Menelusuri Pelosok Madinah : Kunjungan ke Uhud dan Khandaq (Bagian 17)

Kota Nabi. Meski hari  masih fajar  pagi,  namun  sama sekali tak ada rasa menggigil  di lokasi.  Saya dan Fakhry  bahkan telah melangkah gagah  untuk  mengejar  jamaah shubuh di Nabawy.  Maklum di tanah suci ini,  bahkan di malam hari termasuk pagi,  suhu udara tidak bergeser dari angka 35 derajad celcius.  Apalagi kami memang telah berniat  untuk  ziarah ke makam Baqy,  tempat jasad  para sahabat dan  keluarga Nabi dikubur disimpan dalam bumi.

Tepat pasca wiridan Subuh,  dan tepat pasca kembali  menziarahi makam nabi,   kami langsung menuju lokasi  :  makam baqi.  Dilokasi Baqy sebenarnya tak ada  tanda dan atau informasi  tentang apa,  bagaimana, dan siapa yang dimakamkan di lokasi.  Siapa orang utama yang dikuburkan, tidak ada seorang pun bisa memberi penjelasan dengan kepastian.  Hal yang pasti adalah :  khusus makam orang-orang spesial,   niscaya akan kita temukan keistimewaan,  yakni:   (1).  Jika kubur  orang biasa hanya ditandai dengan  dua bongkah batu,  di bagian kepala dan kaki,  khusus makam orang spesial  disisakan space tertentu ditambah dengan  batas  bebatuan  pada pinggir atas – bawah kiri dan kanan. (2).  Makam istimewa senantiasa  ditunggu di jaga seorang asyakar di dekatnya,  meskipun sang penjaga diam tak memberi informasi apapun tentang makam yang dia jaga. Setiap kali  bertanya padanya,  jawaban asykar hanya Allah a’lam: Allah yang paling tahu.

Sebagai peneliti tentu kami tak kehilangan akal untuk sedikit menguat rahasia.  Melalui tanya pada orang-orang tertentu yang kami perkirakan tahu,  kami langsung  tanya ini dan itu.  Alhamdulillah,  beberapa orang Arab yang kami tanyai:  ternyata mereka memberi informasi.    Berbagai kubur  di bagian depan tak jauh dari pintu gerbang misalnya,  ternyata merupakan  kubur  ’ailatun nabi : keluarga nabi  alias anak-anak dan istri.  Kami  juga berhasil  menemukan makam  sayyidina utsman yang lokasinya di tengah-tengah baqi”,  dengan batas bebatuan relatif lebih luas dibanding makam-makam istimewa lainnya

Kami juga menemukan makam  ibu susu Nabi, yakni :  Siti Halimatus Sya’diah,  yang posisinya ke arah kiri dari lokasi makam Utsman.  Berikutnya berjalan masuk ke dalam lagi  ke  makam ibunya sayyidina Ali yang tak lain  istri paman nabi  bernama Abu Thalib. Posisi makam  lebih  ke belakang tak jauh dari  tembok  di pinggir sebelah kiri.  Tidak lama kami  berada di dalam Baqy,  sebab sekitar jam 7 kami bersegera pulang ke penginapan,  untuk mengisi perut alias sarapan.

Sabtu,  8 April 2017 kantor – kampus masih libur semua,  sehingga agenda berikut yang kami susun adalah menelusuri Madinah pelosok  atau luar kota.  Sorang sarjana  yang tinggal di Madinah sejak  SD mengantar kami,  untuk merealir tujuan ”penting”  ini.  Mohammad Isa Abdullah,  itulah nama yang disandangnya.  Pria muda berbadan tambun ini ternyata  seorang Hafidz.  Masya Allah.

Singkat kata,  sekitar jam 10 pagi  kami telah  meluncur ke   masjid Quba’ dan Qiblatain,  dua buah masjid  monumental  dalam sejarah peradaban Islam.  Quba’  merupakan masjid pertama yang dibangun Nabi, bahkan sebelum Nabawi.  Quba’ dahulu berada di pintu gerbang Madinah.  Dalam perjalanan Hijrah,  Nabi sempat ”membangun”  dan mendirikan shalat di Quba’ ini.  Walhasil,  siapaun menyempatkan shalat di Quba’  dia akan mendapat keutamaan.

Adapun masjid Qiblatain  bermakna dua kiblat.  Kenapa dinamakan demikian,  tentu ada sejarah yang bisa dijelaskan.  Dahulu :  jamaah shalat semula  menghadap ke arah masjidil Aqsa (Yerussalem) .  Suatu hari,   turun perintah Ilahi untuk mengubah  kiblat dari al Aqsa menjadi  ke  Baitullah di Mekkah.  Mendengar berita itu,  jamaah masjid Qiblatain yang semula ke arah Al Aqsa,  maka serta merta mengubah arah ke arah Makah.  Akibat peristiwa ini:  karena  dalam satu waktu shalat mereka sempat mengarahkan diri pada dua kiblat,   sang masjid lantas dinamakan masjid qiblatain.  Kami tidak shalat di dalamnya,  sebab memang tak ada penjelasan tentang keutamaan untuk shalat di sana ,  sebagaimana dijelaskan terkait masjid Quba.

Dari dua masjid,  kami  lantas  meluncur benteng Orwah bin Al Zubair,  sebelum akhirnya  ke bukit Uhud dan lalu ke bukit Hondaq. Berbeda dengan jamaah haji  – umroh yang biasa menaiki bus besar,   kami  memakai mobil kecil seukuran Avanza.  Walhasil,  berbeda  dengan bus yang harus melalui jalan-jalan besar,  kami sengaja diantar melalui perkampungan Arab. Tujuannya untuk mengenal  situasi dan kondisi pemukiman masyarakat.  Di tengah situasi terik seperti Madinah ini,  maka hampir tak dijumpai  orang lalu lalang dengan berjalan kaki.  Rumah-rumah dari luaran tampak berbentuk kubus kebanyakan,  dan amat sangat jarang dihisai denan tetumbuhan.  Gersang.  Panas.  Setelah blusukan ke berbagai kampung arab,  akhirnya sampailah ke  kawasan Jabal Uhud..  Uhud ternyata memang bukan sebuah gunung tunggal,  melainkan gugusan bukit yang memiliki bebeapa puncak.

Uhud –dahulu  sebagai  tempat terjadinya perang kedua dalam Islam—suasananya tetap sama,  tak ada beda dengan  dua tahun sebelumnya.  Di kaki bukit  kami tetap disambut  pasar tradisional dengan aneka dagangan yang dijajakan.  Sebuah bukit kecil  berjarak tak  jauh (bahkan paling dekat) dari  pasar  itulah ”inti” sejarah  uhud terjadi.  Konon di bukit paling kecil dan tak  terlalu tinggi ini,  dahulu menjadi tempat komando  pasukan panah yang dibentuk Nabi sang utusan.  Mereka disuruh menyerang bertahan,   namun akhirnya lokasi ini  justru  ditinggalkan,  akibat mereka terpesona oleh harta rampasan.   Akibat  melanggar perintah nabi,  muslimin banyak menjadi  korban dalam peperangan ini.  Para syuhada’  Uhud  ini dimakamkan di lembah tepat di depan bukit tadi,  pada posisi sebelah sisi lainnya dari pasaritradisional ini.  Salah tokoh legendaris  yang dimakamkan satu nya adalah :  Sayyidina Hamzah,  paman nabi yang tewas ditombak lengkap  dengan bekas 70 sabetan pedang.

Hanya saja,  di lokasi di tahun 2017 ini terdapat bangunan masjid   yang pada September 2015 belum ada. ”Masjid baru dibangun sejak akhir 2015”, jelas mas Mohammad Isa,  yang dirunut leluhur berasal dari Pati dan Yogya.   Saya duga  Masjid Uhud sengaja untuk memfasilitasi  penggalakan pariwisata,  sehingga  wisatawan dapat shalat  sekaligus menghilankan penat.  Bahkan,  sambil mengurangi penat,   wisatan dapat belanja berbagai ”cinderamata”  yang digelar di pasar tradisional termasuk toko mobil  yang kuperhatikan juga banyak keberadaannya.  .

Pembangunan  di bukit  Khandaq  –tempat terjadinya perang Khandaq—bahkan lebih  pesat pelaksanaannya.  Jika  di tahun 2015, saya tak  tertarik untuk  mengunjungi,  merasa  cukup memandang dari  kendaraan kami,  maka di  tahun 2017  jamaah  ”pastiakan tertarik untuk  turun  ke  lokasi.   Fasilitas penunjang telah banyak  dibangun dilokasi.  Setidaknya ada empat bangunan historis di wilayah Khandak.  Satu bangunan kecil berlokasi  di atas sebelah kiri,  disebut masjid nabi.  Tepat di bawahnya ada bangunan lebih kecil dan sederhana  disebut masjid Salman Al Farisi.   Di  sebelah kanan pada posisi juga  tinggi disebut masjid Ali.  Terakhir,  tepat di bagian tengah terdapat masjid yang paling besar disebut masjid Utsman bin Affan.  Di masjid inilah terdapat banyak toilet,  serta  memungkinkan wisatawan untuk shalat bahkan istirahat untuk melepaskan penat.

Keempat”masjid”,  sebenarnya hanya pertanda  bahwa tempat itu dahulu menjadi  lokasi  tafakur (dzikir dan shalat sunnah)  nama-nama bersangkutan,  sekaligus tempat mangkal untuk  mengawasi musuh  dari posisi bebukitan.  Di lokasi ini nama Salman Al Farisi menjadi legenda,  sebab tokoh inilah yang mengusulkan ide penggalian parit untuk mengelilingi lokasi,  sebagai beteng pertahanan,   karena umat Islam kala itu sedang dipaksa  menghadapi koalisi kejahatan  kaum kafir Qurais dan  para pengkhianat Yahudi Madinah.

Saudi memang sedang berbenah diri,  membangun berbagai fasilitas untuk mendukung program wisata sebagaimana visi Saudi 2030 nya.  Tak jauh dari Uhud,  tepatnya satu dua kilometer  sebelum menjangku kawasan Uhud,  terdapat  beteng kuno peninggalan Dinasti Utsmaniah,  yang  juga mengalami proses renovasi.  Dialah  benteng Orwah bin Al Zubair.   Bahkan,  di masing-masing lokasi wisata tadi,  saat ini telah pula dipajang papan besar yang berisi penjelasan tentang apa dan bagaimana  kejadian yang pernah terjadi  di  lokasi bersangkutan tadi.

Realitas ”pembenahan” situs  seperti ini sekarang bukan khas fenomena  Madinah,  melainkan juga telah  menjadi  fenomena Mekah.  Banyak fasilitas historis dibangun di Makkah Al Mukarromah.  Selain museum haromaian,  lokasi wukuf nabi misalnya,  jika dahulu disembunyikan/dikaburkan persis seperti  lokasi kelahiran nabi,   kini telah ditandai dengan bangunan kotak kecil  tepat di arah bawah jabal Rahmah.  ”Irigasi yang dibangun era Umayyah di sepanjang bukit di Makkah,  konon juga akan direnovasi”,  jelas mas Mubarrok ketika mengantar ziarah di kota Makkah.  Dahulu,  Irigasi itu konon dimaksud sebagai jaringan penyaluran air untuk memenuhi  kebutuhan minum para haji kota Makkah.  Bangunan ini terwujud atas inisiatif permaisuri Sultan  yang senantiasa dibayang-bayangi mimpi bertemu dengan lautan jamaah haji.  Mimpi ini terjadi berulang kali..  Atas mimpi inilah,  sang permaisuri ingin berbuat kebajikan pada jamaah haji, lantas memerintahkan pembangunan irigasi puluhan kilo meter panjang sekali,  menyusuri bukit-bukit terjal  terutama untuk memenuhi kebutuhan minum jamaah haji,  di tengah tanah terik  tanah haram yang tidak terkira. Subhanallah.***

 

Iklan

Mengawali Hari di Kota Nabi: Antara Museum dan Perpustakaan (Bagian 16)

Waktu Maghrib telah lewat,  saat  Isya’  sedang merayap. Gelap. Hanya ”sinar  lentera” yang membantu kami untuk mengenali berbagai panorama yang menjadi  obyek penglihatan mata.  Tak ada keindahan  dalam keremangan,  kecuali hanya biasan benda yang obyek mya sempat terpapar  oleh sinar  dalam kegelapan.

Di tengah keremangan malam itulah,  kami memasuki  kota Madinatun Nabi –  Madinah al Munawwaroh.  Madinah   di malam hari,  ternyata dijerat kemacetan yang parah sekali.  Apalagi  beberapa  lorong jalan  menuju  penginapan,  ternyata ditutup  akibat sesuatu alasan.  Kami harus putar-putar dahulu untuk mencapai  Mubarak Silver hotel yang kami tuju.

”Hitung-hitung  city tour gratis”,  kata mas Hamdan menenangkan di tengah rasa penat yang sudah mulai menyerang.

”Sopirnya saja  tetap cool   tak mengekspresikan jenuh kemarahan”,  timpal Wawan  ikut menenangkan.

Kulirik Fakhry,  sang koordinator yang sedang asyik melihat kanan kini  penuh ketakjuban.  ”Mas… itukah masjid Nabawinya ?,  dia bertanya tiba-tiba,  sembari jari menunjuk  ke arah menara.

Akhirnya sampai juga  kami  tepat di jalanan  tepat di bagian belakang  hotel.  Prosesi memasuki dan berbenah di penginapan,  ternyata butuh waktu beberapa saat.  Walhasil,  tak hanya Maghrib,  jamaah  Isya’ pun  terpaksa kami ketinggalan.

Namun,  Fakhry,  mas Hamdan,  dan Wawan tetap memutuskan untuk  shalat di  Nabawi,  meskipun hanya  shalat di halaman masjid Nabi.  Maklum, mereka memang ingin segera pulang,  mereka ingi segera meluruskan badan, setelah perjalanan panjang melelahkan.  Saya sendiri terpaksa pilih  shalat di hotel saja,  sebab perasaan  mriang tiba-tiba  menyerang raga.  Aku menggigil,   sesaat ketika  menyentuh air untuk berwudlu.

Dalam situasi ini  saya harus membuat keputusan : harus pandai-pandai mengelola badan,  mengingat apa yang kami lalui baru separuh perjalanan, baru setengah  tugas dari yang kami  jadwalkan.   Buru-buru  jaket kukenakan,  jama’ maghrib-isya’ segera kulakukan,  lantas minum obat disusul tidur merebahkan badan . Dengan prosesi menata diri ini,  esuk  pagi,  badanku sudah terasa nyaman lagi.  Alhamdulillah wa syukurillah….

Meski badan telah segar kembali,  namun  di  Jum’at 7 April 2017 ini,  kami tak langsung  berkunjung ke kampus –  kantor  karena Jum’at adalah hari libur pekanan di Saudi.  Ketika di Jeddah –  Makkah,  kami juga dihadapkan pada  status liburan .  Bedanya,  di kedua kota itu libur terjadi akibat uthlah nisfu sannah (libur tengah tahun),  maka  di Madinah terjadi hanya karena uthlah yaumil jumuah. Walhasil,  hari pertama di  Madinah akhirnya kami manfaatkan untuk  kunjungan ke berbagai  lokasi peradaban Islam.

Pagi Ba’da Subuh,  saya memperkenalkan Fakhri dengan beberapa lokasi di sekitar  masjid Nabawi,  mulai dari batas-batas Raudhah  sampai posisi lokasi makam Nabi.  Saya memang memang tak mengajak  masuk Raudlatun Nabi,  karena untuk hal itu  kami harus antri  yang bermakna waktu dan tenaga  akan terkuras di lokasi ini.  Padahal  situasi badan belum prima sekali,  dan tenaga  yang kami miliki  belum fit kembali.   Kami harus cukup istirahat sehingga kami hanya menyusuri lorong menuju makam nabi,  meskipun untuk menuju lokasi saya tetap melewati jalur di belakang roudhotun nabi.  Walhasil,  sambil jalan menuju makam Nabi,  saya bisa menjelaskan batas-batas dan ciri-ciri Raudlah di Nabawi:  yakni terletak antara tiang makam/kamar  dengan  mimbar nabi, yang secara khas  dilapisi keramik berwarna agak putih,  berbeda dengan tiang-tiang di kanan dan kiri.  Setelah menelusuri lorong di belakang  Raudhah Nabi,  akhirnya sampailah kami di kubur Nabi.  Lokasi,  makam nabi posisinya tepat di bawah kubah berwarna hijau.

Setelah sarapan pagi,  kami istirahat sejanak  untuk mengumpulkan energi.  Ba’da jamaah dzuhur,  barulah kami  kembali menapaki  berbagai lokasi di sekitar Madinah ini.  Kali ini,  mas Isdihar mengiringi perjalanan keliling lokasi sekitar Nabawi,  Pertama sekali,  kami diantar ke lokasi  di arah belakang masjid Nabawi .  ”Subhanallah,   di tengah Madinah yang ”gersang”,  ternyata ada sebuah  taman penuh  tetumbuhan”,  komentarku takjub.

”Inilah yang disebut  lapangan Bani Sa’idah”,   tukas mas Isdihar,  ”di lokasi ini kaum Muhajirin – Ansyar  dahulu berhasil  mengatasi ”problem”  kepemimpinan pasca wafatnya Nabi  kembali ke haribaan Tuhan.

Terus terang, baru kali ini saya  mengetahui lokasi ini.,  meskipun sudah dua kali ziarah ke kota nabi.  Sebagaimana kebijakan pariwisata yang sedang dikembangkan,  taman Bani Saidah  selain  ditata diisi dengan berabagia tumbuhan dan kembang,    di lokasi juga dipasang papan,  berisi penjelasan tentang  lokasi yang dijadikan obyek  kunjungan.

Berikutnya,  kami  diajak  mengunjungi Ma’arid Al Asmaul Husna (ekshibisi atau pameran Asmaul Husna),  berikutnya Ma’arid Al Qur’an (Pmeran Al Qur’an).  Tahun  2015 saya pernah berkunjung ke dua lokasi ini,  yang di tahun itu memang baru dibuka pertamakali.  Tak ada beda,  apa yang dipamerkan dibanding dua tahun sebelumnya.  Hanya saja dalam soal perawatan alat peraga (termasuk komputer pemberi  informasi yang lebih lengkap)  ternyata beberapa rusak tak bisa dipakai lagi.  Di lokasi inilah kami melihat berbagai koleksi al Qur’an kuno,  dan segala hal terkait al Qur’an,  termasuk al Qur’an Kuno dibuat tahun 870 M  yang justru didapatkan dari Dublin  –  Inggris  (?).

Sebenarnya ada satu lokasi lagi,  yakni Ma’aridh  Masjidul  Nabawy  yakni museum masjid Nabawi,  namun sejak  tahun 2015 sampai  datang lagi di tahun 2017 masih belum dibuka,  konon katanya memang belum siap untuk kelengkapan koleksinya.

Ketika  adzan Asyar berkumandang,  kami segera  menuju masjid untuk jeda sembahyang.  Ba’da Asyar  kami  kembali melakukan ziarah – kunjungan melakukan petualangan khusus di tengah perkotaan.  Mas Hamdan-Izdiha-Wawan memilih datang  ke perpustakaan Nabawy,  sedangkan  saya mengantar  Fakhry untuk mengena  ”masjid” di sekitar lokasi.   Di pintu 8 langsung berjalan ke arah kanan,  kami melangkah menuju  masjid Al Ghumamah,  lokasi sholat Istisqo’ yang dahulu pernah dilakukan Nabi.  .   Jika di tahun 2015 saya sempat  sholat di dalamnya,  kali ini kami hanya foto-foto di depannya.  Beranjak dari Al Ghumamah  kami melangkah ke  masjid Abu Bakar dan berikutnya memutar menuju  masjid Ali.  Masjid-masjid itu, kokon dahulu merupakan tempat tinggal (sekaligus musholla pribadi)  dari Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib.  Sebenarnya maksud hati ingin juga menuju masjid Umar, masjid  Utsman ,   bahkan masjid Bilal,  namun karena panas terasa menyengat .  kami lantas  membatalkan niat.  Sebab,  kami memang  harus mengumpulkan energi, untuk tugas meneliti di lain hari.***

 

 

 

Agar Cabai Tetap Segar Sampai Sebulan

Sobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan tulisan tentang cara menyimpan agar cabai bisa bertahan sebulan.   Kadang Saat harga cabai murah, membeli Rp5.000 saja sudah dapat banyak. Seringkali cabai yang sudah dibeli dibuang karena kering atau busuk. Agar cabai yang sudah dibeli awet, ada tipsnya. Kementerian Perdagangan RI memberi tahu tips simpan cabai baru-baru ini. Bahkan, dengan melakukan cara ini cabai bisa tahan sampai sebulan.

Pertama-tama, pisahkan cabai dari tangkainya. Lalu, simpan di wadah yang sudah dialasi tisu di sekeliling wadah. “Lalu, masukkan sesiung bawang putih yang sudah dikupas di atas cabai,” seperti mengutip Twitter resmi @Kemendag pada Minggu (21/1/2018).Kemudian, tutup rapat wadah dan masukkan ke dalam kulkas .

Pemilik akun Twitter @maskaki sudah menjajal tips Kemendag dan terbukti cabai awet lebih lama. “Insya Allah seminggu tetep cantik dan semledot,” cuitnya. Lalu, ada juga @nuranwibisono, “Aku nggawe cara iki sejak beberapa bulan lalu moco nang forum kuliner. Bahkan sampe sebulan lebih, cabe rawit sik apik”. (Aku melakukan cara ini beberapa bulan lalu usai membaca di forum kuliner. Bahkan sampai sebulan lebih, cabai rawit masih bagus). Sobat,  semoga bermanfaat.

Sumber : http://health.liputan6.com/read/3233534/mau-cabai-tetap-segar-sampai-sebulan-ini-caranya

 

Maasya Allah – Baarokallah : Kena Penyakit ‘Ain(Bagian 15)

 

Mentari  siang  kurasakan  tambah menjadi  garang.  Sinarnya  meraja,  seolah  hendak menguasai memerintah dunia.   Terik.  Panas,  kurasakan kian  ganas.

“Dahulu pernah  ada kejadian di wilayah kota suci ini.  Sebuah gedung menawan,  tiba-tiba  rubuh  tanpa sesuatupun  alasan ”,  kata mas Mubarak menjelaskan. “Telisik punya telisik,  tragedi itu terjadi akibat gedung menawan itu telah memancing decak ketakjuban,  yang sayangnya tak  diekspresikan dalam kata-kata Maasya Allah   Baarakallah sebagaimana nabi telah ajarkan”, tandas  sang kandidat Doktor.  “Sejak saat itulah,  sosialisasi ucapan MaasyaAllah-Baarakallah digencarkan sedemikian rupa,  bahkan kini menjadi kultur Saudi yang tampaknya tak bakalan lepas lagi.  Mobil-mobil yang mengaspal di tanah haram sini,  sebagian besar ditulisi dua ungkapan tadi”.

Sejenak  mas  Mubarak tak bersuara,  setelah  mengakhiri kisahnya.  Hening.  Bisu.  Suwung.

”Percaya tak percaya,  itulah realitasnya”,  mas Mubarak kembali bersuara,  ”Saya sendiri pernah mengalami penyakit ’ain tadi,  terjadi akibat ketakjuban dan  atau pandangan mata yang kita miliki.  Suatu kali,  di sebuah masjid,   saya bertatapan mata dengan seorang lelaki tua,  yang tatapannya sangat tajam  dan  sampai kini  tak akan pernah terlupa”, tandas mas Mubarak,  ”Astaghfirullah,  ketika sampai di rumah tiba-tiba badan terasa gatal merata,    kulit memerah  melepuh seperti terbakar sinar surya.  Pengobatan ke dokter telah berulangkali kulakukan,  namun sembuh tiada kunjung ku dapatkan.  Pada situasi kalut  itulah,  saya teringat tatapan tajam bapak tua di masjid beberapa hari sebelumnya.  Beberapa hari  berikutnya  saya berusaha menemui bapak tua tadi,  sayangnya  tak kunjung bisa  kutemui.  Saya pun meminta tolong pada teman-teman untuk  mencarikan,  tetapi  mereka berhari-hari tidak kunjung mendapatkan”,  tambah pria yang telah belasan tahun tinggal di Makkah itu.

”Dalam situasi demikian,  tak ada yang bisa kulakutan, kecuali rajin ke masjidil haram  untuk bertobat mohon ampunan,   sekaligus meminta  kesembuhan.    Bahkan,  saya menyempatkan umrah dengan lantunan do’a agar penyakit segera diangkat oleh Nya.  Namun,  upaya demikian  ternyata tak lantas kesembuhan  segera kudapatkan”,  suaranya bernada mengenang kepahitan.

”Walhasil,  suatu hari,  ketika  jamaah di sebuah masjid,  sang imam kebetulan  melantunkan  ayat-ayat yang biasa dipakai sebagai bacaan rukyah untuk mengusir jin-setan laknat.  Dus,  pada saat itulah tiba-tiba kurasakan bahwa  bacaan imam telah  berpengaruh luar biasa pada badan”,  kisah mas Mubarak dengan ekspresi kegirangan, ”Subhanallah wal  alhamdulillah,  sejak saat itu penyakit a’in yang menimpaku tiba-tiba menjauh dariku.  Sembuh”.

Itulah sekelumit peristiwa yang mas Mubarak pernah alami,   lelaki yang telah yang belasan tahun tinggal di tanah suci.,  terserang sakit akibat  tatapan mata alias a’in.   Semoga kisah nyata ini ,  senantiasa mengingatkan kami  untuk mentradisikan ucapan Masyaallah –  Baarakallah tatkala  dihadapkan pada ketakjuban pandangan netra yang kami miliki.

Selamat tinggal Makkah,  kami beranjak menuju Madinah.

Jarak Mekah – Madinah sekitar 425 km.  Telah tiga kali kami menapaki  jalanan ini,  dua kali di tahun 1997 dan sekali di tahun 2015.  Ditambah dengan yang terakhir pada Kamis,  4 April 2017 ini,  berarti saya telah empat kali menapaki  jalanan yang dahulu dilalui nabi.  Jika ditempuh dengan bis yang mengangkut jamaah hati, maka  rata-rata dibutuhkan waktu 6-8 jam.  Namun,  dengan mobil kecil  sewaan kami,  maka  jarak yang sama dapat dicapai sekitar 4-6 jam saja.

Beberapa waktu pasca Dzuhur,    sopir beretnis Asia Selatan (Pakistan ataukah India)  menjemput  untuk  mengantar kami.  ”Tatapannya dingin”,  kata Wawan ketika pertama kali  melihat wajah sang sopir.  ”Wajahnya mirip bintang film India”,  aku menimpali.  Dalam hati aku bahkan berkata,  ”sopir ini bahkan lebih cakep dibanding Sakh Rukh Khan dari segi tampangnya”.   Singkat kata,  berangkat dari Makkah sekitar jam 15.00 sampailah kami  di Madinah  di  sekitar jam 20.00 waktu Madinatun Nabi.   Assalamu ’alaikum Ya Rasulullah. Assalamu ’alaikum Ya Nabiyallah. Assalamu ’alaikum Ya Habiballah.***.

 

Maasya Allah – Baarokallah : Sepatu Sandal Hilang (Bagian 14)

Kamis,  4 April 2017 sang surya sudah bertengger di tengah mega.  Sinarnya memancar perkasa,  menghunjam seolah hendak mencengkeram sang buana.    Terik.  Panas.  Menyengat.  Itulah aura yang berpendar kurasa.  Kami telah bersiap meninggalkan Makkah.

Pagi  setelah sholat subuh.  kami langsung bertawaf Wada’ alias mengitari  Ka’bah sebagai tanda perpisahan,  lengkap  dengan doa – harapan  semoga dapat berkunjung kembali ke Baitullah – rumah tuhan.  Amin…

Tak ada jadwal khusus di hari terakhir di Makkah, kecuali hanya menemui seorang mahasiswa UEA yang kebetulan menjadi peserta simposium Persatuan Pelajar Mahasiswa (PPMI) se Timur Tengah,  yang beberapa hari sebelumnya dilaksanakan  di Madinah.  Kebetulan pada Kamis ini dia yang bernama Oebaidillah  sudah tinggal di Mekkah untuk menjalankan ibadah umrah.  Dengan didampingi seorang temannya asal Palestina bernama  Mahmud,  kami ajak  pria muda itu  sarapan bersama di Zamzam Tower, sembari  diskusi serius tentang  berbagai su sosiokultural dan ekonomi politik UEA,  tempat dia tinggal sejak SMP.

Suatu hal istimewa,  lelaki belia yang telah ”terpisah dari orang tua”   dan merantau di UEA  sejak lama,  ternyata tampilan dan gayanya tetap khas  merefleksikan sebagai pria Jawa.  Prilakunya tetap kalem dengan unggah-ungguh  berkarakter  sangat Jawa. Keistimewaan lain dari anak ini adalah : tutur kata dan  perilakunya tampak  sangat dewasa,  sebuah tampilan yang jauh lebih matang dibanding anak seusia termasuk mahasiswa-mahasiswa di Indonesia.

Sekali lagi,  Kamis ini  merupakan hari terakhir kami berada di Mekkah untuk segera menuju Madinah.  Satu kenangan tak terlupakan terkait Makkah adalah kisah dari mas Mubarak  terkait  alasan  dibalik   tulisan-tulisan yang banyak  tertera pada mobil-mobil di Mekkah:  Maasya Allah dan atau Baarokallah.  Konon,   ada sebuah kepercayaan di kalangan masyarakat sekitar tanah suci :  adalah  pantangan  dalam menyikapi  ketakjuban terhadap (kehebatan seseorang,  kecanggihan alat perlengkapan,  keindahan pemandangan)  dilakukan dengan cara nuansa takabur-ujub penuh kesombongan.  Ketakjuban pada sesuatu tak sepantasnya  diekspresikan  dalam wujud decak kagum atau bahkan ucapan wow,  sebuah perilaku yang diyakini dapat mendatangkan bencana,  baik pada diri yang melihat dan mengaguminya apatah lagi  pada obyek yang dikaguminya.  Hal terpantas untuk  dilakukan adalah dan hanyalah berucap:   Maasya Allah Baarakallah.  Perilaku ini bila  dilanggar,  dipercaya  secara kontan akan mendapatkan balasan:  barang yang dikaguminya  hilang, rusak ,  atau bahkan karenanya bisa mendapat celaka.

Mendengar dua kosa kata, ”pamer” dan ”kehilangan” kontan kami terpana, bahkan akhirnya  tertawa. Yah…tertawa bersama,  mentertawakan peristiwa yang kami alami sebelumnya . Kontan  pikiran kami melayang pada hilangnya sepatu sandal  ketika Umroh  di hari pertama,  ketika  masuk Masjidil Haram di waktu perdana. Wawan kehilangan sandal jepit yang dibeli di bandara Soekarno Hatta. Saya kehilangan sepatu sandal yang dibeli di Ramayana khusus untuk  persiapan ke Saudi Arabia.  Sepatu sandal sempat kupakai dan kupamerkan pada tim satu hari sebelum berangkat ke Saudi.  Fakhry  sang koordinator bahkan terprofokasi akibat pamer vulgar ini, sehingga dia  akhirnya ikut beli. Walhasil,  hilangnya sepatu sandal yang kumiliki, akhirnya dikaitkan-kaitkan dengan peristiwa ”pamer”  tadi..

Wallahu a’lam,  entah ada kaitan atau tidak,  tetapi yang pasti,  peristiwa itu terjadi akibat kami  karena kurang antisipasi , kurang hati-hati.  Kami terlalu percaya pada  sang pemandu ”yang ternyata kurang berpengalaman”  pada medan Makkah,  sebab mas Izdihar memang mahasiswa di unibersitas  Madinah. He..he…,  maaf Izdihar,  sang  pemandu…

Ketika hendak  berangkat ke masjidil haram  sebenarnya saya bermaksud  –bahkan menganjurkan teman lain—untuk membawa tas guna mengantongi sandal-sepatu kami.  Kala itulah mas Izdihar berkata dengan penuh keyakinan, ”tak perlu bawa tas untuk sandal,  sebab di masjid telah disediakan plastik untuk buntal”.

Saya sebenarnya agak ragu di hati,  sebab  pengalaman dua kali  berkunjung ke tanah suci,  masjid  di Makkah tak pernah menyediakan plastik untuk jamaah haji.  Mekah memang  berbeda dibanding Madinah,  ketika saya berkunjung pertama kali di  tahun 1997 untuk berhaji,  kantong plastik memang senantiasa disediakan gratis  di sekitar pintu masuk masjid Nabawi. ”Mungkin saat ini kebijakannya  sudah sama, bukan hanya Madinah,  di Makkah juga disediakan kantong plastik gratis untuk jamaah”,  gumam hatiku setengah yakin.

Lhadalah,  begitu sampai masjidil haram ternyata plastik tetap tak ada,  sehingga Iztihar  sang pemandu setengah bingung mencarinya. Singkat kata,  dugaanku ternyata lebih tepat,  dan sang pemandu ternyata  tak tahu kebijakan masjid setempat. He..he.. maaf mas Istihar. Tapi.. apa boleh buat,   kita terpaksa pasrah bulat-bulat.  Walhasil, kepasrahan ini ternyata mengantarkan sandal-sandal kami terselip tak bisa dicari.

Dus,  peristiwa ini telah menjadi kesalahan kedua saya,   akibat tpta;  percaya pada sang pemandu kita.  Pertama,   kami terlalu percaya pada informasi mas Ferly  –yang mengatur mengurusi seluruh  proses perjalanan kami– bahwa sebagian besar jamaah umrah telah berbusana Ihram dari Malaysia.  Akibat mengikuti saran ini,  kami dibuat serba keki sebab  ternyata hanya kami (dan beberapa gelintir orang lainnya lagi)  yang terlanjur berkain ihram dari negeri jiran ini.  He..he…apa kabar mas Ferly ?.

Kedua, terkait soal  plastik dan sandal tadi.  Ketika  berhaji di  tahun 1997,  saya juga sempat  “kehilangan” sandal jepit di hari pertama.  Pengalaman ini menjadi guru berharga,  sehingga di hari-hari berikutnya selalu bawa tas untuk menyimpan  sandal dan berbagai keperluan lain di dalamnya.  Melalui ikhtiar inilah,  maka  selama puluhan hari di tanah suci,  baik di tahun 1997 maupun 2015,   saya tak pernah kehilangan sandal lagi,  kecuali kedatangan di  tahun 2017 akibat terlalu percaya pada  sang pemandu tadi..

Hilang sandal di tanah suci ?  Sebenarnya bukan hilang, tetapi ketlisut  dalam lautan  jutaan orang. Nah, untuk mencegah ketlingsutan ini,  kita tak boleh tawakal berserah diri namun  tanpa usaha mencegah  menghindari.  Ketika Nabi SAW mendapati sahabatnya membiarkan onta dilepas begitu saja,  beliau langsung menegurnya, “kenapa tak diikat  anda punya onta ?.  Sahabat itu menjawab, “saya berserah diri pada Allah”.  Kontan  nabi menimpali, “Ikatlah dulu onta yang kau miliki,  setelah itu baru bertawakal pada Ilahi”.

Singkat kata,  pertama,  pada pemandu kita memang harus percaya, namun sifatnya tidak  bulat-bulat apalagi sampai  bertentangan dengan logika,  Kedua,  jadikan pengalaman pribadi  sebagai guru berharga bagi diri sendiri.  Ketiga,  perilaku tawakal hendaknya didului  dengan usaha pada awal. ***

Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Masjid Ar Raj’i (Bagian 13)

Mentari masih menggantang di tengah-tengah tanah suci.  Panas menyengat  menjebak kami pada lingkaran  penat.  Gerah membuncah  menggiring kami  pada  kondisi serba  lelah.  Meski demikian  perjalanan terus dilanjutkan,  kali ini wilayah Armina : Arofah – Mudzalifah – Mina sebagai tujuan.  Tak ada sesuatu istimewa dari Armina yang  patut diungkapkan dalam sebuah tulisan,  sebab  lokasi  ini bagi  jamaah  Umrah – Haji  memang lazim dijadikan  fokus kunjungan.  Bagi  kaum berhaji  lokasi ini bahkan menjadi bagian  utama dalam prosesi peribadatan.  Hanya satu keistimewaan yang kudapat dari kunjungan di hari ini, yakni:  saya bisa melihat berbagai lokasi dalam situasi sepi.  Saya bisa memandang  semua tempat  dari berbagai sudut ketinggian selama masih dalam jangkau kemampuan.

Namun,  ada satu obyek kunjungan yang patut saya sampikan, yakni: kami juga diajak mengunjungi masjid terbesar kedua di Makkah pasca Masjidil Haram, yakni masjid Ar Raj’i.  Nah,  di lokasi  wakaf dari seorang bankir super kaya  Saudi inilah saya sempat berhenti,  menikmati  keindahan dan keanggunan arsitektur masjid  yang luar biasa untuk ukuran bangunan yang dibiayai oleh kantong pribadi.

Sesuai dengan namanya,  masjid ini memang dibangun seorang banker terbesar di Arab Saudi,  Sulaiman Ar Raj’i.. SIAPA  SULAYMAN AR RAJ’I  ? Nama aslinya adalah Skehikh sulaiman bin Abdul Aziz Al Rajhi,  seorang  milyader  Arab Saudi  dengan kekayaan 7,7 milyar dollar AS yang menjadikannya sebagai orang terkaya ke 36 di dunia Arab,  menjadi orang terkaya ke 120 di dunia versi majalah Forbes di tahun 2011. Lelaki yang tinggal di Jeddah ini hanyalah seorang lulusan SD.  Namun  ia barhasil menjadi Chairman pada national Agricultural Development Company (NADEC).

Sulaiman al Rajhi lahir di al Bukairiyah di provinsi Al Qassim,  dan tumbuh besar di wilayah padang pasir Nejd.  Dia bersama  saudaranya Saleh memulai bisnis dengan “menyewakan”  karavan onta untuk  perjalanan menerobos padang pasir untuk  menuju  Mekah dan Madinah  bagi jamaah haji. Sejak tahun 1957 dua bersaudara ini mendirikan perusahaan Tadawul.  Bersama Saleh pula ia mendirikan perusahaan jasa keuangan bernama  Al Rajhi . Perusahaan ini berkembang pesat seiring dengan membanjirnya para pekerja migran seiring dengan oil boom di Arab Saudi sejak 1970an.   Al Rajhi inilah yang membantu menyimpan dan mengirimkan  uang para pekerja ke berbagai negara asalnya.  Sejak tahun 1983,  Bank Al Rajhi diberi ijin sebagai bank Islam pertama di Arab Saudi.  Al Rajhi saat ini menjadi bank terbesar di Arab Saudi,  bahkan menjadi bank Islam dengan modal  terbesar di tahun 2015.  Bank  yang berpusat di Riyadh dengan total jumlah pegawai mencapai 9.600 orang ini,  total asetnya mencapai 316 milyar real (2015). Bank dengan jumlah cabang mencapai 600 buah,  termasuk di Kuwait, Yordania,  dan konon  ada sebuah cabang pembantu di Malaysia (sejak 2006) bahkan kini konon telah mencapai 25 caban..

Selain  berbisnis di sektor keuangan,  Sulaiman Ar Rajhi juga masuk ke sektor peternakan dan pertanian. Ar Rajhi  menggelontorkan 250 juta US dollar untuk berusaha di bidang pertanian organik,  yang menjamin masyarakat Saudi dan para Jamaah haji  memamakan makanan yang bebas dari kimia berbahaya.  Perusahaan pertanian yang diluncurkan sejak 1982 ini telah menjadi salah satu perusahaan  pertanian terkemuka di Arab Saudi.   Perusahaan ini memiliki ladang pertanian di  berbagai wilayah di utara,  tengah,  dan selatan Arab Saudi.

Adapun Pelibatan diri di sektor peternakan dilakukan setelah beliau berkunjung dan melihat sendiri porses peternakan di luar negeri yang prosesnya menurut dia salah dari segi syariah.  Dari pengamatan inilah akhirnya beliau membangun pusat peternakan Ayam al Watania di Bandar Qassim, Arab Saudi.  Peternakan ayam ini diberi makan dengan sempurna dan disembelih secara haal mengikuti aturan Syariah.   Kini,  al Wataniah berhasil  memperoduksi setengah  juta ayam plus satu juta telur setiap hari,  bahkan menguasai 40 persen pasaran di Arab Saudi  dan menjadi  peternakan terbesar di Timur Tengah.

Untuk membantu peningkatan SDM Saudi,  Al Rajhi juga telah mendirikan Universitas Sulaiman Al Rajhi yang terutama menangani sektor kesehatan dan perbankan Islam,  untuk memenuhi kebutuhan lokal.  Amal sumbangan pria ini sungguh luar biasa.  Pernah suatu kali ia beramal dengan memberi makan  pada hampir 3 juta jamaat haji  yang wukuf di Arafah.  Ia tidak cukup menggelontorkan uang saja,  tetapi dia juga turun aktif bersama dengan 800 juru masak dalam penyediaan  hidangan.  Subnahallah.   Pria super kaya inilah  yang pada tahun 2011 mewariskan sebagian kekayaannya kepada anak-anaknya,  dan sebagian besar lainnya justru  diberikan kepada badan-badan amal dan kebajikan.

Nah,  karena kiprah yang luar biasa,  maka selama di tanah suci nama Ar Raj’i  tentu menjadi tidak terlalu asing lagi.  Sebab,  ketika  jamaah umrah – haji mau membayar dam/denda  (juga  membeli hewan Qur’ban)  maka  prosesi bisa dilakukan di bank Ar Raj’i  yang dimiliki sulayman Ar Raj’i tadi. Hewan apa yang hendak kita kurbankan,  kita cukup mengisi formulis dan membayar sesuai dengan daftar harga  standar  yang telah ditentukan. Melalui Ar Raj’i ini jama’ah dari berbagai negara tak perlu pusing tujuh keliling untuk melakukan prosessi dam/denda (umroh – haji) maupun kurban (haji) karena uang yang disalurkan akan disampaikan kepada lembaga berwenang terkait prosesi penyembelihan dam dan qurban.  Itulah salah satu peran sentral Ar-Raj’i dalam memfasilitasi Jama’ah Umroh dan Haji.

Ar Raj’i juga punya peran signifikan dalam menyediakan mesin ATM di berbagai sudut di kota Makkah dan Madinah. Jamaah dari berbagai negara di era sekarang tak perlu membawa uang cash dari masing-masing negara,  tetapi cukup membawa kartu debet untuk menarik  uang cash langsung dalam bentuk Real Saudi.  Walhasil,  jika dahulu  setiap jamaah Haji dan Umroh harus menukar di berbagai money changer dengan  nilai tukar berbeda-beda, maka  melalui ATM  Ar Raj’i kita  mendapatkan standard harga yang baku alias sama.

Pada musim haji  tahun 1997,  pelayanan Ar Raj’i  memang belum sempat  saya rasakan,  mungkin karena keterbatasan informasi yang saya dapatkan.  Namun,   sejak  musim haji tahun 2015 saya telah memanfaatkan pelayanan dari bank Ar Raj’i,  dan kuulangi lagi  pada umroh di tahun 2017 ini.  Terima kasih Ar Raj’i,  pelayanan mu telah membantu jamaah Umrah – Haji termasuk kami.  Jazakallah Khoiron  katsiiron. ***

 

Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Gua Tsur yang Melegenda (Bagian 12)

Panas menyengat kulit. Gerah menggigit pori-pori.   Kami bersegera  meninggalkan Ma’la lokasi  peristirahatan terakhir  ummul mu’minin Siti Khadidjah Binti Khuwailid,  mendiang  istri pertama dan utama dari baginda Rasulullah SAW.

Singkat kata,  dengan kendaraan sewa,  akhirnya sampailah kami  di  sebuah bukit  yang terkenal sebagai lokasi  Goa Tsur.  Dahulu,  di tahun 1997 saya sudah berkunjung ke lokasi ini,  dan baru  di tahun 2017 ini saya  singgah kembali. Jika pada kunjungan pertama lokasi bukit Tsur masih berada di tengah padang pasir Gersang,  maka pada 20 tahun berikutnya telah terdapat banyak pemukiman telah mengelilinginya.  Jika jaman dahulu mobil  yang mengantarkan kami dapat lalu lalang dengan leluasa,  maka  pada saat ini untuk mencari lokasi parkir saja agak kesusahan.  Itulah perkembangan  yang hanya selisih dua dekade saja lamanya.

Di Goa Tsur inilah dahulu Rosulullah sempat  bersembunyi dari  kejaran pasukan kafir Quraisy yang hendak membunuhnya ketika nabi  melakukan perjalanan hijrah dari Mekkah hendak menuju Madinah.

Banyak cerita menarik terkait dengan kisah Tsur,  beberapa di antara adalah :

(1). Persembunyian Tsur memang sudah direncanakan secara matang oleh Nabi beserta keluarga Abu Bakar.  Selama bersembunyi,  Abdullah bin Abu Bakar ditugaskan untuk menggembala  ternak di lokasi ini,  sehingga putra Abu Bakar ini dapat memantau keamanan di sekelilingnya.  Bahkan,  salah seorang putri Abu Bakar yang konon sedang hamil besar,  dapat tugas pula untuk mengantar konsumsi sekaligus menjadi telik sandi seputar informasi apa saja  yang sedang berkembang di kota Makkah. Sungguh luar biasa peran Sayyidina  Abu Bakar beserta putra-putrinya dalam proses hijrah sembunyi-sembunyi sang nabi utusan Ilahi.

(2). Ketika bersembunyi dalam goa, sauatu hari  muncul kepala ular  dari sebuah lobang. Karena ular itu dianggap mengancam  keselamatan nabi, dan demi menjaga keselamatan rosulullah SAW,  Abu Bakar Assidiq –satu-satunya orang yang menyertai hijrahnya Nabi SAW—menyumbatkan jempol kakinya ke lobang  ular.  Abu Bakar menahan sakit yang luar biasa akibat digigit ular,  bahkan sampai meneteskan keringat dari keningnya.  Nabi  yang sedang istirahat  merebahkan badan dengan kepala persandar pada paha sahabatnya  itu, akhirnya terbangun akibat tetesan keringat dari Abu Bakar.  Walhasil,  demi mengetahui sahabatnya kesakitan akibat digigit ular,  nabi SAW konon segera mengobatinya dengan cukup mengulum jempol tangannya lantas ditempelkan pada luka,  sehingga Abu Bakar langsung sembuh seperti sedia kala.

(3). Ketika nabi dan Abu Bakar  telah di dalam goa,  seekor laba-laba segera merajut membuat rumah di mulut goa.  Berikutnya,  seekor  burung merpati pun segera membuat sarang sekaligus bertelur  di lokasi yang sama.  Syahdan para pemburu ahli yang hendak membunuh Nabi sudah sampai di depan mulut goa.  Abu Bakar  sempat gemetaran takut ketahuan,  sehingga nabi SAW sampai perlu menenangkan melalui sebuah ucapan: La tahzan innallaha ma’ana:  jangan kuatir sesungguhnya Allah menyertai kita. Singkat kata,  akibat keberadaan sarang laba-laba dan  sarang merpati di mulut goa inilah,  maka para pemburu yang dikirimkan kafir Quraisy  untuk mengejar nabi akhirnya terkecoh karena meyakini tidak mungkin di dalam goa ada penghuninya.

Mungkin akibat jasa luar biasa dari sang burung merpati dalam prosesi hijrah Nabi,  maka berbagai lokasi di  dua tanah suci  sang burung dara dibiarkan beranak pinak  sampai  banyak sekali.  Hal yang sama  terdapat pula di bukit Tsur ini.   Mereka hidup bebas tanpa gangguan. Mereka terbang ke sana kemari  tanpa merasa ada ancaman.  Bahkan, para jamaah umroh – haji yang beribadah ke tanah suci terbiasa memberi makanan  pada sang merpati,  yang eksistensinya telah melegenda sejak era Nabi.

”Burung dara di bukit Tsur ini konon dipercaya sebagai keturunan langsung merpati  yang dahulu berjasa pada Nabi”,  jelas mas Mubarak pada kami.

”Kalau yang berada di tengah kota Makkah dan Madinah,  apakah  mereka juga berasal dari satu trah?,  tanyaku penasaran.

”Bisa juga terjadi,  asal usul mereka juga diambilkan dari lokasi ini”,  jawab mas Mubarak tidak pasti.

Namun demikian penjelasan tak pasti ini membuat temanku Nostalgiawan Wahyudi terbelalak dalam imajinasi.  Maklum,  Wawan sedari kecil katanya memang hobi untuk  bermain dengan merpati,  sebuah hobi yang sampai kini katanya diwariskan pada anak-anaknya terutama yang lelaki. Bahkan,  karena hobi ini pula,  hampir setiap kali pulang dari  Masjidil Haram ia menyempatkan diri bercengkerama dengan para merpati. ”Hanya dengan makanan berada dalam genggaman, niscaya  merpati  akan  mendekati dalam jumlah puluhan.  Subhanallah…”,  ungkapnya girang,  setiap kali menceritakan dia punya pengalaman.

Khusus tentang merpati di sekitar bukit Tsur,  Wawan bahkan menumpahkan sejuta imajinasi. ”Seandainya saya bisa bawa pulang merpati dari lokasi ini,  niscaya turunannya akan   menjadi hewan istimewa yang harganya pasti melambung tinggi” katanya berimajinasi, ”sebab keberadaan mereka akan senantiasa dikaitkan dengan  sesuatu yang melegenda”.  Tentu saja imajinasi temanku yang satu ini  sangat sulit direalisasikan.  Artinya,  harapan ini untuk sementara  hanya sebatas bersarang sebagai hayalan.  Alasan yang paling rasional adalah:  izin”migrasi” hewan dari satu negara ke negara bukan sesuatu yang sederhana,  karena harus melalui  jalur imigrasi yang rumit khususnya terkait prosedur karantina dan lain sebagainya. ***