Archive for the ‘1. Sosial Politik’ Category

Museum Haromain : Membangun Ekonomi dari Sektor Wisata ? (Bagian 9)

Harga minyak  di pasar internasional memang sedang runtuh,  sebuah realitas yang tentu saja sangat berpengaruh luar biasa terhadap negara-negara yang mengandalkan ekonominya di sektor minyak.  Arab Saudi tampaknya gelapan terhadap realitas ekonomi kekinian.  Jika negara-negara teluk di sekitarnya seperti  Uni Emirat Arab, Qatar,  dan Bahrain telah menginvestasikan  hasil minyak  untuk sektor lain termasuk pariwisata – belanja,  namun khusus Saudi selama ini tampaknya agak terlena.  Walhasil,  di tengah rontoknya harga minyak dunia,  Saudi yang selama ini terlena,  kini baru terbangun tersadar untuk menata.

Raja Salman  kini telah membangun Visi 2030, termasuk salah satunya dengan mengandalkan sektor pariwisata.  Kesadaran ini sebenarnya sangat terlambat,  mengingat telah banyak sekali situs-situs penting justru telah telanjur digusur akibat visi agama wahabiah yang sejak dahulu didakwa sebagai ”penghancur situs-situs peradaban Islam”.  Tujuannya  memang mulai,  mencegah  terjadinya TBC (Tahayul – Bid’ah- Churafat),  namun  caranya terlalu ekstrim.  Bahkan,  karena konteks ini pula,  tokoh-tokoh Islam di tahun 1900an awal sempat membuat Majelis Hijaz dalam kerangka protes,  memberi masukan terhadap penghancuran situt-situs peradaban Islam.

Kini,  pemerintah Saudi mulai menyadari betapa penting membangun sektor wisata sebagai alternatif untuk mecari sumber dana penghidupan.  Sektor wisata tampaknya juga digalakkan.  Mungkin salah satunya  karena kesadaran ini pula,  Saudi kini telah membuat berbagai rumah  ma’arid (pameran)  dan museum peradaban.  Di kota Makkah misalnya telah dibangun Museum Haramain,   sedangkan di Madinah (sejak 2015) lampau telah diresmikan-dibuka Pameran Al Qur’an dan Pameran Asmaul Husna. Khusus mengenai Pameran masjid Nabawi meskipun namanya telah terpampang sejak 2015 lampau ketika saya ziarah ke tempat ini,  namun sampai kunjunganku di tahun 2017 ini masih juga belum dibuka.

Senin sore – malam (17.00 – 19.00) ini,  kami menyempatkan diri berkunjung ke  Museum Haromain.  Kenapa kami datang malam hari ? Ada alasan terkait ini, pertama,  Siang hari tadi kami kelelahan luar biasa,  akibat terpapar panas menunggu taksi di depan Rabitah ’Alam Islamy. Kami pulang dari lokasi setelah shalat Dzuhur dan mampir sejenak ke maktabah untuk mendapatkan hadiah buku.  Sambil menenteng belasan buku-buku tebal ini,  kami terpapar mentari akibat menunggu transportasi dalam waktu lama sekali.  Peluh terkuras,   Energi pun ikut terkuas.  Walhasil,  akhirnya kami pulang,  untuk mengumpulkan energi tambahan.  Kedua,  datang ke museum pada siang hari biasanya dilakukan berombongan,  sehingga perlu menyertakan ”surat keterangan”.  Karena kami hanya berempat,  maka untuk menghindari aturan,  mas Izdihar sengaja mengajak kami datang di malam hari. Walhasil,  setelah shalat Maghrib kami langsung meluncur ke lokasi.

Berbagai foto  dan  barang peninggalan era lama di pajang di lokasi.  Terkait ka’bah misalnya,  dipamerkan : balok kayu bekas tiang ka’bah,  bekas pintu ka’bah,  bekas talang emas di hijir ismail,  besi pembungkus hajar aswad,  termasuk bekas tangga yang biasa dipakai untuk masuk ke dalam ka’bah.  Sebab,  pintu ka’bah posisinya memang tidak menempel di tanah,  namun berlokasi  agak di atas,  sehingga untuk memasukinya diperlukan sebuah tangga.  Di museum juga dipamerkan  foto-foto sejarah keberadaan sumur Zam-zam dari masa ke masa. Hal yang menarik adalah peninggalan bekas “rumah penutup” ka’bah yang terbuat dari kuningan.  Bahkan,  dalam museum di tampilkan berbagai mata uang kuno  asal berbagai negara   yang sempat  tercemplung atau sengaja dicemplungkan dalam  sumur zamzam.  Ketika sumur dikuras,  koin-koin ini lantas dikumpulkan,  dan ia menjadi bagian dari  pameran.

Singkat kata,  banyak sekali berbagai benda berharga  dipamerkan di museum ini..  Sayangnya, manajemen perawatan dan keselamatan benda-benda ”purbakala” ini  kurang profesional,  sehingga pengunjung dapat menyentuh bakan mungkin mengorek-ngoreknya.  Idealnya,  segala benda berharga ini dimasukkan dalam lemari kaca,  sehingga pengunjung cukup melihat dengan tanpa menyentuhnya.***

Iklan

PEMUDA SAUDI, MAHASISWA YANG JADI SOPIR TAKSI (Bagian 8)

 

Selepas lohor pada Selasa,  4 April 2017 kami meninggalkan Rabithah Alam Islamy.  Matahari sedemikian menyengat,  menusuk  pori-pori.  Sementara  taksi yang kami butuhkan untuk membawa pulang sedemikian susah didapati.  Walhasil,  untuk beberapa saat kami terpapar di tengah mentari yang sedemikian menyengat kulit kami.  Panas berkuasa.  Terik sedemikian menyiksa.   Peluh bercucuran sehingga mempercepat proses tubuh menjadi penat. Masya Allah.  Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Tapi di tengah ketersiksaan ini  kulihat satu dua orang arab berjalan hilir mudik  dengan santainya  di sikitar Rabithah.  Realitas ini sedikit menasehati kami  bahwa apa yang kami rasakan hanyalah dramatisasi perasaan saja.  Hal inilah yang menyebabkan kami merasa perlu untuk bersabar.

Alhamdulillah, beberapa saat berikutnya,  akhirnya kami bisa mendapatkan taksi on-line yang ternyata disetiri seorang pemuda asli Saudi.  Subhanallah,  lelaki belia berumur 23 tahun tersebut adalah seorang mahasiswa bidang ekonomi dari Universitas Ummul Quro. Dari cara bicara,  saya bisa membaca:  bahwa  pemuda Saudi ini  bersikap sangat terbuka, open minded,  dan optimis dalam menatap  hidup. Dia bukan tipe pemalas apatah lagi manja sebagaimana stereotipe terkait warga Saudi. Buktinya, selain aktif sebagai mahasiswa,  ternyata dia  menyibukkan diri mencari uang dengan memanfaatkan mobilnya sebagai kendaraan sewa online.

Pemuda bernama Abdur Rahim ini juga figur terbuka,  terbukti dari gaya bicaranya yang ceplas ceplos  menjawab apapun pertanyaan kami,  bahkan ketika kami  menyinggung soal-soal  politik. Realitas ini seolah mematahkan image yang kami dapatkan sebelumnya,  bahwa orang Saudi tabu bicara soal politik,  sebagaimana sempat  digambarkan KJRI Jeddah  maupun mas Izhar yang menjadi pemandu kami.

Image tentang ”tabu politik”  ini  memang telah diwanti-wanti ketika kami berkorespondensi  terkait persiapan kami ke Arab Saudi.  Proposal dan surat yang kami kirimkan pun  berusaha diubah sedemikian rupa,  untuk mengaburkan sisi politik dari data yang ingin kami dapatkan.  Meski demikian,  toh akhirnya KBRI dan KJRI tetap tak bisa memfasilitasi kedatangan kami,  apatah lagi menghubungkan dengan para akademisi.  Mereka memang super sibuk,  dan lebih-lebih lagi  mungkin alergi dengan nuansa politik dalam kajian kami.  Begitu ketemu mas Izdihar,  mahasiswa Madinah yang memandu kunjungan kami,  informasi serupa juga kami terima.  Menurutnya,  mahasiswa Indonesia tak akan pernah bicara politik, karena dimana-mana terdapat mata penguasa,  dan ketika ditangkap  akhirnya bisa diekstradisi tanpa menyelesaikan sekolahnya.  Berpijak pada realitas ini,  kami sempat  ”frustasi” jangan-jangan kami tak akan mendapatkan  informasi.

Namun,  pandangan ini  pelan namun pasti mulai terkikis.   Pertama sekali,  ketika  jumpa para kandidat  Doktor  di Makkah,  ternyata kami dapat menggali informasi sosial keagamaan yang bahkan menyerempet isu politik juga.  Pun ketika berjumpa dengan  mahasiswa asli Saudi ini,  ternyata soal isu politik tidaklah seseram  apa yang digambarkan.  Dengan ceplas-ceplos ia menggambarkan situasi kepolitikan yang ia rasakan.

Pada satu sisi ia memberi kritikan,  terkait dengan situasi perekonomian.  Mulai dari  hukuman lalu lintas yang mahal dan memberatkan sampai pada naiknya harga bensin untuk kendaraan.  Namun,  dia sama sekali tidak  kecewa pada pemerintahan yang ada,  melainkan justru bangga terhadapnya.  ” Raja-raja sebelumnya selalu ”takluk” pada Amerika,  sultan Salman menampilkan  sikap berbeda.  Ketika Barrack Obama berkunjung ke Saudi,  begitu Adzan dikumandangkan,  Raja Salman langsung meninggalkan sang presiden AS sendirian.  Dia sengaja menampakkan,  bahwa basa-basi diplomatik harus dikalahkan ketika panggilan Shalat telah dikumandangkan. Realitas lain terkait dengan profil politik luar negeri Saudi yang tampil dengan gaya high-profil  bukan saja dalam konteks kawasan (Bahrain dan Yaman) melainkan bahkan dalam konteks internasional.  Singkat kata,  Salman telah mengangkat harkat dan martabat masyarakat Saudi  di hadapan Amerika dan Dunia.

Pemuda Saudi ini bicara politik secara berapi-api,  sehingga memupus kekhawatiran kami  bahwa di Saudi bicara politik  sangat tabu sekali.  Bahkan akibat aura ini pula,  mas Izdihar yang semula berpandangan tabu bicara politik,  akhirnya ikut hanyut  tak tabu lagi sental-sentil soal politik.

Rasa penat yang sempat kami rasakan untuk sementara sirna mendengar  kicauan luar biasa dari pemuda Arab ini.  Barulah ketika sampai hotel,  kami langsung menghempaskan badan akibat penat kembali menjerat.  Terpapar mentari beberapa saat lamanya ketika menunggu taksi,  ternyata telah menguras tenaga sehingga telah menyisakan rasa penat dan letih. ***

Di Rabithah ’Alam Islamy Kami Bertemu Ustadz Nasruddin Al Palembangy MA. (Bagian 7)

Senin 2 April 2017 pagi,  mentari telah menyapa kami dengan ramah sekali.  Sinar sang surya sedemikian ceria,  menandakan  pagi ini buana sedang bahagia. Saya, Wawan, mas Hamdan dan Fakhry  tentu saja menyambut suasana juga dengan suka cita.

Di pagi ceria ini kami telah membuat janji dengan   orang Arab Saudi,  untuk bertemu di   Rabitah  ‘Alam Islamy.  Singkat cerita,  setelah melalui proses pemeriksaan di pos penjagaan,  akhirnya sampai juga kami  di tempat tujuan:  ruang kerja si orang arab tadi.

Rabitah ’Alam Islamy adalah   sebuah nama besar  yang telah saya dengar sejak lebih dari seperempat abad lamanya.  Nama dan perbawanya sedemikian monumental  di telinga ”warga Islam” Indonesia,  terutama bagi mereka yang memiliki jaraingan dengan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII).  Melalui jaringan  DDII – Rabitah Alam Islamy ini kudengar  banyak sekali  santri Indonesia yang berhasil dikirim sekolah di Timur Tengah terutama Arab Saudi. Jaringan intelektual dakwah ini terutama sangat menonjol pada era DDII masih dipimpin Mohammad Natsir.  Konon,  hanya berbekal tanda tangan tokoh Masyumi ini, seseorang langsung bisa berangkat untuk menuntut ilmu di Arab Saudi. Sayangnya,  setelah Natsir meninggal pelan namun pasti gaung ini mulai meredup   –setidaknya untuk telinga saya pribadi.  ”Orang arab memang lebih percaya pada ketokohan pribadi.  Dus,  ketika sang tokoh sudah tak ada,  maka kerjasama biasanya menjadi  tak sekuat era sebelumnya”,  demikian alasan yang sering kudengar terkait dengan fenomena ini.

Saat ini,  memang banyak tokoh Islam indonesia  yang menjembatani kerjasama Rabitah dengan intelektual Dakwah di Indonesia.  Khusus Nama  Hidayat Nur Wahid misalnya,  oleh 3 orang Rabitah yang berhasil kami temui,  memang sempat disebut beberapa kali.  Namun,  sekali lagi,  gaung kerjasama ini tidak lah sekokoh era jamannya M. Natsir lagi.

”Kami masih kuat kerjasama,  terutama untuk pelatihan para calon pendakwah di Indonensia,  terutama untuk  para da’i yang akan dikirim ke wilayah Indonesia bagian Timur”, jelas Syekh Muhammad Al Qathani.  Doktor yang bertanggung jawab pada urusan Da’wah dan pendidikan di Rabithah itu menambahkan,  ”kerjasama itu terutama  dalam .wujud  daurah tiga tahun  untuk mendalami bahasa Arab dan Islam.  Artinya,  pendidikan untuk level diploma,  bukan untuk level sarjana”.

Ketika Fakhry,  koordinator kami, bertanya  adakah kerjasama antara Rabitah Alam Islamy dengan Jamaah di Arab Saudi agar peserta daurah bisa melanjutkan ke level sarjana.   Ustadz Nasruddin Al Palembangy  MA yang menjadi kontak person di Rabithah menjawab: ”tak ada,  silahkan saja  berhubungan langsung dengan Jamiah untuk mencari peluang pendidikan lanjutan”.

Selama tiga jam di Rabithah (11.30 – 13.00) kami berjumpa dan atau  wawancara dengan tiga orang Arab, yakni:Dr.  Syekh Muhammad Al Qathani ,  Abdullah MA,  dan .Nasruddin Al Palembangy MA.  Lho,  kenapa orang terakhir memakai nama  al Palembangy ? usut punya usut ternyata dia memiliki darah Palembang – Indonesia,  dari garis kakeknya. Fenomena warga Saudi asal Indonesia ini sebenarnya tidak terlalu asing di telinga,  sebab gejala ini bahkan sudah ada jauh sebelum indonesia ada.  Mohammad Darwis (pendiri Muhammadiah)  dan Hasyim Asy’ari (pendiri NU) misalnya, ternyata dahulu sama-sama memiliki  guru bernama akhir :    Al Minangkabawy  (asal Minangkabau)  dan     Al Termashy (asal Termas),  disamping tokoh-tokoh lain salah satunya    Al Yamani (asal Yaman). Intinya,  asal-usul  orang asing yang menetap dan atau bahkan menjadi warga negara Saudi  sampai kapanpun tetap bisa ditelusuri,  terefleksi dari nama akhir yang menyertai.

Saat sekarang tentu saja tidak mudah untuk menjadi warga Saudi,  meskipun telah puluhan tahun tinggal di tanah suci. Hanya orang yang memiliki talenta mumpuni yang tampaknya bisa mendapat kewarganegaraan kehormatan.

”Bahkan  era sekarang,   tinggal di Arab Saudi bukan lagi  sebuah pilihan yang menggiurkan,  mengingat banyak sekali aturan dan pembiayaan yang harus dikeluarkan”,   kata Muhammad Isa  dan  Muhammad Ayub pada sebuah kesempatan lain  di Madinah.  Kakak beradik  yang telah menetab di Saudi sejak usia dini  menambah informasi, ”khusus mengenai tarif pembiayaan,  terutama diterapkan seiring dengan kondisi ekonomi Saudi yang mulai kesulitan .  Harga minyak yang selama ini menjadi andalan,  sekarang luluh lantak berantakan. Terpaksalah pemerintah Saudi berusaha mencari alternatif pendapatan,  membangun sektor wisata,  termasuk mengenakan biaya 2 ribu real untuk yang umroh lebih dari sekali  dalam setahun. Di dalam negeri subsidi minyak  dikurangi,  setiap pelanggaran termasuk pelanggaran  lalulintas dikenakan sangsi berbiaya tinggi, dan itu tadi,  para mukimin non Saudi dikenakan pajak yang juga tak kalah tinggi”,  tambah  dua bersaudara yang hampir mirip wajahnya,  ”kami pun,  meski telah puluhan tahun tinggal di sini,  kalau sudah selesai pendidikan,  akan pulang ke Indonesia lagi”.  Pungkas Ayub – Isa di tempat tinggalnya,  Asrama  mahasiswa Universitas Islam Madinah..

Mentari terus meninggi.  Sinar sang surya  makin panas menusuk bumi.  Udara  di sekitar makin  mendidih  gerah sekali.   Panas  menusuk.  Gerah menyiksa.   Untuk menetralisir  ”siksaan”  ini, wawancara  segera  diakhiri.  Kamipun sepakat  untuk  menyejukkan hati  dengan  sholat  jamaah  menghadap Ilahi.  Ya.. Rob,  terima kasih atas segala nikmat yang engkau beri,  sehingga kami bisa  berkunjung ke tanah suci ,  wilayah panas namun dapat menyejukkan pikiran dan  hati kami.***

Ibu Elly Waty Maliki : Wanita Indonesia yang Luar Biasa (Bagian 6)

Selesai urusan di ”Kedutaan”,  dengan diiringi sinar panas menyengat dari sang mentari,  kami nekad  meluncur ke lokasi ibu Elly. Konjen – Darul Uluum sebenarnya tidak jauh jaraknya,  namun hanya karena lokasinya tak ada plang nama,  akhirnya kami tersesat putar-putar tak jelas arahnya. Usut punya usut,  ternyata di Arab Saudi ini memasang plang nama untuk kepentingan lembaga tidaklah mudah dilakukan, apatah lagi  lembaga yang belum resmi mendapat persetujuan.  Nah,  Darul Ulum memang baru saja memperoleh persetujuan,  setelah 18 tahun berjuang untuk mendapatkan. Papan nama baru saja selesai dibuatkan, namun memang  belum sempat dipasang di pintu gerbang.

Bu Elly  adalah intelektual wanita  asal  Indonesia.  Wanita ini keturunan Padang asli,  namun telah  puluhan tahun tinggal di Arab Saudi.  Bersuamikan seorang pria asal  Indonesia kini telah meninggal dunia,  memiliki dua putra yang sekarang telah dewasa,  wanita ini memiliki energy luar biasa untuk berkarya.  Tatapan mata yang tajam  dan gaya bicara yang jelas – lugas merefleksikan betapa wanita ini memiliki cadangan samangat –  energi yang luar biasa.  Meskipun  tetap  berkewarganegaraan Indonesia,  namun  wanita ini telah sering tampil  atas nama Arab Saudi  dalam pertemuan-pertemuan internasonal  baik di dalam negeri maupun luar negeri..  Sekali lagi,  wanita ini memang bukan figur sembarangan,  karena dia seorang Doktor lulusan Al Azhar University – Cairo – Mesir.  Mulai S1, S2,  sampai S3 semua didapatkannnya dari universitas tua berkaliber internasional ini.  Disertasinya bahkan telah diterbitkan di Arab Saudi  dengan judul  Fiqih Jender.

Intelektualitas  wanita ini  memang di atas rata-rata.  Pandangan-pandangan intelektualnya biasa  diekspresikannya dalam berbagai pertemuan internasional, termasuk bahkan atas nama pemerintah Arab Saudi. Meskipun seorang intelektual, namun wanita ini tak lantas  menempatkan diri  laksana menara gading.  Sebagian besar waktunya,  justru dihabiskannya untuk  kegiatan sosial – amal,  terutama untuk memfasilitasi  putra – putri keluarga  TKI agar  mendapatkan pendidikan yang semestinya. Sekolah internasional  memang tersedia,  tetapi biayanya sangat mahal sehingga sulit terjangkau  keuangan mereka.  Apalagi bagi TKI-TKI bermasalah,   niscaya adalah sebuah kemewahan  anak-anaknya untuk bisa mendapatkan fasilitas pendidikan.

Dalam kerangka misi inilah,  bu Elly menyibukkan diri dengan membangun lembaga pendidikan Daarul Ulum yang telah dirintis sejak 1992 lampau. Problem tentu saja menghadang,  mengingat ijin pendirian semacam lembaga pendidikan  tidak mudah  didapatkan.  Perjuangan panjang dan melelahkan senantiasa  diayunkan.  Kesabaran yang luar biasa harus senantiasa digaungkan.  Justru berbekal kegigihan dan kesabaran,  serta kapasitas intelektual dan jaringan,  akhirnya idealisme dan cita-cita yang telah diperjuangkan  selama belasan tahun berhasil direalisir:  pemerintah Arab Saudi mengeluarkan ijin pendirikan lembaga pendidikan Daarul Ulum. Inilah satu-satunya lembaga pendidikan swasta yang didirikan orang asing  yang diijinkan oleh pemerintah Arab Saudi. Subhanallah…

Bu Elly anda memang wanita Indonesia yang luar biasa.  Beruntung sekali kami  bisa bertemu-berkenalan dengan anda,  melalui nomor telepon yang diberikan Mas Ferly  sehingga menjadi wasilah pertemuan kita.

Meskipun hari telah menjelang sore,  namun  mentari masih tetap  garang menatap kami.   Sang surya  masih melontarkan panas secara arogan,  sehingga peluh kami senantiasa bercucuran.  Sebenarnya fisik  kami  mulai agak  loyo. Namun,  berkaca pada  semangat bu Elly berjuang belasan tahun dalam membangun lembaga pendidikan,  maka  energi itu akhirnya tertularkan kepada kami.

Semula kami sudah mulai gontai,  mengingat  malam sebelumnya hanya istirahat dalam waktu sedikit sekali.  Namun  energi bu Elly dalam pertemuan 2,5 jam (13.30-16.00) telah memotivasi  sehingga kami bersemangat meluncur ke tempat lain.  Tujuannya adalah:  asrama (sakan)  mahasiswa Universitas Ummul Quro (UUQ).

Universitas Umm Al-Qura (Jāmiʿah ʾUmm Al-Qurā) adalah perguruan tinggi negeri di Arab Saudi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Arab Saudi yang didirikan pada 1981. UUQ  dianggap sebagai salah satu universitas paling bergengsi di dunia Islam karena lokasinya di Mekkah.  UUQ  semula didirikan sebagai Sekolah Tinggi Syari`ah (tahun 1949)  sebelum menjadi perguruan tinggi dan berganti nama menjadi Ummul Qura sesuai dengan dekret kerajaan pada tahun 1981.

Selain studi ilmu Syari`ah dan studi Bahasa Arab, di Universitas Umm Al Qura juga terdapat berbagai studi ilmu antara lain Manajemen Teknologi, Manajemen Bisnis, Pemasaran, Teknik, Kedokteran, Pendidikan dan berbagai Ilmu Terapan,  yang mencakup berbagai fakultas,  antara lain: Fakultas Dakwah dan UshuluddinFakultas Bahasa Arab, Fakultas Bisnis, Fakultas Pendidikan di Mekkah), Fakultas Sains terapan, Fakultas Sosial terapan, Fakultas Teknik dan Arsitektur Islam, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pelayanan Masyarakat dan Pendidikan Lanjutan, Institut Riset Ilmiah dan Kebangkitan Kebudayaan Islam, Institut Bahasa Arab bagi Pemula, Fakultas Komputer, Fakultas Farmasi, Fakultas Ilmu Medika Terapan, Fakultas Syari`ah dan Studi Islam, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan di Al-Qunfudah, Fakultas Pendidikan Guru di Al-Qunfudah, Fakultas Pendidikan Guru di Mekkah, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan di Al Leith, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan – Bagian Sastra, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan – Ekonomi Domestik, Fakultas Pendidikan untuk Pendidikan Guru Perempuan.  UUQ telah melahirkan banyak alumni yang menjadi  tokoh di negara masing-masing,  seperti:  Abdurrahman As-Sudais  (Imam Besar Masjidil Haram), Said Agil Husin Al Munawar (Mantan Menteri Agama Republik Indonesia), Said Aqil Siradj (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama)

 

 

Di sakan (asrama) mahasiswa UUQ ini,  kami  kembali bertemu  putra Indonesia yang luar biasa,  mas Herika Mohammad Taqy.    Dia adalah ketua PPMI Jeddah,  seorang  kandidat Doktor pada Universitas King Abdul Aziz, Jeddah.  Mas Herika telah belasan tahun tinggal di Saudi Arabia.  Berbeda dengan banyak mahasiswa Indonensia lain yang mengambil ilmu agama,  mas Herika ternyata kandidat doktor di bidang Tata Kota.

Dari beliau inilah informasi tentang bermacam sisi kehidupan sosial budaya bahkan agama Arab Saudi berhasil kami dapatkan.  Pengalamannya selama belasan tahun di Saudi dia tuangkan tanpa ada saringan kepada kami.  Pengalaman berteman dengan warga Saudi,  pengalaman bergaul dengan realitas sosial Saudi,  diterangkan secara terstruktur,  runtut,  lugas dan jelas kepada kami.

Hal yang tak kalah penting,  di lokasi mas Herika inilah kami sempat bersua dengan beberapa mahasiswa di luar Arab Saudi yang akan  menjadi peserta simposium PPMI se Timur Tengah di Madinah.  Alhamdulillah,  meskipun  tak sempat hadir dalam simposium,  namun kami berkesempatan untuk bertatap muka  dengan para peserta simposium.  Ada yang  dari  Global University di Libanon,  ada yang dari  Universitas Sudan,  ditambah beberapa mahasiswa lain dari beberapa kampus di Arab Saudi. Bahkan,  melalui jaringan ini pula beberapa hari berikutnya,  akhirnya kami berkesempatan berjumpa dengan seorang mahasiswa UEA university bernama  Oebaidillah yang juga ikut dalam simposium PPI se Timur Tengah.  Khusus dengan mas Oebaidillah kami  berdiskusi intensif di sebuah rumah makan di Zamzam Tower, pada  Kamis, 6 April pagi,  tepatnya beberapa saat sebelum kepergian kami ke Madinah Al Munawaroh.  Pemuda asal Sidoardjo  ini telah telah tinggal di UEA  sejak pendidikan SMP,  sehingga dapat melengkapi informasi tentang apa dan bagaiman realitas sosial politik UEA yang juga menjadi bagian dari kami punya  kajian.    Walhasil,  jika semula kami sempat pesimis untuk mendapat narasumber di tengah masa libur sekolah,  ternyata akhirnya  bisa kami dapatakan dengan relatif mudah.   Alhamdulillah Ya Robbil Izzah.

Setelah shalat Maghrib berjamaah di masjid  asrama universitas Ummul Quro yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai negara,  kami  segera pamit untuk kembali ke hotel. Malam telah menyembunyikan sang surya.  Hari sudah mulai gulita. Di tengah gelap hari Ahad inilah kami melangkah ke jalanan,  mencegat taksi  untuk mengantarkan kami pulang.  Malam itu taksi memang sangat sulit kami dapatkan,  sehingga kami naik mobil dua kali secara ketengan.  Namun demikian,   kami tetap bersyukur karena sehari penuh telah lancar  melakukan kunjungan – wawancara penelitian. Alhamdulillah ya Robb.***

Sowan ke KJRI (Bagian 5)

Ahad  ternyata bukan hari libur bagi Saudi Arabia. Negeri ini menerapkan hari Jum’at dan Sabtu sebagai liburnya,  sedangkan hari Ahad (sesuai artinya)  justru  sebagai hari perdana sekolah dan kerja.  Oleh karena itu,  meskipun kami baru sampai di hari Sabtu malam,  namun esuk harinya kami sudah langsung tancap gas menjalankan tugas.  Pada pagi itu kami meluncur dari Mekkah menuju Jeddah.

Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI)  di Jeddah menjadi tujuan awal,  guna melaporkan diri  bahwa kami telah sampai di Arab Saudi,  sehingga  apapun yang terjadi  pada kami  akan mendapat ”perhatian”  dari  perwakilan Indonesia  di negara ini.  Sayang sekali,  sampai di Jeddah kami  tak dapat bertemu ”siapapun”  yang sebelumnya  telah menjalin kontak  dengan sejak  di tanah air.  Semua kontak person di Konjen tak berada di tempat,   sedang sibuk  dalam acara Simposium Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonensia (PPMI) se Timur Tengah yang diselenggarakan di Madinah.

Astaghfirullah,  kenapa informasi sepenting ini tak sempat kami dapatkan  ketika masih di tanah air ?  Seandainya informasi berharga ini  telah kami peroleh sebelumnya,  niscaya penjadwalan kegiatan akan kami ubah,  dimulai dari Madinah, dan bukan dari Mekah. Informasi lain yang lebih mengejutkan adalah:  justru pada hari-hari kedatangan kami,  di Saudi sedang melaksanakan libur nisfu sannah (tengah tahun).  Artinya,  seluruh perkantoran dan kampus sedang libur tanpa kegiatan,  sehingga menjadi sangat sulit untuk wawancara penelitian .  Terus terang kami sempat pesimis bahwa penelitian akan mampu mendapatkan narasumber sebagaimana  direncanakan. Namun, karena sudah terlanjur di lokasi,  kami hanya tawakal sambil berkata : hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wa ni’mannashiir:

Karena kontak person di KJRI tak ada semua,  maka  ketika hendak bertamu pun kami terpaksa harus menunggu agak lama.  Memang,  seorang ”pejabat KJRI”  yang hari itu  sedang bertugas di Madinah memberi kontak person bernama pak Agus untuk bisa dihubungi. Namun,  anehnya,  ketika kami menyodorkan nama Agus untuk ditemui,  pihak  KJRI masih bertanya Agus siapa dan Agus  bagian apa ?  Kami sempat bertanya-tanya,  kira-kira ada berapa Agus di KJRI  ini atau jangan-jangan tak satupun Agus ada di dalam kantor ini.  Dalam hati,  saya beristighfar berkali-kali,    dan mungkin karena wasilah  istighfar ini akhirnya pintu KJRI terbuka untuk kami. Alhamdulillah.

Singkat kata,  pada Ahad,  2 April 2017 ini kami akhirnya berhasil  melakukan pengurusan surat menyurat lantas disusul  wawancara secukupnya  mengingat  personil KJRI konon sedang super  sibuk mengurusi pemanfaatan program amnesti dari pemerintah Arab Saudi  terhadap para TKI bermasalah.  Setidaknya beberapa orang sempat kami jumpai di KJRI,  seperti Kepala Konsuler KJRI Jeddah bernama Dr. Rahmat Aming Lasem.  Beliaulah yang akhirnya bersedia diganggu  untuk ”mengurusi” kami.  Salah satu diantara  orang KBRI  yang masih kuingat lekat adalah :  Mas Daday,  alumnus  LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta yang berhasil menjadi local staff untuk  bagian penerjemah.  Selain ahli bahasa,  ternyata pria asal  Banten ini  mengikuti secara serius dinamika  realitas sosial kemasyarakatan di Arab Saudi, sehingga informasi-informasi yang beliau sampaikan dari jam 10.00 – 13. 00 waktu Jeddah) bisa menjadi pijakan awal  untuk menggali secara lebih luas dan dalam  pada wawancara berikutnya.  Syukron mas Daday.

Sebelum pamit,  kami menyempatkan numpang shalat Dzuhur,  bahkan  Alhamdulillah  kami  sempat pula  nimbrung makan di lokasi bersama-sama  para  staff KJRI.  Menunya,  makanan khas Indonesia : Soto dan krupuk.   Tak ada kata yang patut kami ajukan untuk budi baik mereka kecuali : Jazakallah khorul jaza’,  semoga Allah membalas anda dengan balasan kebaikan.  Amin….***

 

Haji dan Umroh: Semarak Sama, Hampir Tak ada Beda (Bagian 4)

Malam merayab gulita  ketika kendaraan mengantarkan kami meninggalkan Jeddah untuk menuju Mekkah.  Sekitar satu dua kilometer dari parkiran bandara,   mobil berhenti.  Kupikir pasport kami akan diperiksa dilokasi ini,  seperti pernah kami alami ketika berhaji.  Dugaanku ternyata meleset,  sebab  sang sopir hanya nyamperi  mas Izdihar Ibrahim,  seorang mahasiswa S1  semester ke 9  yang akan menemani kami kemanapun kami pergi, tentu saja selama masih di Saudi.  Setelah pemuda asal Ngawi – Jawa Timur menyertai kami,   mobil segera melesat cepat ke arah Makkah kota suci.

Entah berapa menit waktu yang kami lalui,  dan entah berapa kilometer jarak yang telah kami tapaki.  Hal yang kurasakan adalah rasa penat mulai menjalar di seluruh badan,   di tengah laju mobil  yang ngebut bahkan perjam  mencapai angka 120 kilometeran.  Walhasil,  akhirnya kami sampai di hotel Nawarat Al-Shams Hotel,  berlokasi di daerah Misfallah, tepatnya di Jalan Ibrahim Al-Khalil. Sebagai ancar-ancar ia berdekatan dengan Dhiyafa Mubarak Hotel.

Dilihat dari tampang  para pegawainya,  apalagi ditambah dengan tamu-tamu yang menginap di dalamnya,  sepertinya hotel dikelola orang keturunan Asia Selatan. Hotel ini tergolong super sederhana,  bahkan lebih kumuh dibanding hotel yang kuinapi  ketika berhaji. (2015). Bahkan, tatkala berhaji,  satu kamar dihuni 4 orang saja,  kali ini kami  terpaksa berbagai untuk berlima,  termasuk mas Izdihar pendamping kami juga.  Meski kondisinya serba sederhana,  namun saya justru patut bersyukur,  karena : (1). Lokasi hotel hanya sekitar 300 meter  di belakang Hotel Hilton – Zamzam Tower.  Walhasil,  untuk pulang pergi hotel – masjidil haram,  hanya dibutuhkan beberapa menit waktunya.  Alhamdulillah. (2).  Di tengah keterbatasan waktu persiapan dan ketersediaan  anggaran yang pas-pasan,  maka didapatkannya hotel ini sudah merupakan anugerah luar biasa.  Sebab, kabarnya hotel dan atau penginapan di Mekkah dan Madinah konon sudah diblok oleh berbagai travel perjalanan,  sehingga prosedur individual tampaknya akan mengalami kesulitan untuk mendapat penginapan,  apalagi yang dekat dengan pusat peribadatan: masjidil haram.

Setelah penataaan barang beres,  mulailah kami bersiap menjalankan prosesi Umroh : thawaf ifadhah,  Sa’i,  dan tahalul di masjidil haram. ”Labbaik Allahumma labbaik”,  kembali bibirku bergetar melafalkan ucapan talbiah.   Menjelang masuk masjid barulah talbiah  kuakhiri  untuk diganti dengan do’a-doa lain mulai dari penutupan talbiah,  do’a  masuk masjidil haram,  serta doa ketika pertamakali melihat ka’bah.  ”Alhamdulillah ya Allah,  setelah  dua tahun berselang,  akhirnya kami bisa kembali bertandang”,  kata batinku lirih setengah merintih.  Mataku berkaca-kaca sebagai ekspresi rasa bahagia yang tak mampu terungkap dalam kata-kata.

Terdapat satu hal  yang sama sekali di luar dugaan saya, yakni: Towaf tengah malam,  dilakukan masih  pada bulan Rajab,  ternyata  kepadatan para muthawwif  tak ada beda dengan  padatnya  di musim haji (bulan Dzul Qaidah – Dzul Hijjah). Masya Allah.  Jika sedemikian keadaannya,  lantas kapan  Ka’bah dan kota Mekkah mengalami  keheningan dari lalu larang  para jamaah ?  ”Tidak pernah lowong”,  jelas Izdihar,  ”Kecuali hanya selama satu bulan tepat setelah selesainya bulan haji,  dan berangsur-angsur para jamaah beranjak untuk pulang lagi.  Pada saat itulah,  Mekah dan Ka’bah agak sela statusnya,  meskipun  tidak sampai lengang kondisinya”.

Kami manggut-manggut mendengar penjelasan ini. Rasa takjub memenuhi rongga dada bahkan menjalar  ke tulang belulang di seluruh raga.

”Bahkan,  pada Ramadan di bulan suci,  jamaah umrah melampaui jumlah jamaah haji”,  tandas Izdihar menambahi penjelasan. Kembali  Rasa takjub menjalar  di dalam dada,  dan terus mengalir  ke tulang belulang di seluruh raga.

Dalam situasi padat inilah,  maka di tengah badan yang sudah penat,  terpaksa kami  bertowaf dengan tidak masuk ke dalam  jarak yang amat dekat dari ka’bah. Selesai thowaf tujuh putaran di tengah gulita malam,  dengan disisipi minum zamzam dan shalat  sunnah tawaf tujuh putaran,   kami langsung Sa’i lari-lari kecil antara bukit Sofa dan Marwa juga sebanyak tujuh perjalanan. Pada saat itulah,  rasa pegal mulai menjalari kaki.  Oleh sebab itu,  setelah sa’i dan diikuti tahalul potong rambut beberapa helai,  kami langsung balik ke penginapan untuk segera istirahat meluruskan badan. Alhamdulillah,  kami telah menuntaskan prosesi Umrah,  mengawali pekerjaan lain yang akan menyongsong di esuk hari.***

Memulai Kerja dengan Ibadah : Niat Ihrom di Atas Awan (Bagian 3)

Sabtu pagi,  1 April 2017, sekitar jam 10 a.m.  waktu Malaysia,    mas Khairy Fateh telah menjemput kami di hotel.  Tak butuh waktu lama kami telah melesat sampai  di bandara. Dengan sigap mas Khairy mengatur urusan Check in penerbangan,  lantas mengantarkan kami makan siang di sebuah restoran. Pada titik inilah  baru kusadari,  betapa hanya kami yang sudah berpakaian ihram di bandara di  Kuala Lumpur ini.  Di lokasi ini  sebenarnya banyak sekali kelompok-kelompok Umroh,  termasuk asal Indonesia yang jumlahnya justru terbilang banyak.  Namun,  jamaah umumnya  berseragam batik.  Sekali lagi,  hanya kami yang telah berbusana ihram. ”Waduh,  rekomendasi mas Ferly ternyata meleset kali ini”,  gerutu hatiku kala itu.

Situasi “asing”  ini tentu membuatku agak kikuk.  Kalbu seolah dibayangi-bayangi perasaaan bahwa ratusan pasang mata selalu memandang ganjil pada kami: berpakaian ihram  di tengah bandara internasional yang jaraknya masih lebih  9.000 km  dari kota Makkah.  Rasa Canggung senantiasa menggelayut di benakku.  Bahkan,  rasa sungkan selalu membatasi perilakuku.  Beban ini baru agak terurai ketika kami  menjalankan shalat Dluhur.  Sebab,  di mushola bandara itulah kami menemukan satu dua orang yang berbusana serupa:  kain  ihram. ”Alhamdulillah, ada temannya”,  gumamku lirih.

Cukup lama kami berlalu lalang di main terminal –   bandara Malaysia,  sebab kami sampai di lokasi  sekitar pukul 11.00 am, namun baru akan terbang di seputar jam 15.00 pm Malaysia. Ditargetkan kami akan sampai pada pukul 18.50. waktu Jeddah. Artinya,  kami  akan mendarat di tanah Arab ketika hari telah malam. Berpijak pada realitas inilah,  kami lantas menetapkan rencana:  sampai Jedah langsung menuju Mekah untuk berumroh tengah malam.  Dengan cara ini,  maka esuk hari:  kami bisa langsung bekerja,  setelah pada malam hari dimulai  dengan sebuah do’a (Umroh) pada Ilahi.

Menjelang sore,  pesawat Saudi Arabia telah menerbangkan kami  ke angkasa. Singkat kata,  selama sekitar 10 jam kami mengangkasa  mengarungi buana,  melintasi berbagai negara  dengan jarak tempuh hampir 10 ribu km  jauhnya.  Waktu berjalan pelan.  Jarak melipat lambat.  Tak banyak  hal bisa kulakukan.  Apalagi,  kondisi kami kala itu hanya bertangkup dua lembar kain sebagai busana,  sehingga  bergerak tak bisa leluasa. Sepanjang perjalanan  saya hanya mendengarkan  murotal,  lantunan ayat-ayat al Qur’an yang bisa kudapatkan dari audio visual yang disediakan maskapai penerbangan.  Justru dengan menyimak murotal inilah rasa sumpek bin  jenuh dapat kusingkirkan,  bahkan seringkali dapat menghanyutkanku  menuju alam istirah yang paling dalam:  tidur.  Alhamdulillah. Hanya ketika hendak menjalankan sholat,  dan hanya tatkala disuguhi makanan-minuman,   kami terbangun,  balik ke dalam kesadaran.

Sekitar satu jam sebelum waktu pendaratan,  kru pesawat mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan melewati miqot makani,  yakni batas lokasi  terakhir untuk dimulainya niat ihram.  Dengan segera,  saya mengambil air wudlu,  lalu berniat umroh : ”Labbaik Allahumma Umrotan:  Wahai Allah hamba menyambut panggilanMu untuk berumroh”. Sejak saat itulah,  berlokasi  di angkasa  atas Saudi Arabia itulah,  berbagai larangan dan atau kewajiban Ihram terkena pada diri saya.  Saya harus menjaga diri untuk menghindar dari pelanggaran larangan,  sebab jika melanggar tentu akan terkena  denda hukuman.  Sejak detik itulah,  bibirku lantas tiada henti untuk terus bertalbiah sebagai amalan sunnah yang diutamakan sampai kita memasuki masjidil haram.

Alhamdulillah,  pesawat sampai Jeddah tepat pada waktunya.  Pukul 18.30 waktu setempat, roda-roda  Saudi Arabian Airlines (SV 831) berderit  menapak  daratan, menandai kami sudah sampai pada tujuan. Singkat kata,  setelah urusan imigrasi dan bagasi selesai di atasi,  dan setelah mas Thalib, orang yang ditugasi mengurus transportasi kami di kota Jeddah ini,   berhasil menyediakan fasilitas transportasi,  kami langsung bergerak, berarak meninggalkan terminal selatan,  bandara Jeddah King Abdul Aziz Internasional.***