Archive for the ‘1. Sosial Politik’ Category

Undangan Makan: Wujud Kepercayaan Plus Penghormatan (Bagian 25)

Senin  ba’da Maghrib mas Azmy sudah menjemput kami, di Mubarak Silver Hotel  . yang kami tempati. Tanpa ba-bi-bu lagi,  kami langsung meluncur ke rumah Dr. Murdhi Ali Idris  yang telah mengundang makan siang tadi.  .

Setelah mampir sholat Isya’ di sebuah masjid tak jauh dari lokasi,  akhirnya sampailah kami di rumah   wakil direktur program pascasarjana jurusan ilmu dakwah dan khutbah universitas Thaybah tadi. Rumahnya terletak di sebuah kawasan kaya,  menunjukkan bahwa beliau tergolong orang berada.  Kami langsung dipersilahkan masuk ke ruang tamu keluarga,   yang disetting seolah kami sedang  berada dalam tenda.

”Saya punya satu lagi tempat bak tenda seperti ini”,  sekilas ku tangkap
Dr. Murdhi pamer menjelaskan. Maklum,  bahasa Arab saya memang terbatas kosa katanya,  ”satunya lagi terdapat di daerah menuju Tabuk”.

Kami manggut-manggut mendengarkan,  dan Dr. Murdhi dengan wajah sumringah terus menerangkan. ”Saya punya dua istri”,  Dr. Murdhi bicara lagi.  Mungkin,  istri yang satunya lagi  tinggal di  rumah menuju Tabuk  seperti yang ia pamerkan tadi.  Kutatap wajahnya dalam-dalam. Terpancar dari romannya sebuah keramahan.  Bahkan dari gaya bicara,  ketawa,  tatapan mata,  kurasa seolah saya telah lama mengenalnya.  Namun,  dimana ?  ”Ah..mustahil”,  spontan sang hati menolak perasaan saya.

Terdapat beberapa hal patut kuceritakan terkait pengalaman  menghadiri  undangan makan malam dari orang Saudi asli:

Pertama, memperoleh undangan  ke rumah orang Saudi konon merupakan sebuah kehormatan, sebab  hampir semua siswa dan pekerja Indonesia menyatakan bahwa:   orang Saudi itu tertutup sekali.  ”Meskipun  di  kampus  akrab dengan mereka,  namun tak ada yang pernah mengundang datang ke rumahnya”,  kata mas  Mubarok kandidat Doktor yang telah belasan tahun  tinggal di Makah. Hal persis sama dikatakan mas Erika.  ”Ada sih  teman Saudi  yang akrab sekali.  Meskipun secara rutin mengajakku sholat Jum’at  di masjidil haram,  namun tak sekalipun pernah  membawaku ke rumahnya”,  kata mas Erika melanjutkan.  ”Hanya orang yang sangat dipercaya,  dan orang yang kepadanya dia merasa nyaman saja,  warga Saudi baru mengundang untuk datang”,  tambah mas Mubarok.   Walhasil,  ketika tahu kami diundang makan oleh warga Saudi,  mas Mubarok  merasa surprise sekali.  Apalagi pihak pengundang  adalah Syekh Ismail,  Naibul Mudiir  Yayasan Al Hai’ah Haramain pimpinan Syekh As-Sudais, maka keteperanjatan lah yang ia ekspresikan.

Problemnya,  undangan justru tak bisa kami penuhi,  sebab jatah tinggal di Makah memang sudah tak tersisa lagi. Padahal, ”Penolakan terhadap undangan,  sebenarnya  tidak sopan”, komentar mas Azmy setelah mendengar cerita  tentang ketidakhadiran atas undangan makan malam dari Syekh Ismail.  ”Ya bagaimana lagi.  Kondisi  memang tak memungkinkan untuk memenuhi.”,  sambut mas Nahidl menetralisir situasi.

Dus,  ketika di Madinah kembali dapat undangan makan,  tentu  membawa keterpanaan,  bahwa kami  memang mendapat keberkahan.  Maklum,  sekali lagi,  orang Saudi itu tertutup sekali.  Lha kenapa  kita bisa diundang  ke rumah untuk  makan,  meskipun baru saja kenalan ?  Jawabnya : Allahu a’lam.: hanya Allah yang tahu.

Kedua,  dalam tradisi Saudi,  ketika seseorang mengundang makan,  biasanya sang tuan rumah akan mengajak  serta  satu dua  teman terdekatnya. Terkait dengan ketidakhadiran dalam undangan Syekh Ismail di Makah misalnya,  dengan nada kecewa beliau sempat berkata,   ”sayang sekali kalian tidak bisa datang,  padahal saya juga mengajak beberapa teman untuk menemui kalian”.  Demikian info Fakhry pada kami,  sebab  Fakhry  lah yang bertugas kontak dengan Syekh Ismail.

Hal yang sama juga terjadi di Madinah.  Dalam undangan makam malam,  Dr. Murdhi Ali Idris ternyata juga menghadirkan teman dekatnya,  Dr. Khalid As Subaidi, dosen juruan ilmu hadits Universitas Islam Madinah, yang kebetulan telah beberapa kali  datang ke Indonesia. Walhasil,  dalam acara   Senin malam itu kami terlibat cengkerama  dengan mereka.

Ketiga, dalam tradisi makan bersama di Saudi,  tamu tak  diperjumpakan dengan sang istri.  Hal ini berbeda dengan kultur Indonesia,  bahwa sang tamu diperkenalkan dengan seluruh anggota keluarga  tuan rumahnya.  Intinya:    tamu pria hanya dilayani  sang tuan rumah pria,  alias tak akan pernah diperkenalkan dengan penghuni wanita.  Sebaliknya,  tamu wanita hanya ditemui  tuan rumah wanita,  dan tak akan pernah diperkenalkan dengan penghuni pria.  Ruang tamu pun,  sengaja dibangun terpisah  di halaman terdepan  terpisah dari ruang induknya.

Meski demikian,  penghormatan tuan rumah tetap maksimal dicurahkan.  Caranya: karena kami para pria,  maka  ”semua anak lelaki si tuan rumah dimobilisasi  untuk  melayani.  Mereka bahkan tak ikut makan,  tapi  hanya berdiri memperhatikan,  sekaligus memberi pelayanan.  Anak-anak tuan rumah lah yang menyajikan minuman makanan,  sekaligus membereskan pasca acara makan”,  jelas Kr. Khalid As Subaidi  yang diterjemahkan pak Budi.

Keempat,  dalam tradisi Arab Saudi  yang disebut undangan makan malam (’asya’),  pelaksanaannya benar-benar  di tengah malam,  sekitar jam 23.00-24.00.  Sambil menunggu detik-detik  waktu makan,  tamu dan tuan rumah biasanya  sibuk dalam perbincangan,  diselingi makanan ringan serta minuman.  Khusus dengan kami,  Dr. Murdhi tampaknya telah paham tradisi,  bahwa di Indonesia makam malam dilaksanakan paling lambat  setelah Isya’ waktunya.  Walhasil,  khusus kepada kami,  acara makan malam akhirnya dipercepat  sebelum tengah malam.  Pemahaman ini bahkan telah disampaikannya ketika pertama mengundang,  sehingga kami tak khawatir harus bertamu  sampai tengah malam.   Singkat kata,  ketika jam menunjuk ke angka 23.00  acara makan malam telah  mencapai ujungnya.  Alhamdulillah…

Kelima,  dalam acara makan bersama,   ternyata ada pula etika dan tatakramanya. ”makanan yang sudah disuapkan,  sisa di tangan tak boleh dikembalikan ke dalam nampan”,  terang Muhammad Isa yang telah tinggal di Arab sejak SD usianya, ”Kalau ada kelebihan di tangan,  sisa itu cukup ditaruh di plastik  telenan yang biasanya dijadikan alas tatakan bersama”.  Karena tradisi inilah,  maka  makan bersama orang Saudi,  pasti akan didapati  sang nasi banyak  yang terpapar  di luar nampan  tepat di  depan.

”Dalam terminologi Islam,  perilaku ini jelas menjadi kemubaziran. Siapa tahu  nasi yang dicecer justru yang mengandung keberkahan”,  kataku protes.  Sejenak aku terdiam,  mengunyah,  lantas melontarkan pertanyaan, ”bagaimana seandainya  butiran nasi yang tersisa di  tangan, nekad dikembalikan dalam nampan ?.

”Kita akan ditinggalkan.  Orang Saudi akan tersinggung,  karena perilaku itu dianggap penghinaan”,  tandas  sarjana baru  Universitas Islam Madinah  di bidang ekonomi tadi.

Keenam,  dalam tradisi Saudi   undangan makan baru berakhir  bukan ditandai ketika  tamu pamitan, melainkan justru  menunggu tuan rumah sampai mengucapkan :  baarokallah.  Bila tuan rumah telah mengatakan demikian,  tandanya pertemuan  sudah berakhir tidak dilanjutkan.  Walhasil,  sekitar pukul 23.00  Dr. Murdhi  mengucapkan kata-kata yang agak lama kami nanti : Barakallah,  sehingga kami dapat segera pulang untuk istirahat menunggu saat pulang.

Kembali ke soal undangan Dr. Murdhi,  saya sempat dihadapkan pada dilema,  terutama terkait soal etika.  Di satu sisi pak Budi mendorongku  untuk  bertanya pada isu-isu dan persoalan yang saya bawa.  Namun, di sisi lain mas Azmy justru ngasih tahu agar konsentrasi makan saja, tak usah diskusi  masalah berat tetapi  cukup membangun perbincangan ringan.   Tetapi,  apapun  dilema dan kecanggungan  yang sempat  kurasakan,  tapi  itulah pengalaman luar biasa,  yang tak sembarang orang bisa mencoba: diundang makan  malam di rumah seorang Saudi Arabia. Alhamdulillah….***

 

Iklan

Buang Makanan, Tak Cerminkan Ajaran Islam (Bagian 24)

Sangat beruntung rasanya,  kami berkenalan dengan para petualang muda yang rela meninggalkan Indonesia untuk menuntut ilmu jauh dari keluarga: Saudi Arabia.  Terus terang,  saya  mendapatkan beberapa kesan khusus terhadap mereka.

Di Makkah Al Mukarromah misalnya,  Mas Erika merupakan profil yang langsung akrab dengan orang yang baru ditemuinya.  Percakapan mengalir seolah tak ada batasan apatah lagi kecurigaan.  Berbagai informasi yang sensitif pun sempat dia sampaikan tanpa keraguan.  Mas Mubarok  tampaknya tak jauh beda,  langsung semanak  mendampangi kami,  menyela kegiatan super padat urusan umroh yang harus ia jalani.

Bagaimana dengan yang di  Madinah al Munawwaroh  ?  Dari segi gaya agak berbeda,  namun  substansinya tetap sama.   Mas Nahidl merupakan profil ”pendiam”  sehingga  bicara terkesan secukupnya.  Mas Azmy  terkesan dingin dari tatapan mata dan ekspresi wajahnya,  namun setelah kenal ternyata cukup hangat orangnya.  Mas Azmy lah  yang menurut mas Nahidl sempat didaulat mendampingi Muhammad Nuh,  mantan menteri Pendidikan  kita,  selama mengunjungi Saudi Arabia.  Adapun mas Fakhruddin,  lelaki asal Gresik senantiasa tampak  optimis ceria,  dengan senyum tak pernah lepas dari bibir ketika bicara.  Mungkin karena karekter itu pula,  mas Fakhruddin  memiliki jaringan dengan beberapa pejabat dan atau dosen  di kampusnya.  Mas Izdihar masih terlihat gaya mudanya,  meskipun sudah 24 tahun usianya.  Sementara mas Imam Khairul Annas meski dari raut muka terlihat paling muda,  namun gaya bicara dan informasi yang disampaikannya  terkesan matang.  Mungkin  jabatan ketua PPMI Saudi Arabia,  serta sering  melakukan kunjungan ke berbagai kota  untuk menemui mahasiswa yang ”dipimpinnya”,   menjadikan  mas Imam menjadi lekas dewasa.    Oh ya,  sebenarnya kami juga sempat  jumpa Muhammad Sidqi (ketua PPMI  Madinah),  yang dilakukan malam  hari.  Karena pertemuan  singkat sekali (19.30-21.00),  saya belum mampu menangkap kesan profil pemuda ini,  kecuali satu kata : cerdas.

Intinya,  siapapun mereka,  aku berdo’a  semoga perjuangan dalam meraih pendidikan  akan menuai keberkahan,  baik untuk diri, keluarga,  bangsa,  atau bahkan masyarakat Islam dunia.  Amin….

Kami tak sempat makan bersama mahasiswa Makkah kecuali dengan mas Oebaidillah. Namun di Madinah,  kami sempat beberapa kali makan bareng mahasiswa.  Mungkin inilah yang dinamakan berkah,  baik untuk kami maupun untuk mereka.  .

Beberapa kali  di restoran,  kami berdampingan dengan orang-orang Arab yang juga sedang makan.  Sesekali kusempat melirik.  Masyaallah,   porsi yang disajikan sungguh luar biasa.  Satu orang saja ,  dihadapkan pada sebuah nampan besar  yang untuk ukuran normal  Indonesia bisa dimakan bertiga. Problemnya,  porsi makanan besar itu umumnya tak berhasil dihabiskan.  Walhasil,  sebagian besar mereka akhirnya  menyisakan makanan bahkan ada yang hampir separoh dari sajian.  Sisa makanan itu akhirnya menjadi sampah,  yang ketika dikumpulkan menjadi sangat berlimpah.

”Naudzubillah min dzaalik…”,  hatiku meradang melihat fenomena ini. ”Apakah mereka tak pernah mendengar ajaran Islam,  bahwa perilaku mubazir dapat menjadikan teman setan ?   Apakah mereka tak pernah baca,  bahwa sikap boros buang-buang makanan menjadi bagian dari  perilaku  kerusakan ?  Apakah mereka tak pernah nonton TV betapa di berbagai belahan bumi banyak manusia mati karena kelaparan  ? Itulah serangkaian tanya yang menggelayut dalam dada,  untaian kemarahan yang berkecamuk di kepala. Intinya,  mereka mungkin belajar Islam sehari-hari,  bahkan hidup di tanah suci,  namun khusus dalam soal makan perilakunya jauh dari kata Islami.

”Astaghfirullah ” ,  aku mengelus dada,  mohon ampunan  karena telah menilai orang lain berdasar parameter kekurangan.  Haasibuu qobla antuhaasabuu:  Nilailah dirimu sendiri sebelum engkau menilai orang lain,  demikian ajaran Islam telah mengajarkan.***

 

 

 

Kesan Rangkaian Kunjungan : Kampus – Kantor Sederhana: (Bagian 23)

Pasca diskusi dengan Dr. Murdhi, mobil langsung mengaspal  di jalanan  meluncur ke sebuah rumah makan.  Kunjungan ke Jamiah At Taibah pada Senin  siang,  merupakan  penutup penelitian di kampus dan atau  perkantoran.  Dari serangkaian  kunjungan di Jeddah – Makkah – Madinah  secara umum bisa ku gambarkan  bahwa kampus –  kantor –   dan asrama mahasiswa di Saudi Arabia  ternyata biasa-biasa saja,  jauh dari kata mewah realitasnya.

Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawy di Madinah  memang sangat megah bangunannya.  Atas referensi dua masjid tadi,  maka ketika akan berkunjung ke kantor – kampus – asrama sudah tergambar di benak  kami bahwa kami akan menemukan  gedung-gedung yang juga megah – mewah.  Namun  begitu kaki menapak  masuk  lokasi,  bayangan keindahan langsung buyar dari imajinasi.  Ternyata gedung-gedung yang kujumpa,  arsitektur luar maupun  interior di dalamnya biasa saja untuk tak disebut sederhana.

Kantor Rabithah  ’Alam Islamy misalnya,  meski namanya sedemikian mendunia,  bahkan telah ku kenal sejak masih belia,  ternyata bangunannya  cukup sederhana,  biasa interiornya,  sederhana perabotannya.  Begitu juga Universitas Islam Madinah yang namanya mendunia di kalangan siswa agama (baca: santri),    jenggerek bangunannya tergolong sederhana.  Dibanding dengan  Universitas Indonesia (tempat ku menimba ilmu bertahun-tahun lamanya)  saja kalah jauh kualitasnya.  Hal tak berbeda ketika berkunjung ke asrama mahasiswa:  sederhana,  baik asrama Universitas Ummul Quro di Makkah maupun asrama Universitas Islam Madinah. Singkat kata,  semuanya biasa saja,  semuanya sederhana.

Dua hari belakangan,  banyak  mahasiswa mendampingi kami  dalam melakukan ”peliputan” .  Ada mas Nahidz Ahmad Silmi dan mas Azmy Zarkasi  keduanya  kandidat Doktor.  Ada beberapa mahasiswa S1,  seperti Imam Khairul Annas yakni mantan ketua PPMI Arab Saudi, mas  Fakhruddin yang juga dosen di STAI Gontor,  tentu saja  termasuk mas Izdihar. Bersama mereka inilah,  dua hari terakhir di Saudi  kami secara informal  menggali banyak  informasi.

Mobil mengaspal pelan,  lantas berhenti di sebuah restoran.  Pada hari pertama, saya merasa kagok karena ditraktir mas Nahidl, mahasiswa  muda,  meskipun level Doktor pendidikannya. Umurnya 34 tahun.  Karena status mahasiswa tetap melekat padanya,  maka kami tak merasa nyaman ketika ditraktir makan.

“Wan.. sana segera bayari,  nggak enak kalau mahasiswa yang justri membayari”,   kataku setengah mendesak.

“Saya sudah berusaha kasih uang,  tapi mas Nahidl maksa uang dikembalikan”,  tukas Wawan.  Dari mimik mukanya,   Wawan juga merasa kurang nyaman karena  dibayari makan.

Apa boleh buat,  untuk hari pertama terpaksa kami ditraktir mahasiswa.  Barulah di hari kedua,  Wawan sang bendahara yang mengeluarkan uang untuk bayar makan.  Itupun, kulihat diam-diam  mas Nahidl –  mas Azmy masih mengeluarkan uang juga, untuk menambah menu tambahan.  Jazakallah mas Nahidl.

Sikap kokoh “ngebosi”  dua kandidat doktor ini akhirnya dapat kumaklumi. Sebab,  meskipun berstatus mahasiswa,  namun back-ground keduanya sepertinya tergolong mampu semua.  Mas Azmy bahkan putra pemilik pesantren  Gontor,   dan mas Nahidl pun memiliki back-ground tak kalah istimewa,  keponakan K.H. Musthof Bisri sekaligus keponakan  H. Maftuh Basuni,  salah satu Menteri Agama  yang pernah  kita miliki.

Apalagi,  mahasiswa Saudi umumnya  juga sambil  berbisnis.  Kandidat Doktor di  Makkah seperti Mas Mubarok  misalnya, dari komunikasi via telpon yang aku dengarkan,  ternyata sibuk  mengatur Umroh asal Indonesia.  Hal serupa  dilakukan Mas Nahidl di  Madinah.  Bahkan,  pria asal Rembang ini merupakan counter-part mas Ferly  untuk mengatur perjalanan kami selama di Saudi.  Singkat kata,  meski mahasiswa,  mereka memiliki banyak real  di dalam kantongnya. Mabruk mas..he..he..

Mahasiswa yang berbisnis ternyata tak terbatas pada level Doktoral saja, yang pada umumnya memang  sudah berkeluarga.  Mahasiswa level sarjana juga terlibat,  setidaknya untuk urusan pendampingan selama perjalanan.  Mas Iztihar yang selama berhari-hari menyertai kami misalnya,  atau mas Muhammad Isa yang menjadi driver dalam petualangan di pedesaan  Madinah j  adalah dalam kerangka ”bisnis” semua.  Semoga langkah bisnis mereka diniatkan untuk menopang kelancaran  belajarnya,  memperkokoh pendidikan,  dan semoga  pekerjaannapun  diniatkan untuk membantu  Jamaah Umroh  sebagai realisasi peribadatan.  Walhasil,  jika itu semua yang menjadi landasan,  apa yang mereka lakukan akan berimbal dengan berbagai keberkahan.  Amin…ya..mujibassailin…..***

Jamiah At Taibah: Batas Tanah Haram di Madinah (Bagian 22)

Senin  10 April 2017 Siang,  Sinar mentari memancar garang.  Panas kurasa makin ganas.  Terik  kurasa kian mencekik.  Mobil  segera meluncur dari Universitas Islam Madinah menuju Jamiah Al Taibah.  Jaraknya tak terjalu jauh,  sebab posisi Jamiah at Taibah  hanya  tepat di belakang  Universitas Islam Madinah.

Lokasi Jamiah at Taibah  ternyata tepat berbatasan dengan wilayah tanah suci.  Maksudnya,  Jika Universitas Islam Madinah masih berdiri di lokasi tanah suci,  sedangkan  Jamiah at Taibah   sudah tak masuk lagi kawasan tanah suci tadi.  Konsekuensinya,  jika Universitas Madinah hanya boleh dimasuki  orang Islam saja,  maka  Jamiah at Taibah  boleh dimasuki siapa saja baik muslim maupun kaum kafir agamanya.  Walhasil,  dapat dipahami pula  jika  di At Thaibah saya banyak menjumpai  mahasiswa berkaos – bercelana,  sedangkan  di  Universitas Madinah  lebih banyak  bergamis busananya.

Perbedaan lainnya,  ”Jamiah  At Tayba mayoritas dimasuki  para muda-mudi  Saudi asli,  sedangkan  hanya 20 persen sisanya  adalah mahasiswa beasiswa  non-Saudi”, terang pak Budhi,  seorang  kandidat Doktor asal Riau.  Hal ini berbeda dengan Univeristas Islam Madinah  yang dominan asal mancanegara dan mayoritas adalah mahasiswa beasiswa.

Kawasan kampus at Taibah sepertinya masih dalam tahap pembangunan,  mengingat di sana-sini masih dalam kondisi berantakan,  masih dalam situasi super gersang tanpa ada tetumbuhan.  Hanya pada halaman  di sekitar pintu gerbang  mulai tumbuh beberapa tanaman. Sisanya,  gersang   sisa-sisa  dari  bukit yang diratakan.  Panas. Terik. Kerontang.

Seandainya saya menjadi mahasiswa beasiswa,  tanpa kendaraan.  dan harus  pulang pergi  ke lokasi dengan jalan kaki,  maka lebih baik kupilih pulang kampung ke Indonesia.  Dalam situasi seperti ini barulah kurasakan,  betapa nyaman dan indah tinggal di nusantara, sebuah tanah tropis yang ditumbuhi berbagai tanaman dan bermacam kembang.  Alhamdulillah ya Ilahi,  syukur hamba yang mendalam ya Robbi.l izzati.

Untungnya di tengah kerontang  tanah at Taibah,  kami tak terlalu lama untuk diterima sang tuan rumah.  Dr. Murdhi Ali Idris,  wakil direktur program pascasarjana jurusan ilmu dakwah dan khutbah universitas Thaybah  langsung menerima kami dengan ramah sekali.

”Warga Arab Saudi 100 persen muslim.  Jika ditemukan warga non muslim,   dia pasti ekspatriat  alias  non-warga Saudi”,   kata Dr Murdhi mengawali penjelasan  tentang paham keagamaan kepada kami, ”Islam Arab Saudi secara umum memiliki satu persepsi,  sebab hampir semua mengikuti madzab Hambali.  Meski demikian,  dalam interpretasi ulama Saudi tetap melihat berbagai madzab lain alias tidak fanatik pada madzab sendiri.   Dalam proses tafsir inilah perbedaan muncul acapkali,  meski tak sampai menimbulkan friksi”.

Ketika kami bertanya,  bagaimana  pola pemerintah Saudi membina kehidupan beragama para warga,  Dr  Murdhi langsung menimpalinya, ”Mereka dibina Kementerian Agama yang membawahi badan-badan di berbagai daerah dalam implementasinya.  Lembaga-lembaga dalam jaringan Kementerian Agama inilah yang senantiasa menyelenggaran pendidikan dan atau kuliah rutin  khusus  tentang Syariat Islam”.

”Bagaimana perlakuan Saudo  terhadap eks-patriat, yang sebagian bukan Islam agama yang dianutnya ?,  tanyaku yang diterjemahkan mas Nahidl.

”Pemerintah Saudi menyediakan da’i-da’i khusus untuk mereka”,  tukas Dr Murdhi,  ”Target pengajaran dalam metode ini : agar non muslim tadi  bisa memahami Islam dan umat Islam sebagaimana mestinya. Melalui ajaran ini,  ekspatriat tak sekedar  merujuk pada media asing  yang selalu apriori manipulatif dalam isi. Jadi,  tujuan minimal adalah mengenalkan Islam  sesuai al Quran Hadits sebagai referensi utama,  syukur-syukur ada ekspatriat yang memperoleh hidayah  dan  menjadi mualaf pada akhirnya”.

Mas Hamdan  kulihat manggut-manggut.  Wawan ikut juga manggut-manggut. Bahkan Fakhry  akhirnya terpengaruh  ikut manggut-manggut.

”Sebagaian ekspatriat memang ada yang tertarik menjadi Islam”,  lanjut
Dr.  Murdhi,  ” perawat asal Philipina misalnya,  tak  sedikit  menjadi muallaf,  menjadikan Islam sebagai agamanya”.

Sayang sekali,  hanya beberapa saat  pertemuan,  adzan dzuhur  sudah dikumandangkan.  Walhasil,  pertemuan dengan Dr. Murdhi  akhirnya berlangsung  singkat sekali.  Mungkin karena hal ini pula,  beliau  lantas mengundang  untuk  berkunjung dan atau dilanjutkan di rumahnya pada malam harinya.   Dr. Murdhi  mengundang asya’  alias makan malam,  sebuah undangan yang super  jarang kecuali hanya pada  kenalan kepercayaan.  Setelah sepakat atas undangan tadi,  maka  pertemuan siang  ini langsung diakhiri,  dilanjutkan shalat dzuhur berjamaah  di  lokasi.

Di tengah terik mentari di perbatasan tanah suci ini,  kami   lantas undur diri.  Dr. Murdhi  “mengiringi” kepergian kami  dengan sebuah cendera mata  kayu Siwak segar kepada kami.  Tak kuingat nama jenis siwak yang diberi, tetapi  ketika kayu kugigit rasa pedas langsung mengiringi.  Subhanallah.

“Kulit  siwak ini bisa ditelan”,  kata mas Azmy,  seorang  kandidat Doktor yang ikut mengiringi,  “kulit siwak ini sangat bermanfaat untuk kesehatan,  terutama untuk lambung agar tak begah berpenyakitan”,  lanjut  trah pemilik Pondok pesantren Gontor – Ponorogo tadi.

Rasa bahagia merona pada wajah kami semua,  mengingat  sambutan dari  tuan rumah sungguh luar biasa.  Pertemuan pertama kali baru terjadi,  namun  sambutan Dr. Murdhi meski singkat namun  berkesan di hati.   Ialliqoo’  ya Doktor,  sa nazuuruka fil baitik: sampai jumpa wahai Doktor,  Insya Allah kami akan ziarah ke rumahmu nanti. ***

 

Berkunjung ke Universitas Islam Madinah : Peluang Kerjasama ?(Bagian 21)

Senin,  9 April  2017 pagi,  sinar cerah mentari kembali  menyambut kami.  Langit ceria.  Cakrawala pun memperlihatkan senyum  gembira.  Mas Nahidl Silmy kembali  menjemput mengantarkan kami  menuju kampus  tempat dia menempuh ilmu selama ini.  Karena waktu perjanjian memang belum saatnya,  keponakan  K.H. Mustofa Bisri ini lantas mengajak kami putar-putar kampus termasuk asrama mahasiswa dari berbagai bangsa.

Akhirnya tibalah waktu  wawancara,  dan kami diterima dua pejabat asli Saudi Arabia,  pertama  Dr. Ibrahim Sulthon,  wakil kepala biro urusan alumni bidang hubungan alumni,  kedua,  Dr. Abdul Aziz wakil kepala biro urusan alumni bidang ilmu pengetahuan.

“Sebagian besar mahasiswa di Universitas Islam Madinah adalah warga asing”,  kata Dr. Abdul Aziz memberi informasi perdana,”Terdapat siswa dari 170 negara ,  dengan jumlah mencapai  20 ribu mahasiswa. Hanya 30 persen dari mahasiswa non Saudi yang biaya sendiri”.

Sekilas kulihat Wawan manggut-manggut mendengar penjelasan,  dengan mas Nahidl  yang bertugas menerjemahkan.

Mahasiswa penerima beasiswa di UIM  mendapat fasilitas antara lain: (1). Tiket pesawat saat diterima menjadi mahasiswa di Universitas dan pada setiap akhir tahun akademik, sesuai dengan aturan yg berlaku. (2). Mukafa’ah (uang tunjangan) setiap bulan. (3). Hadiah tunai bagi mahasiswa yang berprestasi. (4). Asrama gratis dan perabotannya. (5). Makan di Kantin Universitas dengan biaya murah. (6). Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Universitas. (7). Sarana transportasi untuk shalat di Masjid Nabawi, Umrah dan wisata lainnya sesuai dengan jadwal yang ditentukan. (8). Fasilitas olah raga yang disediakan oleh universitas.

“Khusus dari Indonesia,  sekarang jumlah siswa mencapai  500 orang untuk tingkat Sarjana,  70 untuk level MA,  dan selebihnya 13 orang  kandidat Doktor”,   timpal  Dr. Ibrahim Sulthon. “Beasiswa untuk Indonesia memang paling banyak jumlahnya”.

:”Luar biasa,  sedemikian banyak beasiswa Arab Saudi yang diberikan pada Indonensia”,   batinku terkesima mendengar informasi yang luar biasa.

“Sampai sekarang,  alumni asal Indonesia  banyak sekali jumlahnya”,  lanjut Dr. Ibrahim Sulthon,  “S1 saja mencapai 1.227 orang,  belum lagi level MA tercatat 140 orang,  ditambah  Doktor berjumlah 43 orang”.

Dari berbagai alumni asal Indonesia,  terdapat beberapa nama yang cukup dikenal antara lain : (1). Muhammad Maftuh Basyuni(Mantan Menteri Agama RI), Hidayat Nur Wahid (Mantan Presiden Partai Keadilan dan mantan Ketua MPR), Salif Segal Al Jufri (Mantan Menteri Sosial RI), Abdul Gani Kasuba (Gubernur Maluku Utara), Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor), Ahmad Cholil Ridwan (salah satu ketua MUI Pusat, Bidang Remaja dan seni Budaya) dan Firanda Andirja Abidin, dai Indonesia, yang pernah menjadi  pengisi kajian rutin bahasa Indonesia di Masjid Nabawi.  Alumnus di Malaysia salah satunya adalah  Abdul Hadi bin Awang (Presiden Partai Islam Se-Malaysia).

Mas Hamdan terlihat manggut-manggut.  Fakhry nampak terkesima,  .  terpana dengan alumnus Indonesia  yang sedemikian banyak jumlahnya.

“Mengingat sedemikian banyak alumnus kami punya,  maka Universitas Islam Madinah membentuk biro khusus yang menangani alumni yang dimiliki”,  tambah Dr. Abdul Aziz,  “Intinya  kita terus menjalin komunikasi,  bahkan termasuk melatih mereka agar memiliki kemandirian.  Janganlah para alumni setelah kembali ke negaranya berharap pada “pemberian” masyarakat,  tapi hendaknya bisa berpikir apa yang bisa diberikan pada masyarakat”.

“Ada beberapa hal yang kami lakukan terkait para alumni”,  timpal Dr. Ibrahim Sulthon, “Pertama, kita membuat buletin untuk sarana komunikasi antar alumni,  secuil media sebagai wahana komunikasi dengan mantan siswa.  Buletin bisa berperan sebagai sarana pengasah kemampuan menulis,  agar terbiasa berkarya sebagaimana ulama-ulama produktif lainnya. Kedua, kita juga membangun komunikasi lewat intra sosial media,  dimana  berbagai masukan (kritik dan saran)  dari mahasiswa  dan  alumni dinantikan juga. Hanya dalam waktu tiga hari,  sudah akan dijawab rektor.  Masukan dan atau kritikan misalnya,  bisa soal ijazah yang telat,  fasilitas asrama yang rusak.  Bahkan,  berdasar masukan,  ada gedung di kawasan kampus akan dirubuhkan guna diubah menjadi  lokasi joging dan atau taman”.

Dr. Ibrahim Sulthon sejenak jeda memberi penjelasan,  sejurus kemudian dia menjelaskan,  ”Ketiga,  melalui komunikasi ini  para alumni bisa mengajukan permintaan  bantuan,  seperti tenaga guru,  ketika alumni di masing-masing negara  membangun lembaga pendididkan. Kepada lulusan bahkan diberi bekal pelatihan, seperti: kemampuan manajemen, interview untuk mendapat pekerjaan,  bahkan pada daurah terakhir diajari  cara membuat proyek keilmuan.  Misalnya membangun institusi pendidikan dengan tanpa modal.  Caranya : dia bisa mencari bantuan, yang diajarkan secara step by step”.

”Apakah di kampus ini,  juga dibuka peluang kerjasama dengan pihak luar  non alumni,  misalnya dalam wujuk kerjasama penulisan ?,  sambutku ketika   dibuka peluang untuk bertanya.

”Oh ada”,  tukas Dr. Ibrahim Sulthon,  ”kita membuka peluang kerjasama keilmuan,  seperti Daaurah tokoh,  menulis bersama dalam jurnal,  serta kerjasama penelitian. Anggaran kerjasama yang kami sediakan cukup besar. MOU sampai sekarang belum banyak diajukan,  oleh karena itu peluang kerjasama masih sangat terbuka dilakukan”.

Kuperhatikan Mas Hamdan dan Wawan matanya langsung berbinar,  demi mengetahui peluang kerjasama masih terbuka lebar.

”Persyaratan satu saja,  kerjasama tak berpotensi melanggar aturan kedua negara”,  lanjut Dr. Ibrahim Sulton,  ”Hanya saja,  untuk bidang politik dan ekonomi belum bisa.  Sedangkan untuk sosial keagamaan, dakwah, dan bahasa Arab,  serta isu tentang wanita, masih  terbuka lebar peluangnya.  Khusus isu-isu politik saat ini baru ada di universitas King Saud di Riyad saja,  yang kebetulan para diplomat hampir semua alummnus sana”.

”Tahapan untuk bangun  kerjasama seperti apa ?,  maksudku,  bagaimana  proses untuk mewujudkannya ?, tanyaku singkat.

”Sederhana saja.  Dari LIPI secara kelembagaan,  silahkan mengajukan ke Rektor,  ke Bagian Hubungan Internasional”,  sahut Dr. Abdul Aziz, ”Intinya yang penting thema kerjasama sesuai misi Jamiah. Bisa kerjasama penelitian, bisa berupa pelatihan (dari Arab ke Indonesia misalnya), bahkan termasuk pertukaran pelajar dengan ijasah dari Jamiah”

Mentari makin menjulang tinggi,  dan diskusi inipun segera  kami akhiri.  Semoga peluang kerjasama dapat ditindaklanjuti.  Syukron Jaziilan ya  Doktorain:  terima kasih banyak wahai dua Doktor:   Ibrahim Sulthon wa  Abdul Aziz.***

 

Berkunjung ke Universitas Islam Madinah : Koleksi Berharga Telah mereka Punya (Bagian 20)

Ahad,  8 April  2017 pagi.  Mentari bersinar cerah sekali.  Langit membiru.  Cakrawala benderang.  Burung beterbangan.  Riang.  Mas Nahidl Silmy telah menjemput mengantarkan kami  menuju kampus  Universitas Islam Madinah (UIM).  Universitas Islam Madinah (al-Jami’ah al-Islamiyyah bil Madinah al-Munawwarah) adalah sebuah perguruan tinggi negeri di Arab Saudi. di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Arab Saudi yang didirikan pada 29 Rabiul Awal 1381 H (6 September 1961). Universitas yang terletak di Kota Madinah, Propinsi Madinah ini berdiri berdasar keputusan resmi Raja Saud bin Abdul Aziz tentang Pembangunan perguruan tinggi yang dikhususkan untuk mempelajari ilmu syariah dan keagamaan di Kota Madinah. UIM  menaungi beberapa Fakultas antara lain: Fakultas Syariah, Fakultas al-Qur’an dan Studi Islam,  Fakultas Hadits dan Studi Islam,  Fakultas Dakwah dan Ushuluddin , Fakultas Bahasa Arab,  Institut Pengajaran Bahasa Arab untuk Non-Penutur Bahasa Arab.

Rector UIM terakhir adalah Prof. Dr. Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad as Sanad.Namun, karena beliau  Diangkat menjadi Ketua Umum Badan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Arab Saudi,  maka posisinya digantikan oleh PJS yakni Wakil Rektor Bag. Pengajaran: Prof. Dr. Ibrahim bin Ali Al-Ubaid. Di UIM selain ada Wakil Rektor Bag. Pengajaran,  juga terdapat   Wakil Rektor (Prof. Dr. Ahmad bin Abdullah bin Hasan Katib),  Wakil Rektor Bag. Pengembangan (Prof. Dr. Mahmud bin Abdurrahman Qodah)   Wakil Rektor Bag. Kerjasama Internasional dan Pertukaran Pengetahuan (Dr. Rabah bin Rudhaiman Al-Anzi),   Wakil Rektor Bag. Pascasarjana dan Riset Ilmiah (Dr. Abdurrahman bin Rajaullah Al-Ahmadi).

Sehari sebelumnya,  sebenarnya  kami sempat diantar Mohamaad Isa berkunjung  ke UIM. Namun,   kala itu mobil tak diijinkan masuk melalui gerbang utama. Namun,  pada Ahad ini  ternyata mobil  dipersilahkan jalan,   tanpa melalui proses pemeriksaan,  dan cukup dilihat dari kejauhan.

Lho kenapa  bisa beda perlakukan,   meskipun pemeriksaan masih sama orang yang melakukan ?. itulah pertanyaan yang berkecamuk di hatiku,  dan tiba-tiba mas Nahidl menjelaskan seolah tahu  isi kepalaku. ”Hanya para dosen  dan pegawai plus mahasiswa Doktoral yang bisa masuk tanpa pemeriksaan”,  kata sang kandidat Doktor asal Rembang ini.

”Bagaimana  penjaga bisa diketahui bahwa  penumpangnya masuk tiga kategori tadi ?,  tanya  Wawan  pelan.  Ekspresi wajahnya memperlihatkan bahwa di kepalanya tengah  berjejal rasa penasaran.

”Ini”,  tukas mas Nahidl  sembari telunjuknya mengarah pada kartu yang diletakkan di kaca,  tepat di depan setiran mobilnya,  ”Kartu merah ini  sebagai kartu sakti,  sehingga kita dapat keluar masuk secara leluasa sepanjang hari”.

Selama kunjungan kami berencana mengunjungi Biro Urusan Perpustakaan (Kepala Biro  Dr. Abdullah bin Sulaiman Al-Ghufaili)  berikutnya  Biro Bidang Alumni (Kepala biro: Dr. Abdul Aziz bin Mabruk Al-Ahmadi). Selain kedua Biro itu,  UIM juga memiliki beberapa biro lain seperti  Biro Penerimaan dan Pendaftaran (Dr. Isa bin Shalah Ar-Rahbi), Biro Kemahasiswaan (Kepala biro: Dr. Husain bin Syarif Al-Abdali), Biro Pelayanan Masyarakat (Kepala biro: Dr. Fahd bin Muthi’ Al-Maghdawi), Biro Studi Pascasarjana (Prof. Dr. Abdul Razaq bin Farraj As-Sha’idi), Biro Riset Ilmiah, Biro Pengembangan dan Manajemen Akademik (Kepala biro: Dr. Nasir bin Abdullah Al-Ahmadi), Biro Pengajaran Online dan Pembelajaran Jarak Jauh (Kepala biro: Dr. Umar bin Ibrahim Nursaif), Biro Akreditasi Akademik dan Kualitas (Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Utaibi), Biro Teknologi Informasi (Dr. Muhammad bin Yusuf Ahmad Afifi).

Singkat cerita,  mas Nahidl mengantarkan kami menemui Prof. Dr.  Syekh Abdullah bin Sulaiman Al Ghufaili,  Kepala Biro urusan Perpustakaan Utama Universitas Islam Madinah. Minuman khas Arab  segera disajikan,  ketika  kami  telah duduk pada kursi yang disediakan.  Minuman itu Qohwah namanya,  berarti  kopi dalam bahasa Indonesia.  Kopi  dituangkan dalam cangkir kecil ukurannya,  dalam kondisi  panas suhunya,  sehingga bagi orang seperti saya lidahnya tak bakalan kuat untuk menyeruputnya.  Setelah agak dingin,  kopi segera kusedot pelan.  Masya Allah…  ternyata  dari rasa  sama sekali tak merefleksikan kopi sebagaimana sebutannya.  Minuman panas menyengat itu  lebih tepat dinamakan jamu,  sebab  komposisi rasa justru  mirip dengan adonan kapulaga, jahe, kencur atau apapun tambahannya. Terus terang perutku terasa agak mual karenanya. Namun sang tuan rumah justru  menawarkan tambahan  karena kopi di tangan sudah habis kami telan.  ”Kholas ya Syeikh…. syukron:  sudah cukup ya pak,  terima kasih”,  tolak Fakhry pelan sekali.

Tak banyak informasi kami dapatkan selama pertemuan,  kecuali masing-masing kami diberi segebok buku untuk kenang-kenangan.  Sebab,  Al Ghufaili justru sibuk  berdebat dengan staf di depan kami.  Hanya sesekali  ia melihat ke arah kami,  dengan ucapan : Baarakallah.  Setelah itu  ia kembali asyik masuk  dalam perdebatan tadi. ”Perilaku” ini tidak hanya sekali, melainkan dilakukan berulangkali. ”Aneh…”,  gerutuku dalam  hati, ”sebab perdebatan pimpinan vs. Staff ini  dari norma apapun sebenarnya tak pantas dilakukan ketika ada tamu apalagi berada di hadapan”.

Oleh Prof. Al Ghufaili kami diarahkan untuk melakukan penelusuran Literatur bersama  Muhammad Yaqub,  Pustakawan Universitas Islam Madinah.   Figur inilah yang justru penuh perhatian,  mengantarkan kami menelusuri koleksi universitas terkait peradaban Islam.  Banyak koleksi buku alias kitab super tua telah dikumpulkan,  semua disimpan sebagai koleksi berharga tak terhitungkan. Naskah tertua tercatat di tahn 40 H,  berisi tentang Isra’ Mi’raj   yang ditaklif  Khalifah Ali bin Abu Tholib.   Perpustakaan ini memili 40 ribu koleksi manuskrip,  baik berisi Al Qur’an maupun  Tarikh (sejarah).   Semua manuskrip itu juga dibuat dalam mikro film,  dimans setiap mikrofilm berisi sekitar 5000 buah buku.  Walhasil,  jika 40.000 dikalikan 5000 maka  total jendral dari koleksi naskah tua itu mencapai 200 juta naskah.

”Subhanallah..Bagaimana cara koleksi dilakukan”  tanya Fakhry pelan sekali.  Suaranya nyaris sama dengan sebuah gumaman saja.

”Semua diperoleh dengan jalan tukar-menukar”,  tukas Muhammad Yaqub tangkas,  ”Jika anda ingin mengetahui semua koleksi yang kami punya,  dapat dilihat dari iu.edu.sa”.

Selain koleksi buku dan manuskrip,  nilai lebih yang dipunyai perpustakaan ini adalah:  disediakannya  kamar-kamar khusus bagi mahasiswa doktoral  yang sedang mengerjakan tugas-tugasnya.  ”Inilah ruang-ruang untuk mengasingkan diri”,  jelas mas Nahidl memberi contoh pada kami.

Putar-putar ”perpustakaan” membuat kaki agak kelelahan.  Pegal. Namun,  melihat koleksi sangat berharga ini,  telah memaksa kami kami melupakan rasa linu yang mulai menjalari.***

 

Mewancarai Penceramah Masjid Nabawi (Bagian 19)

Malam telah kelam.  Langit Madinah  telah diliputi kegelapan.  Malam meraja menguasai cakrawala.  Di tengah gulita itulah  mobil yang kami tumpangi  meluncur  cepat,   menerobos kegelapan  seolah sama sekali tak merasakan  rasa penat.

Kami memang  pulang kemalaman,  bahkan sempat  sholat maghrib – Isya’  jama’  di masjid  pedesaan  yang sempat  kami di saat perjalanan. Di seberang jalan masjid,  dalam keremangan  kulihat kebun penuh pepohonan . ”Inilah kebun kurma”,  kataku pada Fakhry.  Di masjid pedesaan  pinggiran kota Madinah ini   tak banyak  orang sembahyang  mengingat lokasi  memang sedikit dijumpa  pemukiman,   bahkan tak layak untuk disebut perkampungan.

Hanya saja beberapa mobil ikut berhenti di parkiran,  dan penumpangnya  sama-sama bermaksud mengerjakan  sembahyang.  Walhasil,  dapat dikatakan masjid  malam itu diisi musyafir yang sedang lewat sekaligus bertandang  untuk sembahyang.

Selama perjalanan pulang,  dari kejauahan kulihat ada gugusan bukit yang sedemikian benderang dilihat dari kejauhan.  Lho kenapa bukit-bukit itu sedemikian terang?  tanyaku dalam hati.  Kepenasaran ini akhirnya mendapat jawaban,  sebab  ternyata di sepanjang kaki bukit terdapat banyak lampu yang sorotannya sengaja  di arahkan ke puncak bebukitan,  bukan di arahkan ke jalanan.  Namun,  metode ini justru sangat luar biasa hasilnya.  Bukit-bukit menjadi bersinar terang,  sehingga menciptakan keindahan  bagi siapapun yang memandang.  Hal kedua,  bukit-bukit menjadi sedemikian nyata, sehingga kalaupun  ada pesawat yang melintas di atasnya,  sang pilot  langsung melihat dan tak bakalan menabraknya.  Ketiga,   ternyata sinar yang terarah pada bebukitan,  sinarnya dapat ”memantul” sedemikian rupa,  sehingga efek pancaran sinar jauh lebih kuat dibanding jika lampu-lampu di arahkan ke badan jalan sebagaimana umumnya di Indonesia  kita dapatkan.

Itulah pengalaman berpetualang seharian di pelosok tanah haram,  Madinah al Munawwarah.  Kesempatkan luar biasa ini tak bakalan diagendakan ketika berhaji,  mengingat pada bulan suci kami teriakat oleh prosesi arbain sholat berjamaah empat puluh waktu di Nabawi.

Problemnya,  di hari Sabtu    8 April  2017 ini   kami telah seharian  blusukan ke berbagai lokasi,  namun kami terlanjut diikat janji yang harus ditepati.  Badan ini sebenarnya sudah berantakan kurasakan.  Penat, menyerang. Capek,  mendera.   Wawan bahkan  sakit kepala.  Mas Hamdan pun berkata  kurang nyaman badan dirasa.  Akhirnya,  saya dan Fakry yang terpaksa berangkat ke Nabawy untuk memenuhi janji : wawancara dengan nara sumber ba’da sholat Isya,  tepatnya di pintu 21 masjid Nabi.

Singkat kata,  saya telah sampai Nabawy lantas bersegera mencari seseorang istimewa,  sebagai obyek narasumber perdana.  Dialah  Abdullah Roy,   ustadz muda yang dipercaya menjadi penceramah di masjid Nabawy.  Luar biasa.  Dua tahun sebelumnya,  ketika berkunjung ke lokasi yang sama, yang menjadi penceramah berbahasa Indonesia adalah ustadz Firanda.  Nah,  pada kunjungan kali ini,  tampaknya  ustadz  Abdullah Roy  yang terpilih sebagai pengganti.  ”Terpilih”,   karena untuk menjadi penceramah di Nabawy  memang  melalui rekomendasi,  plus seleksi  super ketat berdasar kualitas keiilmuan yang dimiliki.  Dapat dipahami ketika saya  tanya mas Nahidl Silmy –penanggung jawab kami  selama kunjungan di Saudi–  :”kenapa tak juga memberi ceramah seperti ustadz Abdullah  Ray ?,  kandidat  Doktor di Universitas Islam Madinah  kontan memberikan jawaban: ”belum makomnya”.

Sebagaimana Ustadz Firanda dahulu,  Abdullah Roy,  pria asal Yogyakarta itu  adalah pula kandidat Doktor di Universitas Islam Madinah.

Abdullah Roy  memiliki nama asli  Roy Grafika Penataran, begitu nama kecilnya. Lahir 37 tahun silam di Bantul, Jogjakarta. Setamat SMA, ia memilih untuk nyantri di sebuah pesantren di Gresik, Jawa Timur. Di saat nyantri itulah ia berhasil diterima di Universitas Islam Madinah. Merasa “kurang mampu” dalam berbahasa Arab, Roy memilih untuk mendalami bahasa di progam prakuliah selama 2 semester. Usai menyelesaikan program bahasa, Roy memilih Fakultas Hadist di progam bachelorius. Ia melesaikannya di tahun 2005. Ayah dari 5 anak ini diterima di progam pascasarjana jurusan aqidah di tahun yang sama. Dengan tesis berjudul “Al-Mabaahits Al-‘Aqodiyyah Al-Muta’alliqoh Bil Adzan Jam’an wa Dirosatan”. Di tahun 2010 Roy diterima program doktoral prodi aqidah. Tiga tahun berikutnya ia ditunjuk menjadi salah satu pengajar Masjid Nabawi bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. dan Ustadz Anas Burhanuddin, MA.

Sayang sekali  kami terlambat datang,  terutama akibat didera rasa lelah dan badan memang terasa tak karuan.  Mas Hamdan yang semula ijin  kelelahan  akhirnya menyusul, bahkan Wawan yang semula  ijin  sakit kepala  akhirnya juga  mecungul.   Namun,  karena keterlambatan,  wawancara  akhirnya tak bisa lama dilangsungkan,  sebab ustadz Abdullah Roy  terlanjur  memiliki janji dengan seseorang. Afwan ustadz,  semoga kita dapat jumpa pada kesempatan lainnya, bahkan mungkin di Indonesia.

Alhamdulillah,  pada 25 Mei 2017 saya mendapat kabar bahwa ustadz Roy Grafika Penataran yang lebih dikenal dengan Abdullah Roy akhirnya  secar resmi menyandang gelar doktor di bidang aqidah. Desertasi yang berjudul “Firqoh Islam Jama’ah ‘Ardhun wa Naqdun” yang berhasil dipertahankan pada (25/05), di Auditorium Munaqosyah Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah. Setelah kelulusannya dari Universitas Islam Madinah ini, ia akan menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Dirosat Islamiyyah Imam Syafi’i, Jember. Selamat ya ustadz. ***