sumur dikuras,  koin-koin ini lantas dikumpulkan,  dan ia menjadi bagian dari  pameran.

Singkat kata,  banyak sekali berbagai benda berharga  dipamerkan di museum ini..  Sayangnya, manajemen perawatan dan keselamatan benda-benda ”purbakala” ini  kurang profesional,  sehingga pengunjung dapat menyentuh bakan mungkin mengorek-ngoreknya.  Idealnya,  segala benda berharga ini dimasukkan dalam lemari kaca,  sehingga pengunjung cukup melihat dengan tanpa menyentuhnya.***

PEMUDA SAUDI, MAHASISWA YANG JADI SOPIR TAKSI (Bagian 8)

 

Selepas lohor pada Selasa,  4 April 2017 kami meninggalkan Rabithah Alam Islamy.  Matahari sedemikian menyengat,  menusuk  pori-pori.  Sementara  taksi yang kami butuhkan untuk membawa pulang sedemikian susah didapati.  Walhasil,  untuk beberapa saat kami terpapar di tengah mentari yang sedemikian menyengat kulit kami.  Panas berkuasa.  Terik sedemikian menyiksa.   Peluh bercucuran sehingga mempercepat proses tubuh menjadi penat. Masya Allah.  Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Tapi di tengah ketersiksaan ini  kulihat satu dua orang arab berjalan hilir mudik  dengan santainya  di sikitar Rabithah.  Realitas ini sedikit menasehati kami  bahwa apa yang kami rasakan hanyalah dramatisasi perasaan saja.  Hal inilah yang menyebabkan kami merasa perlu untuk bersabar.

Alhamdulillah, beberapa saat berikutnya,  akhirnya kami bisa mendapatkan taksi on-line yang ternyata disetiri seorang pemuda asli Saudi.  Subhanallah,  lelaki belia berumur 23 tahun tersebut adalah seorang mahasiswa bidang ekonomi dari Universitas Ummul Quro. Dari cara bicara,  saya bisa membaca:  bahwa  pemuda Saudi ini  bersikap sangat terbuka, open minded,  dan optimis dalam menatap  hidup. Dia bukan tipe pemalas apatah lagi manja sebagaimana stereotipe terkait warga Saudi. Buktinya, selain aktif sebagai mahasiswa,  ternyata dia  menyibukkan diri mencari uang dengan memanfaatkan mobilnya sebagai kendaraan sewa online.

Pemuda bernama Abdur Rahim ini juga figur terbuka,  terbukti dari gaya bicaranya yang ceplas ceplos  menjawab apapun pertanyaan kami,  bahkan ketika kami  menyinggung soal-soal  politik. Realitas ini seolah mematahkan image yang kami dapatkan sebelumnya,  bahwa orang Saudi tabu bicara soal politik,  sebagaimana sempat  digambarkan KJRI Jeddah  maupun mas Izhar yang menjadi pemandu kami.

Image tentang ”tabu politik”  ini  memang telah diwanti-wanti ketika kami berkorespondensi  terkait persiapan kami ke Arab Saudi.  Proposal dan surat yang kami kirimkan pun  berusaha diubah sedemikian rupa,  untuk mengaburkan sisi politik dari data yang ingin kami dapatkan.  Meski demikian,  toh akhirnya KBRI dan KJRI tetap tak bisa memfasilitasi kedatangan kami,  apatah lagi menghubungkan dengan para akademisi.  Mereka memang super sibuk,  dan lebih-lebih lagi  mungkin alergi dengan nuansa politik dalam kajian kami.  Begitu ketemu mas Izdihar,  mahasiswa Madinah yang memandu kunjungan kami,  informasi serupa juga kami terima.  Menurutnya,  mahasiswa Indonesia tak akan pernah bicara politik, karena dimana-mana terdapat mata penguasa,  dan ketika ditangkap  akhirnya bisa diekstradisi tanpa menyelesaikan sekolahnya.  Berpijak pada realitas ini,  kami sempat  ”frustasi” jangan-jangan kami tak akan mendapatkan  informasi.

Namun,  pandangan ini  pelan namun pasti mulai terkikis.   Pertama sekali,  ketika  jumpa para kandidat  Doktor  di Makkah,  ternyata kami dapat menggali informasi sosial keagamaan yang bahkan menyerempet isu politik juga.  Pun ketika berjumpa dengan  mahasiswa asli Saudi ini,  ternyata soal isu politik tidaklah seseram  apa yang digambarkan.  Dengan ceplas-ceplos ia menggambarkan situasi kepolitikan yang ia rasakan.

Pada satu sisi ia memberi kritikan,  terkait dengan situasi perekonomian.  Mulai dari  hukuman lalu lintas yang mahal dan memberatkan sampai pada naiknya harga bensin untuk kendaraan.  Namun,  dia sama sekali tidak  kecewa pada pemerintahan yang ada,  melainkan justru bangga terhadapnya.  ” Raja-raja sebelumnya selalu ”takluk” pada Amerika,  sultan Salman menampilkan  sikap berbeda.  Ketika Barrack Obama berkunjung ke Saudi,  begitu Adzan dikumandangkan,  Raja Salman langsung meninggalkan sang presiden AS sendirian.  Dia sengaja menampakkan,  bahwa basa-basi diplomatik harus dikalahkan ketika panggilan Shalat telah dikumandangkan. Realitas lain terkait dengan profil politik luar negeri Saudi yang tampil dengan gaya high-profil  bukan saja dalam konteks kawasan (Bahrain dan Yaman) melainkan bahkan dalam konteks internasional.  Singkat kata,  Salman telah mengangkat harkat dan martabat masyarakat Saudi  di hadapan Amerika dan Dunia.

Pemuda Saudi ini bicara politik secara berapi-api,  sehingga memupus kekhawatiran kami  bahwa di Saudi bicara politik  sangat tabu sekali.  Bahkan akibat aura ini pula,  mas Izdihar yang semula berpandangan tabu bicara politik,  akhirnya ikut hanyut  tak tabu lagi sental-sentil soal politik.

Rasa penat yang sempat kami rasakan untuk sementara sirna mendengar  kicauan luar biasa dari pemuda Arab ini.  Barulah ketika sampai hotel,  kami langsung menghempaskan badan akibat penat kembali menjerat.  Terpapar mentari beberapa saat lamanya ketika menunggu taksi,  ternyata telah menguras tenaga sehingga telah menyisakan rasa penat dan letih. ***

Di Rabithah ’Alam Islamy Kami Bertemu Ustadz Nasruddin Al Palembangy MA. (Bagian 7)

Senin 2 April 2017 pagi,  mentari telah menyapa kami dengan ramah sekali.  Sinar sang surya sedemikian ceria,  menandakan  pagi ini buana sedang bahagia. Saya, Wawan, mas Hamdan dan Fakhry  tentu saja menyambut suasana juga dengan suka cita.

Di pagi ceria ini kami telah membuat janji dengan   orang Arab Saudi,  untuk bertemu di   Rabitah  ‘Alam Islamy.  Singkat cerita,  setelah melalui proses pemeriksaan di pos penjagaan,  akhirnya sampai juga kami  di tempat tujuan:  ruang kerja si orang arab tadi.

Rabitah ’Alam Islamy adalah   sebuah nama besar  yang telah saya dengar sejak lebih dari seperempat abad lamanya.  Nama dan perbawanya sedemikian monumental  di telinga ”warga Islam” Indonesia,  terutama bagi mereka yang memiliki jaraingan dengan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII).  Melalui jaringan  DDII – Rabitah Alam Islamy ini kudengar  banyak sekali  santri Indonesia yang berhasil dikirim sekolah di Timur Tengah terutama Arab Saudi. Jaringan intelektual dakwah ini terutama sangat menonjol pada era DDII masih dipimpin Mohammad Natsir.  Konon,  hanya berbekal tanda tangan tokoh Masyumi ini, seseorang langsung bisa berangkat untuk menuntut ilmu di Arab Saudi. Sayangnya,  setelah Natsir meninggal pelan namun pasti gaung ini mulai meredup   –setidaknya untuk telinga saya pribadi.  ”Orang arab memang lebih percaya pada ketokohan pribadi.  Dus,  ketika sang tokoh sudah tak ada,  maka kerjasama biasanya menjadi  tak sekuat era sebelumnya”,  demikian alasan yang sering kudengar terkait dengan fenomena ini.

Saat ini,  memang banyak tokoh Islam indonesia  yang menjembatani kerjasama Rabitah dengan intelektual Dakwah di Indonesia.  Khusus Nama  Hidayat Nur Wahid misalnya,  oleh 3 orang Rabitah yang berhasil kami temui,  memang sempat disebut beberapa kali.  Namun,  sekali lagi,  gaung kerjasama ini tidak lah sekokoh era jamannya M. Natsir lagi.

”Kami masih kuat kerjasama,  terutama untuk pelatihan para calon pendakwah di Indonensia,  terutama untuk  para da’i yang akan dikirim ke wilayah Indonesia bagian Timur”, jelas Syekh Muhammad Al Qathani.  Doktor yang bertanggung jawab pada urusan Da’wah dan pendidikan di Rabithah itu menambahkan,  ”kerjasama itu terutama  dalam .wujud  daurah tiga tahun  untuk mendalami bahasa Arab dan Islam.  Artinya,  pendidikan untuk level diploma,  bukan untuk level sarjana”.

Ketika Fakhry,  koordinator kami, bertanya  adakah kerjasama antara Rabitah Alam Islamy dengan Jamaah di Arab Saudi agar peserta daurah bisa melanjutkan ke level sarjana.   Ustadz Nasruddin Al Palembangy  MA yang menjadi kontak person di Rabithah menjawab: ”tak ada,  silahkan saja  berhubungan langsung dengan Jamiah untuk mencari peluang pendidikan lanjutan”.

Selama tiga jam di Rabithah (11.30 – 13.00) kami berjumpa dan atau  wawancara dengan tiga orang Arab, yakni:Dr.  Syekh Muhammad Al Qathani ,  Abdullah MA,  dan .Nasruddin Al Palembangy MA.  Lho,  kenapa orang terakhir memakai nama  al Palembangy ? usut punya usut ternyata dia memiliki darah Palembang – Indonesia,  dari garis kakeknya. Fenomena warga Saudi asal Indonesia ini sebenarnya tidak terlalu asing di telinga,  sebab gejala ini bahkan sudah ada jauh sebelum indonesia ada.  Mohammad Darwis (pendiri Muhammadiah)  dan Hasyim Asy’ari (pendiri NU) misalnya, ternyata dahulu sama-sama memiliki  guru bernama akhir :    Al Minangkabawy  (asal Minangkabau)  dan     Al Termashy (asal Termas),  disamping tokoh-tokoh lain salah satunya    Al Yamani (asal Yaman). Intinya,  asal-usul  orang asing yang menetap dan atau bahkan menjadi warga negara Saudi  sampai kapanpun tetap bisa ditelusuri,  terefleksi dari nama akhir yang menyertai.

Saat sekarang tentu saja tidak mudah untuk menjadi warga Saudi,  meskipun telah puluhan tahun tinggal di tanah suci. Hanya orang yang memiliki talenta mumpuni yang tampaknya bisa mendapat kewarganegaraan kehormatan.

”Bahkan  era sekarang,   tinggal di Arab Saudi bukan lagi  sebuah pilihan yang menggiurkan,  mengingat banyak sekali aturan dan pembiayaan yang harus dikeluarkan”,   kata Muhammad Isa  dan  Muhammad Ayub pada sebuah kesempatan lain  di Madinah.  Kakak beradik  yang telah menetab di Saudi sejak usia dini  menambah informasi, ”khusus mengenai tarif pembiayaan,  terutama diterapkan seiring dengan kondisi ekonomi Saudi yang mulai kesulitan .  Harga minyak yang selama ini menjadi andalan,  sekarang luluh lantak berantakan. Terpaksalah pemerintah Saudi berusaha mencari alternatif pendapatan,  membangun sektor wisata,  termasuk mengenakan biaya 2 ribu real untuk yang umroh lebih dari sekali  dalam setahun. Di dalam negeri subsidi minyak  dikurangi,  setiap pelanggaran termasuk pelanggaran  lalulintas dikenakan sangsi berbiaya tinggi, dan itu tadi,  para mukimin non Saudi dikenakan pajak yang juga tak kalah tinggi”,  tambah  dua bersaudara yang hampir mirip wajahnya,  ”kami pun,  meski telah puluhan tahun tinggal di sini,  kalau sudah selesai pendidikan,  akan pulang ke Indonesia lagi”.  Pungkas Ayub – Isa di tempat tinggalnya,  Asrama  mahasiswa Universitas Islam Madinah..

Mentari terus meninggi.  Sinar sang surya  makin panas menusuk bumi.  Udara  di sekitar makin  mendidih  gerah sekali.   Panas  menusuk.  Gerah menyiksa.   Untuk menetralisir  ”siksaan”  ini, wawancara  segera  diakhiri.  Kamipun sepakat  untuk  menyejukkan hati  dengan  sholat  jamaah  menghadap Ilahi.  Ya.. Rob,  terima kasih atas segala nikmat yang engkau beri,  sehingga kami bisa  berkunjung ke tanah suci ,  wilayah panas namun dapat menyejukkan pikiran dan  hati kami.***

Orang Sibuk atau Orang Produktif, Anda Termasuk Kategori Mana?

Orang Sibuk atau Orang Produktif, Anda Termasuk Kategori Mana?Sobat,   acapkali kita  mendengar  ungkapan bahwa antara orang sibuk dan orang produktif tentulah sangat berbeda,   sama persis dengan perbedaannya antara pekerja keras dan pekerja cerdas.  Sebenarnya apa dan bagaimana perbedaan antara keduanya ? Sobat,  untuk  sekedar tahu  berikut saya kutipkan  sebuah artikel  menarik tentang perbedaan antara orang sibuk dan orang produktif.
Image result for sibuk dan produktifSobat,  siapakah diri kita? Orang sibuk atau produktif. Di antara orang sibuk dan produktif ada perbedaan mendasar. Orang sibuk belum tentu produktif. Akan tetapi, orang yang produktif tentunya mempunyai kesibukan.Dari uraian tersebut, menjadi produktif adalah pilihan yang terbaik daripada menjadi sibuk juga belum tentu memberikan banyak manfaat. Apa perbedaan antara sibuk dan produktif? Di bawah ini beberapa hal yang dapat membedakan antara orang sibuk dan produktif.
1. Misi Terukur vs Misi yang Tidak Terukur.Orang sibuk cenderung tidak memiliki tujuan. Orang sibuk mengambil banyak langkah agar mendapatkan hal yang terbaik bagi dirinya.Sementara orang produktif berbeda. Ia akan mengambil langkah yang jelas dengan tujuan yang dicapainya nanti. Dengan begitu, semua keputusan dan langkahnya lebih terukur.Related image
2. Prioritas Orang Sibuk vs Prioritas Orang Produktif.Orang yang sibuk akan mempunyai banyak prioritas untuk dijalankan. Terkadang hal tersebut menjadikannya tidak fokus sehingga hasilnya kurang sempurna.Sementara orang yang produktif jelas memiliki prioritas dalam hidupnya yang tak sebanyak orang sibuk. Ia tahu mana yang akan dicapai dan akan jalankan sebagai prioritas utama.
Related image
3. Setuju Tanpa Pertimbangan vs Setuju dengan Penuh Pertimbangan.Setuju tanpa pertimbangan menjadi ciri yang dimiliki orang yang suka dengan banyak kesibukan. Ia cenderung menerima tawaran dengan mudah tanpa berpikir mampu atau tidak.Sementara orang yang produktif cenderung menerima tawaran dengan banyak pertimbangan. Karena itu, ia akan memperhitungkan terlebih dahulu kemudian menyesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya.
4. Bertidak Dulu Apa Pun Hasilnya vs Membayangkan Hasilnya Baru Bertindak.Orang yang selalu sibuk cenderung fokus pada apa yang dikerjakan dan jarang memikirkan kejelasan dari hasil kerjanya nanti.Sementara orang yang produktif cenderung memikirkan kejelasan dari apa yang dilakukannya. Orang produktif cenderung memikirkan dan mengevaluasi hasil kerja setelah melakukannya.Related image
5. Menonjolkan Kesibukan vs Menonjolkan Hasil Kerja.Sibuk dengan membicarakan tentang apa yang sudah dan sedang dilakukan adalah ciri-ciri orang sibuk. Sementara orang produktif cenderung berbicara tentang hasil dan pencapaian yang telah diraih.Karena itu, orang yang produktif cenderung mempunyai pengalaman dengan pencapaian yang baik dibandingkan dengan orang sibuk yang memliki banyak aktivitas.
Related image
6. Menyelesaikan Setengah-Setengah vs Menyelesaikan hingga Tuntas.Orang sibuk biasanya suka melakukan banyak hal, tapi menyelesaikannya setengah-setengah. Berbeda dengan orang produktif yang melakukan satu hal dan fokus pada hal tersebut hingga selesai.Contohnya, orang produktif akan mengikuti kelas menulis dengan target akan menerbitkan buku dalam kurun waktu ke depan. Sementara orang sibuk akan mengikuti banyak kelas semisal menulis, tari, seni dan banyak lagi tanpa ada tujuan yang jelas.
7. Sibuk dengan Banyak Hal vs Fokus pada Beberapa Hal.Menangani banyak hal atau multitasking adalah ciri dari orang yang sibuk. Berbeda dengan orang yang produktif yang hanya tertuju pada beberapa hal. Akan tetapi, mempunyai hasil yang memuasakan.
8. Responsif vs Efektif.Cepat merespon segala notifikasi pada media sosial dan cenderung aktif dalam merespon hal-hal yang terjadi di sekitarnya adalah ciri lain orang sibuk. Sementara orang yang produktif akan memanfaatkan waktu dengan baik dan memilih hal-hal yang lebih bermanfaat.
9. Suka Melihat Orang Sibuk vs Suka Melihat Orang Melakukan secara Efektif.Ciri yang satu ini biasanya dimiliki pimpinan (manager) di mana seorang manager yang sibuk akan suka melihat timnya menjadi sibuk. Sementara orang produktif cenderung mengarahkan timnya untuk melakukan pekerjaan dengan cara-cara yang efektif.
10. Berbicara Tentang Perubahan vs Melakukan Perubahan.Orang yang lebih cenderung melakukan perubahan pada dirinya dengan sedikit bicara adalah salah satu ciri orang produktif. Sementara orang sibuk masih sebatas berbicara tentang perubahan yang akan dilakukan.
 
Dengan menghitung dan memanfaatkan waktu yang dimiliki, mengatur tujuan serta melakukan penataan pada tujuan ke depan adalah cara orang produktif dalam berpikir. Karena itu, menjadi produktif adalah cara yang terbaik bagi kita untuk memanfaatkan waktu yang dimiliki. Sobat,  anda memilih mana,  antara menjadi orang sibuk dan orang produktif ?  kalau saya sih maunya menjadi orang produktif saja.  He..he…
Sumber: cermati.com/Editor: Zaenal A./antaranews.com/berita/270124
Ilustrasi. (iraqenergy.org)/Yuk bisnis.com

Ibu Elly Waty Maliki : Wanita Indonesia yang Luar Biasa (Bagian 6)

Selesai urusan di ”Kedutaan”,  dengan diiringi sinar panas menyengat dari sang mentari,  kami nekad  meluncur ke lokasi ibu Elly. Konjen – Darul Uluum sebenarnya tidak jauh jaraknya,  namun hanya karena lokasinya tak ada plang nama,  akhirnya kami tersesat putar-putar tak jelas arahnya. Usut punya usut,  ternyata di Arab Saudi ini memasang plang nama untuk kepentingan lembaga tidaklah mudah dilakukan, apatah lagi  lembaga yang belum resmi mendapat persetujuan.  Nah,  Darul Ulum memang baru saja memperoleh persetujuan,  setelah 18 tahun berjuang untuk mendapatkan. Papan nama baru saja selesai dibuatkan, namun memang  belum sempat dipasang di pintu gerbang.

Bu Elly  adalah intelektual wanita  asal  Indonesia.  Wanita ini keturunan Padang asli,  namun telah  puluhan tahun tinggal di Arab Saudi.  Bersuamikan seorang pria asal  Indonesia kini telah meninggal dunia,  memiliki dua putra yang sekarang telah dewasa,  wanita ini memiliki energy luar biasa untuk berkarya.  Tatapan mata yang tajam  dan gaya bicara yang jelas – lugas merefleksikan betapa wanita ini memiliki cadangan samangat –  energi yang luar biasa.  Meskipun  tetap  berkewarganegaraan Indonesia,  namun  wanita ini telah sering tampil  atas nama Arab Saudi  dalam pertemuan-pertemuan internasonal  baik di dalam negeri maupun luar negeri..  Sekali lagi,  wanita ini memang bukan figur sembarangan,  karena dia seorang Doktor lulusan Al Azhar University – Cairo – Mesir.  Mulai S1, S2,  sampai S3 semua didapatkannnya dari universitas tua berkaliber internasional ini.  Disertasinya bahkan telah diterbitkan di Arab Saudi  dengan judul  Fiqih Jender.

Intelektualitas  wanita ini  memang di atas rata-rata.  Pandangan-pandangan intelektualnya biasa  diekspresikannya dalam berbagai pertemuan internasional, termasuk bahkan atas nama pemerintah Arab Saudi. Meskipun seorang intelektual, namun wanita ini tak lantas  menempatkan diri  laksana menara gading.  Sebagian besar waktunya,  justru dihabiskannya untuk  kegiatan sosial – amal,  terutama untuk memfasilitasi  putra – putri keluarga  TKI agar  mendapatkan pendidikan yang semestinya. Sekolah internasional  memang tersedia,  tetapi biayanya sangat mahal sehingga sulit terjangkau  keuangan mereka.  Apalagi bagi TKI-TKI bermasalah,   niscaya adalah sebuah kemewahan  anak-anaknya untuk bisa mendapatkan fasilitas pendidikan.

Dalam kerangka misi inilah,  bu Elly menyibukkan diri dengan membangun lembaga pendidikan Daarul Ulum yang telah dirintis sejak 1992 lampau. Problem tentu saja menghadang,  mengingat ijin pendirian semacam lembaga pendidikan  tidak mudah  didapatkan.  Perjuangan panjang dan melelahkan senantiasa  diayunkan.  Kesabaran yang luar biasa harus senantiasa digaungkan.  Justru berbekal kegigihan dan kesabaran,  serta kapasitas intelektual dan jaringan,  akhirnya idealisme dan cita-cita yang telah diperjuangkan  selama belasan tahun berhasil direalisir:  pemerintah Arab Saudi mengeluarkan ijin pendirikan lembaga pendidikan Daarul Ulum. Inilah satu-satunya lembaga pendidikan swasta yang didirikan orang asing  yang diijinkan oleh pemerintah Arab Saudi. Subhanallah…

Bu Elly anda memang wanita Indonesia yang luar biasa.  Beruntung sekali kami  bisa bertemu-berkenalan dengan anda,  melalui nomor telepon yang diberikan Mas Ferly  sehingga menjadi wasilah pertemuan kita.

Meskipun hari telah menjelang sore,  namun  mentari masih tetap  garang menatap kami.   Sang surya  masih melontarkan panas secara arogan,  sehingga peluh kami senantiasa bercucuran.  Sebenarnya fisik  kami  mulai agak  loyo. Namun,  berkaca pada  semangat bu Elly berjuang belasan tahun dalam membangun lembaga pendidikan,  maka  energi itu akhirnya tertularkan kepada kami.

Semula kami sudah mulai gontai,  mengingat  malam sebelumnya hanya istirahat dalam waktu sedikit sekali.  Namun  energi bu Elly dalam pertemuan 2,5 jam (13.30-16.00) telah memotivasi  sehingga kami bersemangat meluncur ke tempat lain.  Tujuannya adalah:  asrama (sakan)  mahasiswa Universitas Ummul Quro (UUQ).

Universitas Umm Al-Qura (Jāmiʿah ʾUmm Al-Qurā) adalah perguruan tinggi negeri di Arab Saudi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Arab Saudi yang didirikan pada 1981. UUQ  dianggap sebagai salah satu universitas paling bergengsi di dunia Islam karena lokasinya di Mekkah.  UUQ  semula didirikan sebagai Sekolah Tinggi Syari`ah (tahun 1949)  sebelum menjadi perguruan tinggi dan berganti nama menjadi Ummul Qura sesuai dengan dekret kerajaan pada tahun 1981.

Selain studi ilmu Syari`ah dan studi Bahasa Arab, di Universitas Umm Al Qura juga terdapat berbagai studi ilmu antara lain Manajemen Teknologi, Manajemen Bisnis, Pemasaran, Teknik, Kedokteran, Pendidikan dan berbagai Ilmu Terapan,  yang mencakup berbagai fakultas,  antara lain: Fakultas Dakwah dan UshuluddinFakultas Bahasa Arab, Fakultas Bisnis, Fakultas Pendidikan di Mekkah), Fakultas Sains terapan, Fakultas Sosial terapan, Fakultas Teknik dan Arsitektur Islam, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pelayanan Masyarakat dan Pendidikan Lanjutan, Institut Riset Ilmiah dan Kebangkitan Kebudayaan Islam, Institut Bahasa Arab bagi Pemula, Fakultas Komputer, Fakultas Farmasi, Fakultas Ilmu Medika Terapan, Fakultas Syari`ah dan Studi Islam, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan di Al-Qunfudah, Fakultas Pendidikan Guru di Al-Qunfudah, Fakultas Pendidikan Guru di Mekkah, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan di Al Leith, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan – Bagian Sastra, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan – Ekonomi Domestik, Fakultas Pendidikan untuk Pendidikan Guru Perempuan.  UUQ telah melahirkan banyak alumni yang menjadi  tokoh di negara masing-masing,  seperti:  Abdurrahman As-Sudais  (Imam Besar Masjidil Haram), Said Agil Husin Al Munawar (Mantan Menteri Agama Republik Indonesia), Said Aqil Siradj (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama)

 

 

Di sakan (asrama) mahasiswa UUQ ini,  kami  kembali bertemu  putra Indonesia yang luar biasa,  mas Herika Mohammad Taqy.    Dia adalah ketua PPMI Jeddah,  seorang  kandidat Doktor pada Universitas King Abdul Aziz, Jeddah.  Mas Herika telah belasan tahun tinggal di Saudi Arabia.  Berbeda dengan banyak mahasiswa Indonensia lain yang mengambil ilmu agama,  mas Herika ternyata kandidat doktor di bidang Tata Kota.

Dari beliau inilah informasi tentang bermacam sisi kehidupan sosial budaya bahkan agama Arab Saudi berhasil kami dapatkan.  Pengalamannya selama belasan tahun di Saudi dia tuangkan tanpa ada saringan kepada kami.  Pengalaman berteman dengan warga Saudi,  pengalaman bergaul dengan realitas sosial Saudi,  diterangkan secara terstruktur,  runtut,  lugas dan jelas kepada kami.

Hal yang tak kalah penting,  di lokasi mas Herika inilah kami sempat bersua dengan beberapa mahasiswa di luar Arab Saudi yang akan  menjadi peserta simposium PPMI se Timur Tengah di Madinah.  Alhamdulillah,  meskipun  tak sempat hadir dalam simposium,  namun kami berkesempatan untuk bertatap muka  dengan para peserta simposium.  Ada yang  dari  Global University di Libanon,  ada yang dari  Universitas Sudan,  ditambah beberapa mahasiswa lain dari beberapa kampus di Arab Saudi. Bahkan,  melalui jaringan ini pula beberapa hari berikutnya,  akhirnya kami berkesempatan berjumpa dengan seorang mahasiswa UEA university bernama  Oebaidillah yang juga ikut dalam simposium PPI se Timur Tengah.  Khusus dengan mas Oebaidillah kami  berdiskusi intensif di sebuah rumah makan di Zamzam Tower, pada  Kamis, 6 April pagi,  tepatnya beberapa saat sebelum kepergian kami ke Madinah Al Munawaroh.  Pemuda asal Sidoardjo  ini telah telah tinggal di UEA  sejak pendidikan SMP,  sehingga dapat melengkapi informasi tentang apa dan bagaiman realitas sosial politik UEA yang juga menjadi bagian dari kami punya  kajian.    Walhasil,  jika semula kami sempat pesimis untuk mendapat narasumber di tengah masa libur sekolah,  ternyata akhirnya  bisa kami dapatakan dengan relatif mudah.   Alhamdulillah Ya Robbil Izzah.

Setelah shalat Maghrib berjamaah di masjid  asrama universitas Ummul Quro yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai negara,  kami  segera pamit untuk kembali ke hotel. Malam telah menyembunyikan sang surya.  Hari sudah mulai gulita. Di tengah gelap hari Ahad inilah kami melangkah ke jalanan,  mencegat taksi  untuk mengantarkan kami pulang.  Malam itu taksi memang sangat sulit kami dapatkan,  sehingga kami naik mobil dua kali secara ketengan.  Namun demikian,   kami tetap bersyukur karena sehari penuh telah lancar  melakukan kunjungan – wawancara penelitian. Alhamdulillah ya Robb.***