Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Masjid Ar Raj’i (Bagian 13)

Mentari masih menggantang di tengah-tengah tanah suci.  Panas menyengat  menjebak kami pada lingkaran  penat.  Gerah membuncah  menggiring kami  pada  kondisi serba  lelah.  Meski demikian  perjalanan terus dilanjutkan,  kali ini wilayah Armina : Arofah – Mudzalifah – Mina sebagai tujuan.  Tak ada sesuatu istimewa dari Armina yang  patut diungkapkan dalam sebuah tulisan,  sebab  lokasi  ini bagi  jamaah  Umrah – Haji  memang lazim dijadikan  fokus kunjungan.  Bagi  kaum berhaji  lokasi ini bahkan menjadi bagian  utama dalam prosesi peribadatan.  Hanya satu keistimewaan yang kudapat dari kunjungan di hari ini, yakni:  saya bisa melihat berbagai lokasi dalam situasi sepi.  Saya bisa memandang  semua tempat  dari berbagai sudut ketinggian selama masih dalam jangkau kemampuan.

Namun,  ada satu obyek kunjungan yang patut saya sampikan, yakni: kami juga diajak mengunjungi masjid terbesar kedua di Makkah pasca Masjidil Haram, yakni masjid Ar Raj’i.  Nah,  di lokasi  wakaf dari seorang bankir super kaya  Saudi inilah saya sempat berhenti,  menikmati  keindahan dan keanggunan arsitektur masjid  yang luar biasa untuk ukuran bangunan yang dibiayai oleh kantong pribadi.

Sesuai dengan namanya,  masjid ini memang dibangun seorang banker terbesar di Arab Saudi,  Sulaiman Ar Raj’i.. SIAPA  SULAYMAN AR RAJ’I  ? Nama aslinya adalah Skehikh sulaiman bin Abdul Aziz Al Rajhi,  seorang  milyader  Arab Saudi  dengan kekayaan 7,7 milyar dollar AS yang menjadikannya sebagai orang terkaya ke 36 di dunia Arab,  menjadi orang terkaya ke 120 di dunia versi majalah Forbes di tahun 2011. Lelaki yang tinggal di Jeddah ini hanyalah seorang lulusan SD.  Namun  ia barhasil menjadi Chairman pada national Agricultural Development Company (NADEC).

Sulaiman al Rajhi lahir di al Bukairiyah di provinsi Al Qassim,  dan tumbuh besar di wilayah padang pasir Nejd.  Dia bersama  saudaranya Saleh memulai bisnis dengan “menyewakan”  karavan onta untuk  perjalanan menerobos padang pasir untuk  menuju  Mekah dan Madinah  bagi jamaah haji. Sejak tahun 1957 dua bersaudara ini mendirikan perusahaan Tadawul.  Bersama Saleh pula ia mendirikan perusahaan jasa keuangan bernama  Al Rajhi . Perusahaan ini berkembang pesat seiring dengan membanjirnya para pekerja migran seiring dengan oil boom di Arab Saudi sejak 1970an.   Al Rajhi inilah yang membantu menyimpan dan mengirimkan  uang para pekerja ke berbagai negara asalnya.  Sejak tahun 1983,  Bank Al Rajhi diberi ijin sebagai bank Islam pertama di Arab Saudi.  Al Rajhi saat ini menjadi bank terbesar di Arab Saudi,  bahkan menjadi bank Islam dengan modal  terbesar di tahun 2015.  Bank  yang berpusat di Riyadh dengan total jumlah pegawai mencapai 9.600 orang ini,  total asetnya mencapai 316 milyar real (2015). Bank dengan jumlah cabang mencapai 600 buah,  termasuk di Kuwait, Yordania,  dan konon  ada sebuah cabang pembantu di Malaysia (sejak 2006) bahkan kini konon telah mencapai 25 caban..

Selain  berbisnis di sektor keuangan,  Sulaiman Ar Rajhi juga masuk ke sektor peternakan dan pertanian. Ar Rajhi  menggelontorkan 250 juta US dollar untuk berusaha di bidang pertanian organik,  yang menjamin masyarakat Saudi dan para Jamaah haji  memamakan makanan yang bebas dari kimia berbahaya.  Perusahaan pertanian yang diluncurkan sejak 1982 ini telah menjadi salah satu perusahaan  pertanian terkemuka di Arab Saudi.   Perusahaan ini memiliki ladang pertanian di  berbagai wilayah di utara,  tengah,  dan selatan Arab Saudi.

Adapun Pelibatan diri di sektor peternakan dilakukan setelah beliau berkunjung dan melihat sendiri porses peternakan di luar negeri yang prosesnya menurut dia salah dari segi syariah.  Dari pengamatan inilah akhirnya beliau membangun pusat peternakan Ayam al Watania di Bandar Qassim, Arab Saudi.  Peternakan ayam ini diberi makan dengan sempurna dan disembelih secara haal mengikuti aturan Syariah.   Kini,  al Wataniah berhasil  memperoduksi setengah  juta ayam plus satu juta telur setiap hari,  bahkan menguasai 40 persen pasaran di Arab Saudi  dan menjadi  peternakan terbesar di Timur Tengah.

Untuk membantu peningkatan SDM Saudi,  Al Rajhi juga telah mendirikan Universitas Sulaiman Al Rajhi yang terutama menangani sektor kesehatan dan perbankan Islam,  untuk memenuhi kebutuhan lokal.  Amal sumbangan pria ini sungguh luar biasa.  Pernah suatu kali ia beramal dengan memberi makan  pada hampir 3 juta jamaat haji  yang wukuf di Arafah.  Ia tidak cukup menggelontorkan uang saja,  tetapi dia juga turun aktif bersama dengan 800 juru masak dalam penyediaan  hidangan.  Subnahallah.   Pria super kaya inilah  yang pada tahun 2011 mewariskan sebagian kekayaannya kepada anak-anaknya,  dan sebagian besar lainnya justru  diberikan kepada badan-badan amal dan kebajikan.

Nah,  karena kiprah yang luar biasa,  maka selama di tanah suci nama Ar Raj’i  tentu menjadi tidak terlalu asing lagi.  Sebab,  ketika  jamaah umrah – haji mau membayar dam/denda  (juga  membeli hewan Qur’ban)  maka  prosesi bisa dilakukan di bank Ar Raj’i  yang dimiliki sulayman Ar Raj’i tadi. Hewan apa yang hendak kita kurbankan,  kita cukup mengisi formulis dan membayar sesuai dengan daftar harga  standar  yang telah ditentukan. Melalui Ar Raj’i ini jama’ah dari berbagai negara tak perlu pusing tujuh keliling untuk melakukan prosessi dam/denda (umroh – haji) maupun kurban (haji) karena uang yang disalurkan akan disampaikan kepada lembaga berwenang terkait prosesi penyembelihan dam dan qurban.  Itulah salah satu peran sentral Ar-Raj’i dalam memfasilitasi Jama’ah Umroh dan Haji.

Ar Raj’i juga punya peran signifikan dalam menyediakan mesin ATM di berbagai sudut di kota Makkah dan Madinah. Jamaah dari berbagai negara di era sekarang tak perlu membawa uang cash dari masing-masing negara,  tetapi cukup membawa kartu debet untuk menarik  uang cash langsung dalam bentuk Real Saudi.  Walhasil,  jika dahulu  setiap jamaah Haji dan Umroh harus menukar di berbagai money changer dengan  nilai tukar berbeda-beda, maka  melalui ATM  Ar Raj’i kita  mendapatkan standard harga yang baku alias sama.

Pada musim haji  tahun 1997,  pelayanan Ar Raj’i  memang belum sempat  saya rasakan,  mungkin karena keterbatasan informasi yang saya dapatkan.  Namun,   sejak  musim haji tahun 2015 saya telah memanfaatkan pelayanan dari bank Ar Raj’i,  dan kuulangi lagi  pada umroh di tahun 2017 ini.  Terima kasih Ar Raj’i,  pelayanan mu telah membantu jamaah Umrah – Haji termasuk kami.  Jazakallah Khoiron  katsiiron. ***

 

Iklan

Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Gua Tsur yang Melegenda (Bagian 12)

Panas menyengat kulit. Gerah menggigit pori-pori.   Kami bersegera  meninggalkan Ma’la lokasi  peristirahatan terakhir  ummul mu’minin Siti Khadidjah Binti Khuwailid,  mendiang  istri pertama dan utama dari baginda Rasulullah SAW.

Singkat kata,  dengan kendaraan sewa,  akhirnya sampailah kami  di  sebuah bukit  yang terkenal sebagai lokasi  Goa Tsur.  Dahulu,  di tahun 1997 saya sudah berkunjung ke lokasi ini,  dan baru  di tahun 2017 ini saya  singgah kembali. Jika pada kunjungan pertama lokasi bukit Tsur masih berada di tengah padang pasir Gersang,  maka pada 20 tahun berikutnya telah terdapat banyak pemukiman telah mengelilinginya.  Jika jaman dahulu mobil  yang mengantarkan kami dapat lalu lalang dengan leluasa,  maka  pada saat ini untuk mencari lokasi parkir saja agak kesusahan.  Itulah perkembangan  yang hanya selisih dua dekade saja lamanya.

Di Goa Tsur inilah dahulu Rosulullah sempat  bersembunyi dari  kejaran pasukan kafir Quraisy yang hendak membunuhnya ketika nabi  melakukan perjalanan hijrah dari Mekkah hendak menuju Madinah.

Banyak cerita menarik terkait dengan kisah Tsur,  beberapa di antara adalah :

(1). Persembunyian Tsur memang sudah direncanakan secara matang oleh Nabi beserta keluarga Abu Bakar.  Selama bersembunyi,  Abdullah bin Abu Bakar ditugaskan untuk menggembala  ternak di lokasi ini,  sehingga putra Abu Bakar ini dapat memantau keamanan di sekelilingnya.  Bahkan,  salah seorang putri Abu Bakar yang konon sedang hamil besar,  dapat tugas pula untuk mengantar konsumsi sekaligus menjadi telik sandi seputar informasi apa saja  yang sedang berkembang di kota Makkah. Sungguh luar biasa peran Sayyidina  Abu Bakar beserta putra-putrinya dalam proses hijrah sembunyi-sembunyi sang nabi utusan Ilahi.

(2). Ketika bersembunyi dalam goa, sauatu hari  muncul kepala ular  dari sebuah lobang. Karena ular itu dianggap mengancam  keselamatan nabi, dan demi menjaga keselamatan rosulullah SAW,  Abu Bakar Assidiq –satu-satunya orang yang menyertai hijrahnya Nabi SAW—menyumbatkan jempol kakinya ke lobang  ular.  Abu Bakar menahan sakit yang luar biasa akibat digigit ular,  bahkan sampai meneteskan keringat dari keningnya.  Nabi  yang sedang istirahat  merebahkan badan dengan kepala persandar pada paha sahabatnya  itu, akhirnya terbangun akibat tetesan keringat dari Abu Bakar.  Walhasil,  demi mengetahui sahabatnya kesakitan akibat digigit ular,  nabi SAW konon segera mengobatinya dengan cukup mengulum jempol tangannya lantas ditempelkan pada luka,  sehingga Abu Bakar langsung sembuh seperti sedia kala.

(3). Ketika nabi dan Abu Bakar  telah di dalam goa,  seekor laba-laba segera merajut membuat rumah di mulut goa.  Berikutnya,  seekor  burung merpati pun segera membuat sarang sekaligus bertelur  di lokasi yang sama.  Syahdan para pemburu ahli yang hendak membunuh Nabi sudah sampai di depan mulut goa.  Abu Bakar  sempat gemetaran takut ketahuan,  sehingga nabi SAW sampai perlu menenangkan melalui sebuah ucapan: La tahzan innallaha ma’ana:  jangan kuatir sesungguhnya Allah menyertai kita. Singkat kata,  akibat keberadaan sarang laba-laba dan  sarang merpati di mulut goa inilah,  maka para pemburu yang dikirimkan kafir Quraisy  untuk mengejar nabi akhirnya terkecoh karena meyakini tidak mungkin di dalam goa ada penghuninya.

Mungkin akibat jasa luar biasa dari sang burung merpati dalam prosesi hijrah Nabi,  maka berbagai lokasi di  dua tanah suci  sang burung dara dibiarkan beranak pinak  sampai  banyak sekali.  Hal yang sama  terdapat pula di bukit Tsur ini.   Mereka hidup bebas tanpa gangguan. Mereka terbang ke sana kemari  tanpa merasa ada ancaman.  Bahkan, para jamaah umroh – haji yang beribadah ke tanah suci terbiasa memberi makanan  pada sang merpati,  yang eksistensinya telah melegenda sejak era Nabi.

”Burung dara di bukit Tsur ini konon dipercaya sebagai keturunan langsung merpati  yang dahulu berjasa pada Nabi”,  jelas mas Mubarak pada kami.

”Kalau yang berada di tengah kota Makkah dan Madinah,  apakah  mereka juga berasal dari satu trah?,  tanyaku penasaran.

”Bisa juga terjadi,  asal usul mereka juga diambilkan dari lokasi ini”,  jawab mas Mubarak tidak pasti.

Namun demikian penjelasan tak pasti ini membuat temanku Nostalgiawan Wahyudi terbelalak dalam imajinasi.  Maklum,  Wawan sedari kecil katanya memang hobi untuk  bermain dengan merpati,  sebuah hobi yang sampai kini katanya diwariskan pada anak-anaknya terutama yang lelaki. Bahkan,  karena hobi ini pula,  hampir setiap kali pulang dari  Masjidil Haram ia menyempatkan diri bercengkerama dengan para merpati. ”Hanya dengan makanan berada dalam genggaman, niscaya  merpati  akan  mendekati dalam jumlah puluhan.  Subhanallah…”,  ungkapnya girang,  setiap kali menceritakan dia punya pengalaman.

Khusus tentang merpati di sekitar bukit Tsur,  Wawan bahkan menumpahkan sejuta imajinasi. ”Seandainya saya bisa bawa pulang merpati dari lokasi ini,  niscaya turunannya akan   menjadi hewan istimewa yang harganya pasti melambung tinggi” katanya berimajinasi, ”sebab keberadaan mereka akan senantiasa dikaitkan dengan  sesuatu yang melegenda”.  Tentu saja imajinasi temanku yang satu ini  sangat sulit direalisasikan.  Artinya,  harapan ini untuk sementara  hanya sebatas bersarang sebagai hayalan.  Alasan yang paling rasional adalah:  izin”migrasi” hewan dari satu negara ke negara bukan sesuatu yang sederhana,  karena harus melalui  jalur imigrasi yang rumit khususnya terkait prosedur karantina dan lain sebagainya. ***

Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Perkampungan Purba (Bagian 11)

Rabo tanggal 4 April pagi,  kami  sudah berdandan rapi.  Kulihat  Mas Hamdan  ceria mukanya.  Demikian juga Wawan, menyungging  seberkas senyum  di sudut bibirnya.  Adapun Fakhry   matanya berbinar-binar  menunjukkan tanda  bahagia.  Saya sendiri sedang merasakan  selaksa bahagia  kini  sedang berkuasa  di hati dan pikiran  saya.

Rabo  ini jadwal kegiatan kami adalah melakukan kunjungan ke berbagai pusat Peradaban Islam. Dalam prosesi para jamaah haji,  acara semacam ini biasa disebut  ”City Tour”. Namun,  realitas yang kami jalankan secara substansi sangat berbeda sekali,  sebab kami berusaha menangkap esensi historis dari lokasi,  esensi kultural dari tempat-tempat yang kami kunjungi.  Apalagi,  berbeda dari jamaah haji dan umrah yang biasa ditambah dengan kunjungan ke laut merah  dan sentra perdangan Abadi di Jeddah,  maka  kunjungan ini sama sekali tak tercakup di dalamnya.

Kami hanya berputar di sekitar Makkah,  mulai dari pemakaman umum Ma’la,  lokasi Gua Tsur tempat bersembunyi nabi ketika berhijrah,  serta yang  pasti tak ketinggalan adalah  Armina (Arafah, Mudzalifah dan Mina) yang terkait ibadah haji. Lokasi ini memang agak umum dikunjungi,  namun alhamdulillah kami disertai seorang kandidat Doktor asal Indonesia  bernama mas Mubarak Ainul Yaqin Lc. MA.  Melalui belialuh berbagai informasi di luar mainstream berhasil kami dapatkan,  sehingga menambah banyak informasi terkait  catatan selama perjalanan – penelitian.

Mengawali  dari kawasan Misfalla,  yakni lokasi  hotel   Nawarat Al-Shams tempat kami menginap,  kami beranjak  menyusuri jalan Ibrahim Al Khalil,  yang jika terus berjalan niscaya akan sampai pada  wilayah yang disebut Ma’la. ”Tiga kawasan ini merupakan  cikal bakal dari kota Makkah”,  kata mas Mubarrok mengawali penjelasannya, ”Misfalla dan Ma’la merupakan kawasan yang telah terbentuk di jaman Ibrahim”.

Misfalla  sebagaimana akar katanya bermakna rendah-bawah. Dia berakar dari kata sufla artinya bawah, yang bisa dikembangkan menjadi kata asfal (paling bawah).  Dapat dipahami jika bahan pembuatan jalan raya biasa kita kenal dengan kata aspal,  karena untuk dibawah, untuk diinjak-injak manusia maupun mobil.  Misfalla memang  merupakan dataran rendah.  Dataran rendah inilah,  sejak jaman nabi Ibrahim  telah dijadikan sebagai  kawasan pemukiman.

Adapun Ma’la sebagaimana akar katanya berarti atas-tinggi.  Dia berasal dari kata ’ala artinya di atas, yang biasa dikembangkan menjadi kata ’ulya (tertinggi).   Ma’la memang berwujud dataran tinggi.  Dataran tinggi ini  sejak jaman Ibrahim sengaja dijadikan kawasan pekuburan,  karena ternyata di lokasi ini terdapat pasir dan atau tanah yang dapat mempercepat pembusukan,  sebagai proses awal untuk menjadi tanah.  Dengan demikian lokasi Ma’la yang dikenal sebagai lokasi pemakaman umum,  sebagai tempat yang  terkenal untuk pekuburan para jamaah haji selama di Makkah,  keberadaannya bukan baru,  melainkan telah bersifat purba.

Wilayah Misfalla dan Ma’la  dihubungkan oleh sebuah jalan raya  yang kini  dikenal sebagai  Syaari’  Ibrahim AlKhalil.  Eksistensi  jalan ini juga bersifat sangat lampau,  sama tuanya dengan kedua wilayah yang dihubungkannya.  Bahkan,  nama jalan itupun diambilkan  dari nama nabi Ibrahim   A.S.  Bapak  dari para nabi sebagai pelopor pendatang di  tanah  Makkah (Bakkata mubarokun) ini  bergelar  al Khalil,  sehingga jalannya pun lantas diberi nama Ibrahim Al Khalil.

Misfalla, Ma’la,  dan jalan Ibrahim AlKhalili adalah cikal bakal Makkah al Mukarromah,  yang eksistensinya  telah bersifat purba..***

 

 

 

 

 

Naibul Mudiir Yayasan Al Hai’ah Haramain pimpinan Syekh As-Sudais: Undangan Makam Syekh Ismail Al Harby (Bagian 10)

Di hari Selasa  penat telah menguasai raga.  Rasa ngilu  bahkan telah menyerang dua betisku yang nyaris tak kuasa menahannya. Maklum,  sejak era kedatangan,  kami telah memforsir diri, kurang memberi hak pada badan untuk  istirahat sesekali.  Apalagi setiap keluar hotel,  kami langsung terpapar  sang mentari.  Panas menusuk kulit.  Terik menyergap pori-pori.  Gerah menguasai seluruh tubuh dari kepala hingga ujung kaki.

Alhamdulillah,  pada 4 April ini  kami tak memiliki jadwal wawancara pagi,  tetapi baru terjadwal di malam hari,  dengan seorang alumnus Daurah Rabitah ’Alam Islamy.  Beliau adalah asli Indonesia,  yang saat ini berprofesi sebagai seorang tarjim (penerjemah) di Masjil Haram.  Di tengah jeda inilah,  saya rehat sesaat,  sekalian mengurangi rasa sakit dengan minum obat.  Semula kuminum Panadol untuk mengurangi rasa sakit.  Namun karena efeksnya belum begitu kurasa,  akhirnya Kataflam kutenggak berikutnya. Alhamdulillah,  rasa ngilu di sekujur badan mulai menghilang,  dan rasa nyeri di kedua betis kaki  terasa agak berkurang. Tidur dan tidur,  itulah kegiatan di hari itu yang sengaja kulakukan.  Hanya makan dan sholat yang menjadi jeda waktu tidur seharian.

Menjelang Isya’,  kami kembali datang ke masjidil haram,  tentu saja untuk sholat dan tak lupa untuk bertemu dengan pak Ayumy  salah satu nara sumber kami,  persis sesuai dengan janji.  Singkat kata, ba’da sholat Isya’ kami mencari pak Ayumy sesuai dengan informasi lokasi.  Pak Ayumi ternyata masih sibuk  membagi-bagi buku kepada para jamaah shalat.  Di Arab Saudi,  memang terdapat beberapa lokasi pembagian buku gratis  dalam berbagai bahasa,   sebagai ladang penyebaran da’wah.  Selain di lokasi pada Ayumi ini,  di maktabah sebagai tempat bekas kelahiran nabi,  biasanya juga dilakukan pembagian buku-buku da’wah.  Pak Ayumi konon memiliki posisi sebagai seorang tarjim,  seorang penerjemah,  sehingga sangat mungkin buku-buku dalam versi Indonesia (dan Malaysia)  merupakan salah satu karya dari pak Ayumi.

Beberapa saat kami kembali duduk menunggu pak Ayumi bertugas di masjidil Haram ini.  Tak berapa lama,  pak Ayumi mempersilahkan kami untuk masuk ke sebuah lokasi.  Posisi tetap di dalam masjid, hanya saja lokasi diberi batasan,  sehingga tidak semua orang bisa masuk ke dalam ”ruangan”.  Namun,  setelah masuk ruangan,  dan setelah kami dipersilah duduk pada kursi yang telah disediakan,  ternyata pak Ayumi justru tak ikut duduk bersama kami.  Beliau malah sibuk ”menjamu” kami dengan minuman  dan biskuit makanan ringan. Pak Ayumi hanya menyerahkan kami kepada seorang pria Saudi, yang dari segi umur berkisar antara akhir 30 an dan awal 40 an. Lha,  kenapa pak Ayumi tak mau ”melayani” kami dan justru menyerahkan kepada seorang pria Saudi ?.

Ternyata,  pria ini bukan figur sembarangan,  karena dialah salah seorang ulama Saudi,  bernama Syekh Ismail. Bahkan,  pria ini adalah seorang Naibul Mudir (wakil direktur) haramain,  Naibul Mudir lembaga amar ma’ruf nahi munkar di Arab Saudi  yang dipimpin Syekh Shudais,  salah seorang imam paling terkenal di Indonensia.  Oh…ternyata orang ini bukan figur sembarangan,  dan oleh sebab itu,  pak Ayumy ”sengaja tidak berani ikut campur, dan justru diserahkan kepada tokoh yang semestinya”.  Subhanallah.  Inilah karunia Allah yang tiba-tiba,  sebab tidak sembarang waktu dan tempat bisa kita dapatkan.  Bahkan,  kandidat Doktor sekalipun sulit sekali bisa bertemu dengannya,  akibat posisi dan mungkin pekerjaan yang super sibuk mengelilingi. Walhasil,  ketika hal ini kita ceritakan kepada seorang kandidat Doktor asal Indonensia,  hanya satu komentar yang keluar dari bibirnya. ”bagaimana anda bisa berjumpa ?.

Tentu saja kami tak bisa menjawabnya.  Bahkan,  saya sendiri juga bertanya-tanya,  apakah pertemuan ini sengaja dirancang oleh pak Ayumy ataukah secara kebetulan beliau sedang inspeksi ke lokasi, sehingga pak Ayumi kami langsung diserahkan untuk dijumpai ? Pertanyaan saya ini sangat masuk akal,  sebab di hari berikutnya,  ketika kami datang ke lokasi yang sama,  bertanya pada petugas di sana,  ternyata mereka tak tahu menahu di mana Syekh Ismail ”berada”.

Dalam pertemuan itu,  tampaknya Syekh Ismail merasa nyaman dengan kami,  di tengah kepahaman bahasa Arab yang terbatas sekali. Pertanyaanku pun yang jumlahnya lumayan banyak,  semua ku katakan melalui perantaraan Fakhry.  Tapi,  sekali lagi Syekh Ismail tampaknya ”menikmati”  pertemuan ini.  Pertemuan berlangsung agak lama, 21.30-23.00.  Bahkan,  pak Ayumi saja misalnya,  sampai minta ijin pulang duluan,  karena capek telah bekerja seharian.  Bahkan,  sempat kulihat seorang”asisten Arab” berulangkali interupsi,  tampaknya mengingatkan ”soal  waktu” kepada Syekh Ismail.  Sepertinya,  beliau memiliki jadwal lain.  Namun berulangkali sang Syekh memberi sinyal  bahwa beliau ”masih nyaman” untuk berdakwah kepada kami.

Bahkan,  mungkin karena belum merasa cukup dengan pertemuan itu.  Maka di akhir perjumpaan,  Syekh Ismail masih menyatakan mengundang kami untuk makan malam di rumahnya.  Kami senang sekali mendapat undangan ini.  Hanya saja,  undangan definitif  baru datang pada Kamis pagi  untuk  makan bersama di malam hari. Walhasil,  mengingat Kamis pagi kami sudah harus meninggalkan Mekah untuk menuju Madinah,  maka undangan dari Ulama Saudi ini terpaksa tidak bisa kami sanggupi. Afwan ya Syekh.***

Museum Haromain : Membangun Ekonomi dari Sektor Wisata ? (Bagian 9)

Harga minyak  di pasar internasional memang sedang runtuh,  sebuah realitas yang tentu saja sangat berpengaruh luar biasa terhadap negara-negara yang mengandalkan ekonominya di sektor minyak.  Arab Saudi tampaknya gelapan terhadap realitas ekonomi kekinian.  Jika negara-negara teluk di sekitarnya seperti  Uni Emirat Arab, Qatar,  dan Bahrain telah menginvestasikan  hasil minyak  untuk sektor lain termasuk pariwisata – belanja,  namun khusus Saudi selama ini tampaknya agak terlena.  Walhasil,  di tengah rontoknya harga minyak dunia,  Saudi yang selama ini terlena,  kini baru terbangun tersadar untuk menata.

Raja Salman  kini telah membangun Visi 2030, termasuk salah satunya dengan mengandalkan sektor pariwisata.  Kesadaran ini sebenarnya sangat terlambat,  mengingat telah banyak sekali situs-situs penting justru telah telanjur digusur akibat visi agama wahabiah yang sejak dahulu didakwa sebagai ”penghancur situs-situs peradaban Islam”.  Tujuannya  memang mulai,  mencegah  terjadinya TBC (Tahayul – Bid’ah- Churafat),  namun  caranya terlalu ekstrim.  Bahkan,  karena konteks ini pula,  tokoh-tokoh Islam di tahun 1900an awal sempat membuat Majelis Hijaz dalam kerangka protes,  memberi masukan terhadap penghancuran situt-situs peradaban Islam.

Kini,  pemerintah Saudi mulai menyadari betapa penting membangun sektor wisata sebagai alternatif untuk mecari sumber dana penghidupan.  Sektor wisata tampaknya juga digalakkan.  Mungkin salah satunya  karena kesadaran ini pula,  Saudi kini telah membuat berbagai rumah  ma’arid (pameran)  dan museum peradaban.  Di kota Makkah misalnya telah dibangun Museum Haramain,   sedangkan di Madinah (sejak 2015) lampau telah diresmikan-dibuka Pameran Al Qur’an dan Pameran Asmaul Husna. Khusus mengenai Pameran masjid Nabawi meskipun namanya telah terpampang sejak 2015 lampau ketika saya ziarah ke tempat ini,  namun sampai kunjunganku di tahun 2017 ini masih juga belum dibuka.

Senin sore – malam (17.00 – 19.00) ini,  kami menyempatkan diri berkunjung ke  Museum Haromain.  Kenapa kami datang malam hari ? Ada alasan terkait ini, pertama,  Siang hari tadi kami kelelahan luar biasa,  akibat terpapar panas menunggu taksi di depan Rabitah ’Alam Islamy. Kami pulang dari lokasi setelah shalat Dzuhur dan mampir sejenak ke maktabah untuk mendapatkan hadiah buku.  Sambil menenteng belasan buku-buku tebal ini,  kami terpapar mentari akibat menunggu transportasi dalam waktu lama sekali.  Peluh terkuras,   Energi pun ikut terkuas.  Walhasil,  akhirnya kami pulang,  untuk mengumpulkan energi tambahan.  Kedua,  datang ke museum pada siang hari biasanya dilakukan berombongan,  sehingga perlu menyertakan ”surat keterangan”.  Karena kami hanya berempat,  maka untuk menghindari aturan,  mas Izdihar sengaja mengajak kami datang di malam hari. Walhasil,  setelah shalat Maghrib kami langsung meluncur ke lokasi.

Berbagai foto  dan  barang peninggalan era lama di pajang di lokasi.  Terkait ka’bah misalnya,  dipamerkan : balok kayu bekas tiang ka’bah,  bekas pintu ka’bah,  bekas talang emas di hijir ismail,  besi pembungkus hajar aswad,  termasuk bekas tangga yang biasa dipakai untuk masuk ke dalam ka’bah.  Sebab,  pintu ka’bah posisinya memang tidak menempel di tanah,  namun berlokasi  agak di atas,  sehingga untuk memasukinya diperlukan sebuah tangga.  Di museum juga dipamerkan  foto-foto sejarah keberadaan sumur Zam-zam dari masa ke masa. Hal yang menarik adalah peninggalan bekas “rumah penutup” ka’bah yang terbuat dari kuningan.  Bahkan,  dalam museum di tampilkan berbagai mata uang kuno  asal berbagai negara   yang sempat  tercemplung atau sengaja dicemplungkan dalam  sumur zamzam.  Ketika sumur dikuras,  koin-koin ini lantas dikumpulkan,  dan ia menjadi bagian dari  pameran.

Singkat kata,  banyak sekali berbagai benda berharga  dipamerkan di museum ini..  Sayangnya, manajemen perawatan dan keselamatan benda-benda ”purbakala” ini  kurang profesional,  sehingga pengunjung dapat menyentuh bakan mungkin mengorek-ngoreknya.  Idealnya,  segala benda berharga ini dimasukkan dalam lemari kaca,  sehingga pengunjung cukup melihat dengan tanpa menyentuhnya.***

PEMUDA SAUDI, MAHASISWA YANG JADI SOPIR TAKSI (Bagian 8)

 

Selepas lohor pada Selasa,  4 April 2017 kami meninggalkan Rabithah Alam Islamy.  Matahari sedemikian menyengat,  menusuk  pori-pori.  Sementara  taksi yang kami butuhkan untuk membawa pulang sedemikian susah didapati.  Walhasil,  untuk beberapa saat kami terpapar di tengah mentari yang sedemikian menyengat kulit kami.  Panas berkuasa.  Terik sedemikian menyiksa.   Peluh bercucuran sehingga mempercepat proses tubuh menjadi penat. Masya Allah.  Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Tapi di tengah ketersiksaan ini  kulihat satu dua orang arab berjalan hilir mudik  dengan santainya  di sikitar Rabithah.  Realitas ini sedikit menasehati kami  bahwa apa yang kami rasakan hanyalah dramatisasi perasaan saja.  Hal inilah yang menyebabkan kami merasa perlu untuk bersabar.

Alhamdulillah, beberapa saat berikutnya,  akhirnya kami bisa mendapatkan taksi on-line yang ternyata disetiri seorang pemuda asli Saudi.  Subhanallah,  lelaki belia berumur 23 tahun tersebut adalah seorang mahasiswa bidang ekonomi dari Universitas Ummul Quro. Dari cara bicara,  saya bisa membaca:  bahwa  pemuda Saudi ini  bersikap sangat terbuka, open minded,  dan optimis dalam menatap  hidup. Dia bukan tipe pemalas apatah lagi manja sebagaimana stereotipe terkait warga Saudi. Buktinya, selain aktif sebagai mahasiswa,  ternyata dia  menyibukkan diri mencari uang dengan memanfaatkan mobilnya sebagai kendaraan sewa online.

Pemuda bernama Abdur Rahim ini juga figur terbuka,  terbukti dari gaya bicaranya yang ceplas ceplos  menjawab apapun pertanyaan kami,  bahkan ketika kami  menyinggung soal-soal  politik. Realitas ini seolah mematahkan image yang kami dapatkan sebelumnya,  bahwa orang Saudi tabu bicara soal politik,  sebagaimana sempat  digambarkan KJRI Jeddah  maupun mas Izhar yang menjadi pemandu kami.

Image tentang ”tabu politik”  ini  memang telah diwanti-wanti ketika kami berkorespondensi  terkait persiapan kami ke Arab Saudi.  Proposal dan surat yang kami kirimkan pun  berusaha diubah sedemikian rupa,  untuk mengaburkan sisi politik dari data yang ingin kami dapatkan.  Meski demikian,  toh akhirnya KBRI dan KJRI tetap tak bisa memfasilitasi kedatangan kami,  apatah lagi menghubungkan dengan para akademisi.  Mereka memang super sibuk,  dan lebih-lebih lagi  mungkin alergi dengan nuansa politik dalam kajian kami.  Begitu ketemu mas Izdihar,  mahasiswa Madinah yang memandu kunjungan kami,  informasi serupa juga kami terima.  Menurutnya,  mahasiswa Indonesia tak akan pernah bicara politik, karena dimana-mana terdapat mata penguasa,  dan ketika ditangkap  akhirnya bisa diekstradisi tanpa menyelesaikan sekolahnya.  Berpijak pada realitas ini,  kami sempat  ”frustasi” jangan-jangan kami tak akan mendapatkan  informasi.

Namun,  pandangan ini  pelan namun pasti mulai terkikis.   Pertama sekali,  ketika  jumpa para kandidat  Doktor  di Makkah,  ternyata kami dapat menggali informasi sosial keagamaan yang bahkan menyerempet isu politik juga.  Pun ketika berjumpa dengan  mahasiswa asli Saudi ini,  ternyata soal isu politik tidaklah seseram  apa yang digambarkan.  Dengan ceplas-ceplos ia menggambarkan situasi kepolitikan yang ia rasakan.

Pada satu sisi ia memberi kritikan,  terkait dengan situasi perekonomian.  Mulai dari  hukuman lalu lintas yang mahal dan memberatkan sampai pada naiknya harga bensin untuk kendaraan.  Namun,  dia sama sekali tidak  kecewa pada pemerintahan yang ada,  melainkan justru bangga terhadapnya.  ” Raja-raja sebelumnya selalu ”takluk” pada Amerika,  sultan Salman menampilkan  sikap berbeda.  Ketika Barrack Obama berkunjung ke Saudi,  begitu Adzan dikumandangkan,  Raja Salman langsung meninggalkan sang presiden AS sendirian.  Dia sengaja menampakkan,  bahwa basa-basi diplomatik harus dikalahkan ketika panggilan Shalat telah dikumandangkan. Realitas lain terkait dengan profil politik luar negeri Saudi yang tampil dengan gaya high-profil  bukan saja dalam konteks kawasan (Bahrain dan Yaman) melainkan bahkan dalam konteks internasional.  Singkat kata,  Salman telah mengangkat harkat dan martabat masyarakat Saudi  di hadapan Amerika dan Dunia.

Pemuda Saudi ini bicara politik secara berapi-api,  sehingga memupus kekhawatiran kami  bahwa di Saudi bicara politik  sangat tabu sekali.  Bahkan akibat aura ini pula,  mas Izdihar yang semula berpandangan tabu bicara politik,  akhirnya ikut hanyut  tak tabu lagi sental-sentil soal politik.

Rasa penat yang sempat kami rasakan untuk sementara sirna mendengar  kicauan luar biasa dari pemuda Arab ini.  Barulah ketika sampai hotel,  kami langsung menghempaskan badan akibat penat kembali menjerat.  Terpapar mentari beberapa saat lamanya ketika menunggu taksi,  ternyata telah menguras tenaga sehingga telah menyisakan rasa penat dan letih. ***

Di Rabithah ’Alam Islamy Kami Bertemu Ustadz Nasruddin Al Palembangy MA. (Bagian 7)

Senin 2 April 2017 pagi,  mentari telah menyapa kami dengan ramah sekali.  Sinar sang surya sedemikian ceria,  menandakan  pagi ini buana sedang bahagia. Saya, Wawan, mas Hamdan dan Fakhry  tentu saja menyambut suasana juga dengan suka cita.

Di pagi ceria ini kami telah membuat janji dengan   orang Arab Saudi,  untuk bertemu di   Rabitah  ‘Alam Islamy.  Singkat cerita,  setelah melalui proses pemeriksaan di pos penjagaan,  akhirnya sampai juga kami  di tempat tujuan:  ruang kerja si orang arab tadi.

Rabitah ’Alam Islamy adalah   sebuah nama besar  yang telah saya dengar sejak lebih dari seperempat abad lamanya.  Nama dan perbawanya sedemikian monumental  di telinga ”warga Islam” Indonesia,  terutama bagi mereka yang memiliki jaraingan dengan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII).  Melalui jaringan  DDII – Rabitah Alam Islamy ini kudengar  banyak sekali  santri Indonesia yang berhasil dikirim sekolah di Timur Tengah terutama Arab Saudi. Jaringan intelektual dakwah ini terutama sangat menonjol pada era DDII masih dipimpin Mohammad Natsir.  Konon,  hanya berbekal tanda tangan tokoh Masyumi ini, seseorang langsung bisa berangkat untuk menuntut ilmu di Arab Saudi. Sayangnya,  setelah Natsir meninggal pelan namun pasti gaung ini mulai meredup   –setidaknya untuk telinga saya pribadi.  ”Orang arab memang lebih percaya pada ketokohan pribadi.  Dus,  ketika sang tokoh sudah tak ada,  maka kerjasama biasanya menjadi  tak sekuat era sebelumnya”,  demikian alasan yang sering kudengar terkait dengan fenomena ini.

Saat ini,  memang banyak tokoh Islam indonesia  yang menjembatani kerjasama Rabitah dengan intelektual Dakwah di Indonesia.  Khusus Nama  Hidayat Nur Wahid misalnya,  oleh 3 orang Rabitah yang berhasil kami temui,  memang sempat disebut beberapa kali.  Namun,  sekali lagi,  gaung kerjasama ini tidak lah sekokoh era jamannya M. Natsir lagi.

”Kami masih kuat kerjasama,  terutama untuk pelatihan para calon pendakwah di Indonensia,  terutama untuk  para da’i yang akan dikirim ke wilayah Indonesia bagian Timur”, jelas Syekh Muhammad Al Qathani.  Doktor yang bertanggung jawab pada urusan Da’wah dan pendidikan di Rabithah itu menambahkan,  ”kerjasama itu terutama  dalam .wujud  daurah tiga tahun  untuk mendalami bahasa Arab dan Islam.  Artinya,  pendidikan untuk level diploma,  bukan untuk level sarjana”.

Ketika Fakhry,  koordinator kami, bertanya  adakah kerjasama antara Rabitah Alam Islamy dengan Jamaah di Arab Saudi agar peserta daurah bisa melanjutkan ke level sarjana.   Ustadz Nasruddin Al Palembangy  MA yang menjadi kontak person di Rabithah menjawab: ”tak ada,  silahkan saja  berhubungan langsung dengan Jamiah untuk mencari peluang pendidikan lanjutan”.

Selama tiga jam di Rabithah (11.30 – 13.00) kami berjumpa dan atau  wawancara dengan tiga orang Arab, yakni:Dr.  Syekh Muhammad Al Qathani ,  Abdullah MA,  dan .Nasruddin Al Palembangy MA.  Lho,  kenapa orang terakhir memakai nama  al Palembangy ? usut punya usut ternyata dia memiliki darah Palembang – Indonesia,  dari garis kakeknya. Fenomena warga Saudi asal Indonesia ini sebenarnya tidak terlalu asing di telinga,  sebab gejala ini bahkan sudah ada jauh sebelum indonesia ada.  Mohammad Darwis (pendiri Muhammadiah)  dan Hasyim Asy’ari (pendiri NU) misalnya, ternyata dahulu sama-sama memiliki  guru bernama akhir :    Al Minangkabawy  (asal Minangkabau)  dan     Al Termashy (asal Termas),  disamping tokoh-tokoh lain salah satunya    Al Yamani (asal Yaman). Intinya,  asal-usul  orang asing yang menetap dan atau bahkan menjadi warga negara Saudi  sampai kapanpun tetap bisa ditelusuri,  terefleksi dari nama akhir yang menyertai.

Saat sekarang tentu saja tidak mudah untuk menjadi warga Saudi,  meskipun telah puluhan tahun tinggal di tanah suci. Hanya orang yang memiliki talenta mumpuni yang tampaknya bisa mendapat kewarganegaraan kehormatan.

”Bahkan  era sekarang,   tinggal di Arab Saudi bukan lagi  sebuah pilihan yang menggiurkan,  mengingat banyak sekali aturan dan pembiayaan yang harus dikeluarkan”,   kata Muhammad Isa  dan  Muhammad Ayub pada sebuah kesempatan lain  di Madinah.  Kakak beradik  yang telah menetab di Saudi sejak usia dini  menambah informasi, ”khusus mengenai tarif pembiayaan,  terutama diterapkan seiring dengan kondisi ekonomi Saudi yang mulai kesulitan .  Harga minyak yang selama ini menjadi andalan,  sekarang luluh lantak berantakan. Terpaksalah pemerintah Saudi berusaha mencari alternatif pendapatan,  membangun sektor wisata,  termasuk mengenakan biaya 2 ribu real untuk yang umroh lebih dari sekali  dalam setahun. Di dalam negeri subsidi minyak  dikurangi,  setiap pelanggaran termasuk pelanggaran  lalulintas dikenakan sangsi berbiaya tinggi, dan itu tadi,  para mukimin non Saudi dikenakan pajak yang juga tak kalah tinggi”,  tambah  dua bersaudara yang hampir mirip wajahnya,  ”kami pun,  meski telah puluhan tahun tinggal di sini,  kalau sudah selesai pendidikan,  akan pulang ke Indonesia lagi”.  Pungkas Ayub – Isa di tempat tinggalnya,  Asrama  mahasiswa Universitas Islam Madinah..

Mentari terus meninggi.  Sinar sang surya  makin panas menusuk bumi.  Udara  di sekitar makin  mendidih  gerah sekali.   Panas  menusuk.  Gerah menyiksa.   Untuk menetralisir  ”siksaan”  ini, wawancara  segera  diakhiri.  Kamipun sepakat  untuk  menyejukkan hati  dengan  sholat  jamaah  menghadap Ilahi.  Ya.. Rob,  terima kasih atas segala nikmat yang engkau beri,  sehingga kami bisa  berkunjung ke tanah suci ,  wilayah panas namun dapat menyejukkan pikiran dan  hati kami.***