Antara Bandara dan Maskapai Penerbangan Kita: Kompetisi yang Tak Kompetitif (Bagian 1)

 

Pagi,  sekitar pukul 08.45 seorang abang ojeg on-line   telah berhenti tepat  di depan rumah.  “Ini rumah bu Wiwi,  ya Pak ?  tanya bang ojeg.  “Betul”,  jawabku, “Namun,  yang minta diantar saya, bang”.   Tak perlu berlama-lama saya segera nangkring di belakang abang ojeg,  untuk diantarkan ke Cibinong City Mall (CCM), tempat mangkalnya bis Damri bandara tujuan Soekarno – Hatta.

Hari  Jum’at,  31 Maret 2017 saya memang hendak bepergian jauh,  terbang menuju Saudi Arabia.  Perjalanan ke negeri Hijaz tempat bertenggernya dua tanah suci,  Makkah dan Madinah, ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi saya.  Sebab,  sebelumnya,  sudah dua kali saya melanglang ke bumi tempat lahirnya agama Islam ini.  Perjalan pertama kulakukan di tahun 1997 dan perjalanan kedua saya ayunkan  di tahun  2015. Kedua-duanya untuk   menjalankan  rukun iman ke lima,  pergi haji ke Baitullah.  Bedanya,   perjalan pertama kulakukan  sebagai realisasi menjalankan kewajiban pribadi  seorang bujangan,  adapun  perjalanan kedua merupakan ekspresi kewajiban  seorang suami untuk mengantarkan –menemani  istri dalam menjalankan kewajiban.  Nah,  kali ini,  di tahun 2017 ini,  saya pergi lagi  ke  tanah Suci,  namun bukan untuk berhaji, melainkan  dalam rangka kerja –  meneliti yang ditugaskan kepada kami. Tujuan spesifik inilah yang menjadikan penerbangan ke Saudi  kali ini menjadi agak  berbeda dari   dua kepergian sebelumnya.

Mungkin  karena  perbedaan tujuan pokok  ini pula,  maka  pada kepergian kali  ini  tak ada satu orang pun yang mengantarku.  Istri sudah berangkat ke kampus,  dua anak pun sudah berangkat sekolah. Walhasil,  perjalanan ke tanah suci kali ini menjadi sangat simpel,  cukup  nangkring di atas motor,   di antarkan  abang ojeg. Meski demikian,  awal perjalanan ini tetap  menyemburatkan rasa syahdu di hatiku.  Kalbuku meleleh.   Mataku berkaca-kaca.  ”Labbaik Allahumma labbaik,  labbaika laa syariika laka  labbaik”.  Bibirku berdesis,  mengucapkan kalimat talbiah. Ya,  kata-kata talbiah,  sebagai refleksi bahwa aku kembali dipanggil Allah untuk berkunjung ke Makkatul Mukarromah Asy-Syarifah,  bahwa aku diseru lagi  oleh junjunganku  nabi besar Muhammad SAW untuk bersilaturrahmi ke rumah beliau di Madinatul Munawwaroh.

Jam 9.00 tepat,  bis Damri bergerak pelan meninggalkan CCM.  Mentari bersinar cerah. Langit membiru indah.   Buana benderang.  Burung pipit  beterbangan ceria,  seolah  mengantarkanku dengan ekspresi  suka cita.  Realitas alam ini sedikit banyak mampu mengganti senyuman istriku,  mengganti keceriaan anak-anakku  ketika aku  mulai bergerak meninggalkan Cibinong. ”Labbaik Allahumma Labbaik: Ya Allah… hamba memenuhi panggilan Mu”,  kembali  bibirku berdesis di sepanjang jalan menuju bandara, Soekarno – Hatta.

Sekitar pukul 11.00 siang kami (saya dan tiga teman seperjalanan) sudah berkumpul di bandara,  di bagian penerbangan internasional.  Karena kebetulan  hari Jum’at,  maka menjelang dzuhur, kami  bersegera  mencari masjid  untuk Jum’atan.  Dalam pencarian itu,  apa yang saya dapatkan adalah sebuah  keterkejutan. Ya,  terkejut atas fakta bahwa masjid bandara  yang kami temukan  hanyalah sebuah bangunan kecil,  super sederhana,   yang posisinya nyempil  antara parkiran ratusan  mobil  dan beberapa warung kecil kaki lima  yang juga sangat  sederhana.  Sebuah kontradiksi antara ”bangunan masjid yang kumuh,  di tengah bangunan  bandara internasional  yang super megah”.  Bahkan,  dibanding  dengan mushola di kampungku saja,  masjid bandara internasional ini  kalah jauh dalam  soal  fasilitas dan kebersihan, apatah lagi  dalam kualitas bangunan. Intinya,  bangunan ini tak pantas  dinamakan masjid bandara di Jakarta apalagi bandara pada level internasional sebutannya.

Hatiku meleleh.  Mataku berkaca-kaca melihat fakta mengecewakan  ini:   realitas bangunan masjid yang disediakan oleh bandara berkelas  internasional,  realitas tempat ibadah  yang terletak pada gate penerbangan internasional yang otomatis pula menjadi cerminan raut muka bangsa Indonensia yang konon katanya mayoritas beragama Islam.

Kedaruratan”masjid” bandara ini  tentu saja  tak mampu menampung jamaah yang begitu melimpah.  Orang yang shalat  meluber di halaman yang super ngentak-entak panasnya.  Bahkan, tidak sedikit dari mereka tidak kebagian tikar ataupun karpet  tambahan untuk alas sholat.  Alhamdulillah,  untung saja kulihat ada seorang ibu tua (sepertinya: pedagang makanan di sekitar masjid) yang bersodaqoh kertas koran dan kardus bekas yang diberikan kepada jamaah. Melihat realitas ini muncul pertanyaan genting di benakku, bagaimana bila terjadi turun hujan ? Benakku yang lain langsung menukas tangkas,  ”sudah pasti jamaah shalat  (termasuk calon penumpang pesawat) terpaksa berbasah-basahan,  meskipun mereka hendak bepergian”.

Apakah para pejabat tidak pernah melihat realitas ini ?  Kalaupun bukan pejabat, apakah para karyawan bandara tak pernah jum’atan di lokasi ini,  sehingga tak menyampaikan aspirasi terkait kondisi”masjid ”  yang serba darurat ini ? ,  semburat tanya berulangkali muncul dari dalam hati.

Bepergian di hari Jum’at memang makruh hukumnya.  Namun,  acapkali terpaksa dilakukan karena beberapa alasan,  termasuk kepergian kami di hari Jum’at ini.  Sebagai catatan, meskipun kepergian kami ke Saudi sebagai perjalanan tugas  meneliti,  namun tak berarti segalanya  telah tercukupi.  Sejak awal persiapan,   banyak ganjalan telah menghadang.     Pertama,  perwakilan Indonesia di Arab Saudi  (KBRI di Riyadh dan Konjen RI di Jeddah)  menyatakan tak bisa memberi bantuan selama  kami  ”dinas” di Arab Saudi.  ”Sedang sibuk”,  itulah alasan pokok yang mereka sampaikan.  Kedua,  ”kunjungan penelitian”  seperti apa yang kami lakukan,  bagi  pemerintah Arab Saudi  ternyata  tak mudah dikabulkan.  Butuh proses cukup lama (sedikitnya 3 bulan) guna mendapatkan ijin  dari  departemen luar negeri (imarotul khorijiah) Saudi.  Padahal,  time-line yang kami miliki sangat ketat dan tak mungkin  ditunda sampai tiga bulan lamanya.  Ketiga,  anggaran yang tersedia sangat terbatas, sehingga hanya tersedia hari kunjungan yang juga super  terbatas.  Berbagai keterbatasan inilah yang harus kami siasati sedemikian rupa  agar target tujuan dari kunjungan tetap dapat kami raih  sesuai yang kami gariskan.

Singkat kata,  setelah berkonsultasi dengan   berbagai pihak,  akhirnya  kami   dapat berangkat   sesuai jadwal yang kami rencanakan.   Alhamdulillah, Ya Robb.  Seandainya keberangkatan ini  molor,  mundur sebulan saja (pada  Mei 2017),  hampir pasti anggaran tak akan lagi mencukupi.  Sebab minggu terakhir Mei  sudah memasuki bulan Ramadhan yang bermakna pembiayaan akan membumbung tinggi,  baik untuk ongkos pesawat apalagi  biaya hotel selama di Saudi.  Alasannya,  pada Ramadhan jamaah umroh ke Arab Saudi meningkat tinggi,  bahkan konon melampaui jumlah jamaah haji.  Bagaimana, jika  diundur saja ke bulan Juni – Juli – Agustus (bertepatan Syawal – Dzul Qoidah – Dzul Hijjah).  Jawabnya singkat:  justru kami tak akan bisa pergi,  sebab di  ketiga bulan itu ijin berkunjung ke  Madinah – Makkah selain untuk kepentingan haji  hampir pasti  tak akan dilayani pemerintah Saudi.

Alhamdulillah,  untungnya,  berbagai kendala tadi akhirnya berhasil kami atasi.  Mas  Ferliansyah Zais dari travel Al Madinah Al Munawwaroh  mampu membantu  kami mengurus tiket pesawat, visa  perjalanan,  dan  terutama akomodasi selama di Arab Saudi.   Bahkan,  dari jatah waktu pembiayaan hanya 8 hari sudah termasuk perjalanan pulang pergi,  oleh mas Ferly dapat diatur – diirit-irit  menjadi  13 hari termasuk waktu pulang pergi. Terima kasih mas Ferly,  jazakallahu khoirul jaza’.

Khusus ongkos pesawat,  anggaran yang tersedia sebenarnya sudah tak lagi  mencukupi, terutama akibat jadwal booking yang tertunda  sehingga harga tiket terlanjur ikut menjadi mahal  pula.  Walhasil,  jika semula dirancang akan terbang dengan pesawat Garuda Airways (GA)  terpaksa  diganti  dengan Saudi Arabian Airlines (SU) dan itupun harus  dipilih  yang terbang dari  Kuala Lumpur.  Alasannya,  jenis pesawat yang sama dari  Jakarta  ternyata tetap lebih mahal harganya  dibanding dari Malaysia bahkan meskipun  masih ditambah dengan ongkos penerbangan Garuda  Jakarta – Kuala Lumpur plus menginap semalam di hotel sederhana.

”Lha kok bisa ?, tanyaku kala itu.

”Lha,  memang demikian kenyataannya”,  tukas  mas Hamdan Basyar,  anggota tim paling senior dalam perjalanan kami, ”Tanyakan pada pihak-pihak  terkait dengan tetek bengek  penerbangan di Indonesia,  kenapa biaya penerbangan di Indonesia lebih mahal dibanding Malaysia”.

”Inilah,  titik rawan dari tidak kompetitifnya penerbangan kita”,  tambah  Nostalgiawan Wahyudi alias Wawan,  salah satu anggota tim lainnya.

Walhasil,  hari  Juma’at, 31 Maret 2017,  saya,  Wawan, mas Hamdan,  dan  sang koordinator Mohammad Fakhri Ghafur  dengan terpaksa harus terbang dahulu ke Malaysia sebelum melanjutkan  ke Saudi Arabia. ***

 

Memahami Makna Zuhud

Image result for zuhud ibnu qayyimZuhud adalah dasar sufisme, sehingga untuk menjadi sufi, harus menjalani zuhud yakni melepaskan kesenangannya pada benda yang memberi kenikmatan duniawi, yang diyakini sebagai pangkal segala bencana. Adapun bencana terbesar bagi setiap sufi adalah ketika mereka tak dapat mendekati dan bersatu dengan Tuhan. Umumnya Zuhud dipahami sebagai sikap hidup meninggalkan duniawi, membekali diri hanya untuk mengejar kebahagiaan akhirat. Jangankan peduli pada urusan duniawi orang lain, untuk kebutuhan hidupnya sendiri terkadang tak terlalu peduli.

Bagi Al Junaid Al Baghdadi, pemahaman tersebut tidak tepat, sebab sikap zuhud demikian justru hanya menyebabkan si sufi dan orang lain (keluarganya) pada kondisi tak menggembirakan. Bagi Al-Junayd, “Seorang sufi tak seharusnya hanya berdiam diri di masjid dan berzikir tanpa bekerja, sehingga kehidupannya menggantungkan diri hanya pada pemberian orang lain. Sifat-sifat seperti itu sangat tercela. Seorang sufi harus tetap bekerja keras untuk menopang kehidupannya sehari-hari, dan jika sudah mendapat nafkah, diharapkan mau membelanjakannya di jalan Allah SWT.” Konsep Zuhud dimaknai tetap berharta, namun tak terlalu mencintainya. Implementasi zuhud bukan meninggalkan kehidupan dunia, tetapi tak terlalu mementingkan duniawi. Sufi tetap wajib mencari nafkah untuk penghidupan diri dan keluarganya, adapun posisi zuhudnya terletak pada sikap tak merasa berat bersedekah pada kaum yang membutuhkan. Sufi seharusnya mengikuti Nabi saw, menjalani kehidupan seperti manusia biasa (menikah, berdagang) tetapi juga dermawan.  Semoga bermanfaat.***

KEDERMAWAN YANG LUAS

Sobat berikut  saya kutipkan tulisan Sam Waskito  tentang kedermawanan,  yang semoga saja bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan kita.Image result for kedermawanan

1. Seorang budak makan roti, di pinggir pagar sebuah kebun milik orang shalih di Madinah. Di hadapannya ada anjing memperhatikan dia makan.
2. Setiap budak itu makan, tak lupa dia melemparkan potongan roti ke anjing, sehingga dia ikut makan. Dia berbuat itu karena “rasa malu kepada Allah” kalau sampai makan sendirian.
3. Orang shalih pemilik kebun kagum melihat sikap budak itu. Lalu dia mendatangi pemilik budak, membelinya, lalu membebaskannya.
4. Sang budak sangat bersyukur kepada Allah atas nikmat kebebasan itu, lalu berterima kasih tulus kepada orang shalih tersebut.
5. Melihat sikapnya yang sopan dan bertauhid, orang shalih itu berkata: “Kebun ini aku serahkan padamu, wahai pemuda.”
6. Pemuda yang semula budak itu sangat bahagia, lalu dia berkata: “Engkau jadi saksinya Tuan, kebun ini sekarang aku waqafkan untuk kaum miskin di Madinah.”
7. Orang shalih tersebut kaget, baru diberi kebun kok sudah diwaqafkan. Dia bertanya, kenapa? “Aku malu kepada Allah, aku diberi nikmat banyak, tapi hatiku masih pelit.”
ITULAH sepenggal teladan tentang KEDERMAWANAN kaum Mukminin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Gambar: Geophy palace.blogspot.com

Mengingat Kembali Aksi 212

Image result for aksi damai 212 dan makanan gratisSobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan lagi artikel terkait “demonstrasi” akbar yang terjadi di Indonesia  pada Jum’at 2 Desember 2016 lalu.  Secara formal  memang disebutkan bahwa aksi super damai itu sebagai dzikir dan do’a bersama,  namun di sebalik  jama’ah sholat Jum’at yang mungkin –menjadi salah satu– terbesar sejagad ini memiliki pesan agar pemerintah  mau menegakkan hukum secara berkeadilan terhadap orang yang oleh mereka disebut  penista agama, yakni : Ahok.  Apa dan bagaimana artikel –yang mengulas peristiwa Aksi Super Damai 212  tersebut,  maka sebagai bahan pengingat,  berikut saya kutipkan dari tulisan salah satu motivator dan penulis muda yang saat ini sangat populer bernama Ippho Santoso yang saya copaskan dari facebook.  Semoga bermanfaat. Lanjutkan membaca

Kesaksian Dr. Iswandi Syahputra, Dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Tentang Aksi 212

Sobat,  Badan Statistik Saudi Arabia menyatakan bahwa  Jumlah seluruh jamaah haji dunia tahun 2016 adalah 1,862,909 jiwa.
Ternyata,  jumlah sebesar itu berhasil  dikalahkan oleh aksi 212  (Jumat, 2 Desember 2016)  lalu yang  terjadi di sebuah negeri damai nun jauh dari kota Mekkah.  Konon, sholat jum’at itu dihadiri oleh sekitar 7.434.757 jiwa. Meskipun ada yang menaksir tidak sampai sejumlah itu,  namun,  yang pasti jauh melampaui ibadah tahunan di tanah Suci,  Saudi Arabia.Image result for aksi damai 212

Banyak  sekali tanggapan yang muncul  terhadap peristiwa akbar dalam sejarah “demonstrasi”  di Indonesia,  mulai dari yang terpesona  dengan realitas ini,  namun ternyata masih ada pula yang nyinyir terhadapnya.  Berikut saya kutipkan  salah satu artikel  kesaksian dari seorang anak manusia terhadap peristiwa di bulan terakhir tahun 2016 ini,  yang saya copas dari facebook. Semoga bermanfaat.

 

*Ada istilah baru “nyinyiers”*

Demi Allah… baru kali ini saya melihat aksi demo hingga menangis. Saya tidak kuat menahan rasa haru, bahagia, bangga, gembira, dan sedikit amarah semua berbaur menjadi satu.

Awalnya saya ke Jakarta untuk wawancara narasumber riset saya. Tapi sebuah penerbit juga mengusulkan saya menulis buku tentang aksi 411 dan 212, lebih kurang membahas ‘Media Soslial dan Aksi Damai 4/212’. Karena kebetulan itu, saya bergerak hadir ke Monas pusat lokasi aksi 212.

Sambil menangis tersedu melihat aksi 212 saya telpon isteri untuk mengabarkan situasinya. Luar biasa, persatuan, kesatuan, kekompakan, persaudaraan, silaturrahmi umat Islam demikian nyata.

Pukul 07.00 WIB saya bergerak dari Cikini menuju Monas, ojeg yang saya tumpangi harus muter mencari jalan tikus. Semua jalan dan lorong mengarak ke Monas macet total. Perjalanan saya terhenti di Kwitang, dari Kwitang saya jalan kaki menuju Monas, hingga ke perempatan Sarinah. Saat sampai di Tugu Tani, dada saya mulai bergetar tak karuan. Seperti orang takjub tidak terkira. Umat Islam yang hadir saling mengingatkan untuk hati-hati, jangan injak taman, buang sampah pada tempatnya, segala jenis makanan sepanjang jalan gratis. Tidak ada caci maki seperti yang terjadi di sosial media. Saat itu sudah mulai perasaan berkecamuk, tapi masih bisa saya tahan.

Image result for aksi damai 212 dan makanan gratisTepat di depan Kedubes AS, dada saya meledak menangis haru saat seorang kakek renta menawarkan saya buah Salak, gratis. Saya tanya, “Ini salak dari mana Kek?” “Saya beli sendiri dari tabungan”, jawabnya. Saya haya bisa terdiam dan terpaku menatapnya.

Di sebelahnya, ada juga seorang Ibu tua juga menawarkan makanan gratis yang dibungkus. Sepertinya mie atau nasi uduk. Bayangkan, Ibu itu pasti bangun lebih pagi untuk memasak makanan itu. Saya tanya, “Ini makanan Ibu masak sendiri?” “Iya”, jawabnya. “Saya biasa jualan sarapan di Matraman, hari ini libur. Masakan saya gratis untuk peserta aksi”. Masya Allah… Saya langsung lemes, mes, messss… Saya senakin lemes sebab obrolan kami disertai suara sayup orang berorasi dan gema suara takbir.

Dan., sepanjang jalan yang saya lalui, saya menemukan semua keajaiban Aksi Super Damai 212. Pijat gratis, obat gratis, klinik gratis, makan dan minum gratis. Perasaan lain yang bikin saya merinding, tidak ada jarak dan batas antara umat Islam yang selama ini kena stigma sosial buatan mereka para nyinyiers dan haters sebagai ‘Islam Jenggot’, ‘Islam Celana Komprang’, ‘Islam Kening Hitam’, ‘Islam Cadar’, ‘Islam Berjubah’ dan stigma negatif lainnya. Semuanya bersatu dalam: Satu Islam, Satu Indonesia, dan Satu Manusia!

Sepanjang perjalanan, saya mendengar antara peserta bicara menggunakan bahasa daerah Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Aceh, Minang bahkan ada juga yang berbahasa Tionghoa. Mungkin mereka saudara kita dari kalangan non muslim.
Melihat itu semua, “saya menyerah’, lagi-lagi saya menyerah!

Saya tidak kuasa menahan gejolak rasa yang bergemuruh dalam dada. Saya putuskan menepi, mencari kafe sekitar lokasi. Kebetelun saya punya sahabat baik yang pengelola “Sere Manis Resto dan Cafe”. Lokasinya strategis, pas di pojok Jl. Sabang dan Jl. Kebon Sirih. Tidak jauh dari bunderan BI dan Monas. Saya putuskan menyendiri masuk cafe itu untuk memesan secangkir kopi dan menyaksikan semua peristiwa dari layar TV dan Gadget yang terkadang diacak timbul tenggelam kekuatan sinyalnya.

Tapi di Resto/Cafe ‘Sere Manis’ itu juga saya temui umat Islam berkumpul membludak. Rupanya mereka antri mau mengambil wudhu yang disiapkan pengelola restoran. Tidak cuma itu, saya menemukan ketakjuban lain. Di dalam resto/cafe saya bertemu teman baru, seorang Scooter yang tinggal di daerah Cinere. Dia dan teman-temannya memilih berjalan kaki dari Cinere ke Monas (sekitar 40 KM) untuk merasakan kebahagiaan para santri yang berjalan dari Ciamis ke Jakarta. Masya Allah…. Saya semakin sangat kecil rasanya dibanding mereka semua. Ini kisah dan kesaksian saya tentang Aksi Super Damai 212. Mungkin ada ratusan atau ribuan orang seperti saya yang tidak terhitung atau tidak masuk dalam gambar aksi yang beredar luas. Kami orang yang lemah, tidak sekuat saudara kami yang berjalan kaki di Ciamis atau Cinere.

Maka, janganlah lagi menghina aksi ini. Apalagi jika hinaan itu keluar dari kepala seorang muslim terdidik. Tidak menjadi mulia dan terhormat Anda menghina aksi ini. Terbuat dari apa otak dan hati Anda hingga sangat ringan menghina aksi ini? Atau, apakah karena Anda mendapat beasiswa atau dana riset dari pihak tertentu kemudian dengan mudah menghina aksi ini?

Jika tidak setuju, cukuplah diam, kritik yang baik, atau curhatlah ke isteri Anda berdua. Jangan menyebar kebencian di ruang publik. Walau menyebar kebencian, saya tau kalian tidak mungkin dilaporkan umat Islam. Sebab umat Islam tau persis kemana hukum berpihak saat ini.

Terlepas ada kebencian dari para ‘nyinyiers’, saya bahagia bisa tidak sengaja ikut aksi damai 212 ini. Setidaknya saya bisa menularkan kisah dan semangat ini pada anak cucu saya sambil berkata: “Nak, saat kau bertanya ada dimana posisi Bapak saat aksi damai 2 Desember 2016? Bapak cuma buih dalam gelombang lautan umat Islam saat itu. Walau cuma buih, Bapak jelas ada pada posisi membela keimanan, keyakinan dan kesucian agama Islam. Jangan ragu dan takut untuk berpihak pada kebenaran yang kau yakini benar. Beriman itu harus dengan ilmu. Orang berilmu itu harus lebih berani. Dan mereka yang hadir atau mendukung aksi 212 adalah mereka yang beriman, berilmu dan berani. Maka jadilah kau mukmin yang berilmu dan pemberani anakku”.

DR Iswandi Syahputra

[Dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta]

 

Mendebat Politik Agama ? (Tulisan 4, Terakhir )

Adakah ajaran Islam yang secara eksplisit (tersurat) mencantumkan konsep kepemimpinan dalam kehidupan bermasyarakat ?  Muhammad S.A.W pernah berkata “jika tiga orang (atau lebih) di antara kamu berjalan bersama, salah seorang hendaknya ditunjuk menjadi pemimpin”.  Pada kesempatan lain, Muhammad berkata pula “Muslim dilarang masuk ke dalam wilayah yang tanpa penguasa”.  Al Qur’an sebagai referensi pertama dan utama bagi Muslim pun secara jelas menegaskan bahwa Muslim diharuskan taat kepada Allah (Tuhan), Rosul, dan Amir (pemimpin/pemerintah). 

            Ucapan, tindakan serta takrir Muhammad (Hadits) dan firman Allah (al-Qur’an) adalah referensi (sumber) utama ajaran Islam.  Mengingat Alqur’an dan Hadits telah dengan jelas menekankan perlunya sistem kepemimpinan, maka implikasinya adalah kepemimpinan dalam Islam merupakan konsep penting yang harus diamalkan pemeluknya bila ingin ingin terdaftar dalam deretan Muslim sejati.

            Alhasil, berpijak dari uraian tadi kiranya kita dapat terarahkan pada jawaban atas persoalan awal tulisan ini, yakni apakah ada kaitan antara Islam dengan politik.  Nah, karena Islam menekankan pentingnya kepemimpinan, maka konsekuensinya Islam secara inherent telah pula menekankan pentingnya persoalan politik.

            Hampir semua ilmuwan sosial sependapat bahwa soal kepemimpinan dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah merupakan soal politik.  Hal ini mengandung makna bahwa bicara soal kepemimpinan berarti bicara pula soal politik, karena  masalah kepemimpinan memang tak terlepas dari konsep politik. Begitu pula, bicara kepemimpinan dalam arti sangat luas akhirnya akan bermuara pula pada suatu tatanan organisasi berupa negara.  Pun sebaliknya, setiap bicara soal organisasi kenegaraan konsekuensinya akan tak terhindarkan pula untuk membahas apa yang biasa disebut the ruling elit alias elit kepemimpinan.  Karena kepemimpinan adalah soal politik, dan masalah kepemimpinan adalah pula salah satu konsep Islam, maka konsekuensi logisnya Islam mengajarkan soal-soal politik, yang berarti pula soal kenegaraan.  Fakta demikian inilah yang dipakai landasan adanya suatu keharusan bagi Muslim mengkaitkan Islam dengan kehidupan politik.  Bahkan, ada sementara pihak yang berpendapat, tidaklah Islamis bila seorang Muslim sengaja berupaya memisahkan Islam dari soal politik dengan mengatakan Islam “yes”, politik “no”.  Dan atas dasar itu pulalah Ibnu Khaldun pernah menyatakan, kekuasaan politik adalah suatu keharusan dalam masyarakat Islam (.Rahman Zaenuddin, “Pokok-Pokok Pemikiran Islam dan Masalah Kekuasaan Politik”, dalam Miriam Budihardjo (ed.), Kekuasaan dan Wibawa, (Jakarta: Sinar Harapan, 1984)).     

            Lantas, bagaimana kaitan Islam dan Politik bila dilihat dari aspek sejarah kepemimpinan Mohammad ?  Adakah Muhammad mengaitkan soal-soal politik dengan perannya sebagai pemimpin agama (Rasul) ?.Bertolak dari kenyataan karir Nabi Muhammad, sosiolog AS kelahiran Pakistan, almarhum Fazlur Rahman  berpendapat bahwa pada akhir hayatnya  Muhammad Rasulullah berperan sebagai Nabi-Penguasa dari hampir seluruh semenanjung Arabia, kendatipun dia tak pernah menyebut dirinya sebagai seorang penguasa.  Ini adalah fakta sejarah.  Memang, sebutan apa yang diberikan untuk negara yang dia pimpin saat itu tidak begitu jelas.  Dan benar pula bahwa sebutan negara Islam (Daulah Islamiah) saat itu belum lagi dikenal.  Namun, fakta sejarah tetap “berkata” bahwa Mohammad adalah seorang penguasa di samping sebagai seorang rasul.  Namun perlu dicatat bahwa agama dan negara di masa Nabi bukanlah sebagai saudara kembar.  Juga, tidaklah satu sama lain saling bekerja sama.  Lantas bagaimana ? Menurut Rahman,  negara adalah pantulan dari nilai-nilai moral dan spiritual serta prinsip-prinsip yang disebut Islam.  Negara juga bukan perpanjangan dari agama, melainkan sebagai instrumen dari Islam.  Dengan kata lain, Islam dan Negara (politik) bukanlah dua sisi dari suatu mata uang, melainkan negara merupakan konsekuensi logis dari penerapan ajaran Islam (Fazlur Rahman, Islam Modern Tantangan Pembaruan Islam, Yogyakarta, 1987, hlm. 10.  Dengan nada yang sama lihat pula T.M. Hasbi Ash-Shiddiqi, Ilmu Kenegaraan dalam Fiqh Islam, (Djakarta, 1969), hlm. 14).

            Setelah Nabi wafat prinsip negara sebagai pantulan dari nilai-nilai moral dan spiritual Islam terus dilanjutkan oleh para pengikutnya.  Mereka pun pada waktu yang sama berperan sebagai warosatul ambiya (pewaris nabi), penerus misi penyiaran dan penyebaran ajaran Islam sekaligus sebagai kepala negara untuk memimpin dan melaksanakan hukum.  Kepemimpinan demikian ini biasa kita kenal dengan Khulafa ur-Rosyidin, yakni Abu Bakar (I), Umar bin Khottob (II), ‘Utsman bin Affan (III), ‘Ali bin Abi Tholib (IV).  Namun, setelah keempat Kholifah itu wafat, pemerintah selanjutnya lebih bersifat imperium non-Islami kendatipun mereka masih menyuntikkan beberapa prinsip Islam dalam pemerintahan, serta masih berperan pada waktu yang sama sebagai pemimpin pemerintahan dan agama.

SHALAT JUM’AT DI TENGAH JALAN KATANYA TIDAK BOLEH…

Image result for demo anti ahokSobat, sekedar diketahui, aksi bela islam jilid III rencananya dilakukan pada 2 Desember 2016 yang meminta agar Ahok segera ditahan pasca-ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama. Demo tersebut diinisiasi oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) akan berpusat di Bundaran HI dengan menggelar doa –dan shalat jum’at– bersama. Ada yang menuduh bahwa demo sudah mengarah pada Makar,  namun ketika ditanya sumber informasinya dijawab silahkan lihat ke Google,  merefleksikan sebuah tuduhan yang sangat tidak profesional,  bahkan justru sangat profokatif bahkan kontra produktif bagi keamanan nasional.  Sebab,  demo super damai ini yang menuntut ditegakkan rasa keadilan,  justru dimobilisir menjadi sebuah isu yang disebutnya sebagai anti kebhinekaan,  anti NKRI,  sebagai sebuah “gerakan makar”. Padahal oleh para  peserta demo,  apa yang mereka lakukan justru sebagai wujud kecintaan mereka terhadap NKRI dan oleh sebab itu,  menuntut agar hukum di NKRI ini ditegakkan sebagaimana mestinya tidak tumpul ke atas tajam ke bawah,  agar hukum di NKRI ini dilaksanakan sesuai dengan rasa keadilan masyarakat.  Padahal pula para peserta demo ini,  justru menuntut ditegakkan hukum kepada orang yang disebutnya telah menista agama yang pada ujungnya justru mencederai sendi-sendi kebhinekaan.

Tapi,  entah kenapa sesuatu hal yang sebenarnya gampang  diberlakukan sebagai sesuatu yang rumit oleh pemerintah (baca: bukan negara).  Tapi,  entah kenapa pula sebuah kasus kecil yang dilakukan seorang anak manusia bernama Ahok,  oleh pemerintah seolah menjadi sesuatu yang sangat besar  bahkan disebutnya sebagai telah mengancam NKRI dan Kebhinnekaan,  sehingga pimpinan pemerintahan ini harus melakukan safari ke berbagai pihak untuk meredamnya.  Padahal  cara meredam unjuk rasa ini sangat mudah,  yakni:  orang yang sudah disangka menista agama itu cukup ditangkap-ditahan,  maka  hingar bingar politik nasional tidak akan sepanas sekarang,  persis sebagaimana telah diberlakukan pada para tersangka lain  yang telah melakukan perbuatan serupa.  Image result for demo anti ahok

Sobat,  sekali lagi,  sesuatu yang sebenarnya kecil  ini,  sekali lagi seolah diperlakukan sedemikian istimewa oleh pemerintah,  sehingga menimbulkan kebisingan sosial politik bahkan hukum di tanah air tercinta ini.  Tak tanggung-tanggung,  bahkan isu pun seolah dipelencengkan dari substansinya, yakni tuntutan agar sang peleceh agama agar ditangkap.  Pelencengan itu misalnya: tertuju pada ulasan tentang hukum shalat Jum’at di tengah jalan, sesuatu ekspresi yang akan dilakukan pada aksi Islam jilid III.

Shobat,  terkait dengan eksploitasi  isu sholat Jum’at di jalan raya,  berikut saya kutipkan sebuah artikel yang ditulis Sam Waskita tentang “bolehnya”   pelaksanaan Shalat Jum’at di jalan raya,  yang membantah pendapat sebaliknya dengan mengatakan sebagai sebuah bid’ah besar.  Berikut artikel tersebut:
.
Bismillah, walhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah al Musthafa.
.
Gus Mus menyebut Shalat Jum’at di tengah jalan sebagai bid’ah besar. Ada juga yang menyebut hadits, bahwah shalat di Qari’atut Thariq (tengah jalan) termasuk salah satu dari TUJUH tempat yang dilarang oleh Nabi Saw melakukan shalat padanya.
.
BEGINI YA… Andaikan saja Shalat Jum’at “di tengah jalan raya” itu benar-benar dilarang, benar-benar haram secara tegas, tanpa perselisihan lagi. Atau, andaikan hukumnya cuma satu: HARAM!
.
Dalam kondisi tertentu, larangan itu bisa DIPERBOLEHKAN, jika ada urusan STRATEGIS UMMAT yang patut didahulukan. Terutama berkaitan dengan maksud PERJUANGAN.
.
Ada beberapa momen amalan Salaf yang bisa menjadi rujukan. Demi kemaslahatan Ummat & kemuliaannya, sesuatu yang dilarang bisa diperbolehkan.
.
1. Mencegat kafilah dagang adalah haram; tapi Nabi Saw dan para Shahabat Ra telah mencegat kafilah Abu Sufyan Cs, yang nantinya memicu perang Badar. Karena kaum musyrikin telah memaklumkan hukum perang atas kaum Muslimin, lewat pembunuhan, penyiksaan, pengejaran, pelarangan hijrah, perampasan harta Muslim, dll.
2. Menebangi pohon/tanaman dalam perang adalah haram; tapi Nabi Saw melakukan itu ketika mengepung kaum Yahudi di Khaibar. Karena Yahudi sulit ditundukkan, kecuali dengan cara itu.
3. Memerangi Yahudi bagi Nabi Saw adalah TIDAK BOLEH, sesuai perjanjian PIAGAM MADINAH. Tapi setelah Yahudi berkhianat terus-menerus akhirnya mereka diusir, diperangi, direbut harta bendanya.
4. Nabi Saw diwajibkan mengembalikan ORANG MAKKAH yang datang ke Madinah, setelah berlaku Perjanjian HUDAIBIYAH. Tapi ketika ada kaum Mukminah hijrah ke Madinah, beliau menolak mengembalikan mereka. Allah juga melarang itu (Al Mumtahanah 10). Nabi memilih menebus mahar mereka ke para suaminya (kaum musyrikin).
5. Menyerang musuh saat malam hari adalah dilarang. Tapi pada kaum tertentu yang TIDAK MENGENAL ETIKA perang, Nabi Saw pernah melakukan itu. Seperti pasukan Muhammad bin Maslamah Ra ketika menyerang kampung Bani Tsa’labah di malam hari, saat mereka tidur nyenyak. Serangan serupa juga dilakukan Abu Ubaidah Ra ke sasaran sama.
6. Pasukan Abu Ubaidah Ra pernah menemukan ikan paus besar tergeletak di pantai. Mereka sedang amat sangat kelaparan. Sempat terjadi debat di antara mereka, tentang status “bangkai”. Abu Ubaidah berpendapat, bhw mereka dalam kondisi FI SABILILLAH, kehabisan bekal makan, jadi makan saja ikan itu. Ternyata, Nabi Saw tidak menyalahkan pendapat mereka.
7. Melakukan tipu daya adalah haram. Tetapi Shahabat Ra pernah melakukan tipu daya kepada pemimpin Yahudi, Ka’ab bin Al Asyraf, yang telah menghina Nabi Saw.
8. Membukukan Al Qur’an dalam Mushaf adalah perbuatan yang TIDAK PERNAH dilakukan Nabi Saw alias bid’ah. Tapi Khalifah Abu Bakar Ra melakukan itu, atas saran Umar Ra, demi menjaga OTENTISITAS TEKS AL QUR’AN. Dan lain-lain.
.
DALIL QUR’ANI:
(a). “Dan janganlah kalian memerangi mereka di area Masjidil Haram, sampai mereka memerangi kalian di dalamnya; jika mereka memerangi kalian (di sana), maka balas perangi mereka. Demikianlah balasan kepada orang-orang kafir.” (Al Baqarah: 191).
(b). “Katakanlah, berperang di bulan Haram adalah dosa besar. Tapi menghalangi manusia dari jalan Allah, kufur kepada-Nya, mengusir manusia dari Masjidil Haram, adalah LEBIH BESAR DOSANYA di sisi Allah. Dan FITNAH itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (Al Baqarah: 217).
.
KESIMPULAN: “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Kekafiran, menista Al Qur’an, menghina ulama, memecah belah Ummat; itu semua lebih kejam, parah, sadis daripada soal MENUTUP JALAN RAYA.”
.
Demikian, semoga bermanfaat. Amin ya Malikuna ya Maulana.

Shobat,  semoga diambil hikmatnya.

Sumber: https://www.facebook.com/joko.waskito.988/posts/10207698834097101

Foto : Dari berbagai sumber