Archive for the ‘1. Sosial Politik’ Category

Sowan ke KJRI (Bagian 5)

Ahad  ternyata bukan hari libur bagi Saudi Arabia. Negeri ini menerapkan hari Jum’at dan Sabtu sebagai liburnya,  sedangkan hari Ahad (sesuai artinya)  justru  sebagai hari perdana sekolah dan kerja.  Oleh karena itu,  meskipun kami baru sampai di hari Sabtu malam,  namun esuk harinya kami sudah langsung tancap gas menjalankan tugas.  Pada pagi itu kami meluncur dari Mekkah menuju Jeddah.

Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI)  di Jeddah menjadi tujuan awal,  guna melaporkan diri  bahwa kami telah sampai di Arab Saudi,  sehingga  apapun yang terjadi  pada kami  akan mendapat ”perhatian”  dari  perwakilan Indonesia  di negara ini.  Sayang sekali,  sampai di Jeddah kami  tak dapat bertemu ”siapapun”  yang sebelumnya  telah menjalin kontak  dengan sejak  di tanah air.  Semua kontak person di Konjen tak berada di tempat,   sedang sibuk  dalam acara Simposium Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonensia (PPMI) se Timur Tengah yang diselenggarakan di Madinah.

Astaghfirullah,  kenapa informasi sepenting ini tak sempat kami dapatkan  ketika masih di tanah air ?  Seandainya informasi berharga ini  telah kami peroleh sebelumnya,  niscaya penjadwalan kegiatan akan kami ubah,  dimulai dari Madinah, dan bukan dari Mekah. Informasi lain yang lebih mengejutkan adalah:  justru pada hari-hari kedatangan kami,  di Saudi sedang melaksanakan libur nisfu sannah (tengah tahun).  Artinya,  seluruh perkantoran dan kampus sedang libur tanpa kegiatan,  sehingga menjadi sangat sulit untuk wawancara penelitian .  Terus terang kami sempat pesimis bahwa penelitian akan mampu mendapatkan narasumber sebagaimana  direncanakan. Namun, karena sudah terlanjur di lokasi,  kami hanya tawakal sambil berkata : hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wa ni’mannashiir:

Karena kontak person di KJRI tak ada semua,  maka  ketika hendak bertamu pun kami terpaksa harus menunggu agak lama.  Memang,  seorang ”pejabat KJRI”  yang hari itu  sedang bertugas di Madinah memberi kontak person bernama pak Agus untuk bisa dihubungi. Namun,  anehnya,  ketika kami menyodorkan nama Agus untuk ditemui,  pihak  KJRI masih bertanya Agus siapa dan Agus  bagian apa ?  Kami sempat bertanya-tanya,  kira-kira ada berapa Agus di KJRI  ini atau jangan-jangan tak satupun Agus ada di dalam kantor ini.  Dalam hati,  saya beristighfar berkali-kali,    dan mungkin karena wasilah  istighfar ini akhirnya pintu KJRI terbuka untuk kami. Alhamdulillah.

Singkat kata,  pada Ahad,  2 April 2017 ini kami akhirnya berhasil  melakukan pengurusan surat menyurat lantas disusul  wawancara secukupnya  mengingat  personil KJRI konon sedang super  sibuk mengurusi pemanfaatan program amnesti dari pemerintah Arab Saudi  terhadap para TKI bermasalah.  Setidaknya beberapa orang sempat kami jumpai di KJRI,  seperti Kepala Konsuler KJRI Jeddah bernama Dr. Rahmat Aming Lasem.  Beliaulah yang akhirnya bersedia diganggu  untuk ”mengurusi” kami.  Salah satu diantara  orang KBRI  yang masih kuingat lekat adalah :  Mas Daday,  alumnus  LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta yang berhasil menjadi local staff untuk  bagian penerjemah.  Selain ahli bahasa,  ternyata pria asal  Banten ini  mengikuti secara serius dinamika  realitas sosial kemasyarakatan di Arab Saudi, sehingga informasi-informasi yang beliau sampaikan dari jam 10.00 – 13. 00 waktu Jeddah) bisa menjadi pijakan awal  untuk menggali secara lebih luas dan dalam  pada wawancara berikutnya.  Syukron mas Daday.

Sebelum pamit,  kami menyempatkan numpang shalat Dzuhur,  bahkan  Alhamdulillah  kami  sempat pula  nimbrung makan di lokasi bersama-sama  para  staff KJRI.  Menunya,  makanan khas Indonesia : Soto dan krupuk.   Tak ada kata yang patut kami ajukan untuk budi baik mereka kecuali : Jazakallah khorul jaza’,  semoga Allah membalas anda dengan balasan kebaikan.  Amin….***

 

Haji dan Umroh: Semarak Sama, Hampir Tak ada Beda (Bagian 4)

Malam merayab gulita  ketika kendaraan mengantarkan kami meninggalkan Jeddah untuk menuju Mekkah.  Sekitar satu dua kilometer dari parkiran bandara,   mobil berhenti.  Kupikir pasport kami akan diperiksa dilokasi ini,  seperti pernah kami alami ketika berhaji.  Dugaanku ternyata meleset,  sebab  sang sopir hanya nyamperi  mas Izdihar Ibrahim,  seorang mahasiswa S1  semester ke 9  yang akan menemani kami kemanapun kami pergi, tentu saja selama masih di Saudi.  Setelah pemuda asal Ngawi – Jawa Timur menyertai kami,   mobil segera melesat cepat ke arah Makkah kota suci.

Entah berapa menit waktu yang kami lalui,  dan entah berapa kilometer jarak yang telah kami tapaki.  Hal yang kurasakan adalah rasa penat mulai menjalar di seluruh badan,   di tengah laju mobil  yang ngebut bahkan perjam  mencapai angka 120 kilometeran.  Walhasil,  akhirnya kami sampai di hotel Nawarat Al-Shams Hotel,  berlokasi di daerah Misfallah, tepatnya di Jalan Ibrahim Al-Khalil. Sebagai ancar-ancar ia berdekatan dengan Dhiyafa Mubarak Hotel.

Dilihat dari tampang  para pegawainya,  apalagi ditambah dengan tamu-tamu yang menginap di dalamnya,  sepertinya hotel dikelola orang keturunan Asia Selatan. Hotel ini tergolong super sederhana,  bahkan lebih kumuh dibanding hotel yang kuinapi  ketika berhaji. (2015). Bahkan, tatkala berhaji,  satu kamar dihuni 4 orang saja,  kali ini kami  terpaksa berbagai untuk berlima,  termasuk mas Izdihar pendamping kami juga.  Meski kondisinya serba sederhana,  namun saya justru patut bersyukur,  karena : (1). Lokasi hotel hanya sekitar 300 meter  di belakang Hotel Hilton – Zamzam Tower.  Walhasil,  untuk pulang pergi hotel – masjidil haram,  hanya dibutuhkan beberapa menit waktunya.  Alhamdulillah. (2).  Di tengah keterbatasan waktu persiapan dan ketersediaan  anggaran yang pas-pasan,  maka didapatkannya hotel ini sudah merupakan anugerah luar biasa.  Sebab, kabarnya hotel dan atau penginapan di Mekkah dan Madinah konon sudah diblok oleh berbagai travel perjalanan,  sehingga prosedur individual tampaknya akan mengalami kesulitan untuk mendapat penginapan,  apalagi yang dekat dengan pusat peribadatan: masjidil haram.

Setelah penataaan barang beres,  mulailah kami bersiap menjalankan prosesi Umroh : thawaf ifadhah,  Sa’i,  dan tahalul di masjidil haram. ”Labbaik Allahumma labbaik”,  kembali bibirku bergetar melafalkan ucapan talbiah.   Menjelang masuk masjid barulah talbiah  kuakhiri  untuk diganti dengan do’a-doa lain mulai dari penutupan talbiah,  do’a  masuk masjidil haram,  serta doa ketika pertamakali melihat ka’bah.  ”Alhamdulillah ya Allah,  setelah  dua tahun berselang,  akhirnya kami bisa kembali bertandang”,  kata batinku lirih setengah merintih.  Mataku berkaca-kaca sebagai ekspresi rasa bahagia yang tak mampu terungkap dalam kata-kata.

Terdapat satu hal  yang sama sekali di luar dugaan saya, yakni: Towaf tengah malam,  dilakukan masih  pada bulan Rajab,  ternyata  kepadatan para muthawwif  tak ada beda dengan  padatnya  di musim haji (bulan Dzul Qaidah – Dzul Hijjah). Masya Allah.  Jika sedemikian keadaannya,  lantas kapan  Ka’bah dan kota Mekkah mengalami  keheningan dari lalu larang  para jamaah ?  ”Tidak pernah lowong”,  jelas Izdihar,  ”Kecuali hanya selama satu bulan tepat setelah selesainya bulan haji,  dan berangsur-angsur para jamaah beranjak untuk pulang lagi.  Pada saat itulah,  Mekah dan Ka’bah agak sela statusnya,  meskipun  tidak sampai lengang kondisinya”.

Kami manggut-manggut mendengar penjelasan ini. Rasa takjub memenuhi rongga dada bahkan menjalar  ke tulang belulang di seluruh raga.

”Bahkan,  pada Ramadan di bulan suci,  jamaah umrah melampaui jumlah jamaah haji”,  tandas Izdihar menambahi penjelasan. Kembali  Rasa takjub menjalar  di dalam dada,  dan terus mengalir  ke tulang belulang di seluruh raga.

Dalam situasi padat inilah,  maka di tengah badan yang sudah penat,  terpaksa kami  bertowaf dengan tidak masuk ke dalam  jarak yang amat dekat dari ka’bah. Selesai thowaf tujuh putaran di tengah gulita malam,  dengan disisipi minum zamzam dan shalat  sunnah tawaf tujuh putaran,   kami langsung Sa’i lari-lari kecil antara bukit Sofa dan Marwa juga sebanyak tujuh perjalanan. Pada saat itulah,  rasa pegal mulai menjalari kaki.  Oleh sebab itu,  setelah sa’i dan diikuti tahalul potong rambut beberapa helai,  kami langsung balik ke penginapan untuk segera istirahat meluruskan badan. Alhamdulillah,  kami telah menuntaskan prosesi Umrah,  mengawali pekerjaan lain yang akan menyongsong di esuk hari.***

Memulai Kerja dengan Ibadah : Niat Ihrom di Atas Awan (Bagian 3)

Sabtu pagi,  1 April 2017, sekitar jam 10 a.m.  waktu Malaysia,    mas Khairy Fateh telah menjemput kami di hotel.  Tak butuh waktu lama kami telah melesat sampai  di bandara. Dengan sigap mas Khairy mengatur urusan Check in penerbangan,  lantas mengantarkan kami makan siang di sebuah restoran. Pada titik inilah  baru kusadari,  betapa hanya kami yang sudah berpakaian ihram di bandara di  Kuala Lumpur ini.  Di lokasi ini  sebenarnya banyak sekali kelompok-kelompok Umroh,  termasuk asal Indonesia yang jumlahnya justru terbilang banyak.  Namun,  jamaah umumnya  berseragam batik.  Sekali lagi,  hanya kami yang telah berbusana ihram. ”Waduh,  rekomendasi mas Ferly ternyata meleset kali ini”,  gerutu hatiku kala itu.

Situasi “asing”  ini tentu membuatku agak kikuk.  Kalbu seolah dibayangi-bayangi perasaaan bahwa ratusan pasang mata selalu memandang ganjil pada kami: berpakaian ihram  di tengah bandara internasional yang jaraknya masih lebih  9.000 km  dari kota Makkah.  Rasa Canggung senantiasa menggelayut di benakku.  Bahkan,  rasa sungkan selalu membatasi perilakuku.  Beban ini baru agak terurai ketika kami  menjalankan shalat Dluhur.  Sebab,  di mushola bandara itulah kami menemukan satu dua orang yang berbusana serupa:  kain  ihram. ”Alhamdulillah, ada temannya”,  gumamku lirih.

Cukup lama kami berlalu lalang di main terminal –   bandara Malaysia,  sebab kami sampai di lokasi  sekitar pukul 11.00 am, namun baru akan terbang di seputar jam 15.00 pm Malaysia. Ditargetkan kami akan sampai pada pukul 18.50. waktu Jeddah. Artinya,  kami  akan mendarat di tanah Arab ketika hari telah malam. Berpijak pada realitas inilah,  kami lantas menetapkan rencana:  sampai Jedah langsung menuju Mekah untuk berumroh tengah malam.  Dengan cara ini,  maka esuk hari:  kami bisa langsung bekerja,  setelah pada malam hari dimulai  dengan sebuah do’a (Umroh) pada Ilahi.

Menjelang sore,  pesawat Saudi Arabia telah menerbangkan kami  ke angkasa. Singkat kata,  selama sekitar 10 jam kami mengangkasa  mengarungi buana,  melintasi berbagai negara  dengan jarak tempuh hampir 10 ribu km  jauhnya.  Waktu berjalan pelan.  Jarak melipat lambat.  Tak banyak  hal bisa kulakukan.  Apalagi,  kondisi kami kala itu hanya bertangkup dua lembar kain sebagai busana,  sehingga  bergerak tak bisa leluasa. Sepanjang perjalanan  saya hanya mendengarkan  murotal,  lantunan ayat-ayat al Qur’an yang bisa kudapatkan dari audio visual yang disediakan maskapai penerbangan.  Justru dengan menyimak murotal inilah rasa sumpek bin  jenuh dapat kusingkirkan,  bahkan seringkali dapat menghanyutkanku  menuju alam istirah yang paling dalam:  tidur.  Alhamdulillah. Hanya ketika hendak menjalankan sholat,  dan hanya tatkala disuguhi makanan-minuman,   kami terbangun,  balik ke dalam kesadaran.

Sekitar satu jam sebelum waktu pendaratan,  kru pesawat mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan melewati miqot makani,  yakni batas lokasi  terakhir untuk dimulainya niat ihram.  Dengan segera,  saya mengambil air wudlu,  lalu berniat umroh : ”Labbaik Allahumma Umrotan:  Wahai Allah hamba menyambut panggilanMu untuk berumroh”. Sejak saat itulah,  berlokasi  di angkasa  atas Saudi Arabia itulah,  berbagai larangan dan atau kewajiban Ihram terkena pada diri saya.  Saya harus menjaga diri untuk menghindar dari pelanggaran larangan,  sebab jika melanggar tentu akan terkena  denda hukuman.  Sejak detik itulah,  bibirku lantas tiada henti untuk terus bertalbiah sebagai amalan sunnah yang diutamakan sampai kita memasuki masjidil haram.

Alhamdulillah,  pesawat sampai Jeddah tepat pada waktunya.  Pukul 18.30 waktu setempat, roda-roda  Saudi Arabian Airlines (SV 831) berderit  menapak  daratan, menandai kami sudah sampai pada tujuan. Singkat kata,  setelah urusan imigrasi dan bagasi selesai di atasi,  dan setelah mas Thalib, orang yang ditugasi mengurus transportasi kami di kota Jeddah ini,   berhasil menyediakan fasilitas transportasi,  kami langsung bergerak, berarak meninggalkan terminal selatan,  bandara Jeddah King Abdul Aziz Internasional.***

Berbusana Ihram dari Sepang, Kuala Lumpur (Bagian 2)

Lembayung senja mulai meremang di cakrawala.  Mentari  mulai beranjak  istirah  untuk  bersiap  menuju peraduan.  Sore yang indah,  semolek harapan  untuk memulai perjalanan menuju kota yang diridhoi Tuhan.  Memang,  kami masih harus transit dulu di Malaysia,  namun untuk sebuah perjalanan,  prosesi ini tetap tercatat satu rangkaian dari tapak-tapak yang mesti kami lakukan.

Perlahan pesawat yang kami tumpangi berderit,  bergerak mengangkasa,  meninggalkan tanah airku,  bumi Jakarta,  tanah Indonesia.  Selamat tinggal istriku,  selamat tinggal anak-anakku,  selamat tinggal  semua sahabat dan handai taulanku.  Untuk sementara waktu,  saya terpaksa meninggalkan kalian,   melanglang ke negeri jiran sebelum melanjutkan ke Saudi,   tanah gersang –  padang pasir  namun diberkahi tuhan: Bakkata Mubaarokan.

Sekitar satu jam pesawat mengangkasa,  dan  sekitar  pukul 19.00 waktu setempat  kepak  Garudaku  akhirnya terhenti di bandara Kuala Lumpur-Malaysia.  Anehnya, waktu Malaysia lebih cepat  satu jam dibanding Jakarta,  meski posisi Malaysia justru  ada di barat ibu kota Indonesia.  Artinya,  ketika jam di  Kuala Lumpur menunjuk angka 07 pm,  Jakarta baru menunjuk ke pukul 06 pm.  Namun karena matahari lebih dahulu menyinari Jakarta,  maka ketika pada saat yang sama,  Jakarta mulai memasuki waktu Maghrib,  sedangkan Kuala Lumpur  justru masih menunggu beberapa saat untuk  waktu yang sama: Maghrib.

Pada keremangan itulah seorang pria asli Malaysia bernama  Khairy Fatih telah menjemput kami di lorong kedatangan Bandara.  Dialah yang bertanggung jawab mengurusi seluruh kebutuhan  kami  selama transit  di Kuala Lumpur.  Mas Khairy adalah sohib karib  mas Ferly.  ”Sesama alumnus universitas al Azhar – Kairo”,  jelas mas Khairy singkat.     Karena pertemanan ini pula,  Ferly – Khairy  akhirnya membangun kerjasama bisnis travel Umrah – Haji dengan bendera Al Madina Al Munawaroh.  Mas Khairy inilah yang bertugas mencarikan tiket-tiket ”murah” via Malaysia,  lengkap dengan akomodasi hotel dan  konsumsi selama transit di Malaysia. Jaringan ini pula yang telah membantu kami  mengatur seluruh perjalanan dari  Indonensia,  Malaysia,  termasuk khususnya selama tinggal di Saudi Arabia,  tentu saja dengan berbagai modifikasi mengingat tujuan kami memang  bukan Umroh-Haji,  melainkan sebagai kunjungan kerja : untuk meneliti.  Jaringan ini bahkan telah mengatur biaya hidup selama 8 hari yang akhirnya bisa diperpanjang bahkan  sampai 13 hari,  itupun masih dilengkapi  dengan  transportasi ke berbagai lokasi dan  kampus  selama kunjungan kerja di Arab Saudi. Alhamdulillah.

Sekali lagi,  penerbangan di Malaysia menuju Saudi Arabia ternyata banyak yang menawarkan ongkos lebih murah dibanding Indonesia. Oleh karena itu,  kami terbang dari negeri jiran ini. Hal yang sama dilakukan oleh ratusan jamaah umrah asal Indonesia, sebagaimana kami jumpai di bandara internasional Kuala Lumpur ini.  Di Saudi Arabia, pun ketika saya berjumpa dengan jamaah umroh asal Indonesia,  mereka banyak yang menyatakan diatur  terbang dari Malaysia.  Walhasil,  di tengah ratusan ribu rombongan umroh Indonesia,  ternyata justru Malaysia yang mendapatkan manfaatnya. Inilah nilai lebih dan atau kecerdikan Malaysia dalam memanfaat kesempatan di sekitarnya. Namun sebaliknya,  ini pula yang justru menjadi ”kedunguan” Indonesia yang malah membuang kesempatan yang sudah ada di genggaman.  Sedih.  Memang,  sangat menyedihkan. Ndak aneh,  jika ada seorang WNI keturunan Cina tidak bangga dengan bangsanya sendiri,  bahkan secara kasar menghardik warga sebangsanya dengan ucapan:  Indon. Indonesia.  Pribumi Tiko.

Dari bandara kami dibawa mas Khairy meluncur ke hotel View City yang terletak di wilayah Sepang. Sepang,  adalah sebuah nama yang tak asing bagi Indonesia,  karena di tempat ini telah dibangun sirkuit berkelas internasional.  Ketika ada moment balaban (motor race)  lokasi ini langsung dibanjiri wisatawan mancanegara.  ”Sebagian besar justru datang dari Indonesia”,  kata mas Khairy menjelaskan.  ”Pada moment seperti itulah,  biasanya hotel-hotel di sini membengkakkan tarifnya,  namun tetap full-booking juga”,  tambahnya.

Sekitar lima belas menit dari bandara,  kami sudah  sampai  hotel di Sepang yang berlokasi di  pinggiran kota ini. ”Tanpa ada kegiatan balapan,  Sepang memang sangat sepi”,  kata mas Khairy.  Meski hotelnya sederhana,  namun pelayanan yang diberikan sama sekali tak membuat kecewa.

Segera setelah menata barang bawaan di penginapan,  berikutnya kami diajak makan malam di sebuah restoran.  Ternyata kami difasilitasi untuk  segala,  termasuk untuk makan sesukanya tanpa lagi dipungut biaya.  Restoran yang berlokasi menempel dengan hotel,  tampaknya  dikelola keturunan India  sehingga makanan yang disajikan bernuansa Asia Selatan juga.  Meski demikian,  kami bersantap dengan lahap,  sehingga dengan perut kenyang  dapat mengantarkan kami ke peraduan dengan lelap.

Tak terasa  pagi sudah  menjelang,  sehingga kami bersegera mandi, shalat,  dan   menuju restoran untuk sarapan.  ”Lebih baik mengenakan pakaian ihrom dari Malaysia,  sebab kebayakan warga Malaysia memang melakukan hal serupa”,  pesan mas Ferly ketika di Jakarta. ”Ulama Saudi memang sudah membangun semacam kesepakatan,  bahwa sebagai rukhsoh (keringanan) maka  ihrom dapat dilakukan di bandara Jeddah.  Namun,  banyak jamaah masih ragu,  mengingat miqot makani  yang ditetapkan Rasulullah   terletak tepat ketika masih mengangkasa di udara, langit Yalamlam.   Akibatnya,  banyak warga tetap niat ihrom di udara dekat miqat makani,  namun untuk persiapan mandi, pakaian, dan shalat sunnah ihromnya sudah dilakukan  ketika masih di Malaysia”,  tambah mas Ferly. Atas saran inilah,  kami akhirnya mandi dan berpakaian ihrom dari hotel Malaysia. Dengan demikian,  berarti selama 10 jam penerbangan  Kuala Lumpur – Jeddah  kami  menutup  tubuh hanya dengan dua helai  kain putih yang dibalutkan pada pinggang ke bawah  dan kami tangkupkan pada punggung dan dada. ”Labbaik Allahumma labbaik,  labbaika laasyarika laka labbaik”,  kembali bibirku berdesis melafalkan talbiah meski  belum secara formal-definitif melakukan niat ihram.

Mentari mulai meninggi.  Burung-burung beterbangan  meliuk ke sana ke mari,   seolah  bermaksud hendak mengantarkan kami  yang akan segera terbang mengangkasa  menuju tanah suci.***

Antara Bandara dan Maskapai Penerbangan Kita: Kompetisi yang Tak Kompetitif (Bagian 1)

 

Pagi,  sekitar pukul 08.45 seorang abang ojeg on-line   telah berhenti tepat  di depan rumah.  “Ini rumah bu Wiwi,  ya Pak ?  tanya bang ojeg.  “Betul”,  jawabku, “Namun,  yang minta diantar saya, bang”.   Tak perlu berlama-lama saya segera nangkring di belakang abang ojeg,  untuk diantarkan ke Cibinong City Mall (CCM), tempat mangkalnya bis Damri bandara tujuan Soekarno – Hatta.

Hari  Jum’at,  31 Maret 2017 saya memang hendak bepergian jauh,  terbang menuju Saudi Arabia.  Perjalanan ke negeri Hijaz tempat bertenggernya dua tanah suci,  Makkah dan Madinah, ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi saya.  Sebab,  sebelumnya,  sudah dua kali saya melanglang ke bumi tempat lahirnya agama Islam ini.  Perjalan pertama kulakukan di tahun 1997 dan perjalanan kedua saya ayunkan  di tahun  2015. Kedua-duanya untuk   menjalankan  rukun iman ke lima,  pergi haji ke Baitullah.  Bedanya,   perjalan pertama kulakukan  sebagai realisasi menjalankan kewajiban pribadi  seorang bujangan,  adapun  perjalanan kedua merupakan ekspresi kewajiban  seorang suami untuk mengantarkan –menemani  istri dalam menjalankan kewajiban.  Nah,  kali ini,  di tahun 2017 ini,  saya pergi lagi  ke  tanah Suci,  namun bukan untuk berhaji, melainkan  dalam rangka kerja –  meneliti yang ditugaskan kepada kami. Tujuan spesifik inilah yang menjadikan penerbangan ke Saudi  kali ini menjadi agak  berbeda dari   dua kepergian sebelumnya.

Mungkin  karena  perbedaan tujuan pokok  ini pula,  maka  pada kepergian kali  ini  tak ada satu orang pun yang mengantarku.  Istri sudah berangkat ke kampus,  dua anak pun sudah berangkat sekolah. Walhasil,  perjalanan ke tanah suci kali ini menjadi sangat simpel,  cukup  nangkring di atas motor,   di antarkan  abang ojeg. Meski demikian,  awal perjalanan ini tetap  menyemburatkan rasa syahdu di hatiku.  Kalbuku meleleh.   Mataku berkaca-kaca.  ”Labbaik Allahumma labbaik,  labbaika laa syariika laka  labbaik”.  Bibirku berdesis,  mengucapkan kalimat talbiah. Ya,  kata-kata talbiah,  sebagai refleksi bahwa aku kembali dipanggil Allah untuk berkunjung ke Makkatul Mukarromah Asy-Syarifah,  bahwa aku diseru lagi  oleh junjunganku  nabi besar Muhammad SAW untuk bersilaturrahmi ke rumah beliau di Madinatul Munawwaroh.

Jam 9.00 tepat,  bis Damri bergerak pelan meninggalkan CCM.  Mentari bersinar cerah. Langit membiru indah.   Buana benderang.  Burung pipit  beterbangan ceria,  seolah  mengantarkanku dengan ekspresi  suka cita.  Realitas alam ini sedikit banyak mampu mengganti senyuman istriku,  mengganti keceriaan anak-anakku  ketika aku  mulai bergerak meninggalkan Cibinong. ”Labbaik Allahumma Labbaik: Ya Allah… hamba memenuhi panggilan Mu”,  kembali  bibirku berdesis di sepanjang jalan menuju bandara, Soekarno – Hatta.

Sekitar pukul 11.00 siang kami (saya dan tiga teman seperjalanan) sudah berkumpul di bandara,  di bagian penerbangan internasional.  Karena kebetulan  hari Jum’at,  maka menjelang dzuhur, kami  bersegera  mencari masjid  untuk Jum’atan.  Dalam pencarian itu,  apa yang saya dapatkan adalah sebuah  keterkejutan. Ya,  terkejut atas fakta bahwa masjid bandara  yang kami temukan  hanyalah sebuah bangunan kecil,  super sederhana,   yang posisinya nyempil  antara parkiran ratusan  mobil  dan beberapa warung kecil kaki lima  yang juga sangat  sederhana.  Sebuah kontradiksi antara ”bangunan masjid yang kumuh,  di tengah bangunan  bandara internasional  yang super megah”.  Bahkan,  dibanding  dengan mushola di kampungku saja,  masjid bandara internasional ini  kalah jauh dalam  soal  fasilitas dan kebersihan, apatah lagi  dalam kualitas bangunan. Intinya,  bangunan ini tak pantas  dinamakan masjid bandara di Jakarta apalagi bandara pada level internasional sebutannya.

Hatiku meleleh.  Mataku berkaca-kaca melihat fakta mengecewakan  ini:   realitas bangunan masjid yang disediakan oleh bandara berkelas  internasional,  realitas tempat ibadah  yang terletak pada gate penerbangan internasional yang otomatis pula menjadi cerminan raut muka bangsa Indonensia yang konon katanya mayoritas beragama Islam.

Kedaruratan”masjid” bandara ini  tentu saja  tak mampu menampung jamaah yang begitu melimpah.  Orang yang shalat  meluber di halaman yang super ngentak-entak panasnya.  Bahkan, tidak sedikit dari mereka tidak kebagian tikar ataupun karpet  tambahan untuk alas sholat.  Alhamdulillah,  untung saja kulihat ada seorang ibu tua (sepertinya: pedagang makanan di sekitar masjid) yang bersodaqoh kertas koran dan kardus bekas yang diberikan kepada jamaah. Melihat realitas ini muncul pertanyaan genting di benakku, bagaimana bila terjadi turun hujan ? Benakku yang lain langsung menukas tangkas,  ”sudah pasti jamaah shalat  (termasuk calon penumpang pesawat) terpaksa berbasah-basahan,  meskipun mereka hendak bepergian”.

Apakah para pejabat tidak pernah melihat realitas ini ?  Kalaupun bukan pejabat, apakah para karyawan bandara tak pernah jum’atan di lokasi ini,  sehingga tak menyampaikan aspirasi terkait kondisi”masjid ”  yang serba darurat ini ? ,  semburat tanya berulangkali muncul dari dalam hati.

Bepergian di hari Jum’at memang makruh hukumnya.  Namun,  acapkali terpaksa dilakukan karena beberapa alasan,  termasuk kepergian kami di hari Jum’at ini.  Sebagai catatan, meskipun kepergian kami ke Saudi sebagai perjalanan tugas  meneliti,  namun tak berarti segalanya  telah tercukupi.  Sejak awal persiapan,   banyak ganjalan telah menghadang.     Pertama,  perwakilan Indonesia di Arab Saudi  (KBRI di Riyadh dan Konjen RI di Jeddah)  menyatakan tak bisa memberi bantuan selama  kami  ”dinas” di Arab Saudi.  ”Sedang sibuk”,  itulah alasan pokok yang mereka sampaikan.  Kedua,  ”kunjungan penelitian”  seperti apa yang kami lakukan,  bagi  pemerintah Arab Saudi  ternyata  tak mudah dikabulkan.  Butuh proses cukup lama (sedikitnya 3 bulan) guna mendapatkan ijin  dari  departemen luar negeri (imarotul khorijiah) Saudi.  Padahal,  time-line yang kami miliki sangat ketat dan tak mungkin  ditunda sampai tiga bulan lamanya.  Ketiga,  anggaran yang tersedia sangat terbatas, sehingga hanya tersedia hari kunjungan yang juga super  terbatas.  Berbagai keterbatasan inilah yang harus kami siasati sedemikian rupa  agar target tujuan dari kunjungan tetap dapat kami raih  sesuai yang kami gariskan.

Singkat kata,  setelah berkonsultasi dengan   berbagai pihak,  akhirnya  kami   dapat berangkat   sesuai jadwal yang kami rencanakan.   Alhamdulillah, Ya Robb.  Seandainya keberangkatan ini  molor,  mundur sebulan saja (pada  Mei 2017),  hampir pasti anggaran tak akan lagi mencukupi.  Sebab minggu terakhir Mei  sudah memasuki bulan Ramadhan yang bermakna pembiayaan akan membumbung tinggi,  baik untuk ongkos pesawat apalagi  biaya hotel selama di Saudi.  Alasannya,  pada Ramadhan jamaah umroh ke Arab Saudi meningkat tinggi,  bahkan konon melampaui jumlah jamaah haji.  Bagaimana, jika  diundur saja ke bulan Juni – Juli – Agustus (bertepatan Syawal – Dzul Qoidah – Dzul Hijjah).  Jawabnya singkat:  justru kami tak akan bisa pergi,  sebab di  ketiga bulan itu ijin berkunjung ke  Madinah – Makkah selain untuk kepentingan haji  hampir pasti  tak akan dilayani pemerintah Saudi.

Alhamdulillah,  untungnya,  berbagai kendala tadi akhirnya berhasil kami atasi.  Mas  Ferliansyah Zais dari travel Al Madinah Al Munawwaroh  mampu membantu  kami mengurus tiket pesawat, visa  perjalanan,  dan  terutama akomodasi selama di Arab Saudi.   Bahkan,  dari jatah waktu pembiayaan hanya 8 hari sudah termasuk perjalanan pulang pergi,  oleh mas Ferly dapat diatur – diirit-irit  menjadi  13 hari termasuk waktu pulang pergi. Terima kasih mas Ferly,  jazakallahu khoirul jaza’.

Khusus ongkos pesawat,  anggaran yang tersedia sebenarnya sudah tak lagi  mencukupi, terutama akibat jadwal booking yang tertunda  sehingga harga tiket terlanjur ikut menjadi mahal  pula.  Walhasil,  jika semula dirancang akan terbang dengan pesawat Garuda Airways (GA)  terpaksa  diganti  dengan Saudi Arabian Airlines (SU) dan itupun harus  dipilih  yang terbang dari  Kuala Lumpur.  Alasannya,  jenis pesawat yang sama dari  Jakarta  ternyata tetap lebih mahal harganya  dibanding dari Malaysia bahkan meskipun  masih ditambah dengan ongkos penerbangan Garuda  Jakarta – Kuala Lumpur plus menginap semalam di hotel sederhana.

”Lha kok bisa ?, tanyaku kala itu.

”Lha,  memang demikian kenyataannya”,  tukas  mas Hamdan Basyar,  anggota tim paling senior dalam perjalanan kami, ”Tanyakan pada pihak-pihak  terkait dengan tetek bengek  penerbangan di Indonesia,  kenapa biaya penerbangan di Indonesia lebih mahal dibanding Malaysia”.

”Inilah,  titik rawan dari tidak kompetitifnya penerbangan kita”,  tambah  Nostalgiawan Wahyudi alias Wawan,  salah satu anggota tim lainnya.

Walhasil,  hari  Juma’at, 31 Maret 2017,  saya,  Wawan, mas Hamdan,  dan  sang koordinator Mohammad Fakhri Ghafur  dengan terpaksa harus terbang dahulu ke Malaysia sebelum melanjutkan  ke Saudi Arabia. ***

 

Mendebat Politik Agama ? (Tulisan 4, Terakhir )

Adakah ajaran Islam yang secara eksplisit (tersurat) mencantumkan konsep kepemimpinan dalam kehidupan bermasyarakat ?  Muhammad S.A.W pernah berkata “jika tiga orang (atau lebih) di antara kamu berjalan bersama, salah seorang hendaknya ditunjuk menjadi pemimpin”.  Pada kesempatan lain, Muhammad berkata pula “Muslim dilarang masuk ke dalam wilayah yang tanpa penguasa”.  Al Qur’an sebagai referensi pertama dan utama bagi Muslim pun secara jelas menegaskan bahwa Muslim diharuskan taat kepada Allah (Tuhan), Rosul, dan Amir (pemimpin/pemerintah). 

            Ucapan, tindakan serta takrir Muhammad (Hadits) dan firman Allah (al-Qur’an) adalah referensi (sumber) utama ajaran Islam.  Mengingat Alqur’an dan Hadits telah dengan jelas menekankan perlunya sistem kepemimpinan, maka implikasinya adalah kepemimpinan dalam Islam merupakan konsep penting yang harus diamalkan pemeluknya bila ingin ingin terdaftar dalam deretan Muslim sejati.

            Alhasil, berpijak dari uraian tadi kiranya kita dapat terarahkan pada jawaban atas persoalan awal tulisan ini, yakni apakah ada kaitan antara Islam dengan politik.  Nah, karena Islam menekankan pentingnya kepemimpinan, maka konsekuensinya Islam secara inherent telah pula menekankan pentingnya persoalan politik.

            Hampir semua ilmuwan sosial sependapat bahwa soal kepemimpinan dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah merupakan soal politik.  Hal ini mengandung makna bahwa bicara soal kepemimpinan berarti bicara pula soal politik, karena  masalah kepemimpinan memang tak terlepas dari konsep politik. Begitu pula, bicara kepemimpinan dalam arti sangat luas akhirnya akan bermuara pula pada suatu tatanan organisasi berupa negara.  Pun sebaliknya, setiap bicara soal organisasi kenegaraan konsekuensinya akan tak terhindarkan pula untuk membahas apa yang biasa disebut the ruling elit alias elit kepemimpinan.  Karena kepemimpinan adalah soal politik, dan masalah kepemimpinan adalah pula salah satu konsep Islam, maka konsekuensi logisnya Islam mengajarkan soal-soal politik, yang berarti pula soal kenegaraan.  Fakta demikian inilah yang dipakai landasan adanya suatu keharusan bagi Muslim mengkaitkan Islam dengan kehidupan politik.  Bahkan, ada sementara pihak yang berpendapat, tidaklah Islamis bila seorang Muslim sengaja berupaya memisahkan Islam dari soal politik dengan mengatakan Islam “yes”, politik “no”.  Dan atas dasar itu pulalah Ibnu Khaldun pernah menyatakan, kekuasaan politik adalah suatu keharusan dalam masyarakat Islam (.Rahman Zaenuddin, “Pokok-Pokok Pemikiran Islam dan Masalah Kekuasaan Politik”, dalam Miriam Budihardjo (ed.), Kekuasaan dan Wibawa, (Jakarta: Sinar Harapan, 1984)).     

            Lantas, bagaimana kaitan Islam dan Politik bila dilihat dari aspek sejarah kepemimpinan Mohammad ?  Adakah Muhammad mengaitkan soal-soal politik dengan perannya sebagai pemimpin agama (Rasul) ?.Bertolak dari kenyataan karir Nabi Muhammad, sosiolog AS kelahiran Pakistan, almarhum Fazlur Rahman  berpendapat bahwa pada akhir hayatnya  Muhammad Rasulullah berperan sebagai Nabi-Penguasa dari hampir seluruh semenanjung Arabia, kendatipun dia tak pernah menyebut dirinya sebagai seorang penguasa.  Ini adalah fakta sejarah.  Memang, sebutan apa yang diberikan untuk negara yang dia pimpin saat itu tidak begitu jelas.  Dan benar pula bahwa sebutan negara Islam (Daulah Islamiah) saat itu belum lagi dikenal.  Namun, fakta sejarah tetap “berkata” bahwa Mohammad adalah seorang penguasa di samping sebagai seorang rasul.  Namun perlu dicatat bahwa agama dan negara di masa Nabi bukanlah sebagai saudara kembar.  Juga, tidaklah satu sama lain saling bekerja sama.  Lantas bagaimana ? Menurut Rahman,  negara adalah pantulan dari nilai-nilai moral dan spiritual serta prinsip-prinsip yang disebut Islam.  Negara juga bukan perpanjangan dari agama, melainkan sebagai instrumen dari Islam.  Dengan kata lain, Islam dan Negara (politik) bukanlah dua sisi dari suatu mata uang, melainkan negara merupakan konsekuensi logis dari penerapan ajaran Islam (Fazlur Rahman, Islam Modern Tantangan Pembaruan Islam, Yogyakarta, 1987, hlm. 10.  Dengan nada yang sama lihat pula T.M. Hasbi Ash-Shiddiqi, Ilmu Kenegaraan dalam Fiqh Islam, (Djakarta, 1969), hlm. 14).

            Setelah Nabi wafat prinsip negara sebagai pantulan dari nilai-nilai moral dan spiritual Islam terus dilanjutkan oleh para pengikutnya.  Mereka pun pada waktu yang sama berperan sebagai warosatul ambiya (pewaris nabi), penerus misi penyiaran dan penyebaran ajaran Islam sekaligus sebagai kepala negara untuk memimpin dan melaksanakan hukum.  Kepemimpinan demikian ini biasa kita kenal dengan Khulafa ur-Rosyidin, yakni Abu Bakar (I), Umar bin Khottob (II), ‘Utsman bin Affan (III), ‘Ali bin Abi Tholib (IV).  Namun, setelah keempat Kholifah itu wafat, pemerintah selanjutnya lebih bersifat imperium non-Islami kendatipun mereka masih menyuntikkan beberapa prinsip Islam dalam pemerintahan, serta masih berperan pada waktu yang sama sebagai pemimpin pemerintahan dan agama.

Mendebat Politik Agama ? (3 dari 4 tulisan)

Penggunaan akal pikiran yang dilandasi oleh salah satu dan atau kedua faktor yang melatar belakanginya seperti diulas pada tulisan 2, akhirnya muncullah perbedaan, pertentangan, bahkan penyimpangan atas persepsi dan penafsiran syariat Tuhan (Osman Raliby, Akal dan Wahyu, (Jakarta: Media Dakwah, 1981).. hkan, atas pemakaian akal pula tak jarang terjadi polarisasi pemikiran di antara manusia, kendatipun mereka punya pengalaman dan pendidikan yang sama, serta punya posisi itikad keilmuwan yang sama, yakni bebas nilai tanpa tendensi. 

            Beda penafsiran ini –baik yang dilatarbelakangi beda pendidikan, pengalaman, atau akibat tendensi tertentu serta penerapan akal pikiran secara bebas– telah menghasilkan polarisasi pemikiran.  Dan polarisasi pemikiran tersebut tidak jarang pula telah mengarahkan manusia pada kesalahpahaman dan pertentangan, bahkan sampai ke pertumpahan darah. Dengan demikian berarti bahwa pengabdian manusia terhadap Tuhan, baik dalam wujud Hablun minallah maupun Hablun minannas menjadi terabaikan. Fungsi manusia sebagai khalifah bukan saja tak terlaksana, melainkan justru manusia menjadi perusak bumi sebagaimana pernah dikhawatirkan para malaikat pada awal penciptaan manusia pertama, ADAM A.S. (Q.S. 2 : 30)

            Karena kecenderungan polarisasi yang dampaknya sangat mengerikan itu,  maka sebagai tindakan preventif Islam telah melontarkan suatu alternatif pemecahan dalam wujud konsep kepemimpinan. Dengan kepemimpinan manusia akan terarahkan pada pemikiran bebas namun tetap merujuk pada sinkronisasi dan kesepakatan bersama terhadadap penafsiran syariat, termasuk pula dalam pelaksanaannya.  Minimal dengan kepemimpinan maka perbedaan pemikiran dapat dijembatani sedemikian rupa, sehingga mis-understanding dan rasa saling curiga dapat diminimalisir. 

            Islam memang telah menekankan betapa pentingnya prinsip kepemimpinan ini, baik secara eksplisit maupun implisit.  Prinsip tersebut terlihat misalnya dari ajaran sholat yang menekankan pentingnya berjamaah melalui sistem makmum – imam, pemimpin dan yang dipimpin. Penerapan prinsip “kepemimpinan” dalam sholat ini malah kedudukannya diutamakan 27 derajad dibanding sholat sendirian. Sistem jamaah ini bahkan dimasukkan dalam hukum sunnah muakad yang berarti mendekati wajib.  Artinya, bisa tidak dilaksanakan hanya dalam kondisi sangat terpaksa.

            Prinsip sholat berjamaah secara filosofis memberi ajaran tentang pentingnya kebersamaan, persatuan, serta pentingnya kepemimpinan.  Dalam kehidupannya Umat hendaknya menerapkan tingkah laku integral dalam ukhuwah: tidak bertindak sendiri-sendiri dan atas dasar kepentingan serta kamauan pribadi, melainkan bersatu di bawah satu kepemimpinan yang berorintasi pada satu tujuan, yakni pengabdian.

            Dalam sholat berjamaah terdapat pula filsafat mekanisme teguran oleh makmum (bawahan, rakyat) terhadap imam (pemimpin), bila sang pemimpin melakukan kesalahan. Caranya tidak bebas menurut sekehendak si makmum, melainkan berdasar pada mekanisme tertentu yang telah ditetapkan hukum, yakni: menegurnya dengan mengucap Subhanallah.  Ajaran demikian bila dirujukkan pada sistem kepemimpinan berarti bahwa bila pemimpin melakukan kesalahan, rakyat dan atau bawahan berhak bahkan berkewajiban melakukan koreksi, peringatan, oposan pada sang pemimpin, yang tentu saja melalui cara-cara yang telah ditetapkan hukum. 

            Sholat secara implisit telah pula mengajarkan mekanisme pergantian kepemimpian.  Jika sang pemimpin  batal wudlu –sebagai syarat sahnya sholat–  maka pemimpin (Imam) dengan kesadaran diri dan  tanpa diminta untuk mundur dari posisi kepemimpinannya, bahkan dari sholatnya.  Artinya, akibat persyaratan awal untuk melakukan sholat batal (gugur) maka gugur pula posisinya sebagai imam, dan oleh karena itu ia harus mundur dari jabatannya, mundur dari jamaahnya. 

            Setelah imam mundur, apakah para makmum (rakyat) lantas sholat sendiri tanpa seorang pemimpin ?  Jawabnya tidak. Sistem keimaman (berjamaah) harus tetap dilanjutkan.  Bahkan dalam situasi kritis sekalipun di mana sang pemimpin (imam) tidak mampu melaksanakan kepemimpinannya bukan lantaran batal wudlu, melainkan mati mendadak misalnya, sistem berjamaah tetap harus dilanjutkan.  Sebagai contoh, tatkala Umar bin Khottob (Khulafa ‘urrosyidin kedua) memimpin sholat berjamaah ia ditikam oleh seorang munafik bernama Abu Lu’lu’.  Akibatnya ia pun tersungkur.  Namun, apakah sholat lantas bubar atau minimal berubah menjadi sholat munfarid, yakni sholat sendiri-sendiri ? Ternyata tidak. Sholat berjamaah tetap berlanjut, di mana Abdurrahman bin Auf yang berdiri di belakang Umar segera maju ke depan menggantikan posisi imam yang lowong itu.

            Kejadian tersebut telah menjelaskan bahwa bila sang imam berhalangan, baik berhalangan sementara (batal wudlu) maupun berhalangan tetap (mati) maka makmum di belakang imam yang berhak dan harus menggantikan imam.  Dan oleh karena itu, dalam prinsip berjamaah, diajarkan pula bahwa  makmum  yang berdiri tepat dibelakang imam harus mempunyai kapabilitas tertentu yang diperlukan untuk menjadi seorang imam, sebagai ancang-ancang pengganti bila sang imam berhalangan.

            Filsafat Sholat telah memperlihatkan betapa pentingnya prinsip kepemimpinan dalam tatanan Islam. Sebenarnya masih terdapat banyak nilai-nilai filsafati seputar kepemimpinan-kerakyatan seputar sholat ini yang dapat digali lebih lanjut, seperti mekanisme pengangkatan dan atau pemilihan, sikap “aspiratif” imam, larangan bagi imam yang tak disukai makmum, dan lain sebagainya.